You are on page 1of 5

........

( dari kalimat sebelumnya) Analisa regresi linear berganda dilakukan pada


setiap individu dengan perubahan kognitif sebagai variabel terikatnya. Usia, tingkat
pendidikan, jenis kelamin dan status mood tidak dimasukkan sebagai variabel dalam studi ini.
Diantara subjek penelitian yang mengalami gangguan kognitif ringan, tingkat stres yang
tinggi dikaitkan dengan peningkatan penurunan fungsi kognitif yang dinilai dengan
menggunakan skala demensia mattis ( Mattis Dementia Rating Scale) tetapi hal ini tidak
berlaku untuk fungsi memori yang lain. Berlawanan dengan hal ini, tingkat sters yang tinggi
pada individu normal tidak berkaitan dengan terjanidnya penurunan fungsi kognitif. Studi ini
dilakukan dengan fokus pada efek sinergis antara tingkat stress yang tinggi dan terjadinya
penurunan fungsi kognitif dan menggarisbawahi pentingnya dilakukan tes secara mendasar
untuk mencegah terjadfinya bias. Sangat dimungkinkan bahwa pengukuran selama 3 tahun
belumlah cukup untuk melihat suatu stres bermanifestasi pada subjek. Model studi ini tidak
mengeksklusikan kemampuan koping suatu individu dan terjadinya penurunan fungsi
kognitif pada kelompok yang pengalami gangguan fungsi kognitif ringan sangat berkaitan
dengan stresor yang dialami masing-masing subjek. Sebagai contoh, peningkatan penururan
fungsi kognitif secara hipotesa dapat memicu terjadinya gangguan finansial yang dapat
dikategorikan sebagai stres berat.
Johansson melakukan penelitian pada 1462 wanita yang berasal dari Swedia pada
studi longitudinal jangka panjang yaitu selama 35 tahun. Tingkat stres dinilai dengan
menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dikategorikan menjadi tidak stres
apabila skor yang didapat sebesar 0 dan stres berkepanjangan apabiala total skor sebesar 5.
Diagnosa demensia ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan klinis, review dari rekam
medis dan pengukuran neuropsikologis yang kemudian dilakukan follow up pada 7, 13, 25
dan 35 tahun setelahnya. Selama pengukuran, 11% dari total sampel terdiagnosa dengan
demensia. Hubungan antara stres psikologis dan insidensi berbagai jenis demensia dianalisa
dengan menggunakan model regresi Cox dengan variabel perancu antara lain faktor
demografis, perilaku dan berbagai faktor resiko lain seperti rasio lingkar panggul. Terdapat
peningkatan resiko terjadinya demensis seperti yang terlihat pada data penelitian dengan
Hazzard Ratio (HR) sebesar 1,6. Subjek yang mengalami stres berkepanjangan pada 2 dari 3
penilaian awal memiliki pengikatan resiko untuk terkena alzeimer dibandingan dengan
kelompok yang tidak mengalami periode stres. Subjek yang mengalami stres berkepanjangan
baika pada penilaian pertama, kedua maupun ketiga mengalami peningkatan resiko terkane
demensia (HR= 1.1, 1.7 dan 2.7). Peneliti kemudian menyimpulkan bahwa terdapaat asosiasi
antara stres psikologis pada wanita tengah baya dan kecenderungan untuk berkembangnya
demensia dan alzeimer secara khusus. Peniliti menekankan bahwa karena perubahan otak
pada individu yang mengidap alzeimer telah terjadi sebelum munculnya tanda dan gejala,
maka sangatlah mungkin bahwa demensia dapat meningkatkan kerentanan seseorang
terhadap stres dibandingkan dengan sebaliknya. Hasil ini dabat digeneralisasikan secara
umun dengan mengeksklusikan pasien laki-laki.
Johansson kemudian melakukan penelitian kohort pada 684 subjek untuk
dilakukan CT scan otak. Dari 684 partisipan ini, 344 diantaranya memiliki riwayat stres
psikologis pada tahun 1968. Setelah itu seorang neurologis menilai hasil CT scan secara
visual dan mengfkategorikan hasilnya sebagai ringan, sedang, berat untuk lesi pada
substansia alba, atrofi regio korteks dan ukuran ventrikel. Wanita yang dilaporkan mengalami
stres selama 5 tahun sebelum dilakukan pengukuran pada tahun 1968, 1974 dan 1980
cenderung memiliki lesi sedang-berat pada substansia alba bila dibandingkan dengan wanita
yang tidak mengalami stres dengan odds rasio (OR) sebesar 2.4 demikian halnya dengan
terjadinya atrofi lobus temporalis dengan OR sebesar 2.5. Peneliti menyimpulkan bahwa
paparan stres psikologis jangka panjanng pada usia paruh baya akan meningkatkan resiko
terjadinya atrofi serebral dan substansia alba di usia lanjut. Namun peneliti menekankan
bahwa hubungan antara peningkatan stres dan perubahan otak tidak dapat begitu saja
ditentukan saecara pasti. Sebagai contoh, wanita dengan kecenderungan mengalami
perubahan otak secara biologis akan juga mudah mengalami stres.
Comijs melakukan penelitian dengan menggunakan 1936 sampel individu dari
Belanda yang berasal dari kelompok Longitudinal Aging Study Amsterdam dalma jangka
waktu 3 tahun. Studi ini menggunakan tes kognitif The Folstein Mini-Mental State
Examination (MMSE). Tes ini merupakan versi Belanda dari tes Rey Auditory Verbal
Learning dan The Alphabet Coding Test-15, Akumulasi paparan stres selama 3 tahun
pengukuran semuanya dinilai melalui wawancara terstruktur. Akumulasi paparan stres tidak
dikaitkan dengan kualitas pengukuran keampuan kognitif yang dilakukan dalam studi ini.
Subjek yang memiliki skor inisial rendah pada MMSE memiliki performa yang lebih baik
dalam menghadapi peningkatan paparan stresor yang dihadapi. Dalam penilaian macam-
macam stresor secara spesifik, ditemukan hasil yang kontradiktif bahwa stresor-stresor
tertentu ( misalnya kematian dari anak atau cucu) berkaitan dengan penurunan skor MMSE
sedangkan stresor lainnya sebagai contoh sakitnya pasangan hidup memiliki kaitan dengan
penurunan skor MMSE yang lebih rendah dibandingkan dengan individu yang tidak
mengalami stesor tersebut. Terdapat hasil kontradiktif lainnya sebagai contoh pada subjek
yang mengalami konflik interpersonal biasanya memiliki perbaikan skor yang terlihat pada
saat follow up. Oleh sebab itu studi ini menghasilkan kesulitan didalam menetapkan efek
yang pasti dari stres sesuai dengan kondisi diatas.
Andel melakukan studi mengenai hubungan antara stres yang berkaitan dengan
pekerjaan dalam hubungannya dengan resiko demensia. Studi ini menggunakan sampel
10.106 individu yang berasal dari Swedia yang merupakan kembar baik mono maupun
dizygot. Stres yang dikaitkan dengan pekerjaan dinilai dengan menggunakan pendekatan
Karasek-Theorell, yaitu merupakan prosedur tervalidasi yang menilai secara psikologis
seberapa menuntutnya setiap pekerjaan dan seberapa banyak kontrol yang dimiliki suatu
pekerja atas pekerjaannya. Variabel tekanan pekerjaan berasal dari rasio tuntutan pekerjaan
dengan kontrol pekerjaan. Permasalahan kognitif dinilai melalui skrining via telepon dan
wawancara secara langsung menggunakan konsensus kriteria diagnosis. Peneliti juga menilai
dukungan sosial sebagai variabel pendukung. Diagnosis demensia ditegakkan pada 167
subjwek dan demensia vaskuler pada 46 subjek. Rata-rata usia munculnya demensia adalah
pada 76.8 tahun. 9849 subjek yang lain dimasukkan dalam kelompok kontrol. Analisa pada
seluruh kelompok sample menunjukkan bahwa tekanan pekerjaan tidak dapat untuk
memprediksi keseluruhan kejadian demensia. Walaupun terdapat asosiasi lemah antara
kontrol pekerjaan (OR=1,2) dengan demensia vaskuler (OR=1,4). Kombinasi dari tingginya
tekanan pekerjaan dengan lemahnya dukungan sosial juga menunjukkan hubungan yang
signifikan dengan tingginya resiko berkembangnya demensia vaskuler (OR=1,4). Efek ini
didapatkan setelah memperhitungkan usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin dan tingkat
kesulitan pekerjaan. Studi ini mendukung model studi Karasek-Theorell terkait stress yang
berhubungan dengan pekerjaan serta memberikan tambahan data yang menghubungkan stress
terkait pekerjaan dengan resiko berkembangnya salah satu jennis demensia terutama
demensia vaskuler. Peneliti berpendapat bahawa stres berkaitan dengan demensia vaskuler
melalui jalur kardiovaskuler dimana percepatan penuaan sistem kardiovaskuler merupakan
hasil dari adanya stres kronis yang mempercepat timbulnya demensia. Manfaat dari
pendekatan untuk dapat mendefinisikan stres yang berkaitan dengan pekerjaan adalah bahwa
pendekatan ini dapat mengeliminasi subjektifitas dari penilaian secara retrospektif.
Keterbatasan studi ini termasuk tidak adanya pengukuran yang objektif dari data dan
terbatasnya generalisasi yang dapat dilakukan karena subjek penelitian merupakan pasangan
kembar.
Deng melakukan studi dengan menggunakan sampel sebanyak 5262 individu yang
berasal dari Cina yang berusia lebih dari 55 tahun. Subjek ini kemudian menjalani skrining
untuk gangguan neurologis, medis, psikiatri dan sensorik selama 5 tahun. Fungsi kognitif
dinilai menggunakan MMSE; bila didapatkan skor yang rendah maka kemudian dilakukan tes
neuropsikologis tambahan. Selain itu dilakukan juga analisa tambahan untuk
mengeksklusikan kemungkinan adannya positif palsu dan faktor resiko perancu yaitu
gangguan vaskuler dan depresi. Follow up dilakukan tiap tahun dengan melakukan
pengukuran MMSE ulang dan penilaian aktivitas sehari-hari. Melalui studi ini maka dapat
diketahui bahwa kematian pasangan hidup ataupun krisis finansial dapat meningkatkan
resiko terjadinya gangguan kognitif. Hasil ini didapatkan setelah dilakukan pengendalian
terhadap sejumlah variabel perancu dengan HR sebesar 1,5. Meskipun demikian tidak
didapatkan adanya efek yang signifikan untuk stresor lain seperti kematian sahabat,
munculnya suatu penyakit, terjadinya suatu kecelakaan ataupun timbulnya suatu masalah
hukum
Leng melakukan pengukuran terhadap stresor pada masa kanak-kanak, akumulasi
stresor selama masa kehidupan, dan timbulnya stresor baru demikian halnya dengan
mekanisme koping dan dukungan sosial dalam sebuah studi kohort dengan menggunakan
5129 sampel individu yang berasal dari Inggris yang berusia 49-90 tahun. Studi ini
merupakan studi epidemiologi secara prospektif untuk memonitor faktor resiko terjadinya
kanker. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kuesioner Health and Life Experiences.
Kuesioner ini juga menilai mengenai adanya kejadian-kejadian traumatis selama 5 tahun
terakhir, kejadian-kejadian ini meliputi diantaranya kematian/kehilangan, kondisi adaptasi,
kondisi stres secara subjektif dan dukungan sosial. Fungsi kognitif dinilai selama follow up
dengan menggunakan MMSE yang dimodifikasi. Setelah dilakukan penyesuaian antara jenis
kelamin dengan usia, didapatkan bahwa skor MMSE berkaitan dengan kejadian
kehilangan/kematian yang dialami subjek. Subjek dengan tingkat stres yang tinggi cenderung
memiliki skor MMSE yang rendah dengan peningkatan OR sebanyak 1,1 untuk setiap
kenaikan paparan stresor. Namun, hal ini hanya terbatas pada paparan stres secara subjektif
dan pada subjek yang memiliki tingkat pendidikan rendah. BErkebalikan dengan hasil ini,
hasil pengukuran paparan stresor secara objektik tidak berkaitan dengan skor MMSE karena
setiap subjek memiliki kemampuan adaptasi/koping terhadap stres yang berlainan. Studi ini
mengggaris bawahi peran dari persepsi subjektif sesorang terhadap stres dan hal ini
menggambarkan hubungan antara tingkat pendidikan dengan kemampuan adaptasi/koping
seseorang dalam menghadapi stres.