You are on page 1of 2

Generasi Pembaharuan Alexander Arqi XII G / 3

Indonesia pada masa masa ini merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat tinggi, terlebih lagi di Pulau Jawa. Penduduk yang jumlahnya sangat banyak ini, memerlukan seorang pemimpin yang bisa memimpin mereka. Tentu saja, dibutuhkan seorang pemimpin yang jujur dan bekerja dengan sepenuh hati. Saat ini, pemimpin negara kita banyak sekali yang tidak jujur, melakukan tindakan seperti korupsi dan menyogok. Rakyat banyak yang menderita akibat kesemena-menaan para pemimpin bangsa. Yang miskin tetap miskin, malah bagi beberapa orang menjadi bertambah miskin. Yang pengangguran bukannya semakin sedikit, malah semakin lama semakin bertambah, dengan banyaknya dilakukan PHK oleh perusahaan-perusahaan. Rakyat saat ini sangat membutuhkan pemimpin yang bisa mengerti penderitaan rakyat. Dan bukan hanya dimengerti, tapi juga dicoba untuk diperbaiki. Tentu saja harapan rakyat adalah bahwa janji janji manis para pemimpin tidak hanya di mulut saja, karena selama ini banyak sekali perkataan para pemimpin yang tidak direalisasikan pada akhirnya. Seharusnya, banyak pemuda pemuda bangsa yang mengambil peran dalam menjalani roda pemerintahan. Dan tentu saja bukan hanya sembarang pemuda yang bisa menjadi pemimpin bangsa. Diperlukan seorang calon pemimpin yang berjiwa besar, mengerti penderitaan rakyat, serta mau menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin dengan sepenuh hati. Pemimpin ini harus memiliki rasa kejujuran yang tinggi, serta tidak tergila-gila untuk memerintah. Maksudnya, supaya tidak terjadi hal seperti era Soekarno, dimana beliau sangat terobsesi untuk memerintah rakyat, dan yang terjadi adalah, rakyat kehilangan kepercayaannya kepada Soekarno. Pemerintah harus memimpin dengan rasa keadilan yang tinggi. Namun tentu saja, Indonesia tidak akan pernah bisa berubah jika masih saja terjadi sikap rasisme di masyarakat itu sendiri. Saat ini, kebanyakan orang memilih calon pemerintah yang memiliki kepercayaan atau budaya yang sama dengan orang tersebut. Seperti pada Pemilu Jakarta putaran pertama, dapat dilihat,

banyak orang-orang beragama Katolik yang memilih pasangan Jokowi-Ahok, sebab Ahok sendiri merupakan seseorang yang beragama Katolik. Seharusnya, tidak ada yang namanya membeda-bedakan. Ada semboyan Satu Nusa Satu Bangsa. Maksudnya, kita semua adalah satu, bangsa Indonesia itu sendiri. Ada juga semboyan Berbeda-beda Namun Tetap Satu. Tentu saja, walaupun berbeda ras, suku, ataupun agama dan kepercayaan kita, kita semua tetap satu, yaitu bangsa Indonesia. Semboyan tersebut artinya bukan hanya untuk perbedaan ras, suku, ataupun agama. Untuk perbedaan umur pun semboyan tersebut dapat menjadi berarti. Jadi pemerintah tidak boleh terlalu bergantung kepada pemimpin yang sudah tua. Pemimpin-pemimpin tua tersebut seharusnya mengajari pemudapemuda bangsa untuk menggantikan mereka memimpin bangsa. Dan yang paling penting, harus ada rasa kebersamaan diantara semua pihak. Tidak boleh ada pihak yang bersikap egois dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Misalnya, seperti pada masa-masa pemerintahan Soekarno itu. Seharusnya tidak boleh ada yang namanya memerintah seumur hidup. Soekarno bersikap egois dengan mengeluarkan peraturan tersebut. Apalagi adanya peraturan yang menyatakan bahwa presiden harus lahir di Indonesia, dan harus beragama Islam. Bagaimana jika calon pemimpin yang baik dan sangat dibutuhkan oleh negeri ini, merupaka seseorang yang tidak beragama Islam? Sangat disayangkan, padahal seharusnya ia bisa memimpin bangsa kita ke tingkat yang lebih tinggi. Kesimpulannya, seharusnya tidak boleh ada yang namanya kelompok elit. Seharusnya setiap kelompok masyarakat di Indonesia sederajat, dan mempunyai hak suara yang sama. Seharusnya semua orang sejajar dalam hak berpendapat. Bukan karena seseorang miskin yang berbicara, mengakibatkan orang tersebut tidak didengar dan dipandang masyarakat. Opini semua orang harusnya didengarkan, supaya Indonesia sendiri menjadi negara yang lebih baik.