You are on page 1of 2

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lahan sawit terbesar di dunia

yaitu sekitar 9.271.000 hektar pada tahun 2012, hal ini akibat dari perkembangan perkebunan
sawit yang cukup pesat di Indonesia yaitu sebesar 11,8% tiap tahunnya. Perkembangan
perkebunan sawit sendiri di tujukan untuk meningkatkan nilai devisa ekspor minyak sawit
mentah dan produk turunan sawit Indonesia di pasar dunia mengingat Indonesia adalah salah
satu produsen sawit terbesar dunia dengan penghasil devisa mencapai US$ 9.952 juta tiap
tahunnya.
Perkembangan perkebunan kelapa sawit selalu mendapat konflik yang membayangi
pengembangan perkebunan sawit seperti yang terjadi di desa Sukasiyi dan Sukariadi. Istilah
konflik mengandung pengertian negatif, yang cenderung diartikan sebagai lawan kata dari
pengertian keserasian, kedamaian, dan keteraturan. Konflik seringkali diasosiasikan dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan. Beberapa unsur dalam konflik antara lain, ada dua pihak
atau lebih yang terlibat, ada tujuan yang dijadikan sasaran konflik atau tujuan itulah yang
menjadi sumber konflik, ada perbedaan pikiran, perasaan, tindakan di antara pihak yang
terlibat untuk mendapatkan atau mencapai tujuan, dan adanya situasi konflik antara dua pihak
yang bertentangan. (Penyelesaian Konflik Berbasis Budaya Lokal, Agus Sriyanto, P3M
STAIN Purwokerto Ibda` | Vol. 5 | No. 2 | Jul-Des 2007 | hal 286-301)
Kemarahan warga terhadap pembukaan perkebunan di wilayah tersebut semakin
bertambah karena limbah dan areal hak guna usaha perusahaan telah melebihi batas yang
telah ditentukan. Limbah yang dihasilkan oleh perusahaan kelapa sawit ada tiga jenis, yaitu
limbah padat, cair dan gas. Limbah padat yang dihasilkan dari perusahaan kelapa sawit dapat
berupa solid, cangkang, sabut dan abu. Limbah padatan yang berupa abu dan solid dapat
dimanfaatkan untuk pupuk, sedangkan sabut dan cangkang bisa digunakan untuk penimbun
jalan dan sebagian bisa untuk bahan bakar boiler. Diantara limbah yang dihasilkan oleh
perusahaan kelapa sawit, yang menjadi permasalahan adalah limbah cair karena jumlahnya
cukup banyak dan jika air limbah minyak kelapa sawit tidak langsung diolah akan
mengakibat terjadinya proses pembusukan di badan air penerima sehingga akan mengangu
kehidupan biota air. Limbah gas pada perusahaan kelapa sawit dapat dihasilkan dari cerobong
asap boiler. Sebenarnya peraturan untuk pembuangan limbah telah diatur dalam undang-
undang dan seharusnya dipatuhi oleh perusahaan seperti undang-undang nomor 32 tahun
2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang menyatakan bahwa
apabila perusahaan melakukan dumping limbah dan atau bahan ke media lingkungan hidup
tanpa izin, dipidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp
3.000.000.000,00. Sedangkan apabila perusahaan melanggar baku mutu air limbah, baku
mutu emisi atau baku mutu gangguan, dipidana paling lama 3 tahun dan denda paling banyak
Rp 3.000.000.000,00. Tindak pidana ini hanya dapat dikenakan jika sanksi administratif tidak
dipatuhi atau pelanggaran lebih dari satu kali.
Saat ini semakin banyak ditemukan bukti tanaman sawit yang ditanam di bibir sungai
SB, aliran limbah yang pembuangannya langsung ke sungai tersebut, serta sampah dari
perkotaan dan estate yang di buang di pemukiman desa. Pembuangan limbah dan sampah
tanpa pengolahan dapat berdampak negatif, seperti dampak kesehatan yang dihasilkan seperti
pencemaran lingkungan dapat menjadi sumber penyakit, seperti gatal-gatal, diare, muntaber,
bahkan dapat mengakibatkan kematian. Selain itu, terdapat sampah maupun limbah yang
bersifat beracun dan korosif terhadap tubuh, dapat menyebabkan karsinogenik, teratogenik,
dan lain sebagainya. Pada sektor ekonomi juga akan berdampak karena pencemaran
lingkungan dapat menyebabkan air yang sudah tercemar tidak bisa digunakan lagi untuk air
baku air minum, mandi, dan pemancingan yang data menurunkan pendapatan nelayan.
Dampak yang pasti terjadi adalah perubahan ekosistem karena terjadinya suatu pencemaran
di sungai umumnya disebabkan oleh karena masuknya limbah kedalam badan sungai.