You are on page 1of 10

Abu Bakar As Siddiq Sabtu, 19 Desember 2009 22:54 Abu Bakar As Siddiq ayah dari Aisyah istri Nabi

Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Rasulullah Saw menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Abu Bakar As Siddiq atau Abdullah bin Abi Quhafah (Usman) bin Amir bin Amru bin Kaab bin Saad bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Luai bin Ghalib bin Fihr al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi saw kakeknya Murrah bin Kaab bin Luai, kakek yang keenam. Dan ibunya, Ummul-Khair, sebenarnya bernama Salma binti Sakhr bin Amir bin Kaab bin Saad bin Taim. Nabi Muhammad Saw juga memberinya gelar As Siddiq (artinya 'yang berkata benar'), sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar as-Siddiq. Abu Bakar As Siddiq tumbuh dan besar di Mekah dan tidak pernah keluar dari Mekah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Beliau memiliki harta kekayaan yang sangat banyak dan kepribadian yang sangat menarik, memiliki kebaikan yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Dughunnah, sesungguhnya engkau selalu menyambung tali kasih dan keluarga, bicaramu selalu benar, dan kau menanggung banyak kesulitan, kau bantu orang-orang yang menderita dan kau hormati tamu. An-Nawawi berkata: Abu Bakar As Siddiq termasuk tokoh Quraisy dimasa Jahiliyah, orang yang selalu dimintai nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai dikalangan mereka, sangat mengetahui kode etik dikalangan mereka. Tatkala, Islam datang Abu Bakar As Siddiq mengedepankan Islam atas yang lain, dan beliau masuk Islam dengan sempurna. Zubair bin Bakkar bin Ibnu Asakir meriwayatkan dari Maruf bin Kharbudz dia berkata: Sesungguhnya Abu Bakar As Siddiq adalah salah satu dari 10 orang Quraisy yang kejayaannya dimasa Jahiliyah bersambung hingga zaman Islam. Abu Bakar As Siddiq mendapat tugas untuk melaksanakan diyat (tebusan atas darah kematian) dan penarikan hutang. Ini terjadi karena orang-orang Quraisy tidak memiliki raja dimana mereka bisa mengembalikan semua perkara itu kepada raja. Pada setiap kabilah dikalangan Quraisy saat itu, ada satu kekuasaan umum yang memiliki kepala suku dan kabilah sendiri.

Istri-istri dan anak Abu Bakar.


Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abdul Uzza bin Abd bin Asad pada masa jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma. Beliau juga menikah dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan Aisyah. Beliau juga menikah dengan Asma binti Umais bin maadd bin Taim al-Khattsamiyyah, dan sebelumnya Asma diperistri oleh Jafar bin Abi Thalib. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah

bin Abu Bakar, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji Wada di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikah dengan Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj. Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh hingga Rasullullah saw wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Khultsum.

Orang yang paling bersih di masa Jahilliyah


Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Aisyah, dia berkata: demi Allah, Abu Bakar As Siddiq tidak pernah melantunkan satu syairpun di masa Jahiliyah dan tidak pula dimasa Islam. Abu Bakar As Siddiq dan Utsman bin Affan tidak pernah minum minuman keras di zaman Jahiliyah.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, dia berkata, Abu Bakar As Siddiq sama sekali tidak pernah mengucapkan syair. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Al-Aliyyah Ar-rayahi, dia berkata: Dikatakan kepada Abu Bakar As Siddiq ditengah sekumpulan sahabat Rasulullah: Apakah kamu pernah meminum minuman keras di zaman Jahiliyah? Beliau berkata, Saya berlindung kepada Allah dari perbuatan itu!

Sifat Abu Bakar As Siddiq


Ibnu Saad meriwayatkan dari Aisyah bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: Coba sebutkan kepada saya gambaran tentang Abu Bakar As Siddiq! Kata Aisyah: dia adalah lakilaki kulit putih, kurus, tidak terlalu lebar bentuk tubuhnya,sedikit bungkuk, tidak bisa untuk menahan pakaiannya turun dari pinggangnya, tulang-tulang wajahnya menonjol, dan pangkal jemarinya datar. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Abu Bakar As Siddiq mewarnai rambutnya dengan 'daun pacar' dan katam (nama jenis tumbuhan). Dia juga meriwayatkan dari Anas, dia berkata, Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak ada salah seorang dari para sahabatnya yang beruban kecuali Abu Bakar As Siddiq, maka dia menyemirnya dengan daun pacar dan katam. Abu Bakar As Siddiq dilahirkan di Mekah dari keturunan Bani Tamim ( Attamimi ), suku bangsa Quraisy. Berdasarkan beberapa sejarawan Islam, ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa

menafsirkan mimpi.

Era bersama Nabi saw


Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakar As Siddiq membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan. Sehingga diriwayatkan bahwa Abu Bakar As Siddiq memiliki 9 toko yang semuanya habis dibuat untuk tegaknya agama islam. Beberapa budak yang ia bebaskan antara lain : Bilal bin Rabbah Abu Fakih Ammar Abu Fuhaira Lubainah An Nahdiah Ummu Ubays Zinnira

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar As Siddiq adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar As Siddiq juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Menjadi Khalifah
Selama masa sakit Rasulullah SAW saat menjelang ajalnya, dikatakan bahwa Abu Bakar As Siddiq ditunjuk untuk menjadi imam shalat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar As Siddiq akan menggantikan posisinya. Segera setelah kematiannya (632), dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar As Siddiq sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam. Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Abu Bakar As Siddiq sebagai khalifah adalah subyek yang sangat kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, dimana umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Di satu sisi kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad), yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah SAW sendiri sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah SAW menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum sunni berargumen bahwa Rasulullah

mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin. Sementara muslim syi'ah berpendapat kalau Rasulullah saw dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dll, tidak pernah meninggalkan umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir, dan juga banyak hadits di Sunni maupun Syi'ah tentang siapa khalifah sepeninggal Rasulullah saw, serta jumlah pemimpin islam yang dua belas. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum tersebut, Ali bin Abu Thalib sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai'at) kepada Abu Bakar As Siddiq dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan). Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali bin Abu Thalib menjadi pendukung setia Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khattab. Sementara kaum syi'ah menggambarkan bahwa Ali bin Abu Thalib melakukan baiat tersebut secara "pro forma," mengingat beliau berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istri beliau yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.

Perang Ridda
Segera setelah menjabat Abu Bakar As Siddiq, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi "Ibnu Habib al-Hanafi" yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

Al Quran
Abu Bakar As Siddiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Quran. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur'an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar As Siddiq lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur'an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur'an hingga yang dikenal hingga saat ini. Abu Bakar As Siddiq meninggal pada tanggal 23 Agustus 634/ 8 Jumadil Awwal 13 H di Madinah pada usia 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar

mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Huraikan pembaharuan-pembaharuan dalam sistem pentadbiran Islam pada zaman Umar Al-Khattab. Pendahuluan : 1. Latar belakang saidina Umar Al-Khattab-Khalifah ke-2 zaman khulafa Al-Rashidin 2. terkenal seorang yang berani, warak, dan mempunyai siasah politik yang baik. Dikenali sebagai Al-Farouk/Amir al-Mukminin .Sahabat baik Nabi Muhammad s.a.w. 3. Memerintah selama 10 tahun dari 13- 23H. 4. Perlantikan sebagai khalifah telah dicalonkan oleh Abu Bakar dan dipersetujui oleh umat Islam. 5. Melakukan banyak pembaharuan dalam pentadbiran Islam dan perluasan wilayah Islam serta mengembangkan dakwah Islamiah. 6. Zamannya berlaku kegemilangan Islam ( dalam bidang politik, ekonomi , sosial dan Agama ) 7. Meninggal dunia pada 23H. Isi : Pembaharuan Yang Dilakukan Oleh Khalifah Umar Al-Khattab : Sistem Syura :

Majlis syura berperanan sebagai tempat perbincangan masalah yang berhubung dengan politik, ekonomi, social dan kebajikan serta masalah dalaman/ luar Negara. Keputusan diambil atas persetujuan sebulat suara ahli majlis syura yang terdiri daripada para sahabat. Membahagikan majlis syura kepada 2 jenis, iaitu Majlis Syura Tinggi dan Majlis Syura Am. Bagi hal-hal yang kurang penting khalifah Umar mengadakan perbincangan di Masjid.

Perluasan Wilayah Islam :


Islam berkembang melalui proses penaklukan / perluasan kuasa. Kawasan pengaruh Islam meliputi Hijaz, Syria, Iran, Iraq, Mesir, Palestin. Bagi memudahkan pengawasan, pentadbiran wilayah diperkenalkan dan dilengkapi dengan pusat pemerintahan. Contoh, Mekah, Damsyik, dan Kufah. Kota Madinah dijadikan pusat pemerintahan keseluruhan wilayah Islam

Perlantikan Pegawai Wilayah :


Memperkenalkan jawatan Wali/ Gabenor sebagai ketua pemerintah peringkat wilayah dan bertindak sebagai panglima tentera. Melantik Sahib Bait-Al-Mal yang bertanggung jawab atas perbendaharaan wilayah. Sahib Al-Kharaj berperanan memungut hasil percukaian wilayah Islam. Ketua polis (Sahib Al-Ahdath) untuk mengawasi keamanan. Jawatan Kadi diwujudkan untuk melicinkan sistem kehakiman. Khalifah telah menentukan kriteria pemilihan pegawai yang layak memegang jawatan di wilayah. Surat pelantikan pegawai yang mengandungi garis panduan/ tanggungjawab yang wajib dipatuhi. Setiap Wali/ gabenor wilayah wajib memberikan laporan perkembangan di wilayah setiap tahun selepas musim haji. Rakyat diberi penerangan tentang tanggungjawab pegawai yang dilantik, dan berhak untuk membuat pengaduan kepada khalifah. Khalifah berhak melantik dan memecat pegawai yang tidak amanah/ tidak cekap melaksanakan tugas.

Pengurusan Tanah :

Setiap wilayah Islam diperkenalkan undang-undang pengurusan tanah tersendiri, Di Iraq tanah menjadi hak milik kerajaan contoh: Tanah yang asalnya dimiliki oleh pemerintahan Parsi. Tanah yang tiada waris. Tanah yang pemiliknya melarikan diri apabila kawasannya ditakluk oleh tentera Islam. Hasil pungutan tanah digunakan oleh pemerintah Islam untuk membangunkan wilayah masing-masing. Undang-undanh pengurusan tanah di Syria dan Mesir memperuntukkan tanah yang dimiliki oleh golongan bangsawan dan pemerintah Rom diserahkan kepada petani. Tentera Islam dan orang Islam tidak dibenarkan mengambil tanah di wilayah Islam ini kecuali jika dibeli untuk melindungi kebajikan penduduk asal wilayah Islam yang baru ditakluki.

Sistem Percukaian Tanah Dan Tanaman :


Memperkenalkan sistem percukaian tanah berdasarkan jenis tanaman. Contoh: Gandum dikenakan cukai= 2 dirham, Barli=1dirham, Anggur =10 dirham. Tanah yang subur dikenakan cukai yang lebih tinggi berbanding dengan tanah yang kurang subur

Memajukan Sektor Pertanian :


Memperkenalkan peraturan yang membenarkan rakyat memiliki tanah sekiranya mereka meneroka tanah baru untuk tujuan pertanian. Tanah yang dibiarkan tanpa diusahakan dalam tempoh 3 tahun akan menjadi milik kerajaan semula. Bagi menggalakkan pertanian sistem pengairan dan terusan telah dibina dikenali terusan Amirul-Mukminin di Mesir dan empangan Abu Musa.

Struktur Pentadbiran Ketenteraan :


Memperkenalkan pasukan tentera tetap dan sukarela. Pasukan tentera tetap dibayar gaji- Mereka tidak dibenarkan melibatkan diri dalam kegiatan sampingan seperti bertani bagi mengelakkan gangguan tumpuan terhadap tugas. Tentera tetap diberi latihan intensif. Contoh-Berjalan tanpa pengalas kaki, menunggang kuda dan memanah. Setiap tentera direkodkan nama dan nombor pendaftaran. Pusat ketenteraan ditubuhkan, di Bandar-bandar utama seperti Madinah, Kufah, Basrah, Fustat dan Hims. Membina kubu-kubu pertahananan sebagai langkah berjaga-jaga.

Kehakiman :

Menetapkan syarat-syarat perlantikan kadi atau hakim yang ketat. Seperti berilmu, berperibadi tinggi, dikenali oleh masyarakat. Jabatan kehakiman ditubuhkan dan dipisahkan dari Jabatan lain untuk menjamin keadilan. Prinsip kehakiman berlandaskan syariat Islam. Gaji Kadi/ hakim dibayar tinggi (500 dirham sebulan) untuk mengelakkan berlaku tidak adil. Kadi/ hakim tidak digalakkan untuk terdedah kepada umum seperti di pasar atau tempat tumpuan ramai bagi menjamin keadilan perundangan.

Kesimpulan :

Pelaksanaan dan kejayaan dalam pentadbiran yang telah diperkenalkan oleh khalifah Umar berkaitan dengan asas yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Khalifah Umar telah memperkenalkan sistem pemerintahan Islam secara meluas disamping membentuk empayar Islam.

Golongan Al-Riddah
Gerakan Ar-Riddah : Pendahuluan :

Golongan Ar-Riddah ialah golongan yang terlibat di dalam gerakan anti-kerajaan Islam. Golongan Ar-Riddah terdiri daripada golongan yang mengaku sebagai nabi, golongan yang murtad dan g0l0ngan yang tidak mahu membayar zakat. Golongan ini muncul selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w. dan ketika Abu Bakar as-Siddiq menjawat jawatan khalifah Ar- Rashidin yang pertama. Gerakan Ar-Riddah ini telah muncul di sebahagian besar di Tanah Arab kecuali di Makkah, Madinah dan Taif.

Isi :

Golongan-golongan Ar-Riddah : 1. Golongan Nabi-nabi Palsu :

Tulaihah al-Khuwailid ( Bani Asad di Najed / Tengah Arab ) Ajarannya :


Menghapuskan amalan sujud dalam setiap sembahyang. Menurutnya wajah yang dicipta Tuhan bukanlah untuk dihina sebanyak lima kali. menghapuskan amalan zakat. Beliau pergi ke Madinah bersemuka dengan Khalifah Abu Bakar menuntut supaya mengakui kenabiannya, tetapi gagal.

Al-Aswad al- Ansi ( dari Yaman )


Nama sebenarnya Ailat b. Kaab b. Auff al- Ansi ( dari Bani Mazhaj ) Digelar aswad kerana kulitnya gelap dan gemar memakai purdah. o Berkebolehan dalam ilmu hitam dan sihir. Mempunyai pengikut seramai 700 orang-berjaya menguasai kota Sana daripada pemerintahan Islam

Ajarannya :

Membebaskan pengikutnya dari kewajipan sembahyang dan zakat. Menghalalkan penzinaan. ( ajarannya cepat popular )

Sajjah bt. al-Harith b. Suwaid b. Aqfan ( Bani Tamim di Yamamah ) Ajarannya :

Mengakui sebagai nabi wanita.

Musailamah al- Khazzab ( Bani Hanipah di Yamamah )


Mula aktif sejak zaman Nabi Muhammad s.a.w. Mempunyai kekuatan tentera seramai 40,000 orang. Semakin kuat setelah bergabung dengan pengikut-pengikut Sajjah al- Harith. Golongan Murtad :

2.

Golongan yang terus keluar daripada Islam. Banyak terdapat di Bahrain, Oman, Hadramaut, Mahrah, dan Yaman. Mereka menyokong nabi palsu untuk menentang kerajaan Islam Golongan Yang Enggan Membayar Zakat :

3.

Muncul di Yaman, Yamamah, dan Oman. Dipelopori oleh Malek bin Nuwairah.

Juga menyokong nabi palsu yang bernama Sajjah al- Harith. Termasuk kaum Absy dan kaum Zubayn di luar kota Madinah yang mengaku patuh keepada Islam tetapi enggan membayar zakat.

Sebab-sebab Berlakunya Gerakan Ar-Riddah : 1. Keimanan yang Lemah :

Penyebaran Islam secara meluas berlaku pada 6 H dan ketika penaklukan Makkah pada 8 H. Nabi Muhammad pula wafat pada 10 H . Kebanyyakan masyarakat Arab yang baru memeluk Islam masih lagi belum memahami ajaran Islam secara mendalam terutama yang tinggal jauh dari Hijaz. Mereka ini mudah keluar daripada Islam. Ada yang masih menanggap ajaran Islam mengongkong mereka daripada keseronokkan kehidupan jahilliyah. Kewafatan Nabi memberi kesempatan mereka terus keluar daripasa Islam secara terang-terangan. 2. Kepentingan Tertentu :

Golongan ini memeluk Islam kerana inginkan harta-harta rampasan, sanjungan dan kedudukan serta ingin menghindarkan diri dari serangan tentera Islam. 3. Semangat Assabiah :

Masih mempunyai semangat assabiah yang mendalam terhadap kabilah masingmasing.Walaupun telah diperangi oleh Nabi tetapi mereka kembali ke amalan assabiah yanh menjadi tradisi hidup selepas Nabi wafat. 4. Golongan Nasrani dan Yahudi.

Golongan ini merupakan punca yang menyebabkan berlaku kejadian murtad di kalangan umat Islam. Kedua-duanya sentiasa menjalankan propaganda dan dakyah untuk menyesatkan umat Islam daripada ajaran sebenar. 5. Keinginan Menjadi Nabi.

Terdapat juga orang Arab yang ingin menjadi nabi daripada kaum mereka sendiri dan tidak mahu mengikut nabi orang Quraisy. Nabi-nabi palsu muncul kerana golongan ini ingin menjadi nabi kerana terpengaruh dengan kejayaan Nabi Muhammad S.A.W seperti menguasai masyarakat Arab, mempunyai ramai pengikut yang berjuang bermatian-matian untuknya dan berjaya menyatupadukan Arab dari pelbagai suku. Sokongan kepada nabi-nabi palsu disebabkan permusuhan mereka terhadap kaum Quraisy yang terkenal sebagai kabilah yang mulia di Tanah Arab. 6. Salah mentafsir ayat al-Quran tentang zakat.

Golongan ini mengaku masih menganut Islam tetapi tidak mahu membayar zakat kerana menyalah tafsirkan ayat al-Quran ( Surah at-Taubah ayat 103. ) Menurut golongan ini tujuan utama membayar zakat untuk membersihkan dan menghapuskan kesalahan yang pernah mereka lakukan. Apabila nabi wafat mereka beranggapan tugas membayar zakat telah berakhir kerana hanya Nabi Muhammad sahaja yang layak

melaksanakan proses membersihkan kesalahan dosa mereka. Pada mereka semasa Abu Bakar ia bukanlah nabi dan tidak layak memingkul tugas tersebut. Golongan ini tidak ikhlas dalam usaha membayar zakat kerana menggangap zakat sebagai suatu ufti yang dikutip oleh Nabi Muhammad semasa hayatnya.Selepas Nabi wafat, mereka tidak perlu membayar zakat. Langkah Abu Bakar Al-Siddiq Mengatasi Gerakan Ar- Riddah :

Mengadakan mesyuarat dalam Majlis Syura. Para sahabat kurang setuju dengan keputusan memerangi golongan ar-riddah menurut mereka golongan ini harus diberi peluang untuk pulang ke pangkal jalan kerana masih ada yang bersembahyang walaupun enggan membayar zakat. Khalifah Abu Bakar tetap berkeras memerangi seluruh golongan ar-riddah walau pun secara bersendirian. Pasukan-pasukan tentera dihantar ke Ghassan Pemimpin Usama bin Zaid, berjaya menumpaskan golongan ini. Membentuk 11 pasukan tentera diketuai oleh panglima-panglima Islam antaranya Khalid bin Walid menumpaskan Tulaihah al-Khuwalid, Ikrimah bin Abu Jahal menumpaskan Musailamah al Khazzab, Amru al-As menumpaskan suku Qudhaah dan suku Wadiah, Al-Muhajir bin Abi Umaiyyah menumpaskan Aswad al-Ansi di Yaman. Setiap pasukan tentera ini dibekalkan alMansyurat ( Pengumuman kepada ketuaketua golongan ar-riddah supaya mereka pulang ke pangkal jalan, sekiranya mereka enggan barulah mereka diperangi.) Setiap pasukan tenteranya Abu Bakar menyerahkan al-Adhu ( Surat janji ) kepada panglima sebagai amanat dalam displin ketenteraan.