You are on page 1of 119

I. E.

Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG
PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG
KANWIL DJP DAN KPP SUMBAGUT I
JALAN SUKA MULIA MEDAN


TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas
Dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh
Ujian Sarjana Teknik Sipil


oleh:









JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM PENDIDIKAN EKSTENSION
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
I. E. SULASTRI SIHOTANG
060424006

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009




KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puja dan puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan
Tugas Akhir ini. Shalawat serta salam kepada pemilik pribadi mulia Rasulullah Muhammad
SAW beserta keluarga dan sahabatnya, yang membawa kita dari zaman jahiliyah kepada
zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Penyusunan Tugas Akhir ini dengan judul Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang
Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJP dan KPP Sumbagut I ini disusun
guna melengkapi syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Program Strata satu (S-1) di
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak memperoleh bantuan dan saran
dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini penulis ingin sampaikan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. M. Sofian Asmirza S.M.Sc, selaku dosen pembimbing utama yang telah
membimbing penulis dalam penulisan Tugas Akhir ini;
2. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan, sebagai Ketua Jurusan Teknik Sipil Universitas
Sumatera Utara;
3. Bapak Ir. Faizal Ezeddin, MS, selaku Koordinator Program Pendidikan Ekstension;
4. Seluruh Dosen dan pegawai Universitas Sumatera Utara khususnya Jurusan Teknik Sipil
yang telah mendidik dan membina penulis sejak awal hingga akhir perkuliahan;
5. Pimpinan dan seluruh Staff PT. Pembangunan Perumahan, sebagai Pelaksana proyek yang
telah memberi bimbingan kepada penulis dan bersedia memberikan data-data pendukung;
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


6. Terimakasih yang teristimewa, penulis ucapkan kepada kedua orangtua tercinta, yang telah
mengasuh, mendidik, dan membesarkan serta selalu memberikan dukungan baik moral,
material, maupun doa yang tak henti-hentinya mereka mohonkan kepada Allah SWT
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Begitu juga kepada keluarga yang
telah memberikan seni kehidupan dan dukungan yang tiada henti-hentinya kepada penulis
untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini;
7. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa dan teman-teman yang
memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini kemungkinan belum sempurna, untuk itu
penulis dengan tulus dan terbuka menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun demi
penyempurnaan Tugas Akhir ini.
Akhir kata, sekali lagi penulis sampaikan terimakasih kepada pihak yang telah banyak
membantu dan semoga atas bimbingan serta bantuan moral dan material yang penulis terima
mendapat imbalan dari Allah SWT.

Medan, Maret 2009
Penulis,


I. E. SULASTRI SIHOTANG
060424006











I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


ABSTRAK

Pondasi tiang atau disebut juga pondasi dalam dipergunakan untuk konstruksi beban
berat (high rise building). Sebelum melaksanakan suatu pembangunan konstruksi yang
pertama-tama dilaksanakan dan dikerjakan dilapangan adalah pekerjaan pondasi (struktur
bawah). Pondasi merupakan suatu pekerjaan yang sangat penting dalam suatu pekerjaan teknik
sipil, karena pondasi inilah yang memikul dan menahan suatu beban yang bekerja diatasnya
yaitu beban konstruksi atas.
Tujuan dari studi ini untuk menghitung daya dukung tiang pancang dari hasil sondir,
Standar Penetrasi Test (SPT), dan berdasarkan parameter kuat geser tanah, membandingkan
hasil daya dukung tiang pancang dan menghitung penurunan yang terjadi pada tiang pancang.
Metodologi pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi, pengambilan data
dari pihak proyek serta melakukan studi keperpustakaan. Pada perhitungan daya dukung tiang
pancang dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, untuk data sondir dengan metode
Aoki De Alencar dan metode langsung, untuk data SPT dengan metode Meyerhof dan
berdasarkan parameter kuat geser tanah.
Berdasarkan data sondir, SPT, parameter kuat geser tanah yang diperoleh dan dihitung
dengan beberapa metode diperoleh hasil perhitungan untuk data sondir dengan menggunakan
metode Aoki de Alencar titik-1 Qult =423.793 ton dan titik-2 Qult =509.036 ton, dengan
metode langsung titik-1 Qult =649.980 ton dan titik 2 Qult =415.563 ton. Untuk data SPT
menggunakan metode Meyerhof diperoleh titik-1 Qult =350.612 ton dan titik-2 Qult =
385.969 ton. Sedangkam untuk parameter geser tanah titik-1 Qult =234.572 ton dan titik-2
Qult =268.259 ton. Untuk penurunan tiang tunggal dihitung menggunakan metode Poulus dan
Davis sebesar 28.27 mm.
Hasil perhitungan daya dukung pondasi terdapat perbedaan nilai, baik dilihat dari
penggunaan metode perhitungan maupun lokasi titik yang ditinjau. Dari hasil perhitungan
dapat disimpulkan daya dukung pondasi yang paling baik digunakan adalah daya dukung tiang
pancang dari data SPT.




















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
ABSTRAK .........................................................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL............................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR NOTASI ............................................................................................. x
BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Umum ............................................................................................ 1
I.2. Latar Belakang .............................................................................. 3
I.3. Tujuan ........................................................................................... 3
I.4. Manfaat ......................................................................................... 3
I.5. Pembatasan masalah ..................................................................... 4
I.6. Metode Pengumpulan Data ......................................................... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pendahuluan ................................................................................. 6
II.2. Defenisi Tanah ............................................................................. 6
II.3. Penyelidikan Lapangan dengan pengeboran ............................... 7
II.4. Penyelidikan Lapangan dengan SPT ........................................... 8
II.5. Penyelidikan Lapangan dengan Sondir ..................................... 10
II.6. Macam-macam Pondasi ............................................................. 14
II.7. Pengertian Pondasi Tiang Pancang ............................................ 17
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


II.8. Pemancangan Tiang Pancang .................................................... 33
II.9. Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang berdasarkan
Data Lapangan ........................................................................... 37
II.10.Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang berdasarkan
Data Laboratorium ................................................................... 42
II.10.Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang berdasarkan
hasil loading test dengan metode Davisson .............................. 52
II.11. Tiang Pancang Kelompok ......................................................... 54
II.12. Kapasitas Kelompok dan Effisiensi Tiang Pancang ................ 57
II.13. Penuruna Tiang......................................................................... 60
II.14. Penurunan diijinkan ................................................................. 67
II.15. Faktor Keamanan ..................................................................... 67
II.16. Alasan Pemilihan Pondasi Tiang Pancang ............................... 70
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Data Umum ............................................................................... 71
III.2. Metode Pengumpulan Data .................................................... 72
III.3. Kondisi Umum Lokasi Studi .................................................... 75
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Pendahuluan .............................................................................. 77
IV.2. Pengumpulan Data dari Lapangan ........................................... 77
IV.2.1 Perhitungan kapaitas daya dukung tiang pancang dengan metode
Aoki dan De Alecander ................................................... 77
IV.2.2 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang dengan
metode langsung dari data sondir .................................... 82
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



IV.2.3 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang dari
hasil SPT ........................................................................... 87
IV.3. Pengumpulan Data dari Laboratorium .................................... 91
IV.3.1.Perhitungan kapasitas daya dukung tiang
berdasarkan parameter tanah ........................................ 91
IV.4 Menghitungan kapasitas kelompok tiang berdasarkan
effisiensi ...................................................................................... 95
IV.5Menghitung penurunan tiang tunggal dan penurunan
kelompok tiang ............................................................................ 96
IV.6 Diskusi ....................................................................................... 101
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan................................................................................ 103
V.2. Saran.................... ...................................................................... 104
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
II.1 Faktor Empiri Fb dan Fs ...................................................................... . 38
II.2 Nilai Faktor empiric untuk tipe tanah yang berbeda ............................ .39
II.3 Faktor Daya Dukung Meyerhof ........................................................... ......... 47
II.4 Nilai Ks untuk tiang pada pasir ............................................................ ......... 48
II.5 Harga sudut gesekan antara beberapa harga bahan pondasi dengan tanah atau
batuan .................................................................................................. ......... 49
II.6 Perkiraan angka poison ....................................................................... ......... 63
II.7 Faktor aman yang disarankan .............................................................. ......... 66
IV.1 Perhitungan daya dukung pondasi tiang titik S-1 dari sondir ................ ......... 83
IV.2 Perhitungan daya dukung pondasi tiang titik S-2 dari sondir ............... ......... 84
IV.3 Perhitungan tahanan ujung tiang pancang pada titik BH-1
dari data SPT ....................................................................................... ......... 87
IV.4 Perhitungan tahanan ujung tiang pancang pada titik BH-2
dari data SPT ....................................................................................... ......... 88
IV.5 Perhitungan daya dukung tiang pancang berdasarkan parameter kuat
geser tanah pada titik 1 (BH-1) ........................................................... ......... 91
IV.6 Perhitungan daya dukung tiang pancang berdasarkan parameter kuat
geser tanah pada titik 2 (BH-2) ........................................................... ......... 92
IV.7 Perkiraan penurunan tiang tunggal ....................................................... ......... 97
V.1 Hasil perhitungan daya dukung ............................................................ ......... 99

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
II.1 Dimensi Alat Sondir Mekanis ............................................................. 12
II.2 Cara Pelaporan Hasil Uji Sondir .......................................................... 13
II.3 Tipe Tipe Pondasi Dangkal ............................................................... 15
II.4 Pondasi Sumuran ................................................................................. 16
II.5 Pondasi Tiang ...................................................................................... 16
II.6 Tiang Pancang kayu ............................................................................ 20
II.7 Tiang Pancang Precast Reinforced Concrete Pile ................................. 22
II.8 Tiang Pancang Precast Prestressed Concrete Pile ................................. 23
II.9 Tiang Pancang Cast In Place ................................................................ 24
II.10 Tiang pancang baja .............................................................................. 25
II.11 Tiang Pancang Water Proofed steel pipe and wood pile ....................... 27
II.12 Tiang Pancang Composite ungased-concrete and wood pile ................ 29
II.13 Tiang Pancang composite dropped shell and pipe pile ....................... 30
II.14 Tiang Pancang Franki composite pile .................................................. 31
II.15 Pondasi tiang pancang dengan tahanan ujung ...................................... 32
II.16 Pondasi tiang pancang dengan tahanan gesekan ................................... 32
II.17 Proses Pemancangan Tiang Pancang .................................................... 36
II.18 Mekanisme Daya Dukung Tiang ......................................................... 39
II.19 Faktor Nq* ......................................................................................... 42
II.20 Garfik Daya Dukung Tanah Mayerhof ................................................ 44
II.21 Variasi harga berdasarkan kohesi tanah............................................. 47
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


II.22 Grafik harga berdasarkan Cu tanah ................................................... 47
II.23 Grafik hubungan harga dengan kedalaman ........................................ 51
II.24 Kurva beban penurunan untuk tanah tertentu ....................................... 53
II.25 Metode Davidson ................................................................................ 53
II.26 Pola-Pola kelompok tiang pancang khusus........................................... 55
II.27 Pengaruh tiang akibat pemancangan .................................................... 57
II.28 Tipe keruntuhan dalam kelompok tiang ............................................... 58
II.29 Defenisi jarak s dalam hitungan efisiensi tiang ..................................... 60
II.30 Faktor penurunan Io............................................................................. 62
II.31 Koreksi kompersi Rk ........................................................................... 63
II.32 Koreksi kedalaman Rh ......................................................................... 63
II.33 Koreksi angka poison .......................................................................... 63
II.34 Koreksi kekakuan lapisan pendukung Rb ............................................. 64
III.1 Lokasi Proyek ...................................................................................... 73
III.2 Tahapan Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 74
III.3 Gambar Lokasi sondir, SPT dan pengambilan contoh tanah untuk diuji di
laboratorium ........................................................................................ 76











I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


DAFTAR NOTASI

PK = Perlawanan Konus
JP =Jumlah Perlawanan (perlawanan ujung konus +selimut)
A =Interval pembacaan =20 cm
B =Faktor alat =luas konus/luas torak =10 cm
Q
b
= Kapasitas tahanan di ujung tiang
Q
s
=Kapasitas tahanan kulit
qc =Tahanan ujung sondir
A
p
=Luas penampang tiang
Kt =Keliling tiang
JHL =Jumlah hambatan lekat
q
p
=Tahanan ujung ultimate
q
c
=Harga rata-rata tahanan ujung konus
N =Harga SPT lapangan
Li =Panjang Lapisan tanah
Cu =kohesi undrained
=koefisien adhesi antara tanah dan tiang
Nc* =faktor daya dukung tanah
Nq* =faktor daya dukung tanah
Qp =Tahanan ujung persatuan luas
f =Satuan tahanan kulit persatuan luas
Ppu = Kapasitas ultimate tahan ujung tiang
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


q =Tegangan vertikal
Ko =koefisien tanah
Pps =Kapasitas ultimate tahanan kulit
=sudut geser efektif
A
s
=Luas selimut tiang
=Effisiensi alat pancang
Sg =Penuurunan kelompok tiang
Eg =Effisiensi kelompok tiang
Sijin =Penurunan yang diijinkan





























I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



BAB I
P E N D A H U L U A N

I.1 Umum
Pembangunan suatu konstruksi, pertama tama sekali yang dilaksanakan dan
dikerjakan dilapangan adalah pekerjaan pondasi (struktur bawah) baru kemudian
melaksanakan pekerjaan struktur atas. Pembangunan suatu pondasi sangat besar fungsinya
pada suatu konstruksi. Secara umum pondasi didefenisikan sebagai bangunan bawah tanah
yang meneruskan beban yang berasal dari berat bangunan itu sendiri dan beban luar yang
bekerja pada bangunan ke tanah yang ada disekitarnya.
Struktur bawah sebagai pondasi juga secara umum dapat dibagi dalam dua jenis yaitu
pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pemilihan jenis pondasi ini tergantung kepada jenis
struktur atas, apakah termasuk konstruksi beban ringan atau beban berat dan juga jenis
tanahnya.Untuk konstruksi beban ringan dan kondisi lapisan tanah permukaan cukup baik,
biasanya jenis pondasi dangkal sudah memadai. Tetapi untuk konstruksi beban berat biasanya
jenis pondasi dalam adalah menjadi pilihan, dan secara umum permasalahan perencanaan
pondasi dalam lebih rumit dari pondasi dangkal.
Untuk hal ini penulis mencoba mengkonsentrasikan Tugas Akhir ini kepada
permasalahan pondasi dalam, yaitu tiang pancang. Pondasi tiang pancang adalah batang yang
relative panjang dan langsing yang digunakan untuk menyalurkan beban pondasi melewati
lapisan tanah dengan daya dukung rendah kelapisan tanah keras yang mempunyai kapasitas
daya dukung tinggi yang relative cukup dalam dibanding pondasi dangkal. Daya dukung tiang
pancang diperoleh dari daya dukung ujung (end bearing capacity) yang diperoleh dari tekanan
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


ujung tiang dan daya dukung geser atau selimut (friction bearing capacity) yang diperoleh dari
daya dukung gesek atau gaya adhesi antara tiang pancang dan tanah disekelilingnya.
Secara umum tiang pancang dapat diklasifikasikan antara lain: dari segi bahan ada
tiang pancang bertulang, tiang pancang pratekan, tiang pancang baja, dan tiang pancang kayu.
Dari segi bentang penampang, tiang panang bujur sangkar, segitiga, segi enam, bulat padat,
pipa, huruf H, huruf I, dan bentuk spesifik. Dari segi teknik pemancangan, dapat dilakukan
dengan palu jatuh (drop hammer), diesel hammer, dan hidrolic hammer.
Tiang pancang berinteraksi dengan tanah untuk menghasilkan daya dukung yang
mampu memikul dan memberikan keamanan pada struktur atas. Untuk menghasilkan daya
dukung yang akurat maka diperlukan suatu penyelidikan tanah yang akurat juga. Ada dua
metode yang biasa digunakan dalam penentuan kapasitas daya dukung tiang pancang yaitu
dengan menggunakan metode statis dan metode dinamis.
Penyelidikan tanah dengan menggunakan metode statis adalah penyelidikan sondir dan
standart penetrasi test (SPT). Penyelidikan sondir bertujuan untuk mengetahui perlawanan
penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan daya dukung
lapisan tanah dengan menggunakan rumus empiris.
Penyelidikan standart penetrasi test (SPT) bertujuan untuk mendapatkan gambaran
lapisan tanah berdasarkan jenis dan warna tanah melalui pengamatan secara visual, sifat-sifat
tanah, karakteristik tanah. Data standart penetrasi test (SPT) dapat digunakan untuk
menghitung daya dukung.
Perencanaan pondasi tiang pancang mencakup rangkaian kegiatan yang dilaksanakan
dengan berbagai tahapan yang meliputi studi kelayakan dan perencanaan teknis. Semua itu
dilakukan supaya menjamin hasil akhir suatu konstruksi yang kuat, aman serta ekonomis.
I.2 Latar Belakang
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Adapun latar belakang tugas akhir ini adalah untuk membandingkan hasil penyelidikan
lapangan dari sondir, hasil penyelidikan lapangan dari SPT dan hasil penyelidikan
laboratorium berupa parameter geser tanah dalam menghitung daya dukung pondasi tiang dari
hasil ketiga jenis alat uji tersebut, hasil dari perhitungan tersebut akan dibandingkan, sehingga
akan diperoleh perbedaannya dan juga diharapkan akan diperoleh daya dukung pondasi tiang
yang paling aman serta menguntungkan dari masing masing penyelidikan lapangan tersebut
sehingga dapat diperoleh daya dukung yang baik dimana hasilnya dipakai untuk mendesain
pondasi yang aman dan ekonomis.

I.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah :
a. Menghitung daya dukung tiang pancang dari hasil sondir, standar penetrasi test, dan
parameter kuat geser tanah.
b. Membandingkan hasil daya dukung tiang pancang dari metode penyelidikan.
c. Menghitung kapasitas kelompok ijin tiang.
d. Menghitung penurunan yang terjadi pada tiang pancang.

I.4 Manfaat
Penulisan Tugas Akhir ini diharapkan bermanfaat bagi :
a. Sebagai bahan referensi bagi siapa saja yang membacanya khususnya bagi mahasiswa
yang menghadapi masalah yang sama.
b. Untuk pihak-pihak lain yang membutuhkannya.

I.5 Pembatasan Masalah
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Pada pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Kanwil DJP dan KPP Sumagut I Jalan
Suka Mulia Medan terdapat banyak permasalahan yang dapat ditinjau dan dibahas, maka
didalam laporan ini sangatlah perlu kiranya diadakan suatu pembatasan masalah. Yang
bertujuan menghindari kekaburan serta penyimpangan dari masalah yang dikemukakan
sehingga semua sesuatunya yang dipaparkan tidak menyimpang dari tujuan semula. Walaupun
demikian, hal ini tidaklah berarti akan memperkecil arti dari pokok-pokok masalah yang
dibahas disini, melainkan hanya karena keterbatasan belaka. Namun dalam penulisan laporan
ini permasalahan yang ditinjau hanya dibatasi pada :
a. Hanya ditinjau untuk tiang pancang tegak lurus.
b. Hanya ditinjau pada jenis tiang pancang beton pracetak.
c. Tidak meninjau akibat gaya horizontal.
d. Perhitungan penurunan hanya pada tanah pasir.

I.6 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan Tugas Akhir ini dilakukan beberapa cara untuk dapat mengumpulkan
data yang mendukung agar Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Beberapa cara
yang dilakukan antara lain:
a. Metode observasi
Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan data teknis pondasi tiang pancang
diperoleh dari hasil survey langsung ke lokasi proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJP dan
KPP Sumbagut I Medan.
b. Pengambilan data
Pengambilan data yang diperlukan dalam perencanaan diperoleh dari PT. Patron selaku
konsultan manajemen konstruksi berupa data hasil sondir, hasil SPT, data laboratorium.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


c. Melakukan studi keperpustakaan
Membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau untuk penulisan
Tugas Akhir ini.



























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pendahuluan
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Pada bab ini akan dibahas mengenai yang umum di pakai dalam penyelidikan di
lapangan dan metode pelaksanaanya. Terutama yang akan dijelaskan disini adalah mengenai
penyelidikan lapangan dengan SPT dan juga dengan Cone Penetration Test (CPT, Sondir).
Pada bab ini juga akan dicoba dibahas mengenai interpretasi secara teoritis, dari hasil
SPT dan Sondir dalam memperkirakan parameter parameter tanah dan korelasi hasil
penyelidikan lapangan tersebut terhadap parameter parameter tanah.

II.2 Defenisi Tanah
Tanah, pada kondisi alam, terdiri dari campuran butiran-butiran mineral dengan atau
tanpa kandungan bahan organik. Butiran-butiran tersebut dapat dengan mudah dipisahkan satu
sama lain dengan kocokan air. Material ini berasal dari pelapukan batuan, baik secara fisik
maupun kimia. Sifat-sifat teknis tanah, kecuali oleh sifat batuan induk yang merupakan
material asal, juga dipengaruhi oleh unsur-unsur luar yang menjadi penyebab terjadinya
pelapukan batuan tersebut.
Istilah-istilah seperti kerikil, pasir, lanau dan lempung digunakan dalam teknik sipil
untuk membedakan jenis-jenis tanah. Pada kondisi alam, tanah dapat terdiri dari dua atau lebih
campuran jenis-jenis tanah dan kadang-kadang terdapat pula kandungan bahan organik.
Material campurannya kemudian dipakai sebagai nama tambahan dibelakang material unsur
utamanya. Sebagai contoh, lempung berlanau adalah tanah lempung yang mengandung lanau
dengan material utamanya adalah lempung dan sebagainya.
Tanah terdiri dari 3 komponen, yaitu udara, air dan bahan padat. Udara dianggap tidak
mempunyai pengaruh teknis, sedangkan air sangat mempengaruhi sifat-sifat teknis tanah.
Ruang diantara butiran-butiran, sebagian atau seluruhnya dapat terisi oleh air atau udara. Bila
rongga tersebut terisi air seluruhnya, tanah dikatakan dalam kondisi jenuh. Bila rongga terisi
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


udara dan air, tanah pada kondisi jenuh sebagian (partially saturated). Tanah kering adalah
tanah yang tidak mengandung air sama sekali atau kadar airnya nol.

II.3 Penyelidikan Lapangan dengan Pengeboran
Jenis pengeboran yang dilakukan dalam proyek ini adalah jenis pengeboran yang
menggunakan bor mesin. Besar daya mesin yang diperlukan bergantung pasa tipe auger,
ukuran auger dan jenis tanah yang akan dipenetrasi.
Penyelidikan lapangan yang dilaksanakan ini adalah dengan menggunakan jenis
peralatan bor mesin. Pengeboran yang dilakukan dalam proyek ini adalah untuk menentukan
profil lapisan tanah terhadap kedalaman dan juga untuk menentukan sifat sifat fisis tanah
meliputi : jenis tanah, warna tanah, tingkat plastisitas tanah, serta juga untuk pengambilan
sampel tanah dalam tabung untuk dilakukan pengujian di laboratorium. Lebih terperinci
penyelidikan dengan pengeboran ini bertujuan :
o Untuk mengevaluasi keadaan tanah secara visual terperinci
o Untuk mengambil sampel layer demi layer sampai kedalaman yang diinginkan untuk
dideskripsi
o Untuk mengambil sampel tak terganggu (undisturbed) dan sampel terganggu (disturbed)
untuk diselidiki di laboratorium.
o Untuk melaksanakan test penetrasi SPT yang digunakan untuk menduga kedalaman tanah
keras.

II.4 Penyelidikan Lapangan Dengan Standar Penetration Test (SPT)
Metode SPT adalah metode pemancangan batang (yang memiliki ujung pemancangan)
ke dalam tanah dengan menggunakan pukulan palu dan mengukur jumlah pukulan
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


perkedalaman penetrasi. Cara ini telah dibakukan sebagai ASTMD 1586 sejak tahun 1958
dengan revisi revisi secara berkala sampai sekarang.
Pemancangan biasanya dilakukan dengan beban 140 lbs ( 63.5 kg ) yang dijatuhkan
dari ketinggian 30 atau 75 cm.
Pengamatan dan perhitungan dilakukan sebagai berikut :
a. Mula mula tabung SPT dipukul kedalam tanah sedalam 45 cm yaitu kedalaman yang
diperkirakan akan terganggu oleh pengeboran.
b. Kemudian untuk setiap kedalaman 15 cm dicatat jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk
memasukkannya.
Jumlah pukulan untuk memasukkan split spoon 15 cm pertama dicata sebagai N1. jumlah
pukulan untuk memasukkan 15 cm kedua adalah N2 dan jumlah pukulan untuk
memasukkan 15 cm ketiga adalah N3. jadi total kedalaman setelah pengujian SPT adalah
45 cm dan menghasilkan N1, N2 dan N3.
c. Angka SPT ditetapkan dengan menjumlahkan 2 angka pukulan terakhir (N2+N3) pada
setiap interval pengujian dan dicatat pada lembaran Drilling Log.
d. Setelah selesai pengujian, tabung SPT diangkat dari lubang bor kepermukaan tanah untuk
diambil contoh tanahnya dan dimasukkan kedalam kantong plastik untuk diamati di
laboratorium.
Hasil dari pekerjaan Bor dan SPT kemudian dituangkan dalam lembaran drilling log yang
berisi :
Deskripsi tanah meliputi : jenis tanah, warna tanah, tingkat plastisitas dan ketebalan
lapisan tanah masing masing.
Pengambilan contoh tanah asli / Undisturbed sample (UDS)
Pengujian Standart Penetration Test (SPT)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Muka air tanah
Tanggal pekerjaan dan berakhirnya pekerjaan.
Jumlah N pukulan memberikan petunjuk tentang kerapatan relatif dilapangan khususnya tanah
pasir atau kerikil dan hambatan jenis tanah terhadap penetrasi. Uji ini biasanya digunakan
untuk tanah yang keras.

II.4.1 Tujuan Percobaan SPT
1. Untuk menentukan kepadatan relatif lapisan tanah tersebut dari pengambilan contoh
tanah dengan tabung, dapat diketahui jenis tanah dan ketebalan tiap tiap lapisan
kedalaman tanah tersebut.
2. Memperoleh data yang kualitatif pada perlawanan penetrasi tanah dan menetapkan
kepadatan dari tanah yang tidak berkohesi yang biasanya sulit diambil sampelnya.

II.4.2 Kegunaan hasil penyelidikan SPT
1. Menentukan kedalaman dan tebal masing masing lapisan tanah tersebut
2. Alat dan cara operasinya relatif sederhana
3. Contoh tanah terganggu dapat diperoleh untuk identifikasi jenis tanah, sehingga
interpretasi kuat geser dan deformasi tanah dapat diperkirakan dengan baik.
II.5 Penyelidikan lapangan dengan Dutch Cone Penetrometer Test (DCPT, Sondir)
Penyondiran adalah suatu proses memasukkan alat sondir secara tegak lurus kedalam
tanah untuk mengetahui besarnya perlawanan penetrasi tanah terhadap kedalaman lapisan
tanah yang ditembus alat sondir tersebut.
Alat sondir adalah suatu alat yang berbentuk silinder dengan ujungnya berupa suatu konus.
Dimana pada pengujian sondir, alat ini ditekan kedalam tanah untuk mengukur perlawanan
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


tanah pada ujung sondir ( tahanan ujung ) dan gesekan pada selimut sondir ( hambatan lekat
atau gesekan selimut ). Standarisasi alat sondir di Indonesia belum dilakukan hingga saat ini.
Standar alat sondir yang umum digunakan dan telah diterima secara luas tercantum dalam
ASTM D 3441-75T yaitu : sondir yang mempunyai luas proyeksi ujung konus sebesar 10 cm2
dan luas selimutnya sebesar 150 cm2, penetrasi yang dilakukan dengan manual atau hidrolik
dengan kecepatan tidak lebih dari 2 cm/det.
Alat sondir terdiri dari konus atau bikonus yang dihubungkan dengan batang dalam
penyanggah (casing). Kemudian alat sondir ini ditekan kedalam tanah dengan bantuan mesin
sondir hidraulik yang digerakkan secara manual. Ada 2 type ujung konus pada sondir mekanis
yaitu ( lihat Gambar II.1 ) :
Konus biasa, yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan biasanya digunakan pada
tanah berbutir kasar, dimana besar perlawanan lekatnya kecil.
Bikonus yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan hambatan lekatnya yang
biasanya digunakan pada tanah yang berbutir halus.
Pembacaan tahanan ujung konus dan hambatan lekatnya dilakukan pada setiap kedalaman 20
cm. Cara pembacaan pada sondir secara mekanis adalah secara manual dan bertahap, yaitu
dengan mengukur tahanan ujung dengan alat ukur menometer kemudian baru diukur gesekan
selimaut dan tahanan ujung sehingga hasil laporan adalah pengurangan pengukuran
(pembacaan) kedua terhadap pengukuran (pembacaan) pertama. Cara penetrasi sondir mekanis
(konus dan bikonus). Selanjutnya dilakukan perhitungan bedasarkan rumus sebagai berikut :
- Hambatan lekat (HL) dihitung dengan rumus :
HL = ( JP PK ) / AB ................................................................................... ( II.1)
- Jumlah hambatan lekat (JHL) dihitung dengan rumus :
JHL
i
=
i
o
HL ................................................................................................. ( II.2 )
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Dimana :
PK = Perlawanan penetrasi konus (q
c
)
JP = J lh perlawanan ( perlawanan ujung konus + selimut )
A = Interval pembacaan =20 cm
B = Faktor alat =luas konus/luas torak =10 cm
i = Kedalaman lapisan yang ditinjau

II.5.1 Kegunaan ujin sondir adalah :
1. Untuk menentukan profil dan karakteristik tanah
2. Merupakan pelengkapan bagi informasi dari pengeboran tanah
3. Menentukan daya dukung pondasi
4. Untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras serta daya dukung maupun daya lekat
setiap kedalaman
5. Untuk memeberikan gambaran jenis tanah secara kontinu
6. Untuk mengevaluasi (meninjau kembali) karakteristik teknis tanah



II.5.2 Tujuan uji sondir adalah :
1. Tujuan praktis : untuk mengetahui kedalaman dan kekuatan lapisan lapisan tanah
2. Tujuan teoritis :
a. Untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus ( penetrasi terhadap ujung konus yang
dinyatakan dalam gaya persatuan luas )
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


b.Untuk mengetahui jumlah hamabatan lekat tanah ( perlawanan geser atau friction
tanah terhadap selubung bikonus yang dinyatakan dalam gaya persatuan panjang )



























( a ) ( b )
Gambar II.1 Dimensi Alat Sondir Mekanis
a) Konus b) Bikonus
II.5.3 Cara Pelaporan hasil uji sondir
Cara pelaporan hasil uji sondir biasanya dilakukan dengan menggambarkan variasi
tahanan ujung ( q
c
) dengan gesekan selimut ( f
s
) terhadap kedalamannya. Bila hasil sondir
diperlukan untuk mendapatkan daya dukung tiang, maka diperlukan harga komulatif gesekan
(jumlah hambatan lekat), yaitu dengan menjumlahkan harga gesekan selimut terhadap
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


kedalaman, sehingga pada kedalaman yang ditinjau dapat diperoleh gesekan total yang dapat
digunakan untuk menghitung gesekan pada kulit tiang.
Besaran gesekan komulatif ( total friction ) diadaptasikan dengan sebutan jumlah
hambatan lekat (JHL). Bila hasil sondir digunakan untuk klasifikasi tanah, maka cara
pelaporan hasil sondir ang diperlukan adalah menggambarkan tahanan ujung ( q
c
), gesekan
selimut ( f
s
), dan ratio gesekan ( FR ) terhadap kedalaman tanah. Data sondir tersebut
digunakan untuk mengidentifikasi dari profil tanah terhadap kedalaman.

















Gambar II. 2 Cara Pelaporan Hasil Uji Sondir
Sumber: Ir. Sardjono, H. S. Pondasi Tiang Pancang, jilid I

II.6 Macam-macam Pondasi
Pondasi adalah bagian paling bawah dari suatu bangunan yang meneruskan beban
bangunan bagian atas kelapisan tanah atau batuan yang berada dibawahnya. Klasifikasi
pondasi dibagi 2 (dua) yaitu:
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


1. Pondasi dangkal
Pondasi dangkal adalah pondasi yang mendukung beban secara langsung seperti :
a. Pondasi setempat
Biasanya digunakan pada tanah yang mempunyai nilai daya dukung berbeda beda
di satu tempat pada suatu lokasi bangunan yang akan dibangun. Untuk mentransfer beban
yang dipikul oleh pondasi ini, agar dapat merata didistribusikan pada semua tempat
biasanya dibuat beberapa pondasi setempat kemudian dihubungkan dengan plat balok.
Untuk pemakaian pondasi seperti ini biasanya dijumpai pada pondasi rumah tinggal
gedung bertingkat, ataupun gudang gudang tempat penimbunan barang dimana untuk
setiap titik pondasi setempat diteruskan oleh kolom balok ke atasnya ataupun rangka baja
(Gambar II.3.a).
b. Pondasi Menerus
Digunakan pada tanah yang mempunyai nilai daya dukung yang seragam pada satu
lokasi pekerjaan yang akan dibangun. Pemakaian pondasi ini sangat ekonomis dari segi
pelaksanaannya, dan dapat dipakai pasangan batu kali untuk pasangan pondasi bentuk
trapesiumnya dan plat beton untuk dasar pondasi tersebut. Kemampuan pondasi ini dalam
mentransfer beban kebawah pondasi (tanah) dianggap bisa merata akibat kemampuan daya
dukung tanah yang homogen dalam meredam beban yang dipikul oleh pondasi (Gambar
II.3.b).


c. Pondasi Tikar
Jenis pondasi ini umumnya berlaku untuk tanah yang mempunyai nilai daya
dukung tanah yang sangat kecil, dimana jenis tanah tersebut termasuk jenis tanah CH
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


menurut USCS (Unified Soil Classification System). Nilai daya dukung tanah yang sangat
kecil, mengakibatkan kemampuan tanah dalam memberikan daya dukung sangat kecil.
Untuk mendapatkan nilai daya dukung yang maksimum, biasanya digunakan pondasi
seperti ini dengan mengandalkan luasan plat untuk memberikan daya dukung yang
maksimum dan dikombinasikan dengan pondasi tiang ke atas, sehingga nilai friksi
tambahan dapat diharapkan sepanjang tiang untuk menambah nilai friction file antara tiang
dan tanah juga nilai daya dukung ujung (end bearing file) dari luasan pondasi. Mengingat
konstruksi tersebut tidak ekonomis dari segi pelaksanaanya untuk gedung yang sederhana,
maka konstruksi tersebut banyak dipakai pada gedung bertingkat (Gambar II.3.c).
Plat Balok
Beban Beban
M.T





Pondasi Setempat Pondasi Setempat
( a )








( b )


M.T






Plat Beton

Pasangan Batu
Kali
Beban
Beban
Beban



I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009





( c )
Gambar II.3 Tipe tipe pondasi dangkal
2. Pondasi dalam
Pondasi dalam adalah pondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah keras atau
batu yang terletak jauh dari permukaan, seperti:
a. Pondasi sumuran (pier foundation) yaitu pondasi yang merupakan peralihan antara
pondasi dangkal dan pondsi tiang (Gambar II.5), digunakan bila tanah dasar yang kuat
terletak pada kedalaman yang relatif dalam, dimana pondasi sumuran nilai kedalaman
(Df) dibagi lebarnya (B) lebih besar 4 sedangkan pondasi dangkal Df/B 1.
b. Pondasi tiang (pile foundation), digunakan bila tanah pondasi pada kedalaman yang
normal tidak mampu mendukung bebannya dan tanah kerasnya terletak pada
kedalaman yang sangat dalam (Gambar II.4). Pondasi tiang umumnya berdiameter
lebih kecil dan lebih panjang dibanding dengan pondasi sumuran (Bowles, 1991).




Gambar II.4 Pondasi Tiang




Perletakan Pondasi SumuranPada Tanah Keras
(Sistem Kombinasi)
Tiang Pendukung Beban
Perletakan Pondasi Sumuran Pada tanah lempung



Muka Tanah
Muka Tanah




Tanah keras

Muka Tanah

Muka Tanah
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009









Gambar II.5 Pondasi Sumuran
II.7 Pengertian Pondasi Tiang Pancang
Tiang pancang adalah bagian dari suatu konstruksi pondasi yang terbuat dari kayu,
beton dan baja yang berbentuk langsing yang dipancang hingga tertanam dalam tanah pada
kedalaman tertentu berfungsi untuk menyalurkan atau mentransmisikan beban dari struktur
atas melewati tanah lunak ke lapisan tanah yang keras. Hal ini merupakan distribusi vertikal
dari beban sepanjang poros tiang pancang atau pemakaian beban secara langsung terhadap
lapisan yang lebih rendah melalui ujung tiang pancang. Distribusi muatan vertical dibuat
dengan menggunakan gesekan, atau tiang pancang apung. Kebanyakan tiang pancang
dipancangkan kedalam tanah, akan tetapi ada beberapa tipe yang dicor setempat dengan cara
dibuatkan lubang terlebih dahulu dengan mengebor tanah.
Pada umumnya tiang pancang dipancangkan tegak lurus kedalam tanah, tetapi apabila
diperlukan untuk dapat menahan gaya-gaya horizontal maka tiang pancang akan dipancang
miring. Sudut kemiringan yang dicapai oleh tiang pancang tergantung dari pada alat pncang
yang digunakan serta disesuaikan dengan perencanaannya.
Tiang pancang pada konstruksi pondasi mempunyai bebrapa jenis, baik dari segi jenis
tiangnya maupun dalam pelaksanaan ( pembuatan ) pondasi tiang tersebut.
Pada perencanaan pondasi tiang pancang, kekuatan pondasi antara lain ditentukan oleh
kapasitas daya dukung sebuah tiang, dan kapasitas daya dukung tiang pancang tersebut
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


umumnya ditentukan oleh kekuatan reaksi tanah dalam mendukung tiang yang dibebani dan
pada kekuatan tiang itu sendiri dalam menahan serta menyalurkan beban diatasnya.
II. 7. 1 Penggolongan pondasi tiang pancang
Pondasi tiang pancang dapat digolongkan berdasarkan pemakaian bahan, cara tiang
meneruskan beban dan cara pemasangannya, berikut ini akan dijelaskan satu perstu
II. 7. 1. 1 Pondasi tiang pancang menurut pemakaian bahan
Pembagian tiang pancang menurut pamakaian bahan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
A. Tiang Pancang Kayu
Tiang pancang kayu dibuat dari batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipotong
dengan hati-hati, biasanya diberi bahan pengawet dan didorong dengan ujungnya yang kecil
sebagai bagian yang runcing. Kadang-kadang ujungnya yang besar didorong untuk maksud-
maksud khusus, seperti dalam tanah yang sangat lembek dimana tanah tersebut akan bergerak
kembali melawan poros. Kadang kala ujungnya runcing dilengkapi dengan sebuah sepatu
pemancangan yang terbuat dari logam bila tiang pancang harus menembus tanah keras atau
tanah kerikil.
Pemakaian tiang pancang kayu ini adalah cara tertua dalam penggunaan tiang pancang
sebagai pondasi. Tiang kayu akan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila tiang kayu
tersebut dalam keadaan selalu terendam penuh di bawah muka air tanah. Tiang pancang dari
kayu akan lebih cepat rusak atau busuk apabila dalam keadaan kering dan basah yang selalu
berganti-ganti.
Sedangkan pengawetan serta pemakaian obat-obatan pengawet untuk kayu hanya akan
menunda atau memperlambat kerusakan dari pada kayu, akan tetapi tetap tidak akan dapat
melindungi untuk seterusnya. Pada pemakaian tiang pancang kayu biasanya tidak diijinkan
untuk menahan muatan lebih besar dari 25 sampai 30 ton untuk setiap tiang.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tiang pancang kayu ini sangat cocok untuk daerah rawa dan daerah-daerah dimana
sangat banyak terdapat hutan kayu seperti daerah Kalimantan, sehingga mudah memperoleh
balok/tiang kayu yang panjang dan lurus dengan diameter yang cukup besar untuk di gunakan
sebagai tiang pancang.
a. Keuntungan pemakaian tiang pancang kayu :
Tiang pancang kayu relatif ringan sehingga mudah dalam pengangkutan;
Kekuatan tariknya besar sehingga pada waktu diangkat untuk pemancangan tidak
menimbulkan kesulitan seperti pada tiang pancang beton precast;
Muda untuk pemotongannya apabila tiang kayu sudah tidak dapat masuk lagi ke dalam
tanah;
Tiang pancang kayu lebih sesuai untuk friction pile dari pada end bearing pile karena
tekanannya relatif kecil.
b. Kerugian pemakaian tiang pancang kayu :
Karena tiang pancang ini harus selalu terletak di bawah muka air tanah yang terendah
agar dapat tahan lama, maka kalau air tanah yang terendah itu letaknya sangat dalam,
hal ini akan menambah biaya untuk penggalian.
Tiang pancang yang di buat dari kayu mempunyai umur yang relative kecil di
bandingkan dengan tiang pancang yang di buat dari baja atau beton, terutama pada
daerah yang muka air tanahnya sering naik dan turun.
Pada waktu pemancangan pada tanah yang berbatu ( gravel ) ujung tiang pancang kayu
dapat dapat berbentuk berupa sapu atau dapat pula ujung tiang tersebut merenyuk.
Apabila tiang kayu tersebut kurang lurus, maka pada waktu dipancangkan akan
menyebabkan penyimpangan terhadap arah yang telah ditentukan.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tiang pancang kayu tidak tahan terhadap benda-benda yang agresif dan jamur yang
menyebabkan kebusukan.








Gambar II.6 Tiang Pancang Kayu

B. Tiang Pancang Beton
1. Precast Renforced Concrete Pile
Precast Renforced Concrete Pile adalah tiang pancang dari beton bertulang yang
dicetak dan dicor dalam acuan beton ( bekisting ), kemudian setelah cukup kuat lalu diangkat
dan di pancangkan. Karena tegangan tarik beton adalah kecil dan praktis dianggap sama
dengan nol, sedangkan berat sendiri dari pada beton adalah besar, maka tiang pancang beton
ini haruslah diberi penulangan-penulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur
yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan. Karena berat sendiri adalah
besar, biasanya pancang beton ini dicetak dan dicor di tempat pekerjaan, jadi tidak membawa
kesulitan untuk transport.
Tiang pancang ini dapat memikul beban yang besar ( >50 ton untuk setiap tiang ), hal
ini tergantung dari dimensinya. Dalam prencanaan tiang pancang beton precast ini panjang dari
pada tiang harus dihitung dengan teliti, sebab kalau ternyata panjang dari pada tiang ini kurang
terpaksa harus di lakukan penyambungan, hal ini adalah sulit dan banyak memakan waktu.
a. Keuntungan pemakaian Precast Concrete Reinforced Pile
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Precast Concrete Reinforced Pile ini mempunyai tegangan tekan yang besar, hal ini
tergantung dari mutu beton yang di gunakan.
Tiang pancang ini dapat di hitung baik sebagai end bearing pile maupun friction pile.
Karena tiang pancang beton ini tidak berpengaruh oleh tinggi muka air tanah seperti
tiang pancang kayu, maka disini tidak memerlukan galian tanah yang banyak untuk
poernya.
Tiang pancang beton dapat tahan lama sekali, serta tahan terhadap pengaruh air
maupun bahan-bahan yang corrosive asal beton dekkingnya cukup tebal untuk
melindungi tulangannya.
b. Kerugian pemakaian Precast Concrete Reinforced Pile
Karena berat sendirinya maka transportnya akan mahal, oleh karena itu Precast
reinforced concrete pile ini di buat di lokasi pekerjaan.
Tiang pancang ini di pancangkan setelah cukup keras, hal ini berarti memerlukan
waktu yang lama untuk menunggu sampai tiang beton ini dapat dipergunakan.
Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan
memerlukan waktu yang lama.
Bila panjang tiang pancang kurang, karena panjang dari tiang pancang ini tergantung
dari pada alat pancang ( pile driving ) yang tersedia maka untuk melakukan
panyambungan adalah sukar dan memerlukan alat penyambung khusus.





I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009




Gambar II.7 Tiang Pancang Precast Reinforced Concrete Pile
2. Precast Prestressed Concrete Pile
Precast Prestressed Concrete Pile adalah tiang pancang dari beton prategang yang
menngunakan baja penguat dan kabel kawat sebagai gaya prategangnya
a. Keuntungan pemakaian Precast prestressed concrete pile
Kapasitas beban pondasi yang dipikulnya tinggi.
Tiang pancang tahan terhadap karat.
Kemungkinan terjadinya pemancangan keras dapat terjadi
b. Kerugian pemakaian Precast prestressed concrete pile
Pondasi tiang pancang sukar untuk ditangani.
Biaya permulaan dari pembuatannya tinggi.
Pergeseran cukup banyak sehingga prategang sukar untuk disambung.








Gambar II.8 Tiang pancang Precast Prestressed Concrete Pile
Sumber : Bowles, 1991
3. Cast in Place Pile
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Pondasi tiang pancang tipe ini adalah pondasi yang di cetak di tempat dengan jalan
dibuatkan lubang terlebih dahulu dalam tanah dengan cara mengebor tanah seperti pada
pengeboran tanah pada waktu penyelidikan tanah. Pada Cast in Place ini dapat dilaksanakan
dua cara:
1. Dengan pipa baja yang dipancangkan ke dalam tanah, kemudian diisi dengan beton dan
ditumbuk sambil pipa tersebut ditarik keatas.
2. Dengan pipa baja yang di pancangkan ke dalam tanah, kemudian diisi dengan beton,
sedangkan pipa tersebut tetap tinggal di dalam tanah.
a. Keuntungan pemakaian Cast in Place
Pembuatan tiang tidak menghambat pekerjan.
Tiang ini tidak perlu diangkat, jadi tidak ada resiko rusak dalam transport.
Panjang tiang dapat disesuaikan dengan keadaan dilapangan.
b. Kerugian pemakaian Cast in Place
Pada saat penggalian lubang, membuat keadaan sekelilingnya menjadi kotor akibat
tanah yang diangkut dari hasil pengeboran tanah tersebut.
Pelaksanaannya memerlukan peralatan yang khusus.
Beton yang dikerjakan secara Cast in Place tidak dapat dikontrol.













I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009








Gamabar II.9 Tiang Pancang Cast In Place Franki Pile


C. Tiang pancang baja
Jenis tiang pancang baja ini biasanya berbentuk profil H. karena terbuat dari baja maka
kekuatan dari tiang ini adalah sangat besar sehingga dalam transport dan pemancangan tidak
menimbulkan bahaya patah seperti pada tiang pancang beton precast. Jadi pemakaian tiang
pancang ini sangat bermanfaat jika dibutuhkan tiang pancang yang panjang dengan tahanan
ujung yang besar. Tingkat karat pada tiang pancang baja sangat berbeda - beda terhadap
texture (susunan butir) dari komposisi tanah, panjang tiang yang berada dalam tanah dan
keadaan kelembaban tanah (moisture content).
Pada tanah dengan susunan butir yang kasar, karat yang terjadi hampir mendekati
keadaan karat yang terjadi pada udara terbuka karena adanya sirkulasi air dalam tanah. Pada
tanah liat (clay) yang kurang mengandung oksigen akan menghasilkan karat yang mendekati
keadaan seperti karat yang terjadi karena terendam air. Pada lapisan pasir yang dalam letaknya
dan terletak di bawah lapisan tanah yang padat akan sedikit sekali mengandung oksigen, maka
lapisan pasir tersebut akan menghasilkan karat yang kecil sekali pada tiang pancang baja.
a. Keuntungan pemakaian tiang pancang baja :
Tiang pancang ini mudah dalam hal penyambungan;
Tiang pancang baja mempunyai kapasitas daya dukung yang tinggi;
Dalam pengangkutan dan pemancangan tidak menimbulkan bahaya patah.
b. Kerugian pemakaian tiang pancang baja :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tiang pancang ini mudah mengalami korosi;
Tiang pancang H dapat mengalami kerusakan besar saat menembus tanah keras dan
yang mengandung batuan, sehingga diperlukan penguatan ujung.

















Gambar II.10 Tiang Pancang Baja





D. Tiang Pancang Komposit.
Tiang pancang komposit adalah tiang pancang yang terdiri dari dua bahan yang
berbeda yang bekerja bersama-sama sehingga merupakan satu tiang. Kadang-kadang pondasi
tiang dibentuk dengan menghubungkan bagian atas dan bagian bawah tiang dengan bahan
yang berbeda, misalnya dengan bahan beton di atas muka air tanah dan bahan kayu tanpa
perlakuan apapun disebelah bawahnya. Biaya dan kesulitan yang timbul dalam pembuatan
sambungan menyebabkan cara ini diabaikan.
1. Water Proofed Steel and Wood Pile.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tiang ini terdiri dari tiang pancang kayu untuk bagian yang di bawah permukaan air
tanah sedangkan bagian atas adalah beton. Kita telah mengetahui bahwa kayu akan tahan
lama/awet bila terendam air, karena itu bahan kayu disini diletakan di bagian bawah yang
mana selalu terletak dibawah air tanah.
Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
a. Casing dan core dipancang bersamaan ke dalam tanah hingga mencapai kedalaman yang
telah ditentukan untuk meletakkan tiang pancang kayu tersebut dan harus terletak di
bawah muka air tanah yang terendah;
b. Kemudian core di tarik ke atas dan tiang pancang kayu dimasukkan ke dalam casing dan
terus dipancang hingga mencapai lapisan tanah keras;
c. Setelah mencapai lapisan tanah keras, pemancangan dihentikan dan core ditarik keluar
dari casing. Kemudian beton dicor ke dalam casing sampai penuh terus dipadatkan
dengan menumbukkan core ke dalam casing.

















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



Gambar II.11 Tiang Pancang Water proofed steel pipe and wood pile

2. Composite Dropped in Shell and Wood Pile
Tipe tiang ini hampir sama dengan tipe diatas hanya bedanya di sini memakai shell yang
terbuat dari bahan logam tipis permukaannya di beri alur spiral. Secara singkat pelaksanaanya
sebagai berikut:
a. Casing dan core dipancang bersama-sama sampai mencapai kedalaman yang telah
ditentukan di bawah muka air tanah.
b. Setelah mencapai kedalaman yang dimaksud core ditarik keluar dari casing dan tiang
pancang kayu dimasukkan dalam casing terus dipancang sampai mencapai lapisn tanah
keras. Pada pemancangan tiang pancang kayu ini harus diperhatikan benar-benar agar
kepala tiang tidak rusak atau pecah.
c. Setelah mencapai lapisan tanah keras core ditarik keluar lagi dari casing.
d. Kemudian shell berbentuk pipa yang diberi alur spiral dimasukkan dalam casing. Pada
ujung bagian bawah shell dipasang tulangan berbentuk sangkar yang mana tulangan ini
dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat masuk pada ujung atas tiang pancang kayu
tersebut.
e. Beton kemudian dicor kedalam shell. Setelah shell cukup penuh dan padat casing
ditarik keluar sambil shell yang telah terisi beton tadi ditahan terisi beton tadi ditahan
dengan cara meletakkan core diujung atas shell.
3. Composite ungased concrete and wood pile
Dasar pemilihan tiang ini adalah :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


a. Lapisan tanah keras dalam sekali letaknya sehingga tidak memungkinkan untuk
menggunakan cast in place concrete pile. Sedangkan kalau menggunakan precast
concrete pile akan terlalu panjang sehingga akan sulit dalam pengangkutan dan
biayanya juga akan lebih besar;
b. Muka air tanah terendah sangat dalam sehingga apabila kita menggunakan tiang
pancang kayu akan memerlukan galian yang sangat besar agar tiang pancang tersebut
selalu di bawah muka air tanah terendah.
Cara pelaksanaan tiang ini adalah sebagai berikut :
1) Casing baja dan core dipancang ke dalam tanah hingga mencapai kedalaman yang telah
ditentukan di bawah muka air tanah;
2) Kemudian core ditarik keluar dari casing dan tiang pancang kayu dimasukkan dalam casing
terus dipancang sampai mencapai lapisan tanah keras;
3) Setelah sampai pada tanah keras core dikeluarkan lagi dari casing dan beton dicor sebagian
ke dalam casing, kemudian core dimasukkan lagi ke dalam casing;
4) Beton ditumbuk dengan core sambil casing ditarik ke atas sampai jarak tertentu sehingga
terjadi bentuk beton yang menggelembung seperti bola di atas tiang pancang kayu tersebut;
5) Core ditarik lagi keluar dari casing dan casing diisi dengan beton lagi sampai padat setinggi
beberapa cm di atas permukaan tanah. Kemudian beton ditekan dengan core kembali
sedangkan casing ditarik ke atas sampai keluar dari tanah.









I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009











Gambar II.12 Tiang Pancang Composite ungased concrete and wood pile

4. Composite dropped shell and pipe pile
Dasar pemilihan tiang ini adalah :
Lapisan tanah keras terlalu dalam letaknya bila digunakan cast in place concrete pile;
Letak muka air tanah terendah sangat dalam apabila kita menggunakan tiang composite
yang bawahnya dari tiang pancang kayu.
Cara pelaksanaan tiang ini adalah sebagai berikut :
a. Casing dan core dipancang bersamaan sehingga casing hampir seluruhnya masuk ke
dalam tanah. Kemudian core ditarik keluar dari casing;
b. Tiang pipa baja dengan dilengkapi sepatu pada ujung bawah dimasukkan dalam casing
terus dipancang dengan pertolongan core sampai ke tanah keras;
c. Setelah sampai pada tanah keras kemudian core ditarik ke atas kembali;
d. Kemudian shell yang beralur pada dindingnya dimasukkan dalam casing hingga
bertumpu pada penumpu yang terletak di ujung atas tiang pipa baja. Bila diperlukan
pembesian maka besi tulangan dapat dimasukkan dalam shell dan kemudian beton
dicor sampai padat;
e. Shell yang terisi dengan beton ditahan dengan core sedangkan casing ditarik keluar dari
tanah.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009





















Gambar II.13 Tiang Pancang Composite dropped shell and pipe pile

5. Franki composite pile
Prinsip kerjanya hampir sama dengan tiang Franki biasa, hanya saja pada Franki
composite pile ini pada bagian atasnya dipergunakan tiang beton precast biasa atau tiang
profil H dari baja.
Cara pelaksanaan tiang ini adalah :
a. Pipa dengan sumbat beton yang dicor lebih dahulu pada ujung pipa baja dipancang dalam
tanah dengan drop hammer sampai pada tanah keras;
b. Setelah pemancangan mencapai kedalaman yang telah direncanakan pipa diisi lagi
dengan beton dan terus ditumbuk dengan drop hammer sambil pipa ditarik lagi ke atas
sedikit sehingga terjadi bentuk beton seperti bola;
c. Setelah tiang beton precast atau tiang baja H masuk dalam pipa sampai bertumpu pada
bola beton pipa ditarik keluar dari tanah;
d. Rongga di sekitar tiang beton precast atau tiang baja H diisi dengan kerikil atau pasir.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


tanah keras
tiang
tanah
lunak










Gambar II.14 Tiang Pancang Franki composite pile

II.7.1.2 Berdasarkan cara penyaluran beban yang diterima tiang ke dalam tanah
Berdasarkan cara penyaluran bebannya ke tanah, pondasi tiang dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu :
1. Pondasi tiang dengan tahanan ujung (End Bearing Pile)
Tiang ini akan meneruskan beban melalui tahanan ujung tiang ke lapisan tanah
pendukung.








I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


tiang
tanah
berbutir
kasar
tiang
tanah
berkohesif
tinggi

Gambar II.15 Pondasi Tiang Pancang Dengan Tahanan Ujung (End Bearing Pile)
Sumber: Ir. Sardjono, H. S. Pondasi Tiang Pancang, Jilid I
2. Tiang pancang dengan tahanan gesekan (Friction Pile)
Jenis tiang pancang ini akan meneruskan beban ke tanah melalui gesekan antara tiang
dengan tanah di sekelilingnya. Bila butiran tanah sangat halus tidak menyebabkan tanah di
antara tiang - tiang menjadi padat, sedangkan bila butiran tanah kasar maka tanah di antara
tiang akan semakin padat.







Gambar II.16 Pondasi Tiang Pancang Dengan Tahanan Gesekan (Friction Pile)
Sumber: Ir. Sardjono, H. S. Pondasi Tiang Pancang, Jilid I
3. Tiang pancang dengan tahanan lekatan (Adhesive Pile)
Bila tiang dipancangkan pada dasar tanah pondasi yang memiliki nilai kohesi tinggi,
maka beban yang diterima oleh tiang akan ditahan oleh lekatan antara tanah disekitar dan
permukaan tiang.






I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009






Gambar II.17 Pondasi Tiang Pancang Dengan Tahanan Lekatan (Adhesive Pile)
Sumber: Ir. Sardjono, H. S. Pondasi Tiang Pancang, Jilid I


II.8 Pemancangan tiang pancang
Pemancangan tiang pancang adalah usaha yang dilakukan untuk menempatkan tiang
pancang di dalam tanah sehingga berfungsi sesuai perencanaan. Pada umumnya pelakasanan
pemancangan dapat dibagi dalam tiga tahap, tahap pertama adalah pengaturan posisi tiang
pancang, yang meliputi kegiatan mengangkat dan mendirikan tiang pada pemandu rangka
pancang, membawa tiang pada titik pemancangan, mengatur arah dan kemiringan tiang dan
kemudian percobaan pemancangan.
Setelah selesai, tahap kedua adalah pemancangan tiang hingga mencapai kedalaman
yang direncanakan. Pada tahap ini didalam pencatatan data pemancangan, yaitu jumlah
pukulan pada tiap penurunan tiang sebesar 0, 25 m atau 0, 5 m. Hal ini dimaksudkan untuk
memperkirakan apakah tiang telah mencapai tanah keras seperti yang telah direncanakan.
Tahap terakhir biasa dikenal dengan setting, yaitu pengukuran penurunan tiang pancang per -
pukulan pada akhir pemancangan. Harga penurunan ini kemudian digunakan untuk
menentukan kapasitas dukung tiang tersebut.


II.8.1 Peralatan Pemancangan (Driving Equipment)
Untuk memancangkan tiang pancang ke dalam tanah digunakan alat pancang. Pada
dasarnya alat pancang terdiri dari tiga macam, yaitu :
1. Drop hammer
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


2. Single - acting hammer
3. Double - acting hammer
Bagian - bagian yang paling penting pada alat pancang adalah pemukul (hammer),
leader, tali atau kabel dan mesin uap.

II.8.2 Hal - Hal yang Menyangkut Masalah Pemancangan
Ada beberapa hal yang sering dijumpai pada saat proses pemancangan. Pada
umumnya yang sering terjadi antara lain adalah kerusakan tiang, pergerakan tanah pondasi
hingga pada masalah pemilihan peralatan.
1. Pemilihan peralatan
Alat utama yang digunakan untuk memancangkan tiang-tiang pracetak adalah
penumbuk (hammer) dan mesin derek (tower). Untuk memancangkan tiang pada posisi
yang tepat, cepat dan dengan biaya yang rendah, penumbuk dan dereknya harus dipilih
dengan teliti agar sesuai dengan keadaan di sekitarnya, jenis dan ukuran tiang, tanah
pondasi dan perancahnya. Faktor - faktor yang mempengaruhi pemilihan alat penumbuk
adalah kemungkinan pemancangannya dan manfaatnya secara ekonomis. Karena dewasa ini
masalah-masalah lingkungan seperti suara bising atau getaran tidak boleh diabaikan, maka
pekerjaan seperti ini perlu digabungkan dengan teknik-teknik pembantu lainnya walaupun
sebelumnya telah ditetapkan salah satu cara pemancangan.

2. Pergerakan tanah pondasi
Pemancangan tiang akan mengakibatkan tanah pondasi dapat bergerak karena sebagian
tanah yang digantikan oleh tiang akan bergeser dan mengakibatkan bangunan - bangunan
yang berada di dekatnya akan mengalami pergeseran juga.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


3. Kerusakan tiang
Pemilihan ukuran dan mutu tiang didasarkan pada kegunaannya dalam perencanaan,
tetapi setidaknya tiang tersebut harus dapat dipancangkan sampai ke pondasi. J ika tanah
pondasi cukup keras dan tiang tersebut cukup panjang, tiang tersebut harus dipancangkan
dengan penumbuk (hammer) dan tiang harus dijaga terhadap kerusakan akibat gaya
tumbukan dari hammer.




















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009








































Gambar II.17 Proses Pemancangan Tiang Pancang





II.9 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang berdasarkan Data Lapangan
1. Kapasitas daya dukung tiang pancang dari hasil sondir
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Diantara perbedaaan tes dilapangan, sondir atau cone penetration test (CPT) seringkali
sangat dipertimbangkan berperanan dari geoteknik. CPT atau sondir ini tes yang sangat cepat,
sederhana, ekonomis dan tes tersebut dapat dipercaya dilapangan dengan pengukuran terus-
menerus dari permukaan tanah-tanah dasar. CPT atau sondir ini dapat juga mengklasifikasi
lapisan tanah dan dapat memperkirakan kekuatan dan karakteristik dari tanah. Didalam
perencanaan pondasi tiang pancang (pile), data tanah sangat diperlukan dalam merencanakan
kapasitas daya dukung (bearing capacity) dar tiang pancang sebelum pembangunan dimulai,
guna menentukan kapasitas daya dukung ultimit dari tiang pancang. Kapasitas daya dukung
ultimit ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
Q
u
=Q
b
+Q
s
=q
b
A
b
+f.A
s
........................................................... ..............(II.3)
dimana :
Q
u
= Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang pancang.
Q
b
= Kapasitas tahanan di ujung tiang.
Q
s
= Kapasitas tahanan kulit.
q
b
= Kapasitas daya dukung di ujung tiang persatuan luas.
A
b
= Luas di ujung tiang.
f = Satuan tahanan kulit persatuan luas.
A
s
= Luas kulit tiang pancang.
Perencanaan pondasi tiang pancang dengan Sondir diklasifikasikan atas
beberapa metode diantaranya :

a. Metode Aoki dan De Alencar
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Aoki dan Alencar mengusulkan untuk memperkirakan kapasitas dukung ultimit dari data
Sondir. Kapasitas dukung ujung persatuan luas (q
b
) diperoleh sebagai berikut :
q
b
=
b
ca
F
base q ) (
............................................................................. ...............(II.4)
dimana :
q
ca
(base) =Perlawanan konus rata-rata 1,5D diatas ujung tiang, 1,5D dibawah ujung
tiang dan F
b
adalah faktor empirik tahanan ujung tiang tergantung pada
tipe tiang.
Tahanan kulit persatuan luas (f) diprediksi sebagai berikut :
F =q
c
(side)
s
s
F

.................................................................................... ..............(II.5)
dimana :
q
c
(side) =Perlawanan konus rata-rata pada masinglapisan sepanjang tiang.
F
s
=Faktor empirik tahanan kulit yang tergantung pada tipe tiang.
F
b
=Faktor empirik tahan ujung tiang yang tergantung pada tipe tiang.
Faktor F
b
dan F
s
diberikan pada Tabel II.1 dan nilai-nilai faktor empirik
s
diberikan pada
Tabel II.2.
Tabel II.1 Faktor empirik F
b
dan F
s

Tipe Tiang Pancang
F
b
F
s

Tiang Bor 3,5 7,0
Baja 1,75 3,5
Beton Pratekan 1,75 3,5
Sumber : Titi & Farsakh, 1999

Tabel II.2 Nilai faktor empirik untuk tipe tanah
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tipe Tanah

s

(%)
Tipe Tanah
s
(%) Tipe Tanah
s
(%)
Pasir 1,4 Pasir berlanau 2,2
Lempung
berpasir
2,4
Pasir kelanauan 2,0
Pasir berlanau
dengan lempung
2,8
Lempung
berpasir
dengan lanau
2,8
Pasir kelanauan
dengan
lempung
2,4 Lanau 3,0
Lempung
berlanau
dengan pasir
3,0
Pasir
berlempung
dengan lanau
2,8
Lanau
berlempung
dengan pasir
3,0
Lempung
berlanau
4,0
Pasir
berlempung
3,0
Lanau
berlempung
3,4 Lempung 6,0
Sumber : Titi & Farsakh, 1999
Pada umumnya nilai
s
untuk pasir =1,4 persen, nilai
s
untuk lanau =3,0 persen dan nilai
s

untuk lempung =1,4 persen.
b. Metode Langsung
Metode langsung ini dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya : Meyerhoff,
Tomlinson, Begemann.
Daya dukung pondasi tiang dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :.
Qu = q
c
x A
p
+ JHL x K
t
................................................. ..(II.6)
Dimana :
Qu =Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang.
q
c
=Tahanan ujung Sondir (Perlawanan penetrasi Konus pada kedalaman yang ditinjau).
Dapat digunakan faktor koreksi Meyerhoff :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


q
c
1 =Rata-rata PPK (q
c
) 8D diatas ujung tiang
q
c
2 =Rata-rata PPK (q
c
) 4D diatas ujung tiang
JHL =Jumlah hambatan lekat.
K
t
= Keliling tiang.
A
p
=Luas penampang tiang.
- Daya dukung ijin pondasi tiang dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
Q
u
Ijin =
3
p c
xA q
+
5
t
JHLxK
........................................................... (II.7)
Dimana :
Q
u
Ijin = Kapasitas daya dukung ijin tiang pancang.
q
c
= Tahanan ujung sondir dengan memakai faktor koreksi Begemann.
JHL =Jumlah hambatan lekat ( total friction ).
K
t
=Keleling tiang.
A
p
=Luas penampang tiang.
3 =Faktor keamanan untuk daya dukung tiang.
5 =Faktor keamanan untuk gesekan pada selimut tiang.
Dari hasil uji sondir ditunjukkan bahwa tahanan ujung sondir ( harga tekan konus )
bervariasi terhadap kedalaman. Oleh sebab itu pengambilan harga q
c
untuk daya dukung
diujung tiang kurang tepat. Suatu rentang disekitar ujung tiang perlu dipertimbangkan dalam
menentukan daya dukungnya.
Menurut Meyerhoff :
q
p
=q
c
Untuk keperluan praktis.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


q
p
=( 2/3 3/2 ) q
c
................................................................................ .............(II.8)
Dimana :
q
p
=Tahanan ujung ultimate.
q
c
=Harga rata rata tahanan ujung konus dalam daerah 2D dibawah ujung tiang.

2. Kapasitas daya dukung tiang pancang dari hasil SPT
2.1 Daya dukung ujung pondasi tiang pancang pada tanah kohesif dan non-kohesif
dengan data SPT
a. Daya dukung ujunga tanah pada tanah non-kohesif
Q
p
=40*N-SPT*L
b
/D*A
p
400* N-SPT* A
p
dimana : Q
p
=Tahanan ujung ultimate ( kN )
A
p
=Luas penampang tiang pancang ( m
2
)
b. Tahanan geser selimut tiang pancang pada tanah non - kohesif
Q
s
=2* N-SPT*p*Li ................................................................... ..(II.9)
dimana: Li =Panjang lapisan tanah (m)
p =Keliling tiang (m)
c. Daya dukung ujung tiang pada tanah kohesif c
u

- Untuk tiang pancang dan tiang bor
Q
p
=9* c
u
* A
p
......................................................................... ...(II.10)
dimana : A
p
=Luas penampang tiang (m
2
)
c
u
=Kohesi undrained (kN/ m
2
)
=N-SPT*2/3*10
d. Tahanan geser selimut tiang pada tanah kohesif c
u
Q
s
=* c
u
*p* Li...(II.11)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009




dimana:
=Koefisien adhesi antara tanah dan tiang
c
u
=Kohesi undrained (kN/ m
2
)
=N-SPT*2/3*10
p =Keliling tiang (m)
Li =Kanjang lapisan tanah (m)

II.10 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Berdasarkan Data Laboratorium
II.10.1 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Dari Data Parameter Kuat Geser
Tanah
Berdasarkan hasil pemeriksaan tanah melalui beberapa percobaan akan didapatkan nilai
berat isi tanah (), nilai kohesif tanah (c) serta nilai sudut geser tanah ().
Perkiraan kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang pada tanah pasir dan silt
didasarkan pada data parameter kuat geser tanah, ditentukan dengan perumusan sebagai
berikut :
1. Daya dukung ujung pondasi tiang pancang (end bearing).
Untuk tanah kohesif :
Q
p
=A
p
. c
u .
N
c
*
......................................................................... .........(II.12)
dimana :
Q
p
=Tahanan ujung per satuan luas, ton.
A
p
=Luas penampang tiang pancang , m
2
.
c
u
=Undrained cohesion, ton/m
2
.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


N
c
*
=Faktor daya dukung tanah, untuk pondasi tiang pancang nilai N
c
*
=9 (Whitaker
and Cooke, 1966).
Untuk mencari nilai c
u
(Undrained cohesion), dapat digunakan persamaan di bawah ini
:

*
=0,21 +0,25

u
a
c
p
<1 ......................................................... ..........(II.13)
dimana :

*
=Faktor adhesi =0,4
p
a
=Tekanan atmosfir =1,058 ton/ft
2
=101,3 kN/m
2

Untuk tanah non kohesif :
Q
p
=A
p
. q' (N
q
*
- 1) .................................................................. ...........(II.14)
dimana :
Q
p
=Tahanan ujung per satuan luas, ton.
A
p
=Luas penampang tiang pancang , m
2
.
q' =Tekanan vertikal efektif, ton/m
2
.
N
q
*
=Faktor daya dukung tanah.
Vesic (1967) mengusulkan korelasi antara dan N
q
*
seperti terlihat pada Gambar II.19
berikut ini :






I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009
















Gambar II.19 Faktor N
q
*
(Vesic, 1967)

2. Daya dukung selimut tiang pancang (skin friction).
Qs =f i. Li . p ............................................................................. .............(II.15)
dimana :
fi =Tahanan satuan skin friction, ton/m
2
.
Li =Panjang lapisan tanah, m.
p =Keliling tiang, m.
Qs =Daya dukung selimut tiang, ton.
Pada tanah kohesif :
f =
i
*
. c
u
................................................................................ ............(II.16)
dimana :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009

i
*
=Faktor adhesi, 0,55 (Reese & Wright, 1977).
c
u
=Undrained cohesion, ton/m
2
.
Pada tanah non-kohesif :
f = K
0
.
v .
tan ..................................................................... ............(II.17)

dimana :
K
0
=Koefisien tekanan tanah
K
0
=1 sin

v
=Tegangan vertikal efektif tanah, ton/m
2
.

v
= . L
L =15D
D =Diameter
= 0,8 .

II.10.2 Tahanan Ujung Ultimate
Kapasitas maksimum tahanan ujung dari sebuah tiang pancang dapat dihitung
dengan menggunakan data pengujian laboratorium maupun data pengujian penetrasi. J ika
menggunakan data laboratorium maka perhitungan kapasitas ultimate tahanan ujung
berdasarkan Meyerhof sebagai berikut :
P
pu
= A
p
(C.N
c
+ .q.N
q
) . (II.18)
Dimana :
P
pu
= Kapasitas ultimate tahan ujung tiang (kg/cm
2
)
A
p
= Luas penampang tiang pancang (cm
2
)
C = Kohesi tanah (kg/cm
2
)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


N
c
= Faktor kapasitas daya dukung, tergantung pada sudut geser tanah ()
N
q
= Faktor kapasitas daya dukung, tergantung pada harga L/B >1
dan bergantung sudut geser tanah ()
q = Tegangan vertikal efektip pada titik tiang pancang (kg/cm
2
)
= 1 untuk semua kecuali faktor-faktor vesic (1975) dimana

3
2 1
0
K +
=
Ko = Koefisien tanah dalam keadaan diam
Ko = (1-sin)OCR
Faktor faktor kapasitas daya dukung ( N
c
dan N
q
) dapat dihitung berdasarkan grafik II.20.

Grafik II.20 Grafik daya dukung tanah Meyerhof
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Harga faktor daya dukung sesuai dengan grafik diatas dapat juga dilihat pada tabel berikut :







Tabel II.3 Faktor daya dukung Meyerhof


II.10.3 Tahanan Kulit ( Skin Resistance )
Perhitungan kapasitas ultimate tahanan kulit (skin resistance) dengan menggunakan
kombinasi tegangan total dan tegangan efektif. Ada tiga metode yang digunakan untuk
menghitung tahanan kulit pada tiang pancang dalam tanah kohesif. Metode metode ini
disebut metode , metode dan metode . Metode metode ini digunakan juga untuk tiang
pancang di dalam tanah tak berkohesif, semua kasus secara umum, kapasitas tahanan kulit
dihitung sebagai :

= ) 19 . ........( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... )......... (


.
II L f A P
s s ps

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Dimana :
P
ps
= Kapasitas ultimate tahanan kulit (kg/cm
2
)
A
s
= Luas permukaan efektif pada fs bekerja dan biasanya dihitung sebagai keliling x
pertambahan penanaman L (cm
2
)
L = Pertambahan panjang yang tertanam untuk setiap lapisan tanah (cm)
f
s
=Tahanan kulit yang akan dihitung dengan menggunakan salah satu metode tersebut
diatas
= Penjumlahan kontribusi dari beberapa segmen tiang pancang
II.10.3.1 Metode
Metode diusulkan oleh Tomlinson (1977) tahan kulit dibagi menjadi dua jenis yaitu
lempung dan pasir dihitung sebagai berikut :
Untuk tanah lempung
f
s
= .c
u
.. ( II.20)
Untuk tanah pasir
tan '
2
1
s s
K q f = ( II.21)
Dimana :
f
s
=Tahanan kulit
=Koefisien yang harganya dapat dihitung pada grafik II.21
c
u
=Kohesi rata-rata setiap lapisan tanah yang ditinjau
q =Tegangan vertical efektif pada elemen L
K
s
=Koefisien rata-rata tekanan tanah pada seluruh panajang yang tertanam dipengaruhi oleh
jenis tiang dan kondisi tanah
=Sudut geser efektif diantara tanah dengan tiang pancang atau nilai pada tabel 2.2
Tabel II.4 Nilai K
s
untuk tiang pada pasir (Brom 1965)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Pile Type K
s
for
Low relative density High relative density
Steel
Concrete
Wood
20
0.75
0.67
0.5
1.0
1.5
1.0
2.0
4.0

Grafik II.21 Variasi harga berdasarkan kohesi tanah

Grafik II.22 Grafik harga berdasarkan Cu tanah
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tabel II.5 Harga sudut gesekan antara beberapa bahan pondasi dengan tanah atau batuan
No Bahan bahan yang mempunyai permukaan antara (interface) Susut gesek
(
0
)
Beton Massa atau Batuan pada Benda Benda berikut :
1 Batuan asli yang bersih 35
2 Kerikil bersih, campuran pasir kerikil, pasir kasar 29 - 31
3 Pasir halus yang bersih dengan pasir sedang, medium endapan
dengan pasir kasar, endapan kerikil yang bersifat pekat
24 29
4 Endapan pasir halus, endapan tak bersifat plastic 19 24
5 Bahan residu yang sangat kaku dengan bahan residu yang sangat
keras atau tanah liat yang terkonsolidasi sebelumnya
22 26
6 Tanah liat kaku sedang dengan tanah liat kaku dan tanah liat
endapan
17 19
Tiang Pancang Lempengan Baja terhadap :
1 Kerikil bersih, campuran pasir kerikil, batuan yang telah diolah
dengan baik dan disisip dengan batu serpih
22
2 Pasir bersih, campuran pasir kerikil yang mengendap,batuan keras
isian yang berukuran sejenis
17
3 Pasir endapan, kerikil atau pasir yang bercampur endapan atau tanah
liat
14
4 Endapan yang berbentuk pasir halus, endapan yang tak bersifat
plastic
11
Beton Bebentuk atau Tiang pancang baja beton terhadap :
1 Kerikil bersih,campuran pasir kerikil,batuan yang telah diolah dan
diisi dengan batuan serpih
22 26
2 Pasir bersih, campuran pasir kerikil yang mengendap, batuan keras
berukuran semacam
17 22
3 Pasir endapan, kerikil atau pasir yang bercampur dengan endapan
atau tanah liat
17
4 Endapan pasir halus, endapan yang tak bersifat plastik 14
Berbagai Bahan Bangunan :
Batuan pada batu api atau batu metamorf :
1 Batuan lembek yang dilapis dengan batuan lembek yang dilapis 35
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


2 Batuan keras yang dilapis pada batuan halus yang dilapis 33
3 Batuan keras yang dilapis dengan batuan keras yang dilapis 29
4 Batu bangunan pada kayu (serat bersilang) 26
5 Baja pada baja titik temu tiang pancang baja 17
6 Kayu pada tanah 14 - 16
Catatan : untuk harga tunggal dapat diberikan toleransi 2.
Sumber : Analisis dan desain Pondasi, Bowles, E, Joseph,1993
II.10.2.2 Metode
Vijayvergia dan Focht (1972) menyajikan sebuah metode alternative untuk mendapatkan
tahanan kulit f
s
untuk sebuah tiang pancang didalam lempung sebagai berikut:
f
s
= ( q + 2c
u
) (II.22)
dimana :
q, c
u
= Nilai nilai yang didefenisikan didalam persamaan II.21
=Koefisien yang dapat diperoleh dari grafik II.23
Koefisien didapatkan dari sebuah analisa regresi grafik dari sebuah diagram dengan sejumlah
besar pengujian beban tiang pancang. Tiang pancang yang lebih pendek kebanyakan berada
didalam lempung yang lebih kaku atau lempung yang mempunyai kerak yang kaku yang dapat
menerangkan nilai yang lebih besar untuk tiang pancang pendek. Ditempat dimana tiang
pancang yang panjang menembus lampung yang pendek maka nilai nilai merefleksikan
pengambilan nilai rata rata untuk sebuah nilai tunggal dan perkembangan tahanan kulit batas
karena kapasitas tiang pancang tidak dapat bertambah dengan q tanpa batas. Korelasi tersebut
dilaporkan untuk metode ini besarnya kira kira 10%.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



Grafik II.23 Grafik hubungan harga dengan kedalaman
II.10.2.3 Metode
Sejumlah organisasi telah menganalisa kembali data data yang ada dan dilengkapi
dengan pengujian pengujian paling akhir, mengusulkan bahwa korelasi pengujian beban dan
kapasitas tiang pancang, hasil perhitungan lebih baik dapat ditentukan dengan menggunakan
parameter parameter tegangan efektif. Persamaan berikut dapat ditetapkan untuk semua
tanah normal konsolidasi adalah :
f
s
= Kqtan . ..(II.23)
dapat dituliskan kembali
f
s
= .q ..(II.24)
dimana :
q =Tekanan efektif rata rata yang bekerja pada L
= K.tan; dimana tan adalah koefisien gesekan efektif diantara tiang pancang d engan
tanah, K adalah koefisien tanah lateral yang biasanya digunakan harga Ko.
Harus diperhatikan bahwa didalam jangkauan nilai praktis daripada Ko dan tan
Maka hasil perkalian (yakni ) mempunyai nilai rata rata sebesar 0.25 sampai ke 0.40 dengan
nilai rata rata sebesar 0.32.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



II.11 Kapasitas Daya Dukung Tiang Bor Dari Hasil Loading Test Dengan Metode
Davisson
J ika kurva beban penurunan telah diperoleh dari uji beban tiang, maka dapat diestimasi
beban ultimit yang menyebabkan runtuhnya tiang. Bila tiang pada lempung lunak penentuan
beban ultimit relatif mudah karena kurvanya akan berbentuk seperti kurva A (Gambar II.24),
di mana beban yang menyebabkan keruntuhan tiang adalah pada beban yang konstan namun
penurunan yang terjadi berlebihan. Akan tetapi, bila tiang pada pasir, tanah-tanah campuran
atau lempung kaku, untuk menentukan titik keruntuhan tiang pada kurva beban penurunan
menjadi sulit kurva B (Gambar II.24). (H. C. Hardiyatmo, 2002)












Gambar II.24 Kurva beban penurunan untuk tanah tertentu

Davisson (1973), mengusulkan cara yang telah banyak dipakai pada saat ini. Cara
mendefenisikan kapasitas ultimit tiang pada penurunan tiang sebesar (Gambar 2.15) :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009









Gambar II.25 Metode Davisson (1973)

0,012 d
r
+0,1d/d
r
+QD/(AE)........................................................................(II.25)
dengan,
d =Diameter/lebar tiang
d
r
=Lebar referensi =1 ft =300 mm
Q =Beban yang bekerja pada tiang
D =Kedalaman tiang
A =Luas tampang tiang
E =Modulus elastis tiang

r
=0,1 Mpa

II.12 Tiang Pancang Kelompok (Pile Group)
Pada keadaan sebenarnya jarang sekali didapatkan tiang pancang yang berdiri sendiri
(Single Pile), akan tetapi kita sering mendapatkan pondasi tiang pancang dalam bentuk
kelompok (Pile Group) seperti dalam Gambar II.26.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Untuk mempersatukan tiang-tiang pancang tersebut dalam satu kelompok tiang
biasanya di atas tiang tersebut diberi poer (footing). Dalam perhitungan poer dianggap/dibuat
kaku sempurna, sehingga :
1. Bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan penurunan,
maka setelah penurunan bidang poer tetap merupakan bidang datar.
2. Gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang.


















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


(a)







(b)
Gambar II.26 Pola-pola kelompok tiang pancang khusus : (a) Untuk kaki tunggal, (b)
Untuk dinding pondasi
Sumber : Bowles, 1991

II.12.1 Jarak antar tiang dalam kelompok
Berdasarkan pada perhitungan. Daya dukung tanah oleh Dirjen Bina Marga
Departemen P.U.T.L. diisyaratkan :


S 2,5 D
S 3 D




dimana :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


S =Jarak masing-masing.
D =Diameter tiang.
Biasanya jarak antara 2 tiang dalam kelompok diisyaratkan minimum 0,60 m dan
maximum 2,00 m. Ketentuan ini berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut
:
1. Bila S <2,5 D
Pada pemancangan tiang no. 3 (Gambar II.25) akan menyebabkan :
a. Kemungkinan tanah di sekitar kelompok tiang akan naik terlalu berlebihan karena
terdesak oleh tiang-tiang yang dipancang terlalu berdekatan.
b. Terangkatnya tiang-tiang di sekitarnya yang telah dipancang lebih dahulu.
2. Bila S >3 D
Apabila S >3 D maka tidak ekonomis, karena akan memperbesar ukuran/dimensi dari poer
(footing).
Pada perencanaan pondasi tiang pancang biasanya setelah jumlah tiang pancang dan
jarak antara tiang-tiang pancang yang diperlukan kita tentukan, maka kita dapat menentukan
luas poer yang diperlukan untuk tiap-tiap kolom portal.
Bila ternyata luas poer total yang diperlukan lebih kecil dari pada setengah luas
bangunan, maka kita gunakan pondasi setempat dengan poer di atas kelompok tiang pancang.
Dan bila luas poer total diperlukan lebih besar daripada setengah luas bangunan, maka
biasanya kita pilih pondasi penuh (raft fondation) di atas tiang-tiang pancang.





I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009




Gambar II.27 Pengaruh tiang akibat pemancangan
Sumber : Sardjono Hs, 1988

II.13 Kapasitas Kelompok dan Efisiensi Tiang Pancang
J ika kelompok tiang dipancang dalam tanah lempung lunak, pasir tidak padat, atau
timbunan, dengan dasar tiang yang bertumpu pada lapisan kaku, maka kelompok tiang tersebut
tidak mempunyai resiko akan mengalami keruntuhan geser umum, asalkan diberikan faktor
aman yang cukup terhadap bahaya keruntuhan tiang tunggalnya. Akan tetapi, penurunan
kelompok tiang masih tetap harus dipancang secara keseluruhan ke dalam tanah lempung
lunak.
Pada kelompok tiang yang dasarnya bertumpu pada lapisan lempung lunak, faktor
aman terhadap keruntuhan blok harus diperhitungkan, terutama untuk jarak tiang-tiang yang
dekat. Pada tiang yang dipasang pada jarak yang besar, tanah diantara tiang-tiang bergerak
sama sekali ketika tiang bergerak kebawah oleh akibat beban yang bekerja (Gambar II.28.a).
Tetapi, jika jarak tiang-tiang terlalu dekat, saat tiang turun oleh akibat beban, tanah diantara
tiang-tiang juga ikut bergerak turun. Pada kondisi ini, kelompok tiang dapat dianggap sebagai
satu tiang besar dengan lebar yang sama dengan lebar kelompok tiang. Saat tanah yang
mendukung beban kelompok tiang ini mengalami keruntuhan, maka model keruntuhannya
disebut keruntuhan blok (Gambar II.28.b). Jadi, pada keruntuhan blok, tanah yang terletak
diantara tiang bergerak kebawah bersama-sama dengan tiangnya. Mekanisme keruntuhan yang
demikian dapat terjadi pada tipe-tipe tiang pancang maupun tiang bor.


I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009








(a) (b)
Gambar II.28 Tipe keruntuhan dalam kelompok tiang : (a) Tiang tunggal,
(b) Kelompok tiang
Sumber : Hardiyatmo, 2002
Umumnya model keruntuhan blok terjadi bila rasio jarak tiang dibagi diameter (S/D)
sekitar kurang dari 2 (dua).


Kapasitas ultimit kelompok tiang dengan memperlihatkan faktor efisiensi tiang
dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
Qg =Eg . n . Qa ............................................................................ .............(II.26)
dimana :
Qg =Beban maksimum kelompok tiang yang mengakibatkan keruntuhan.
=Efisiensi kelompok tiang.
n =Jumlah tiang dalam kelompok.
Qa =Beban maksimum tiang tunggal.
Beberapa persamaan efisiensi tiang telah diusulkan untuk menghitung kapasitas
kelompok tiang, namun semuanya hanya bersifat pendekatan. Persamaan-persamaan yang
diusulkan didasarkan pada susunan tiang, dengan mengabaikan panjang tiang, variasi bentuk
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


tiang yang meruncing, variasi sifat tanah dengan kedalaman dan pengaruh muka air tanah.
Adapun persamaan-persamaan efisiensi tiang tersebut yang disarankan oleh Converse-Labare,
sebagai berikut :
Eg =1
' . . 90
' ). 1 ( ). 1 ' (
n m
n m m n +
..(II.27)
dimana :
Eg = Efisiensi kelompok tiang.
m = Jumlah baris tiang.
N = Jumlah tiang dalam satu baris.
= Arc tg D/S, dalam derajat.
S = Jarak pusat ke pusat tiang (lihat Gambar II.27)
D = Diameter tiang.








Gambar II.29 Definisi jarak s dalam hitungan efisiensi tiang
Sumber : Hardiyatmo, 2002

II.14 Penurunan Tiang
Dalam bidang teknik sipil ada dua hal yang perlu diketahui mengenai penurunan, yaitu :
a. Besarnya penurunan yang akan terjadi.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


b. Kecepatan penurunan.
Istilah penurunan (settlement) digunakan untuk menunjukkan gerakan titik tertentu pada
bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Umumnya, penurunan yang tidak seragam lebih
membahayakan bangunan dari pada penurunan totalnya. Contoh-contoh bentuk penurunan
dapat dilihat pada Gambar II.29.







Gambar II.29 Contoh kerusakan bangunan akibat penurunan

a. Pada gambar (a), dapat diperhatikan jika tepi bangunan turun lebih besar dari bagian
tengahnya, bangunan diperkirakan akan retak-retak pada bagian tengahnya.
b. Pada gambar (b), jika bagian tengah bangunan turun lebih besar, bagian atas bangunan
dalam kondisi tertekan dan bagian bawah tertarik. Bila deformasi yang terjadi sangat besar,
tegangan tarik yang berkembang dibawah bangunan dapat mengakibatkan retakan-retakan.
c. Pada gambar (c), penurunan satu tepi/sisi dapat berakibat keretakan pada bagian c.
d. Pada gambar (d), penurunan terjadi berangsur-angsur dari salah satu tepi bangunan, yang
berakibat miringnya bangunan tanpa terjadi keretakan pada bagian bangunan.
Selain dari kegagalan kuat dukung (bearing capacity failure) tanah, pada setiap proses
penggalian selalu dihubungkan dengan perubahan keadaan tegangan didalam tanah. Perubahan
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


tegangan pasti akan disertai dengan perubahan bentuk, pada umumnya hal ini yang
menyebabkan penurunan pada pondasi (Hardiyatmo, 1996).

II.14.1 Perkiraan penurunan tiang tunggal
Menurut Poulus dan Davis (1980) penurunan jangka panjang untuk pondasi tiang
tunggal tidak perlu ditinjau karena penurunan tiang akibat konsolidasi dari tanah relatif kecil.
Hal ini disebabkan karena pondasi tiang direncanakan terhadap kuat dukung ujung dan kuat
dukung friksinya atau penjumlahan dari keduanya (Hardiyatmo, 2002).
Perkiraan penurunan tiang tunggal dapat dihitung berdasarkan :
a. Untuk tiang apung atau tiang friksi
S =
D Es
I Q
.
.
........................................................................................ .........(II.28)
dimana : I =I
o
. R
k
. R
h
. R


b. Untuk tiang dukung ujung
S =
D Es
I Q
.
.
........................................................................................ .........(II.29)
dimana : I =I
o
. R
k
. R
b
. R


dengan :
S =Penurunan untuk tiang tunggal.
Q =Beban yang bekerja
I
o
=Faktor pengaruh penurunan untuk tiang yang tidak mudah mampat (Gambar
II.30).
R
k
=Faktor koreksi kemudah mampatan tiang (Gambar II.31).
R
h
=Faktor koreksi untuk ketebalan lapisan yang terletak pada tanah keras (Gambar
II.32).
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


R

=Faktor koreksi angka Poisson (Gambar II.33).


R
b
=Faktor koreksi untuk kekakuan lapisan pendukung (Gambar II.34).
h =Kedalaman total lapisan tanah dari ujung tiang ke muka tanah.
D =Diameter tiang.








Gambar II.30 Faktor penurunan I
o
(Poulos dan Davis)












Gambar II.31 Koreksi kompresi, R
k
(Poulos dan Davis)


I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009










Gambar II.32 Koreksi kedalaman, R
h
(Poulos dan Davis)





Gambar II.33 Koreksi angka Poisson, R

(Poulus dan Davis)


( Hardiyatmo, 2002)










I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009








Gambar II.34 Koreksi kekakuan lapisan pendukung, R
b
(Poulos dan Davis)

Pada Gambar II.30, II.31, dan II.32, K adalah suatu ukuran kompresibilitas relatif dari
tiang dan tanah yang dinyatakan oleh persamaan :
K =
s
A p
E
R E .
................................................................................... ...........(II.30)
dimana : R
A
=
2
.
4
1
d
A
p


dengan :
K =Faktor kekakuan tiang.
E
p
=Modulus elastisitas dari bahan tiang.
E
s
=Modulus elastisitas tanah disekitar tiang.
E
b
=Modulus elastisitas tanah didasar tiang.
Perkiraan angka Poisson () dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel II.6 Perkiraan angka poisson ( )


Macam Tanah
Lempung jenuh
Lempung tak jenuh
Lempung berpasir
0,4 0,5
0,1 0,3
0,2 0,3
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Lanau
Pasir padat
Pasir kasar
Pasir halus
0,3 0,35
0,2 0,4
0,15
0,25
( Hardiyatmo, 1996)
Berbagai metode tersedia untuk menentukan nilai modulus elastisitas tanah (E
s
), antara
lain dengan percobaan langsung ditempat yaitu dengan menggunakan data hasil pengujian
krucut statis (sondir). Karena nilai laboratorium dari E
s
tidak sangat baik dan mahal untuk
mendapatkan (Bowles, 1977). Bowles memberikan persamaan yang dihasilkan dari
pengumpulan data pengujian kerucut statis (sondir), sevagai berikut :
E
s
=3q
c
(untuk pasir) ............................................... (II.30a)
E
s
=2 sampai 8q
c
(untuk lempung) ......................................... (II.30b)
q
c
(side) = Perlawanan konus rata-rata pada masing lapisan sepanjang tiang.
Dari analisa yang dilakukan secara mendetail oleh meyerhof, untuk nilai modulus elastisitas
tanah dibawah ujung tiang (E
b
) kira-kira 5-10 kali harga modulus elastisitas tanah di sepanjang
tiang (E
s
).

Rumus untuk penurunan tiang elastis adalah :
S =
Ep A
L Q Q
s
.
) ( +
......................................................................... ..........(II.32)
dimana :
Q =Beban yang bekerja
Q
s
=Tahanan gesek
=Koefisien dari skin friction
Ep =Modulus elastisitas dari bahan tiang
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



II.14.2 Pekiraan penurunan kelompok tiang (pile group)
Pada hitungan pondasi tiang, kapasitas izin tiang sering lebih didasarkan pada
persyaratan penurunan. Penurunan tiang terutama bergantung pada nilai banding tahanan ujung
dengan beban tiang. J ika beban yang didukung pertiang lebih kecil atau sama dengan tahanan
ujung tiang, penurunan yang terjadi mungkin sangat kecil. Rumus penurunan kelompok tiang
adalah :
S
g
=
c
g
q
I B q
. 2
. .
................................................................................. .............(II.33)
dimana :
q =
g g
B L
Q

I =Faktor pengaruh =1 -
g
B
L
8
0,5
L
g
dan B
g
=Lebar poor tiang kelompok.
q
C
=Kapasitas tahanan ujung tiang.



II.15 Penurunan Diizinkan
Penurunan yang diizinkan dari suatu bangunan bergantung pada beberapa faktor.
Faktor-faktor tersebut meliputi jenis, tinggi, kekakuan, dan fungsi bangunan, serta besar dan
kecepatan penurunan serta distribusinya. J ika penurunan berjalan lambat, semakin besar
kemungkinan struktur untuk menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa adanya
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


kerusakan strukturnya oleh pengaruh rangkak (creep). Oleh karena itu, dengan alasan tersebut,
kriteria penurunan pondasi pada tanah pasir dan pada tanah lempung berbeda.
Karena penurunan maksimum dapat diprediksi dengan ketetapan yang memadai,
umumnya dapat diadakan hubungan antara penurunan diizinkan dengan penurunan
maksimum. Dimana syarat perbandingan penurunan yang aman yaitu :
S
total
S
izin

S
izin
=10 % . D ............................................................................. ...........(II.34)
dimana :
D = Diameter tiang.

II.16 Faktor Keamanan
Untuk memperoleh kapasitas ujung tiang, maka diperlukan suatu angka pembagi
kapasitas ultimate yang disebut dengan faktor aman (keamanan) tertentu. Faktor keamanan ini
perlu diberikan dengan maksud :
1. Untuk memberikan keamanan terhadap ketidakpastian metode hitungan yang digunakan;
2. Untuk memberikan keamanan terhadap variasi kuat geser dan kompresibilitas tanah;
3. Untuk meyakinkan bahwa bahan tiang cukup aman dalam mendukung beban yang bekerja;
4. Untuk meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang tunggal atau kelompok
tiang masih dalam batas batas toleransi;
5. Untuk meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam diantara tiang-tiang masih dalam batas-
batas toleransi.
Sehubungan dengan alasan butir (d) dari hasil banyak pengujian - pengujian beban
tiang, baik tiang pancang maupun tiang bor yang berdiameter kecil sampai sedang (600 mm),
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


penurunan akibat beban kerja (working load) yang terjadi lebih kecil dari 10 mm untuk faktor
aman yang tidak kurang dari 2, 5.
Reese dan ONeill (1989) menyarankan pemilihan faktor aman (F) untuk perancangan
pondasi tiang (Tabel II.5), yang dipertimbangkan faktor - faktor sebagai berikut :
1. Tipe dan kepentingan dari struktur;
2. Variabilitas tanah (tanah tidak uniform);
3. Ketelitian penyelidikan tanah ;
4. Tipe dan jumlah uji tanah yang dilakukan;
5. Ketersediaan tanah ditempat (uji beban tiang);
6. Pengawasan/kontrol kualitas di lapangan;
7. Kemungkinan beban desain aktual yang terjadi selama beban layanan struktur.
Tabel II. 7. Faktor Aman Yang Disarankan (Reese & ONeill, 1989)
Klasifikasi
struktur
Faktor keamanan ( F )
Kontrol
baik
Kontrol
normal
Kontrol
jelek
Kontrol sangat
jelek
Monumental
Permanen
Sementara
2,3
2
1.4
3
2,5
2
3,5
2,8
2,3
4
3,4
2,8

Sumber : Teknik Pondasi 2,Hary Christady Hardiyatmo
Besarnya beban bekerja (working load) atau kapasitas tiang izin dengan
memperhatikan keamanan terhadap keruntuhan adalah nilai kapasitas ultimate (Q
u
) dibagi
dengan faktor aman (F) yang sesuai. Variasi besarnya faktor aman yang telah banyak
digunakan untuk perancangan pondasi tiang, tergantung pada jenis tiang dan tanah berdasarkan
data laboratorium sebagai berikut:
1. Tiang pancang
5 2,
Q
Q
u
a
= ............................................................................................... (II.35)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Beberapa peneliti menyarankan faktor keamanan yang tidak sama untuk tahanan gesek
dinding dan tahanan ujung. Kapasitas izin dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :
5 1,
Q
3
Q
Q
s b
a
+ = ...................................................................................... (II.36)
Penggunaan faktor keamanan 1, 5 untuk tahanan gesek dinding (Q
s
) yang harganya lebih
kecil dari faktor keamanan tahanan ujung yang besarnya 3, karena nilai puncak tahanan
gesek dinding dicapai bila tiang mengalami penurunan 2 sampai 7 mm, sedang tahanan
ujung (Q
b
) membutuhkan penurunan yang lebih besar agar tahanan ujungnya bekerja secara
penuh. Jadi maksud penggunaan faktor keamanan tersebut adalah untuk meyakinkan
keamanan tiang terhadap keruntuhan dengan mempertimbangkan penurunan tiang pada
beban kerja yang diterapkan.
2. Tiang bor
Kapasitas ijin tiang bor, diperoleh dari jumlah tahanan ujung dan tahanan gesek dinding
yang dibagi faktor keamanan tertentu.
a. Untuk dasar tiang yang dibesarkan dengan diameter d< 2 m
5 2,
Q
Q
u
a
= ........................................................................................... (II.37)
b. Untuk tiang tanpa pembesaran di bagian bawah
2
Q
Q
u
a
= ............................................................................................ (II.38)
Untuk tiang dengan diameter lebih dari 2 m, kapasitas tiang izin perlu dievaluasi
dengan pertimbangan terhadap penurunan tiang.


II.17 Alasan Pemilihan Pondasi Tiang Pancang
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Pondasi tiang pancang dapat memikul beban struktur atas pada kedalaman tanah keras
yang dalam dengan memikul beban menggunakan gaya gesekan selimut tiang dan terhadap
tanah keras. Apabila kondisi tanah cukup labil dan tanah keras berada pada kedalaman tertentu
dimana tidak memungkinkan untuk dibuat pondasi dangkal, selain itu pemakaian tiang
pancang lebih ekonomis dan tidak memakan banyak waktu dalam pelaksanaannya.

















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III. 1 Data umum
Data umum dari proyek Pembanguna Gedung Kanwil DJP dan KPP Sumbagut I adalah
sebagai berikut:
1. Nama Proyek : Gedung Kanwil DJP dan KPP Sumbagut I
2. Lokasi Proyek : J ln. Sukamulia Medan, Sumatera Utara.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


3. Sumber Dana : Pemerintah Pusat Republik Indonesia dengan Anggaran
Pendapatan Belanja Nasional (APBN) tahun anggaran
2006,2007,2008,2009
4. Sifat Kontrak : Unit Price.
5. Konsultan : PT. Patron.
6. Kontraktor Utama : PT. Pembangunan Perumahan (PP)
7. Waktu Pelaksanaan : Lumpsump.
8. Gambar lokasi proyek : Dapat dilihat pada Gambar III. 1

III. 1. 1 Data Teknis
Data ini diperoleh dari lapangan menurut perhitungan dari pihak konsultan, dengan data
sebagai berikut:
1. Panjang Tiang Pancang : 26 m
2. Diameter Tiang Pancang : 600 mm
3. Mutu Beton Tiang Pancang : K - 500





III. 2 Metode Pengumpulan Data
Untuk mencapai maksud dan tujuan studi ini, dilakukan beberapa tahapan yang
dianggap perlu dan secara garis besar diuraikan sebagai berikut :
Tahapan pertama adalah melakukan review dan studi kepustakaan terhadap text book dan
jurnal-jurnal terkait dengan pondasi tiang, permasalahan pada pondasi tiang, dengan disain dan
pelaksanaan pemancangan tiang.
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Tahapan kedua adalah meninjau langsung ke lokasi proyek dan menentukan lokasi
pengambilan data yang dianggap perlu.
Tahapan ketiga adalah Pelaksanaan pengumpulan data data dari pihak kontraktor yaitu PT.
Pembangunan Perumahan (PP).
Data yang diperoleh adalah :
1. Data hasil sondir pada dua titik yang ditinjau.
2. Data hasil SPT
3. Data Laboratorium
Tahap keempat adalah mengadakan analisis data dengan menggunakan data-data diatas
berdasarkan formula yang ada.
Tahapan kelima adalah mengadakan analisis terhadap hasil perhitungan yang dilakukan dan
membuat kesimpulan.




I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Gedung Kanwil DJP dan
KPP Sumbagut I Medan

Gambar III.1 Lokasi Proyek







I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



Skema pelaksanaan studi ini dapat dilihat pada Gambar III.2 berikut.

Review dan studi kepustakaan serta
pembahasan teori-teori yang berkaitan
dengan pemancangan


Peninjauan langsung ke lokasi pengambilan
data ( lokasi proyek )












Pengumpulan data-data
lapangan dari lokasi
Pengumpulan data-data
laboratorium dari lokasi
proyek
Analisa data berdasarkan
formula yang ada
Analisa data berdasarkan
formula yang ada
Diskusi
Kesimpulan dan saran
Selesai
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



Gambar III.2 Tahapan Pelaksanaan Penelitian
III. 3 Kondisi Umum Lokasi Studi
Lokasi studi adalah jalan Sukamulia Medan. Propinsi Sumatera Utara.
Data yang diperoleh pada lokasi ini adalah sebagai berikut :
1. Data sondir tanah asli sebanyak 2 titik.
2. Data SPT tanah timbunan sebanyak 2 titik.
3. Data laboratorium
















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009




I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Gambar III.3 Gambar lokasi sondir, SPT dan pengambilan contoh tanah untuk diuji di
laboratorium
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Pendahuluan
Pada bab ini, penulis akan mengaplikasikan metode perhitungan daya dukung yang
telah disampaikan pada bab II. Daya dukung tiang akan dihitung dengan menggunakan data
hasil sondir yaitu tahanan ujung (q
c
) dan gesekan selimut tiang (fs) dan juga dengan data
Standard Penetration Test (SPT) yaitu jumlah pukulan palu (N Value) serta perhitungan
daya dukung dengan menggunakan data laboratorium.

IV.2 Pengumpulan Data dari Lapangan
IV.2.1 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang dengan metode Aoki dan De
Alencer pada titik S-1 dan S-2
A. Perhitungan di titik S-1 diperoleh data sondir yaitu :
Data tiang pancang :
Diameter tiang (D) = 60 cm
Keliling tiang pancang (As) = x 60 cm
= 188.4 cm
Luas tiang pancang (A
b
) =
4
1
x x D
2

=
4
1
x x 60
2

=2826 cm
2

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009



a. Perhitungan kapasitas dukung ujung tiang (q
b
)
Kedalaman Perlawanan konus
(meter) (kg/cm
2
)
12.10 95
12.20 100
12.40 208
12.60 229
12.80 241
13.00 260
13.20 260
13.40 260
13.60 260
13.80 260
13.90 260
Gambar IV.1 Perkiraan nilai q
ca
(base)
Nilai q
ca
diambil rata-rata seperti dalam gambar IV.1
q
ca
=
11
260 260 260 260 260 260 241 229 208 100 95 + + + + + + + + + +

=221.181 kg/cm
2

Dari persamaan (II.4), kapasitas dukung ujung persatuan luas (q
b
) :
q
b
=
b
ca
F
base q ) (
(Nilai F
b
dari Tabel II.1, beton precast =1.75)
q
b
=
75 . 1
181 . 221
=126.389 kg/cm
2
Kapasitas dukung ujung tiang pancang (Q
b
) :
Q
b
=q
b
x A
p

T
i
a
n
g

p
a
n
c
a
n
g

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Q
b
=126.389 x 2826
=357175.314 kg =357.175 ton
b. Perhitungan kapasitas dukung kulit (Q
s
)










Gambar IV.2 Nilai q
c
(side) pada titik S-1
Dari persamaan (II.5), kapasitas dukung kulit persatuan luas (f) :
f =q
c
(side)
s
s
F

(Nilai
s
dan F
s
dari Tabel II.1 dan Tabel II.2)
f =67.815 .
5 , 3
014 , 0
=0.272 kg/cm
2

Kapasitas dukung kulit (Q
s
) :
Q
s
=f . A
s

=0,272 . 188.4 . 1300
=66618.24 kg
=66.618 ton
0,00 Meter
- 13.0 Meter
1
3
.
0
0

M
e
t
e
r

Pasir (SW)
q
c
(side) =67.815 kg/cm
2

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Dari persamaan (II.3), Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang pancang (Q
u
) :
Q
u
=Q
b
+Q
s

=357.175 +66.618 =423.793 ton
Kapasitas ijin tiang (Q
a
) :
Q
a
=
SF
Q
u

=
5 , 2
793 . 423

=169.517 ton
B. Perhitungan di titik S-2 diperoleh data sondir yaitu :
Data tiang pancang :
Diameter tiang (D) = 60 cm
Keliling tiang pancang = x 60 cm
= 188.4 cm
Luas tiang pancang (A
b
) =
4
1
x x D
2

=
4
1
x x 60
2

=2826 cm
2

a. Perhitungan kapasitas dukung ujung tiang (q
b
)
Kedalaman Perlawanan konus
(meter) (kg/cm
2
)
15.90 180
16.00 193
16.20 208
16.40 225
16.60 250
16.80 265
17.00 265
17.20 265
T
i
a
n
g

p
a
n
c
a
n
g

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


17.40 265
17.60 265
17.70 265
Gambar IV.3 Perkiraan nilai q
ca
(base)
Nilai q
ca
diambil rata-rata seperti dalam gambar IV.1
q
ca
=
11
265 265 265 265 265 265 250 225 208 193 180 + + + + + + + + + +

=240.545 kg/cm
2

Dari persamaan (II.4), kapasitas dukung ujung persatuan luas (q
b
) :
q
b
=
b
ca
F
base q ) (
(Nilai F
b
dari Tabel II.1, beton precast =1.75)
q
b
=
75 . 1
545 . 240
=137.454 kg/cm
2
Kapasitas dukung ujung tiang pancang (Q
b
) :
Q
b
=q
b
x A
p

Q
b
=137.454 x 2826
=388445.004 kg =388.445 ton
b. Perhitungan kapasitas dukung kulit (Q
s
)







0,00 Meter
- 16.8 Meter
1
6
.
8
0

M
e
t
e
r

Pasir (SW)
q
c
(side) =95.321 kg/cm
2

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009





Gambar IV.4 Nilai q
c
(side) pada titik S-2
Dari persamaan (II.5), kapasitas dukung kulit persatuan luas (f) :
f =q
c
(side)
s
s
F

(Nilai
s
dan F
s
dari Tabel II.1 dan Tabel II.2)
f =95,321 .
5 , 3
014 , 0
=0.381 kg/cm
2

Kapasitas dukung kulit (Q
s
) :
Q
s
=f . A
s

=0,381 . 188.4 . 1680
=120591.072 kg
=120.591 ton
Dari persamaan (II.3), Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang pancang (Q
u
) :
Q
u
=Q
b
+Q
s

=388.445 +120.591
=509.036 ton
Dari persamaan (2.6), kapasitas ijin tiang (Q
a
) :
Q
a
=
SF
Q
u

=
5 , 2
036 . 509

=203.614 ton
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


IV.2.2 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang dengan metode langsung
Sebagai ilustrasi atau contoh perhitungan diambil data sondir S-1 :
- Kedalaman 1,0 meter : Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) (q
c
) =6 kg/cm
- Kedalaman 2,0 meter : Perlawanan Penetrasi Konus (PPK) (q
c
) =10 kg/cm.
- Kedalaman 1,0 meter : Jumlah Hambatan Lekat (JHL) =80 kg/cm.
- Kedalaman 2,0 meter : Jumlah Hambatan Lekat (JHL) =250 kg/cm.
- Asumsi : Diameter Tiang Pancang Rencana (D) =60 cm (Bulat).
- q
c
1 =Rata-rata PPK (q
c
) 8D diatas ujung tiang
o q
c
1 kedalaman 1,0 meter =( 0 +6 ) / 2 =3 kg/cm
o q
c
1 kedalaman 2,0 meter =( 0 +6 +10 ) / 3 =5.333 kg/cm
- q
c
2 =Rata-rata PPK (q
c
) 4D dibawah ujung tiang
o q
c
2 kedalaman 1,0 meter =( 6 +10 ) / 2 =8 kg/cm
o q
c
2 kedalaman 2,0 meter =( 10 +20 ) / 2 =15 kg/cm
- q
p
= Tahanan Ultimate Ujung Tiang =(q
c
1 +q
c
2 ) / 2
o q
p
kedalaman 1,0 meter =( 3 +8 ) /2 =5.5 kg/cm
o q
p
kedalaman 2,0 meter =( 5.333 +15 ) / 2 =10.167 kg/cm
- Q
Ultimate
=Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Tunggal
o Q
Ultimate
(Q
Ult
) =q
p
x A
p
+JHL x K
o A
p
=Luas Penampang Ujung Tiang.
o A
p
=() x 3,14 x 60 =2826 cm
o K =Keliling tiang = x D =3,14 x 60 =188.4 cm
- Pada kedalaman 1,0 meter :
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


o Q
Ult
=q
p
x A
p
+JHL x K
o Q
Ult
=5.5 x 2826 +80 x 188.4 =30.615 ton.
o Q
Ijin
=q
p
x A
p
/ 3 +JHL x K / 5
o Q
Ijin
=5.5 x 2826 / 3 +80 x 188.4 / 5 =8.195 ton

- Pada kedalaman 2,0 meter :
o Q
Ult
=q
p
x A
p
+JHL x K
o Q
Ult
=10.167 x 2826 +250 x 188.4 =75.832 ton.
o Q
Ijin
=q
p
x A
p
/ 3 +JHL x K / 5
o Q
Ijin
=10.167 x 2826 / 3 +250 x 188.4 / 5 =18.997 ton

Selanjutnya perhitungan data sondir S-2 dibuat dalam tabel (seperti tertera dihalaman
berikutnya).



















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009





Tabel IV.1 Perhitungan daya dukung pondasi tiang pancang berdasarkan data
sondir pada S-1

Kedalaman PPk (qc) Ap qc1 qc2 qp JHL K Qult
( m ) (kg/cm) (cm) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm) (cm) (ton)
0.00 0 2826 0 3 1.5 0 188.4 4.239
1.00 6 2826 3.00 8 5.5 80 188.4 30.615
2.00 10 2826 5.33 15 10.1665 250 188.4 75.831
3.00 20 2826 9.00 56 32.5 354 188.4 158.539
4.00 92 2826 25.60 116 70.8 538 188.4 301.440
5.00 140 2826 53.60 85 69.3 766 188.4 340.156
6.00 30 2826 58.40 40.5 49.45 890 188.4 307.422
7.00 51 2826 66.60 53 59.8 974 188.4 352.496
8.00 55 2826 73.60 72.5 73.05 1076 188.4 409.158
9.00 90 2826 73.20 52.5 62.85 1252 188.4 413.491
10.00 15 2826 48.20 38 43.1 1352 188.4 376.517
11.00 61 2826 54.40 80.5 67.45 1424 188.4 458.895
12.00 100 2826 64.20 180 122.1 1566 188.4 640.089
13.00 260 2826 105.20 130 117.6 1686 188.4 649.980



















I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009





Tabel IV.2 Perhitungan daya dukung pondasi tiang pancang berdasarkan data sondir
pada S-2

Kedalaman PPk (qc) Ap qc1 qc2 qp JHL K Qult
( m ) (kg/cm) (cm) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm) (cm) (ton)
0.00 0 2826 0 0 0 0 188.4 42.390
1.00 60 2826 30 40.5 35.25 104 188.4 119.210
2.00 21 2826 40.5 33 36.75 214 188.4 125.098
3.00 45 2826 33 47.5 40.25 310 188.4 184.868
4.00 50 2826 47.5 67.5 57.5 400 188.4 225.374
5.00 85 2826 67.5 104 85.75 488 188.4 323.671
6.00 123 2826 104 128.5 116.25 586 188.4 413.491
7.00 134 2826 128.5 142.5 135.5 680 188.4 490.547
8.00 151 2826 142.5 121.5 132 816 188.4 517.582
9.00 92 2826 121.5 105 113.25 924 188.4 500.014
10.00 118 2826 105 127 116 1058 188.4 548.809
11.00 136 2826 127 83 105 1138 188.4 494.644
12.00 30 2826 83 25.5 54.25 1228 188.4 401.151
13.00 21 2826 25.5 55.5 40.5 1322 188.4 415.563
14.00 90 2826 55.5 102 78.75 1414 188.4 476.935
15.00 114 2826 102 153.5 127.75 1506 188.4 606.601
16.00 193 2826 153.5 229 191.25 1598 188.4 811.627
16.80 265 2826 229 132.5 180.75 1680 188.4 773.147













I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009






IV.2.3 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang dari hasil Standard Penetration Test (
SPT )
Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang per lapisan dari data SPT memakai
metode Meyerhoff dan data diambil pada BH-1 dan BH-2.
A. Perhitungan pada titik 1 (BH-1)
Daya dukung ujung tiang pancang pada tanah non kohesif adalah :
Ap SPT N Ap
D
Lb
SPT N Qp . . 400 . . . 40 < =
= 40 x 13 x 1/0.6 x 0.2826
= 244.92 kN
Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah non kohesif adalah :
Qs = 2. N-SPT . p . Li
= 2 . 13 . 1,884 . 1
= 48.984 kN
Daya dukung ujung pondasi tiang pancang pada tanah kohesif adalah :
Qp = 9 . cu . Ap
= 9 . 26,667 . 0.2826
= 67,824 kN
Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah kohesif adalah :
Qs = . cu . p . Li
= 1 . 26,667 . 1,884 . 1
= 50,240 kN
Cu = N-SPT . 2/3 . 10
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


= 4 . 2/3 . 10
= 26.667 kN/m
2
Tabel IV.3 Perhitungan Tahanan Ujung Tiang Pancang pada titik BH - 1 dari
SPT

Depth
(m)
Soil
Layer
N
Cu
(kN/m)

Skin Friction
(kN)
End
Bearing
(kN)
Qult
(kN)
Qult
(ton)
Local Cumm
0 1 0 0 1 0 0 0 0 0
1.0 1 4 26.667 1 50.240 50.240 67.824 118.064 11.806
2.0 1 8 53.333 0.85 85.408 135.648 135.648 271.296 27.130
3.0 1 9 60 0.85 96.084 231.732 152.604 384.336 38.434
4.0 2 10 66.667 0.75 94.200 325.932 169.56 495.492 49.549
5.0 2 10 66.667 0.75 94.200 420.132 169.560 589.692 58.969
6.0 2 9 60 0.85 96.084 516.216 152.604 668.820 66.882
7.0 2 9 60 0.85 96.084 612.300 152.604 764.904 76.490
8.0 3 13 - - 48.984 661.284 244.920 906.204 90.620
9.0 3 12 - - 45.216 706.500 452.160 1158.660 115.866
10.0 4 20 - - 75.360 781.860 1130.400 1912.260 191.226
11.0 4 20 - - 75.360 857.220 1507.200 2364.420 236.442
12.0 4 21 - - 79.128 936.348 1978.200 2914.548 291.455
13.0 4 22 - - 82.896 1019.244 2486.880 3506.124 350.612
14.0 4 24 - - 90.432 1109.676 2712.960 3822.636 382.264
15.0 4 25 - - 94.200 1203.876 2826.000 4029.876 402.988
16.0 5 26 - - 97.968 1301.844 2939.040 4240.884 424.088
17.0 5 24 - - 90.432 1392.276 2712.960 4105.236 410.524
18.0 5 23 - - 86.664 1478.940 2599.920 4078.860 407.886
19.0 5 22 - - 82.896 1561.836 2486.880 4048.716 404.872
20.0 5 23 - - 86.664 1648.500 2599.920 4248.420 424.842
21.0 5 23 - - 86.664 1735.164 2599.920 4335.084 433.508
22.0 5 24 - - 90.432 1825.596 2712.960 4538.556 453.856
23.0 5 25 - - 94.200 1919.796 2826.000 4745.796 474.580
24.0 6 27 - - 101.736 2021.532 3052.080 5073.612 507.361
25.0 6 29 - - 109.272 2130.804 3278.160 5408.964 540.896
26.0 6 28 - - 105.504 2236.308 3165.120 5401.428 540.143
27.0 6 27 - - 101.736 2338.044 3052.080 5390.124 539.012
28.0 6 26 - - 97.968 2436.012 2939.040 5375.052 537.505
29.0 6 33 - - 124.344 2560.356 3730.320 6290.676 629.068
30.0 6 40 - - 150.720 2711.076 4521.600 7232.676 723.268



I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009






B. Perhitungan pada titik 2 (BH-2)
Daya dukung ujung tiang pancang pada tanah non kohesif adalah :
Ap SPT N Ap
D
Lb
SPT N Qp . . 400 . . . 40 < =
= 40 x 8 x 1/0.6 x 0.2826
= 150.720 kN
Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah non kohesif adalah :
Qs = 2. N-SPT . p . Li
= 2 . 8 . 1,884 . 1
= 30.144 kN
Daya dukung ujung pondasi tiang pancang pada tanah kohesif adalah :
Qp = 9 . cu . Ap
= 9 . 26,667 . 0.2826
= 67,824 kN
Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah kohesif adalah :
Qs = . cu . p . Li
= 1 . 26,667 . 1,884 . 1
= 50,240 kN
Cu = N-SPT . 2/3 . 10
= 4 . 2/3 . 10
= 26.667 kN/m
2



I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009






Tabel IV.4 Perhitungan Tahanan Ujung Tiang Pancang pada titik BH - 2 dari
SPT

Depth
(m)
Soil
Layer
N
Cu
(kN/m)

Skin Friction
(kN)
End
Bearing
(kN)
Qult
(kN)
Qult
(ton)
Local Cumm
0 1 0 0 1 0 0 0 0 0
1.0 1 4 26.667 1 50.240 50.240 67.824 118.064 11.806
2.0 1 8 - - 30.144 80.384 150.720 231.104 23.110
3.0 1 10 - - 37.680 118.064 376.800 494.864 49.486
4.0 2 12 - - 45.216 163.280 678.240 841.520 84.152
5.0 2 10 - - 37.680 200.960 753.600 954.560 95.456
6.0 2 7 - - 26.376 227.336 659.400 886.736 88.674
7.0 2 5 - - 18.840 246.176 565.200 811.376 81.138
8.0 3 10 - - 37.680 283.856 1130.400 1414.256 141.426
9.0 3 15 - - 56.520 340.376 1695.600 2035.976 203.598
10.0 4 18 - - 67.824 408.200 2034.720 2442.920 244.292
11.0 4 22 - - 82.896 491.096 2486.880 2977.976 297.798
12.0 4 26 - - 97.968 589.064 2939.040 3528.104 352.810
13.0 4 28 - - 105.504 694.568 3165.120 3859.688 385.969
14.0 4 27 - - 101.736 796.304 3052.080 3848.384 384.838
15.0 4 26 - - 97.968 894.272 2939.040 3833.312 383.331
16.0 5 26 - - 97.968 992.240 2939.040 3931.280 393.128
17.0 5 25 - - 94.200 1086.440 2826.000 3912.440 391.244
18.0 5 26 - - 97.968 1184.408 2939.040 4123.448 412.345
19.0 5 27 - - 101.736 1286.144 3052.080 4338.224 433.822
20.0 5 24 - - 90.432 1376.576 2712.960 4089.536 408.954
21.0 5 23 - - 86.664 1463.240 2599.920 4063.160 406.316
22.0 5 22 - - 82.896 1546.136 2486.880 4033.016 403.302
23.0 5 27 - - 101.736 1647.872 3052.080 4699.952 469.995
24.0 6 30 - - 113.040 1760.912 3391.200 5152.112 515.211
25.0 6 33 - - 124.344 1885.256 3730.320 5615.576 561.558
26.0 6 35 - - 131.880 2017.136 3956.400 5973.536 597.354
27.0 6 36 - - 135.648 2152.784 4069.440 6222.224 622.222
28.0 6 37 - - 139.416 2292.200 4182.480 6474.680 647.468
29.0 6 39 - - 146.952 2439.152 4408.560 6847.712 684.771
30.0 6 40 - - 150.720 2589.872 4521.600 7111.472 711.147




I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009







IV.3 Pengumpulan Data dari Laboratorium
IV.3.1 Menghitung kapasitas daya dukung tiang pancang berdasarkan parameter kuat
geser tanah
Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang per lapisan dari data laboratorium
pemeriksaan tanah dan data diambil pada titik 1 (BH.1) dan titik 2 (BH.2).
A. Perhitungan pada titik 1 (BH.1) :
Data tiang pancang :
Diameter tiang (D) =60 cm
Keliling tiang pancang (p) = x 60 cm
=188,4 cm
Luas tiang pancang (A
P
) =
4
1
x x D
2

=2826 cm
2

Dari persamaan (II.14) daya dukung ujung pondasi tiang pancang pada tanah non
kohesif adalah (kedalaman 12 m) :
Q
p
=A
p
. q' (N
q
*
- 1)
q' = . Li
=2.027 . 1 =2.027 ton/m
2

Dengan nilai = 30.169
0
maka berdasarkan grafik korelasi antara dan N
q
*
didapat
nilai N
q
*
=34
Q
p
=A
p
. q' (N
q
*
- 1)
=2,826 . 2.027 . (36 1)
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


=200.491 ton


Dari persamaan (II.15) daya dukung selimut tiang pancang adalah :
Qs =f i. Li . p
Dengan nilai tahanan satuan skin friction pada tanah non kohesif :
f =K
0
.
o .
tan
K
0
=1 sin
=1 sin 30.169
0
=0.497

0
= . L
L =15D =15 . 0.6 =9 m

o
=2.027 . 9 =18.243 ton/m
2

= 0,8 .
=0,8 . 30,169 =24.135
f =K
0
.
o .
tan
=0,497 . 18.243 . 0.448 =4,062 ton/m
2
Qs =f i. Li . p
=4,062 . 1 . 1,884 =7.653 ton
Dari persamaan (II2) daya dukung ujung pondasi tiang pancang pada tanah kohesif
adalah (kedalaman 6 m) :
Q
p
=A
p
. c
u .
N
c
*

=2,826 . 30 . 9 =152,604 ton
Dari persamaan (II.13) nilai tahanan satuan skin friction pada tanah kohesif:
f =
i
*
. c
u

=0,55 . 3 =1.65 ton/m
2

Qs =1.65 . 1 . 1,884 = 3.109 ton

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Perhitungan kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang berdasarkan parameter kuat
geser tanah pada titik 1 (BH-1) pada lapisan tanah lainnya dapat dilihat pada tabel IV.5 dan
titik 2 (BH-2) dapat dilihat pada tabel IV.6.
Tabel IV.5 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang berdasarkan parameter kuat geser
tanah pada BH.1

Depth Soil Cu
*

Ko tan q'

0
' f N
q
*
Skin Friction End Qul t
(m) Layer KN/m2 ton/m
3


ton/m
2
ton/m
2
ton/m
2
(ton) Beari ng (ton)


Local Cumm (ton)

0.0 1 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,000 0,000 0 0,000 0,000 0,000 0,000
1.0 1 26.667 0.55 1.657 - - - - 1.467 - 2.763 2.763 67.825 70.588
2.0 1 53.333 0.55 1.657 - - - - 2.933 - 5.526 8.289 135.647 143.937
3.0 1 60 0.55 1.657 - - - - 3.300 - 6.217 14.507 152.604 167.111
4.0 2 66.667 0.55 1.657 - - - - 3.667 - 6.908 21.415 169.561 190.975
5.0 2 66.667 0.55 1.657 - - - - 3.667 - 6.908 28.323 169.561 197.883
6.0 2 60 0.55 1.657 - - - - 3.300 - 6.217 34.540 152.604 187.144
7.0 2 60 0.55 1.657 - - - - 3.300 - 6.217 40.757 152.604 193.361
8.0 3 - - 2.027 0.497 0.448 2.027 18.243 4.062 36 7.653 48.410 200.491 248.900
9.0 3 - - 2.027 0.497 0.448 2.027 18.243 4.062 36 7.653 56.062 200.491 256.553
10.0 4 - - 2.027 0.497 0.448 2.027 18.243 4.062 36 7.653 63.715 200.491 264.206
11.0 4 - - 2.027 0.497 0.448 2.027 18.243 4.062 36 7.653 71.368 200.491 271.858
12.0 4 - - 2.027 0.497 0.448 2.027 18.243 4.062 36 7.653 79.020 200.491 279.511
13.0 4 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 86.677 140.192 226.870
14.0 4 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 94.335 140.192 234.527
15.0 4 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 101.992 140.192 242.184
16.0 5 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 109.649 140.192 249.841
17.0 5 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 117.306 140.192 257.498
18.0 5 - - 2.067 0.529 0.413 2.067 18.603 4.064 25 7.657 124.963 140.192 265.156
19.0 5 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 132.789 239.263 372.053
20.0 5 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 140.615 239.263 379.878
21.0 5 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 148.441 239.263 387.704
22.0 5 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 156.267 239.263 395.530
23.0 5 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 164.092 239.263 403.356
24.0 6 - - 2.065 0.488 0.458 2.065 18.585 4.154 42 7.826 171.918 239.263 411.182
25.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 179.851 286.364 466.215
26.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 187.784 286.364 474.148
27.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 195.717 286.364 482.081
28.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 203.650 286.364 490.014
29.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 211.583 286.364 497.947
30.0 6 - - 2.068 0.448 0.505 2.068 18.612 4.211 50 7.933 219.516 286.364 505.880

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009








Tabel IV.6 Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang berdasarkan
parameter kuat geser tanah pada BH.2


Depth Soil Cu * Ko tan q'
0
' f N
q
*
Skin Friction End Qult
(m) Layer KN/m2 ton/m
3
ton/m
2
ton/m
2
ton/m
2
(ton) Bearing (ton)
Local Cumm (ton)

0.0 1 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,000 0,000 0 0,000 0,000 0,000 0,000
1.0 1 13.333 0.55 1.822 - - - - 0.733 - 2.763 2.763 67.625 70.388
2.0 1 - - 1.822 0.740 0.213 1.822 16.398 2.585 10 4.869 7.632 46.341 53.973
3.0 1 - - 1.822 0.740 0.213 1.822 16.398 2.585 10 4.869 12.502 46.341 58.843
4.0 2 - - 1.822 0.740 0.213 1.822 16.398 2.585 10 4.869 17.371 46.341 63.712
5.0 2 - - 1.822 0.740 0.213 1.822 16.398 2.585 10 4.869 22.241 46.341 68.582
6.0 2 - - 1.822 0.740 0.213 1.822 16.398 2.585 10 4.869 27.110 46.341 73.451
7.0 2 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 34.573 194.754 229.327
8.0 3 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 42.036 194.754 236.790
9.0 3 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 49.499 194.754 244.253
10.0 4 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 56.962 194.754 251.716
11.0 4 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 64.425 194.754 259.179
12.0 4 - - 1.969 0.487 0.459 1.969 17.721 3.961 36 7.463 71.888 194.754 266.642
13.0 4 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 79.497 158.327 237.824
14.0 4 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 87.106 158.327 245.432
15.0 4 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 94.714 158.327 253.041
16.0 5 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 102.323 158.327 260.650
17.0 5 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 109.932 158.327 268.259
18.0 5 - - 2.075 0.542 0.399 2.075 18.675 4.039 28 7.609 117.541 158.327 275.867
19.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 125.412 193.231 318.643
20.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 133.283 193.231 326.514
21.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 141.155 193.231 334.385
22.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 149.026 193.231 342.257
23.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 156.898 193.231 350.128
24.0 5 - - 2.072 0.486 0.461 2.072 18.648 4.178 34 7.871 164.769 193.231 357.999
25.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 172.783 277.598 442.509
26.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 180.797 277.598 450.523
27.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 188.811 277.598 458.537
28.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 196.825 277.598 466.551
29.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 204.839 277.598 474.564
30.0 6 - - 2.090 0.455 0.497 2.090 18.810 4.254 48 8.014 212.853 277.598 482.578



I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009










IV.4 Menghitung kapasitas kelompok tiang berdasarkan effisiensi
Perhitungan effisiensi group



n =2



m =3

Dari persamaan (II.27), Efisiensi kelompok tiang (Eg) :
Eg =1
' . . 90
' ). 1 ( ). 1 ' (
n m
n m m n +

=Arc tg d/s =Arc tg (60/100) =30.964
n =2 ; m =3
Eg =1 30.964 .
2 . 3 . 90
2 ). 1 3 ( 3 ). 1 2 ( +

=0.599
Dari persamaan (II.26), Kapasitas kelompok ijin tiang (Qg) :
Dari data sondir dengan metode Aoki De Alencar didapat nilai Qa =169,517 ton
Qg =Eg . n . Qa
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


=0,599 . (5) . 169,517
=507,703 ton

IV.5 Menghitung penurunan tiang tunggal (single pile), penurunan kelompok tiang
(pile group), dan penurunan ijin
Penurunan tiang tunggal (single pile)










Nilai q
c
(side) pada titik sondir 1 (S-1)

Dari persamaan (II.31a), Modulus elastisitas tanah disekitar tiang (E
s
) :
E
s
=3 . q
c

=3 . 67.815 kg/cm
2

=203.445 kg/cm
2

=20.345 Mpa
Menentukan modulus elastisitas tanah didasar tiang :
0,00 Meter
- 13.0 Meter
1
3
,
0
0

M
e
t
e
r

Pasir (SW)
q
c
(side) =67.815 kg/cm
2

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


E
b
=10 . E
s
=10 . 20.345 Mpa
=203.45 Mpa
Menentukan modulus elastisitas dari bahan tiang :
Dengan K-beton K-500 maka f
c
=500 kg/cm2 =50 MPa
E
p
=4700 . ' fc
=4700 . 50
=33.234,0187 MPa
R
A
=
2
.
4
1
d
A
p

=
2
60 .
4
1
2826


=1,00
Menentukan faktor kekakuan tiang :
K =
s
A p
E
R E .

=
345 . 20
1 0187 , 234 . 33
=1.633,523
Untuk
d
db
=
60
60
=1, diameter ujung dan atas sama
Untuk
d
L
=
60
1300
=21.667
Dari masing-masing grafik didapat :
I
o
=0,082 (untuk
d
L
=21.667,
d
db
=1) Gambar II.30
R
k
=1.120 (untuk
d
L
=21.667, K =1633.523) Gambar II.31
R

=0.960 (untuk
s
=0,3 , K =1633.523) Gambar II.33
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


R
h
=0.20 (untuk
d
L
=21.667,
L
h
=1) Gambar II.32
R
b
=0.65 (untuk
d
L
=21.667,
Es
Eb
=10) Gambar II.34
a. Untuk tiang apung atau tiang tiang friksi
I =I
o
. R
k
. R
h
. R


=0,082 . 1,12 . 0,20 . 0,960
=0.018
S =
D Es
I Q
.
.

=
cm cm kg
kg
60 . / 45 . 203
018 , 0 . 458200
2

= 0.676 cm
=6.76 mm
b. Untuk tiang dukung ujung
I =I
o
. R
k
. R
b
. R


=0.082 . 1.12 . 0.65 . 0,96
=0.0573
S =
D Es
I Q
.
.

=
cm cm kg
kg
60 . / 45 . 203
0573 , 0 . 458200
2

=2.151 cm =21.51 mm
c. Untuk penurunan tiang elastis
S =
Ep A
L Q Q
s
.
) ( +

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


=
187 , 332340 . 2826
1300 . )) 1686 . 67 , 0 ( 458200 ( +

=0.636 cm =6.36 mm
Hasil perhitungan perkiraan penurunan tiang tunggal dapat dilihat pada Tabel IV.7.
Tabel IV.7 Perkiraan penurunan tiang tunggal

No.

Bentuk penurunan

Penurunan tiang (S)

1
2

Untuk tiang apung atau tiang friksi
Untuk tiang dukung ujung

6.76 mm
21.51 mm


Perkiraan penurunan total 28.27 mm

B. Penurunan yang diijinkan (S
ijin
)
Dari persamaan (II.34), Penurunan yang diijinkan (S
ijin
) :
S
izin
=25 mm
Penurunan total tiang tunggal <Penurunan ijin
28.27 mm >25 mm
Maka, perkiraan total tiang tunggal tidak memenuhi syarat aman.

C. Penurunan kelompok tiang (S
g
)
S
g
=
c
g
q
I B q
. 2
. .

dimana :
q
c
=
g g
B L
Q

=
300 . 225
458200

I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


=6.788 kg/cm
2

I =1 -
g
B
L
8
0,5
=1 -
300 . 8
2600
0,5
=0.083 <0,5
maka :
S
g
=
c
g
q
I B q
. 2
. .

S
g
=
260 . 2
5 , 0 . 300 . 788 . 6

=1.958 cm =19.58 mm <25 mm (penurunan ijin)............. aman






























I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009










IV.6 Diskusi
Analisa daya dukung pondasi tiang pancang pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwi
KJP dan KPP Sumbagut I di Jalan Suka Mulia Medan ini, yaitu untuk mengtahui daya dukung
tiang pancang terhadap beban yang dipikulnya.
Besarnya daya dukung tiang pancang dapat diperoleh berdasarka analisa yang
dilakukan dengan menggunakan data hasil Drilling Log yang telah dilakukan dilapangan.
Analisa daya dukung berdasarkan SPT dapat dihitung berdasarkan nilai konus pada ujung
tiang. J ika tanah memiliki nilai SPT yang kecil, maka nilai tahanan ujung kecil pula, demikian
sebaliknya.
Untuk menganalisa daya dukung tiang pancang digunakan beberapa metode
diantaranya metode Aoki dan De Alencar, metode langsung dan metode Mayerhof. Dari hasil
perhitungan dapat dilihat perbandingan daya dukung berdasarkan data sondir, SPT dan
parameter geser tanah. Perbedaan daya dukung tesebut bisa disebabkan karena jenis dan
kedalaman tanah yang berbeda bahkan pada jarak terdekat sekalipun dan juga karena
pelaksanaan pengujian yang bergantung pada ketelitian operator yang melaksanakannya.
Apabila daya dukung yang diijinkan satu tiang sudah diketahui, maka daya dukung
kelompok tiang dapat ditentukan dengan menggandakannya terhadap effisiensi kelompok tiang
pancang. Dalam hal ini menggunakan metode Converse-Labare.
A. Berdasarkan data sondir :
Dengan metode Aoki De Alencar
1. Sondir S-1 pada kedalaman 13.00 m, Qult =423.793 ton;
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


2. Sondir S-2 pada kedalaman 16.80 m, Qult =509.036 ton.


Dengan metode langsung
1. Sondir S-1 pada kedalaman 13.00 m dengan nilai PPK =260 kg/cm2 dan JHL =
1686 kg/cm2, Qult =649.980 ton;
2. Sondir S-2 pada kedalaman 13.00 m dengan nilai PPK =265 kg/cm2 dan JHL =
1680 kg/cm2, Qult =415.563 ton.
B. Berdasarkan data SPT
1. SPT BH-1 pada kedalaman 30.00 m dengan nilai N =40 pukulan, Qult =723.268 ton;
2. SPT BH-2 pada kedalaman 30.00 m dengan nilai N =40 pukulan, Qult =711.147 ton;
C. Berdasarkan parameter geser tanah
1. HB-1 pada kedalaman 30.00 m, Qult =505.881 ton
2. HB-2 pada kedalaman 30.00 m, Qult =482.578 ton
Besar kapasitas kelompok tiang berdasarkan effisiensi, Qg =507.703 ton. Pada bab ini
penulis juga menghitung penurunan tiang tunggal sebesar 28.27 mm jika dibandingkan
dengan penurunan ijin sebesar 25 mm maka penurunan tiang tunggal tidak aman dan tidak
memenuhi syarat. Kemudian didapat penurunan kelompok tiang sebesar 19.58 mm lebih kecil
jika dibandingkan dengan penurunan ijin sebesar 25 mm maka penurunan tersebut aman.












I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009










BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Hasil perhitungan daya dukung tiang tunggal berdasarkan data sondir, SPT dan parameter
kuat geser tanah pada saat pemancangan adalah sebagai berikut:
Tabel V.1 Hasil perhiungan daya dukung ultimit tiang pancang
Titik
Data Sondir
Aoki dan De
Alencar
(ton)
Data Sondir
Metode Langsung
(ton)
Data SPT
Metode Mayerhof
(ton)
Parameter
Geser tanah
(ton)
1 423.793 649.980 350.612 234.572
2 509.036 415.563 385.969 268.259

2. Dari hasil perhitungan didapat kapasitas kelompok ijin tiang sebesar 507.703 ton.
Perhitungan ini didapat berdasarkan data sondir dengan metode Aoki De Alencar.
3. Hasil perhitungan penurunan tiang tunggal dan kelompok tiang (pile group) adalah sebagai
berikut :
Tabel V.2 Hasil perhitungan penurunan pada tiang pancang
Penurunan
Tiang Tunggal (mm)
Penurunan
Kelompok Tiang (mm)
Penurunan ijin
(mm)
28.27 19.58 25
I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009


Dari hasil perhitungan penurunan diatas untuk penurunan tiang tunggal lebih besar dari
penurunan ijin sehingga dapat disimpulakan penurunan tersebut tidak aman dan tidak
memenuhi syarat.
4. Dari data sondir, SPT dan parameter geser tanah daya dukung tiang pancang yang
sebaiknya digunakan adalah berdasarkan data SPT.
5. Perbedaan daya dukung dapat disebabkan karena jenis dan sifat tanah yang berbeda pada
jarak yang terdekat sekalipun pada lokasi penelitian bisa yang menyebabkan perbedaan
kepadatan tanah sehinggah mempengaruhi daya dukung tiang.

V.2 Saran
1. Sebelum melakukan perhitungan hendaknya kita memperoleh data teknis yang
lengkap, karena data tersebut sangat menunjang dalam membuat rencana analisa
perhitungan, sesuai dengan standar dan syarat-syaratnya.
2. Lebih teliti dalam melaksanakan pengujian baik dalam penggunaan peralatan ataupun
pembacaan hasil yang tertera pada sebagian alat uji hingga pada pengolahan data;
3. Oleh hal tersebut diatas, penyelidikan di lapangan dengan sondir dan SPT untuk
perencanaan daya dukung pondasi tiang masih kurang akurat, sehingga masih perlu
digunakan alat uji yang lain seperti : Uji pembebanan tiang dan uji yang lainnya.













I. E. Sulastri Sihotang : Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada Proyek Pembangunan Gedung Kanwil DJ P Dan
KPP Sumbagut I J alan Suka Mulia Medan, 2009.
USU Repository 2009










DAFTAR PUSTAKA

Bowlesh, J. E., 1991, Analisa dan Desain Pondasi, Edisi keempat Jilid 1, Erlangga, Jakarta.
Das, M. B., 1941, Principles of Foundation Engineering Fourth Edition, Library of Congress
Cataloging in Publication Data.
Hardiyatmo, H. C., 1996, Teknik Pondasi 1, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hardiyatmo, H. C., 2002, Teknik Pondasi 2, Edisi Kedua, Beta Offset, Yogyakarta.
Petunjuk Praktikum Mekanika Tanah.
Poulus, H.G & Davis, E.H.1968, The Settlement Behaviour of Single Axially Loaded
Incompressible Piles and Pierss, Geothechnique, Hardiyatmo, H.C
Sardjono, H.S, 1988, Pondasi tiang pancang, jilid 1, penerbit Sinar Jaya Wijaya, Surabaya.
Sardjono, H.S, 1988, Pondasi tiang pancang, jilid 2, penerbit Sinar Jaya Wijaya, Surabaya.
Titi, H. H. and Farsakh, M. A. Y., 1999, Evaluation of Bearing Capacity of Piles from Cone
Penetration Test, Lousiana Transportation Research Center.
W.C.Vis Kusuma, Gideon, 1991, Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang/CUR, Erlangga,
Jakarta.
Wahyu Hidayat, 2008, Tugas Akhir Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Pada
Proyek Pembangunan Islamic Center Kabupaten Kampar-Riau, Fakultas Teknik,
Jurusan Teknik Sipil, Program Ekstension, Universitas Sumatera Utara, Medan.