You are on page 1of 3

Junior Auditor tidak cermat pada saat melakukan walkthrough atas siklus pembelian.

Pada saat Senior Auditor melakukan review terhadap Working Paper (WP) ditemukan kesalahan pengklasifikasian COA oleh karyawan bagian pencatatan penerimaan barang, sehingga terdapat beberapa akun persediaan yang masuk ke akun biaya ataupun sebaliknya. Atas hal tersebut harus dilakukan pemeriksaan ulang terhadap bukti termasuk inquiry. Sebagai catatan jadwal audit sangat ketat. Langkah manakah yang lebih baik?

PRO Langkah yang lebih baik adalah memberikan arahan kepada Junior Auditor untuk mengumpulkan bukti yang relevan dan akurat, karena Senior Auditor juga harus menyelesaikan kewajiban lainnya di klien tersebut. Pernyataan tersebut sesuai dengan SA Seksi 311 (PSA No. 05) Paragraf 11 bahwa supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai tujuan audit dan penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang dijumpai dalam audit, me-review pekerjaan yang dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat di antara staf audit kantor akuntan. Dari paragraf tersebut, tergambar bahwa apa yang sebaiknya dilakukan oleh Senior Auditor adalah supervisi yang mencakup pemberian arahan kepada Junior Auditornya agar tujuan auditnya tercapai. Selain itu, SA Seksi 230 (PSA No. 04) Paragraf 4 menyatakan bahwa seorang auditor harus memiliki tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki oleh auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan kecermatan dan keseksamaan yang wajar. Dan menurut standar umum nomer 3, dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib

menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. Disini berarti Junior Auditor merupakan pribadi yang sudah terjamin kemahiran profesionalnya, sehingga apa yang perlu dilakukan oleh Senior

Auditor adalah sebatas pemberian arahan sehingga audit tetap terlaksana dengan efektif.

KONTRA Langkah yang lebih baik adalah Senior Auditor ikut mendampingi Juniornya saat pemeriksaan ulang agar prosedur audit dapat berjalan lebih efisien dan efektif. Sesuai dengan SA Seksi 230 (PSA no. 04) Paragraf 05 bahwa para auditor harus ditugasi dan disupervisi sesuai dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengevaluasi bukti audit yang mereka periksa. Auditor dengan tanggung jawab akhir untuk suatu perikatan harus mengetahui, pada tingkat yang minimum, standar akuntansi dan auditing yang relevan dan harus memiliki pengetahuan tentang kliennya. Selain itu, se suai dengan SA Seksi 161 (PSA No 01) paragraf 02 yang menyatakan

Kantor akuntan publik juga harus mematuhi standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, kantor akuntan publik harus membuat kebijakan dan prosedur pengendalian mutu untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian penugasan audit dengan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Sifat dan luasnya kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik tergantung atas faktor-faktor tertentu, seperti ukuran kantor akuntan publik, tingkat otonomi yang diberikan kepada karyawan dan kantor-kantor cabangnya, sifat praktik, organisasi kantornya, serta pertimbangan biaya-manfaat. Keyakinan (assurance) menunjukkan tingkat kepastian yang dicapai dan yang ingin disampaikan oleh auditor bahwa kesimpulannya yang dinyatakan dalam laporannya adalah benar. Tingkat keyakinan yang dapat

dicapai oleh auditor ditentukan oleh hasil pengumpulan bukti. Semakin banyak jumlah bukti kompeten dan relevan yang dikumpulkan, semakin tinggi tingkat keyakinan yang dicapai oleh auditor. sehingga Senior

Auditor perlu mendampingi Junior nya agar memperoleh bukti-bukti yang memadai dan memenuhi standar kualitas.

Konklusi : Kami memilih Pro, bahwa sebaiknya senior hanya cukup memberikan arahan kepada junior tanpa harus mendampinginya setiap saat. Karena sesuai dengan SA Seksi 230 (PSA No. 04) Paragraf 4 menyatakan bahwa seorang auditor harus memiliki tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki oleh auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan kecermatan dan keseksamaan yang wajar. Melalui pernyataan tersebut kami berpendapat bahwa seorang auditor selayaknya telah memiliki kompetensi dan keahlian yang dibutuhkan dalam melakukan suatu audit. Sehingga tugas senior auditor hanya sebatas pemberian arahan sehingga audit tetap terlaksana dengan efektif.