You are on page 1of 34

Anatomi dan fisiologi ginjal

Rusmawati

Anatomi ginjal
Ginjal terletak di ruang retroperitoneal antara Vth12 atau VL1 dan VL4 Tiap ginjal terdiri atas 8-12 lobus yang berbentuk piramid Lapisan luar (korteks) mengandung glomerulus, tubulus proksimal dan distal yang berkelok2 dan duktus koligens

Anatomi ginjal
Lapisan dalam (medula) mgd bagian tubulus yang lurus, ansa Henle, vasa rekta dan duktus koligens terminal Puncak piramid menonjol ke dalam disebut papil ginjal Duktus koligens bermuara pada duktus papilaris Bellini yang ujungnya bermuara di papil ginjal

Anatomi ginjal
Ada 18-24 muara duktus Bellini area kribrosa Antara 2 piramid terdapat jaringan korteks tempat masuknya cabang2 arteri renalis kolumna Bertini Beberapa kaliks minor bersatu membentuk kaliks mayor yang bersatu menjadi pelvis ginjal dan bermuara ke dalam ureter

Sirkulasi ginjal
Tiap ginjal menerima kira2 25 persen isi sekuncup jantung Suplai darah di tiap ginjal berasal dari a. renalis yang keluar dari aorta A. renalis bercabang menjadi a. interlobaris yang berjalan melewati medula menuju batas antara korteks dan medula bercabang menjadi a. arkuata a. iterlobularis arteriol aferen glomerulus bercabang menjadi jalinan kapiler glomerulus bergabung lagi menjadi arteriol eferen

Struktur nefron
Tiap ginjal mengandung 1 juta nefron ( glomerulus dan tubulus yang berhubungan dengannya) Tiap nefron terdiri dari: glomerulus dan kapsula Bowman, tubulus proksimal, ansa Henle dan tubulus distal Glomerulus bersama kapsula Bowman disebut badan Malpigi

Struktur nefron

Struktur nefron

Fungsi normal ginjal


1. Ultrafiltrasi glomerulus 2. Reabsorbsi tubulus terhadap solut dan air 3. Sekresi tubulus terhadap zat-zat organik dan anorganik

Populasi glomerulus ada 2 macam


Glomerulus korteks yang mempunyai ansa Henle yang pendek dan berada di korteks Glomerulus jukstamedular: mempunyai ansa Henle yang panjang sampai ke dalam medula

Struktur nefron
Glomerulus merupakan kapiler yang berfungsi sebagai penyaring Kapiler glomerulus dibatasi sel-sel endotel, mempunyai sitoplasma dan punya banyak lubang disebut fenestra Membran basal glomerulus membentuk lapisan berkesinambungan antara sel endotel dan mesangial di satu sisi dan sel epitel di sisi lain

Membran basalis mempunyai 3 lapisan: Lamina densa yang padat (di tengah) Lamina rara interna ( terletak antara lamina densa dan sel endotel) Lamina rara eksterna ( terletak antara lamina densa dan sel epitel)

Fisiologi ginjal
1. Fungsi ekskresi 2. Fungsi endokrin

Fungsi ekskresi
1. Ekskresi sisa metabolisme protein Ureum, kalium, fosfat, sulfat anorganik, dan asam urat Bila terjadi kerusakan azotemia, hiperkalemia, hiperfosfatemia, hiperurisemia, dll

Fungsi ekskresi
2. Regulasi volume cairan tubuh tubuh kelebihan cairan rangsangan ke a. karotis interna ke osmoreseptor di hipotalamus anterior diteruskan ke hipofisis posterior produksi ADH dikurangi diuresis banyak Ada mekanisme counter current

3. Menjaga keseimbangan asam basa keseimbangan asam dan basa tubuh diatur oleh paru dan ginjal sesuai hukum Henderson Hasselbach ph= 6,1(konstan)+ log Na HCO3 (ginjal H2 CO3 (paru) Paru menjaga jumlah H2CO3 dalam plasma (N=1,15 -1,35 mEq/L) dengan mengatur kadar PCO2 dan ginjal menjaga konsentrasi NaHCO3 (N=2527mEq/L) dengan cara menyerap NaHCO3 dan mensekresi H+

Fungsi endokrin
1. Partisipasi dalam eritropoesis proeritropoetin (hati) eritropoetin oleh faktor eritropoetik ginjal

Fungsi endokrin
2. Pengaturan tekanan darah bila terjadi iskemia ginjal granula renin dilepaskan oleh aparat juksta glomerular, renin merubah angiotensinogen dalam darah angiotensin 1angiotensin 2 oleh konverting enzim dari paru vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan merangsang korteks kelenjar adrenal untuk memproduksi aldosteron ( meretensi air dan Na)

Fungsi endokrin
3. Keseimbangan Calsium dan fosfor vit. D (kolekalsiferol) dirubah di hati menjadi 25 (OH)-kolekalsiferol (D3) dirubah kedua kalinya di ginjal menjadi 1,25 (OH)2 D3 menjadi metabolit aktif dan dapat menyerap kalsium di usus Kadar kalsium darah berbanding terbalik dengan kadar retensi fosfor

Lanjutan no 3. Hipokasemia merangsang kelenjar paratiroid memproduksi parathormon (PTH) dengan maksud meningkatkan kadar kalsium darah, dengan cara memobilisasi kalsium tulang kerusakan tulang (rikets ginjal atau osteodistrofi)

Filtrasi glomerulus
Darah mengalir ke kapiler glomerulus plasma disaring melalui dinding kapiler glomerulus Hasil filtrasi bebas sel, mengandung semua substansi plasma (elektrolit, glukosa, fosfat, ureum, kreatinin, peptida, protein dg BM rendah, kecuali protein dg BM > 68.000 seperti albumin dan globulin)

Filtrasi glomerulus
Filtrat dikumpulkan di ruang Bowman dan masuk ke tubulus urin Laju filtrasi glomerulus (LFG) = penjumlahan seluruh laju filtrasi nefron yang masih berfungsi (SN GFR)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi filtrasi glomerulus


1. Perubahan aliran darah glomerulus 2. Perubahan pada tekanan hidrostatik glomerulus 3. Perubahan tekanan kapsula Bowman dan tubulus 4. Perubahan tekanan onkotik plasma 5. Perubahan permeabilitas kapiler glomerulus 6. Perubahan luas area filtrasi

Reabsorsi dan sekresi tubulus


Setelah terjadi filtrasi maka ultrafiltrat sampai di tubulus dan mengalami penambahan zat (sekresi) dan pengurangan zat terlarut (reabsorbsi) ekskresi zat Ekskresi = filtrasi +sekresi-reabsorbsi

Reabsorbsi dan sekresi tubulus dilakukan dengan 2 cara:


1. Difusi pasif mengikuti gradien kimia atau gradien listrik 2. Transport aktif melawan gradien-gradien tersebut

Reabsorbsi dan sekresi pada tubulus

Tubulus proksimal
Meresobsi 60-70% cairan ultrafiltrat secara isotonik Na masuk tubulus proksimal secara pasif menuruni grasien kimis dipompa keluar sel melawan gradien kimia Reabsorbsi berbagai zat lain berjalan berpasangan dengan Na, mis. glukosa, fosfat dan berbagai macam asam amino, bikarbonat. Penyerapan bersifat isotonik

Ansa Henle
Ramus descenden ansa Henle punya dinding yang tidak permeabel terhadap zat-zat terlarut tetapi permeabel terhadap air air akan keluar dari ansa Henle krn medula bersifat hipertonik Pada ramus asenden yang berdinding tebal terjadi transpor klorida secara aktif dan Na secara pasif tetapi tidak diikuti air diujung atas ansa Henle cairan jadi hipotonik

Tubulus distal
Pada tubulus distal dan koligen kortikal terjadi reabsorbsi Na 25% Transpor Na terjadi secara aktif Terjadi sekresi K dan hidrogen menuruni gradien listrik akibat dari transpor Na Adanya hormon aldosteron meningkatkan permeabilitas membran terhadap Nadan peningkatan Na-K-ATPase yang sebanding reabsorbsi Na lebih efisien

Tubulus distal
Ion H+ didisekresi ke dalam lumen dan HCO3- yang baru terbentuk masuk kembali ke sirkulasi pH sel tubulus sekitar 7,3 sedang pH cairan lumen tubulus turun sampai 4,5 Ion hidrogen dalam sel tubulus membentuk ion kompleks dengan fosfat dan amonia yang tidak permeabel terhadap membran sel difusi kembali dapat dicegah

Duktus koligens
Dinding medula epitelnya tak dapat dilalui air kecuali bila ada ADH atau vasopresin tak ada ADH urin encer (hipotonik) ADH berikatan dengan reseptor V2 pada membran basolateral sel epitel duktus koligens dan merangasang adenilsiklase yang terikat pada membran air merembes melalui membran sel yang semula tak permeabel

Ekskresi air
Jumlah filtrasi melalui cairan glomerulus tiap hari = 125 ml/menit = 180l/24 jam, rata2 volume urin per hari 1-2 liter Penyerapan air di tubulus distal dan koligen diatur oleh hormon ADH (suatu oktapeptida yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofise posterior) dengan meningkatkan permeabilitas epitel duktus terhadap air

Pengeluaran ADH dipengaruhi oleh:


1. Peningkatan osmolalitas plasma 2. Penurunan volume ekstraseluler aktif