You are on page 1of 29

Partikel Diskrit

Vo
Vh
Vh
Partikel Flokulen
Vo
BAB III
PENGENDAPAN (SEDIMENTASI)
3.1 Umum
Sedimentasi merupakan proses pengendapan partikel-partikel zat padat dalam suatu
cairan sebagai akibat gaya gravitasi baik individu atau bersama-sama sehingga
menghasilkan cairan yang lebih jernih dan suspensi yang lebih kental.
Istilah lain yang sering digunakan adalah klarifikasi dan thickening. Klarifikasi lebih
meninjau pada cairan yang dijernihkan. Sedangkan thickening, mengutamakan proses
hasil sedimentasi berupa suspensi kentalnya.
Proses pemisahan partikel padat dari cairan dapat juga dilakukan dengan cara flotasi,
dimana padatannya diapungkan. Berdasarkan pada kepekatannya, suspensi terbagi atas
3 (tiga) :
1. Suspensi encer bila 500 ppm;
2. Suspensi intermediate bila antara 500 ppm - 10000 ppm;
3. Suspensi kental bila 10000 ppm.
Sedangkan partikel pembangun suspensi tersebut dibedakan atas 2 (dua) jenis:
- Partikel diskrit: yakni partikel yang mengendap sebagai partikel tunggal (tidak
bergabung) misalnya; butiran pasir, batu bata, dan lain-lain.
- Partikel flokulen: yakni partikel yang mengendap akibat berat yang dibentuk
dengan cara menggabungkan diri agar menjadi lebih besar/flok. Misalnya;
senyawa asam organik.
III-1
Gambar 3.1 Ilustrasi Lintasan Partikel Diskrit Dan Flokulen
Pengendapan partikel dalam air dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1. Ukuran partikel, semakin besar semakin cepat mengendap dan semakin banyak
yang terendapkan;
2. Bentuk partikel, bulat, pipih atau tak beraturan;
3. Berat jenis atau kerapatan massa partikel;
4. Berat jenis cairan;
5. Viskositas cairan;
6. Konsentrasi partikel dalam cairan;
7. Sifat partikel dalam suspensinya;
8. Temperatur.
Ukuran dan bentuk partikel akan mempengaruhi ratio permukaan terhadap volume
partikel. Sedangkan konsentrasi partikel mempengaruhi pemilihan tipe bak sedimentasi.
Temperatur mempengaruhi viskositas dan berat jenis cairan. Semua faktor yang
disebutkan diatas mempengaruhi kecepatan mengendap partikel pada bak sedimentasi.
Karena itu dibutuhkan satuan operasi dalam mendesain bak sedimentasi melalui
percobaan di laboratorium untuk mengetahui waktu loading, kecepatan mengendap,
konsentrasi partikel dan lain sebagainya agar penggunaan bak sedimentasi efektif dan
efisien.
4 (empat) tipe sedimentasi :
1. Klarifikasi golongan 1. Proses sedimentasi tanpa pembubuhan kimiawi karena
yang diharapkan mengendap adalah partikel diskrit. Proses ini biasa terjadi pada
Grit Chamber dan bak prasedimentasi;
2. Klarifikasi golongan 2. Partikel mengendap sebagai kumpulan yang dikatalis
oleh zat kimiawi tertentu, misalnya Aluminium Sulfat;
3. Zone Settling. Kepekatan yang tinggi suatu suspensi menghasilkan ikatan dan
struktur plastis partikel-partikel akibat adanya gaya kohesi antar partikel
tersebut;
4. Kompresi. Struktur plastis partikel-partikel yang berlapis semakin lama semakin
tebal sehingga lapisan dibagian bawah akan mengalami pemadatan dan lebih
pekat.
III-2
Gambar 3.2 Diagram Paragenesis
3.2 Klarifikasi Golongan 1
Klarifikasi golongan I merupakan pengendapan tak terhalang dari suatu partikel
diskrit pada suatu suspensi encer. Proses ini diterapkan untuk mengendapkan air
baku yang berasal dari air permukaan misalnya; sungai dan danau. Dan biasanya
pada unit grit chamber dan atau bak prasedimentasi.
Dengan tujuan untuk menurunkan kekeruhan air baku, mempermudah proses atau
tidak memperberat beban kerja unit sesudahnya dan mengurangi pemakaian bahan
kimia pada proses selanjutnya. Suspensi bersifat encer dan kecepatan
mengendapkan tergantung berat jenis (BJ) dan diameter partikel (D
p
)
Pada suatu partikel diskrit berdiameter Dp, memiliki massa m, didalam suatu cairan
akan bekerja gaya-gaya :
a. Gaya Luar (External Force)
Gaya yang timbul akibat massa dan percepatan gerak pengendapan partikel
F
E
=
e
e
g
a m.
................................................................................. (3.1)
Dimana :
III-3
F
B
F
D
F
R
F
E
F
E
= Gaya Luar, (lb force)
m = Massa Partikel, (lb mass)
a
e
= Percepatan gerak pengendapan partikel, (ft.sec
-1
)
g
c
= Faktor konversi hukum Newton, (32,17 ft.lb mass/ft. lb force)
b. Gaya Apung (Buoyant Force)
Gaya perlawanan yang diberikan cairan terhadap partikel yang mengendap yang
besarnya:
F
B
=
e
e
s
g
a m.

............................................................................ (3.2)
Dimana :
F
B
= Gaya Apung, (lb force)
= Densitas cairan, (lb mass.ft
-3
)

s
= Densitas partikel, (lb mass.ft
-3
)
c. Gaya Friksi/gaya gesekan partikel (Frictional Force)
Gaya gesekan/tahanan yang besarnya tergantung pada tingkat kekasaran, ukuran,
proyeksi luas, bentuk dan kecepatan pengendapan partikel.
F
D
=
e
p D
g
v A C
. 2
. . .
2

.................................................................. (3.3)
Dimana :
F
D
= Gaya Friksi, (lb force)
C
D
= Coeffisient of drag
A
p
= Luas Proyeksi Partikel, (ft
2
)
V = Kecepatan linier partikel (ft.sec
-1
)
Sedangkan partikel akan mengalami kecepatan pengendapan terminalnya adalah
pada saat :
Gambar 3.3 Ilutrasi Gaya-Gaya yang Bekerja pada Partikel dalam Cairan
F
R
= F
E
F
B
F
D
.......................................................................... (3.4)
III-4
Maka :
dt g
dv m
e
.
.
=
e
e
g
a m
.
.
-
e s
e
g
a m
.
. . .

-
e
p D
g
v A C
. 2
. . .
2
.................................... (3.5)
dt
dv
=
s
e
a

.
s

-
m
v A C
p D
. 2
. . .
2
.............................................. (3.6)
Asumsi: partikel berbentuk bola/spherical, dan a
e
= g

m
A
p
=
6 / ) . . (
)/4 . (
3
s
2
p
p
D
D

=
p s
D . 2
3
................................................... (3.7)
Sehingga persamaan 3.6 menjadi :

dt
dv
=
s
g

.
s

-
p s
D
D
v C
. . 4
. . . 3
2

............................................... (3.8)
Pada saat kecepatan konstan, maka dv/dt = 0
v
t
= v =
5 , 0 s
] )

.
(
3
4
[
p
D
D
C
g
........................................................ (3.9)
Dimana: v
t
= kecepatan pengendapan terminal (terminal settling velocity)
Koefisien tahanan partikel (C
D
) merupakan fungsi dari Bilangan Reynold (N
RE
)
untuk mengetahui hubungan keduanya dan bentuk geometri partikel, berikut ini
ditampilkan Grafiknya.
s

= densitas partikel,

= densitas air
III-5
Gambar 3.4 Grafik Hubungan C
D
, N
RE
dan Bentuk Geometrik Partikel
Kaitan antara Bilangan Reynold (N
RE
) dengan kecepatan terminal dan diameter
partikel :
N
RE
=
.
.
p t
D v
=

. .
p t
D v
.............................................................. (3.10)
Dimana :
= Viskositas kinetik


= Viskositas Dinamik
Dan hubungan antara N
RE
dan C
D
:
C
D
=
n
RE
N
b
...................................................................................... (3.11)
Dari grafik dapat dilihat bahwa sifat aliranpun akan berpengaruh dalam proses
pengendapan (sedimentasi). Berikut ditampilkan perbedaan masing-masingnya.
Tabel 3.1 Hubungan N
RE
dan C
D
.
JENIS
ALIRAN
N
RE
b n FORMULA
Laminer < 1,9 24 1
C
D
=
RE
N
24
Transisi 1,9 500 18,5 0.5
C
D
=
RE
N
24
+
RE
N
3
+0,34
Turbulen 500 200.000 0.44 0 C
D
= 0.44
Pada aliran laminer, merupakan daerah berlakunya Hukum Stokes, dimana bentuk
pusaran aliran disekeliling partikel (asumsi : bulat) akan membentuk lapisan batas
yang mirip dengan bentuk permukaan partikel sehingga diistilahkan dengan skin
friction. Sehingga bila formulasi C
D
diatas kita substitusikan pada persamaan 3.9,
kecepatan pengendapan partikel akan menjadi :
v
t
= v =
2
) (
. 18
p s
D
g


............................................................... (3.12)
Pada proses sedimentasi sifat aliran diharapkan berupa aliran laminer.
III-6
Berikut ini ditampilkan grafik yang menggambarkan hubungan kecepatan
pengendapan (V
t
), diameter partikel (D
P
), spesifik gravitasi (s) dan temperatur
cairan (T) pada = 10
0
C pada gambar 3.5:
atau dengan menggunakan persamaan umum menurut Hazen :
D = 0,0027 F x (60/(T + 100))..............................................................(3.13)
Dimana :
D = diameter partikel dengan massa jenis 2,65 dengan 75% pengendapan
dan temperatur 10
0
C
F = 1,73 untuk bak dengan inlet dan outlet terpisah
F = 1,41 untuk dua bak yang disusun secara seri
F = 1,22 untuk bak dengan sekat-sekat
F = 1,00 batas teoritis
Untuk temperatur lain :
D = 0,0389 [v{60/(T + 10)}]
0,5
.............................................................(3.14)

Gambar 3.5 Grafik Hubungan Kecepatan Pengendapan, Diameter partikel,
Spesifik Gravitasi dan Temperatur Cairan
Contoh soal:
Tentukan kecepatan mengendap dan ukuran partikel yang mempunyai spesifik
graviti, S
s
,= 1,001, efisiensi bak pengendap, , 80 % dan performance bak
III-7
pengendap, n, very good settling dengan overflow rate (Q/A) = 1000 gpd/ft
3
, jika
temperatur air 10
0
C (50
0
F)
Penyelesaian:
Q/A = 1000 gpd/ft
3
x 30,625 cm/ft /(86400 dt/hari x 7,4 gal/ft
3
)
= 4,77 x 10
-2
cm/dt
Dari grafik 3.5, dengan = 80 % dan n very good settling diperoleh :
V
to
/V
td
= 1,8
V
to
/(Q/A) = V
to
/4,77 x 10
-2
cm/dt = 1,8
V
to
= 8,5 x 10
-2
cm/dt
Komposisi Berdasarkan Ukuran dan Berat
Gambar 3.6 Skema Effisiensi Klarifikasi
Besarnya efisiensi suatu proses pengendapan pada bak sedimentasi secara umum
dinyatakan dengan:
% 100 .. x
C
C C
in
eff in

..........................................................................(3.15)
Dalam tinjauan partikel yang mengendap ada 2 pengertian yang berbeda, dimana:
1. Partikel yang tertinggal (remaining particle), maksudnya adalah partikel yang
tertinggal dalam air hasil olahan sedimentasi dan terbawa ke dalam proses/unit
selanjutnya.
2. Partikel yang terendapkan, terpisahkan atau terambil (removal), adalah partikel
tertinggal pada bak sedimentasi.
Pada proses sedimentasi, effisiensi 100% tidak mungkin terjadi karena ukuran
butiran partikel tidak seragam. Partikel dengan ukuran lebih besar cendrung lebih
III-8
Bak sedimentasi
C
outlet
C
eff
C
inlet
C
in
cepat mengendap dibandingkan dengan partikel yang lebih kecil. Berikut ini
ilustrasi beda tinggi pengendapan akibat kecepatan pengendapan yang berbeda pada
tiap ukuran partikel:
Gambar 3.7 Ilustrasi Beda Tinggi Pengendapan akibat Kecepatan yang Berbeda
Pada keadaan butiran seragam pengendapan akan efisien (terendap 100%). Namun
hal tersebut tidak mungkin terjadi karena butiran partikel tidak seragam.
Bila pada waktu t tersebut dengan ketinggian pengendapan Z, semua partikel sama
atau lebih besar dari P
1
terambil 100% dan sebagian partikel yang lebih kecil dari P
1
yang seharusnya tidak terambil, kenyataannya ikut terambil. Bahwa kecepatan
merupakan fungsi dari jarak per waktu tempuh, V
t
=
t
Z
, sehingga pada waktu sama
dengan t, seluruh partikel berukuran P
1
akan terendapkan semua, sebagian besar P
2
terendapkan dan juga sebagian kecil P
3
. Maka untuk mengetahui ukuran partikel
yang efektif mengendap 100 % pada proses sedimentasi yang akan didesain, untuk
selanjutnya akan dijadikan acuan sebagai partikel paling kecil yang mencapai
terminal settling velocity (V
t
). Laju pengendapan (Clarifier Rate) adalah besarnya
kecepatan pengendapan partikel pada satuan luas permukaan (surface loading) bak
sedimentasi.
Q =
A
t
Z
=
A v
t
.
.............................................................................(3.16)
Dimana: Q/A = Surface Loading = terminal velocity = clarifier rate
III-9
Q = laju pengendapan (Clarifier Rate) (ft
3
/sec)
A = luas permukaan bak sedimentasi (ft
3
)
Z = tinggi pengendapan (ft)
t = waktu pengendapan (sec)
Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya, bahwa keadaan partikel seragam
baik berat jenis maupun bentuknya tidaklah mungkin ada dalam air baku. Namun
dengan asumsi kecepatan pengendapan partikel diskrit ini adalah seragam, maka
konsentrasi partikel pada ketinggian yang berbeda akan mengikuti persamaan
berikut:
X
i
=
0
i
Z
Z
=
t0
ti

..................................................................................(3.17)
Gambar 3.8 Ilustrasi Beda Tinggi Pengendapan Partikel
Sehingga melalui penelitian laboratorium pada test batch, dilakukan analisis
persentase pengendapan dengan memasukkan sampel air ke dalam kolom batch
(gambar 3.5) yang pada ketinggian tertentu (Z
N
) diberi bukaan. Pada waktu tertentu
III-10
(t), dilakukan pengambilan air sampel pada masing-masing bukaan tersebut secara
serentak. Kemudian dianalisis konsentrasi partikelnya. Lakukan pada beberapa
waktu sampel yang berbeda. Maka hasil penelitian akan mengikuti bentuk kurva
berikut :
Gambar 3.9 Ilustrasi Kurva Konsentrasi Pengendapan Partikel Pada Klarifikasi I
Besarnya konsentrasi batas (x
o
) ditentukan oleh kecepatan pengendapan terminal
(v
t0
). Pada kurva diatas, luas bagian terarsir adalah besarnya partikel yang terambil
(removal). Di dalam tangki aliran horizontal dengan v
to
= Q/A, maka fraksi (1 - x
o
)
dari partikel-partikel yang mempunyai v
s
> v
to
akan dipisahkan seluruhnya, karena
fraksi partikel golongan v
s
< v
to
yang akan dipisahkan adalah v
i
/v
to
, maka dari
partikel yang mempunyai v
s
< v
to
, bagian yang akan dipisahkan dapat ditentukan
dengan persamaan berikut ini:
(v
s
/ v
to
) dx = 1/ v
to
. v
s
dx .................................................................(3.18)
kemudian persamaan diintegralkan menjadi:
X
T
= (1- x
o
) +

xo
t
t
dx v
v
0
0
.
1
.............................................................(3.19)
Contoh soal :
Sebuah analisis pengendapan partikel nonflokulen yang didapat dari test batch
dengan kedalaman pengendapan 4 ft, didapat data sebagai terlihat pada baris 1 dan
III-11
2. Untuk laju klarifikasi rata-rata sebesar 0.08 ft
3
/sec/ft
2
, berapa besar fraksi partikel
yang terambil?
Penyelesaian:
Kecepatan masing-masing waktu pengendapan:
1 Waktu pengendapan (menit) 0.5 1.0 2.0 4.0 6.0 8.0
2 Besar fraksi penyisihan 0.56 0.48 0.37 0.10 0.05 0.02
3
Kecepatan pengendapan (v
t
),

x10
-2
ft/sec
13.3
3
6.70 3.33 1.67 1.11 0.83
v
t
= 4 ft / (0.5 min x 60 sec/min) = 13.33 ft/sec
Kecepatan terminal = v
to
= q
o
/A = 0.08 ft/sec
Grafik integrasi hubungan kecepatan pengendapan dan fraksi penyisihan:
Luas daerah dibawah kurva integrasi
dx v
t
v
t
. dx
0.04
0.04
0.08
0.08
0.08
0.08
0.06
0.040
0.83 x 10
-2
1.18 x 10
-2

1.40 x 10
-2
1.80 x 10
-2
2.35 x 10
-2
3.20 x 10
-2
4.70 x 10
-2
6.70 x 10
-2
0.33 x 10
-2
0.47 x 10
-2
1.12 x 10
-2
1.44 x 10
-2
1.88 x 10
-2
2.56 x 10
-2
2.82 x 10
-2
2.68 x 10
-2
v
t
. dx = 13.30 x 10
-2

67 . 0 17 . 0 5 . 0
10 8
10 3 . 13
) 5 . 0 1 (
3
3
+ +

x
x
X
T
3.3 Klarifikasi Golongan II
Klarifikasi golongan II ini ditujukan untuk mengendapkan partikel bersifat flokulen
dan untuk suspensi encer. klarifikasi tingkat II ini biasanya pada unit sedimentasi
dan tidak tergantung pada pengendapan asli, tetapi tergantung pada pembentukan
flok Sebelum proses sedimentasi terdapat unit koagulasi dan flokulasi. Yakni unit
pemberian senyawa kimia koagulan (biasanya aluminium sulfat, Al
2
(SO
4
)
3
) dan unit
pembentukan flok yang besarnya tidak menyebabkan pengendapan dini pada unit
flokulasi itu sendiri. Partikel yang besar akan menyusul partikel-partikel yang lebih
kecil dan akan mengadakan ikatan yang lebih besar dengan kecepatan yang lebih
III-12
besar dari kecepatan mula-mula dari masing-masing partikel. Maka pada klarifikasi
II ini tergantung pada kedalaman tangki, bedanya dengan klarifikasi I yang
tergantung pada kecepatan pengendapan. Namun masalahnya pada klarifikasi
tingkat II adalah waktu detensi (waktu proses pengendapan), jika terlalu lama
dikhawatirkan flok yang sudah terbentuk akan pecah lagi. Meskipun demikian
belum terdapat suatu perumusan yang baik untuk menilai efek flokulasi terhadap
sedimentasi, sehingga perlu dilakukan analisis kolom pengendapan (test batch)
untuk menentukan efek ini.
Test Batch Settling
Suatu suspensi sampling yang dibiarkan mengendap secara tenang kemudian
analisis pada beberapa kedalaman tertentu dan interval waktu tertentu. Konsetrasi
dalam tiap sampel ditentukan dan besarnya fraksi yang dipisahkan digambarkan
dalam suatu grafik.
Gambar 3.10 Grafik Ilustrasi Isokonsentrasi Klarifikasi Golongan II
Titik-titik dengan pemisahan yang sama dihubungkan dengan garis-garis
isokonsentrasi, yang merupakan perbandingan (Z/t), kecepatan mengendap rata-rata
minimum dari fraksi yang bersangkutan. Misal dengan t
2
sebagai waktu detensi
maka sebanyak X
D
dari partikel yang ada pada suspensi mempunyai kecepatan
mengendap rata-rata Z
2
/t
2
pada saat partikel tersebut mencapai kedalaman Z
2
. pada
III-13
saat tercapai kedalaman Z
4
maka fraksi yang sama mempunyai kecepatan
mengendap Z
4
/t
3
.overall removal di dalam tangki yang dalamnya Z
5
, dengan
klarifikasi q
0
:
A v A t Z q
to
. ). / (
2 5 0

........................................................................(3.20)
Dapat dihitung dengan rumusan :
X
T
= X
T
+ ((v.t)/( v.t
o
)).(X
D
X
C
) + ((v.t)/( v.t
o
)).(X
E
X
D
)
X
T
= X
T
+ (Z/Z
0
).(X
D
X
C
) + (Z /Z
0
).(X
E
X
D
)................................(3.21)
Sisanya (1-X
E
) merupakan bagian dari partikel yang mempunyai kecepatan
mengendap rata-rata sedemikian kecil sehingga dapat diabaikan.
Contoh soal:
Sebuah test batch pengolahan air buangan dengan SS 320 mg/l dan kecepatan
alirnya 2 MGD. Tinggi batch 10 ft dan diameternya 8 inch. Pada tabel 3.2 terlihat
data hasil pengukuran persentase penyisihan SS tersebut setiap 2 ft ketinggian:
Tabel 3.2 persentase penyisihan SS pada setiap titik pengukuran
Waktu
(min)
2 ft 4 ft 6 ft 8 ft 10 ft
0
10
20
30
45
60
90
0
28
48
68
70
85
88
0
18
39
50
56
66
82
0
18
25
34
53
59
73
0
12
27
31
41
53
62
0
a
a
a
a
a
a
Maka tentukanlah waktu detensi yang dibutuhkan untuk mendesain bak
pengendap akhir dengan tingkat penyisihan SS sebesar 65%.
Penyelesaian :
Plot data penyisihan di atas (tabel 3.2) ke dalam suatu grafik sebagaimana
berikut:
Dengan metoda interpolasi tentukan fraksi yang tersisihkan (dari kurva
persentase penyisihan 20, 30, 40, 50 dan 60) dan waktu yang telah
dibutuhkan:
III-14
Untuk kurva isokonsentrasi 20% didapat besarnya penyisihan:
R
T
= 20 + (6,7/10)(30-20) + (2,9/10)(40-30) + (2,0/10)(50-40)
+ (1,3/10)(60-50) + (0,8/10)(70-60)
= 33,7 %
Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.3 Data Penyisihan Ss Berdasarkan Kurva Isokonsentrasinya
Waktu
(min)
Fraksi
penyisihan (%)
0,27
0,55
0,77
1,13
1,60
33,7
48.7
56,7
63,8
68,6
Sehingga untuk 65% penyisihan SS dibutuhkan waktu detensi 1,22 jam (73,2
menit) seperti terlihat pada grafik berikut ini:
Grafik 3.1 hubungan fraksi penyisihan dan waktu detensi pada contoh soal 3:
3.4 Zone Settling
Pada suspensi yang pekat akan nampak ciri-ciri pengendapan yang berbeda dengan
suspensi encer. Perbedaan akan semakin jelas pada suspensi yang mempunyai sifa
flokulen dibanding dengan suspensi yang memiliki sift diskrit. Misalkan di dalam
suspensi encer terkandung partikel-partikel dari berbagai ukuran dan konsentrasi
yang seragam diseluruh cairan.suatu partikel pada saat t = 0 berada di permukaan
akan mengendap tanpa dihalangi dengan kecepatan mengendap yang sesuai dengan
sifat-sifat tersebut.
III-15
Gambar 3.11 Posisi Partikel Terendapkan Dan Hubungannya Dengan Waktu
Sebelum titik B tercapai, tidak akan terjadi perlambatan. Pada titik antara B dan C,
partikel aakan merupakan bagian dari pengendapan lumpur. Keberadaan partikel
antara C dan D tergantung pada pemadatan dari endapan lumpur. Pada peningkatan
konsentrasi suspensi akan tercapai suatu keadaan dimana partikel-partikel yang
mengendap dengan kecepatan tinggi akan membentuk endapan. Setelah itu
pengendapan akan berlangsung secara kolektif dan pada kecepatan yang lebih
rendah. Semua proses pengendapan akan membentuk 4 zone, masing-masing
dengan karakteristiknya sendiri.
Gambar 3.12 Zone Proses Pengendapan
III-16
1. Keadaan mula-mula konsentrasi uniform pada seluruh cairan (konsentrasi B)
2. Segera akan nampak batas antara zat cair dan cairan jernih (A). Dalam zone B
partikel akan mengendap dengan kecepatan seragamdalam keadaan
pengendapan terehalang. Besarnya kecepatan pengendapan dimana suspensi
selalu bergerak ke bawah merupakan fungsi dari :
V = f (C
o
).........................................................................................(3.22)
3. Zone C : suatu zone dimana kecepatan mengendap makin lama makin berkurang
sebagai akibat peningkatan konsentrasi.
4. Zone D : zone kompresi dimana peningkatan konsentrasi sampai suatu harga
diaman zat-zat padat dalam suspensi tertahan secara mekanis oleh zat-zat padat
yang ada dibawah.
Pada tangki pemekatan atau pada aliran kontinu, luas permukaan yang diperlukan
untuk memisahkan suspensi yang pekat tergantung pada dua faktor yaitu:
1. Kapasitas klarifikasi
Diperkirakan dari kecepatan awal pada bidang batas padatan-cairan menurun.
Luas permukaan harus sedemikian rupa sehingga kecepatan meluap cairan lebih
kecil daripada kecepatan penurun bidang batas.
2. Kapasitas pemekatan
Dihitung berdasarkan atas suatu analisis rasional di seluruh cairan dan zat-zat
padat mengendap secara batch. Pada awal proses, konsentrasi uniform di seluruh
cairan dan zat padat mengendap uniform. Sebelum zat padat tersebut sampai
dasar bak, zat tersebut harus melalui semua tingkat konsentrasi yang ada dalam
tabung tersebut. Kalau solid handling capacity(SHC) pada konsentrasi C
3
lebih
kecil dari SHC pada konsentrasi C
2
dalam lapisan yang berada tepat pada
diatasnya, maka zat padat tidak akan melewati lapisan C
3
dengan kecepatan
yang sama dengan kecepatan memasuki lapisan C
3
ini. Misalkan pada ssaat t = 0
terbentuk suatu lapisan tipis pada dasar tabung dengan konsentrasi C dan naik
dengan kecepatan v.
III-17
Gambar 3.13 Ilustrasi Zone Pemekatan
Zat padat yang berada pada daerah dengan konsentrasi C-dC.maka:
- kecepatan mengendap : v + dv
- kecepatan lapisan naik : v + dv + v
karena konsentrasi lapisan tetap konstan (C) maka banyaknya zat pada yang
keluar dari lapisan:
(C-dC) A. t (v + dv + v) = C. A. t (v + dv )...................................(3.23)
Dengan : A = luas peampang tegak lurus arah gerakan zat padat
dC v = C dv dC v dC dv
u = C (dv/dC) v dv
dengan mengabaikan dv maka:
u = C (dv/dC) v
Karena pada pengendapan terhalang v = f(C) maka;
v = C f(C) - f(C)...........................................................................(3.24)
Oleh karena C konstan dan f(C) dan f(C), maka v juga harus konstan.
Suatu tabung setinggi Z
o
diisi dengan suatu suspensi dengan konsentrasi
uniform C
o
. Berat zat padat dalam suspensi adalah A.Z
o
C
o
.
Gambar 3.14 Grafik Analisis Kurva Pemekatan
III-18
Apabila suatu lapisan dengan konsentrasi C
2
bergerak naik dan membutuhkan
waktu t
2
untuk mencapai bidang batas, maka banyaknya zat padat yang melewati
lapisan ini :
C
2
A t
2
(v
2
+ v
2
) = C
o
Z
o
A............................................................(3.25)
Kecepatan naik dari tiap lapisan adalah konstan, sehingga bila pada saat t
2
,
bidang batas berada pada Z
2
, maka:
V
2
= Z
2
/t
2
disubstitusikan sehingga memberikan :
C
o
Z
o
= C
2
t
2
(v
2
+ v
2
)
C
o
Z
o
= C
2
t
2
v
2
+ C
2
t
2
v
2
C
2
= (C
o
Z
o
)/{(t
2
v
2
) + t
2
v
2
)}
C
2
= (C
o
Z
o
)/{(t
2
v
2
) + Z
2
)}
Pada saat t
2
: v
2
= (Z
1
- Z
2
)/t
2
, maka:
C
2
= (C
o
Z
o
)/ Z
1
.............................................................................(3.26)
Z
1
dapat diartikan sebagai tinggi kolom pengendapan/sludge, bila zat padat
dalam kolom tersebut mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi di
dalam bidang batas tersebut.
Pada pemisahan secara kontinu akan terjadi keadaan dimana kedudukan dari
biadang batas adalah statis dan gerakan zat padat relatif terhadap zat cair
disebabkan aliran ke atas dari cairan. Maka, pada saat t
2
, kecepatan cairan yang
melalui lapisan konsentrasi C
2
adalah:
q =A v
2
= A (Z
1
- Z
2
)/t
2
...............................................................(3.27)
Tidak seluruh cairan akan mengalir melaluui bidang batas karena sebagian akan
menyertai zat padat di dalam underflow. Volume sesungguhnya dari cairan yang
melalui bidang batas dalam pengendapan batc:
V = A (Z
1
- Z
u
)..............................................................................(3.28)
Dengan Z
u
adalah tinggi bidangbatas bila semua zat padat di dalam sistem
mempunyai konsentrasi C
u
(konsentrasi underflow). Waktu yang diperlukan air
sebanyak V untuk melewati suatu lapisan dengan konsentrasi C
2
adalah:
t = V/q = A ((Z
1
- Z
u
)/ {A (Z
1
- Z
u
)/t
2
}
atau t = t
u
.........................................................................................(3.29)
Banyaknya zat padat dalam suatu analisis secara batch : A Z
o
C
o
III-19
Pada operasi kontinu akan dibutuhkan waktu selama t
u
untuk melewatkan zat
padat sebanyak A Z
o
C
o
melalui konsentrasi C
2
maka :
q = (A Z
o
)/ t
u
..................................................................................(3.30)
dimana: q = kecepatan volumetrik suspensi yang memasuki thickener
t
u
= waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan konsentrasi underflow
Z
o
= tinggi bidang batas mula-mula di dalam kolom pengendapan
Sedangkan untuk bak thikener yang menggunakan pola recycling, perhitungan
luas area pemekatan menjadi:
0
) ( 5 , 1
H
t
R Q A
u
c
+
......................................................................(3.30)
dimana: Q = laju alir lumpur dari bak pengendap akhir/unit sebelumnya
R = laju alir recycle lumpur
Contoh soal:
Sebuah test batch dilakukan untuk menguji MLSS 2500 mg/l untuk dipekatkan
menjadi 10.000 mg/l dengan debit desain 1,2 MGD, berikut adalah grafik
hubungan tinggi interface lumpur dengan waktu pengendapan. Maka tentukan
luas area pemekatan dan area klarifikasi serta diameter bak yang layak untuk
rencana desain tersebut:
Penyelesaian:
kesetimbangan material pada proses recycle ini:
(1,2 MGD)(0) + (R)(10.000) = (1,.2 MGD + R)(2.500)
R = 0,40 MGD
tinggi permukaan underflow
H
u
= C
o
H
o
/C
u
= (2.500)(2,13/10.000) = 0,53 ft
Dari grafik diatas didapat nilai waktu proses pemekatan adalah 48 menit
Luas area thikening :
A
t
= 1,5[(1,2 + 0,4)(10
6

gal x 1 ft
3
/1440 min x 7,48 ga)](48 min/2,13 ft)
A
t
= 5021 ft
2
III-20
Maka diameter bak thikener yang harus didesain :
5 , 0
2
) 5021 (
4
1
]
1

ft D

= 80 ft.
Luas area untuk klarifikasi:
A
c
= 2.0 Q/V
o
= 2 (1.2 x 10
6
gal x 1 jam x ft
3
)/(24 jam x 3,48 ft x 7,48 gal)
A
c
= 3842 ft
2

3.5 Kompresi
Saat partikel-partikel terendapkan, maka akan terbentuk lapisan partikel solid yang
terkompresi akibat gaya berat lapisan diatasnya. Kecepatan konsolidasi partikel-partikel
tersebut adalah :
- dZ/dt = K (Z Z
~
)...........................................................................(3.31)
Dengan mengintegrasikannya maka :
Ln {( Z
c
Z
~
)/( Z
t
Z)} = K (t t
c
).................................................(3.32)
Dengan : Z = tinggi kolom sludge
Z
~
= tinggi kolom sludge pada akhirnya
T
c
= waktu pada saat Z
c

Contoh soal:
Carilah kecepatan mengendap dan ukuran partikel dengan berat jenisnya 1,001,
dimana 80 % nya diharapkan untuk disisakan pada kondisi pengendapan yang baik
dengan aliran 1000 gpd/sq, apabila temperatu air adalah 10
0
C (50
0
F).
Penyelesaian:
Q/A = 1000 x 1,547 x 10
-6
x 30,48 = 4,72 x 10
-2
cm/sec
Dari persamaan bahwa Q/A= 1,8 untuk n=1/8 dan y/yo = 80 %,
vo = 1,8 x 4,72 x 10
-2
= 8,5 x 10
-2
cm/sec
Dari persamaan didapatkan d= 0,15
3.6 Teori Rasional Tangki Ideal
Teori rasional untuk tangki ideal dan modifikasinya diperlukan untuk keperluan desain
tangki sedimentasi (oleh Camp). Analisis ini didasarkan atas hal-hal :
III-21
(Gambar 3.15 Sketsa Tangki Ideal)
- Suatu unit cairan yang memasuki tangki ideal dianggap menyebar secara merata
ke seluruh bidang vertikal A-A sdemikian rupa sehingga partikel-partikel yang
ada dalam suspensi adalah konstan di seluruh cairan dalam suatu volume yang
panjangnya dL (daerah inlet)
- Volume bergerak dari inlet menuju outlet tangki sedimentasi pada kecepatan
yang uniform dan akan tiba pada penampang A-A tanpa mengalami perubahan
bentuk.
- Di dalam daerah outlet semua bagian cairan dari bidang A-A mengumpul
kembali dan membentuk unit cairan semula yang hanya mengandung partikel-
partikel yang tidak dipisahkan dalam ruang sedimentasi.
Apabila diameter partikel, Do, dan kecepatan mengendap, v
0
, maka waktu yang
dibutuhkan untuk mengendapkan sedalam h
0
, adalah :
t = h
o
/v
o
..................................................................................................(3.33)
maka : v
0
= h
0
/(A h
0
/Q) = Q/A..............................................................(3.34)
atau menurut hukum stokes :
D
0
= K. v
0
0,5
= K. (Q/A)
0,5
......................................................................(3.35)
Apabila Y
0
menyatakan jumlah partikel yang terdiri dari tiap golongan ukuran yang
mempunyai kecepatan mengendap v
s
v
0,
maka fraksi dari jumlah partikel yang,
mengendap adalah :
Y/Y
o
= h
i
/h
0
= v
i
/v
0
= v
i
/(Q/A)...............................................................(3.36)
III-22
Persamaan diatas diturunkan dari :
- Untuk tangki empat persegi panjang dengan lebar w dan dh/dl = v
i
dt/v
h
.
dt adalah konstan karena v
h
konstan, sedangkan v
i
untuk golongan tertentu
adalah konstan. Maka:
h
i
/h
0
= (v
i
/v
h
)= (v
i
.L. w)/( v
h
L. W) = v
i
/(Q/A)
- Untuk tangki berbentuk lingkaran dengan jari-jari r, luas A = 2.r.h
0
:
h
i
/h
0
= v
i
/v
h
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q r dr
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q (1/2 r
2
)
= (. r. h
0
. v
i
)/ Q (r
0
2
r
i
2
)
= (h
0
v
i
A)/Q = v
i
/(Q/A)
3.7 Pengurangan Effisiensi Pengendapan oleh Arus
Efisiensi bak pengendap dapat berkurang akibat arus yang membentuk lintasan
pendek pada aliran, diataranya adalah :
1. Arus olakan yang terbentuk oleh inersia cairan yang masuk
2. Arus permukaan yang disebabkan oleh induksi angin pada bak terbuka
3. Arus konveksi vertikal yang disebabkan oleh panas yang timbul
4. Arus densitas yang disebabkan oleh kekentalan cairan akibat dingin atau berat
air dan panas atau ringan air yang melewati permukaan.
5. Arus yang disebabkan oleh struktur outlet. Pada tangki aliran horizontal, begitu
material mengendap ke dasar, arus turunnya diinduksi dekat inlet tangki yang
sejalan dengan aliran dekat outlet.
Perbandingan antara efisiensi yang tercapai terhadap efisiensi teoritis adalah sebagai
berikut:
n
o
i
A Q v n
y
y
/ 1
0
)] / /( . 1 [ 1

+
.............................................................(3.37)
Hubungan yang terjadi antara efisiensi bak pengendap dengan rasio waktu detensi
atau rasio kecepatan mengendap dapat dilihat pada grafik berikut:
III-23
Gambar 3.16 Grafik Performance Bak Pengendap
Dimana: y
i
= efisiensi yang akan dicapai/diharapkan
y
0
= efisiensi teoritis
= karakteristik bak pengendap (bernilai antara 0, 1/8, 1/5, 1/3, -1)
v
o
= kecepatan mengendap terminal
v
d
= surface loading = Q/A
Untuk mencegah pengendapan tidak terlaksana, maka:
1. Perpanjang waktu pengendapan (t
d
> t
0
)
2. Perkecil kecepatan mengendap (v
td
< v
to
) dimana v
to
= (1,5-3) v
td
3.8 Multi Tray Settler
Peningkatan kapasitas bak dengan mempercepat pengumpulan flok menjadi dasar
pemikiran. Sehingga muncul gagasan untuk menambah dasar/alas semu (tray)
Peningkatan kapasitas bak dengan tray yang horizontal, menyebabkan efisiensi
pengendapan bertambah tinggi. namun lama-lama effluen yang keluar akan
tercampur partikel yang sudah mengendap. Solusinya bisa dengan menggunakan
multi tray settler.Bentuk multi tray settler :
1. Tube settler
III-24
Z
o
Z
1
Z
2
2. Plate settler
Waktu yang diperlukan lebih kecil dari waktu detensi semula sehingga overlow rate
lebih besar dan pengendapan lebih banyak. Jika sudut kemiringan besar maka jarak
tempuh besar kemampuan mengendap kecil waktu pengendapan lama serta
overflow rate kecil. Seperti diilustrasikan dengan gambar berikut
Gambar 3.17 Ilustrasi Dasar Semu (Tray) Pada Bak Pengendap
Jika t
4
: t
o
= Z
4
: Z
o
=> t
4
= (Z
4
/Z
o
).t
o
=> t
4
= 1/5 t
o
Maka waktu yang diperlukan hanya 1/5 waktu semula, jadi overflow rate menjadi 5
kali lebih besar dari semula. Namun akan mempercepat proses penumpukan sludge
pada dasar semu tersebut yang memungkinkan akan terbawa keluar oleh aliran
efluen.
Maka dengan sedikit modifikasi, membuat tray tersebut dalam posisi miring,
sehingga jika sudut kemiringan () besar, maka jarak tempuh besar, kemampuan
pengendapan kecil, waktu detensi besar akibatnya overflow rate kecil.
E
F D
III-25
Z
3
W
v
H v t
R
L

v to
C
A
B
Gambar 3.17 Proses Overflow Rate Pada Tray Settler
to tr to
o
v
w
v
AE
v
AD
v
AB
t

tan ). sin / (

...............................................(3.38)
AB = AC tan = (w/sin ) tan dan AC = w/sin
AE = AF + FE
AE = (H/sin ) + (DE/sin)
AE = (H/sin ) + ((w/sin ).tan /sin )
v

=

(AE/AB). v
to
to
v
w
w H
v .
tan ) sin / (
) cos / ) sin / ( ) sin / (

.................................................(3.39)
Untuk memperbesar V
up
(Q/A) maka perbesar H, perkecil , luas surface loading
akan kecil, sehingga keefektifan kecil.
Banyak digunakan = 60
0
dan w = 5-10 cm, N
Re
2.000 dan Fr > 10
-5

R A Q
N
. ). / (
Re

..............................................................................(3.40)
R g
A Q
Fr
.
) / (
2

.......................................................................................(3.41)
contoh soal:
Hasil percobaan kecepatan penegndapan suatu partikel adalah 0,1 cm/dt dan untuk
removal 85 % diperoleh perbandingan Uto = 2,4 Utd. Pengendapan dilakukan dalam
III-26
multi plate settler dengan jarak plate (W) = 5 cm dan tinggi plate = 100 cm dengan
kemiringan = 100 cm dengan kemiringan () = 60
0
. Hitunglah bilangan Reynold dan
Froude () = 0,916 x 10
-2
cm
2
/dt.
Penyelesaian:
E

C D
v Rut
H= 100
A 60
0
60
0


B
Z
Utd
AB = W/sin
Z = AB tg = W/ sin = 2 W = 10 c
AC = BD = H/ sin
CE = DE/ sin = Z/ sin = W/ sin (tg )
sin
= W/ sin cos
AE = AC + CE
= H/ Sin + W/ sin cos
= 115,47 + 11,55 = 127,02 cm
Utd = 0,1/ 2,4 cm/dt = o,o417 cm/dt
td = Z/ Utd
V = AE/ td = AE Utd = 127,02 x 0,0417 cm/ dt = 0,53 cm/ dt
Z 10
R = W x W = 1/2 W
III-27
2W
N
re
= v / = v (1/2W)R/
N
Re
= v R = v (1/2 W) = (0,53) (2,5) = 144,65 < 500 (ok)
0,916 x 10
-2

N
fr
= v
2
/ gR = v
2
/ g (1/2 W) = (0,53)
2
/981 x 2,5 =1,14 x 10
-5
(ok)
3.9 Penggerusan Endapan pada Dasar Bak(Bottom Scouring)
Agar tidak terjadi penggerusan pengendapan padatan halus, ringan dan flokulen
dari dasar bak atau zone lumpur terangkut kembali oleh arus maka kecepatan
horizontal harus dibatasi untuk tidak lebih dari :
t H
v f v . ) / 8 (
5 , 0

..................................................................................(3.42)
Dimana: v
H
= kecepatan aliran
f = gesekan menurut Darcy = 0,02 - 0,04
Selain itu juga harus ada pembatasan rasio panjang terhadap kedalaman bak
pengendap :

,
_

,
_

,
_

o
s
o
d
o
o
v
v
t
t
f Z
P
5 , 0
8
...........................................................................(3.43)
Untuk bak ideal, t
d
/t
o
= 1 dan v
s
= v
o
. Maka :
5 , 0
8

,
_

f Z
P
o
o
..........................................................................................(3.44)
Dimana : P
o
= Panjang bak pengendap (m)
Z
o
= Tinggi bak pengendap (m)
contoh soal:
Carilah unruk endapan alum (S
s
), diameternya adalah 10
-1
, kecepatan pengganti pada
flok sehingga dapat disisakan tanpa memberikan pengaruh yang berbahaya pada
proses pembentukakan suspensi kembali dan rasio jarak pengendapan pada unit
pengendapan di pengaruhi. Asumsikan bahwa faktor friksi dari Darcy Weisbach
f= 3,0 x 10
-2
dan temperaturnya adalah 10
0
C
Penyelesaian:
vd = (8/f)
1/2
vs
= (8/(3x10
-2
))=16,3
Didapatkan vs = 3,0 cm/sec
III-28
Vd= 3,0 x 16,3 = 48,9 cm/sec = 1,60 fps,
lo/ho = 16,3(td/to) = 16,3, basin yang ideal = (td/to = 1,0)
III-29