You are on page 1of 5

Anatomi dan Fisiologi kelenjar tiroid (emir)

Kelenjar tiroid merupakan organ berbentuk seperti kupu-kupu yang terletak di anterior dari trakea pada
cincin trakea kedua sampai ketiga. Kelenjar ini terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan dengan isthmus
pada bagian tengahnya. Setiap lobus berukuran panjang 3-4 cm, lebar 2cm dan tebalnya hanya
beberapa milimeter. Tinggi isthmus 12-15 mm, terkadang terdapat lobus piramidalis di midline, superior
dari isthmus. Berat tiroid sehat hanya sekitar 25 gram dan tidak teraba dari luar.
Vaskularisasi tiroid disuplai oleh arteri tiroidalis superior bilateral yang merupakan cabang dari arteri
karotis eksterna dan arteri tiroidalis inferior bilateral yang merupakancabang dai trunkus tiroservikalis.
Drainase tiroid melalui 3 pasang vena, yakni vena tiroidalis superior, media dan inferior kanan dan kiri.
Struktur penting yang berdekatan dengan kelenjar tiroid adalah nervus laringeus superior, nervus
laringeus inferior (rekuren), kelenjar paratiroid dan esofagus.
Jaringan tiroid memiliki dua jenis sel yang meproduksi hormon. Sel folikuler memproduksi hormon
tiroid, yang berperan untuk mempenaruhi denyut jantung, suhu tubuh, dan tingkat energi. Sedangkan
sel C (sel parafolikuler) memproduksi kalsitonin yang membantu mengendalikan kadar kalsium dalam
darah.
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yaitu triiodothyronin (T3) dan tetraiodothyronin (T4).
Hormon ini berfungsi mengatur sistem metabolisme tubuh. Produksi hormon tiroid diatur oleh otak
melalui Thyroid Releasing Hormone (TRH) dan Thyroid Stimulating Hormone (TSH). Hormon TRH
diproduksi hipotalamus, sedangkan TSH diproduksi oleh hipofisis (kelenjar pituitari).
Jika TSH meningkat, maka kerja kelenjar tiroid dalam memproduksi T3 dan T4 meningkat. Hal sebaliknya
terjadi bila TSH menurun. Tetapi, kerja TSH juga diatur oleh kadar hormon tiroid (T3 dan T4) yang
beredar dalam darah. Jika kadar T3 dan T4 berlebihan dalam darah, maka akan memberikan efek negatif
terhadap hipotalamus dan hipofisis sehingga kadar TSH akan menurun, sehingga sel-sel flikuler kelenjar
tiroid mengurangi produksi hormon T3 dan T4, dan sebaliknya. Inilah yang disebut negative feed back
mechanism. Lebih dari 99% T4 dan 98% T3 dalam sirkulasi berikatan dengan protein yaitu TBG (Thyroxin
binding Globulin), TBPA (Thyroxin Binding Prealbumin) dan albumin. Sisanya dalm bentuk bebas ( Free
T4). Kadar free T4 inilah yang berdampak pada gejala klinis hipertiroid atau hipotiroid. TSH dan Free T4
merupakan indikator utama dari fungsi kelenjar tiroid.

Epidemiologi (emir)

Nodul tiroid atau struma atau pembesaran kelenjar tyroid, adalah pertumbuhan yang berlebihan dan
perubahan struktural dengan atau tanpa perubahan fungsional pada satu atau beberapa bagian di
dalam jaringan tiroid normal. Secara klinis nodul tiroid ditemukan pada 4-7% populasi dewasa dan lebih
sering pada wanita. Nodul tiroid bisa bersifat jinak atau ganas. Prevalensi kanker tiroid adalah 10-30%
dari nodul tiroid secara keseluruhan (nodul tunggal dan multipel). Kanker tiroid merupakan keganasan
endokrin yang tersering dan diperkirakan 3% dari seluruh keganasan manusia. Mayoritas kasus (70%)
terjadi pada wanita. Insiden per tahun di Amerika Serikat 68/satu juta penduduk. Insiden tertinggi di
hawai (119/satu juta wanita dan 45/satu juta pria) dan terendah di Polandia (14/satu juta wanita dan
4/satu juta pria). Di indonesia dari registrasi Perhimpunan Spesialis Patologi Indonesia didapatkan
kanker tiroid menempati urutan ke-9 dari 10 kanker terbanyak (4,43%).
Kanker tiroid umumnya tergolong tumor dengan pertumbuhan lambat dan perjalan penyakit yang
lambat, serta morbiditas dan mortalitas yang rendah. Mortalitas paling rendah pada individu dengan
usia dibawah 50 tahun dan meningkat tajam pada usia diatasnya. Namun sebagian kecil ada pula yang
tumbuh cepat dan sangat ganas dengan prognosis yang fatal. Angka kematian akibat karsinoma tiroid
hanya 0,4% dari semua kematian akibat kanker atau berkisar 5/satu juta penduduk pertahun. Kondisi
geografis mempengaruhi prevalensi tipe kanker tiroid. Di daerah pantai (islandia) dimana konsumsi
iodium cukup atau terkadang berlebih, kanker tiroid papiler lebih dominan. Di pegunungan atau dataran
tinggi (Bavaria, Jerman) dimana konsumsi iodium kurang, kanker tiroid folikuler dominan.

Aspek diagnosis klinis
Anamnesis (peraboi)
Pengaruh usia dan jenis kelamin, Pada umur ekstrem (<25 th dan >50 th), laki-laki secara proporsional
merupakan faktor risiko. Pernah mendapat paparan radiasi di daerah leher dan kepala pada masa kanak-
kanak, atau di daerah yang pernah mengalami ledakan bom atom (hiroshima, nagasaki, chernobyl)
Daerah struma endemis mempunyai insiden lebih tinggi terjadinya karsinoma tiroid tipe folikuler dan
anaplastik. Daerah tanpa defisiensi atau daerah pantai mempunyai aangka insiden karsinoma papiler
lebih tinggi dibandingkan daerah endemis.
Benjolan pada kelenjar tiroid yang tumbuh lebih cepat pada beberapa waktu terakhir (anaplastik atau
kista tiroid). Pada umumnya, tumor jinak atau karsinoma tiroid berdiferensiasi mempunyai
pertumbuhan yang sangat lambat.
Riwayat adanya gangguan mekanis, seperti gangguan menelan, gangguan bernafas (terutama waktu
tidur terlentang), perubahan atau hilangnya suara, dan mulai adanya rasa nyeri oleh karena infiltrasi
pada saraf atau kulit.
Adanya benjolan pada kelenjar tiroid yang terbukti sebagai karsinoma tiroid medulare.

Evaluasi pasien dengan penyakit tyroid (schwartz)
Dua hal yang perlu di-evaluasi dalam penanganan pasien dengan masalah tiroid adalah:
1. Problem fungsi tyroid, baik itu hipotiroid maupun hipertiroid
2. Massa pada kelenjar tiroid yang dapat merupakan suatu proses keganasan.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik diperlukan untuk dapat menegakan diagnosis penyakit
tiroid.

Anamnesis
Anamnesis sangat diperlukan undtuk dapat menentukan ada tidaknya hipertiroid maupun insufisiensi
dari kelenjar tiroid. Disfagia, disfonia, dispnea dan sensasi tersedak merupakan beberapa gejala yang
dikeluhkan oleh pasien apabila terdapat pendesakan kelenjar tiroid ke struktur sekitar. Perubahan suara
mengindikasikan adanya disfungsi dari nervus laringeal rekuren, yang merupakan akibat dari invasi
tumor. saat ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid, maka Kecepatan tumbuh, durasi dan keluhan
penyerta seperti nyeri harus ditanyakan kepada pasien. Adanya riwayat paparan radiasi external
merupakan suatu faktor risiko terjadinya pembesaran kelenjar tiroid, maka hal ini harus digali saat
melakukan anamnesis pada pasien dengan pembesaran kelenjar tiroid. Pada pasien dengan goiter non-
toksik, maka faktor diit, riwayat penggunaan obat-obatan goiterogenik dan riwayat penyakit keluarga
juga harus ditanyakan.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang sangat teliti diperlukan untuk dapat meng-evaluasi kelenjar tiroid dan struktur
sekitar yang terkait. Inspeksi dari regio leher sebaiknya dilakukan dalam posisi ekstensi ringan. Pada
pasien kurus, dengan kelenjar tiroid normal, kemungkinan isthmus dapat terlihat. Kelenjar tiroid normal
akan terlihat bergerak mengikuti gerakan menelan, begitu juga dengan massa tiroid yang besar dan
asimetris.
Palpasi sebaiknya dilakukan pada sepanjang trakea dan melebar ke lateral hingga batas medial dari
muskulus sternokleidomastoideus. Pada pasien kurus, tepi dari kelenjar tiroid dapat diraba, namun pada
pasien dengan obesitas dan leher yang pendek, hal tersebut mungkin sulit untuk dilakukan. Palpasi pada
kartilago krikoid dapat dilakukan dan dijadikan patokan, karena istmus dari kelenjar tiroid terletak
setinggi kartilago krikoid.
Kelenjar tiroid normal memiliki konsistensi yang kenyal. Pada goiter difus dan kelenjar yang mengalami
hiperplasia, maka konsistensi dari kelenjar tiroid akan menjadi lebih lembut daripada kelenjar tiroid
normal. Pada penyakit hashimoto, konsistensi kelenjar iroid akan menjadi lebih padat, sedangkan pada
beberapa kasus keganasan, nodul tiroid akan teraba keras. Pada kondisi tirotoksikosis, dapat terdengar
brui saat aulkutasi. Namun hal ini harus dibedakan dari murmur yang dapat terdengar akibat kaelainan
katup jantung. Kelenjar getah bening regional juga harus dipalpasi pada segitiga anterior dan posterior
dari leher. Nodul delphian dapat dipalpasi pada trakhea diatas dari isthmus trakhea, nodul ini
menunjukan adanya proses keganasan.

Tehnik pemeriksaan fisik leher (bates)
Pada inspeksi regio colli, ditentukan simetrisitas dari leher sisi kiri dan sisi kanan, kemudian dilihat
adakah massa atau parut bekas operasi, serta pembesaran KGB.
Kelenjar getah bening
Palpasi KGB dilakukan dengan menggunakan sisi palmar dari digiti II dan III di seluruh regio cooli. Pasien
harus dalam kondisi relax, dengan fleksi ringan leher ke arah anterior. Palpasi KGB submental dapat
dilakukan dengan satu tangan, dan tangan lainnya berada di puncak kepala untuk fiksasi.
Palpasi dilakukan berdasarkan lokasi dan urutan aliran limfe sebagai berikut:
1. Pre-aurikuler : di sisi anterior dari telinga
2. Posterior aurikuler : superfisial dari prosesus mastoideus
3. Occipital : sisi posterior dari basis tengkorak
4. Tonsiler : di angulus mandibula
5. Submandibula: pertengahan antara angulus mandibula dan simfisis mandibula
6. Submental : beberapa sentimeter posterior dari simfisis mandibula
7. Servikal superfisial : superfisial dari sternomastoid
8. Servikal posterior : tepi anterior dari muskulus trapezius
9. Deep cervical chain : sisi profunda dari sternomastoid.
10. Supraklavikula : palpasi pada segitiga yang dibentuk oleh klavikula dan sternomastoid.

Pemeriksaan KGB meliputi, ukuran, bentuk, batas (terpisah atau konglomerasi), mobilitas, konsistensi
dan nyeri tekan. KGB dengan ukuran normah, soliter, dan tidak nyeri saat dipalpasi biasa diteukan pada
pemeriksaan normal.