You are on page 1of 2

Winadi Yoyada XIIG / 33

Generasi Muda yang Membawa Perubahan Jangan terlalu patuh terhadap suatu komunitas. Anda harus memberontak terhadap segala aturan yang ada, jelas Mas Dede, demikianlah panggilan akrab Dr. Chatib Basri, S.E., M.Ec. pada seminar edukasi yang diadakan Sabtu kemarin, mungkin cocok untuk saya kutip dalam esai saya ini. Mengapa? Pada masa kini, bangsa selalu monoton, selalu mengikut arus yang ada, dan bersikap tidak peduli terhadap segala masalah di bidang-bidang kehidupan negara kita ini. Jika terus begini. Semua tentunya akan berjalan terus. Kemiskinan berjalan terus, berantakan berjalan terus, kemacetan berjalan terus, korupsi berjalan terus, dan masih banyak lagi yang berjalan terus. Perlu ada gerakan yang melawan arus, gerakan yang membawa perubahan, memberontak terhadap segala kemonotonan yang berjalan terus tanpa ragu. Perubahan tentunya bukanlah sebuah perkara yang mudah seperti

membalikkan telapak tangan. Perlu ada penyesuaian diri terhadap dunia yang kian waktu terus berubah total seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, perlu ada orangorang yang mengerti perubahan zaman dan menanggapinya secara kritis dan cepat yaitu para generasi muda. Ya, para pemuda bangsa yang berpikiran kritis, bersemangat, berpendidikan, dan lebih cepat tanggap tentunya merupakan salah satu kunci untuk mengikuti segala perkembangan dunia yang sangat cepat berubah. Pemuda bangsa seringkali dianggap tidak kredibel lebih suka menyelesaikan masalah dengan terburu-buru dan tidak dengan kepala dingin, terburu-buru, dan selalu melawan aturan. Tentunya, saya berpendapat, tidak begitu. Memang untuk sebuah perubahan butuh sebuah pemikiran yang segar, diluar akal, cepat, dan lain daripada yang lain, sehingga dianggap melawan segala aturan yang ada karena berkonsekuensi tinggi. Pemuda bangsa bahkan mengukir tonggak sejarah lewat tindakan mereka yang luar biasa Sumpah Pemuda tahun 1928. Tindakan mereka yang melawan aturan ini justru memberikan dampak yang luar biasa terhadap

Winadi Yoyada XIIG / 33

reformasi Indonesia dan kebersatuan Indonesia pada zaman itu. Karena itu, pantaslah kita berpikir, bahwa mungkin saja yang akan mengubah bangsa ini bukanlah seorang profesor, doktor, dan lain-lain tetapi para pemuda bangsa yang melakukannya? Menurut saya, seorang pemuda bangsa haruslah berpikir demikian out of the box, keluar dari kotak berbelenggu yang bernama monoton. Kita harus berpikir jernih dan cepat tanggap terhadap berbagai masalah, tidak hanya duduk menunggu rapat, sidang atau segala macamnya tanpa ada tindakan yang mendekatkan diri terhadap situasi masalah tersebut. Ide gila yang tercipta dari seorang pemuda bisa membawa perubahan, seperti para pemuda pada masa reformasi yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok dan berakibat pada sadarnya Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan, juga akibat dari ide gila yang tidak terpikirkan oleh orang lain, tetapi justru membawa perubahan. Keterbukaan. Ya, keterbukaan juga merupakan sebuah kunci seorang pemimpin, baik itu muda maupun tua, menjadi seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Terbuka bukan berarti hanya soal perkenalan terhadap orang lain, tetapi juga terhadap segala masalah yang dialami, apa yang kita punya, dan apa saja rencana yang akan dilakukan dan berapa saja biayanya. Semakin dekat seorang pemimpin dengan bangsanya, semakin kuat juga ikatan yang dihasilkan oleh keterbukaan itu, sehingga pemimpin bisa dipercaya oleh anggotanya dan anggotanya bisa dikontrol oleh bangsanya. Mimpi, merupakan kunci terakhir, dimana seorang pemuda bangsa pastilah memiliki cita-cita dan mimpi yang tidak terbatas dan luar biasa, yang menjadi misinya dalam memimpin bangsa. Mimpi penting agar kita tahu kemana kita harus melangkah, dan itulah yang kita butuhkan. Generasi muda memiliki potensi yang luar biasa sebagai pemimpin. Oleh karena itu patutlah kita mendukung dan membawa pemuda bangsa menjadi pemimpin bagi bangsa kita tercinta ini.