You are on page 1of 12

BAB 1 PENDAHULUAN

Sebelum membicarakan tentang otitis media Efusi (OME), akan lebih baik bila kita memahami terminologi berikut ini:

Otitis media adalah peradangan pada telinga tengah dan sistem sel udara mastoid.

Otitis media efusi (OME) adalah, peradangan telinga tengah dan mastoid yang ditandai dengan akumulasi cairan di telinga tengah tanpa disertai tanda atau gejala infeksi akut.

Otitis media akut (OMA) adalah, proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga tengah dan disertai tanda dan gejala seperti nyeri telinga (otalgia), rasa penuh di telinga atau gangguan dengar, serta gejala penyerta lainnya tergantung berat ringannya penyakit, antara lain: demam, iritabilitas, letargi, anoreksia, vomiting, bulging hingga perforasi membrana timpani, yang dapat diikuti dengan drainase purulen.

Otitis media kronik (OMK) adalah proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu.

Di referat ini saya akan membahas mengenai henti Otitis media efusi,di harapkan referat ini dapat berguna untuk memahami penyakit Otitis media efusi lebih lanjut.

BAB 2 OTITIS MEDIA EFUSI

Otitis Media Efusi adalah keadaan terdapatnya sekret yang non purulen di telinga tengah, sedangkan membrane timpani utuh. Apabila efusi tersebut encer di sebut otitis media serosa, dan apabila efusi tersebut kental seperti lem di sebut otitis media mukoid. Otitis Media Serosa dan Otitis media mukoid memiliki etiologi yang sama. Disfungsi tuba eustakius merupakan faktor penyebab utama , faktor penyebab lainnya bisa di sebabkan oleh hipertrofi adenoid, adenoiditis kronik, palatoskisis, tumor nasofaring, barotrauma, radang penyerta seperti sinusitis atau rhinitis,selain itu alergi juga berperan dalam terjadinya efusi telinga tengah.

2.1 Otitis media efusi akut

Otitis media akut adalah keadaan terbentuknya secret di telinga tengah secara tiba tiba yang di sebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Keadaan akut ini dapat di sebabkan antara lain : a. Sumbatan tuba Tersumbatnya tuba secara tiba tiba seperti pada barotraumas. b. Virus Berhubungan dengan infeksi virus pada jalan nafas atas.

c. Alergi Berhubungan dengan keadaan alergi pada jalan nafas atas.

2.1.1. Patogenesis terjadinya otitis media serosa akut, Otitis media serosa akut, terjadi terutama akibat adanya transudat atau plasma yang mengalir dari pembuluha arah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanya perbedaan tekanan hidrostatik.

2.1.2. Gejala klinis yang di temukan pada otitis media serosa akut,adalah : Gejala gejala klinis yang menonjol pada otitis media serosa akut : 1. Pendengaran berkurang 2. Rasa tersumbat pada telinga 3. Suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda pada telinga yang sakit 4. Terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam telinga pada saat posisi kepala berubah 5. Sedikit nyeri dapat terjadi pada saat awal tuba terganggu. 6. Tinituas atau vertigo terjadi dalam bentuk yang ringan 7. Demam jika di sebabkan oleh infeksi virus

8. Pada otoskopi terlihat membrane timpani retraksi

9. Kadang tampat gelembung udara atau permukaan cairan dalam kavum timpani.

2.1.3. Penatalaksanaan Pengobatan dapat dilakukan secara pembedahan atau medika mentosa.

2.1.3.1.Medikamentosa a. Vasokonstriktor lokal ( tetes hidung ) b. Antihistamin c. Perasat valsava ( bila tidak ada tanda tanda infeksi di jalan nafas atas ) 2.1.3.2.Pembedahan Bila setelah satu atau dua minggu,gejala masih menetap, dilakukan miringotomi dan bila masih belum maka dilakukan miringotomi serta pemasangan pipa ventilasi. ( Grommet )

2.2. Otitis media serosa kronik

2.2.1. Patogenesis Otitis media serosa kronik atau otitis media mukoid terjadi akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam mukosa telinga tengah,tuba Eustachius dan rongga mastoid. Faktor lain yang dapat berperan adalah adanya adenoid hipertrofi,adenoitis,sumbing sinusitis, rhinitis, palatum,tumor metabolic di atau

nasofaring,barotrauma, imunologik.

defisiensi

2.2.2. Gejala klinis Gejala gejala klinis yang sering ditemukan pada otitis media serosa kronik a. Perasaan tuli pada otitis media kronik serosa lebih menonjol b. Adanya secret kental atau glue ear c. Otoskopi terlihat membrane timpani utuh, retraksi, suram, kuning kemerahan atau keabu abuan.

2.2.3. Pengobatan Pengobatan juga terbagi dua,menjadi pembedahan dan medikamentosa

2.2.3.1.Pembedahan Tujuan dari pembedahan adalah mengeluarkan secret dengan miringotomi atau memasang pipa ventilasi (Grommet). Keputusan untuk melakukan intervensi bedah tidak hanya berdasarkan lamanya penyakit, derajat gangguan pendengaran dan frekuensi serta parahnya gangguan terdahulu juga perlu dipertimbangkan. Gangguan ini seringkali bilateral, namun anak dengan cairan yang sedikit, gangguan pendengaran minimal, atau dengan gangguan unilateral dapat di obati lebih lama dengan pendekatan yang lebih konservatif. Sebaliknya penipisan membrane timpani, retraksi yang dalam, gangguan pendengaran yang bermakna merupakan indikasi untuk miringotomi segera. Tuba ventilasi dibiarkan pada tempatnya sampai terlepas sendiri dalam jangka waktu enam bulan hingga satu tahun. Sayangnya karena cairan seringkali berulang, beberapa anak memerlukan tuba yang dirancang khusus sehingga dapat bertahan lebih dari satu tahun. Keburukan Tuba yang tahan lama ini adalah menetapnya perforasi setelah tuba terlepas. Pemasangan tuba ventilasi dapat memulihkan pendengaran dan

membenarkan membrane timpani yang mengalami retraksi berat, terutama bila ada tekanan negative yang menetap. Keburukan utama dari tuba ventilasi adalah telinga tengah perlu di jaga agar tetap kering, untuk tujuan ini telah dikembangkan berbagai macam sumbat telinga. Insisi miringotomi dana pemasangan tuba telah dikaitkan dengan pembentukan kolesteatoma pada beberapa kasus. Manfaat adenoidektomi pada otitis media serosa kronik masih diperdebatkan, tentunya tindakan ini cukup berarti pada individu dengan adenoid yang besar sehingga menyebabkan obstruksi hidung dan nasofaring.

2.2.3.2.Medikamentosa Pada kasus yang masih baru dapat diberikan dekongestan tetes hidung. Sebagian ahli menganjurkan pengobatan medikamentosa terlbih dahulu selama 3 bulan baru dilakukan operasi.

2.3. Pemeriksaan Fisik dengan Otoskop Pneumatik

Pemeriksaan fisik dengan otoskop pneumatic ini akan memperlihatkan imobilitas gendang telinga. Setelah Otoskop di tempelkan rapat rapat pada liang telinga, diberikan tekanan positif dan negative. Jika terdapat udara dalam tympanum maka udara itu akan tertekan sehingga membrane timpani akan terdorong ke dalam pada pemberian tekanan positif, dan keluar pada tekanan negative. Gerakan menjadi lamban atau tidak terjadi pada otitis media serosa atau mukoid. Pada otitis media serosa membrane timpani tampak berwarna kekuningan, sementara pada otitis media mukoid terlihat lebih kusam dan keruh.

10

PENUTUP

Di harapkan dengan adanya referat mengenai Otitis Media Efusi atau non supurativa ini dapat membantu banyak orang,baik mahasiswa kedokteran atau masyarakat umum untuk mengetahui oenyakit ini lebih lanjut. Baik dari penyebab penyakit, proses terjadinya penyakit atau pathogenesis, maupun tatalaksana penyakit ini.

11

DAFTAR PUSTAKA

1.

Iskandar N, Soepardi EA, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorok edisi ke enam FKUI, Jakarta, 2007.

2.

Adam GL, Boies LC, Hilger PA. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam, EGC, Jakarta, 1997.

3.

P.D. Bull : Disease of the Ear, Nose, and Throat, edisi 6, Blackwell Science : 1995.

12