You are on page 1of 2

Henry Sutjiono XII-G/14 Memimpin dengan Hati Yang muda yang memimpin.

Kata kata tersebut sudah sering terdengar di masyarakat. Namun, sampai sekarang kata kata tersebut, tetaplah hanya kata kata belaka. Belum ada sebuah gebrakan relevan yang muncul dari kaum muda. Sementara itu, Indonesia terus dilanda carut marut ketidakjelasan dalam pemerintahan. Bagaimana seharusnya kaum muda, sebagai generasi perubahan, dapat membawa angin segar bagi Indonesia dan seluruh rakyatnya ke depan? Kemajemukan adalah satu faktor yang amat penting untuk dipertimbangkan dalam setiap pembuatan keputusan. Keputusan yang dibuat dengan terburu buru tanpa mempertimbangkan untung rugi bagi seluruh lapisan masyarakat hanya akan membawa perubahan sesaat saja. Salah satu kemajemukan yang sangat umum ditemukan di Indonesia adalah agama. Meskipun sebagian banyak masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam, tidak sedikit pula yang merupakan pengikut ajaran Kristen dan Katolik. Begitu pula dengan agama Buddha serta Hindu. Belum lagi aliran aliran lain seperti Shinto dan kepercayaan lain. Di atas kertas, seharusnya kemajemukan ini semakin memperkaya bangsa Indonesia. Namun, dalam praktek di kehidupan asli, masih banyak konflik antar agama yang terjadi di Indonesia. Selain agama, kemajemukan lain yang umum ditemukan di Indonesia antara lain adalah etnis. Banyak ras yang ada di Indonesia. Suku Batak, suku Cina, dan suku Jawa hanyalah segelintir contoh dari beragam ras yang ada di Indonesia. Kembali, meskipun seharusnya perbedaan perbedaan yang ada tidak dijadikan alasan untuk konflik, kenyataannya konflik tetap saja terjadi. Menurut laporan Setara Institute, hingga Juni 2012, terdapat 179 peristiwa tindakan kekerasan terhadap kekerasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia. Parahnya lagi, 68 bentuk tindakan dilakukan oleh aktor negara, di antaranya penyegelan 19 tempat ibadah di Indonesia. Sebagai pemimpin yang seharusnya dapat mempersatukan segala perbedaan yang ada, apakah hal tersebut pantas? Oleh karena itu, sebagai generasi muda, terutama yang telah mengalami segala diskriminasi yang terjadi tersebut, tentulah harus dapat memimpin tanpa membeda bedakan masyarakat. Dalam membuat kebijakan, mestilah melihat dari segala sisi, termasuk dari sisi masyarakat minoritas. Pemerintah juga harus berani menentang kelompok mayoritas jika memang hal tersebut yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nasional. Rebel against conformity. Faktor agama dan ras ini memang sulit untuk diatasi karena merupakan persoalan yang sensitif. Disenggol sedikit saja bisa menjadi penyulut konflik yang berkepanjangan. Namun tanpa pembawa perubahan, diskriminasi itu tidak akan pernah pergi dari bangsa ini. Begitu pula dengan kemajemukan lain, tentu tidak mudah untuk diatasi, namun seperti peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, diskriminasi itu bukan lagi boleh dihilangkan, melainkan harus dihilangkan agar Indonesia sebagai suatu kesatuan bangsa dan negara dapat berkembang. Sekarang ini, dunia berkembang dengan amat cepat. Dibantu dengan arus globalisasi yang semakin cepat dan mudah dengan bantuan internet, segala sesuatu dapat diketahui hanya dalam hitungan menit atau bahkan detik. Kemajuan teknologi yang begitu pesat ini juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi generasi muda dalam memimpin bangsa ini. Globalisasi seharusnya menjadi sesuatu hal yang positif. Sebagai suatu sarana berhubungan jarak jauh, globalisasi seharusnya membantu menghilangkan batasan batasan jarak yang sebelumnya amat menyusahkan semua orang. Namun pada kenyataannya, globalisasi justru membawa dampak yang buruk, tidak hanya pada

masyarakat Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Suatu survey yang diadakan pernah membuktikan bahwa apabila seluruh dunia mengikuti gaya hidup orang orang Amerika Serikat, akan dibutuhkan 5 bumi untuk mengakomodir segala kebutuhan energi yang diperlukan. Selain itu, jika mengikuti gaya hidup orang Eropa, akan dibutuhkan 3 bumi. Padahal, Amerika Serikat dan negara negara Eropa sekarang menjadi model bagi mayoritas negara di dunia, termasuk Indonesia. Gaya hidup konsumtif tersebut adalah salah satu akibat dari globalisasi, tentunya dalam sisi negatif. Oleh karena itu, generasi muda harus berani untuk membuat suatu gebrakan gaya hidup rendah energi. Tidaklah etis untuk tumbuh terus. Arus globalisasi memang tidak dapat dihindari, namun dapat dan harus diminimalisir pengaruh negatifnya. Kebanyakan remaja Indonesia menghabiskan waktunya di depan komputer atau alat elektronik lainnya, padahal mereka seharusnya dapat menggunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan lain yang jauh lebih produktif, seperti berorganisasi. Oleh karena itu, pemerintah, dan mungkin sekolah sekolah dapat juga membantu, dapat membuat wadah wadah yang lebih banyak untuk menampung minat dan aspirasi dari remaja remaja tersebut. Hal tersebut memang tidak dapat dipaksakan dan tergantung minat tiap orang, yang sudah tentu berbeda beda, namun setidaknya ada usaha dari pemerintah untuk menampung bagi yang mau. Dengan berorganisasi, generasi muda tersebut akan disiapkan untuk memimpin bangsa, karena sudah terbiasa bersosialisasi dengan orang lain, mengetahui sebenarnya pandangan pandangan dari sudut pandang yang berbeda, dan memiliki banyak relasi. Jika generasi muda hanya duduk seharian di depan gadget yang tersedia, bagaimana mereka dapat memimpin bangsa? Mungkin mereka tetap mengikuti perkembangan berita, namun bagaimana mereka dapat melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang yang berbeda? Pada akhirnya, memang semua hal itu berakar pada pendidikan sejak usia dini bagi para remaja. Untuk dapat mengambil peran besar di garis depan bangsa ini, perlu penanaman leadership terlebih dahulu. Mengutip pernyataan terkenal dari Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka, jika gagal untuk mendidik diri sendiri. Bangsa yang gagal mendidik dirinya sendiri tidak akan dapat maju, karena tidak akan memiliki seorang pemimpin yang cukup kompeten untuk dapat mengatur bangsa tersebut. A leader is not born, but made. Pemimpin tidak lahir sebagai pemimpin, namun dibentuk sebagai pemimpin. Memang ada orang orang tertentu yang memiliki kharisma dan dapat memimpin banyak orang. Namun tidak berarti orang orang yang tidak memilikinya tidak dapat menjadi pemimpin. Pemimpin juga harus dekat dengan rakyatnya, mau melayani, mau mendengar saran dan usulan dari orang lain, serta mau dan berani menbuat gebrakan dengan tindakan tindakan konkrit, meskipun berarti harus melawan arus orang banyak. Masalah kemajemukan dan sisi negatif globalisasi sudah menjamur di masyarakat Indonesia, dan penyelesaian dari kedua masalah itu menjadi tanggung jawab para generasi muda di masa depan. Generasi muda harus dapat memimpin dengan tegas, namun dekat dengan rakyat. Generasi muda harus mau melayani, namun juga berani menentang jika hal itu untuk kebaikan. Generasi muda harus memimpin dengan percaya diri, namun tidak menutup mata dan telinga terhadap segala masukan dari siapapun, baik itu penasihat presiden maupun seorang anak berumur 7 tahun. Generasi muda harus dapat memimpin dengan hati. Yang muda, yang memimpin.