You are on page 1of 5

HTR (Hutan Tanaman Rakyat) Industri Kehutanan Indonesia saat itu kekurangaan pasokan bahan baku.

untuk itu pemerintah membuka peluang kepada masyarakat untuk turut mengantisipasi kekurangan bahan baku industri kayu melalui pembangunan hutan tanaman rakyat yang melibatkan masyarakat luas. Salah satu sasaran prioritas Departemen Kehutanan dalam rangka peningkatan potensi dan kualitas hutan produksi yang tidak produktif serta peningkatan pendapatan masyarkat di dalam dan sekitar hutan adalah melalui pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Dengan mengedepankan prinsip keadilan, maka kepada masyarakat akan diberikan akses untuk ikut membangun Hutan Tanaman Rakyat yaitu Hutan Tanaman skala kecil dan menengah dalam luasan 5 - 15 Hektar per KK (Kepala Keluarga). Pemberian akses yang lebih luas kepada masyarakat dalam pengelolaan hutan ini merupakan gerbang menuju terwujudnya visi pembangunan kehutanan. Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat disusun berdasarkan proses pembelajaran Departemen Kehutanan atas program maupun proyek Pemberdayaan Masyarakat sekitar hutan yang selama ini diterapkan, seperti Program Bina Desa, Pengelolaan Hutan Bersama masyarakat (PHBM), Hutan Rakyat Pola Kemitraan (HRPK), oleh HPH / IUPHHK-HA/HT, kredit Usaha Tani Konservasi DAS (KUK-DAS), Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR), Proyek-proyek Kerja sama Teknik Luar Negeri seperti Social Forestry Dephut-GTZ di sanggau Kalimantan Barat, Multistakhoders Forestry Programme Dephut-DFID dan beberapa Proyek Pemberdayaan Masyarakat yang ada di Departemen Kehutanan. Pengertian HTR (Hutan Tanaman Rakyat) HTR (Hutan Tanaman Rakyat) adalah Hutan Tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan atau Koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan system silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan. Tujuan HTR Tujuan pembangunan Hutan Tanaman Rakyat adalah sebagi berikut : * Rehabilitasi kawasan hutan produksi yang terlantar dan atau kosong akibat kerusakan pada beberapa tahun yang lalu. * Meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi tidak produktif secara optimal. * Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan produksi dalam pengelolaan hutan secara lestari. * Meningkatkan produksi kayu dalam hutan produksi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan, dimana kebutuhan industri akan kayu pada saat ini tidak seimbang dengan kemampuan produksi kayu (kebutuhan 63,48 juta m3/tahun, produksi 22,8 juta m3). * Memeberikan lapangankerja dan usaha bagi masyarakat di sekitar hutan produksi dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

* Keamanan, yang terbangun dari kesadaran masyarakat di sekitarnya akan rasa memiliki, mengelola serta memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi dan meningkatkan kebutuhan hidupnya. * Membangun kebersamaan, keadilan dan keterbukaan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan secara optimal untuk menuju kelestarian dalam mendukung aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Dasar Hukum 1. Amanat UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, bahwa tujuan penyelenggaraan kehutanan yang berazaskan kerakyatan dan keadilan,adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan, antara lain dengan : a. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan, sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal. b. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, memuat kebijakan pembangunan Hutan Tanaman Rakyat dengan tujuan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat dalam pemanfaatan hutan produksi untuk meningkatkan upaya rehabilitasi hutan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengentasan kemiskinan, meningkatkan kontribusi kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, serta memenuhi permintaan bahan baku industri perkayuan (aspek ekonomi, ekologi dan sosial). 3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.23/menhut-II/2007 tentang Tata Cara Permohonan IUPHHK-Hutan Tanaman Rakyat. Lokasi HUtan Tanaman Rakyat Lokasi yang telah ditetapkan untuk pembangunan Hutan Tanaman Rakyat antara lain adalah Kawasan hutan produksi tidak produktif, tanah kosong, semak belukar, padang alang-alang dan yang tidak dibebani Izin/hak lain. PERKEMBANGAN PENCADANGAN HTR DI PROVINSI JAMBI 1. Muaro Jambi No : SK.394/Menhut-II/2008 Tgl. 10 Nopember 2008 seluas 668 Hektar. 2. Sarolangun No. SK.386/Menhut-II/2008 Tgl. 7 Nopember 2008 seluas 18,840 Hektar. 3.Tanjung Jabung Barat No. SK.70/Menhut-II/2009 Tgl. 26 Pebruari 2009 seluas 2,280 Hektar. 4. T e b o No. SK.438/Menhut-II/2008 Tgl. 26 Nopember 2008 Seluas 11,050 Hektar. 5. Batanghari No. SK.436/Menhut-II/2008 Tgl. 26 Nopember 2008

seluas 6,125 Hektar. 6. Merangin No.SK.223/Menhut-II/2008 Tgl. 14 April 20010 seluas 1.370 7. Kerinci JUMLAH Keseluruhannya 40,333 Hektar.

Jenis Tanaman Hutan Tanaman Rakyat : A. Tanaman Hutan Berkayu : 1. Kayu Perukangan : Meranti (Shorea sp) Keruing (Dipterocarpus sp) Jati (Tectona grandis) Sengon (Paraserianthes Falcataria) Sonokeling (Dalbergia latifolia) Mahoni (Switenia Macrophylla) Kayu Hitam (Diospyros celebica) Akacia (Acacia Mangium) Rajumas (Duabanga Moluccana) Sungkai (Peronema Canescens) 2. Kayu Serat : Eucaliptus (eucalyptus spp) Akasia (Acacia Mangium) Tusam (Pinus) Mercusii) Gmelia (Gmelia arborea) B. Tanaman Budidaya Tahunan Berkayu : Karet (Hevea Brasiliensis) Durian (Durio Zibethinus) Nangka (Artocarpus integra) Mangga (Mangiferia indica) Rambutan (Nephelium Lapaceum) Kemiri (Aleuritas Moluccana) Dukuh (Lansium domesticum) Pala (Myristica fragans)

Dalam pembangunan Hutan Tanaman Rakyat telah ditetapkan pola dalam pengembangannya sebagai berikut : HTR Pola Mandiri

Masyarakat setempat membentuk kelompok yang kemudian diajukan ke Bupati. Pemerintah akan mengalokasikan areal dan memberikan Surat Keputusan IUPHHKHTR untuk setiap individu dalam kelompok, dan masing-masing ketua kelompok bertanggung jawab atas pelaksanaan HTR serta pengajuan dan pengembalian kredit, pasar dan pendampingan dari pemrintah atau pemerintah daerah. Setiap anggota mengingatkan anggota kelompok lainnya untuk memenuhi kewajiban. HTR Pola Kemitraan

Masyarakat setempat membentuk kelompok dan diajukan oleh Bupati ke Menteri Kehutanan. Selanjutnya pemerintah menerbitkan SK IUPHHK-HTR kepada individu dan menetapkan mitra. Mitra bertanggung jawab atas saprodi, pelatihan, pendampingan dan pasar. Selain BUMN dan BUMS, mitra dapat dilakukan dengan industri perkayuan atau panel, pulp dan kertas, atau model plasma inti. HTR Pola Developer

BUMN atau BUMS sebagai developer membangun hutan tanaman rakyat (HTR), dan selanjutnya diserahkan oleh pemerintah kepada masyarakat sebagai pemegang IUPHHK-HTR. Biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai pinjaman pemegang IUPHHK-HTR dan dikembalikan secara bertahap sesuai akad kredit sejak Surat Keputusan IUPHHK-HTR diterbitkan. Persyaratan. Yang dapat memperoleh IUPHHK-HTR adalah : a. Perorangan b. Koperasi dalam skala mikro, kecil, menengah dan dibangun oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan disekitar hutan. Areal luas areal HTR paling luas 15 Ha (lima belas hektar) untuk setiap KK pemohon, bagi koperasi luasnya disesuaikan dengan kemampuan usahanya, Letak areal harus berada dalam satu lokasi yang telah ditetapkan Menteri. IUPHHK-HTR diberikan untuk jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) tahun. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat dalam hutan tanaman hapus karena : - Dikembalikan oleh pemegang izin - Dicabut oleh pemberi izin - Berakhirnya masa berlaku izin - Meninggalnya pemegang izin HTR perorangan.

Kelembagaan Perorangan dalam masyarakat setempat membentuk Kelompok dengan difasilitasi oleh Penyuluh Kehutanan atau Penyuluh Pertanian di tingkat desa. Setiap Kelompok harus memiliki nama kelompok, pengurus kelompok yang jelas dan ada peraturan kelompok.

Peraturan Kelompok berisi antara lain kewajiban terhadap penyelenggaraan HTR, keamanan areal, kewajiban terhadap keuangan dan kewajiban hubungan antara kelompok di dalam atau di desa terkait. Bupati, camat, dan Kepala Desa bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat. Pembiayaan Hutan Tanaman Rakyat dibiayai oleh Badan Usaha Pembiayaan Pembangunan Hutan (BUPPH) yang disalurkan melalui instansi Pemerintah yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU).