You are on page 1of 7

ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) LEARNING DISABILITIES DI KELAS INKLUSI Ayu Veranita,

Budiyono, dan Suyono Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Proses pembelajaran matematika di kelas inklusi yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran yang dilakukan guru. (2) Faktorfaktor kendala yang dialami saat proses pembelajaran matematika di kelas inklusi dan penyelesaiannya. Hasil penelitian ini, antara lain penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) telah dilaksanakan rutin. Pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas inklusi melalui tiga tahapan kegiatan, yaitu tahap prainstruksional, tahap instruksional, dan tahap penilaian. Dalam tahap evaluasi dan tindak lanjut, guru memberikan tugas berkaitan dengan materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan siswa terutama ABK learning disabilities. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Proses pembelajaran matematika di kelas inklusi SD Al Firdaus Surakarta sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yakni perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dan tindak lanjut. (2) Faktor kendala yang dialami adalah waktu dalam memberikan bimbingan pada ABK learning disabilities. Guru menyelesaikan kendala tersebut dengan memberikan tambahan belajar kepada ABK learning disabilities. Kata Kunci: proses pembelajaran matematika, anak berkebutuhan khusus (ABK) learning disabilities, inklusi.

1. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan masyarakat di Indonesia karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya agar lebih bermartabat, sehingga negara memiliki kewajiban memberikan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya.Pendidikan yang bermutu tersebut tidak hanya berlaku bagi warga negara yang memiliki kondisi normal tetapi juga berlaku untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus. Sesuai dengan hasil konferensi dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan Education for All, maupun kesepakatan yang lain seperti Pernyataan Salamanca di kota Salamanca, Spanyol pada tahun 1994, yang menetapkan bahwa semua anak sebaiknya belajar bersama tanpa diskriminasi, yang didasarkan pada kebutuhan siswa, dan anak berkebutuhan khusus diberi layanan khusus di sekolah regular. Hal ini kontradiksi dengan keberadaan sekolah berkebutuhan khusus atau SLB yang dapat menimbulkan adanya diskriminasi pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga pemerintah memberikan solusi melalui program pendidikan inklusi sebagai tindak lanjut dari konferensi dunia.

420

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

Pendidikan inklusi merupakan pendidikan regular yang di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus (ABK).Melalui pendidikan inklusi ini ABK dididik bersama anakanak lainnya (normal) untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Pendidikan inklusi ini menutup adanya kemungkinan terjadinya diskriminasi terhadap ABK, dan ABK dapat belajar hidup di lingkungan masyarakat yang sebenarnya yaitu masyarakat yang terdiri dari orang normal dan tidak normal atau disable and able person yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas, yang dimulai dari masyarakat sekolah. Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusi di Jawa Tengah khususnya di Surakarta yaitu ada enam sekolah inklusi.SD Al Firdaus Surakarta merupakan salah satu diantara enam sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusi.Sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi harus mempunyai kesiapan dalam segala hal baik dari segi kesiapan kepala sekolah, guru, kurikulum, sarana prasarana, dan sebagainya yang menunjang terlaksananya pendidikan inklusi dengan baik. Tidak hanya itu juga tetapi dari siswanya sendiri yaitu siswa normal maupun ABK juga harus mempunyai kesiapan mental dalam belajar di sekolah inklusi baik di luar maupun saat proses pembelajaran tidak terkecuali dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil observasi pendahuluan di SD Al Firdaus Surakarta diperoleh data ABK yang mempunyai kesulitan belajar (learning disabilities).Pada SD Al Firdaus Surakarta terdapat 22 siswa dengan tingkatan kelas berbeda yang mempunyai kesulitan belajar dalam matematika pada tahun pelajaran 2011/2012. Untuk itu sudah semestinya guru sebagai pendidik khususnya bidang studi matematika dapat menghilangkan anggapan-anggapan siswa yang kurang baik terhadap pembelajaran matematika, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan berjalannya pembelajaran dengan baik yaitu adanya interaksi sosial yang baik antara guru dan siswa (normal dan ABK), serta siswa dan siswa.Interaksi sosial tersebut dapat terbentuk dengan baik jika setiap guru maupun siswa mempunyai sikap atau kesiapan mental yang baik.Adanya sikap atau kesiapan mental yang baik dari semua anggota sekolah sangat diperlukan, sehingga dapat terjalinnya hubungan yang baik di lingkungan sekolah khususnya saat pembelajaran matematika di kelas inklusi. 1.1 Proses Pembelajaran Matematika. Pembelajaran matematika sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase proses pembelajaran matematika yang dimaksud meliputi tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap evaluasi suatu tugas pekerjaan selama proses pembelajaran. Adapun ketiganya dibahas secara terperinci sebagai berikut. 1. Tahap Perencanaan Perencanaan pembelajaran perlu dilakukan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran yang meliputi identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Perencanaan pembelajaran tersebut harus disusun secara lengkap dan sistematis sehingga pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. 2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap pelaksanaan atas perencanaan pengajaran yang telah dibuat oleh guru.Dalam tahap ini, guru melakukan interaksi belajar mengajar melalui penerapan berbagai strategi, metode, dan teknik pembelajaran, serta pemanfaatan seperangkat media (SMK Darunnajah, 2011). Dengan demikian, pada pelaksanaan pembelajaran guru hendaknya mengatur kondisi yang mempengaruhi
Seminar Nasional Matematika 2012 421 Prosiding

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

pembelajaran, antara lain tentang isi, menetapkan sendi pengajaran untuk siswa yang menjadi objek pengajaran dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran melalui tiga tahapan pokok, yaitu tahap prainstruksional, tahap instruksional, dan tahap penilaian. Salah satu dari ketiga tahapan tersebut tidak boleh ditinggalkan karena merupakan rangkaian dalam proses pembelajaran. 3. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut Kegiatan evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran tidak hanya diartikan sebagai kegiatan menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan akhir dalam pembelajaran. Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan proses dan evaluasi siswa. Kegiatan evaluasi dan tindak lanjut harus dilakukan secara sistematis dan fleksibel, sehingga dalam prosesnya akan dapat menunjang optimalisasi hasil belajar siswa. 1.2 Anak Berkebutuhan Khusus Learning Disabilities dalam Matematika. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik (Geniofam, 2010: 11). Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apayang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barrier to learning and development) (Zonasabar, 2010). Oleh sebab itu, mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak. Yang termasuk ke dalam ABK, antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, dan anak dengan gangguan kesehatan. Dyscalculia learning atau mathematics learning disability atau sering disebut juga dengan kesulitan menghitung merupakan salah satu dari gangguan Learning Disabilities selain dysleksia learning (kesulitan membaca) dan dysgraphia learning (kesultan menulis). Menurut Nini Subini (2011: 65) dyscalculia learning adalah kesulitan dalam menggunakan bahasa simbol untuk berpikir, mencatat, dan mengkomunikasikan ide-ide yang berkaitan dengan jumlah atau kuantitas.Dyscalculia learning merupakan suatu gangguan perkembangan kemampuan aritmetika atau keterampilan matematika yang jelas mempengaruhi pencapaian prestasi akademik atau mempengaruhi kehidupan sehari-hari anak. 1.3 Pendidikan Inklusi. Istilah inklusi dan inklusif pada dasarnya keduanya sama. Inklusi merupakan istilah yang berdiri sendiri, sedangkan inklusif merupakan bagian dari inklusi yang mempunyai cakupan yang lebih luas baik berupa lingkungan, sistem pembelajaran,kelas, dan lainnya.Menurut UNESCO (Nur Ratna Juwita, 2009: 17) bahwa pendidikan inklusi adalah merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan.Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan, dan lain-lain.Salah satu kelompok yang paling ter-eksklusi dalam memperoleh pendidikan adalah siswa penyandang cacat.Tapi ini bukanlah kelompok yang homogen.Sekolah dan layanan pendidikan lainnya harus fleksibel dan akomodatif untuk memenuhi keberagaman kebutuhan siswa.Mereka juga diharapkan dapat mencari anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan. Pendidikan inklusi tidak sekedar mengintegrasikan ABK di sekolah reguler, tetapi lebih kepada pendekatan untuk mengubah sistem pendidikan agar dapat mengakomodasikan keadaan siswa yang beragam, dan bukan mengubah anak menyesuaikan sistem.
Seminar Nasional Matematika 2012 422 Prosiding

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

1.4 Kerangka Berpikir. Kegiatan belajar mengajar matematika di kelas inklusi adalah suatu kondisi yang sengaja diciptakan oleh guru matematika dan dibantu oleh guru pembimbing khusus (GPK) matematika untuk ABK yang mengalami kesulitan belajar terutama ABK learning disabilities dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas. Proses pembelajaran matematika di kelas inklusi terjadi karena adanya guru yang mengajar dan siswa (normal dan ABK) yang belajar. Guru matematika memegang peranan penting dalam proses pembelajaran matematika karena guru matematika sebagai penanggung jawab pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika di sekolah terutama di kelas inklusi dengan bantuan GPK matematika yang ada dan gurulah yang akan mengelola komponen pembelajaran matematika yang ada agar kegiatan matematika di kelas inklusi dapat mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di kelas inklusi, semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran baik sekolah maupun guru harus bisa berkomunikasi dengan baik sehingga apa yang dibutuhkan oleh ABK terutama ABK learning disabilities dapat ditangani dengan cepat dalam membantu kegiatan belajarnya agar siswa dapat mengikuti pembelajaran matematika di kelas bersama dengan siswa lainnya. Selain itu kesiapan belajar, persiapan mengajar, strategi pembelajaran yang digunakan guru, dan penilaian hasil belajar juga sangat diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dapat diketahui faktor-faktor kendala atau masalah yang ada saat proses pembelajaran matematika berlangsung di kelas inklusi dan memberikan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut agar tidak ditemukan lagi saat proses pembelajaran selanjutnya. Masalah yang ada di kelas inklusi tidak terlepas dari perlakuan yang diberikan masyarakat sekolah terhadap ABK terutama ABK learning disabilities. Sekolah seharusnya memberikan layanan untuk ABK terutama ABK learning disabilities yaitu GPK matematika yang dapat membantu ABK secara optimal dalam pembelajarannya untuk mengurangi kesulitan guru matematika dalam memberikan pemahaman materi kepadanya sehingga ABK dapat mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajarannya. 1.5 Sumber Data. Ada tiga sumber data dalam penelitian ini, yaitu informan kunci (key informan), tempat dan peristiwa, serta dokumen. 1.6 Metode Pengumpulan Data. Metode pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi atau pengamatan, dan dokumentasi. 1.7 Teknik Analisis Data. Metode analisis yang digunakan adalah analisis data kualitatif yang mengikuti konsep Miles dan Huberman. Aktivitas dalam analisis data penelitian ini adalah penggunaan model alur yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berkaitan dengan proses pembelajaran khususnya matematika terutama di kelas inklusi, kesiapan guru dan siswa baik siswa normal dan ABK terutama ABK learning disabilities sangat diperlukan sebelum dimulainya pembelajaran. Di SD Al Firdaus Surakarta, sebelum pembelajaran dimulai guru matematika kelas V menyiapkan media dan sumber belajar yang diperlukan untuk membantu selama proses pembelajaran di kelas inklusi tetapi untuk ABK learning disabilities tidak ada media khusus yang
Seminar Nasional Matematika 2012 423 Prosiding

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

disiapkan, di samping itu adanya komunikasi terlebih dahulu antara guru matematika kelas V dan guru pembimbing khusus (GPK) matematika kelas atas (kelas IV VI) terkait materi yang akan diajarkan dan GPK matematika sudah siap di kelas sesaat sebelum pembelajaran dimulai sehingga dapat membantu guru dalam membimbing ABK learning disabilities apabila mengalami kesulitan selama berlangsungnya pembelajaran agar ABK learning disabilities tetap dapat mengikuti materi yang diberikan oleh guru matematika bersama dengan teman lainnya.Untuk kesiapan ABK learning disabilities dan teman sekelasnya (siswa normal) kelas V di SD Al Firdaus Surakarta telah mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu di rumah dan menyiapkan buku pelajaran di atas meja saat pembelajaran akan dimulai. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas inklusi tidak ada perbedaan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas reguler biasa, sehingga guru tetap membuat RPP seperti biasanya. Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta disebutkan dengan adanya penggunaan metode tanya jawab, deduktif, latihan, dan ekspositori. Dalam metode ekspositori, guru mengajak siswa aktif dengan banyak memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah sehingga timbulnya tanya jawab dan diskusi, dimana diskusi yang terjadi yaitu diskusi dengan tutor sebaya yang terdiri dari siswa normal dan ABK dikarenakan siswa akan lebih paham apabila dijelaskan oleh teman sebayanya karena dianggap lebih efektif dan efisien daripada diskusi kelompok. Selain itu, dengan guru menggunakan model pembelajaran kooperatif seperti diskusi dengan tutor sebaya tersebut dapat menimbulkan interaksi sosial yang positif untuk ABK terutama ABK learning disabilities dengan siswa lainnya. ABK learning disabilities akan merasa keberadaannya diterima oleh lingkungan sekitarnya terutama guru dan teman-temannya sehingga ABK learning disabilities berani menunjukkan kemampuannya secara optimal dalam pembelajaran. Dalam kegiatan awal pembelajaran, guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta beranggapan bahwa dengan semua siswa membalas salam yang diucapkan oleh guru maka siswa sudah siap untuk mengikuti pembelajaran. Guru matematika kelas V SD Negeri Al Firdaus Surakarta selalu memberikan motivasi terlebih dahulu agar siswa lebih fokus pada pembelajaran dan melaksanakan kegiatan apersepsi dengan mengulang materi sebelumnya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait materi sebelumnya tanpa membedakan siswa normal dan ABK. Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih sering ditunjukkan kepada ABK learning disabilities tanpa menunjukkan perlakuan yang berbeda. Pada kegiatan inti pembelajaran perlakuan guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta terhadap semua siswa kelas VA sama tetapi lebih mengutamakan ABK yang mengalami kesulitan terutama ABK learning disabilities. ABK learning disabilities lebih bersungguh-sungguh dalam mengikuti pelajaran yang diberikan guru walau terkadang banyak yang tidak dipahaminya sehingga guru selalu memberikan bimbingan maupun bantuan yang rutinitasnya lebih sering dibandingkan kepada siswa normal. Guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas kehidupan (kontekstual) sehingga siswa yang berkesulitan terutama ABK learning disabilities lebih mudah memahaminya khususnya matematika. Guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta memberikan contoh gula yang dibeli oleh ibu tetapi di rumah ibu masih mempunyai persediaan gula yang dibuat dalam bentuk pecahan, makasiswa harus mencari berapa jumlah gula ibu sekarang, diharapkan siswa dapat menjumlahkan bentuk pecahan. Dalam tahap penilaian yang dilakukan oleh guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta yaitu dengan memantau kemajuan siswa selama pembelajaran berlangsung dan
Seminar Nasional Matematika 2012 424 Prosiding

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

memberikan umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta tidak hanya memberikan nilai terhadap keberhasilan siswa tetapi juga memberikan reward dalam bentuk pujian, dengan begitu siswa terutama ABK learning disabilities memiliki semangat yang tinggi dalam belajar untuk bisa seperti temannya yang lain. Dalam tahap evaluasi dan tindak lanjut, guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta membuat kesimpulan bersama-sama siswa normal dan ABK mengenai materi yang telah disampaikan untuk penekanan materi dan menyampaikan rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya. Untuk tugas rumah biasanya diberikan apabila siswa normal dan ABK learning disabilities masih belum memahami materi dengan jelas dan akan menghadapi ulangan sehingga diharapkan siswa mempersiapkan diri sebelumnya. Saat proses pembelajaran, ada faktor-faktor kendala yang dialami oleh guru matematika kelas V dan GPK matematika kelas atas SD Al Firdaus Surakarta yaitu samasama mengalami kesulitan dalam penanaman konsep dan cara berhitung terutama pada ABK learning disabilities dalam matematika. Bagi guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta kendala terbesar adalah waktu sehingga guru matematika kelas V tidak bisa memberikan bimbingan secara intens terhadap siswa yang berkesulitanterutama ABK learning disablities, sedangkan bagi GPK matematika kendala terbesar yang dialami adalah hanya satu-satunya GPK matematika kelas atas sehingga tidak bisa membantu guru matematika dalam memberikan bimbingan secara individual terhadap siswa yang berkesulitan terutama ABK learning disabilities dan terbatasnya waktu yang ada.Oleh karena itu, guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta menyelesaikan kendala tersebut dengan memberikan tambahan belajar untuk siswa yang berkesulitan terutama ABK learning disabilities. 3. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran matematika di kelas inklusi SD Al Firdaus Surakarta sudah berlangsung dengan baik, dilihat dari guru dan siswa (normal dan ABK) sudah siap sebelum proses pembelajaran dimulai, dan sudah sesuai juga dengan prinsip-prinsip pembelajaran yakni perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dan tindak lanjut. Faktor kendala yang dialami oleh guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta yaitu masalah waktu dalam memberikan bimbingan pada siswa yang berkesulitan terutama ABK learning disabilities. Kendala tersebut juga terjadi dikarenakan pembelajaran di kelas inklusi untuk ABK learning disabilities dalam matematika belum sesuai dengan yang diharapkan, seperti belum optimalnya GPK dalam membantu guru untuk memberikan bimbingan/bantuan kepada ABK learning disabilities dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, guru matematika kelas V SD Al Firdaus Surakarta menyelesaikan kendala tersebut dengan memberikan tambahan belajar untuk siswa yang berkesulitan terutama ABK learning disabilities. DAFTAR PUSTAKA [1] [2] Ahmad Rohani. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Geniofam. 2010. Mengasuh dan Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus. Jogjakarta: Garailmu.
425 Prosiding

Seminar Nasional Matematika 2012

Analisis Proses Pembelajaran MatematikaPada ...

[3] [4]

Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada. Nana Syaodih Sukmadinata. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. [5] Nini Subini. 2011. Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak. Jogjakarta: Javalitera. [6] Nur Ratna Juwita. 2009. Implementasi Program Pendidikan Inklusi. Tesis. Tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. [7] SMK Darunnajah. 2011. TahaptahapProsesPembelajaran.(http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/07/tahap-tahapproses-pembelajaran.html). Diakses 13 Desember 2011 jam 19.19 WIB. [8] Wawan Junaidi. 2010. Cara Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa. (http://wawanjunaidi.blogspot.com/2010/07/aktivitas-belajar-siswa.html). Diakses 27 Januari 2012 jam 10.10 WIB. [9] Yulia Maftuhah Hidayati. 2009. Analisis Proses Pembelajaran Matematika di SMA Negeri Surakarta. Tesis. Tidak diterbitkan. Surakarta : Universitas Sebelas Maret. [10] Zonasabar. 2010. Konsep Anak BerkebutuhanKhusus.(http://zona sabar.blogspot.com/2010/02/konsep-anak-berkebutuhan-khusus-abk.html). Diakses 21 Desember 2011 jam 07.45 WIB.

Seminar Nasional Matematika 2012

426

Prosiding