You are on page 1of 8

STRATEGI MENJAGA HUBUNGAN ROMANTIS PASANGAN PERNIKAHAN

USIA PERAK

YENNY DWI PUTRI PRATIWI
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
Malang
pratiwi.yenny@rocketmail.com


ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang strategi menjaga hubungan romantis pasangan pernikahan
usia perak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami makna pernikahan dan strategi
pasangan pernikahan yang telah melewati usia pernikahan perak dalam menjaga hubungan
romantis. Penelitian ini menggunakan teori Komunikasi Antarpribadi dan Hubungan
Romantis. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian
ini ditemukan bahwa (1) Makna pernikahan bagi pasangan pernikahan usia perak adalah
suatu hal yang mulia dan harus dijaga sebaik-baiknya. (2) Hubungan romantis pasangan
pernikahan usia perak melibatkan ketertarikan, komitmen, dan keintiman berupa komunikasi
verbal dan nonverbal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Wujud hubungan
romantis juga terdapat dalam keterlibatan, kontrol, berbagi waktu dan aktivitas serta adanya
perhatian dan kepercayaan. (3) Komunikasi antar suami istri yang dilakukan pasangan
pernikahan usia perak merupakan bentuk komunikasi antarpribadi berupa komunikasi verbal
dan nonverbal, dengan tujuan untuk saling berbagi cerita, perasaan dan memberikan
perhatian.
Kata Kunci : Hubungan Romantis, Pasangan Pernikahan Usia Perak, Komunikasi
Antarpribadi


ABSTRACT

This research is about strategy of maintaining romantic relationship a marriage partner the
age of silver. The purpose of this research is to understand the meaning of marriages and
strategy a marriage partner which has passed through the length of marriage silver in
maintaining romantic relationship. This research using the theory of interpersonal
communication and romantic relationship theory. This research was conducted by descriptive
qualitative method. The result of this research was discovered that (1) the meaning of
marriage for a silver age wedding couple is a noble thing and must be maintained properly.
The purpose of marriage is to continue the generation and share the sense, so that
interpersonal communication between husband and wife become the important thing in
keeping wholeness and a romantic relationship marriage. (2) Romantic relationship of silver
age wedding couple involving attraction, commitment and intimacy which is a form of verbal
and nonverbal communication, done in daily life. A form of romantic relationship is also
present in involvement, control, share time and activities, attention and trust. (3)
Communication between the husband and wife which is done of wedding couples silver age
is a form of interpersonal communication, which are verbal and nonverbal communication
with the aim to share stories, feelings and giving attention.
Keywords: romantic relationship, a marriage partner the age of silver interpersonal
communication
I. PENDAHULUAN
Pernikahan merupakan ikatan lahir batin
dan persatuan antara dua pribadi yang berasal
dari keluarga, sifat, dan kebiasaan yang
berbeda. Pernikahan juga memerlukan
penyesuaian secara terus-menerus. Pernikahan
adalah ungkapan iman, terjadi persatuan dua
tubuh dan pribadi yang berbeda, di dalamnya
seseorang terdapat cinta, makna dan
kebahagiaan hidupnya di dalam diri seseorang
lainnya (Newman, 2006). Melalui pernikahan,
akan terbentuk sebuah keluarga. Keluarga
merupakan satuan hidup sosial terkecil yang
dimiliki manusia sebagai makhluk sosial.
Keluarga merupakan satu komunitas sosial
terkecil yang terdiri dari pribadi-pribadi
dengan kedekatan hubungan yang khas serta
memiliki beberapa fungsi.
Indonesia sendiri yang terkenal dengan
adat timurnya ternyata menduduki rekor
tertinggi dalam angka perceraian pada lingkup
Asia Pasifik, seperti yang tercatat dalam situs
Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN). BKKBN mencatat ada
lebih dari 200.000 kasus perceraian di
Indonesia setiap tahun, dan hal ini ternyata
mencapai rekor tertinggi untuk angka
perceraian se-Asia Pasifik. Berdasarkan data
yang dirilis Dirjen Bimas Islam Kementerian
Agama pada 2012 menunjukkan jumlah
penduduk Indonesia yang menikah sebanyak
dua juta orang, sementara 285.184 perkara
berakhir dengan perceraian.
1

Pria dan wanita dalam menjalin
hubungan dengan pasangannya akan berusaha
untuk mencari kesamaan dan kecocokan
melalui komunikasi. Komunikasi merupakan
hal yang menjadi unsur penting dalam pola
interaksi manusia. Kata komunikasi atau
communication dalam bahasa Inggris berasal
dari kata latin communis yang berarti sama.
Communico, communication atau
communicare yang berarti membuat sama
(to make common) (Mulyana, 2008: 46).
Komunikasi merupakan salah satu kunci
utama dalam interaksi maupun hubungan
sosial yang dilakukan oleh manusia.
Berbicara pada lingkup sosial, maka interaksi
maupun komunikasi yang dilakukan pun akan
bersifat sosial dan dapat disebut sebagai

1
http://www.sindoweeklymagz.com/artikel/16/I/21,
diakses pada tanggal 8 0ktober 2012 pukul 18.07 WIB
komunikasi sosial. Komunikasi yang
dilakukan oleh pasangan terwujud melalui
komunikasi verbal dan nonverbal yang
terdapat dalam hubungan interpersonal
mereka.
Hubungan interpersonal memainkan
peranan yang penting dalam mempertahankan
sebuah perkawinan (Hurlock, 1980: 290).
Hubungan suami dengan istri dalam sebuah
pernikahan merupakan salah satu contoh
hubungan interpersonal yang melibatkan
kekaguman dan eksklusivitas serta
keromantisan di dalamnya. Hubungan dan
cinta yang romantis mencakup jalinan yang
rumit dari emosi-emosi yang berbeda-
ketakutan, kemarahan, gairah seksual,
kesenangan dan kecemburuan (Santrock,
2002: 110-111). Menurut Brehm, romantic
atau intimate relationship adalah bagaimana
seseorang mempersepsikan perubahan
hubungan yang resiproksitas, emosional, dan
erotis yang sedang terjadi dengan
pasangannya (Karney, 2007). Menjaga
hubungan romantis dengan pasangan seperti
saat masih menjadi pengantin baru atau
berpacaran sangat penting dilakukan agar
pernikahan dapat bertahan lama.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Kebutuhan
2.2.1 Teori Kebutuhan Abraham Maslow
Seseorang beraktivitas dan berinteraksi
adalah karena dorongan untuk memenuhi
kebutuhannya. Untuk memenuhi
kebutuhannya seseorang harus berhubungan
dengan orang lain. Kebutuhan ini mencakup
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan,
kebutuhan aktualisasi diri.
2.2.2 Teori Kebutuhan McClelland
McClelland mengemukakan bahwa
individu mempunyai cadangan energi
potensial, bagaimana energi ini dilepaskan
dan dikembangkan tergantung pada kekuatan
atau dorongan motivasi individu dan situasi
serta peluang yang tersedia. Teori ini
memfokuskan pada tiga kebutuhan yaitu
kebutuhan akan prestasi (achievment),
kebutuhan kekuasaan (power), dan kebutuhan
afiliasi (Robbins, 2002: 173)


2.2 Komunikasi Pasangan
2.2.1 Komunikasi Antarpribadi
(Interpersonal Communication)
Komunikasi interpersonal (komunikasi
antarpribadi) merupakan kegiatan yang sangat
dominan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana layaknya konsep-konsep dalam
ilmu sosial lainnya, komunikasi antarpribadi
juga mempunyai banyak definisi sesuai
dengan persepsi ahli-ahli komunikasi yang
memberikan batasan pengertian. Littlejohn
(1999) memberikan definisi komunikasi
antarpribadi(interpersonal communication)
sebagai komunikasi antar individu-individu.
De Vito mendefinisikan komunikasi
antarpribadi (interpersonal communication)
sebagai penyampaian pesan oleh satu orang
dan penerimaan pesan oleh orang lain atau
sekelompok kecil orang, dengan berbagai
dampaknya dan dengan peluang untuk
memberikan umpan balik segera (Effendy,
2003: 30).
2.2.2 Karakteristik Komunikasi
Antarpribadi berdasarkan Sudut Pandang
Humanistik dan Pragmatis
Komunikasi antarpribadi dapat menjadi
efektif maupun sebaliknya, karena apabila
terjadi suatu permasalahan dalam hubungan,
maka komunikasi antarpribadi menjadi tidak
efektif. Berikut ini terdapat 2 sudut pandang
yang membahas tentang karakteristik
komunikasi antarpribadi yang efektif yaitu
(Devito, 1997: 259-268):


1) Sudut Pandang Humanistik
Sudut pandang yang menekankan pada
keterbukaan, empati, sikap mendukung,
sikap positif, dan kesetaraan yang
menciptakan interaksi yang bermakna,
jujur, dan memuaskan. Beberapa hal yang
ditekankan dalam sudut pandang yang
memiliki penjabaran yang luas,
diantaranya :
a. Keterbukaan
b. Empati
c. Sikap mendukung
d. Sikap positif
2) Sudut pandang pragmatis
Sudut pandang yang menekankan pada
manajemen dan kesegaran interaksi
secara umum, kualitas-kualitas yang
menentukan pencapaian tujuan spesifik.
Beberapa hal yang ditekankan dalam
sudut pandang ini adalah sebagai berikut :
a. Kepercayaan diri
b. Kebersatuan
c. Manajemen interaksi
d. Daya ekspresi
e. Orientasi kepada orang lain
2.2.3 Proses Komunikasi Antarpribadi
Proses komunikasi ialah langkah-
langkah yang menggambarkan terjadinya
kegiatan komunikasi. Secara sederhana proses
komunikasi digambarkan sebagai proses yang
menghubungkan pengirim dengan penerima
pesan. Proses tersebut terdiri dari enam
langkah (Suranto, 2011: 11-12), yaitu:
keinginan berkomunikasi, encoding oleh
komunikator, pengiriman pesan, penerimaan
pesan, decoding oleh komunikan, umpan
balik.
2.2.4 Komunikasi Nonverbal
Pesan nonverbal adalah semua isyarat
yang bukan kata-kata. Menurut Larry A.
Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi
nonverbal mencakup semua rangsangan
(kecuali rangsangan verbal) dalam suatu
setting komunikasi, yang dihasilkan oleh
individu dan penggunaan lingkungan oleh
individu, yang mempunyai nilai pesan
potensial bagi pengirim atau penerima
(Mulyana, 2008).
Secara garis besar Larry A. Samovar
dan Richard E. Potter membagi pesan-pesan
nonverbal menjadi dua kategori besar, yakni:
pertama, perilaku yang terdiri dari
penampilan dan pakaian, gerakan dan postur
tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan,
bau-bauan, dan perabaan; kedua, ruang,
waktu, dan diam (Mulyana, 2008: 352-353).
2.2.5 Self Disclosure
Sebagaimana orang berinteraksi dalam
hubungan, mereka akan terlihat pada tingkat
tertentu pada pengungkapan terhadap satu
sama lain dan mereka juga akan memberikan
sejumlah umpan balik terhadap satu sama
lain. Hubungan antarpribadi yang sehat
ditandai oleh keseimbangan penyingkapan
diri atau self-disclosure yang tepat (Budyatna,
2011: 40). Menurut Tubbs dan Moss,
Pengungkapan diri adalah membeberkan
informasi tentang diri sendiri. Banyak sekali
yang kita ungkapkan tentang diri kita melalui
ekspresi wajah, sikap tubuh, pakaian, nada
suara, dan melalui isyarat-isyarat nonverbal
lainnya yang tidak terhitung jumlahnya,
meskipun banyak di antara perilaku tersebut
tidak disengaja. Namun, penyingkapan diri
yang kita pakai di sini merupakan perilaku
yang disengaja.
Morton mengemukakan bahwa
pengungkapan diri merupakan kegiatan
membagi perasaan dan informasi yang akrab
dengan orang lain. Informasi dalam
pengungkapan diri ini bersifat deskriptif dan
evaluatif. Deskriptif artinya individu
melukiskan berbagai fakta mengenai diri
sendiri yang mungkin untuk diketahui oleh
orang lain, misalnya seperti alamat dan usia.
Sedangkan evaluatif artinya individu
mengemukakan pendapat atau perasaan
pribadinya lebih mendalam kepada orang lain,
misalnya seperti tipe orang yang disukai, hal-
hal yang disukai maupun hal-hal yang tidak
disukai (Morton, 1978: 72-81).
2.3 Hubungan Romantis Pernikahan
2.3.1 Hubungan Romantis (Romantic
Relationship)
Hubungan romantis identik dengan
cinta (love). Love dan romantic relationship
(hubungan romantis) biasanya dideskripsikan
dalam istilah-istilah connectedness,
relatedness, bondedness, atau hasrat untuk
menjalin hubungan yang intim (Florsheim,
2003). Pendapat lain mengatakan romantic
atau intimate relationship adalah bagaimana
seseorang mempersepsikan perubahan
hubungan yang resiproksitas, emosional, dan
erotis yang sedang terjadi dengan pasanganny
(Karney, 2007). Robert J. Sternberg
menjelaskan tiga karakteristik unik dari
hubungan romantis, antara lain
(Gamble&Gamble, 2005: 268):
1) Komitmen (commitment) adalah
keinginan atau ketetapan untuk tetap
bertahan pada suatu hubungan bahkan
ketika masalah terjadi. Masing-masing
individu yang terlibat berusaha tetap
bertahan dalam suatu hubungan walau
apapun yang terjadi.
2) Hasrat (passion) adalah suatu rasa
ketertarikan secara positif yang terus
menerus dirasakan, yang membuat
masing-masing individu merasa selalu
ingin bersama dengan individu lainnya.
3) Keintiman (intimacy) adalah sebuah
perasaan yang menandakan adanya
kedekatan dan konektivitas antara
individu satu dengan lainnya.
2.3.2 Pernikahan
Pernikahan atau pernikahan secara
hukum, dinyatakan dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 1/1974, bab I,
pasal 1 Perkawinan ialah Ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk
keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Pernikahan
merupakan ikatan lahir batin dan persatuan
antara duapribadi yang berasal dari keluarga,
sifat, kebiasaan, dan budaya yang berbeda.
Pernikahan juga memerlukan penyesuaian
secara terus menerus.
Setiap pernikahan selain cinta juga
diperlukan saling pengertian yang mendalam,
kesediaan untuk saling menerima pasangan
masing-masing dengan latar belakang yang
merupakan bagian dari kepribadiannya. Orang
menikah bukan hanya mempersatukan diri,
tetapi seluruh keluarga besarnya juga ikut.
Pernikahan adalah ungkapan iman,dimana
terjadi persatuan dua tubuh dan dua pribadi
yang berbeda, di dalamnya seseorang menaru
makna dan kebahagian hidupnya di dalam diri
seseorang lainnya (Newman, 2006). Dalam
pernikahan diperlukan penyesuaian yang baik
antara suami dan istri serta kesanggupan dan
kemampuan sang suami dan istri untuk
berhubungan dengan mesra dan saling
memberi dan menerima cinta (Hurlock, 1980:
290).
2.3.3 Negosiasi
Negosiasi merepresentasikan pertukaran
informasi melalui bahasa yang
mengoordinasikan dan mengelola makna.
Dalam negosiasi, bahasa beroperasi dalam
dua level: level logikal (untuk proposal atau
penawaran) dan level pragmatis (semantik,
sintaksis, dan gaya) (Lewicki Barry&
Saunders, 2012: 223). Sheppard dan
Tuchinsky mencatat beberapa cara di mana
suatu konteks hubungan yang ada mengubah
dinamika negosiasi (Lewicki, Barry&
Saunders, 2012: 365-369):
1) Negosiasi dalam hubungan terjadi setiap
saat
2) Negosiasi seringkali bukanlah jalan untuk
mendiskusikan sebuah masalah, tetapi
cara untuk belajar lebih banyak tentang
pihak lain dan meningkatkan saling
ketergantungan
3) Resolusi dari masalah-masalah distributif
yang sederhana memiliki implikasi untuk
masa depan
4) Isu-isu distributif dalam negosiasi
hubungan dapat memanas secara
emosional
5) Negosiasi dalam hubungan dapat saja
tidak pernah berakhir
6) Dalam banyak negosiasi, orang lain
merupakan masalah utama
7) Dalam beberapa negosiasi, pemeliharaan
hubungan merupakan tujuan negosiasi
yang terlalu dipaksakan, dan pihak-pihak
dapat membuat konsesi terhadap
masalah-masalah substantial untuk
memelihara atau meningkatkan
hubungan.
2.3.4 Teori Bermain Peran
Jalaluddin Rakhmat (1996: 122)
mengatakan, model peranan memandang
hubungan interpersonal sebagai panggung
sandiwara. Di sini setiap orang harus
memainkan peranannya sesuai dengan
skenario yang dibuat oleh masyarakat.
Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi
skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi
jika menyalahi skenario, maka dia akan
dicemooh oleh penonton dan ditegur oleh
sutradara.
Asumsi teori peranan mengatakan
bahwa hubungan interpersonal akan berjalan
harmonis mencapai kadar hubungan yang
baik yang ditandai adanya kebersamaan,
apabila setiap individu bertindak sesuai
dengan ekspektasi peranan, tuntutan peranan,
dan terhindar dari konflik peranan. Ekspektasi
peranan atau peranan yang diharapkan,
artinya hubungan interpersonal berjalan baik
apabila masing-masing individu dapat
memainkan peranan sebagaimana diharapkan.
(Suranto Aw, 2011: 38).
III. METODE PENELITIAN
Metodologi yang digunakan oleh
peneliti dalam penelitian ini adalah
metodologi kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif. Peneliti menggunakan data
pengalaman individu/informan dalam
penelitian ini. Informan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah pasangan pernikahan
yang sampai saat ini telah melewati masa
pernikahan perak. Pengumpulan data dalam
penelitian menggunakan metode wawancara
secara mendalam (depth interview). Analisis
data menggunakan analisis kualitatif yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya
menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola (Bogdan dalam Moleong, 2011: 248).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara,
pernikahan merupakan wujud dari ungkapan
iman yang di dalamnya pasangan bersatu
untuk saling berbagi rasa dan membutuhkan
pengertian di dalamnya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Newman (2006) yang
menyebutkan bahwa pernikahan juga
memerlukan penyesuaian secara terus
menerus. Setiap pernikahan selain cinta juga
diperlukan saling pengertian yang mendalam,
kesediaan untuk saling menerima pasangan
masing-masing dengan latar belakang yang
merupakan bagian dari kepribadiannya. Orang
menikah bukan hanya mempersatukan diri,
tetapi seluruh keluarga besarnya juga ikut.
Pernikahan adalah ungkapan iman,dimana
terjadi persatuan dua tubuh dan dua pribadi
yang berbeda, di dalamnya seseorang
menaruh makna dan kebahagian hidupnya di
dalam diri seseorang lainnya.
Saling berbagi dengan suami maupun
istri dalam segala hal dan permasalahan
merupakan salah satu kebutuhan dalam
berpasangan yang terdapat pada sebuah
pernikahan. Sebuah pernikahan yang di
dalamnya terdapat interaksi antara suami
dengan istri, di dalamnya muncul sebuah
kebutuhan, terdapat kebutuhan untuk
disayang dan untuk saling bekerjasama. Hal
ini sesuai dengan teori yang menyebutkan
bahwa secara kodrati manusia adalah
makhluk sosial. Seseorang tidak dapat hidup
sendiri, tetapi perlu bekerjasama dalam
lingkungan pergaulan sosial. Dalam
kehidupan bermasyarakat, setiap anggota
masyarakat juga ingin diterima dalam
lingkungan sosial. Selain itu manusia juga
memerlukan kasih sayang, cinta, persahabatan
dan sebagainya (Suranto, 2011: 46-47).
Berangkat dari makna dan kebutuhan
yang terdapat dalam sebuah pernikahan, pada
dasarnya setiap pasangan membutuhkan
kerjasama, komunikasi, dan adanya
keterbukaan untuk dapat mempertahankan
pernikahan karena hal ini merupakan wujud
penyesuaian dengan pasangan. Hal tersebut
merupakan sarana untuk menunjukkan rasa
cinta dan kasih sayang kepada pasangan. Ini
sesuai dengan pernyataan Hurlock yang
menyebutkan bahwa Dalam pernikahan
diperlukan penyesuaian yang baik antara
suami dan istri serta kesanggupan dan
kemampuan sang suami dan istri untuk
berhubungan dengan mesra dan saling
memberi dan menerima cinta (Hurlock,
1980: 290).
Spanier mendefinisikan romantic
relationship sebagai sebuah disposisi umum
individu terhadap cinta, perkawinan, keluarga,
dan suatu hubungan yang melibatkan interaksi
antara laki-laki dan perempuan (De Munck,
1998). Setiap pasangan pernikahan yang
menjadi informan dalam penelitian ini
memiliki cara masing-masing dalam menjaga
hubungan romantis sesuai karakteristik
uniknya. Terdapat beberapa hal yang dapat
menjadikan pasangan pernikahan usia perak
dapat mempertahankan pernikahan dan
menjaga hubungan romantisnya hingga
melewati usia lebih dari dua puluh lima tahun.
Hal tersebut berkaitan dengan ketertarikan
dan komitmen yang dimiliki masing-masing
informan terhadap pasangannya.
Ketertarikan dapat terwujud dalam
bentuk komponen seksual maupun
kepribadian. Hal ini sesuai dengan pernyataan
yang menyebutkan bahwa romantic
relationship merupakan beberapa bentuk dari
ketertarikan (attraction). Ketertarikan ini
khususnya melibatkan komponen seksual.
Ketertarikan seksual sering dinyatakan dalam
beberapa bentuk perilaku seksual, tapi tidak
selalu. Perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh
pribadi, religiusitas, dan nilai-nilai budaya
(Furman, 1999). Menyimpan permasalahan
yang terjadi agar tidak sampai terdengar oleh
orang lain dan anak-anak adalah salah satu
usaha yang dilakukan oleh beberapa informan
penelitian dalam menjaga komitmen.
Sendika dhawuh merupakan bagian dari
negosiasi yang dilakukan seorang istri
terhadap suami. Seorang istri melakukan
diskusi dengan suami untuk memutuskan
segala hal. Ini merupakan salah satu wujud
usaha seorang istri dalam mempertahankan
hubungannya. Negosiasi merepresentasikan
pertukaran informasi melalui bahasa yang
mengoordinasikan dan mengelola makna.
Negosiasi dalam hubungan terjadi setiap saat.
Negosiasi seringkali bukanlah jalan untuk
mendiskusikan sebuah masalah, tetapi cara
untuk belajar lebih banyak tentang pihak lain
dan meningkatkan saling ketergantungan
(Lewicki, Barry& Saunders, 2012: 365-369).
Terdapat keintiman berupa kedekatan
dan rasa cinta yang semakin bertambah dari
hari ke hari. Keintiman (intimacy) adalah
sebuah perasaan yang menandakan adanya
kedekatan dan konektivitas antara individu
satu dengan lainnya (Gamble&Gamble, 2005:
268). Keromantisan melibatkan suatu
hubungan, pola yang berlangsung terus
menerus dari asosiasi dan interaksi antara dua
individu yang mengakui suatu hubungan
dengan yang lainnya (Furman, 1999).
melakukan kegiatan yang sama-sama menjadi
kewajiban dan kebutuhan dalam berumah
tangga adalah wujud dari keterlibatan itu
sendiri. Keterlibatan (inclusion) mencakup
keinginan manusia untuk membangun dan
mengembangkan suatu hubungan yang mana
dia memiliki keterkaitan dan kepentingan
dengan orang lain. Suatu rasa yang mana
mereka dapat mengambil keuntungan dari
mereka. Adanya saling keterkaitan,
membutuhkan, dan diperhatikan oleh orang
lain (Gamble&Gamble, 2005: 234-235).
Hubungan dengan pasangan dapat
berkembang salah satunya adalah melalui
bentuk pemberian. Hal ini merupakan salah
satu wujud perhatian. Perhatian (affection)
melibatkan kebutuhan untuk memberi dan
menerima cinta dan untuk merasakan
pengalaman secara emosional dalam
membangun suatu hubungan yang intim. Jika
hal ini tidak terpenuhi, maka individu
seringkali merasa tidak dicintai, dan
tersingkirkan dari pergaulan
(Gamble&Gamble, 2005: 324-235). Perhatian
yang diberikan secara intens oleh para
informan terhadap masing-masing
pasangannya, dapat membuat pasangan
merasa disayang, dibutuhkan, dan tentunya
diperhatikan. Ketika akan melakukan aktivitas
di luar rumah atau bepergian, beberapa
informan terbiasa untuk berpamitan dengan
pasangan. Mengatakan kepada pasangan
mengenai tempat tujuan dan berapa lama akan
pergi menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh
beberapa informan hingga sekarang
pernikahannya telah melewati usia pernikahan
perak. pasangan pernikahan usia perak
mengedapankan kejujuran dan kepercayaan
dalam hubungannya. Dengan menaruh
kepercayaan kepada pasangan, maka
keutuhan hubungan akan mudah terjaga
sehingga meningkatkan jalinan intimasi
dalam hubungan (Prager, 1989).
, pasangan pernikahan usia perak kerap
membagi informasi seputar orang lain dan
memberikan perhatian pada pasangan melalui
komunikasi antarpribadi. Hal ini sesuai
dengan tujuan komunikasi antar pribadi, yaitu
menemukan dunia luar dan mengungkapkan
perhatian. Menemukan dunia luar, melalui
komunikasi antarpribadi diperoleh
kesempatan untuk mendapatkan berbagai
informasi dari orang lain, termasuk informasi
penting dan aktual. Mengungkapkan perhatian
kepada orang lain.
Salah satu tujuan komunikasi
antarpribadi adalah untuk mengungkapkan
perhatian kepada orang lain. Dalam hal ini
seseorang berkomunikasi dengan cara
menyapa, tersenyum, melambaikan tangan,
membungkukkan badan, menanyakan kabar
kesehatan partner komunikasinya, dan
sebagainya (Suranto, 2011: 19-21). Hubungan
pernikahan pasangan pernikahan usia perak
merupakan hubungan antarpribadi yang di
dalamnya terdapat keterbukaan. Memahami
apa yang dirasakan oleh pasangan dalam
berkomunikasi dilakukan dengan tidak
membahas hal-hal yang berkaitan dengan
masalah di masa lalu. Mengungkit-ungkit
permasalahan yang terjadi tidak disukai oleh
beberapa informan dan dianggap tidak
mendatangkan keuntungan sama sekali bagi
pengembangan hubungan suami istri. Sikap
positif juga terdapat dalam hubungan
pernikahan ketiga pasangan pernikahan usia
perak.
Sikap positif dalam berkomunikasi
diawali dengan menghargai pasangan melalui
cara informan dalam memanggil
pasangannya. Adanya perbincangan mengenai
nostalgia yang dapat menambah ikatan
kesatuan dan hubungan romantis ketiga
pasangan pernikahan usia perak ini menjadi
berarti ketika kedua belah pihak sama-sama
menikmati saat-saat tersebut dan mensyukuri
apa yang telah dicapainya. Kebersatuan,
mengacu pada penggabungan antara
pembicara dan pendengar, dimana terciptanya
rasa kebersamaan dan kesatuan yang
mengisyaratkan minat dan perhatian untuk
mau mendengarkan (Devito, 1997: 259-268).
Hal yang lebih banyak diungkapkan
dalam pengungkapan diri adalah hal yang
berkaitan dengan perasaan. Hal ini merupakan
informasi yang bersifat evaluatif. Morton
mengemukakan bahwa pengungkapan diri
merupakan kegiatan membagi perasaan dan
informasi yang akrab dengan orang lain.
Informasi dalam pengungkapan diri ini
bersifat deskriptif dan evaluatif. Deskriptif
artinya individu melukiskan berbagai fakta
mengenai diri sendiri yang mungkin untuk
diketahui oleh orang lain, misalnya alamat
dan usia. Sedangkan evaluatif artinya individu
mengemukakan pendapat atau perasaan
pribadinya lebih mendalam kepada orang lain,
misalnya seperti tipe orang yang disukai,
maupun hal-hal yang tidak disukai (Morton,
1978: 72-81). Pengungkapan diri dapat
membuat ketiga pasangan lebih mengenali
dirinya, mampu mengatasi kesulitan, berperan
dalam efisiensi komunikasi dan kedalaman
hubungan.
Bahasa tubuh yang terdapat saat
pasangan sedang berbincang meliputi posisi
duduk dan kontak mata yang dapat membuat
pasangan semakin intim dalam
perbincangannya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan yang menyebutkan setiap anggota
tubuh seperti wajah (termasuk senyuman dan
pandangan mata), tangan, kepala, kaki, dan
bahkan tubuh secara keseluruhan dapat
digunakan sebagai isyarat simbolik. Sentuhan
ini bisa merupakan tamparan, pukulan,
cubitan, senggolan, tepukan, belaian, pelukan,
pegangan (jabatan tangan), rabaan, hingga
sentuhan lembut sekilas (Mulyana, 2008: 352-
353). Peran dari adanya komunikasi
nonverbal dapat dikatakan mempunyai
pengaruh yang berarti dalam hubungan
romantis ketiga pasangan pernikahan usia
perak yang terdapat dalam penelitian ini.
Sentuhan yang diberikan kepada pasangan
pada moment-moment tertentu dirasa sangat
berkesan bagi beberapa informan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Makna pernikahan bagi pasangan
pernikahan usia perak adalah sebagai salah
satu wujud penghargaan terhadap nilai-nilai
keagamaan, saling berbagi rasa serta untuk
regenerasi keluarga. Wujud romantisme lebih
banyak terwujud melalui hal-hal kecil yang
mencerminkan perhatian dan kasih sayang.
Komunikasi antar suami istri dianggap
sebagai hal penting yang harus dijaga dengan
baik dalam sebuah hubungan pernikahan.
Diperlukan peran salah satu atau kedua belah
pihak dalam menciptakan suasana nyaman
dalam perbincangan. Proses komunikasi
disesuaikan dengan karakteristik pasangan.
Pernikahan perlu dimaknai lebih dalam
sebagai wujud penghargaan terhadap nilai-
nilai agama agar pernikahan dapat dijalani
dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan.
Hubungan romantis dapat terjaga dengan baik
apabila terdapat kejujuran, kepercayaan,
kemauan serta peran salah satu maupun kedua
belah pihak untuk dapat mempertahankan
hubungan. Komunikasi suami istri
disesuaikan dengan karakteristik pasangan
untuk meminimalisir kesalahpahaman yang
dapat memicu munculnya konflik. Suasana
nyaman diperlukan untuk dapat menciptakan
atmosfer yang menyenangkan dalam
berkomunikasi dengan pasangan.
DAFTAR PUSTAKA
Budyatna, Muhammad & Leila Nona Ganiem.
2011. Teori Komunikasi Antarpribadi.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Corr, P. J., & Matthews, G. 2009. The
Cambridge Handbook of Personality
Psychology. New York: Cambridge
University Press.
De Munck, Viktor C. 1998. Romantic Love
and Sexual Behavior: Perspectives
from the Social Science. London :
Greenwood Publishing Group.
Devito, Joseph A. 1997. Interpersonal
Communication. Jakarta: Professional
Books.

Effendy, Onong Uchjana. Dinamika
Komunikasi. 2008. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Fisher, Aubrey B & Katherine L. Adams.
1994. Interpersonal Communication:
Pragmatics of Human Relationships.
New York: McGraw-Hill.
Florsheim, Paul. 2003. Adolescent Romantic
Relations and Sexual Behavior:
Theory, Research, and Practical
Implication. London: Lawrence
Erlbaum Associates.
Furman, Wyndol., et al. 1999. The
Development of Romantic
Relationship in Adolescence. USA:
Cambridge University Press.
Gamble, Teri Kwal & Michael Gamble. 2005.
Communication Works International
Eight Edition. New York: McGraw-
Hill.
Gea, Yuni Wulandari dan Babari. 2003.
Character Building II (Relasi dengan
Sesama). Jakarta: Gramedia.