You are on page 1of 2

Kapitalisasi adalah proses deferring cost yang muncul pada tahun ini akan tetapi benefit akan diharapkan

dirasakan satu tahun lamanya. Kapitalisasi juga dapat dikatakan juga dengan resource yang belum dikonsumsi. Jika resource telah dikonsumsi atau digunakan dinamakan expensse. Jika perusahaan melakukan pengasetan maka wajib melakukan depresiasi. Depresiasi itu sendiri adalah alokasi cost aset selama umur manfaat dari aset itu. Dalam penentuan depresiasi menurut IFRS bergantung kepada penggunaan atau daerah perusahaan. IFRS hanya memberikan principal base Selain syarat di atas ada lima syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan kapitalisasi yaitu harus berasal dari traksaksi tahun lalu, transaksi tersebut

dapat diidentifikasi, dipisahkan, dan dihitung, dapat dikontrol masa manfaatnya (pasti berhasil), cost dapat dihitung secara sistematis, cost akan mengikuti future economic benefit. Contohnya minimarket membuat software untuk menejemen pendapatan perusahaan (internal use). Dalam kasus ini biaya pembuatan software tidak masuk dalam expense karena memenuhi syarat kaitalisasi yaitu transaksi dapat

diidentifikasi, dipisahkan maupun dihitung, masa manfaat dari software ini dapat dikontrol dan jelas-jelas memiliki benefit dimasa mendatang. Jika sudh mengkapitalisasi perusahaan harus melakukan amortisasi Contoh lain adalah reset and development. Pada perusahaan reset dan development harus dipisahkan. Pada reset harus dimasukan expense bila masih reset awal dan belum tahu apakah riset berhasil atau gagal. Jika Sudah tahap development dan future benefit sudah dapat benar-benar diprediksi berhasil maka dapat di kapitalisasi atau diasetkan. Penggolongan aset atau expense penting karena mempengaruhi informasi di laporan keuangan. Informasi yang dipengaruhi yaitu income statement. Jika perusahaan mengasetkan paka aset di tahun tersebut tinggi dan serta terjadi income something karena terjadi deffering cost dan expense diakui ketika cost dikonsumsi. Sedangkan jika di-expense-kan maka terjadi grafik eksterm karena

terjadi pengakuan expense terlalu tinggi di tahun pembelian. Kesalahan pengolonagn ini mempengaruhi rasio profitabilitas. Penggolongan juga empengaruhi rasio ROI. Jika mengasetkan maka net income smooth atau stabil. Jika membebankan maka net income pda tahun pembelian sangat rendah sehinga ROI rendah sekali sedangkan pada tahun selanjutnya terjadi lonjakan NI sangat tajam sehingga ROI sangat tinggi. Selain itu kesalahan penggolongan juga akan mempengaruhi cash flow perusahaan. Jika melakukan kapitalisasi menyebabkan outflow pada investing tinggi sedangkan cashflow operating tinggi. jika expensekan outflow investing rendah dan inflow operating rendah. Selain itu kesalahan menentukan juga menyebabkan tidak tepatnya analisis pada rasio solvabilitas. Jika di asetkan menyebabkan hutang tinggi pembelian kredit) sedangkan aset rendah sehingga pada rasio ini akan buruk.