You are on page 1of 6

BAB IV PEMBAHASAN Hasil pengkajian terhadap 21 lansia di ruangan Anggrek oma atas di PSTW Budi Mulya 03 Cirasas didapatkan

data sebagai berikut : 1. Karakteristik Berdasarkan Data Demografi a. Umur Hasil pengkajian diruangan anggrek oma atas didapatkan usia terbanyak yaitu pada usia 61-70 tahun sebanyak 10 lansia (47.6 %). Hal ini sesuai dengan UndangUndang No. 13/th. 1998 BAB I pasal 1 ayat 2 , seseorang dikatakan lansia apabila usianya mencapai 60 tahun ke atas. b. Pendidikan Handoko (1995) menegaskan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi kesadaran terhadap kesehatan diri. Tingkat pendidikan juga akan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami suatu informasi. Beeker and Reosenstock dalam Notoatmodjo (2003) juga menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin udah pula seseorang dalam menerima pembelajaran. Hasil pengkajian di ruangan Anggrek, oma atas menunjukkan bahwa lansia yang tidak sekolah sebanyak 19 lansia (76,2 %). Hal tersebut sesuai dengan data yang ada pada biro statistik tahun 2007 yang menyatakan bahwa persentase banyaknya lansia yang tidak bersekolah dan tidak tamat SD masing-masing 70% dan 59,54%. c. Suku Setelah dilakukan pengkajian di ruangan Anggek, oma atas didapatkan data bahwa suku yang terbanyak yaitu jawa, sebanyak 17 lansia ( 81% ). Hal ini menunjukkan bahwa suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia, setidaknya sekitar 90 juta (41,7%) penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.

d. Agama Hasil pengkajian di ruangan anggrek, oma atas menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memeluk agama islam, yaitu sebanyak 19 lansia (76,2 %). Hal tersebut sesuai data yang ada pada biro statistik bahwa sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama islam. 2. Karakteristik berdasarkan masalah yang dialami lansia a. Gangguan Penglihatan Pengkajian yang telah dilakukan di ruangan anggrek oma atas terdapat 33.3 % (7 orang) lansia mederita rabun dan 9.5% (2 orang) lansia mederita katarak, sehingga dapat disimpulkan lansia yang menderita gangguan penglihatan sebesar 42.8 % (sebanyak 9 orang). b. Defisit self care Dari hasil pengkajian di ruangan anggrek masalah perawatan diri pada lansia di ruang anggrek menonjol. Stanley (2006) mengungkapkan bahwa gangguan defisit perawatan diri yang terjadi pada lansia di PTSW Budi Mulya 03 disebabkan karena kurangnya motivasi lansia dalam melakukan perawatan diri. c. Mobilisasi Pengkajian yang dilakukan di ruangan anggrek oma atas menunjukkan bahwa lansia yang memiliki mobilisasi tidak baik yaitu sebanyak 8 orang lansia (32%) sedangkan yang memiliki mobilisasi baik sebanyak 17 lansia (68 %). Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan Wahyudi N 2000 bahwa masalahmasalah fisik yang sering terjadi pada lansia dan dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan mobilisasi adalah mudah jatuh dan letih, sesak nafas waktu melakukan kerja fisik, dada berdebar-debar (palpitasi), pembengkakan kaki bagian bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri pada sendi pinggul, gangguan pada ketajaman penglihatan, keluhan pusing-pusing, keluhan perasaan dingin-dingin dan kesemutan pada anggota badan. Keluhan-keluhan tersebut merupakan manifestasi dari penyakit yang diderita oleh lansia

dan atau merupakan komplikasi dari suatu penyakit serta dampak dari proses penuaan sehingga menimbulkan ketidakmampuan lansia dalam bermobilisasi. Pernyataan ini juga sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Martin H. tahun 1995 bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu adalah individu tersebut sebagai aktor internal dan dorongan orang tua, saudara serta lingkungan sekitarnya sebagai faktor eksternal. Selain itu menurut Boedi D. tahun 2004, salah satu komponen dalam mobilisasi lansia adalah kemandirian yaitu rasa percaya diri lansia atas keamanan dalam melakukan mobilisasi yang dihubungkan dengan ketidaktergantungan lansia dalam bermobilisasi. Kemandirian seorang lansia tersebut akan menimbulkan keberanian lansia dalam mobilisasi. d. Pendengaran Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat 9 lansia (42.9%) mengalami gangguan pendengaran Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis. Mhoon 2006 menggambarkan fenomena tersebut sebagai suatu penyakit bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progresif lambat terutama mempengaruhi nada tinggi dan dihubungkan dengan penuaan. Penyebabnya tidak diketahui tetapi berbagai faktor yang telah diteliti adalah: nutrisi, faktor genetika, suara gaduh/ribut, hipertensi, stress emosional, dan arteriosklerosis. Penurunan pendengaran terutama berupa sensorineural, tetapi juga dapat berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbikusis. Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik ( saraf pendengaran, batang otak, atau jalur kortikal pendengaran). Penyebab perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih mungkin berkaitan dengan perubahan pada tulang di dalam telinga tengah, dalam bagian koklear, atau di dalam tulang mastoid. e. Spiritual Dari hasil pengkajian di ruangan anggrek oma atas yang beragama dan selalu menjalankan sholat sebanyak 6 lansia ( 28.6 %), yang jarang melakukan ibadah sebanyak 9 lansia (42.9%) dan yang tidak pernah melakukan ibadah sebanyak 6 lansia (28.4%).

Perkembangan

spiritual

pada usia lanjut menurut Maslow, agama atau

kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya. Sedangkan menurut Murray dan Zeatner, lansia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Dan menurut Fowler perkembangan spiritual pada usia 70 tahun universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan. f. Pendengaran Hasil pengkajian di ruangan anggrek menunjukkan bahwa lansia yang memiliki pendengaran kurang atau tidak baik yaitu sebanyak 9 orang (42.9%), sedangkan yang memiliki pendengaran baik sebanyak 12 orang(57.1%). Mhoon (2006) menggambarkan fenomena tersebut sebagai suatu penyakit bilateral pada pendengaran yang berkembang secara progresif lambat terutama mempengaruhi nada tinggi dan dihubungkan dengan penuaan. Penyebabnya tidak diketahui tetapi berbagai faktor yang telah diteliti adalah : nutrisi, faktor genetika, suara gaduh/ribut, hipertensi, stress emosional, dan arteriosklerosis. Penurunan pendengaran terutama berupa sensorineural, tetapi juga dapat berupa komponen konduksi yang berkaitan dengan presbikusis. Penurunan pendengaran sensorineural terjadi saat telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik (saraf pendengaran, batang otak, atau jalur kortikal pendengaran). Penyebab perubahan konduksi tidak diketahui, tetapi masih mungkin berkaitan dengan perubahan pada tulang di dalam telinga tengah, dalam bagian koklear, atau di dalam tulang mastoid. g. Penglihatan Dari hasil pengkajian di ruangan anggrek, Oma atas yang memiliki penglihatan kurang atau tidak baik yaitu sebanyak 9 orang (42.9%), sedangkan yang memiliki penglihatan baik sebanyak 12 orang (57.1%). Penurunan penglihatan Menurut Stanley 2006 pada awalnya dimulai dengan terjadinya awitan presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif. Perubahan kemampuan akomodatif ini pada umumnya dimulai pada dekade keempat kehidupan, ketika seseorang

memiliki masalah dalam membaca huruf-huruf yang kecil. Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah dan lebih kendur, dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan pada (penglihatan jarak dekat). Kondisi ini dapat dikoreksi dengan lensa seperti kacamata jauh dekat (bifokal). Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena sfinkter pupil mengalami sklerosis. Miosis pupil ini dapat mempersempit lapang pandang seseorang dan mempengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu tetapi tampaknya tidak benar-benar mengganggu kehidupan sehari-hari. Perubahan warna (misalnya menguning) dan meningkatnya kekeruhan lensa kristal yang terdiri dari waktu ke waktu dapat menimbulkan katarak. Katarak menimbulkan berbagai tanda dan gejala penuaan yang mengganggu penglihatan dan aktivitas setiap hari. penglihatan yang kabur dan seperti terdapat suatu selaput di atas mata adalah suatu gejala umum yang mengakibatan kesukaran dalam memfokuskan penglihatan dan membaca. Kesukaran ini dapat dikoreksi untuk sementara dengan penggunaan lensa. Selain itu lansia harus didorong untuk menggunakan lampu yang terang dan tidak menyilaukan. 3. Diagnosa yang muncul pada lansia di ruangan anggrek Nyeri akut pada kelompok lansia di ruang anggrek b.d peningkatan tekanan vaskular serebral. Intoleransi aktivitas pada kelompok lansia di ruang anggrek b.d penurunan cardiac output. Kurang Pengetahuan tentang hipertensi pada kelompok lansia di ruang anggrek b.d keterbatasan kognitif. 4. Hambatan pada saat pelaksanaan TAK: a. Kurangnya motivasi lansia untuk mengikuti TAK b. Kurangnya pengetahuan lansia terhadap informasi yang akan di sampaikan pada saat T AK , hanya beberapa lansia yang memahami informasi yang didapatkan pada saat TAK c. Kurangnya kesadaran lansia dalam mengikuti kegiatan TAK

d. Terdapat lansia yang tidak menikuti instruksi saat TAK e.