You are on page 1of 10

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Susu Aliran darah Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan

termasuk managemen dan pemberian pakan. Metode yang umum ditempuh untuk meningkatkan produksi susu adalah melalui perbaikan managemen dan pemberian pakan yang terutama bertujuan untuk meningkatkan aliran substrat di dalam darah (prokursor susu) menuju kelenjar ambing (sutardi, 1979). Pada kambing aliran darah mammae atau ambing meningkat 100-250% dalam 6 hari setelah beranak (post partum) dan peningkatan aliran darah tersebut berhubungan dengan penurunan aliran darah ke uterus. peningkatan sel-sel sekretoris kelenjar ambing. hari sebelum beranak (Sutardi, 1979). Susu sapi dibuat homogen dengan perlakuan mekanis. hal itu menyebabkan ikatan lemak susu sapi dipecahkan dan enzim yang terikat di dalamnya, oksida santin (xanthine oxidase) memasuki dinding pembuluh darah dan ikut dalam aliran darah. Enzim itu dapat memengaruhi jantung dan saluran arteri. Akibatnya, tubuh dirangsang melepaskan kolesterol ke dalam darah sebagai bentuk pertahanan terhadap materi lemak. Kejadian itu dapat menyebabkan arteriosklerosis (pengapuran pembuluh nadi) (Prihadi, 1997). Kelenjar Susu Jaringan kelenjar susu dapat memberikan peluang untuk mempelajari fungsi dasar fisiologi sel dan system organellanya. Jaringan kelenjar susu tersebut berbeda dengan jaringan-jaringan yang lain dalam hal pertumbuhannya sebagian besar terjadi pada saat ternak betina telah mencapai pubertas (Prihadi,1997). Kelenjar susu merupakan kelenjar tambahan sistema reproduksi. Dalam kondisi yang normal kelenjar susu akan berkembang setelah sistema reproduksi beroperasi atau berfungsi. Pada ternak yang berplasenta perkembangan kelenjar susu sebagian Produksi susu akan meningkat apabila peningkatan aliran substrat tersebut akan diikuti dengan Terjadi kenaikan produksi sel sekretoris secara gradual yang diikuti oleh peningkatan menyolok sel sekretoris 20

besar terjadi setelah ternak mulai bunting. Pertumbuhan jaringan kelenjar susu dibawah pengaruh hormon-hormon. Namun tidak diketahui apakah kadar hormon dalam darah selama bunting mempengaruhi besarnya perkembangan kelenjar susu atau hormonhormon tersebut berfungsi hanya sebagai perangsang atau kunci yang merangsang material genetik dalam asam deoksiribonucleat (DNA) dalam sel kaitannya dengan pembelahan sel untuk pertumbuhan kelenjar susu (Prihadi,1997). Ambing adalah suatu kelenjar kulit yang tertutup oleh bulu, kecuali pada putingnya. Ambing tanpak sebagai kantung yang berbentuk persegi empat (Prihadi,1997).Ambing sapi terdiri dari dua tenunan atau jaringan yaitu tenunan kelenjar yang menghasilkan susu dan tenunan pengikat berfungsi sebagai kerangka. Tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat disatukan dan terbungkus oleh kulit berfungsi sebagai pelindung (Soetarno,1999). System tenunan kelenjar susu terdiri dari rongga puting, rongga ambing, saluran susu besar dan alveoli. Sedang system tenunan pengikat terdiri dari sekelompok alveolus-alveolus atau alveoli terbungkus oleh membran yang tipis berbentuk lobulus. Lobulus-lobulus atau lobuli, satu dengan yang lainnya juga terbungkus oleh membran yang tipis. Dari banyak lobuli yang terbungkus oleh membran tipis tersebut terbentuk lobus. Membran yang tipis membungkus alveoli atau lobuli dan semua tenunan atau jaringan pengikat yang ada pada tenunan kelenjar susu merupakan sistema tenunan pengikat yang berfungsi sebagai kerangka dari tenunan kelenjar susu (Soetarno,1999). Ambing sapi terdiri dari empat bagian. Kulit ambing ditutupi rambut halus tetapi puting sama sekali tidak tertutup rambut. Tiap bagian itu dilihat dari segi jaringan kelenjarnya, merupakan kesatuan yang terpisah. Separo bagian kanan dan separo bagian kiri, masing-masing satu kuarter (seperempat bagian) cranial ambing (depan) dan satu kuarter caudal ambing (belakang), dan masing-masing bagian tersebut lebih kurang merupakan kesatuan sendiri-sendiri. Separo bagian ambing yang satu tidak tergantung pada separo bagian ambing yang lain, khususnya dalam hal suplai darah, saraf dan aparatus suspensoris (Frandson, 1993). Ambing terdiri dari bagian-bagian kecil dari jaringan sekretorik yang tersusun

dari alveoli. Sejumlah alveoli bergabung menjadi satu oleh satu saluran dan terbungkus oleh jaringan ikat membentuk lobulus. Sejumlah lobulus bergabung menjadi satu membentuk lobus. Susu terbentuk dalam alveolus dan jaringan sekretorik akan dikeluarkan melalui saluran kapiler menuju kedalam lobulus dan selanjutnya terkumpul dalam lobus. Dari lobus melalui saluran-saluran yang akhirnya bergabung menjadi saluran induk dialirkan menuju sistem ambing yang terdapat diatas puting. Ujung puting sapi hanya mempunyai satu lubang (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Dua kuarter bagian depan biasanya berukuran sekitar 20 % lebih kecil dari kuarter bagian belakang (Blakely et al., 1991). Ambing bagian belakang menghasilkan susu 60 %, sedangkan bagian depan 40 % dari jumlah susu yang dihasilkan (Prihadi, 1997). Kapasitas sisterna ambing bervariasi antara 100400 gram susu. Ujung puting sapi hanya mempunyai satu lubang yang disebut streak canal, teat meatus atau ductus papillaris. Jaringan penyangga ambing dibedakan menjadi 7 yaitu : kulit, fascia superfisial, cordlike tissue, ligamentum suspensatorium lateralis, bagian dalam ligamentum suspensatorium lateralis, tendeo subpelvis, dan ligamentum suspensorium medialis (Frandson, 1992). Puting memiliki variasi bentuk, ada yang berbentuk silinder, kerucut, pensil dan ada pula yang panjang maupun pendek. Puting yang normal memiliki warna yang bersih (tanpa warna hitam) (Prihadi, 1997). Puting susu kambing bersatu atau bergantung pada ambing bentuk simetris dan cukup besar ukurannya. Ambing besar rasanya lembut bila dipegang dan mudah dilipat-lipat. Bulu yang tumbuh yaitu lembut dan halus. Di bawah ambing ada urat pembuluh darah dan kulit ambing mengisut (Sarwono, 1997). Keluarnya air susu dipengaruhi oleh hormon oxytocin. Hormon ini mempengaruhi sel-sel myoepithelium atau sel-sel epitel otot dan menyebabkan kontraksi pada sel-sel tersebut. karena kontraksi tersebut maka ambing kencang dan menurunkan susu. Hormon tersebut dikeluarkan kedalam peredaran darah apabila ada rangsangan-rangsangan yang diterima oleh hewan dari petugas perah (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Rate of milking seekor sapi sebagian tergantung pada besar teat meatus. Sapi

yang mempunyai aliran cepat pada pemerahan biasanya mempunyai teat meatus dengan diameter yang besar. Teats cistein, satu rongga dalam puting susu dapat menampung susu kira-kira 10-30 cc susu tergantung besar kecilnya puting. Pada teats cistein terdapat lipatan-lipatan yang kadang ada yang berupa membran lengkap terbentang melintang dalam puting, sehingga puting menjadi buntu dan susu tidak dapat keluar (Prihadi, 1997).

Perkandangan Kandang sapi perah adalah tempat sapi dapat beristirahat dengan tenang memberi perlindungan bagi sapi maupun pekerjanya, terhindar dari air hujan, angin kencang dan teriknya sinar matahari. Dengan perkataan lain, kandang harus dapat mengeliminer segala faktor luar yang dapat menimbulkan gangguan sapi perah yang ada di dalamnya. Di samping faktor luar tadi, hal-hal lainnya yang menyangkut pembuatan kandang perlu pula diperhatikan (Siregar, 1995). Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal sapi dan pekerja peternak-peternak yang mengurus sapi setiap hari. Sarana pokok yang langsung maupun tidak langsung turut menentukan berhasil tidaknya usaha sapi perah, tempat yang memberi kenyamanan dari alam misalnya hujan, angin dan udara dingin sehingga merupakan tempat pengawasan kesehatan ternak sapi perah (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Bangunan kandang didasarkan pada keperluan usaha sapi perah, dan pembangunannya ditujukan untuk mengurangi penggunaan waktu dalam pemeliharaan, efisiensi kerja dan tenaga kerja. Besar bangunan harus disesuaikan dengan rencana jumlah ternak yang akan dipelihara dalam keadaan iklim setempat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kandang adalah cahaya matahari, ventilasi, letak kandang, parit (Sudomo,1987). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang yaitu kandang harus dapat diterangi secara langsung maupun tidak langsung oleh sinar matahari, konstruksi kandang diusahakan sedemikian rupa sehingga kemungkinan pertukaran udara segar yang lancer, kandang yang dibangun hendaknya terletak dibawah sumber air. Pembuatan parit dalam kandang hendaknya sedemikian rupa sehingga

memudahkan penyaluran kotoran dari kandang, terutama feses, sehingga kandang selalu dalam keadaan bersih. Kotoran hendaknya dikumpulkan dan ditimbun ketempat penyimpanan pupuk kandang yang jaraknya minimal 10 meter dari kandang (Anonimus,1991). Hal lain yang perlu diperhatikan diantaranya adalah lantai kandang. Lantai kandang hendaknya cukup keras, kuat, tidak licin, tidak mudah pecah atau rusak, tidak boleh porus, tidak boleh becek, dan mudah dibersihkan. Lantai kandang umumnya menggunakan semen beton dibuata sedikit miring kearah selokan, kemiringannya 2% atau 1,5 (2 cm tiap 1 m kemiringan). Lantai kandang dibuat lebih tinggi sekitar 35 cm dari sekitarnya (Anonimus,1991). Macam-macam kandang sapi perah antara lain kandang pedet dan kandang sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi kandang observasi (observasi pens), kandang individu (individual pans), kandang kelompok (group pens), kandang pedet berpindah (portable calf pens) (Sudomo,1987).

1.Kandang pedet Kandang obsevasi dibuat satu kandang tiap sapi pedet dan dibuat sedemikian rupa sehingga pedet mudah diawasi. Kandang individu digunakan untuk pedet yang masih diberi susu, yang diberi tempat rumput dalam ukuran kecil. Kandang kelompok diperuntukkan untuk lebih dari satu pedet dan untuk pedet yang lepas sapih. Kandang untuk pedet sebelum disapih biasanya menggunakan kandang pedet individual dan tidak perlu diikat. Kandang pedet ini dibuatberdampingan dengan kandang sapi perah induk, dengan setiap ekor sapi perah induk harus ada satu kandang pedet (Siregar, 1989).

2.Kandang Induk

Kandang sapi induk atau sapi dara antara lain kandang tambat (stanchion bain), pada kandang ini kebebasan sapi bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi sapi kurang baik. Kandang ini ada dua jenis yaitu kandang bertingkat dan kandang tunggal atau satu lantai, dengan tujuan mengurangi resiko angin topan, mengurangi resiko kebakaran, murah dan membuatnya, serta mudah perawatannya (Sudomo, 1987). Sedangkan kandang tunggal atau satu lantai dilihat dari penempatan sapi dibedakan menjadi satu baris atau lebih dari satu baris. Jenis kandang yang lain yaitu kandang lepas ynag merupakan system kandang yang memberi kesempatan sapi bebas karena tidak ditambat. Kandang ini terdiri dari kandang lepas system loose housing merupakan kandang sapi perah yang sapinya tidak ditambat, bagian kandang ini terdiri dari ruang tempat istirahat, tempat peranginan dan tempat penyimpanan makanan, tempat memerah dengan mesin dan tempat sapi kering. Kandang lepas system freestall pada prinsipnya sama dengan system loose housing, yaitu sapi dipelihara dikandang dengan tidak ditambat. Pada kandang freestall tempat istirahat atau tidur sapi disekat-sekat, dan tiap sekatnya hanya cukup untuk satu ekor (Sudomo, 1987). Jenis kandang yang lain yaitu kandang beranak, dan kandang karantina. Kandang beranak berukuran sekitar 34 cm dengan alas dari jerami atau rumput kering dan bebas dari benda tajam. Sedang kandang karantina adalah kandang untuk perasingan sapi sakit, sehingga harus dibuat terpisah dari bangunan lainnya, dan dipisahkan dengan tembok. Lantai kandang dibuat dari papan diatas lantai semen yang miring, sehingga sapi tidurnya enak, dan juga dibuatkan kandang paksa untuk sapisapiyang sukar dikendalikan (Sudomo, 1987).

Pembahasan Anatomi dan Fisiologi Aliran Darah Arteri yang mengalirkan darah dari jantung ke kelenjar susu (ambing ) ada 2 yaitu artreri Pudenda Externa (kiri dan kanan) merupakan kelenjar susu bagian depan dan arteri Perinealis merupakan kelenjar susu bagian belakang. Peredaran darah dari ambing ke jantung , di dalam sel- sel kelenjar terdapat Venulae, Venulae beranastomose membentuk Vena Mammaria yang menampung darah dari jantung. Vena pada dasar ambing membentuk lingkaran vena ( Venous circle ) yang merupakan tempat di mana darah meninggalkan ambing. Aliran darah dari ambing ke jantung, darah yang meninggalkan ambing melalui 3 vena diantaranya yaitu 1. Pudenda Externa (kiri dan kanan), nena ini sejajar dengan arteri pudenda externa, meninggalkan ambing melalui Canalis Inguinalis, ke Vena Cava Posterior. 2. Abdominalis Subcutaneous (vena susu), aliran darah melalui vena susu ini terletak langsung di bawah kulit, meninggalkan ambing pada sepanjang permukaan ventral dari rongga perut, ke anterior, menembus dinding abdomen. 3. Vena Perinealis, aliran darah di dalam vena ini melalui Pelvic. Aliran darah dari ambing menuju ke jantung dipengaruhi oleh posisi sapi, yaitu pda saat sapi berdiri darah sebagian besar mengalir melalui vena susu, sedangkan apabila pada saat sapi berbaring darah dari ambing menuju ke jantung melalui vena perinealis, vena susu tertekan, jalur melalui vena susu terhenti, darah dari ambing ke jantung melalui vena Perinealis. Vena menjadi lebih besar pada saat kebuntingan dan laktasi. Setelah sapi beranak aliran darah ke ambing meningkat 180%, aliran nutrisi dan hormone laktogenik lebih banyak ke ambing, sekresi susu lebih baik. Untuk darah yang mengalir, tiap 1 unit volume susu diperlukan 500 unit volume darah yang mengalir ke ambing. Kelenjar Susu Kelenjar susu merupakan salah satu jaringan hewan mamalia yang mengalami

pertumbuhan, deferensiasi sesuai dengan fungsinya dan mengalami regresi, kelenjar susu ini terjadi sejak fase fetus dan terus berlangsung sampai awal laktasi. Perkembangan struktur kelenjar susu terdiri dari 5 periode yaitu yang pertama periode fetus (embrio/ sebelum lahir), periode pre-pubertal, periode post-pubertal, periode kebuntingan, dan laktasi. Sapi dan kambing mempunyai konsistensi ambing yang sama yaitu kelenjar, karena pada saat dipegang tidak padat tetapi lunak yang berarti dalam ambing tersebut tidak terlalu banyak jaringan ikat (Syarif dan Somo Prastowo, 1984), sedangkan pertautan ambing pada sapi kuat dan pada kambing kendor. Dengan kondisi demikian menurut Syarif dan Somo Prastowo(1984) ambing kambing tersebut ambing yang jelek , karena bentuk puting meruncing, bentuk pencil dan pertautan ambing kendor. Beberapa hormon yang bertanggung jawab pada pertumbuhan kelenjar susu sama dengan yang berperan dalam reproduksi. Hormonhormon pituitari dan ovarium juga bertanggung jawab terhadap perkembangan kelenjar susu. Disamping itu estrogen terutama berperan pada perkembangan saluran susu dan progesteron bertanggung jawab pada perkembangan lobula alveolar (Sugeng P, 1997). Kelenjar susu ini terdiri dari jaringan skretorik dan jaringan penunjang yang dibentuk oleh lapisan Ectoderm dan Mesoderm. Tahap perkembangan kelenjar susu pada fetus yaitu 1. Ectoderm mengalami pertumbuhan pada kedua sisi linea alba (garis tengah membujur sepanjang dinding tubuh bagian ventral), ectoderm menyempit membentuk mammary band (jalur susu). Mammary bund terbentuk pada hari ke 32 dengan panjang lebih kurang 1 cm. Mammary band menyempit membentuk mammary line, pada mammary line terbentuk mammary bud ( tunas susu).

Perkandangan

Dalam perkandangan hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan, dan perlengkapan dari kandang. Kebersihan kandang dapat dijaga melalui sanitasi. Selain itu hal-hal seperti ventilasi, cahaya, konstruksi bangunan, kekeringan kandang. Kandang A yang terdapat di kandang ternak perah adalah kandang tipe sejajar tunggal, dengan halaman yang cukup luas. Luas tiap sekat cukup untuk 1 ekor sapi. Dalam tiap sekat dilengkapi dengan tempat pakan, tempat minum, dinding pemisah, cincin yang terdapat pada bagian samping (pada dinding pemisah) untuk menambatkan tali. Luas tempat pakan lebih luas daripada tempat air, biasanya luas tempat air adalah 1/3 dari panjang tiap sekat. Pada kandang persusuan sudah sesuai dengan ketentuan yang lebih kurang 1/3 nya. Begitu juga dengan kandang pedetnya. Sedang untuk kandang persusuan B adalah bertipe sejajar ganda (2 baris) dengan kepala berlawanan. Kandang ini dapat menampung jumlah yang lebih banyak. Sedangkan dinding yang dibuat tidak begitu tinggi sehingga ventilasinya baik, serta mudah memperoleh cahaya yang cukup. Lantai yang dibuat mempunyai kemiringan. Hal ini bertujuan agar kotoran dan air buangan bisa mengalir sehingga tidak menggenang. Begitu juga dengan parit atau selokan sehingga kotoran atau limbah bisa mengalir sampai pembuangan akhir. Untuk kemiringan selokan, kedua ujung selokan lebih tinggi daripada bagian tengah karena saluran ke pembuangan akhir berada di tengah. Kemiringan ideal untuk selokan adalah 2 % (Soetarno, 1999). Apabila kemiringam lantai maupun selokan tidak terpenuhi akan menyebabkan kotoran dan air buangan tergenang, sehingga bisa menyebabkan kandang menjadi lembab. Lantai dan selokan di kandang perah kurang memenuhi syarat karena kemiringannya kurang ideal, padahal yang ideal 10 15 oC untuk lantai (Syarief dan Soemoprastowo, 1984), dan untuk selokan 7,25% (Soetarno, 1999). Konstruksi kandang sudah cukup memenuhi syarat, sehingga suasana dalam kandang bisa memberi kenyamanan pada sapi, sementara lingkungan di sekitar juga mendukung.

Jarak kandang dengan penampung kotoran, dirasakan masih terlalu dekat dengan kandang. Hal ini dapat menyebabkan lemak susu terpengaruh oleh bau kotoran, karena pemerahan dilakukan di dalam kandang yang dekat dengan tempat penampung kotoran.