You are on page 1of 25

Angga Pratama Dwi Andriya 11510708-5 Teknik Mesin UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

BREAK EVENT POINT (BEP)

Dengan menggunakan analisa BEP ini, usaha akan layak bila BEP lebih kecil dari estimasi peluang pasar yang tersedia. Semakin besar kapasitas pasar yang tersedia akan semakin menguntungkan. BT Rumus : BEP (unit) 1 unit
HJ BV
BT BV 1 HJ

atau
BEP (rupiah)

BEP

Rumus BEP dengan laba


BT Laba BEP (unit) 1 unit HJ BV

atau

BT %laba. X BEP BV 1 HJ

Contoh BEP

Suatu usaha produksi memiliki biaya tetap tahunan Rp. 20.000.000,- dan biaya variabel per unit produk Rp. 1.000,-. Harga jual produk per unit Rp. 1.500,-. Untuk kepentingan kemajuan perusahaan, laba dipatok sebesar 20%. Perkiraan pasar menunjukkan bahwa kapasitas pasar yang tersedia mencapai kisaran 10.000 unit per tahun. Dengan menggunakan analisis BEP, layak atau tidak usaha ini?

Contoh BEP

Misal jumlah penjualan = X, maka

BEP Unit = Rp. 150.000.000 / 1.500 = 100.000 unit. Oleh karena kapasitas pasar hanya mencapai kisaran 10.000 unit per tahun dan BEP untuk mencapai laba 20% sebesar 100.000 unit , maka usaha ini tidak layak karena BEP > kapasitas pasar.

PAY BACK PERIODE (PBP)

Merupakan suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran suatu investasi (capital outlays) dengan menggunakan aliran kas masuk neto (proceeds) yang diperoleh. Layak tidaknya suatu peluang usaha tergantung berapa lama periode pengembalian modal, semakin cepat kembali berarti usaha tersebut semakin menguntungkan. Rumus :

Contoh PBP

Suatu usaha membutuhkan investasi (capital outlays) sebesar Rp. 120.000.000,-. Aliran kas masuk (proceeds) diperkirakan Rp. 40.000.000 per tahun selama 6 tahun (sesuai jangka waktu pengembalian kredit yaitu selama 6 tahun). Berapa PBP-nya? Usaha tersebut layak atau tidak?

Artinya bahwa dari data diatas, usaha tersebut kembali modal pada tahun ke 3 sehingga usaha tersebut layak (PBP < waktu pengembalian kredit)

RETURN ON INVESTMENT (ROI)


Adalah tingkat pengembalian seluruh harta yang digunakan untuk melaksanakan usaha dalam menghasilkan laba. Tingkat ROI yang tinggi akan semakin baik (layak). Gunanya : untuk mengetahui seberapa besar tingkat pengembalian dari seluruh harta yang diinvestasikan. Rumus :

Contoh ROI

Selama tahun 2009 PT ABC memiliki total harta Rp. 50.000.000,- dan laba usaha yang diperoleh selama tahun itu Rp. 2.500.000,-. Berapa ROI? Usaha tersebut layak atau tidak?

Data diatas menunjukkan bahwa ROI : 5% sehingga usaha ini layak hanya jika bunga (tabungan) bank < 5%, sebaliknya bila > 5% menjadi tidak layak.

INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)


Adalah tingkat pengembalian modal sendiri yang digunakan untuk usaha. Berguna untuk : Mengetahuhi seberapa manfaat dana yang ditanamkan dalam usaha untuk mendapatkan laba. Mengetahui seberapa besar pengembalian modal sendiri jika digunakan untuk melaksanakan usaha. Makin tinggi IRR makin baik artinya jika IRR lebih tinggi dari bunga bank, berarti usaha yang dijalankan layak, tetapi bila lebih rendah, berarti tidak layak. Rumus :

Contoh IRR

Awal tahun 2009, Benjo telah menyetor modal usaha sebesar Rp. 10.000.000,- dan pada akhir tahun 2009 dari usaha tersebut mendapat penghasilan / keuntungan sebesar Rp. 500.000,-. Berapa IRR? Usaha tersebut layak atau tidak?

Data diatas menunjukkan bahwa IRR : 5% sehingga usaha ini layak hanya jika bunga (tabungan) bank < 5%, sebaliknya bila > 5% menjadi tidak layak.

NET PRESENT VALUE (NPV)


Adalah nilai kini bersih. Berguna untuk : menganalisis aliran dana kas dan sekaligus dapat mengetahui nilai kini bersih pada saat itu. Rumus : NPV = Aliran Kas Netto - Biaya Investasi.

Suatu usaha dinyatakan layak jika NPV positif atau NPV > 0, sebaliknya tidak layak jika NPV negatif atau NPV < 0.

Contoh NPV

Akhir tahun 2009 UD ABC memiliki kas netto : Rp. 100.000.000,-. Jumlah kewajiban / biaya investasi Rp. 10.000.000,-. Berapa NPV? Usaha tersebut layak atau tidak?

NPV = Rp. 100.000.000,- - Rp. 10.000.000,= Rp. 90.000.000,Data diatas menunjukkan bahwa usaha tersebut layak karena NPV positif atau NPV > 0.

CASH FLOW (ALIRAN KAS)


Sejumlah uang kas yang keluar dan yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dengan kata lain adalah aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan serta berapa saldonya setiap periode Yang mendasari dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana/uang yang kita miliki, kita simpan atau investasikan. Fungsi tsb. meliputi :

Likuiditas, yaitu dana yang tersedia untuk tujuan memenuhi

kebutuhan sehari-hari dan dapat dicairkan dalam waktu singkat relatif tanpa ada pengurangan investasi awal. Anti inflasi, dana yang disimpan guna menghindari resiko penurunan pada daya beli di masa datang yang dapat dicairkan dengan relatif cepat. Capital growth, dana yang diperuntukkan untuk penambahan/ perkembangan kekayaan dengan jangka waktu relatif panjang..

CASH FLOW (ALIRAN KAS)

Aliran kas yang berhubungan dengan suatu proyek dapat di bagi menjadi tiga kelompok yaitu:
Aliran kas awal (Initial Cash Flow) merupakan aliran kas

yang berkaitan dengan pengeluaran untuk kegiatan investasi misalnya; pembelian tanah, gedung, biaya pendahuluan dsb. Aliran kas awal dapat dikatakan aliran kas keluar (cash out flow) Aliran kas operasional (Operational Cash Flow) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan operasional proyek seperti; penjualan, biaya umum, dan administrasi. Oleh sebab itu aliran kas operasional merupakan aliran kas masuk (cash in flow) dan aliran kas keluar (cash out flow). Aliran kas akhir (Terminal Cash Flow) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan nilai sisa proyek (nilai residu) seperti sisa modal kerja, nilai sisa proyek yaitu penjualan peralatan proyek.

Manfaat

Memberikan seluruh rencana penerimaan kas yang berhubungan dengan rencana keuangan perusahaan dan transaksi yang menyebabkan perubahan kas. Sebagi dasar untuk menaksir kebutuhan dana untuk masa yang akan datang dan memperkirakan jangka waktu pengembalian kredit. Membantu menager untuk mengambil keputusan kebijakan financial. Untuk kreditur dapat melihat kemampuan perusahaan untuk membayar kredit yang diberikan kepadanya

Contoh Penyusunan Cash Flow

Berikut ini adalah estimasi penerimaan dan pengeluaran perusahaan PT. Usaha Anda yang bergerak dibidang industri makanan dalam waktu enam bulan

Contoh Penyusunan Cash Flow

Contoh Penyusunan Cash Flow

Contoh Penyusunan Cash Flow

Asumsi-asumsi :
Saldo kas awal Rp 10,000,000
Saldo kas minimum yang harus dipertahankan

sebesar Rp 10,000,000/bulan Platfond pinjaman yang diberikan oleh bank adalah sebesar Rp 50,000,000 dengan bunga 10 % flat jangka waktu 1 tahun, tetapi pencairannya sesesuaikan dengan kondisi arus kas pada perusahaan.

Estimasi Penerimaan Tunai

Asumsi lain :

Setelah menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran, dapat terlihat bahwa pengeluaran pada bulan January lebih besar dari penerimaannya, sehingga perusahaan mengalami deficit sebesar Rp 2,000,000. untuk menutupi deficit tersebut perusahaan menggunakan fasilitas pinjaman yang diberikan oleh bank. Besarnya pinjaman disesuaikan dengan kebutuhan, dalam hal ini maka untuk menjaga saldo kas minimum yang harus dipelihara perusahaan maka perusahaan menggunakan pinjaman dana sebesar Rp 2,000,000 dengan syarat ketentuan diatas. Untuk melihat apakah perusahaan tersebut fleksibel atau tidak maka dapat dilihat estimasi cash flow di bawah ini :

Estimasi Cash Flow

Kesimpulan dari contoh kasus Cash Flow

Dari estimasi tersebut, kas perusahaan menunjukan hasil yang surplus dan perusahaan dapat mengembalikan pinjaman bank sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan pada akhirnya perusahaan tersebut secara financial dapat dikatakan flexible.

Sumber: siomgon.files.wordpress.com/2010/07/analisa -kelayakan