You are on page 1of 3

ABSTRAK Anak merupakan salah satu ahli waris yang berhak menerima warisan dari orang tuanya, bahkan

ia adalah ahli waris yang paling dekat dengan pewaris. Yang didasarkan pada hubungan nasab.Dalam kenyataannya ada anak-anak yang diingkari oleh orangtuanya, terutama dalam hal ini adalah ayahnya, melalui sumpah lian yang dijatuhkan kepada istrinya, dan menganggap anak tersebut sebagai anak hasil zina antara istrinya dengan lelaki lain di luar perkawinan yang sah (anak luar nikah). Putusan Pengadilan Agama Nomor 1595/Pdt.G/2010/PA Sidoarjo telah memutus perkara tentang perceraian sekaligus pengingkaran anak yang dilahirkan oleh istrinya dalam suatu ikatan perkawinan yang sah yang berarti akan merusak hubungan nasab antara anak dengan ayahnya berdampak pula terhadap hak warisnya. Sementara itu, mengenai kedudukan nasab dan waris anak lian (sebagai anak luar nikah) baru-baru ini mengalami polemik dengan keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang berseberangan dengan ketentuan hukum Islam, disusul pula lahirnya produk hukum Islam berupa Fatwa MUI nomor 11 Tahun 2012. Sehingga dalam penelitian ini membahas mengenai mengapa lian dapat mencegah hak waris anak dari ayah biologisnya, bagaimana hubungan kenasaban dan kewarisan bagi anak lian dalam perspektif hukum Islam pada Putusan Pengadilan Agama perkara Nomor 1595/PDT. G/2010/PA Sidoarjo yang dikaitkan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUU-VIII/2010 dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya, dan mengapa dalam Putusan Pengadilan Agama Nomor 1595/Pdt.G/2010/PA Sidoarjo dapat dilakukan sumpah lian terhadap anak luar kawin yang lahir dalam perkawinan yang sah. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yang dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan peraturan perundang-undangan dan putusanputusan pengadilan. Pengumpulan data dilakukan melalui penelitian kepustakaan (library research) yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tertier. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa alasan lian dapat mencegah hak waris anak dari ayah biologisnya ialah bahwaanak yang dinafikan hanya dihubungkan dengan ibu yang melahirkannya dan tidak dapat dinisbahkan dengan ayah dan keluarga ayahnya, termasuk tidak berhak atas hak waris dari ayah biologisnya. Hubungan kenasaban dan kewarisan anak lian dalam perspektif Hukum Islam yang dikaitkan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUU-VIII/2010 serta Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya, anak lian yang ditetapkan sebagai anak luar kawin tidak lagi dapat dinisbahkan kepada ayah dan keluarga ayahnya, sehingga tertutup pula baginya hak waris dari ayah yang meliannya. Anak tersebut dikembalikan nasabnya kepada ibu dan keluarga ibunya saja. Jika memang ternyata dapat dibuktikan melalui tes uji DNA bahwa anak yang dilian tersebut adalah benar anak dari ayah yang telah mengingkari/menafikannya, maka dapat dikenakan hukuman (hukuman tazir) sebagai bentuk i

Universitas Sumatera Utara

pertanggungjawaban dan perlindungan bagi anak yang telah diingkari/dinafikannya melalui lian. Dapat dilakukan sumpah lian terhadap anak yang di luar perkawinanberdasarkan pengertian lian yang dapat digunakan untuk tidak mengakui bahwa anak itu sebagai keturunannya maka pengadilan memberikan izin kepada Pemohon (suami) untuk mengucapkan sumpah lian dihadapan persidangan pada perkara tersebut untuk menyangkal dan mengingkari anak yang dikandung Termohon sebagai darah daging Pemohon, bukan untuk membuktikan adanya perzinahan yang dilakukan oleh Termohon (istri) dalam perkawinan sah mereka.

Kata kunci : waris, lian, anak luar kawin.

ii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT A child is an heir who has the right to get inheritance from his parents, for he has the closest relation, based on nasab (lineage). In reality, some children are not recognized by their parents, especially by their fathers since they argue through lian oath upon their wives, accusing them of committing adultery and claim that the children are not his (illegitimate). The Religious Courts verdict No. 1595/Pdt.G/2010/PA Sidoarjo on Divorce denies a child born by the wife in the legitimate marriage which means that the nasab relationship between the child and his father is marred, and it gives the impact on his right on inheritance. Meanwhile, the position of nasab and lian oath of the childs inheritance (as an illegitimate child) has previously become the polemic by the ruling of the Constitutional Court No. 46/PUU-VIII/2010 which is contrary to the Islamic Law product and the advice of MUI No. 11/2012. Therefore, the research analyzes why lian can deny the childs right of inheritance from his biological father, how is the correlation between nasab and inheritance for a lian child in the perspective of the Islamic law on the ruling of the Religious Court No. 1595/Pdt.G/2010/PA Sidoarjo related to the ruling of the Constitutional Court No. 11/2012 on Illegitimate Child and the Treatment on Him, and why in the ruling of the Religious Court No. 1595/Pdt.G/2010/PA Sidoarjo a lian oath can be performed on an illegitimate child in a legal marriage. The research was judicial normative which was performed by using legal provisions and Courts verdicts. The data were gathered by performing library research which comprised primary, secondary, and tertiary legal materials. Based on the study, it could be concluded that the reason why lian can deny the childs right for inheritance from his biological father is that the child who is denied can only be related to his mother, cannot be related to his father and his fathers relatives, and does not the right to inherit from his biological father. The lineage and inheritance of a lian child in the perspective of the Islamic Law related to the ruling of the Constitutional Court No. 46/PUU-VIII/2010 and the advice of MUI No. 11/2012 on Illegitimate Child and the Treatment on Him, a lian child who is determined to be an illegitimate child cannot be related to his father and to his fathers relatives so that there is no loophole for him to obtain inheritance from his father who has denied him. The child is brought back his relation to his mother. If later on it is proved that he is his fathers biological child through DNA test, the father will be punished by tazir punishment in the form of responsibility and protection to the child who has been denied through lian. It can be performed by saying a lian oath on the illegitimate child, based on the meaning of lian which can be used to deny that the child is not his. In this case, the Court permits the Petitioner (husband) to say a lian oath before the Court to deny the child as his biological child, not to prove that the Petitionee (wife) has committed adultery. Keywords: Inheritance, Lian, Illegitimate Child

iii

Universitas Sumatera Utara