You are on page 1of 5

KELOMPOK 5 :

Mahdi Noor Erdin


M.Zainal Ilmi
Rio Prapuja Kael
Rizky Sanadi
Seto Prabowo Epsa


soal :
cari cara perhitungan pasang surut dengan metode admiralty ?

jawab

Pengamatan Pasang Surut
Pengamatan pasang surut di Pelabuhan Beras Basah dilakukan pada tanggal 9 23
Mei 1997. Adapun alat pencatatnya adalah A-OTT KEMPTEN R-20 Strip-Chart yang
dikelola oleh Bakosurtanal. Alat tersebut masuk dalam klasifikasi jenis pelampung (float
type tide gauge), yaitu alat pencatat pasang surut otomatis yang bekerja berdasarkan
naik turunnya pelampung. Cara kerjanya dengan mencatat sendiri perubahan naik
turunnya permukaan laut dalam skala yang lebih kecil pada kertas pencatat (recording
paper) dalam bentuk grafik.

Koreksi Data
Grafik hasil pengamatan pada recording paper tersebut merupakan fungsi dari
garis-garis skala tinggi dengan waktu. Gerakan kertas menurut waktu dilaksanakan oleh
suatu mekanisme jam dengan penggerak pegas atau baterai. Dari data bentuk grafik
(analog) tersebut diubah dalam bentuk data numerik (angka) dengan mengkonversi
pada skala yang sebenarnya sehingga hasil data numerik akan menggambarkan keadaan
sebenarnya di lapangan pengamatan. Konversi data inilah yang mengakibatkan
timbulnya kesalahan-kesalahan yang harus dilakukan koreksi. Sebagai pembanding
dapat dilihat pada rambu ukur yang biasanya terpasang pada lokasi pengamatan pasang
surut.
Kemudian data yang digunakan untuk penelitian ini berupa data-data numerik
yang disusun dalam tabel kedudukan tinggi air laut (dalam satuan sentimeter) tiap jam
(24 jam) untuk 15 hari pengamatan dan sudah terkoreksi sehingga sudah siap untuk
dilakukan perhitungan selanjutnya.


DATA PENGAMATAN
Data pengamatan
disusun menurut
Skema 1
Skema 2
Skema 4
Skema 3
Skema 5 & 6
Skema 7 & 8
Tabel 2
Tabel 40, 41, 42 dan 43
Tabel 30 & 31
Tabel 6
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Keterangan:
: hasil pekerjaan
: tabel
: garis kerja
: garis konfirmasi dengan
tabel
: tahap pekerjaan ke-9

9
Gambar 1. Skema cara perhitungan pasut laut dengan metode Admiralty
Perhitungan
Perhitungan dengan metode Admiralty, yaitu hitungan untuk mencari harga
amplitudo (A) dan beda fase (g
0
) dari data pengamatan selama 15 piantan (hari
pengamatan) dan mean sea level (S
0
) yang sudah terkoreksi. Secara skematik,
perhitungan dengan metode Admiralty melalui beberapa tahapan seperti digambarkan
pada Gambar 1.
Adapun tahapan perhitungan tersebut menggunakan delapan kelompok hitungan
(skema) dengan bantuan tabel-tabel dari perhitungan metode Admiralty. Secara garis
besar hitungan dengan menggunakan metode Admiralty adalah sebagai berikut:
1. Kelompok hitungan 1
Pada hitungan kelompok ini ditentukan pertengahan pengamatan, bacaan
tertinggi dan terendah. Bacaan tertinggi menunjukkan kedudukan alat tertinggi
dan bacaan terendah menunjukkan alat terendah
2. Kelompok hitungan 2
Ditentukan bacaan positif (+) dan negatif (-) untuk kolom X
1
, Y
1
, X
2
, Y
2
, X
4
dan Y
4

dalam setiap hari pengamatan.
3. Kelompok hitungan 3
Pengisian kolom X
0
, X
1
, Y
1
, X
2
, Y
2
, X
4
dan Y
4
dalam setiap hari pengamatan. Kolom
X
0
berisi perhitungan mendatar dari hitungan X
1
pada kelompok hitungan 2
tanpa memperhatikan tanda (+) dan (-). Kolom X
1
, Y
1
, X
2
, Y
2
, X
4
dan Y
4

merupakan penjumlahan mendatar dari X
1
, Y
1
, X
2
, Y
2
, X
4
dan Y
4
pada kelompok
hitungan 2 dengan memperhatikan tanda (+) dan (-) harus ditambah dengan
besaran B(B kelipatan 100)
4. Kelompok hitungan 4
Untuk pengamatan 15 piantan, besaran yang telah ditambah B dapat ditentukan
dan selanjutnya menghitung X
00
, Y
00
sampai dengan X
4d
, Y
4d
dimana:
- Indeks
00
untuk X berarti X
00

- Indeks
00
untuk Y berarti Y
00

- Indeks
4d
untuk X berarti X
4d

- Indeks
4d
untuk Y berarti Y
4d

5. Kelompok hitungan 5
Perhitungan pada kelompok ini sudah memperhatikan sembilan unsur utama
pembangkit pasang surut (M
2
, S
2
, K
2
, N
2
, K
1
, O
1
, P
1
, M
4
dan MS
4
). Untuk
perhitungan kelompok hitungan 5 mencari nilai X
00
, X
10
, selisih X
12
dan Y
1b
, selisih
X
13
dan Y
1c
, X
20
, selisih X
22
dan Y
2b
, selisih X
23
dan Y
2c
, selisih X
42
dan Y
4b
dan selisih
X
44
dan Y
4d
. Untuk perhitungan kelompok hitungan 6 mencari nilai Y
10
, jumlah Y
12

dan X
1b
, jumlah Y
13
dan X
1c
Y
20
, jumlah Y
22
dan X
2b
, jumlah Y
23
dan X
2c
, jumlah Y
42

dan X
4d
dan jumlah Y
44
dan X
4d
.
6. Kelompok hitungan 7 dan 8
Menentukan besarnya P.R cos r, P.R sin r, menentukan besaran p, besaran f,
menentukan harga V, V, V dan V untuk tiap unsur utama pembangkit pasang
surut (M
2
, S
2
, K
2
, N
2
, K
1
, O
1
, P
1
, M
4
dan MS
4
), menentukan harga u dan harga p
serta harga r.
Akhirnya dari perhitungan ini akan menentukan harga w dan (1+W), besaran g,
kelipatan dari 360
0
serta amplitudo (A) dan beda fase (g
0
).

Analisa dan Interpretasi
Dari besaran amplitudo (A) dan beda fase (g
0
) konstanta harmonik pasang surut
air laut yang diperoleh, dapat dianalisis sifat-sifat perairan Pelabuhan Beras Basah
melalui tabiat pasang surutnya, yaitu:
1. Tipe pasang surutnya melalui nilai F (Formzal), pada kriteria Courtier.
Nilai F pada bulan Mei 1997 di Pelabuhan Beras Basah dapat dicari melalui
formula:


Nilai F pada saat pengamatan diperoleh 0.300 sehingga tipe pasang surut di
perairan Pelabuhan Beras Basah adalah pasang surut campuran condong ke harian
ganda. Hal ini diakibatkan karena nilai Formzal berkisar antara 0.25 < F < 1.50
berdasarkan kriteria Courtier.
Tabel 2. Hasil hitungan amplitudo (A) dan beda fase (g
0
) di Pelabuhan Beras Basah
Komponen Amplitudo (A) (cm) Beda Fase (g
0
)
S
0
(MSL) 135.99
M
2
56.98 250.63
S
2
38.55 209.15
K
2
13.00 321.00
N
2
7.48 208.84
K
1
16.13 266.85
O
1
12.54 343.10
P
1
15.00 44.00
M
4

MS
4


2. Hitungan kedudukan air laut terendah dan tertinggi
Hitungan air laut tertinggi saat pasang surut purnama (Mean High Water Spring),
air laut tertinggi pada saat pasang surut mati (Mean High Water Neap), air laut
terendah saat pasang surut purnama (Mean Low Water Spring) dan air laut terendah
pada saat pasang surut mati (Mean Low Water Neap) mengacu pada perhitungan
berikut ini:

MHWS = Z
0
+ M
2
+ S
2

MHWN = Z
0
+ M
2
S
2

MLWN = Z
0
M
2
+ S
2

MLWS = Z
0
M
2
S
2


Nilai Z
0
diperoleh dari perhitungan yang sering digunakan di Perancis, yaitu:

Z
0
= S
0
1.2 (M
2
+ S
2
+ K
2
).
Daftar Pustaka

Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting, M. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah
Pesisir dan Lautan secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Emery, W.J. and R.E. Thomson. 1997. Data Analysis Methods in Physical Oceanography.
Pergamon. UK.
Kurniawan, Lilik. 2000. Analisis Harmonik Pasang Surut Pantai Teluk Prigi, Jawa Timur
(Upaya Antisipasi terhadap Tsunami). Jurnal Alami. Volume 5 No 2 Tahun 2000.

Mihardja, D. K. dan R. Setiadi. 1989. Analisis Pasang Surut di Daerah Cilacap dan
Surabaya, in Pasang Surut (editor: Otto R Ongkosongo dan Suyarso). Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Jakarta.
Syamsul H. Analasis Harmonik Pasang Surut dengan Metode Admiralty (Studi Kasus
Pelabuhan Beras, Bontang, Kalimantan Timur)