You are on page 1of 3

PENINGGALAN BUDAYA ISLAM DI JAWA BARAT

Datangnya agama islam di Indonesia tidak langsung dari tanaha asalnya, yaitu negri
arab, melainkan dari india.

Sejarah Islam & nabi muhammad SAW

Dalam tahun 570 M dilahirkan di Kota Mekka seorang anak laki-laki yang diberi
nama Muhammad (artinya : yang terpuji). Pada usia 40 tahun sewaktu Muhammad sedang
menyendiri di gua hira, datanglah Malaikat Jibril kepadanya. Pada malam itulah dinamakan
lailatu’Iqadr (malam putusan Tuhan), dengan turunnya ayat ini maka Muhammad menjadi
Rasul Allah.

Masuknya Islam Ke Indonesia

Tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di


pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan islam. Aceh
merupakan daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali
menerima agama islam. Bahkan di Acehlah kerajaan islam pertama di Indonesia berdiri,
yakni Samudra Pasai.

Perkembangan Islam di Jawa Barat

Kesultanan Cirebon
Yaitu sebuah kesultanan islam di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi.
Lokasinya di pantai utara pulau jawa. Mata pencaharian masyarakat disana adalah
menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis,
dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah
berkembanglah sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon) yang kemudian menjadi
Cirebon. Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi
cikal bakal pusat penyebaran agama islam di Jawa Barat.

Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)


- Pangeran Cakrabuana (...-1479)
Pangeran cakrabuana adalah keturunan pajajaran. Putera pertama Sri Baguna
Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki
Gedeng Tapa). Pangeran Cakrabuana tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang
memerintah dari Keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama islam kepada
Penduduk Cirebon.

- Sunan Gunung Jati (1479-1568)


Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai
Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang
setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung
Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah.

- Fatahillah (1568-1570)
Fatahillah kemudian naik tahta. Dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja
sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung
dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570.
- Panembahan Ratu I (1570-1649)
Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian
bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.

- Panembahan Ratu II (1649-1677)


Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni
Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan
Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.

Kerajaan Sumedang Larang

Berasal dari kerajaan Sunda-Pajajaran yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun
Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke
Padjadjaran, Bogor.
Sumedang = aku dilahirkan (berasal dari insun medal/insun medangan)
Larang = sesuatu yang tidak ada tandingannya.

Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan


raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat
dilihat di museum Prabu Geusen Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun
kota Sumedang.

Peninggalan Budaya Islam

- Gembyung
Kesenian gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama
Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat
ibadah. Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah kempling
(kempling siji, kempling loro, kempling telu, dan kempling papat), Bangker dan
Kendang.

- Syawalan Gunung Jati


Setiap awal bulan syawal masyarakat wilayah Cirebon umumnya melakukan ziarah ke
makam Sunan Gunung Jati. Di samping itu juga untuk melakukan tahlilan.

- Ganti Welit
Uapacara yang dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi untuk mengganti
atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun
kelapa). Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Trusmi. Biasanya dilaksanakan
pada tanggal 25 bulan Mulud.

- Rajaban
Upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon.
Dilaksanakan setiap 27 Rajab. Terletak di obyek wisata Plangon Kelurahan Babakan
Kecamatan Sumber kurang lebih 1 km dari pusat kota sumber.

- Ganti Sirap
Upacara yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali di makam kramat Ki Buyut Trusmi
untuk mengganti atap makam yang menggunakan Sirap. Biasanya dimeriahkan
dengan pertunjukkan wayang kulit dan terbang.
- Muludan
Dilaksanakan setiap bulan mulud (maulud) di makam Sunan Gunung Jati. Yaitu
kegiatan membersihkan / mencuci Pusaka Keraton yang dikenal dengan istilah
Panjang Jimat. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 12 Mulud.

- Salawean Trusmi
Salah satu kegiatan ziarah yang dilaksanakan di Makam Ki Buyut Trusmi. Di
samping itu juga dilaksanakan tahlilan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tanggal 25
bulan Mulud.

- Nadran
Nadran atau pesta laut seperti umumnnyya dilaksanakan oleh nelayan dengan tujuan
untuk keselamatan dan upacara terimakasih kepada Sang Pencipta yang telah
memberikan rezeki. Dilaksanakan dihampir sepanjang pantai (tempat berlabuh
nelayan) dengan waktu kegiatan bervariasi.

Peninggalan Sejarah Islam

- Makam Sunan Gunung Jati


Dihiasi dengan keramik buatan Cina zaman dinasti Ming. Di komplek makam ini di
samping tempat dimakamkannya Sunan Gunung Jati juga tempat dimakamkannya
Fatahillah panglima perang pembebasan Batavia. Lokasi ini merupakan komplek
pemakaman bagi keluarga Keraton Cirebon, terletak + 6 km ke arah utara dari kota
Cirebon.

- Makam Nyai Mas Gandasari


Salah seorang murid Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dalam
penyebaran agama islam. Terletak di desa Pangurangan Kecamatan Pangurangan atau
27 km dari Ibukota Sumber.

- Makam Syekhh Magelung Sakti


Merupakan salah satui seorang pendekar dan beliau juga dikenal sebagai seorang
yang berjasa dalam penyebaran agama islam ditanah Cirebon. Makam beliau terletak
di desa Karang Kendal Kecamatan Kapekatan, 21 km dari ibukota sumber.

- Makam Talun
Disini tempat dimakamkannya Mbah Kuwu Cirebon yaitu salah seorang pimpinan
tertinggi di wilayah Cirebon. Terletak di desa Cirebon Girang Kecamatan Cirebon
Selatan 5.

- Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan


Puncak acaranya biasa di masa ziarah Plangon 2 syawal, 11 Dzulhijjah dan 27 Rajab.

- Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan


Puncak acaranya biasa di masa ziarah Plangon 2 syawal, 11 dzulhijjah dan 27 Rajab.
Untuk pengembangan wisata ini meliputi lahan sekitar 10 Ha, dan status tanah ini
milik Kesultanan. Kapasitas pengunjung rata-rata sekitar 58.000 pengunjung/tahun.