You are on page 1of 77

Usaha pertambangan adalah kegiatan yang mempunyai resiko yang sangat besar.

Oleh sebab itu, maka kegiatan ini harus selalu dilakukan dengan penuh perhitungan, sehingga potensi-potensi resiko tadi tidak menjadi resiko ril (menjadi kenyataan). Pada tambang batubara bawah tanah, potensi kecelakaan kerja lebih besar bila dibandingkan dengan pada tambang batubara terbuka. Besarnya potensi kecelakaan kerja itu juga sejalan dengan besarnya kerusakan atau kerugian yang dapat ditimbulkan oleh kecelakaan kerja itu. Salah satu potensi kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah adalah ledakan gas dan debu batubara. Dalam uraian berikut ini akan dijelaskan berbagai jenis gas tambang dan debu batubara dan bagaimana semuanya itu dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan bagaimana teknik pencegahan dan penanganannya. Gas-Gas Tambang Batubara adalah sejenis bahan bakar yang berasal dari fossil tumbuh-tumbuhan yang telah mengalami peristiwa motamorfosis semenjak jutaan tahun yang lalu. Tumbuh-tumbuhan itu telah mengalami fase penggambutan dan fase pembatubaraan. Selama proses penggambutan sampai dengan pembatubaraan itu, tentu saja secara alamiah akan terjadi serapan udara dan berbagai jenis gas lainnya, hal ini disebabkan oleh adanya sifat porositas dan kapilaritas dari tumbuh-tumbuhan itu. Ketika batubara itu mengalami proses pembukaan dari keadaan awalnya, maka gas-gas yang berada dalam batubara itu akan keluar bila ada sesuatu yang mendorongnya, baik itu oleh rekahan, patahan, remukan, atau tekanan dari udara luar dan sebagainya. Setelah gas-gas itu keluar dari posisinya semula, maka dia akan teremisi ke udara di sekitarnya. Secara umum pada udara luar, komposisi udara normal terdiri dari 21% Oksigen, 78,09% Nitrogen, 0,03% Carbon dioksida, dan 0,93% Argon. Komposisi udara itu untuk di dalam terowongan tambang bawah tanah akan sangat berbeda, karena jelas dalam tambang bawah tanah itu akan terjadi emisi dari berbagai jenis gas yang keluar dari batuan yang ada. Gas-gas yang mungkin ada dalam batubara antara lain: O2, N2, CO2, CH4, NO, NO2, H2S, dan SO2.

Berikut ini dijelaskan secara ringkas berbagai ketentuan yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dalam kaitan dengan komposisi gas-gas yang ada dalam tambang. Oksigen (O2) Prosentase normal untuk oksigen dalam udara adalah 21%. Bila kadar oksigen yang ada dalam udara di lingkungan kerja itu kurang dari 19,5%, maka para pekerja akan mengalami stress dan bila tetap dipaksakan bekerja di sana akan terjadi kelelahan yang cepat, karena tenaganya akan terkuras untuk menghirup udara (oksigen) dan pada akhirnya para pekerja akan menjadi lemas. Penyebab berkurangnya kadar oksigen dalam udara pada tambang bawah tanah biasanya adalah: pembakaran (combustion), peledakan (blasting), reaksi oksidasi (oxidation) bahan organic, diantaranya kayu dan batubara dan juga karena adanya proses pernafasan manusia yang mengeluarkan karbon dioksida.

Nitrogen (N)

Komposisi udara normal mengandung sebahagian besar nitrogen (N), yakni lebih kurang 78,09%. Sifatnya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa dan lebih ringan dari oksigen serta tidak beracun, tetapi bila kadarnya lebih besar dari 80% dia dapat menyebabkan sesak nafas bagi manusia, karena secara otomatis kadar oksigen akan berkurang.

Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida (CO) adalah sejenis gas yang berasal dari pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fossil atau zat organik lainnya. Gas karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi sangat beracun. Menurut data dari Savety Executive (Tempo, 29-12-2002), gas terbesar potensinya untuk membuat orang keracunan akut adalah karbon monoksida.

Karbon Dioksida (CO2)

Manusia dan binatang bernafas dengan menghirup udara yang mengandung oksigen dan ketika pernafasan keluar dihasilkan gas karbon dioksida (CO2). Gas ini tidak berwarna dan lebih berat dari udara dan rasanya agak asam. Bila gas ini terhirup dalam jumlah yang besar akan menimbulkan sesak pernafasan.

Gas Methan (CH4)

Pembentukan gas methan (CH4) sejalan dengan proses pembatubaraan. Selama proses pembatubaraan itu gas-gas methan terperangkap dan terkumpul dalam lapisan batubara (coal seam) dan juga dapat terjebak pada batuan sampingnya. Pada waktu itu terjadi perobahan daya serapnya terhadap oksigen dan sebaliknya terjadi peningkatan kandungan karbon (lihat table) Tabel 1.Serapan Oksigen dan Kadar Karbon Batubara Tipe Batubara Oksigen (%) Karbon(%) Peat 35,3 57,0 Lignit 26,5 67,0 Bituminous 10,6 83,0 Antrasit 03,0 93,0

Pada tambang batubara bawah tanah, kecelakaan kerja yang paling ditakuti adalah kebakaran atau ledakan gas methan, karena gas methan adalah gas yang paling mudah terbakar (the most common flammable gas). Gas methan tidak berwarna, tidak berbau, lebih ringan dari udara, dan tidak beracun. Pada konsentrasi 5% dari volume udara saja gas ini sudah dapat terbakar (lower explosive limit), yang setara dengan 100% LEL, sedangkan batas ledakan teratas (upper explosive limit) pada 300% LEL atau sekitar 15% volume udara.

Nitrogen Dioksida (NO2)

Nitrogen dioksida dapat berasal dari gas buang knalpot mesin-mesin tambang, baik yang berbahan bakar solar ataupun bensin, peledakan gas atau dari bunga api listrik. Gas nitrogen dioksida bersifat beracun dan cukup berbahaya, berwarna coklat kemerahan, lebih berat dari udara.

Hidrogen Sulfida (H2S)

Hidrogen sulfida (H2S) dapat terbentuk dari peledakan bijih-bijih sulfida atau bahan-bahan lapukan. Gas H2S bersifat racun, tidak berwarna, dan mudah terbakar.

Sulfur Dioksida (SO2)

Gas sulfur dioksida (SO2) atau disebut juga gas belerang terbentuk dari proses peledakanatau pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur (sulfida). Gas SO2 sangat beracun, tidak berwarna, berbau belerang. Jika terhirup dalam jumlah yang cukup banyak, dapat menimbulkan sesak nafas dan pusingpusing atau mual. Copyright BDTBT 2004 Pusdiklat Teknologi Mineral & Batubara

RSS Subscribe: RSS feed Teknik Pertambangan .:: ~ Another Miner Resource ~ ::.

Pengenalan gas-gas Tambang


Posted on 27/11/2009

Usaha pertambangan adalah kegiatan yang mempunyai resiko yang sangat besar. Oleh sebab itu, maka kegiatan ini harus selalu dilakukan dengan penuh perhitungan, sehingga potensi-potensi resiko tadi tidak menjadi resiko ril (menjadi kenyataan). Pada tambang batubara bawah tanah, potensi kecelakaan kerja lebih besar bila dibandingkan dengan pada tambang batubara terbuka. Besarnya potensi kecelakaan kerja itu juga sejalan dengan besarnya kerusakan atau kerugian yang dapat ditimbulkan oleh kecelakaan kerja itu. Salah satu potensi kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah adalah ledakan gas dan debu batubara. Dalam uraian berikut ini akan dijelaskan berbagai jenis gas tambang dan debu batubara dan bagaimana semuanya itu dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan bagaimana teknik pencegahan dan penanganannya. Gas-Gas Tambang Batubara adalah sejenis bahan bakar yang berasal dari fossil tumbuh-tumbuhan yang telah mengalami peristiwa motamorfosis semenjak jutaan tahun yang lalu. Tumbuh-tumbuhan itu telah mengalami fase penggambutan dan fase pembatubaraan. Selama proses penggambutan sampai dengan pembatubaraan itu, tentu saja secara alamiah akan terjadi serapan udara dan berbagai jenis gas lainnya, hal ini disebabkan oleh adanya sifat porositas dan kapilaritas dari tumbuh-tumbuhan itu.

Ketika batubara itu mengalami proses pembukaan dari keadaan awalnya, maka gas-gas yang berada dalam batubara itu akan keluar bila ada sesuatu yang mendorongnya, baik itu oleh rekahan, patahan, remukan, atau tekanan dari udara luar dan sebagainya. Setelah gas-gas itu keluar dari posisinya semula, maka dia akan teremisi ke udara di sekitarnya. Secara umum pada udara luar, komposisi udara normal terdiri dari 21% Oksigen, 78,09% Nitrogen, 0,03% Carbon dioksida, dan 0,93% Argon. Komposisi udara itu untuk di dalam terowongan tambang bawah tanah akan sangat berbeda, karena jelas dalam tambang bawah tanah itu akan terjadi emisi dari berbagai jenis gas yang keluar dari batuan yang ada. Gas-gas yang mungkin ada dalam batubara antara lain: O2, N2, CO2, CH4, NO, NO2, H2S, dan SO2. Berikut ini dijelaskan secara ringkas berbagai ketentuan yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dalam kaitan dengan komposisi gas-gas yang ada dalam tambang. Oksigen (O2) Prosentase normal untuk oksigen dalam udara adalah 21%. Bila kadar oksigen yang ada dalam udara di lingkungan kerja itu kurang dari 19,5%, maka para pekerja akan mengalami stress dan bila tetap dipaksakan bekerja di sana akan terjadi kelelahan yang cepat, karena tenaganya akan terkuras untuk menghirup udara (oksigen) dan pada akhirnya para pekerja akan menjadi lemas. Penyebab berkurangnya kadar oksigen dalam udara pada tambang bawah tanah biasanya adalah: pembakaran (combustion), peledakan (blasting), reaksi oksidasi (oxidation) bahan organic, diantaranya kayu dan batubara dan juga karena adanya proses pernafasan manusia yang mengeluarkan karbon dioksida.

Nitrogen (N)

Komposisi udara normal mengandung sebahagian besar nitrogen (N), yakni lebih kurang 78,09%. Sifatnya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa dan lebih ringan dari oksigen serta tidak beracun, tetapi bila kadarnya lebih besar dari 80%

dia dapat menyebabkan sesak nafas bagi manusia, karena secara otomatis kadar oksigen akan berkurang.

Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida (CO) adalah sejenis gas yang berasal dari pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fossil atau zat organik lainnya. Gas karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi sangat beracun. Menurut data dari Savety Executive (Tempo, 29-12-2002), gas terbesar potensinya untuk membuat orang keracunan akut adalah karbon monoksida.

Karbon Dioksida (CO2)

Manusia dan binatang bernafas dengan menghirup udara yang mengandung oksigen dan ketika pernafasan keluar dihasilkan gas karbon dioksida (CO2). Gas ini tidak berwarna dan lebih berat dari udara dan rasanya agak asam. Bila gas ini terhirup dalam jumlah yang besar akan menimbulkan sesak pernafasan.

Gas Methan (CH4)

Pembentukan gas methan (CH4) sejalan dengan proses pembatubaraan. Selama proses pembatubaraan itu gas-gas methan terperangkap dan terkumpul dalam lapisan batubara (coal seam) dan juga dapat terjebak pada batuan sampingnya. Pada waktu itu terjadi perobahan daya serapnya terhadap oksigen dan sebaliknya terjadi peningkatan kandungan karbon (lihat table) Tabel 1.Serapan Oksigen dan Kadar Karbon Batubara Tipe Batubara Oksigen (%) Karbon(%) Peat 35,3 57,0 Lignit 26,5 67,0 Bituminous 10,6 83,0 Antrasit 03,0 93,0

Pada tambang batubara bawah tanah, kecelakaan kerja yang paling ditakuti adalah kebakaran atau ledakan gas methan, karena gas methan adalah gas yang paling mudah terbakar (the most common flammable gas). Gas methan tidak berwarna, tidak berbau, lebih ringan dari udara, dan tidak beracun. Pada konsentrasi 5% dari volume udara saja gas ini sudah dapat terbakar (lower explosive limit), yang setara

dengan 100% LEL, sedangkan batas ledakan teratas (upper explosive limit) pada 300% LEL atau sekitar 15% volume udara.

Nitrogen Dioksida (NO2)

Nitrogen dioksida dapat berasal dari gas buang knalpot mesin-mesin tambang, baik yang berbahan bakar solar ataupun bensin, peledakan gas atau dari bunga api listrik. Gas nitrogen dioksida bersifat beracun dan cukup berbahaya, berwarna coklat kemerahan, lebih berat dari udara.

Hidrogen Sulfida (H2S)

Hidrogen sulfida (H2S) dapat terbentuk dari peledakan bijih-bijih sulfida atau bahan-bahan lapukan. Gas H2S bersifat racun, tidak berwarna, dan mudah terbakar.

Sulfur Dioksida (SO2)

Gas sulfur dioksida (SO2) atau disebut juga gas belerang terbentuk dari proses peledakanatau pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur (sulfida). Gas SO2 sangat beracun, tidak berwarna, berbau belerang. Jika terhirup dalam jumlah yang cukup banyak, dapat menimbulkan sesak nafas dan pusingpusing atau mual. Copyright BDTBT 2004 Pusdiklat Teknologi Mineral & Batubara

Jordan Malindo
Selasa, 11 Desember 2012
Tambang Batubara Bawah Tanah

LAPORAN PRAKTEK

KEGIATAN PENAMBANGAN BATUBARA BAWAH TANAH DI BALAI DIKLAT TAMBANG BAWAH TANAH SAWAHLUNTO SUMATERA BARAT

Oleh : Jois Malindo Dano

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PERGURUAN TINGGI KEDINASAN AKADEMI MINYAK DAN GAS BUMI

PTK AKAMIGAS - STEM


Cepu, November 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan LAPORAN HASIL PRAKTEK KEGIATAN PENAMBANGAN BATUBARA BAWAH TANAH DI BALAI DIKLAT TAMBANG BAWAH TANAH SAWAHLUNTO SUMATERA BARAT. Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Teknik Umum Program Studi Keinspekturan (Tambang) Diploma III, yang dilaksanakan pada tanggal 23 s/d 25 November 2012. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari seluruh pihak sebagai bahan pembelajaran bagi penulis. Semoga laporan ini dapat memberi motivasi bagi penulis khususnya dan mahasiswa Inspektur Tambang pada umumnya.

Cepu, November 2012 Penulis,

(Jois Malindo Dano)

I. 1.1. Latar Belakang Penulisan

PENDAHULUAN

Pertambangan batubara bawah tanah memiliki risiko keamanan yang lebih tinggi daripada batubara yang ditambang dengan metode tambang terbuka, terutama karena masalah yang terkait dengan ventilasi tambang dan potensi runtuhnya tambang serta kebakaran dan ledakan tambang. Ledakan tambang merupakan risiko keamanan yang sangat lazim di tambang bawah tanah. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk menghilangkan dan/atau mengencerkan emisi metana baik sebelum dan selama pertambangan dan hal ini telah membantu mengurangi ledakan metana secara signifikan terkait dengan tambang bawah tanah. Tambang batubara modern memiliki prosedur keamanan yang ketat. Standar kesehatan dan keselamatan pekerja serta pendidikan dan pelatihan telah membawa perbaikan yang signifikan dalam tingkat keselamatan di tambang bawah tanah. 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud dari kegiatan praktek Penambangan Batubara Bawah Tanah adalah agar kita dapat memahami pengertian tambang bawah tanah serta sistem penambangan batubara bawah tanah dengan metode Long Wall, cara ekstraksi dan cara mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan di tambang batubara bawah tanah. Tujuan kegiatan praktek ini adalah agar kita mampu memahami pengertian tambang bawah tanah, sistem penambangan dengan metode Longwall, serta mampu mencegah terjadinya kebakaran dan ledakan di tambang bawah tanah. 1.3. Masalah Pembahasan pada laporan praktek ini dibatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan Kegiatan Penambangan Batubara Bawah Tanah yang meliputi :

1. 2. 3. 1.4.

Teknik penambangan batubara bawah tanah dengan metode Long Wall. Ventilasi tambang batubara bawah tanah. Kebakaran dan Ledakan di tambang batubara bawah tanah. Manfaat Manfaat dilakukannya kegiatan penambangan batubara bawah tanah adalah agar kita dapat menambah wawasan atau pengetahuan di bidang pertambangan khususnya tambang bawah tanah dengan metode Long wall.

1.5.

Lokasi Praktek penambangan batubara bawah tanah dilakukan di Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) yang terletak di Jln. Soekarno Hatta, Sungai Durian II Sawahlunto Barat, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat. Untuk menuju ke lokasi pelatihan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan angkutan umum. Jarak tempuh sekitar 15 Km ke arah barat dari kota Sawahlunto.

II. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Geologi Daerah


9 90

10 00

10 10

10 20

9 90

10 00

10 10

10 20

1
0

0
0

10

20

1
0

0
0

10

20

Bentang alam kota Sawahlunto memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 250 meter sampai 650 meter di atas permukaan laut. Bagian utara kota ini memiliki Topografi yang relatif datar meski berada pada sebuah lembah, terutama daerah yang dilalui oleh Batang Lunto, dimana di sekitar sungai inilah dibentuknya pemukiman dan fasilitas-fasilitas umum yang didirikan sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sementara itu bagian timur dan selatan kota ini relatif curam dengan kemiringan lebih dari 40%.

Gambar 2.1. Peta Geologi Daerah Sawahlunto 2.1.1. Geomorfologi Daerah Bentang alam makro sebagai produk kegiatan Tektonik Global. Pegunungan: Gunung api, Plateau, Kubah, Lipatan (fold),Patahan (fault) dll. Dataran : Dataran Pantai, Delta, Rawa, Danau, Banjir, Sungai dsb. Pantai: Pantai Landai, Berlumpur, Berpasir, Terumbu Karang, Terjal, Teluk, dan sebagainya. 2.1.2. Ikim dan Cuaca Faktor iklim dan cuaca sangat berpengaruh dalam pertambangan terutama pada pertambangan terbuka. Pada dasarnya iklim bukanlah komponen lingkungan yang terkena dampak, melainkan faktor terbesar intensitas dampak seperti erosi lahan dan kestabilan tanah. Diantara faktor iklim yang harus dikemukakan adalah faktor curah hujan . Wilayah kota

Sawahlunto umumnya mempunyai iklim tropis dengan suhu berkisar antara 22oC, sepanjang tahun terdapat dua musim yaitu musim hujan pada bulan November sampai Juni dan musim kemarau pada bulan Juli sampai bulan Oktober. Curah hujan rata-rata sebesar 1.071,6 milimeter/tahun dan curah hujan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Desember. Apabila musim hujan tiba, maka kegiatan penambangan akan menjadi terhambat dan harus dihentikan ketika hujan turun deras, karena kondisi jalan di daerah pertambangan yang licin dan berbahaya.

2.1.3. Geologi Regional Secara umum geologi daerah ini berupa perbukitan yang memanjang dari arah barat laut Tenggara dengan ketinggian berkisar antara 200 - 900 meter di atas permukaan laut. Kota

Sawahlunto terletak pada formasi sawahlunto, batuan yang terbentuk pada zaman Eochen sekitar 40-60 juta tahun yang lalu. Para ahli geologi berpendapat bahwa kepulauan nusantara yang kita kenal sekarang ini terbentuk sekitar 4 juta tahun yang lalu. Mereka menduga ketika formasi sawahlunto terbentuk, pulau Sumatra belum ada seperti yang kita kenal saat ini. Batuan dari zaman pra-terisier yang terangkat ke pemukaan dengan cara struktur garben lalu diendapkan dengan batuan-batuan sedimen yang berumur terisier pada cekungan dan menghasilkan batuan intrusi terisier. Hasil erosi dari batuan intrusi terbawa dan mengendap di sekitar aliran sungai lalu menghasilkan endapan alluvial. Satuan batuan tersebut terdiri dari: 1) Batu Gamping Argit. 2) Batu Granit. 3) Konglomerat. 4) Batu Lempung - Batu Pasir.

5) Batu Lempung - Batu Lanau. 6) Batu Pasir. 7) Tufa Batu Apung. Dari bentuk topografi yang berkembang dapat ditafsirkan bahwa daerah ini dipengaruhi oleh aktivitas tektonik baik lipatan maupun sesar. Hal ini dapat dilihat dari bentuk sungai yang menyiku, menandakan bahwa sungai tersebut terbentuk akibat terjadinya celah atau rekahan yang relatif merupakan zona lemah, kemudian air mengerosi sepanjang rekahan. Perbukitan yang terjadi menggambarkan daerah ini telah terjadi pengangkatan dan kemudian terbentuk lipatan. Tanah formasi sawahlunto mengandung butiran pasir yang dapat mengalirkan air. Akan tetapi berdasarkan penampang geologi ombilin diduga air tersebut lolos ke tempat yang lain. Aspek geologi yang sangat perlu mendapat perhatian sangat serius dalam perencanaan dan pengembangan kota Sawahlunto adalah Sesar dan Gempa. 2.I.4. Stratigrafi Daerah Seperti di daerah lain di Indonesia, iklim pada daerah ini adalah tropis dengan suhu berkisar antara 22C sampai 33C. Daerah Sawahlunto juga berhubungan dengan penujaman lempeng di daerah busur kepulauan, penujaman lempeng terjadi disebelah barat pulau Sumatra yaitu lempeng Samudra Hindia yang masuk ke lempeng Eurasia. Akibat dari kegiatan tektonik ini terjadi perlipatan (Fold), patahan (Fault) intrusi dan terbentuknya cekungan ombilin yang merupakan cekungan antar pegunungan (inter mountain basin). Proses selanjutnya batuan terisier mengisi bagian tengah dan atas cekungan ini yang termasuk dalam Formasi Brani, Formasi Sangkawerang, Formasi Sawahlunto, Formasi Sawahtambang, Formasi Ombilin, dan Formasi Ranau. Stratigrafi Sawahlunto berdasarkan umurnya dapat dibagi menjadi dua bagian utama, dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini. 1) Komplek batuan pra terisier terdiri :

a) Formasi Silungkang Formasi ini dibedakan menjadi 4 (empat) satuan, yaitu : lava andesit, lava basalt, tufa andesit, dan tufa basalt. b) Formasi Tuhur Formasi ini dicirikan oleh lempung abu-abu kehitaman berlapisan baik, dengan sisipan-sisipan batu pasir dan batu gamping hitam. 2) Komplek batuan Terisier terdiri dari : a) Formasi Brani, formasi ini terdiri dari konglomerat dan batu pasir kasar yang berwarna coklat keunguan dengan kondisi terpilah baik (well sorted), padat, keras dan umumnya memperlihatkan adanya suatu perlapisan. b) Formasi Sangkarewang, formasi ini terdiri dari serpih gampingan sampai napal berwarna coklat kehitaman, berlapis halus dan mengandung fosil ikan serta tumbuhan yang diendapkan pada lingkungan air tawar. c) Formasi Sawahlunto, formasi ini merupakan formasi paling penting karena mengandung batubara yang dicirikan oleh batu lanau, batu lempung, dan berselingan dengan batubara. Formasi ini diendapkan pada lingkungan sungai. d) Formasi Sawahtambang, bagian bawah formasi ini dicirikan oleh beberapa siklus endapan yang terdiri dari batu pasir konglomerat tanpa adanya sisipan lempung atau batu lanau. e) Formasi Ombilin, formasi ini terdiri dari lempung gampingan, napal, dan pasir gampingan yang berwarna abu-abu kehitaman, berlapis tipis, dan mengandung fosil. f) Formasi Ranau, formasi ini terdiri dari tufa, breksi, batu apung berwarna abu-abu kehitaman.

Proses penambangan batubara pada saat ini terletak di bagian barat Cekungan Ombilin dan terdapat pada Formasi Sawahlunto yang terdiri dari batu lempung (clay stone), batu pasir (sand stone), dan batu Lanau (silkstone) dengan sisipan batubara. Formasi sawahlunto ini terletak pada dua jalur yang terpisah yaitu jalur yang menjurus dari Sawahlunto sampai ke Sawahrasau dan dari Tanah Hitam terus ke timur dan kemudian kearah utara yang disebut Parambahan. 2.I.5. Cadangan dan Kualitas batubara A. Cadangan Batubara Endapan batubara yang terdapat di Ombilin terbagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisanA, B, dan C dengan susunan sebagai berikut : 1. Lapisan A, Mempunyai ketebalan antara 1,5 - 2,7 meter dengan kemiringan 3 sampai 18 dan ketebalan overburden antara 40 - 300 meter. 2. Lapisan B1, mempunyai ketebalan antara 0,6 - 1,5 meter dengan kemiringan 3 sampai 23 dan tebal interburden 10 -15 meter. 3. Lapisan B2, mempunyai ketebalan antara 0,8 - 1,5 meter dengan kemiringan 3 sampai 23 dan tebal interburden 0,8 - 3 meter. 4. Lapisan C, mempunyai ketebalan antara 5,0 - 7,0 meter dengan kemiringan 3 sampai 24 dan tebal inteburden 14 - 20 meter. B. Kualitas Batubara Menurut klasifikasi ASTM (American Society for Testing Material) Batubara ombilin termasuk dalam Bituminous High Volatile B dengan nilai kalori 6.800 7.200 kcal/kg. Hasil ini didapat dari analisa Proximate dan analisa Ultimate yang menunjukan kadar belerang dan kadar abu yang rendah sedangkan bobot isi rata-rata batubara dari hasil eksplorasi adalah 1,30 ton/m. 2.2. Kesampaian Daerah

Estimasi perjalanan dari Cepu-Sawahlunto memerlukan waktu sekitar 16 jam yang ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat (Bus) dan juga pesawat terbang. Dari Cepu menuju Surabaya, dapat ditempuh dalam waktu 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat udara dari Surabaya - Jakarta dan Jakarta - Padang dengan lama penerbangan 3 jam. Perjalanan dari bandar udara Minangkabau menuju Balai Diklat Tambang Bawah Tanah Sawahlunto, ditempuh dalam waktu 5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat (Bus).

III. 3.1. Teknik/Sistem Penambangan

TINJAUAN PUSTAKA

Penambangan adalah pekerjaan pengambilan endapan bahan galian dari batuan induknya. Sistem Penambangan ada 2 (dua) macam yakni sistim tambang terbuka dan sistim tambang bawah tanah. Sistim tambang terbuka adalah sistim penambangan endapan bahan galian atau segala kegiatan penambangan yang dilakukan pada atau dekat permukaan bumi yang berhubungan langsung dengan udara luar. Sistem Penambangan Terbuka adalah Open Pit/Open Mine dan Open Cut/Open Cast, Quarry, Stripe Mining dan Alluvial Mining. Sistim tambang bawah tanah adalah sistem penambangan endapan bahan galian atau segala kegiatan penambangan yang dilakukan jauh dari permukaan bumi, tidak berhubungan langsung dengan udara luar. Metode penambangan bawah tanah untuk bijih adalah Open Stope

Methode, Supporting Stope Methode dan Caving Methode, sedangkan metode penambangan untuk batubara ada 2 (dua) yakni Long Wall dan Room and Pilar. Cara pemilihan sistem penambangan adalah dengan perhitungan Break Even Striping Ratio (BESR).

BESR = A B / C
A = Nilai endapan per ton biji B = Biaya operasi per ton biji C = Biaya pengupasan per ton tanah penutup Jika BESR < 1 maka sistim penambangan yang dipakai adalah dengan sistem tambang bawah tanah sedangkan jika BESR > 1 maka sistim penambangan yang dipakai adalah sistem tambang terbuka, tapi bila BESR = 1 maka tidak ada keuntungan (pulang pokok).

3.1.1. Penentuan Sistem/Metode Penambangan Batubara.

Sebelum melakukan penambangan batubara maka kita perlu melakukan beberapa tahapan kegiatan untuk menentukan sistem penambangan mana yang sebaiknya dipakai. Tahapan kegiatan tersebut adalah:

1. Surveying.

Kegiatan awal yang dilakukan untuk mengetahui kondisi areal yang akan ditambang, biasanya aktivitas dilakukan dengan melihat kualitas kadar material tambang dan kondisi areal pertambangan untuk penentuan design tambang yang baik dilakukan explorasi.

2. Mine Plan.

Setelah hasil dari surveying didapat untuk selanjutnya dilakukan perencanaan untuk pengeboran, biasanya tahap ini dinamakan sebagai mine planning karena dari hasil survey tadi ketika mendapatkan hasilnya, maka dilakukan perencanaan untuk kegiatan penambangan baik itu design mine, pemetaan dan metode-metode dalam kegiatan penambangan.

3. Implementasi atau Explorasi.

Setelah semua perencaan sudah final saatnya untuk menerapkan atau melakukan kegiatan penambangan dengan beberapa metode :

Penambangan Terbuka

Penambangan Bawah Tanah

Penambangan dengan Auger

3.1.2. Penambangan Batubara Dengan Sistem Tambang Terbuka Kegiatan-kegiatan dalam tambang batubara dengan sistem tambang terbuka yaitu : 1. Persiapan daerah penambangan. 2. Pengupasan dan penimbunan tanah humus. 3. Pengupasan tanah penutup. 4. Pemuatan dan pembuangan tanah penutup (misalnya dengan shovel dan truk, BWE, dan dragline). 5. Penggalian batubara.

6. Pemuatan dan pengangkutan batubara. 7. Penirisan tambang. 8. Reklamasi. Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan ditambang. Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi : 1. Contour mining Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang. Menurut Robert Meyers, contour mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain Conventional contour mining, Block-cut contour mining, Haulback contour mining dan Box-cut contour mining. 2. Mountaintop removal method Metode mountaintop removal method ini dikenal dan berkembang cepat, khususnya di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga memungkinkan perolehan batubara 100%. 3. Area mining method Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit. Terdapat tiga cara penambangan area mining method yaitu : a. Conventional area mining method

b. Area mining with stripping shovel c. Block area mining

4. Open pit Method Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip) yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah penutupnya cukup tebal. a. Lapisan miring, cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan. b. Lapisan tebal, pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya. Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).

3.1.3. Penambangan Batubara Dengan Sistem Bawah Tanah Dalam sistem penambangan batubara bawah tanah, ada 2 (dua) metode yang popular, yaitu; Room and Pillar dan Longwall. 1. Room and Pillar Metode penambangan ini dicirikan dengan meninggalkan pilar-pilar batubara sebagai penyangga alamiah. Metode ini biasa diterapkan pada daerah dimana penurunan (subsidence) tidak diijinkan. Penambangan ini dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
Gambar 3.1. Metode Room and Pillar

2. Longwall

Metode penambangan ini dicirikan dengan membuat panel-panel penambangan dimana ambrukan batuan atap diijinkan terjadi di belakang daerah penggalian. Layout Metode Longwall dapat dilihat pada Gambar 3.2 Penambangan ini juga dapat dilaksanakan secara manual maupun mekanis.
Gambar 3.2. Metode Long Wall

3.1.4. Penambangan Dengan Auger (Auger Mining) Auger mining adalah sebuah metode penambangan untuk permukaan dengan dinding yang tinggi atau penemuan singkapan (outcrop recovery) dari batubara dengan pemboran ataupun penggalian bukaan ke dalam lapisan di antara lapisan penutup. Auger mining dilahirkan sebelum 1940-an adalah metode untuk mendapatkan batubara dari sisi kiri dinding tinggi setelah penambangan permukaan secara konvensional. Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip skala besar drag bit rotary drill. Tanpa merusak batubara, auger mengekstraksi dan menaikkan batubara dari lubang dengan memiringkan konveyor atau pemuatan dengan menggunakan loader ke dalam truk.

Pengembangan dan persiapan daerah untuk auger mining adalah tugas yang mudah jika dilakukan bersamaan dengan pemakaian metode open cast atau open pit. Setelah kondisi dinding tinggi, auger drilling dapat ditempatkan pada lokasi. Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini berdasarkan Pfleider (1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki penyebaran yang baik dan kemiringannya mendekati horisontal, serta kedalamannya dangkal terbatas sampai ketinggian dinding dimana auger ditempatkan.

3.2.

Ventilasi Tambang Bawah Tanah Ventilasi tambang merupakan suatu usaha pengendalian terhadap pergerakan udara atau

aliran udara tambang termasuk di dalamnya adalah jumlah, mutu dan arah alirannya. Adapun

tujuan utama dari ventilasi tambang adalah menyediakan udara segar dengan kuantitas dan kualitas yang cukup baik, kemudian mengalirkan serta membagi udara segar tersebut ke dalam tambang sehingga tercipta kondisi kerja yang aman dan nyaman baik bagi para pekerja tambang maupun proses penambangan. Secara rinci tujuan ventilasi pada tambang bawah tanah adalah : 1. Menyediakan oksigen bagi pernapasan manusia. 2. Mengencerkan gas gas berbahaya dan beracun yang ada di dalam tambang, sehingga tidak membahayakan bagi para pekerja tambang. 3. Menurunkan temperatur udara tambang, sehingga dapat dicapai lingkungan kerja yang nyaman. 4. Mengurangi konsentrasi debu yang timbul akibat kegiatan produksi yang dilakukan di dalam tambang. Pada pengaturan aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah, berlaku prinsip aliran udara tambang yaitu : 1. Aliran udara bergerak dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. 2. Udara akan mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih rendah ke tempat yang bertemperatur lebih tinggi. 3. Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang memberikan tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahanan yang lebih besar. 4. Tekanan Ventilasi tetap memperhatikan tekanan atmosfir, bisa positif (Blowing) atau negatif (Exhausting). 5. Aliran udara mengikuti hukum kuadrat yaitu hubungan antara quantity dan tekanan, bila quantity diperbesar dua kali lipat maka dibutuhkan tekanan empat kali lipat. 6. Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam perhitungan pada ventilasi tambang.

3.2.1. Jenis Jenis Ventilasi Tambang Jenis-jenis ventilasi dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal berikut ini antara lain :

Penggolongan berdasarkan metode pembangkitan daya ventilasi, terdiri dari : Ventilasi alami dan ventilasi mesin. Penggolongan berdasarkan tekanan ventilasi pada ventilasi mesin, terdiri dari : Ventilasi tiup dan ventilasi sedot. Penggolongan berdasarkan letak intake dan outake airway, terdiri dari : ventilasi terpusat dan ventilasi diagonal. 1. Ventilasi Alami (natural ventilation) Jika suatu tambang memiliki dua shaft yang saling berhubungan pada kedalaman tertentu, sejumlah udara akan mengalir masuk ke dalam tambang meskipun tanpa alat mekanis. Ventilasi alam disebabkan udara pada downcast shaft lebih dingin dari udara pada upcast shaft. Dan juga dipengaruhi oleh perbedaan tekanan dan densitas udara antara dua shaft yang saling berhubungan tersebut. Ventilasi alami terutama terjadi karena perbedaan temperatur di dalam dan luar pit. Temperatur di dalam pit akan mempengaruhi terjadinya ventilasi alami, sehingga apabila terdapat perbedaan temperatur intake airway dan return airway yang ketinggian mulut pit intake dan out takenya berbeda, akan timbul perbedaan kerapatan udara di dalam dan di luar pit atau udara di intake airway dan return airway akibat perbedaan temperatur, dan akan membangkitkan daya ventilasi. 2. Ventilasi Mekanis (artificial / mechanical ventilation) Ventilasi mekanis adalah jenis ventilasi dimana aliran udara masuk ke dalam tambang disebabkan oleh perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh alat mekanis. Berdasarkan cara menimbulkan udaranya serta letak mesinnya, ventilasi mekanis dibedakan menjadi dua metode yaitu : a. Metode hisap (Exhaust system)

Pada metode ini mesin angin utama diletakkan pada jalan keluar. Karena adanya hisapan mesin angin ini tekanan udara di jalur udara keluar akan mengecil, sehingga udara dari luar pada jalur udara masuk yang mempunyai tekanan lebih besar akan mengalir ke dalam tambang. Setelah melalui tempattempat kerja, maka udara akan menjadi kotor dan dihisap oleh kipas angin untuk dialirkan keluar. b. Metode hembus (Forcing sytem) Pada metode ini mesin angin utama diletakan pada jalan udara masuk. Mesin angin ini akan menekan udara ke dalam tambang, sehingga udara mengalir melalui jalan-jalan udara di dalam tambang. Yang dimaksud peralatan ventilasi mekanis adalah semua jenis mesin penggerak yang digunakan untuk memompa dan menekan udara segar agar mengalir ke dalam lubang bawah tanah. Yang paling penting dan umum digunakan adalah fan atau mesin angin. Mesin angin adalah pompa udara, yang menimbulkan adanya perbedaan tekanan antara kedua sisinya, sehingga udara akan bergerak dari tempat yang tekanannya lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Pada proses menerus dapat dilihat bahwa mesin angin menerima udara pada tekanan tertentu dan dikeluarkan dengan tekanan yang lebih besar. Jadi mesin angin adalah perubah energi dari mekanis ke fluida, dengan memasok tekanan untuk mengatasi kehilangan tekan (head losses) dalam aliran udara. Pergerakan udara di tambang bawah tanah dibangkitkan dan diatur oleh pembangkit tekanan yang disebut ventilator atau mesin angin. Mesin angin yang memasok kebutuhan udara untuk seluruh tambang dinamakan mesin angin utama (main fan). Mesin angin yang digunakan untuk mempercepat aliran udara pada percabangan atau suatu lokasi tertentu di dalam tambang, tetapi tidak menambah volume total udara di dalam tambang disebut mesin angin penguat (booster fans), sedangkan mesin angin yang digunakan pada lokasi kemajuan atau saluran udara tertutup (lubang buntu) dinamakan mesin angin bantu (auxiliary fans).

3. Ventilasi Bantu (Auxiliary Ventialtion) Udara ventilasi yang disalurkan ke terowongan utama maupun ventilasi permuka kerja penambangan biasanya dilakukan dengan membawa udara masuk (intake air) secara langsung melalui jalan udara sepanjang penampang terowongan, namun ada juga yang mengirimkan angin/udara yang dibangkitkan oleh kipas angin lokal, air jet dan lain-lain, dengan menggunakan saluran udara (air duct) ke lokasi yang tidak dapat dipenuhi oleh ventilasi utama, seperti pada lokasi terowongan buntu (lokasi pembuatan lubang maju). Dilihat dari segi fasilitas peralatan, ventilasi bantu dapat dibagi menjadi ventilasi saluran udara, brattice, dan static air mover.

3.2.2. Kualitas Udara Tambang Udara tambang meliputi campuran antara udara atmosfir dengan emisi gas-gas dalam tambang serta bahan-bahan pengotornya sehingga perlu dijaga kualitasnya. Standar udara yang bersih adalah udara yang mempunyai komposisi sama atau mendekati dengan komposisi udara atmosfir pada keadaan normal. Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain. Tabel 3.1 Komposisi Udara Segar
Unsur Nitrogen (N2) Oksigen (O2) Karbondioksida CO2) Argon (Ar), dll % Volume (%) 78,09 20,95 0.03 0,93 % Berat (%) 75,53 23,14 0,046 1,284

Dalam perhitungan ventilasi tambang selalu dianggap bahwa udara segar normal terdiri dari : Nitrogen = 79%, dan Oksigen = 21%. Disamping itu dianggap bahwa udara segar akan selalu mengandung karbondioksida (CO2) sebesar 0,03%. Demikian pula perlu diingat bahwa udara dalam ventilasi tambang selalu mengandung uap air dan tidak pernah ada udara yang benar-benar kering. Oleh karena itu akan selalu ada istilah kelembaban udara.

3.2.3. Pengendalian Kualitas Udara Tambang Udara tambang adalah campuran udara bebas (atmosfir) dengan bahan pengotornya termasuk gas dan padatan sehingga perlu dilakukan pengendalian kualitas udara tambang. Pengendalian terhadap kualitas udara tambang meliputi pengendalian kandungan gas dalam udara, debu yang dihasilkan akibat proses penambangan, temperatur dan kelembaban udara di dalam tambang sehingga udara di dalam tambang tetap bersih dan segar. Pengaturan temperatur dan kelembaban udara tambang bertujuan untuk menghasilkan udara segar dan nyaman. Temperatur udara tambang harus dipertahankan pada batas tertentu, sehingga manusia dapat bekerja dengan efisiensi kerja yang tinggi. Temperatur udara sangat mempengaruhi kenyamanan bagi para pekerja yang berada di dalam tambang, karena udara tidak hanya untuk pernapasan tetapi juga untuk pendinginan panas tubuh. Temperatur udara yang baik untuk kenyamanan bekerja adalah tidak kurang dari 18C dan tidak melebihi 24C. Kelembaban udara tambang merupakan banyaknya kandungan uap air yang ada di udara tambang yang biasanya dinyatakan dengan relatif humidity (RH). Batas kelembaban relatif yang diperkenankan untuk tambang bawah tanah adalah 65% - 95% dan nilai ini dapat ditentukan secara grafis dengan menggunakan grafik psychrometrik. 3.2.4. Gas-Gas Pengotor Pada Udara Tambang Terdapat beberapa macam gas pengotor dalam udara tambang bawah tanah. Gas-gas ini berasal baik dari proses-proses yang terjadi dalam tambang maupun berasal dari batuan ataupun bahan galiannya. Gas-gas pengotor yang terdapat dalam tambang bawah tanah tersebut, ada yang bersifat gas racun, yakni; gas yang bereaksi dengan darah dan dapat menyebabkan kematian. Selain itu juga gas pengotor ini menyebabkan bahaya, baik terhadap kehidupan manusia maupun dapat menyebabkan peledakan. Gas gas pengotor tersebut adalah : a. Karbondioksida (CO2)

Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau dan tidak mendukung nyala api dan bukan merupakan gas racun. Gas ini lebih berat dari pada udara, karenanya selalu terdapat pada bagian bawah dari suatu jalan udara. Dalam udara normal kandungan CO2 adalah 0,03%. Dalam tambang bawah tanah sering terkumpul pada bagian bekas-bekas penambangan terutama yang tidak terkena aliran ventilasi, juga pada dasar sumur-sumur tua. Sumber dari CO2 berasal dari hasil pembakaran, hasil peledakan atau dari lapisan batuan dan dari hasil pernapasan manusia. Pada kandungan CO2 = 0,5% laju pernapasan manusia mulai meningkat, pada kandungan CO2 = 3% laju pernapasan menjadi dua kali lipat dari keadaan normal, dan pada kandungan CO2 = 5% laju pernapasan meningkat tiga kali lipat dan pada CO 2 = 10% manusia hanya dapat bertahan beberapa menit. Kombinasi CO2 dan udara biasa disebut dengan blackdamp. b. Metana (CH4) Gas metana ini merupakan gas yang selalu berada dalam tambang batubara dan sering merupakan sumber dari suatu peledakan tambang. Campuran gas metana dengan udara disebut Firedamp. Apabila kandungan metana dalam udara tambang bawah tanah mencapai 1% maka seluruh hubungan mesin listrik harus dimatikan. Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil dari pada udara dan karenanya selalu berada pada bagian atas dari jalan udara. Metana merupakan gas yang tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Pada saat proses pembatubaraan terjadi maka gas metana terbentuk bersama-sama dengan gas karbondioksida. Gas metana ini akan tetap berada dalam lapisan batubara selama tidak ada perubahan tekanan padanya. Terbebasnya gas metana dari suatu lapisan batubara dapat dinyatakan dalam suatu volume per satuan luas lapisan batubara, tetapi dapat juga dinyatakan dalam satuan volume per satuan waktu. Terhadap kandungan gas metana yang masih terperangkap dalam suatu lapisan

batubara

dapat dilakukan penyedotan dari gas metana tersebut dengan pompa untuk

dimanfaatkan. Proyek ini dikenal dengan nama seam methane drainage. c. Karbon Monoksida (CO) Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada rasa, dapat terbakar dan sangat beracun. Gas ini banyak dihasilkan pada saat terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin darah, sehingga sedikit saja kandungan gas CO dalam udara akan segera bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin (COHb) yang akan meracuni tubuh lewat darah. Afinitas CO terhadap haemoglobin menurut penelitian (Forbes and Grove, 1954) mempunyai kekuatan 300 kali lebih besar dari pada oksigen dengan haemoglobin. Gas CO dihasilkan dari hasil pembakaran, operasi motor bakar, proses peledakan dan oksidasi lapisan batubara. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang sangat mematikan karena sifatnya yang kumulatif. Misalnya gas CO pada kandungan 0,04% dalam udara apabila terhirup selama satu jam baru memberikan sedikit perasaan tidak enak, namun dalam waktu 2 jam dapat menyebabkan rasa pusing dan setelah 3 jam akan menyebabkan pingsan/ tidak sadarkan diri dan pada waktu lewat 5 jam dapat menyebabkan kematian. Kandungan CO sering juga dinyatakan dalam ppm (part per milion). Sumber CO yang sering menyebabkan kematian adalah gas buangan dari mobil dan kadang-kadang juga gas pemanas air. Gas CO mempunyai berat jenis 0,9672 sehingga selalu terapung dalam udara. d. Hidrogen Sulfida (H2S) Gas ini sering disebut juga stinkdamp (gas busuk) karena baunya seperti bau telur busuk. Gas ini tidak berwarna, merupkan gas racun dan dapat meledak, merupakan hasil dekomposisi dari senyawa belerang. Gas ini mempunyai berat jenis yang sedikit lebih berat dari udara. Merupakan gas yang sangat beracun dengan ambang batas (TLV-TWA) sebesar 10 ppm

pada waktu selama 8 jam terdedah (exposed) dan untuk waktu singkat (TLV-STEL) adalah 15 ppm. Walaupun gas H2S mempunyai bau yang sangat jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan dapat rusak akibat reaksi gas H2S terhadap saraf penciuman. Pada kandungan H2S = 0,01 % untuk selama waktu 15 menit, maka kepekaan manusia akan bau ini sudah akan hilang. e. Sulfur Dioksida (SO2) Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak bisa terbakar. Merupakan gas racun yag terjadi apabila ada senyawa belerang yang terbakar. Lebih berat dari pada udara, dan akan sangat membantu pada mata, hidung dan tenggorokan. Harga ambang batas ditetapkan pada keadaan gas = 2 ppm (TLV-TWA) atau pada waktu terdedah yang singkat (TLV-STEL) = 5 ppm. f. Nitrogen Oksida (NOX) Gas nitrogen oksida sebenarnya merupakan gas yang inert, namun pada keadaan tekanan tertentu dapat teroksidasi dan dapat menghasilkan gas yang sangat beracun. Terbentuknya dalam tambang bawah tanah sebagai hasil peledakan dan gas buang dari motor bakar. NO2 merupakan gas yang lebih sering terdapat dalam tambang dan merupakan gas racun. Harga ambang batas ditetapkan 5 ppm, baik untuk waktu terdedah singkat maupun untuk waktu 8 jam kerja. Oksida nitrogen yang merupakan gas racun ini akan bersenyawa dengan kandungan air dalam udara membentuk asam nitrat, yang dapat merusak paru-paru apabila terhirup oleh manusia. g. Gas Pengotor Lain Gas yang dapat dikelompokkan dalam gas pengotor lain adalah gas Hidrogen yang dapat berasal dari proses pengisian aki (battery) dan gas-gas yang biasa terdapat pada tambang bahan galian radioaktif seperti gas radon. Debu merupakan pengotor udara tambang yang juga berbahaya bila konsentrasinya cukup tinggi, karena dapat mengganggu lingkungan kerja dan merusak kesehatan. Secara garis

besar, sumber debu pada tambang bawah tanah berasal dari aktivitas penambangan yang meliputi operasi pemboran, peledakan, pemuatan, dan pengangkutan bijih atau batubara. Partikel debu dapat digolongkan berdasarkan kandungan material solid dan ukuran diameter rata-rata partikelnya.

3.3.

Kebakaran dan Ledakan Tambang Bawah Tanah Batubara terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun, dapat berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit, tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur karbon akan semakin banyak seiring dengan tingkat pembatubaraan yang semakin berlanjut. Adapun gasgas yang terbentuk yaitu metana, karbon dioksida serta karbon monoksida, dan gas-gas

lain yang menyertainya akan masuk dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan batubara. Secara teori, jumlah gas metana yang terkumpul pada proses terbentuknya batubara bervolume 1 ton adalah 300m3. Kondisi terperangkapnya gas ini akan terus berlangsung sampai ketika lapisan batubara atau batuan di sekitarnya tersebut terbuka akibat pengaruh alam seperti longsoran, atau karena penggalian (penambangan). Gas-gas yang muncul di tambang dalam (underground) terbagi menjadi gas berbahaya (hazardous gas) dan gas mudah nyala (combustible gas). Gas berbahaya adalah gas yang dapat mempengaruhi kesehatan bahkan sampai menyebabkan kondisi yang fatal pada seseorang, sedangkan gas mudah nyala adalah gas yang berpotensi menyebabkan kebakaran dan ledakan di dalam tambang. Pada tambang dalam, gas berbahaya yang sering dijumpai adalah karbon monoksida (CO), sedangkan yang dapat muncul tapi jarang ditemui adalah hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). CO adalah gas tak berwarna, tak berasa, tak berbau, dan memiliki berat jenis sebesar 0.967. Pada udara biasa, konsentrasinya adalah 0 sampai dengan

beberapa ppm, dan menyebar secara merata di udara. CO timbul akibat pembakaran tak sempurna, ledakan gas dan debu, swabakar (spontaneous combustion), kebakaran dalam tambang, peledakan (blasting), pembakaran internal pada mesin, dan lain-lain. Gas ini sangat beracun karena kekuatan ikatan CO terhadap hemoglobin adalah 240

300 kali dibandingkan ikatan oksigen dengan hemoglobin. Selain beracun, gas ini sebenarnya juga memiliki sifat meledak, dengan kadar ambang ledakan adalah 13-72%. Untuk gas mudah nyala pada tambang batubara, sebagian besar adalah gas metana (CH4).

3.3.1. Gas Metana (CH4) Metana adalah gas ringan dengan berat jenis 0.558, tidak berwarna, dan tidak berbau. Gas ini muncul secara alami di tambang batubara bawah tanah sebagai akibat terbukanya lapisan batubara dan batuan di sekitarnya oleh kegiatan penambangan. Dari segi keselamatan tambang, keberadaan metana harus selalu dikontrol terkait dengan sifatnya yang dapat meledak. Gas metana dapat terbakar dan meledak ketika kadarnya di udara sekitar 5 15%, dengan ledakan paling hebat pada saat konsentrasinya 9.5% dan ketika terdapat sumber api yang memicunya. Ketika meledak di udara, gas metana akan mengalami pembakaran sempurna pada saat konsentrasinya antara 5% sampai dengan 9.5%, menghasilkan gas karbon dioksida dan uap air. Jika volume udara pada saat itu konstan, maka suhu udara akan mencapai 2200 C dengan tekanan 9 atm. Sebaliknya, bila tekanannya konstan maka suhunya hanya akan mencapai 1800 C saja. Sedangkan angin ledakan yang timbul, biasanya berkecepatan sekitar 300m/detik. Dari keadaan ini dapatlah dipahami bila para korban ledakan gas metana biasanya tubuhnya akan hangus terbakar. Jika ledakan terjadi ketika kadar gas metana lebih dari 9.5%, akan berlangsung pula pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan karbon monoksida (CO), yang akan menyebar

ke seluruh lorong penambangan mengikuti arah angin ventilasi. Bencana seperti ini akan berdampak lebih buruk bila dibandingkan dengan sekedar ledakan gas saja, karena munculnya bencana susulan berupa keracunan gas CO. Peristiwa ini pernah terjadi di tambang batubara Mitsui Miike di Jepang pada awal November 1963, dengan korban mencapai 458 orang. Dari jumlah itu, korban langsung akibat ledakan itu hanya beberapa puluh saja, sedangkan sisanya adalah akibat keracunan gas CO. Selain itu, tidak sedikit pula pekerja yang mengalami kerusakan jaringan otak sehingga mengalami gangguan fungsi saraf seumur hidupnya. 3.3.2. Debu Batubara Debu batubara adalah material batubara yang terbentuk bubuk (powder),yang berasal dari hancuran batubara ketika terjadi pemrosesannya (breaking, blending, transporting, and weathering). Debu batubara yang dapat meledak adalah apabila debu itu terambangkan di udara sekitarnya. Debu batubara dihasilkan dari kegiatan penambangan itu sendiri. Pemisahan (breaking) secara kering dengan cara peledakan penggaruan dapat menimbulkan debu yang banyak. Debu batubara juga dapat terbentuk pada proses penggilingan dan ketika pencampurannya serta pengangkutan. Disamping itu proses pelapukan alami batubara juga dapat menjadi sumber terbentuknya debu batubara tersebut. Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa debu batubara akan terbentuk dalam jumlah yang cukup banyak kalau operasi penambangan dilakukan dalam proses yang kering. Sebaliknya jika dilakukan penambangan dengan sistem penyiraman air yang cukup, debu yang terbentuk akan terendapkan pada lantai kerja. Peristiwa ledakan debu batubara pada tambang batubara bawah tanah dapat terjadi jika ada tiga syarat berikut terpenuhi, yakni: 1. Ada debu batubara yang beterbangan (awan debu batubara). 2. Ada sambaran bunga api.

3. Ada oksigen. Konsentrasi debu batubara yang dapat meledak tergantung: 1. Kandungan zat terbang (volatile matter). 2. Ukuran partikel (particle size). 3. Kandungan air (water content). Debu batubara ukuran partikelnya antara 20 40 mesh, tidak dapat meledak dengan sendirinya, debu batubara dengan partikel sampai 200 mesh akan sangat mudah meledak. Bahaya ledakan debu batubara akan semakin kecil jika padanya terdapat kandungan abu yang cukup banyak, (abu melekat ditambah dengan abu dari debu batu) dalam jumlah lebih kurang 50% pencegah kebakaran/ledakan. Biasanya untuk mencegah terjadinya ledakan debu batubara dapat ditambahkan debu batuan sampai mencapai kadar abunya lebih dari 75%. Debu batubara yang mengandung air yang banyak tidak akan dapat meledak atau terbakar. Air, disamping penyerap sulutan api (ignition), juga berfungsi sebagai penyerap panas. Kadar air sampai 30% dapat mencegah terjadinya ledakan debu batubara itu. Debu batubara segar lebih berbahaya dibandingkan dengan debu batubara yang sudah lama ada dalam udara terbuka. Debu batubara segar akan lebih mudah meledak karena adanya gas methan yang masih terperangkap pada butiran debu batubara tersebut. Proses Ledakan dan Penyebarannya : 1. Sifat mekanik ledakan. Ledakan debu batubara menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyala api. Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakan merambat pada lobang turbulensi udara akan semakin dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal. 2. Tekanan dan kecepatan ledakan

Tekanan udara yang terjadi akan bervariasi tergantung pada karakteristik dan jumlah debu batubaranya. Tekanan itu biasanya ada antara 2 4 kg/cm2. Pada ledakan yang sangat kuat (high explosive), kecepatan ledakan dapat mencapai 1000 m/detik (jauh lebih tinggi dari kecepatan suara). 3. Kecepatan rambatan sulutan (deflagration). Kecepatan rambatan sulutan api akan semakin tinggi menuju ke lubang udara keluar,dimana pada titik ini kandungan gas methan dan debu batubara sangat rendah. 4. Temperatur ledakan. Ledakan debu batubara akan menyebabkan naiknya temperatur pada area ledakan, antara 1500C 1900C. Tetapi temperatur pada kasus ledakan sedang dan rendah hanya akan berkisar antara 1200C 1300C. Pada temperature ini terjadi pembakaran tidak sempurna dan hilangnya panas oleh serapan daerah sekitar ledakan. 5. Daerah sulutan. Biasanya bila daerah yang dapat tersulut mencapai 6 7 kali luas daerah asalnya, selama daerah itu mengandung gas methan atau debu batubara. 6. Reaksi ledakan. Ledakan batubara akan menyebabkan udara di sekitarnya menjadi dingin dan kadar oksigennya berkurang drastis. Setelah itu udara akan kembali mengalir dan mengisi ruang rendah oksigen tadi (udara balik). Jika di sana masih tersisa awan debu batubara akan terjadi ledakan ulangan. 7. Jalaran ledakan. Bila akumulasi debu batubara yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanah mengalami suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan roda-roda mesin, tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga debu batubara itu terangkat ke udara (beterbangan) dan kemudian membentuk awan debu batubara dalam kondisi batas ledak

(explosive limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran. Jika pada proses pertama itu terjadi ledakan disertai kebakaran, sisa debu batubara yang masih tertambat di atas lantai atau pada langit-langit dan dinding terowongan akan tertiup dan terangkat pula ke udara, lalu debu itu pun akan meledak. Demikianlah seterusnya, bahwa dalam tambang itu akan terjadi ledakan beruntun sampai habis semua debu batubara terbakar. Ledakan itu akan menyambar ke mana-mana, sehingga dapat menjalari seluruh lokasi dalam tambang itu dan menimbulkan kerusakan yang sangat dahsyat.

IV.

PEMBAHASAN

Pengertian batubara Batu bara adalah sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi dirawa dan lahan gambut. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batubara. 4.1. Teknik/Sistem Penambangan Batubara di Sawahlunto Pemanfaatan secara ekonomis potensi cadangan batubara disebut dengan penambangan batubara, yang terbagi menjadi penambangan terbuka (surface mining atau open cut mining) dan penambangan bawah tanah atau tambang dalam (underground mining).

Bila terdapat singkapan batubara (outcrop) di permukaan tanah pada suatu lahan yang akan ditambang, maka metode penambangan yang akan dilakukan, yaitu metode terbuka atau bawah tanah, ditetapkan berdasarkan perhitungan tertentu yang disebut dengan nisbah pengupasan (Stripping Ratio). Nisbah ini merupakan indikator tingkat ekonomis suatu kegiatan penambangan.

Pada perhitungan SR di atas, biaya tambang dalam adalah biaya per batubara bersih (clean coal) dalam ton, sedangkan untuk biaya tambang terbuka adalah biaya per batubara bersih dalam ton dan biaya reklamasi, tapi tidak termasuk biaya pengupasan tanah penutup (overburden). Sedangkan biaya pengupasan adalah biaya pengupasan tanah penutup, dalam m3. Teknik/sistem penambangan batubara yang dipakai di Sawahlunto adalah sistem tambang bawah tanah dengan metode long wall, yaitu suatu sistem dengan proses penambangan dan pengangkutan bergerak maju dan meninggalkan runtuhan lapisan atap di atap di belakang penyangga. Pemilihan metode penambangan batubara sangat tergantung pada : ketebalan lapisan batubara, kemiringan lapisan batubara, sifat atap dan lantai, hubungan multi seam, ada tidaknya sisipan (parting), kondisi geologi (sesar/patahan, kekar, dll), keadaan air dan gas, kedalaman lapisan batubara dan hubunganya dengan permukaan bumi, kekerasan batubara dan kondisi lain (keterbatasan penambangan di bawah sungai atau dasar laut, dll).
Gambar 4.1. Kedalaman, ketebalan, kemiringan batubara dan overburden Gambar 4.2. Batas Kritis Metode Penambangan

Sebagai contoh, bila dari studi kelayakan (feasibility study) ternyata diketahui bahwa biaya tambang dalam pada suatu lahan yang akan ditambang adalah US $150, biaya tambang terbuka adalah US $50, dan biaya pengupasan adalah US $10, maka nisbah pengupasan atau SR

adalah 10. Dari gambar 4.2 di atas terlihat bahwa sampai dengan posisi tertentu yang merupakan batas SR, penambangan terbuka lebih menguntungkan untuk dilakukan. Sedangkan lewat batas tersebut, penambangan akan lebih ekonomis bila dilakukan dengan menggunakan metode tambang dalam.

4.1.1. Sistem Penambangan Batubara Dengan Cara Tambang Bawah Tanah Pada penambangan batubara dengan metode penambangan dalam yang penting adalah bagaimana mempertahankan lubang buka seaman mungkin agar terhindar dari kemungkinan keruntuhan atap batuan, ambruknya dinding lubang (rib spalling) dan penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave). Kejadian tersebut diatas disebabkan oleh terlepasnya energi yang tersimpan secara alamiah dalam endapan batubara. Energi yang terpendam tersebut merupakan akibat terjadinya perubahan atau deformasi bentuk endapan batubara selama berlangsungnya pembentukan deposit tersebut. Pelepasan energi tersebut disebabkan oleh adanya perubahan keseimbangan tegangan yang terdapat pada massa batuan akibat dilakukannya kegiatan pembuatan lubang-lubang bukaan tambang. Disamping itu kegagalan yang disebabkan batuan dan batubara itu tidak mempunyai daya penyanggaan di samping faktor-faktor alami dari keadaan geologi endapan batubara tersebut. Penambangan batubara secara tambang dalam kenyataannya sangat ditentukan oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama mungkin pada saat berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau seekonomis mungkin. Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada pembuatan lubang bukaan selalu diusahankan agar kemampuan penyangga dari atap lapisan, kekuatan lantai lapisan batubara, kemampuan daya dukung pilar penyangga. Apabila cara manfaat sifat alamiah tersebut sulit untuk dicapai, maka dibuat penyanggan buatan telah diciptakan oleh ahli tambang.

Gambar 4.3. Metode penambangan

Tabel 4.1. Sistem/Type Pembukaan Lorong (Portal/Box Cut/Kanopi/Pintu Masuk)

4.1.2. Penambangan Batubara Dengan Metode Long Wall Ada dua cara penambangan dengan menggunakan metode Long Wall yaitu: cara maju (Advancing) dan cara mundur (Retreating). Ciri-ciri metode penambangan batubara sistem lorong panjang : 1. Recoverynya tinggi, karena menambang sebagian besar batubara. 2. Permuka kerja dapat dipusatkan, karena dapat berproduksi besar di satu permuka kerja.

3.

Pada umumnya, apabila kemiringan landai, mekanisasi penambangan, transportasi dan penyanggaan menjadi mudah, sehingga dapat meningkatkan efisiensi penambangan batubara.

4. Karena dapat memusatkan permuka kerja, panjang terowongan yang dirawat terhadap jumlah produksi batubara menjadi pendek. 5. Menguntungkan dari segi keamanan, karena ventilasinya mudah dan swabakar yang timbul juga sedikit. 6. Karena dapat memanfaatkan tekanan bumi, pemotongan batubara menjadi mudah. 7. Apabila terjadi hal-hal seperti keruntuhan permuka kerja dan kerusakan mesin, penurunan produksi batubaranya besar.

Gambar 4.4. Metode Long Wall Gambar 4.5. Skema Long Wall maju

Berdasarkan skema penggalian di atas, maka seiring dengan majunya kedua lorong serta lapangan penggalian, terlihat bahwa lokasi yang batubaranya telah diambil akan meninggalkan ruang yang terisi dengan batuan atap yang telah diambrukkan. Bekas lapangan penggalian itu disebut dengan gob. Pada metode ini, pekerjaan penting yang harus dilakukan adalah menjaga agar main gate dan tail gate tetap tersekat dengan sempurna terhadap gob sehingga sistem peranginan atau ventilasi dapat berjalan dengan baik. Kelebihan metode ini adalah produksi dapat segera dilakukan bersamaan dengan penggalian lorong main gate dan tail gate. Namun seiring dengan semakin majunya penggalian, maintenance kedua lorong menjadi semakin sulit dilakukan karena tekanan lingkungan yang bertambah akibat keberadaan gob yang meluas. Selain membawa risiko ambrukan, tekanan batuan tersebut juga akan menyebabkan dinding lorong yang merupakan sekat antara kedua lorong dengan gob menjadi mudah retak dan rusak sehingga angin dapat mengalir masuk ke dalam gob. Karena di gob juga terdapat banyak serpihan atau bongkahan

batubara yang tersisa, maka masuknya angin ke lokasi ini secara otomatis akan meningkatkan potensi swabakar. Disamping itu, kelemahan metode LW maju yang lain adalah rentan terhadap fenomena geologi yang tidak menguntungkan yang muncul di dalam tambang, misalnya patahan atau batubara menghilang (wash out). Tidak sedikit penggalian LW maju terpaksa harus terhenti dan pindah ke lokasi lain dikarenakan faktor geologi tadi. Agar penambangan menjadi lebih efektif, aman, dan ekonomis, maka pada Long Wall diterapkan metode mundur atau retreating. Pada Long Wall mundur, main gate dan tail gate dibuat terlebih dulu pada blok lapisan batubara yang ingin ditambang, dengan panjang lorong dan lebar area penggalian ditentukan berdasarkan kondisi geologi serta teknik penambangan yang sesuai di lokasi tersebut. Gambar 4.6. di bawah ini menunjukkan pekerjaan persiapan lapangan penggalian, sedangkan Gambar 4.7. menampilkan lapangan penggalian yang telah siap untuk dilakukan Long Wall mundur. Gambar 4.6. Persiapan Long Wall Mundur
Gambar 4.7. Lapangan yang telah siap untul Long Wall Mundur

Ketika penambangan secara LW mundur telah dimulai, maka keadaannya dapat digambarkan seperti pada gambar 4.8. di bawah ini.
Gambar 4.8. Kondisi Penambangan Long Wall Mundur

Penambangan dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi penyangga besi (steel prop) dan link bar untuk menopang atap lapangan, serta coal pick untuk ekstraksi batubara. Sedangkan kereta tambang (mine car) digunakan sebagai alat transportasi batubara.
Gambar 4.9. LW mundur menggunakan steel prop & link bar Gambar 4.10. Ekstraksi batubara menggunakan coal pick

Untuk lebih meningkatkan efisiensi penambangan, mekanisasi tambang dalam secara menyeluruh atau sebagian (semi mekanisasi) dapat dilakukan dengan terlebih dulu memperhatikan kondisi geologi dan perencanaan penambangan secara jangka panjang.

Mekanisasi pada lapangan penggalian misalnya melalui kombinasi penggunaan drum cutter dan penyangga berjalan (self-advancing support), sedangkan pada fasilitas transportasi batubara misalnya dengan menggunakan belt conveyor.
Gambar 4.11. Ekstraksi batubara menggunakan drum cutter

Gambar 4.12. Self-advancing support Apabila kegiatan penggalian batubara di suatu blok sudah selesai, maka safety pillar akan disisakan untuk menjamin keamanan tambang dari bahaya ambrukan. Pada saat itu, tail gate dan main gate harus disekat (sealing) sempurna untuk mencegah masuknya aliran udara segar sehingga proses oksidasi batubara pada gob terhenti. Di dalam lokasi yang telah disekat, kadar gas metana akan terus bertambah, sedangkan oksigen akan menurun.
Gambar 4.13. Akhir penggalian LW mundur

Dibandingkan dengan LW maju yang dapat segera berproduksi, diperlukan waktu yang lebih lama dan biaya material yang mencukupi pada LW mundur untuk persiapan lapangan penggaliannya. Meskipun demikian, dengan maintenance lorong dan pengaturan sistem ventilasi yang relatif mudah menyebabkan LW mundur lebih aman dari risiko ambrukan dan swabakar. Selain itu, kondisi geologi yang akan dihadapi saat penggalian di lapangan nantinya dapat diprediksi lebih dulu ketika dilakukan penggalian lorong dalam rangka persiapan lapangan. Dengan demikian, langkah antisipasi untuk mengatasi fenomena geologi yang tidak menguntungkan yang mungkin timbul pada saat penambangan dapat diperhitungkan dengan baik. 4.2. Ventilasi Penambangan Batubara Bawah Tanah Batubara terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena berasal dari material organik yaitu selulosa, sudah tentu batubara tergolong mineral organik pula. Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai berikut: 5(C6H10O5) > C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

C20H22O4 adalah batubara, dapat berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit, tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur C akan semakin tinggi seiring dengan tingkat pembatubaraan yang semakin berlanjut. Sedangkan gas-gas yang terbentuk yaitu metan, karbon dioksida serta karbon monoksida, dan gas-gas lain yang menyertainya akan masuk dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan batubara. Secara teorisasi, jumlah gas metan yang terkumpul pada proses terbentuknya batubara bervolume satu ton adalah 300m3. Kondisi terperangkapnya gas ini akan terus berlangsung ketika lapisan batubara atau batuan di sekitarnya tersebut terbuka akibat pengaruh alam seperti longsoran atau karena penggalian (penambangan). Gas-gas yang muncul di tambang dalam (underground) terbagi menjadi gas berbahaya (hazardous gas) dan gas mudah nyala (combustible gas). Gas berbahaya adalah gas yang dapat mempengaruhi kesehatan yang dapat menyebabkan kondisi fatal pada seseorang, sedangkan gas mudah nyala adalah gas yang berpotensi menyebabkan kebakaran dan ledakan di dalam tambang. Pada tambang dalam, gas berbahaya yang sering ditemukan adalah karbon monoksida (CO), sedangkan yang dapat muncul tapi jarang ditemui adalah hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2). CO adalah gas tak berwarna, tak berasa, tak berbau, dan memiliki berat jenis sebesar 0,967. Pada udara biasa, konsentrasinya adalah 0 sampai dengan beberapa ppm, dan menyebar secara merata di udara. CO timbul akibat pembakaran tak sempurna, ledakan gas dan debu, swabakar, kebakaran dalam tambang, peledakan (blasting), pembakaran internal pada mesin, dll. Gas ini sangat beracun karena kekuatan ikatan CO terhadap hemoglobin adalah 240-300 kali dibandingkan ikatan oksigen dengan hemoglobin. Selain beracun, gas ini sebenarnya juga memiliki sifat meledak, dengan kadar ambang ledakan adalah 13-72%.

Untuk gas mudah nyala pada tambang batubara, sebagian besar adalah gas metan (CH4). Metan adalah gas ringan dengan berat jenis 0,558, tidak berwarna, dan tidak berbau. Gas ini muncul secara alami di tambang batubara bawah tanah sebagai akibat terbukanya lapisan batubara dan batuan di sekitarnya oleh kegiatan penambangan. Dari segi keselamatan tambang, keberadaan metan harus selalu dikontrol terkait dengan sifatnya yang dapat meledak. Gas metan dapat terbakar dan meledak ketika kadarnya di udara sekitar 5-15% dengan ledakan paling hebat pada saat konsentrasinya 9,5% pada saat terdapat sumber api yang memicunya. Untuk menangani permasalahan gas yang muncul di tambang dalam, perencanaan sistem ventilasi yang baik merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Selain untuk mengencerkan dan menghilangkan gas-gas yang muncul dari dalam tambang, tujuan lain dari ventilasi adalah untuk menyediakan udara segar yang cukup bagi para karyawan tambang, dan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang panas di dalam tambang akibat panas bumi, panas oksidasi, dll. Dengan memperhatikan ketiga tujuan di atas, maka volume ventilasi (jumlah angin) yang cukup harus diperhitungkan dalam perencanaan ventilasi. Secara ideal, jumlah angin yang cukup tersebut hendaknya terbagi secara merata untuk lapangan penggalian (working face), lokasi penggalian maju (excavation), serta ruangan mesin dan listrik. Pada sistem pernapasan manusia, oksigen dihisap dan karbon dioksida dibebaskan. Jumlah oksigen yang diperlukan akan semakin meningkat sesuai dengan aktivitas fisiknya dan dapat dihitung pula kuantitas udara segar minimum yang dibutuhkan seseorang untuk proses pernapasan berdasarkan kandungan oksigen minimum yang diperkenankan dan kandungan karbon dioksida maksimum yang masih diperbolehkan. Perlu juga dalam hal ini didefinisikan arti angka bagi atau nisbah pernapasan (respiratori quotient) yang didefiniskan sebagai nisbah antara jumlah karbondioksida yang dihembuskan terhadap jumlah oksigen yang dihirup pada suatu proses pernapasan. Pada manusia

yang bekerja keras, angka bagi pernapasan ini (respiratori quotient) sama dengan satu, yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan jumlah O2 yang dihirup pada pernapasannya. Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai keperluan oksigen pada pernapasan pada tiga jenis kegiatan manusia secara umum. Tabel 4.2 Kebutuhan Udara Pernapasan (Hartman, 1982)

Kegiatan kerja

Laju Pernapasan Per menit

Udara terhirup per menit dalam in3/menit (10-4 m3/detik)

Oksigen ter konsumsi cfm (10-5 m3/detik)

Angka bagi pernapasan (respiratori quotient)

Istirahat Kerja Moderat Kerja keras

12 18 30 40

300-800 (0,82-2,18) 2800-3600 (7,64-9,83) 6000 (16,4)

0,01 (0,47) 0,07 (3,3) 0,10 (4,7)

0,75 0,9 1,0

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah udara yang diperlukan perorang untuk pernapasan yakni : a. Berdasarkan kebutuhan O2 minimum, yaitu 19,5%. Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm Pada pernapasan, jumlah oksigen akan berkurang sebanyak 0,1 cfm ; sehingga akan dihasilkan persamaan untuk jumlah oksigen sebagai berikut; 0,21 Q - 0,1 = 0,195 Q

Kandungan Oksigen) (Jumlah Oksigen pada pernapasan) = (Kandungan Oksigen minimum untuk udara pernapasan ). Q = (0,1/ (0,21 0,195)) = 6,7 cfm (=3,2 x 10-3 m3/detik) b. Berdasarkan kandungan CO2 maksimum, yaitu 0,5%.

Dengan harga angka bagi pernapasan = 1,0 ; maka jumlah CO2 pada pernapasan akan bertambah sebanyak 1,0 x 0,1 = 0,1 cfm. Dengan demikian akan didapat persamaan : 0,0003 Q + 0,1 = 0,005 Q

Kandungan CO2 dalam udara = (Kandungan CO2 maksimum dalam udara normal) (Jumlah CO2 hasil pernapasan) Q = (0,1/(0,005 0,0003)) = 21,3 cfm (= 0,01 m3/detik)

Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan oksigen minimum 19,5% dalam udara pernapasan dan kandungan maksimum karbon dioksida sebesar 0,5% dalam udara untuk pernapasan, diperoleh angka kebutuhan udara segar bagi pernapasan seseorang sebesar 6,7 cfm dan 21,3 cfm. Dalam hal ini tentunya angka 21,3 cfm yang digunakan sebagai angka kebutuhan seseorang untuk pernapasan. Dalam merancang kebutuhan udara untuk ventilasi tambang digunakan angka kurang lebih sepuluh kali lebih besar, yaitu 200 cfm per orang (= 0,1 m3/detik per orang).

4.2.1. Pengukuran Ventilasi Pengukuran ventilasi dilakukan untuk memeriksa apakah pada setiap lokasi pada tambang bawah tanah telah dilakukan ventilasi udara yang cukup sehingga dapat diketahui kesalahan ventilasi atau untuk mendapatkan bahan yang diperlukan untuk perencanaan ventilasi atau perbaikan ventilasi. Hal yang harus diukur tersebut antara lain temperatur udara, kelembapan, tekanan udara, kecepatan udara, jumlah udara, penurunan tekanan, tekanan kipas angin, kadar gas dan jumlah debu.

4.2.2. Pengukuran Kuantitas Udara

Kuantitas udara adalah jumlah udara yang melalui ruang dengan kecepatan dan luas tertentu diukur setiap satuan waktu. Sedangkan kuantitas udara tambang yang dimaksud adalah jumlah udara masuk ke dalam tambang dalam waktu tertentu. Kuantitas udara yang melalui jalur udara tidak ditentukan secara langsung, melainkan berdasarkan pengukuran kecepatan aliran udara dan luas penampang jalur udara tambang. Tujuan dari perhitungan kuantitas udara tambang ini adalah untuk mengetahui besarnya kebutuhan udara dan pembagiannya ke setiap jalur yang membutuhkan di dalam tambang. Setelah diketahui kecepatan aliran udara dan luas penampang jalur udara pada titik pengukuran, maka kuantitas aliran udara dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Q=VxA dimana : Q = Kuantitas aliran udara, m3 / detik V = Kecepatan aliran udara, m / detik A = Luas penampang jalur udara, m2

Untuk menentukan jumlah udara minimum yang dibutuhkan ditempat kerja pada suatu tambang bawah tanah didasarkan : a. Kebutuhan pernapasan setiap orang sebesar 0,01 m3 / detik. Jumlah udara minimum yang

diperkenankan untuk tambang mengandung gas-gas berbahaya sebesar 0,1 m3/detik perorang. b. Kecepatan udara minimum untuk mengendalikan kualitas udara 0,3 m / detik. Pada

tambang yang banyak mengeluarkan gas-gas berbahaya kecepatan minimum pada permuka kerja 0,76-1,52 m / detik. c. Kecepatan udara minimum untuk mengendalikan temperatur efektif dan kelembaban

sebesar 0,5 2,5 m / detik.

d. e.

Kecepatan udara minimum pada front kerja pembuatan lubang bukaan 0,3 m/ detik. Kebutuhan udara untuk melarutkan atau pengenceran gas dan debu dalam tambang.

4.2.3. Pengukuran Kecepatan Aliran Udara Kecepatan aliran udara didalam tambang merupakan salah satu parameter dalam perhitungan kuantitas udara. Dalam pengukuran ini menggunakan anemometer yang merupakan salah satu alat untuk pengukuran kecepatan aliran udara dalam sistem ventilasi tambang. Untuk mengukur kecepatan aliran udara dalam tambang teknik pengukuran menggunakan metode Continuous traversing. Metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan untuk mengukur kecepatan aliran udara. Pengukuran dilakukan secara konsisten pada arah horisontal atau vertikal dari atas atau bawah pada ujung yang satu ke ujung yang lain pada penampang lubang bukaan dengan jalur yang teratur sehingga seluruh penampang lubang bukaan terukur.

Gambar 4.14. Alat-alat pengukur parameter ventilasi

4.2.4. Pengukuran Luas Penampang jalur udara, Temperatur dan Tekanan Udara Selain mengukur kecepatan udara untuk menentukan kuantitas aliran udara dilakukan pengukuran terhadap luas penampang jalur udara pada setiap titik pengukuran menggunakan roll

meter. Pengukuran luas penampang jalur udara ini meliputi pengukuran terhadap luas lubang bukaan, luas parit, dan luas pipa. Temperatur udara diukur menggunakan sling psychrometer (lihat Gambar 4.14). Pada alat tersebut terdapat dua buah termometer dalam skala derajat celcius yang diletakkan berdampingan pada bingkai kayu. Fungsinya untuk mengukur temperatur cembung kering (dry bulb temperature) yang menunjukkan panas sebenarnya dan temperatur cembung basah (wet bulb temperature) yang menunjukkan temperatur pada saat terjadinya penguapan air. Pengukuran temperatur dilakukan pada stasiun yang sama pada saat pengukuran kecepatan aliran udara. Pengukuran tekanan udara menggunakan barometer bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan udara pada setiap titik pengukuran. Dengan diketahuinya perbedaan tekanan udara, maka dapat diperkirakan arah pergerakan udara. Dimana udara akan selalu bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan lebih rendah.

4.2.5. Pengontrolan Ventilasi Agar pengaturan udara berjalan efektif, maka diperlukan berbagai peralatan atau fasilitas pengontrol pada jalur udara tambang. Penggunaan dan penempatan fasilitas pengontrol tersebut harus dapat memungkinkan aliran udara terdistribusi secara proporsional ke berbagai lokasi yang dikehendaki. Adapun alat-alat pengontrol udara ventilasi tersebut antara lain : 1. Penutup (Stopping) Stopping dipasang pada jalur udara tambang untuk menutup atau mencegah aliran udara. Stopping dibedakan dalam dua macam yaitu : temporary stopping dan permanent stopping. Temporary stopping biasanya terbuat dari papan/playwood, plastic dan bahan-bahan lain yang kedap udara, temporary stopping dipasang pada tempat-tempat kerja yang aktif dan cepat berubah, sehingga harus mudah dibongkar-bongkar. Permanen stopping biasanya terbuat

dari plat besi, batubata, beton dan lain-lain. Karena penggunaannya untuk menutup jalan udara dalam waktu yang tidak terbatas, maka harus dibuat kedap udara dan tidak mudah retak. Permanen stopping ini banyak digunakan untuk menutup daerah yang sudah selesai ditambang dan atau daerah bekas kebakaran. 2. Pintu Angin (Doors) Pintu angin sangat penting untuk menghentikan aliran udara, pintu angin biasanya dibuat dari bahan-bahan kedap udara yang kuat dapat digerakkan (buka/tutup), agar dapat dilalui orang atau peralatan. Pintu angin ada yang tahan api dan dapat menutup secara otomatis bila terjadi kebakaran atau peledakan. Disamping itu untuk menyetop udara juga dapat digunakan sebagai pengatur/regulator bila dibutuhkan.

Regulator

Gambar 4.15. Pintu Angin dan Regulator 3. Regulator (Pintu Pengatur) Untuk mengatur kuantitas udara yang mengalir maka diperlukan regulator guna membagi kuantitas udara, sehingga masing-masing segmen jalan udara tercukupi kebutuhan udaranya. Regulator adalah alat untuk mengatur besar kecilnya aliran udara yang akan melalui

jalan itu. Biasanya regulator dipasang pada pintu sehingga merupakan jendela dengan penutup yang dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri (menutup/membuka), ukurannya bervariasi sesuai dengan kebutuhannya. Regulator ini merupakan alat untuk menghasilkan tahanan buatan yang bertujuan untuk memperoleh kuantitas udara yang diinginkan agar jalan udara atau permuka kerja tercukupi kebutuhan udaranya. 4. Jembatan udara (Overcast atau Crossing) Jembatan udara adalah alat untuk menghindari pencampuran dua aliran udara yang bertemu pada suatu perempatan, dimana salah satu aliran udaranya dialihkan / dilewatkan melalui jembatan udara. Jembatan udara dipasang di lorong perempatan antara terowongan intake dan terowongan exhaust.
Gambar 4.16. Jembatan udara

4.2.6. Dasar Dasar Perhitungan Jaringan Ventilasi Prinsip perhitungan jaringan ventilasi pada dasarnya merupakan pemahaman dari teori pengaliran udara, sehingga diperlukan dasar-dasar pengetahuan tentang mekanika fluida. Salah satu tujuan dari perhitungan ventilasi tambang adalah penentuan kuantitas udara dan rugi-rugi (kehilangan energi), yang keduanya dihitung berdasarkan perbedaan energi. Proses pengaliran udara pada ventilasi tambang diasumsikan sebagai proses aliran tetap (steady flow process). Dalam suatu aliran tetap berlaku hukum kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi total di dalam suatu sistem adalah tetap, walaupun energi tersebut dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Perhatikan Gambar 4.17, dimana :

atau :
Gambar 4.17. Sistem Aliran Fluida

4.3.

Kebakaran dan Ledakan Tambang Batubara Bawah Tanah

4.3.1. Penyebab Kebakaran dan Ledakan Pada Tambang Batubara Secara umum kebakaran dapat terjadi bila dipenuhi tiga unsur pemicu kebakaran itu, yakni adanya api, oksigen dan bahan bakar (triangle fire). Sedangkan ledakan dapat terjadi jika ada 5 syarat yang terpenuhi, yakni ada panas (heat), bahan bakar (fuel), udara (oxygen), ruang terisolasi (confinement), dan ada tahanan (suspension). Untuk jelasnya perhatikan gambar berikut.
Gambar 4.18. Segi Lima Ledakan

4.3.2. Gas yang Dapat Meledak (Explosive Gas) Kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah berupa kebakaran dan ledakan disebabkan adanya gas methan (CH4). Gas methan yang terdapat dari batubara kadarnya bervariasi yakni: 1. Batubara coklat dan antrasit (brown coal and anthracite) umumnya sedikit gas methan, sedangkan pada batubara bituminous dan sub bituminouslebih banyak. 2. Batubara keras/padat (hard and dense coal) sedikit gas methan, sedangkan batubara lunak (brittle coal) lebih banyak. 3. Batubara yang pengendapannya terganggu (high volatile matter) mungkin sangat banyak melepaskan gas methan. 4. Lapisan batubara pada patahan (faults) dan lipatan (folds) atau rekahan mungkin banyak melepaskan gas methan. 5. Bagian atas (roof) dan bagian bawah (floor) terbentuk dari serpihan material lempungan yang tahan api (impermeable clay shale) dapat mengeluarkan banyak gas methan, sedangkan pada lapisan endapan pasir kasar akan sedikit gas methan yang dilepaskan. 6. Semakin dalam letak lapisan batubara dari permukaan tanah, akan semakin banyak gas methan yang dapat keluar dari padanya, hal ini disebabkan oleh adanya tekanan dan panas yang semakin tinggi.

Pada umumnya pelepasan gas methan dari lapisan batubara itu dapat berupa pelepasan bebas, pemancaran (emission), dan keluar dari celah bebatuan (outburst).

4.3.3. Keberadaan Gas Methan (Presence Of Methane) Gas methan yang keluar dari batubara teremisi ke udara di sekitarnya. Karena gas ini lebih ringan dari udara, maka dia berada pada bagian atas (langit-langit terowongan). Gas ini cenderung berada pada bahagian akhir lobang bukaan tambang bawah tanah (tail gate of the longwall face), lobang naik (raise end), dan bahagian atap (caved roofs).

4.3.4. Potensi Ledakan Gas Methan dan Debu Batubara. Berikut ini dijelaskan bagaimana komposisi masing-masing bahan tersebut, sehingga terjadi ledakan tambang. 1. Konsentrasi gas methan Gas methan dapat meledak pada konsentrasi antara 5 15% di udara sekitarnya pada tekanan normal. Sedangkan ledakan terbesar dan berbahaya akan terjadi pada konsentrasi 9,5%. 2. Pengaruh debu tertahan Bila debu batubara, yang butirannya sangat halus, dengan konsentrasi 10,3 gram/m3 volume udara, beterbangan ke udara sekitarnya, membentuk awan debu batubara, dan jika pada saat bersamaan ada pijaran bunga api, maka akan terjadi ledakan debu batubara itu. Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa konsentrasi campuran antara debu batubara dengan gas methan yang dapat meledak adalah sebagai tertera pada tabel.

Tabel.4.3 Konsentrasi Minimum Campuran Gas Methan dan Debu Batubara yang Dapat Meledak

Jumlah Debu Batubara(gr/m3)

0,00

10,3

17,4

27,9

37,7

47,8

Konsentrasi Gas Methan (%)

4,85

3,70

3,00

1,70

0,60

0,00

4.3.5. Gejala ledakan gas methan Apabila terjadi campuran antara udara dan gas methan dan di sana terjadi pijaran api, maka pertama akan terjadi kebakaran. Proses kebakaran ini menghasilkan karbon dioksida (CO 2) dan uap air dengan reaksi kimia : CH4 + 2O2 = CO2 + 2H2O. Ledakan akan timbul bila pada lokasi tersebut sedang ada awan debu batubara (debu batubara yang sedang beterbangan. Ledakan pada suatu lokasi akan memberikan getaran ke daerah tetangganya sehingga debu batubara yang tadinya terendapkan akan berhamburan pula, dan untuk selanjutnya akan terjadi lagi ledakan beruntun sampai semua bahan potensial ledakan habis terbakar dan meledak. Bila jumlah oksigen berkurang, gas akan terbakar secara tidak sempurna menghasilkan karbon monoksida (CO) yang sangat beracun, hydrogen (H), dan air (H2O). Reaksi kimianya: CH4 + O2 = CO + H2 + H2O

4.3.6. Teknik Pencegahan Ledakan Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah, terutama dalam bentuk ledakan gas dan debu batubara, perlu dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini harus dilakukan oleh segenap pihak yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah tanah tersebut.

Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan batubara ini adalah: 1. Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:
o o o

Gas-gas dan debu batubara yang mudah terbakar/meledak Karakteristik gas dan debu batubara Sumber pemicu kebakaran/ledakan

2. Metode eliminasi penyebab ledakan, antara lain:


o o o o o o

Pengukuran konsentrasi gas dan debu batubara Pengontrolan sistem ventilasi tambang Pengaliran gas (gas drainage) Penggunaan alat ukur gas dan debu batubara yang handal Penyiraman air (sprinkling water) Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan

3. Teknik pencegahan ledakan tambang


o o o

Penyiraman air (water sprinkling) Penaburan debu batu (rock dusting) Pemakaian alat-alat pencegahan standar.

4. Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara lain:


o o o

Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi rawan

5. Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan ledakan:


o o

Pemisahan rute (jalur) ventilasi Evakuasi, proteksi diri, system peringatan dini, dan penyelamatan secara tim.

Sesungguhnya kebakaran tambang dan ledakan gas atau debu batubara tidak akan terjadi jika sistem ventilasi tambang batubara bawah tanah itu cukup baik. 4.3.7. Pemasangan Alat Deteksi Gas Methan Dari hasil pengujian laboratorium konsentrasi gas metana hasil pengukuran dengan alat deteksi gas metana hasil rancangan dan alat multigas detector menunjukan nilai yang hampir sama dengan perbedaan sebesar 0,02% sampai dengan 0,03% volume. Dari uji ketahanan (endurance) selama 45 jam sampai baterai sudah tidak dapat menahan daya dari komponen pada alat hasil rancangan, alat deteksi gas terbukti dapat melakukan perekaman data dengan hasil yang stabil dan mengurangi performance dari alat tersebut untuk merekam data. Uji coba Lapangan 1 dilaksanakan di tambang batubara bawah tanah Sawahluwung, Sumatera Barat. Dari hasil uji coba pengukuran konsentrasi gas pada beberapa titik pengukuran menggunakan alat deteksi gas metana hasil rancangan dan juga multigas detector sebagai pembanding menunjukan nilai yang hampir sama dengan perbedaan sebesar 0,04% sampai dengan 0,08% volume. Pada pengujian lapangan ini juga dilakukan pengukuran pada lokasi yang dekat dengan daerah yang telah di seal, konsentrasi gas metana pada titik pemantauan tersebut sebesar 1,33% pada hasil pengukuran menggunakan alat deteksi gas hasil rancangan, dan sebesar 1,3% pada hasil pengukuran menggunakan alat multigas detector. Uji coba Lapangan 2 dilaksanakan pada tambang batubara Loa Ulung, Kalimantan Timur. Dari hasil uji coba pengukuran gas metana pada beberapa titik pengukuran menggunakan alat deteksi hasil rancangan dan juga alat detector gas, terdapat perbedaan konsentrasi gas metana sebesar 0 sampai dengan 1,09%. Perbedaan tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan hasil pengujian lapangan sebelumnya, di mana perbedaan konsentrasi gas hanya sebesar 0,04% sampai dengan 0,09%. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap alat deteksi mempunyai

keakuratan yang berbeda. Oleh sebab itu masih perlu dilakukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut terhadap alat deteksi gas dengan menggunakan sinar inframerah hasil rancangan. Konsentrasi gas metana pada titik pemantauan W2A DAM melampaui nilai ambang batas sebesar 1%, sedangkan pada lokasi tersebut konsentrasi gas metana sebesar 1,05% dari hasil pengukuran dengan menggunakan alat deteksi hasil rancangan, sedangkan hasil pengukuran dengan menggunakan gas detektor sebesar 2,0%, begitu juga pada lokasi W3A DAM, konsentrasi gas metana hasil pengukuran menggunakan gas detector sebesar 1,5%. Perlu dilakukan penanganan lebih lanjut untuk mengencerkan akumulasi gas pada kedua lokasi tersebut. Antara lain dengan penambahan kipas tambahan yang pada kedua lokasi, atau dengan menambahkan kapasitas pompa utama. Perbedaan konsentrasi hasil pengukuran pada skala laboratorium lebih kecil dibandingkan perbedaan pada hasil pengukuran di lapangan, hal tersebut dimungkinkan karena ruangan yang digunakan lebih kecil dan aliran udara yang diberikan lebih stabil, sedangkan dari hasil pengujian di lapangan, diperoleh perbedaan konsentrasi yang lebih besar, dan berbeda antara dua macam alat pembanding yang digunakan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor perbedaan waktu pada proses pengukuran dan proses pencacahan, kesalahan manusia (human error) dan juga perbedaan keakuratan pada masing-masing alat. Secara umum, alat yang telah dirancang ini sudah dapat digunakan sebagai pendeteksi gas metana di tambang batubara bawah tanah, namun untuk mengetahui keakuratan alat secara pasti perlu dilakukan uji coba lebih lanjut dengan mengunakan sistem yang lebih baik dan waktu uji coba yang lebih lama. Sebagai pengembangan lebih lanjut, alat ini dapat dikoneksi ke sistem monitoring terpusat.

V. 5.1. Simpulan

PENUTUP

Berbeda dengan tambang permukaan (open cut) yang lebih terfokus pada manajemen mobilisasi alat berat, tambang dalam jauh lebih banyak memerlukan perhitungan baik dari segi perencanaan penambangan maupun keselamatan, karena kondisi kerjanya yang lebih ekstrim. Sehingga sangatlah tidak masuk akal apabila operasional tambang bawah tanah sampai dilakukan oleh pihak pihak yang tidak berkompeten, dalam hal ini adalah pelaku tambang rakyat ilegal. Oleh karena itu, sudah seharusnya instansi yang berwenang benar benar memahami karakteristik metode penambangan bawah tanah ini, sehingga tindakan antisipatif dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya bencana di tambang dalam. Kemudian yang jauh lebih penting lagi adalah aparat harus berani melarang kegiatan penambangan tanpa ijin (PETI) karena terbukti lebih banyak menimbulkan kerugian bagi banyak pihak, disamping aktivitas itu sendiri sudah jelasjelas melanggar hukum.

Diposkan oleh Jordan Malindo di 16.52 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2012 (3)

o o o

Desember (1) Tambang Batubara Bawah Tanah April (1) Maret (1)

Mengenai Saya

Jordan Malindo Lihat profil lengkapku Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

Karbon dioksida adalah senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen terikat kovalen dengan atom karbon. Berbentuk gas pada temperatur dan tekanan standar dan berada di atmosfer. Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi 387 pp.Tetapi jumlah bervariasi tergantung lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena mampu menyerap gelombang inframerah. Karbon dioksida diproduksi oleh hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme dalam respirasi dan dipergunakan tanaman pada fotosintesis. Sehingga karbon dioksida termasuk komponen yang penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas. Karbon dioksida tidak berbentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm tetapi berbentuk padat pada temperatur di bawah -78 C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida disebut es kering.CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda. Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida(CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global. Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara: 1. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.

2. Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump). 3. Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological pump). 4. Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction). Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu: 1. Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air. 2. Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen. 3. Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer. 4. Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak. 5. Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer. 6. Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun. Pencemaran Udara Oleh Kadar Karbondioksida yang Berlebih Karbondioksida, suatu gas yang penting, tetapi keberadaannya yang tidak seimbang akan membuat fenomena alam yang mampu merusak bumi. Mulai dari tenggelamnya beberapa pulau di dunia sampai musnahnya beberapa jenis spesies di bumi. Oleh karena itu kadar konsentrasi karbondioksida yang sesuai harus dipertahankan.Dan komposisi karbondioksida dalam udara bersih seharusnya adalah 314 ppm. Karbondioksida yang berlebihan efeknya :

Melubangi lapisan Ozon Efek rumah kaca, cahaya & panas matahari yang masuk kebumi tidak dapat di lepas ke luar angkasa secara kosmis. Meningkatkan suhu bumi secara global beberapa derajat Mencairkan es kutub sehingga meningkatkan permukaan air laut

Saat ini, pemanasan global telah menjadi isu global yang semakin penting di dunia dan diketahui telah menyebabkan beberapa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Salah satu indikator yang digunakan dalam menganalisis isu pemanasan global adalah bertambahnya gas rumah kaca, terutama gas CO2, secara cepat akibat kegiatan manusia. Sejauh ini, berbagai upaya telah mulai dilakukan oleh manusia untuk mengurangi dampak pemanasan global, seperti program penanaman kembali (reboisasi), penghematan energi, penggunaan energi baru dan terbarukan, dan pemanfaatan berbagai teknologi carbon capture and storage (CCS). Reboisasi Salah satu cara untuk mereduksi keberadaan kadar karbondioksida yang berlebih adalah dengan penghijauan.Beberapa tanaman akan sangat baik dalam penyerapan CO2. Widyastama (1991) dalam Dahlan (1992) menyatakan bahwa tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 adalah damar (Agathis alba), daun kupu kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auricoliformis) dan beringin (Ficus javanica). Menurut Sugiarti (1998), Flamboyan (Delonix regia) dan kembang merak (Caesalpinia pulcherrima) merupakan tanaman yang efektif dalam menyerap gas karbondioksida dan sekaligus relatif kurang terganggu oleh pencemaran udara. (Sumber Rosa 2005). Setiawati (2000) dalam Abrarsyah (2002) menyebutkan bahwa tanaman yang tergolong tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor adalah kembang merak, trembesi, angsana, asam londo, flamboyan, kupu kupu, saputangan, kaliandra, sengon, nyamplung, kenanga, mahoni, eboni, krey payung, kesumba, glodokan, akasia aurikuliformis dan salam. Adapun tanaman yang tergolong sangat tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor adalah akasia mangium, sawo kecik, kayu manis, kayu putih, beringin dan kenari diacu dalam (Abrarsyah 2002) Startegi Menurunkan Emisi Karbon 15 strategi untuk menurunkan emisi karbon. Setiap strategi, jika dilakukan dalam waktu 50 tahun, akan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 1 milyar ton karbon per tahun. Stategi tersebut antara lain: 1. Meningkatkan efisiensi bahan bakar bagi 2 milyar mobil menjadi dua kali lipat ( dari 30 mil per galon menjadi 60 mil per galon). Indonesia harus siap dengan kendaraan yang berbahan bakar alternatif, seperti gas, air, dan udara. 2. Mengurangi setengahnya jarak rata-rata per tahun yang ditempuh setiap mobil (dari 10.000 mil ke 5.000 mil). Bisa juga melalui pengembangan transportasi massal. Faktanya transportasi masal di Indonesia masih banyak menggunakan bahan-bakar dengan tingkat polutan yang sangat tinggi. 3. Meningkatkan efisiensi bangunan (heating, cooling, lighting and aplikasi elektronik lainnya) sebesar 25%. 4. Meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga batubara dari 40% ke 60% Masih jarang nih di Indonesia yang memakai Batubara.Tetapi batubara walaupun polutannya rendah tapi pelepasan karbonnya cukup banyak.

5. Menangkap dan menyimpan karbon di bawah tanah dari 800 pembangkit atau pabrik skala besar berbahan bakar batu bara atau 1.600 pembangkit atau pabrik skala besar berbahan bakar gas. 6. Memproduksi bahan bakar hidrogen dari turunan batu bara/bahan bakar fosil bagi satu milyar mobil. 7. Memproduksi bahan bakar sintetik dari turunan batu bara sebesar 30 juta barrel per hari. 8. Menggantikan 1.400 pembangkit listrik tenaga batubara skala besar (1 milyar watt) dengan pembangkit listrik tenaga gas. 9. Meningkatkan kapasitas pembangkit tenaga nuklir menjadi tiga kali lipat. 10. Meningkatkan pembangkit listrik tenaga angin sebesar 25 kali kapasitas yang ada sekarang (atau 2 juta pembangkit tenaga angin kapasitas 1 megawatt). 11. Meningkatkan listrik tenaga surya sebesar 700 kali kapasitas yang ada sekarang (atau 2000 gigawatt). Ini merupakan energi alternatif yang sangat potensial di Indonesia 12. Meningkatkan pembangkit hidrogen tenaga angin, untuk membuat bahan bakar hidrogen bagi mobil, sebesar 50 kali kapasitas yang ada sekarang. 13. Meningkatkan produksi biofuel sebesar 50 kali kapasitas yang ada sekarang. 14. Menghentikan penggundulan hutan atau deforestasi, dan merehabilitasi atau menghutankan kembali 400 juta hektar lahan di daerah temperata atau 300 juta hektar lahan di daerah tropis. 15. Memperluas upaya konservasi tanah tanah pada semua lahan pertanian. Status emisi karbon global pada 2007 adalah 8 milyar ton per tahun.Tanpa ada upaya untuk menguranginya, pada tahun 2057 akan mencapai 16 milyar ton per tahun. Berarti menaikan suhu bumi 5 derajat celcius.Jika kita menjalankan 8 strategi di atas maka suhu bumi naik 3 derajat. Jika menjalankan 12 strategi maka suhu bumi hanya naik 2 derajat, batas aman kenaikan suhu bumi yang tidak ingin dilampaui oleh para ilmuwan.Idealnya tentu menjalankan ke 15 strategi tersebut sehingga kenaikan suhu bumi berada di bawah 2 derajat. Penanganan Karbondioksida yang Berasal dari Pembakaran Bahan Bakar Fosil Masalah utama yang menjadi pembicaraan ilmuan seluruh dunia adalah resiko terjadinya pemanasan global. Gas-gas yang terjadi secara alami di atmosfer membantu mangatur suhu bumi dan menangkap radiasi lain atau dikenal sebagai green house effect (efek rumah kaca). Kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, menghasilkan gas rumah kaca yang pada akhirnya berakumulasi di atmosfer. Pembentukan gas tersebut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Batu bara adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh kegiatankegiatan manusia. Gas rumah kaca yang terkait dengan batu bara termasuk metana, karbon dioksida, dan oksida nitro. Gas metana keluar dari tambang batu bara dalam, sedangkan karbon dioksida dan oksida nitro keluar dari batu bara yang digunakan untuk membangkitkan listrik atau proses industri seperti produksi baja dan pabrik semen. Penggunaan energi batu bara juga tidak luput dari penyebab munculnya polusi seperti oksida belerang dan nitrogen (SOx dan NOx), serta partikel dan unsur lain seperti merkuri. Masalah yang baru adalah emisi karbon dioksida (CO2). Lepasnya CO2 ke atmosfer dari aktivitas manusia atau sering disebut emisi antropogenik memiliki keterkaitan dengan pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil adalah sumber utama dari emisi antropogenik dai seluruh dunia. Untuk mananggulangi permasalahan yang muncul dari penggunaan batu bara, kemudian muncul clean coal technology (CCT) yang merupakan salah satu teknologi yang mampu meningkatkan kinerja lingkungan batu bara. Teknologi tersebut mengurangi emisi, limbah, dan meningkatkan

jumlah energi yang diperoleh dari setiap ton batu bara. Pemilihan teknologi tergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Teknologi yang mahal dan sangat maju tidak mampu diadopsi oleh negara miskin dan berkembang. Langkah pengurangan emisi karbon dioksida dari pembakaran batu bara adalah pengembangan dalam efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga uap. Efisiensi termal merupakan tindakan efisiensi konversi keseluruhan untuk membangkitkan tenaga listrik. Semakin tinggi tingkat efisiensinya maka semakin besar pula energi yang dihasilkan. Penggunaan batu bara di masa akan datang harus mampu negurangi emisi CO2. Banyak metode yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut seperti dengan peningkatan tingkat efisiensi. Salah satu metode yang paling menjanjikan di masa depan adalah Carbon Capture and Storage (CCSTangkapan dan Penyimpanan Karbon). CCS memungkinkan emisi karbon dioksida untuk dibersihkan dari aliran buanga pembakaran batu bara atau pembentukan gas dan dibuang sedemikian sehingga karbon dioksida tidak masuk ke atmosfer. Teknologi yang memungkinkan penangkapan CO2 dari aliran emisi telah digunakan untuk menghasilkan CO2 murni dalam industri makanan dan kimia. Setelah CO2 ditangkap, penting bahwa CO2 dapat disimpan secara aman dan permanent. Ada beberapa metode penyimpanan. 1. Karbon dioksida dapat diinjeksikan ke dalam sub permukaan bumi, teknik yang dikenal sebagai peyimpanan secara geologis. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan CO2 secara permanen dalam jumlah yang besar dan teknologi ini merupakan opsi penyimpanan yang pernah dikaji secara lengkap. Selama tapak dipilih secara hati-hati, CO2 dapat disimpan untuk waktu yang lama dan dipantau untuk memastikan tidak ada kebocoran. 2. Minyak tanpa gas dan reservoir gas merupakan pilihan penting untuk penyimpanan secara geologis. Estimasi akhir memperkirakan bahwa lapangan minyak tanpa gas memiliki kapasitas total CO2 sebanyak 126 gigaton. Reservoir gas alam tanpa gas memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 800 gigaton. 3. Dapat pula disimpan dalam batuan reservoir air garam jenuh dalam sehingga memungkinkan negara-negara untuk menyimpan CO2 selama ratusan tahun. Kapasitas penampungannya diperkirakan berkisar antara 400 10.000 gigaton. Penyimpanan CO2 memiliki manfaat ekonomi dengan meningkatkan produksi minyak dan metan lapisan batu bara. CO2 dapat digunakan sebagai pendorong minyak dari strata bawah tanah. Selain itu penyimpanan CO2 dapat meningkatkan produksi gas metan lapisan batu bara sebagai hasil sampingan yang sangat berharga. Dan sesuai dengan tujuan awal, penangkapan karbon mampu mengurangi CO2 di atmosfer dalam jumlah yang besar. Teknologi Penyerapan Karbondioksida dengan Kultur Fitoplankton Selain potensinya yang besar sebagai sumber bahan baku bagi energi baru dan terbarukan, mikroalga (fitoplankton) juga dapat berperan dalam menurunkan emisi gas CO2 di atmosfer. Mikroalga sebagai tumbuhan mikroskopis bersel tunggal yang hidup di lingkungan yang mengandung air, tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dan nutrient anorganik sederhana seperti CO2, komponen nitrogen terlarut dan fosfat. Kemampuan fitoplankton untuk berfotosintesis, seperti tumbuhan darat lainnya, dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menyerap CO2. Berdasar reaksi fotosintesis disimpulkan bahwa jumlah CO2 yang dipakai oleh fitoplankton untuk fotosintesis adalah sebanding dengan jumlah materi organik C6H12O6 yang dihasilkan. Alasan utama pemilihan fitoplankton sebagai biota yang dapat dimanfaatkan secara optimal

untuk mengurangi emisi CO2 adalah karena meskipun jumlah biomasa fitoplankton hanya 0,05% biomassa tumbuhan darat namun jumlah karbon yang dapat digunakan dalam proses fotosintesis sama dengan jumlah C yang difiksasi oleh tumbuhan darat (~50-100 PgC/th) (Bishop & Davis, 2000). Selain itu,sistem alga diketahui mampu menghilangkan CO2 (dan NOx) dari cerobong asap dimana untuk keperluan itu diperlukan teknologi pembudidaya alga berupa fotobioreaktor. Dengan teknologi fotobioreaktor ini, tingkat produktivitas alga dapat ditingkatkan menjadi 2 hingga 5 kali lebih tinggi dari kondisi normalnya. Gas CO2 yang keluar dari cerobong asap selanjutnya dapat langsung disambungkan ke fotobioreaktor dan dimanfaatkan oleh alga untuk pertumbuhannya melalui mekanisme fotosintesis. Percobaan fotobioreaktor telah memberikan hasil dan indikasi yang positif akan kemampuan fitoplankton dalam mereduksi kandungan CO2 yang diinjeksikan ke dalam fotobioreaktor. Fitoplankton jenis Chaetoceros gracilis ini terbukti mampu beradaptasi dengan pH yang lebih rendah dari kondisi inokulasinya. Namun demikian karena percobaan ini masih dalam tahap awal, maka percobaan-percobaan selanjutnya serta penyempurnaan-penyempurnaan masih perlu dilakukan agar dapat dihasilkan data yang lebih baik sehingga tujuan dari studi ini dapat dicapai. Padang rumput sumber biofuel unggulan masa depan. Kebanyakan orang sudah semakin menyadari bahwa energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan bermotor di masa depan harus segera ditemukan dalam waktu dekat.Para peneliti dari Universitas Minnesota berpendapat bahwa campuran dari rerumputan padang rumput adalah sumber biofuels yang paling baik. Mereka meyakini pendapat bahwa bahan bakar yang terbuat dari biomass padang rumput adalah bahan bakar yang karbon negatif, maksudnya bahwa dengan menggunakan biomass padang rumput akan mengurangi kadar karbondioksida di atmosfer. Lain halnya dengan menggunakan ethanol jagung atau biodiesel kedelai yang merupakan karbon positif, yaitu penggunaannya akan menambah kadar karbondioksida pada atmosfer. Para peneliti tersebut bahkan berpendapat bahwa dengan memproduksi bahan bakar yang terbuat dari rerumputan di tanah/ladang yang sudah tidak layak tanam untuk pertanian, akan mengurangi emisi karbondioksida global sampai 15%. Walaupun pendapat ini tentu saja masih mendapatkan sanggahan dari ahli lainnya. David Tilman, seorang profesor ekologi dari Universitas Minnesota dan direktur dari Cedar Creek Natural History Area, merupakan ketua dari proyek riset ini. Biofuels yang dibuat dari campuran keanekaragaman tanaman padang rumput bisa mengurangi pemanasan global dengan menyingkirkan karbon dioksida dari atmosfer. Juga kalau ditanam di atas tanah tidak subur, mereka bisa menyediakan sebagian besar keperluan energi global, dan membiarkan tanah yang subur untuk produksi makanan, ujar Tilman. Berdasarkan pada 10 tahun penelitian di Cedar Creek Natural History Area, studi yang dilakukan menunjukkan bahwa tanah pertanian yang ditanami dengan campuran tanaman padang rumput yang sangat bermacam-macam dan tanaman berbunga lain menghasilkan 238 persen lebih banyak bioenergi rata-rata, daripada lahan sama yang ditanami dengan berbagai tanaman padang rumput satu spesies, termasuk monocultures switchgrass. Sebab dasar mengapa keaneka-ragaman hayati menyebabkan efisiensi yang lebih baik daripada monocultures sangat mudah untuk dimengerti: beberapa tanaman tumbuh selama musin semi sedangkan yang lain bertambah besar pada musim lain, oleh sebab itu mereka melengkapi satu sama lain. Apabila semua orang memperhitungkan pertumbuhan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama pertumbuhan, proses memanen, mengangkut dan mengubah tanaman ke dalam bahan bakar serta karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar dan

membandingkannya dengan jumlah karbondioksida yang dihirup oleh tanaman-tanaman tersebut selama proses pertumbuhan, padang rumput memiliki efisiensi 6-16 kali lebih baik daripada bijibijian jagung ethanol atau biodiesel. Ini adalah perkembangan sangat besar, dan lebih baik lagi karena rerumputan bisa berkembang dan tumbuh di daerah/ladang yang sudah tidak layak lagi untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Kesimpulannya, dengan menanam beraneka ragam tanaman (rerumputan) diatas 500.000.000 hektare lahan yang sudah tidak layak pakai untuk pertanian, di seluruh dunia, akan bisa menggantikan sekitar 13% dari konsumsi minyak global, dan mengurangi sekitar 15% dari emisi karbon dioksida, taksiran Tilman dan koleganya. (House of Wavega)
About these ads

. Umpan RSS komentar

Tinggalkan Balasan
Tentang DELH & DPLH CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM (CDM)

Tulisan Terkini
o o o o o

Apa itu ISCC?? Konsep 5 R Meneruskan Pascasarjana (Kembali ke Ibukota) PROPER Sekilas Tentang RSPO Karbon dioksida (CO2) : Efek dan Penanganannya Apa itu ISCC?? Konsep 5 R PROPER Sekilas Tentang RSPO

Top Posts & Halaman


o o o o o

Hends_Calendar
Juli 2011 S S R K J S M Jun Agu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Meta
o o o o o

Daftar Masuk RSS Entri RSS Komentar WordPress.com I'm at PT. Sawit Mas Sejahtera (Banyuasin III, SUMSEL) 4sq.com/WQ2cvJ 1 day ago I'm at @plm_ap2 (Palembang, Sumatera Selatan) w/ 10 others 4sq.com/WBY8cZ 3 days ago I'm at Garuda Indonesia Executive Lounge (Tangerang, Banten) 4sq.com/ZelmHL 3 days ago I'm at Soekarno-Hatta International Airport (CGK) (Tangerang, Banten) w/ 32 others 4sq.com/WCr2ix 3 days ago I'm at Soekarno-Hatta International Airport (CGK) (Tangerang, Banten) w/ 101 others 4sq.com/VRtUFq 6 days ago

Hends_Twitter
o o o o o

Rancangan Alat Untuk Mendeteksi Gas Metana Pada Tambang Batubara Bawah Tanah Dengan Teknologi Sinar Infra Merah Salah satu kecelakaan kerja yang sering terjadi adalah ledakan gas metana akibat kurangnya penanganan dan kontrol terhadap keberadaan gas tersebut. Gas metana terjebak pada celah-celah (crack) lapisan batubara dan ketika batubara tersebut ditambang, gas ini akan mengisi celah-celah yang berada di atap bukaan tambang. Bila akumulasinya cukup besar, maka akan berpotensi terjadinya ledakan apabila dis ekitarnya terjadi percikan api. Tujuan perancangan alat ini yaitu untuk mempersiapkan teknologi tepat guna, murah dan mudah diperoleh di Indonesia sebagai upaya dalam mendukung penerapan teknologi penambangan yang ramah lingkungan dan juga dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan teknologi keselamatan kerja penambangan. Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah dengan melakukan tahapan-tahapan kegiatan perancangan suatu alat mulai dari studi pustaka, perancangan dan modifikasi alat, uji coba dan kalibrasi sampai pada penyusunan laporan, sehingga diharapkan permasalahan yang mungkin timbul dapat dipecahkan secara bertahap dan diharapkan dapat menghasilkan kajian yang memuaskan. Alat deteksi gas menggunakan sinar inframerah yang dirancang pada kegiatan ini terdiri dari dua macam, yaitu alat deteksi gas metana (CH4) dan alat deteksi gas karbon dioksida (CO2). Selain baik digunakan untuk mendeteksi gas metana, sinar inframerah juga baik digunakan untuk mendeteksi gas karbon dioksida.

Pemasangan alat deteksi gas metana dan peta lokasi uji coba tambang batu bara bawah tanah Sawahlunto Dari hasil pengujian laboratorium konsentrasi gas metana hasil pengukuran dengan alat deteksi gas metana hasil rancangan dan alat multigas detector menunjukan nilai yang hampir sama dengan perbedaan sebesar 0,02% sampai dengan 0,03%volume. Dari uji ketahanan (endurance) selama 45 jam sampai baterai sudah tidak dapat menahan daya dari komponen pada alat hasil rancangan, alat deteksi gas terbukti dapat melakukan perekaman data dengan hasil yang stabil dan mengurangi performance dari alat tersebut untuk merekam data. Uji coba Lapangan 1 dilaksanakan di tambang batubara bawah tanah Sawahluwung, Sumatera Barat. Dari hasil uji coba pengukuran konsentrasi gas pada beberapa titik pengukuran menggunakan alat deteksi gas metana hasil rancangan dan juga multigas detector sebagai pembanding menunjukan nilai yang hampir sama dengan perbedaan sebesar 0,04% sampai dengan 0,08 % volume. Pada pengujian lapangan ini juga dilakukan pengukuran pada lokasi yang dekat dengan daerah yang telah di seal, konsentrasi gas metana pada titik pemantauan tersebut sebesar 1,33% pada hasil pengukuran menggunakan alat deteksi gas hasil rancangan, dan sebesar 1,3% pada hasil pengukuran menggunakan alat multigas detector. Uji coba Lapangan 2 dilaksanakan pada tambang batubara Loa Ulung, Kalimantan Timur. Dari hasil uji coba pengukuran gas metana pada beberapa titik pengukuran menggunakan alat deteksi hasil rancangan dan juga alat detector gas, terdapat perbedaan konsentrasi gas metana sebesar 0 sampai dengan 1,09%. Perbedaan tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan hasil pengujian lapangan sebelumnya, di mana perbedaan konsentrasi gas hanya sebesar 0,04% sampai dengan 0,09%. Hal tersebut menunjukan bahwa setiap alat deteksi mempunyai keakuratan yang berbeda. Oleh sebab itu masih perlu dilakukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut terhadap alat deteksi gas dengan menggunakan sinar inframerah hasil rancangan.

Konsentrasi gas metana pada titik pemantauan W2A DAM melampaui nilai ambang batas sebesar 1%, sedangkan pada lokasi tersebut konsentrasi gas metana sebesar 1,05% dari hasil pengukuran dengan menggunakan alat deteksi hasil rancangan, sedangkan hasil pengukuan dengan menggunakan gas detektor sebesar 2,0%, begitu juga pada lokasi W3A DAM, konsentrasi gas metana hasil pengukuran menggunakan gas detector sebesar 1,5%. Perlu dilakukan penanganan lebih lanjut untuk mengencerkan akumulasi gas pada kedua lokasi tersebut. Antara lain dengan penambahan kipas tambahan yang pada kedua lokasi, atau dengan menambahkan kapasitas pompa utama. Perbedaan konsentrasi hasil pengukuran pada skala laboratorium lebih kecil dibandingkan perbedaan pada hasil pengukuran di lapangan, hal tersebut dimungkinkan karena ruangan yang digunakan lebih kecil dan aliran udara yang diberikan lebih stabil, sedangkan dari hasil pengujian di lapangan, diperoleh perbedaan konsentrasi yang lebih besar, dan berbeda antara dua macam alat pembanding yang digunakan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor perbedaan waktu pada proses pengukuran dan proses pencacahan, kesalahan manusia (human error) dan juga perbedaan keakuratan pada masing-masing alat. Secara umum, alat yang telah dirancang ini sudah dapat digunakan sebagai pendeteksi gas metana di tambang batubara bawah tanah, namun untuk mengetahui keakuratan alat secara pasti perlu dilakukan ujicoba lebih lanjut dengan mengunakan sistem yang lebih baik dan waktu ujicoba yang lebih lama. Sebagai pengembangan lebih lanjut, alat ini dapat dikoneksi ke sistem monitoring terpusat.

Karbonmonoksida dan Dampaknya terhadap Kesehatan


Kata Kunci: Karbonmonoksida Ditulis oleh Yoky Edy Saputra pada 29-07-2009

Karbonmonoksida atau CO adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah -129OC.

Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan fosil dengan udara, berupa gas buangan. Di kota besar yang padat lalu lintasnya akan banyak menghasilkan gas CO sehingga kadar CO dalam udara relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu dari gas CO dapat pula terbentuk dari proses industri. Secara alamiah gas CO juga dapat terbentuk, walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain. Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) : Hemoglobin + O2 > O2Hb (oksihemoglobin) Hemoglobin + CO > COHb (karboksihemoglobin) Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat. Keadaan ini sudah barang tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi CO-Hb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung. Pengaruh konsentrasi gas CO di udara sampai dengan dengan 100 ppm terhadap tanaman hampir tidak ada, khususnya pada tanaman tingkat tinggi. Bila konsentrasi gas CO di udara mencapai 2000 ppm dan waktu kontak lebih dari 24 jam, maka kana mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas yang ada pada lingkungan terutama yang terdapat pada akar tanaman. Gas CO sangat berbahaya, tidak berwama dan tidak berbau, berat jenis sedikit lebih ringan dari udara (menguap secara perlahan ke udara), CO tidak stabil dan membentuk CO2 untuk mencapai kestabilan phasa gasnya. CO berbahaya karena bereaksi dengan haemoglobin darah membentuk Carboxy haemoglobin (CO-Hb). Akibatnya fungsi Hb membawa oksigen ke sel- sel tubuh terhalangi, sehingga gejala keracunan sesak nafas dan penderita pucat. Reaksi CO dapat menggantikan O2 dalam haemoglobin dengan reaksi : 02Hb + CO > OHb + O2

Penurunan kesadaran sehingga terjadi banyak kecelakaan, fungsi sistem kontrol syaraf turun serta fungsi jantung dan paru-paru menurun bahkan dapat menyebabkan kematian. Waktu tinggal CO dalam atmosfer lebih kurang 4 bulan. CO dapat dioksidasi menjadi CO2 dalam atmosfer adalah HO dan HO2 radikal, atau oksigen dan ozon. Mikroorganisme tanah merupakan bahan yang dapat menghilangkan CO dari atmosfer.

Dari penelitian diketahui bahwa udara yang mengandung CO sebesar 120 ppm dapat dihilangkan selaIna 3 jam dengan cara mengontakkan dengan 2,8 kg tanah (Human, 1971), dengan demikian mikroorganisme dapat pula menghilangkan senyawa CO dari lingkungan, sejauh ini yang berperan aktif adalah jamur penicillium dan Aspergillus.

Hidrogen sulfida
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Hidrogen sulfida, H2S, adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam. Hidrogen sulfida juga dikenal dengan nama sulfana, sulfur hidrida, gas asam (sour gas), sulfurated hydrogen, asam hidrosulfurik, dan gas limbah (sewer gas). IUPAC menerima penamaan "hidrogen sulfida" dan "sulfana"; kata terakhir digunakan lebih eksklusif ketika menamakan campuran yang lebih kompleks.

Kimiawi
Hidrogen sulfida merupakan hidrida kovalen yang secara kimiawi terkait dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur berada dalam golongan yang sama di tabel periodik. Hidrogen sulfida merupakan asam lemah, terpisah dalam larutan aqueous (mengandung air) menjadi kation hidrogen H+ dan anion hidrosulfid HS: H2S HS + H+ Ka = 1.3107 mol/L; pKa = 6.89. Ion sulfid, S2, dikenal dalam bentuk padatan tetapi tidak di dalam larutan aqueous (oksida). Konstanta disosiasi kedua dari hidrogen sulfida sering dinyatakan sekitar 1013, tetapi sekarang disadari bahwa angka ini merupakan error yang disebabkan oleh oksidasi sulfur dalam larutan alkalin. Estimasi terakhir terbaik untuk pKa2 adalah 192[1]. Gas Hydrogen Sulfide (H2S) sangat beracun dan mematikan, pekerjapekerja pada pemboran minyak dan gas bumi mempunyai resiko besar atas keluarnya gas H2S Pengetahuan Umum tentang (H2S) Hidrogen Sulfida (H2S) Adalah gas yang sangat beracun dan dapat melumpuhkan system pernapasan serta dapat dapat mematikan dalam beberapa menit. dalam jumlah sedikitpun gas H2S sangat berbahaya untuk kesehatan. Hidrogen Sulfida terbentuk dari proses penguraian bahan-bahan organis oleh bakteri.Maka dari itu H2S terdapat dalam minyak dan gas bumi, selokan, air yang tergenang. Misalnya rawa-rawa dan juga terbentuk pada proses-proses industri maupun proses biologi lain Kateristik H2S

Sangat beracun dan mematikan Tidak Berwarna Lebih Berat Dari udara sehingga cendrung berkumpul dan diam pada daerah yang rendah Dapat terbakar dengan nyala api berwarna biru dan hasil pembakarannya gas sulfur Dioksida (SO2)yang juga merupakan gas beracun Sangat Korosif mengakibatkan berkarat pada logam tertentu Pada konsentrasi yang rendah berbau seperti telur busuk dan dapat melumpuhkan indera penciuman manusia

Data SO2 (Sulfur Dioksida)

Sulfur dioksida merupakan gas yang tidak berwarna berbau tajam. Sulfur dioksida merupakan senyawa kimia dengan rumus SO2 tersusun dari 1 atom sulfur dan 2 atom oksige yang dihasilkan terutama dari letusan gunung berapi dan beberapa proses industri. Bahan bakar minyak banyak mengandung unsure sulfur, sehingga pembakarannya menghasilkan SO2 kecuali sulfurnya telah dihilangkan sebelum dilakukan pembakaran. Oksidasi lain dari sulfur biasanya dikatalisis oleh NO2 membentuk H2SO4 yang merupakan hujan asam. Emisi sulfur dioksida juga merupakan komponen partikulat yang ada di atmosfer.

Gambar 1. Struktur SO2

Sumber-sumber SO2 Sumber utama SO2 adalah 88,3 % dari industri, 7,6 % dari transportasi. Penurunan konsentrasi SO2 dalam 25 tahun terakhir dapat berarti adanya peningkatan dalam proses industri dan sistem filtrasi yang lebih baik.

Gambar 2. Sumber-sumber SO2

Berdasarkan penelitian World Research Institute tahun 2000 di Amerika Serikat mengemisikan 17.866.000 ton SO2 yang menjadi 11,9 % dari total emisi SO2 di dunia yang menjadikan Amerika sebagai ranking kedua emitor SO2 dengan Cina sebagai emitor pertama sebesar 22,8 % emisi SO2 di dunia.