You are on page 1of 6

GEDUNG BALAI KOTA BANDUNG (GEMENTEE HUIS BANDOENG DATA BANGUNAN Arsitek: Ir. E.H.

de Roo Tahun Pembangunan: 1929-1935

Keterangan: : Masa Gedung Balai Kota semula : Masa Gedung Balai Kota perluasan

Site Plan Gedung Balai Kota (1989)

SEJARAH Pendirian gedung balai kota ini terkait dengan adanya pemindahan pusat pemerintahan Belanda dari Batavia ke Bandung sehingga status Bandung pun berubah menjadi kota praja / kotamadya (gementee) sejak tahun 1906. Hal ini menyebabkan diperlukannya bangunan-bangunan yang mewadahi aktivitas pemerintahan dan militer Belanda di Bandung. Salah satunya adalah Kantor Residen Belanda yang saat ini menjadi Gedung Balai Kota. Tata letak gedung ini berada di antara Bandung Utara dan Bandung Selatan sehingga posisi ini sangat strategis bagi golongan kolonial untuk memantau golongan pribumi yang mayoritas tinggal di Bandung Selatan. Pada tahun 1929, Gedung Balai Kota yang menghadap ke Jalan Aceh didirikan. Seiring dengan berkembangnya Kota Bandung, pada tahun 1935 Gedung Balai Kota diperluas dengan menambah bangunan baru yang menghadap ke Jalan Merdeka dan Jalan Wastukencana. Ir.E.H. de Roo masih menjadi arsiteknya. Ia merancang gedung baru ini dengan gaya art deco sehingga berkesan lebih modern daripada gedung lama. Bangunan baru ini dibangun menghadap Pieter Sijthoffpark yang kini bernama Taman Dewi Sartika. Bentuk atapnya yang tampak datar menyebabkan gedung ini pun disebut Gedung Papak.

Gedung Balai Kota Sebelum Perluasan

Gedung Balai Kota Setelah Perluasan

Saat itu, gedung balai kota menjadi suatu node baru di kawasan sekitarnya sehingga banyak bangunan publik baru di sekitarnya. Contoh:

PENDEKATAN ARSITEKTUR Pendekatan arsitektur yang digunakan adalah pendekatan berdasarkan teori D.K.Ching, yaitu: 1. Axis yang jelas U

Gedung dan tata olah lansekapnya memiliki axis yang sangat jelas, yaitu berorientasi ke sumbu Utara-Selatan. Orientasi ke Utara menghadap Gunung Tangkubanperahu, sedangkan orientasi ke Selatan menhadap ke Alun-Alun. 2. Simetri

Kesimetrian terlihat dari tampak atas maupun tampak depan bangunan. Kesimetrian ini memberi ekspresi formal yang menunjukan ketegasan golongan kolonial kepada golongan pribumi. 3. Hirarki Hirarki ditunjukan dengan adanya perbedaan elevasi bangunan dengan sekitarnya. Hirarki ini menegaskan posisi golongan kolonial yang lebih tinggi dibandingkan golongan pribumi.

Tangga Pada Sisi Kiri dan Kanan

Tangga Pada Area Tengah

4. Skala

Skala bangunan ini didesain lebih besar dibanding bangunan-bangunan di sekitarnya dengan tinggi lantai ke plafon yang cukup besar dan dimensi kolom yang besar. Hal ini bertujuan untuk menunjukan kebesaran kekuasaan golongan kolonial terhadap golongan pribumi.

MAKNA KULTURAL dan WUJUDNYA Makna kultural dari Gedung Balai Kota dilihat dari aspek nilai-nilai arsitekturnya yang dominan, yaitu: 1. Merupakan salah satu bangunan bergaya arsitektur Indisch. Arsitektur Indisch adalah gaya arsitektur hasil perpaduan arsitektur Belanda dan arsitektur tropis. Ciri-ciri arsitektur Indisch yang ada pada gedung ini adalah penggunaan kolom beton yang berdimensi besar, tebal dinding 1 bata, dan bentuk atap perisai.

2. Merupakan karya arsitek Ir.E.H. de Roo. Sebelum merancang Gedung Balai Kota, Ir.E.H. de Roo berpartisipasi dalam pembangunan Gedung Sate (1920) dan Stasiun Kereta Api (1928). Pada masa itu, revolusi industri juga sangat mempengaruhi arsitek dalam mengolah ornamen pada bangunan. Oleh karena itu, desain Gedung Balai Kota banyak terpengaruh oleh desain dari kedua proyek tersebut dan isu revolusi industri yang sedang berkembang. Contohnya: Tata letak bangunan dan olahan lansekap yang serupa dengan Gedung Sate yaitu berorientasi ke sumbu utara-selatan. U

S U

Block Plan Gedung Sate

Block Plan Gedung Balai Kota

Bentuk-bentuk pada elemen Gedung Balai kota yang merupakan transformasi dari Gedung Sate: o Ekspresi fasad Gedung Sate dan Gedung Balai Kota yang serupa. o Bentuk tusukan sate pada Gedung Sate yang ditransformasikan pada atap menara di sisi kiri dan kanan Gedung Balai Kota.

Penerapan elemen mesin pada bangunan, yaitu jendela kapal laut dengan penambahan ornamen tradisional. Penerapan ornamen pada dinding bagian atas entrance bangunan.

3. Merupakan salah satu arsitektur yang menerapkan art-deco. Art-deco dalam arsitektur cenderung berorientasi terhadap bentuk modern yang lebih sederhana, tetapi tidak menghilangkan sifat dekoratif dan ornamentalnya. Ekspresi modern dan kesederhanaan terungkapkan dalam Gedung Balai kota dengan penggunaan warna putih dan bentuk geometris. Sementara, ornamen ditunjukan dengan unsur dekoratif pada fasad dinding bagian atap dan pada bagian kolom.