You are on page 1of 12

Siapakah yang salah dalam kasus Prita Mulyasari dengan RS. Omni Internasional?

Bisa dipastikan secara serentak, masayarakat pengonsumsi media akan menjawab bahwa Omni Internasional yang bersalah dalam kasus ini. Lepas dari penyidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang. Inilah yang sekilas menjelaskan tentang teori agenda setting. Secara sederhana teori agenda setting dapat diartikan, apa yang dianggap penting oleh media makan akan dianggap penting oleh khalayak. Begitu juga dengan apa yang dianggap benar oleh media maka akan dianggap benar juga oleh khalayak. A. RINGKASAN TEORI Teori Penentuan Agenda atau Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. (Wikipedia.org) Dalam teori ini juga dijelaskan bahwa agenda media akan menjadi agenda masyarakat. Secara singkat teori penyusunan agenda mengatakan media (khusunya media berita) tidak selalu memberitahu apa yang kita pikir, tapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita berpikir tentang apa. Media massa selalu mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan. Media memberikan agenda-agenda lewat pemberitaanya, sedangkan masyarakat akan mengikutinya. Coba kita perhatikan hal-hal yang kita anggap penting untuk dibicarakan dalam pertemuan antar pribadi. Hal-hal itu pulalah yang juga menjadi pusat perhatian media. Memang, kita dapat mengatakan bahwa tidak ada peristiwa yang penting dapat terjadi tanpa liputan media. Jika memang media tidak meliputnya, maka itu berarti tidak penting. Tetapi apakah media memusatkan perhatian hanya pada sesuatu peristiwa karena itu memang benar benar penting atau perhatian media yang membuat peristiwa itu penting? Sebenarnya, media mengarahkan kita untuk memusatkan perhatian pada subjek tertentu yang diberikan media. Ini artinya media menentukan agenda kita.

B. LATAR BELAKANG Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw adalah orang yang pertama kali
Agenda Setting TheoryPage 1

memperkenalkan teori agenda setting ini. Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul The Agenda Setting Function of The Mass Media Public Opinion Quartely No. 37. Ketika diadakan penelitian tentang pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1968 ditemukan hubungan yang tinggi antara penekanan berita dengan bagaimana berita itu dinilai tingkatannya oleh pemilih. Meningkatnya nilai penting suatu topik berita pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai penting topik tersebut bagi khalayak (Nuruddin, 2007:195). Selain itu dalam studi ini, McCombs dan Shaw menemukan bahwa media sangat berpengaruh dalam menceritakan pembaca dan pemirsa apa yang harus dipikirkan, dan mereka menciptakan istilah penetapan agenda untuk menggambarkan proses ini. Penelitian ini juga menemukan bahwa surat kabar turut menentukan apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Dengan kata lain, media massa menetapkan agenda kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu ini merupakan aspek penting dari kekuatan komunikasi massa. Dalam kampanye, model ini mengasumsikan bahwa jika para calon pemilih dapat diyakini akan pentingnya isu, maka mereka akan memilih kandidat atau partai yang diproyeksikan paling berkompeten dalam menangani isu tersebut. Dalam studi pendahuluan tentang Agenda Setting, McCombs dan Shaw (1972) menunjukkan hubungan di antara beberapa surat kabar tertentu dan pembacanya dalam isu-isu yang dianggap penting oleh media dan publik. Jenjang pentingnya isu publik ini disebut sebagai salience. Akan tetapi, studi ini sendiri bukanlah Agenda Setting seperti yang kita maksudkan, karena arah penyebabnya tidaklah jelas. Baik media ataupun publik bisa saja menimbulkan kesepakatan tentang jenjang isu-isu publik. Selain itu, studi pendahuluan ini masih berupa suatu perbandingan umum, bukan perbandingan individual, seperti yang ditetapkan dalam hipotesis Agenda Setting ini. McCombs dan Shaw (1972) mengakui keterbatasan ini dalam studinya dan mengungkapkan bahwa penelitian-penelitian lain harus meninggalkan konteks sosial yang umum dan memakai konteks psikologi sosial yang lebih spesifik. Sayang sekali saran ini tidak sepenuhnya diikuti dalam hampir seluruh penelitian agenda setting yang dilakukan kemudian (Becker, 1982). C. ESENSI TEORI

Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga, kata agenda mempunyai arti rencana atau catatan. Sedangkan kata setting dapat diartikan mengatur atau menetukan. Jadi secara harfiah teori agenda setting adalah teori penentuan agenda. Denis McQuail (2000: 426) mengutip definisi Agenda Setting sebagai process by which the relative attention given to items or issues in news coverage infulences the rank order of public awareness of issues and attribution of significance. As an extension, effects on public policy may occur. D. KONSEP TEORI Untuk lebih memperjelas tentang tiga agenda (agenda media, agenda khalayak, dan agenda kebijakan) dalam teori agenda setting ini ada beberapa dimensi yang berkaitan seperti yang dikemukakan ole Mannheim (severin dan Tankard, Jr : 1992) sebagai berikut : 1. Untuk agenda media, dimensi-dimensi: a. Visibility (visibilitas) yakni jumlah dan tingkat menonjolnya berita. b. Audience salience (tingkat menonjol bagi khalayak) yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak c. Valence (valensi) yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa 2. Untuk Agenda Khalayak, dimensi-dimensi: a. Familiarity (keakraban), yakni derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu b. Personal salince (penonjolan ribadi) yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi. c. Favorability (kesenangan) yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita. 3. Agenda untuk kebijakan, dimensi-dimensi a. Support (dukungan), yakni kegiatan menyenagkan bagi posisi suatu
Agenda Setting TheoryPage 3

berita tertentu. b. Likehood of action (kemungkinan kegiatan), yakni kemungkinan pemerintah melaksanankan apa yang diibaratkan c. Freedom of action (kebebasa bertindak) yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah. E. ASUMSI TEORI Selain itu, agenda setting merupakan penciptaan kesadaran publik dan pemilihan isu-isu mana yang dianggap penting melalui sebuah tayangan berita. dua asumsi mendasar dari teori ini adalah: Khalayak tidak hanya mempelajai isu-isu pemberitaan, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap isu atau topik tersebut. Media massa mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Jadi, dapat diartikan juga bahwa Teori Agenda Setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitkan dan mana yang harus disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar, waktu pada televisi dan radio) dan cara penonjolan (ukuran judul, letak pada suratkabar, frekuensi penayangan, posisi dalam suratkabar, posisi dalam jam tayang). Karena pembaca, pemirsa, dan pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggotaanggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (Community Salience).

F. EXPLANASI TEORI

ika media menonjolkan isu-isu khusus dalam pemberitaannya, maka beararti isu-isu itu dianggap penting oleh khalayak Teori penyusunan agenda ini menjelaskan jika media massa selalu mengarahkan kita pada apa yang harus kita lakukan. Media memberikan agenda-agenda melalui pemberiataanya, sedangkan masyarakat mengikutinya. Menurut asumsi teori ini, media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media mengatakan pada kita apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun mengatur apa yang harus diilhat, tokoh siapa yang harus didukung. Teori Agenda Setting sangat adalah terori yang mendasari pola gerak media. Teori ini juga yang mampu membuat media sanagt perkasa dengan kemampuannya menggerakkan khalayaknya, utamanya menggerakkan pola pikir. Teori ini pula yang mebuat media massa sangat diminati oleh berbagai pihak untuk menyampaikan pesannya. Utamanya pihak pengiklan yang berharap produk yang dia perkenalkan kepada khalayak, yang kemudian dipersepsikan penting, akan dipersepsikan penting oleh masyarakat juga. Sehingga produk itu akan diminati atau bahkan laris dibeli. Teori Agenda setting juga yang membuat partisipan politik ikut memanfaatkan media untuk menyampaikan pesannya. Berharap masyarakat mengikuti agenda yang ditanamkan oleh media massa yang sebelumnya sudah dipesan untuk mempersepsikan dirinya sebaik mungkin dihadapan publik. Maka tak jarang sekarang muncul istilah korban iklan, atau salah pilih pemimpin negara. Hal ini disebabkan karena masyarakat sudah sangat percaya dengan media. Sehingga apa yang disampaikan media dianggap selalu benar. Untuk itu pekerja media tak bisa tidaj harus selalu menyajikan sesuatu yang akurat dan dapat dipercaya. Dalam masa kekinian, yang sudah ditunjang berbagai media komunikasi muncul fenomena baru bahwa masyarakat juga mampu menentukan agenda media, yaitu fenomena Citizen Journalism. Dalam praktiknya seperti yang saya amati di media massa yang menganut citizen journalism (Radio Elshinta dan Radio PRFM), pendengar mampu menetukan apa yang dianggap penting untuk kemudian disiarkan oleh media massa. Penulis mempunyai pemikiran, bahwa bisa saja fenomena Citizen Journalism ini mematahkan teori agenda setting. Namun secara lebih jelasnya, penulis berharap bisa mendiskusikan masalah ini dengan dosen pengajar juga teman-teman lainnya.
Agenda Setting TheoryPage 5

Sementara menurut Dosen Jurnalistik Fikom Unpad, Dede Mulkan, saat melakukan diskusi dengan penulis mengatakan bahwa Agenda setting itu elemennya ada dua, agenda media dan agenda khalayak. Betul bahwa "apa yang dianggap penting oleh media maka akan dianggap penting oleh khalayak", juga sebaliknya "apa yang dianggap penting oleh kahalayk juga dianggap penting oleh media". Oleh karena itu, keduanya saling menentukan, tidak mungkin agenda media berpaling dari agenda khalayak, juga sebaliknya. Lantas penulis saat penulis menanyakan apa keterkaitan antara Agenda Setting dengan Citizen Journalism (CJ), Dede Mulkan kembali menjelaskan, Citizen Jornalism adalah produk jurnalistik yang lahir karena hadirnya perkembagan teknologi komunikasi. Artinya, media membentuk sendiri alur agendanya, sedangkan CJ terpisah dari konsep agenda setting. Tapi memang, akan lebih baik jika kemudian CJ juga diarahkan sesuai dengan agenda khalayak. Tapi, ketika suatu kali ada pasokan berita atau gambar yang dikirim melalui CJ, jika pasokan beritu itu amat sangat menarik, maka CJ itu akan mengalahkan agenda media dan agenda khalayak yang tengah berlangsung. Gampangnya begini: jika misalnya PRFM yang selama ini memilih jalur/konsep CJ sedang membicarakan suatu tema tertentu, katakanlah misalnya tentang "bagaimana menumpas gerombolan motor di kota Bandung". Namun di tengah-tengah diskusi tersebut, tiba-tiba ada pendengar (citizen) yang menelepon memberitahukan peristiwa kebakaran, maka sesaat itu juga, pembicaraan (agenda khalayak dan agenda media) yang tengah membicarakan gerombolan motor, akan terhenti dan beralih ke peristiwa kebakaran tadi. Ini sekali lagi, membuktikan bahwa CJ dalam hal tertentu bisa "mengalahakan" konsep/teori agenda setting Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa fenomena Citizen Journalism, layak didiskusikan bersama ketika kita membahas teori agenda setting. Kelemahan Teori Agenda Setting Coba kita lihat skandal Century yang semakin memanas hingga hari ini. Beritanya tidak menjadi topik utama di semua media massa. Hanya beberapa media saja yang menjadikannya headline. Itu terjadi karena tidak sesuai dengan selera publik. Di sinilah kelemahan dari teori agenda setting. Ketika mulai masuk ke selera publik maka teori yang lebih relevan untuk melihatnya adalah Uses dan Gratification. Teori ini mempertimbangkan apa yang dilakukan orang pada media, yaitu menggunakan media

untuk pemuas kebutuhannya. Dalam memenuhi kebutuhan secara psikologis dan sosial, audiens menjadi tergantung pada media massa. Audiens memperlakukan media sebagai sumber informasi bagi pengetahuan mengenai perkembangan kasus Century. Karena itu, media pun bersedia menayangkan Sidang Pansus Century secara live. Media mencoba memberikan apa yang dibutuhkan oleh audiens sehingga memberikan efek dalam ranah afektif audiens. Salah satunya adalah meningkat dan menurunnya dukungan moral terhadap skandal Century yang sedang dalam penyelesaian. Bernard C. Cohen (1963) mengatakan bahwa pers mungkin tidak berhasil banyak pada saat menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa. Ini termasuk dalam kelebihan dari teori agenda setting sementara yang lainnya adalah memiliki asumsi bahwa suatu berita mudah dipahami dan mudah untuk diuji. Dari kelemahan dan kelebihan yang dimiliki teori agenda setting tentu ada saja dampak negatif dan positifnya. G. APILIKASI / CONTOH KASUS: Pertengahan bulan April tahun 2009 nama Manohara Odelia Pinot begitu ramai di media massa. Namanya menucat sejak kasus dugaan kekerasan rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Pangeran Kelantan Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry. Meskipun gadis kebangsaan Amerika Serikat dan Bugis ini sudah terjun di dunia model sejak tahun 2006 namun namanya hampir tak terdengar. Pada awalnya kasus ini biasabiasa saja namun menjadi sangat besar saat ibu Manohara, Daisy Fajrina, melakukan jumpa pers di kantor Komnas HAM tanggal 23 April. Daisy menceritakan kisah penculikan dan penganiayaan yang dialami putrinya itu. Sejak itu, mulai dari ibu rumah tangga, karyawan, sampai kanak-kanak pun familiar dengan wajah cantik dan kisahnya yang mengharu-biru. Media massa menjadikannya lalu-lalang ramaikan layar kaca kita. Tak tanggung-tanggung, semua stasiun televisi memiliki jadwal wawancara langsung dengannya. Semua aspek kehidupannya dikupas tuntas untuk dipaparkan kepada pemirsa. Kekuatan media memang tidak diragukan lagi dalam memengaruhi massa. Respon dari masyarakat begitu mendalam. Ketika sebuah televisi berinovasi dengan Twitter dan Facebook agar pemirsa bisa menanyakan langsung hal-hal kecil tentang Manohara, muncul pertanyaan Is that
Agenda Setting TheoryPage 7

Christian Louboutin? dan Berapa buah koleksi Tas Hermes milik Mano?. Benar-benar luar biasa. Pengaruh media terhadap khalayak sampai sebegitu jauhnya sehingga mereka jeli dan sangat sadar merk. Para ilmuwan komunikasi dari dulu sampai sekarang berbeda pendapat mengenai kekuatan media massa memengaruhi pendapat dan sepak terjang khalayak. Sebagian mengatakan sesungguhnya media itu sangat powerfull. Media tidak hanya sanggup memengaruhi opini publik, tapi juga tindakan publik. Di sisi lain, pengaruh media dikatakan terbatas, tergantung pada konteks ruang dan waktu, dan di mana media itu bekerja. Bagi mereka yang menganggap the media is powerfull, kemudian melahirkan beberapa teori komunikasi massa yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat dan budaya, yakni teori Agenda Setting, teori Dependensi, Spiral of Silence, dan Information Gaps. Contoh lain Teori Agenda Setting misalnya berita mengenai perseteruan antara KPK dan Polri yang terus menerus disiarkan dalam waktu rata-rata mencapai 2 jam atau lebih dalam siaran televisi dan disajikan pada surat kabar dengan mengisi hampir setengah halaman muka, berarti berita mengenai KPK dan Polri tersebut ditonjolkan sebagai liputan atau informasi utama yang harus disampaikan kepada masyarakat, karena terus diberitakan atau disiarkan hanya beberapa hari berita tersebut menjadi pembicaraan dalam kehidupan masyarakat dan menjadi agenda publik yang dianggap penting. Dalam hal pemberitaan kasus KPK dan Polri yang mengedepankan proses penangkapan Bibit-Candra. Media massa mengagendakan berita mengenai hal tersebut sebagai berita yang paling diutamakan untuk disajikan kepada masyarakat. Pemberitaan mengenai hal tersebut juga mendominasi informasi pemberitaan di sejumlah media massa, baik televisi, radio maupun cetak. Sehingga agenda mengenai pemberitaan KPK tersebut menjadi pembicaraan dan perhatian utama masyarakat untuk mencari tahu dan mengamati apa yang terjadi dalam kasus tersebut. Agenda mengenai pemberitaan tersebut akhirnya mengalahkan berbagai pemberitaan lainnya. Dengan penayangan pemberitaan mengenai kasus KPK vs Polri tersebut yang dijadikan sebagai hal yang dianggap penting oleh media massa kemudian mempengaruhi masyarakat untuk juga menganggap jika itu menjadi agenda yang penting. Sehingga

masyarakat menjadi lupa dengan pemberitaan lainnya yang sebenarnya juga tidak kalah pentingnya. Seperti halnya berita musibah gempa bumi yang terajadi di Bima Nusa Tenggara Timur yang juga merenggut korban jiwa dan menghancurkan ratusan rumah dan bangunan lainnya seperti sekolah, namun berita mengenai musibah tersebut seakan menjadi tenggelam akibat pemberitaan kasus KPK dan Polri yang terus menjadi sorotan media massa. Karena pembaca, pemirsa, dan pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggotaanggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (Community Salience).

Agenda Setting TheoryPage 9

Lampiran

Analisis Pemberitaan Kasus I Siapa yang tak kenal Nazril Ilham atau akrab dipanggil Ariel Peterpan. Nama Ariel Peterpan sempat sedikit meredup karena konflik intern di Band yang membesarkan namanya, Peterpan. Selain itu nama Ariel juga kian tertutup dengan munculnya bandband baru yang lebih digemari masyarakat. Namun nama Ariel kembali ramai diperbincangkan oleh publik, karena kasus yang asusila yang melibatkan dirinya dengan dua aktris kondang negeri ini. Lepas dari benar atau salah dan penyelidikan yang dilakukan kepolisian, imbas dari pemberitaan media tentang kasus Ariel membuat namanya dan grup band asal Kota Bandung yang digawanginya, kini kembali ramai dan diminati publik.

Kasus II Club motor sejatinya ada di hampir seluruh nusantara, namun istilah geng motor untuk club motor yang bertindak anarkis akrab di telinga masayarakat, setelah video rekaman kekerasan yang terjasi saat orientasi yang dilakukan oleh salah satu club motor di bandug. Akibat pemberitaan media tentang kasus ini, kini image negatif menghinggapi seluruh club motor yang ada. Selain itu muncul keingintahuan masyarakat yang luar biasa tentang perkembangan berita geng motor di bandung lengkap dengan perkembangan penanganan yang dilakukan pihak kepolisisn terhadap kasus ini.

Agenda Setting TheoryPage 11

DAFTAR PUSTAKA

1. Elvinaro Adrianto, et all, Komunikasi Massa , Simbiosa Rekatama Media, Jakarta, 2007.
2. Infante Dominic, Andrew S Rance, dan Deanna F

Womack, Building Communication Theory, press ink, United States: 1993 3. Griffin EM, A First Look At Communication Theory Fifth Edition, The McGraw Hill Companies inc, Bosto : 2003. 4. Burton Graeme, Media dan Budaya Populer, Jalasutra, 1999 ; Yogyakarta. 5. Jurnal Komunikasi dan Informasi, Volume V, Nomor 1, April 2008 6. Jurnal ISKI Bandung, Vol I, nomor 1, Agustus 2007 7. Buku Teori Komunikasi Massa, Koleksi Perpustakaan Cisral Unpad 8. Madul Kuliah Teori Komunikasi Jurusan Manajemen Komunikasi 2010
9. www.wikipedia.org

10. www.yearrypanji.wordpress.com
11. www. kompasiana.com