You are on page 1of 2

DINAS PERHUBUNGAN, INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI

KABUPATEN MANGGARAI BARAT


JL. Raymundus Rambu – Kecamatan Komodo Labuan Bajo.

Nomor : 550/517/VII/Dishubinfokom-2009 Kepada


Lampiran :- Yth. PEMRED Harian Kompas
Perihal : Klarifikasi di -
Jakarta

Mencermati pemberitaan harian Kompas yang dilansir pada Hari Rabu tanggal 15
Juli 2009 di Jakarta dengan Topik HENTIKAN PENAMBAGAN, untuk itu
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dapat menyampaikan klarifikasi sebagai
berikut :

1. Lokasi Pertambangan emas di Batu Gosok, yang sekarang berada dalam


tahap eksplorasi sangat jauh dari zona inti dan berada di luar Kawasan
Taman Nasional Komodo karena Taman Nasional Komodo itu berada di
Pulau Komodo. Sedangkan lokasi pertambangan emas berada di Pulau
Flores. Kami sangat menghargai dan menghormati pendapat dari Menteri
Kehutanan, karena pendapat yang dimuat pada Kompas Jumat 3 Juli 2009
sangat cerdas dan bermartabat baik profesi, konstitusi dan obyektivitas,
bahwa tidak ada tambang di Wilayah Taman Nasional Komodo. Hal
senada disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Drs. Tamen
Sitorus, M.Sc di Labuan melalui Surat Nomor S.1142/BTNK-1/2009, tanggal
9 Juli 2009, Perihal Klarifikasi pemberitaan Harian Kompas yang
ditujukan ke Dirjen PHKA Dephut, yang menyatakan bahwa, Lokasi
Penambangan bukan di dalam Taman Nasional Komodo dan bukan
merupakan habitat satwa Komodo.

2. Lokasi tersebut sangat gersang sebelum kegiatan pertambangan dilakukan


dan tidak berpenghuni. Kegiatan tersebut tidak ada kaitan dengan
kawasan Laut dan tidak bertentangan dengan kegiatan Pariwisata serta
tidak mengganggu lingkungan. Saat ini Pemerintah Kabupaten Manggarai
Barat telah melakukan semua proses pertambangan sesuai prosedural
undang-undang yang berlaku dan telah sesaui dengan Peraturan Daerah
Nomor 30 Tentang Tata Ruang; Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2005
tentang Kepariwisataan dan Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2005
tentang Penyelenggaraan Usaha Pertambangan di Kabupaten Manggarai
Barat.

3. Sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Sudirman, Kepala Pusat


Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali-Nusa Tenggara di Jakarta,
dalam Harian Kompas Edisi Tanggal 15 Juli 2009 sangat tidak
konstitusional dan tidak profesional karena Dalam Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup nomor 11 Tahun 2006 tentang jenis Rencana
Usaha dan Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup, Tidak termaktub kegiatan UPL/UKL, karena
AMDAL, UPL/UPKL itu dilaksanakan menjelang Eksploitasi bukan
menjelang Eksplorasi (bersifat temporer/sesaat). Pernyataan tersebut juga
tidak didahului oleh suatu Kajian Teknis Lingkungan Hidup namun
hanya mendengar penjelasan sepihak dari masyarakat yang anti tambang

4. Dari Hasil Pamantauan Tim dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup


ke Batu Gosok, akan merekomendasikan Penghentian Sementara Kegiatan
Tambang di Batu Gosok, hal tersebut sangat tidak konstitusional dan tidak
profesional, karena Bupati dan Menteri Pertambangan Energi dan Sumber
Daya Mineral saja yang mempunyai hak untuk memberhentikan kegiatan
pertambangan di Batu Gosok tersebut.
5. Kami juga menilai bahwa Pernyataan Saudara Sudirman tersebut
merupakan suatu upaya untuk menggagalkan Komodo sebagai salah satu
nominasi 7 Keajaiban Dunia.

6. Atas Penjelasan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi


Alam Departemen Kehutanan, Darorih, dalam Kompas 15 Juli 2009, sangat
tidak beralasan, karena Pembuangan Tailing atau Limbah Tambang itu
terjadi pada Tahap Eksploitasi bukan pada Tahap Eksplorasi. Dapat kami
sampaikan juga, bahwa Tekhnolgi China saat ini, Tailing atau Limbah
Tambang Tidak lagi dialirkan ke laut. Dengan demikian janganlah
berbicara tentang Pertambangan jika porsi kerjanya pada Bidang
Kehutanan, janganlah berbicara Pariwisata jika porsi kerjanya pada
Bidang Lingkungan Hidup, demikianpun sebaliknya.

Demikian klarifikasi yang dapat kami sampaikan, terima kasih.

Labuan Bajo, 15 Juli 2009