You are on page 1of 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberculosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yaitu suatu bakteri batang, gram positif dan tahan asam atau biasa disebut sebagai
Batang Tahan Asam (BTA). Tuberculosis ini juga merupakan penyakit yang sangat menular dan
dominan menginfeksi paru walaupun masih dapat menginfeksi organ lain. Organisasi kesehatan
dunia memperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia terinfeksi dengan Mycobacterium
tuberculosis. Tuberculosis terutama menonjol

pada populasi yang mengalami nutrisi jelek,

penuh sesak, perawatan kesehatan tidak cukup, dan perpindahan tempat ( Kartasasmita, 2009).
Kejadian tuberculosis anak di masyarakat masih tinggi sampai dengan sekarang.
Berdasarkan hal tersebut tuberculosis masih dianggap sebagai penyebab penting morbiditas dan
mortalitas anak di dunia, namun kurang mendapat prioritas dalam penanggulangannya. Data
surveilans TB anak masih sangat susah didapatkan. Hal ini disebabkan berbagai faktor antara
lain sulitnya diagnosis TB anak, meningkatnya TB ekstra paru pada anak, tidak adanya standar
baku definisi kasus, dan prioritas yang kurang diberikan pada TB anak di banding TB dewasa
(Kartasasmita, 2009).
Lingkungan adalah salah satu komponen penting dalam penularan penyakit TB, dimana
penyakit ini dapat menular dari orang ke orang melalui droplet infeksi yang di bawa udara.
Faktor lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk memperbesar penularan. Anak muda
dengan tuberculosis jarang menginfeksi anak lain atau orang dewasa. Basil tuberkel sedikit
disekresi endobronkial anak dengan tuberculosis paru, dan batuk sering tidak ada atau tidak ada

dorongan batuk yang diperlukan untuk menerbangkan partikel partikel infeksius (Nelson.
2000).
Seorang anak patut kita curigai sebagai penderita TB apabila memiliki riwayat kontak
erat dengan penderita serumah dengan penderita TB BTA (+), terdapat reaksi kemerahan cepat
setelah penyuntikan BCG dalam 3 7 hari dan terdapat gejala umum TB. Adapun gejala umum
tuberculosis berupa keluhan sistemik seperti demam, keringat malam, anoreksia, dan aktivitas
berkurang. Beberapa bayi dan anak muda dengan obstruksi bronchial menderita mengi setempat
dengan takipnea dan terkadang distress respirasi. Gejala lain yang juga penting untuk
diperhatikan adalah berat badan anak sulit naik dan pembesaran kelenjar limfe di bawah kulit
yang tidak sakit (PPTI, 2012).
Dampak serius lain dari penyakit TB adalah koinfeksi dengan HIV, penyakit gangguan
imun lain, terutama keganasan, dan pengobatan obat imunosupresif. Konfirmasi untuk kasus TB
adalh dengan uji tuberculin yaitu uji intradermal 0,1 ml yang mengandung 5 unit tuberculin (UT)
derivate protein yang dimurnikan (purified protein derivate (PPD)). Konfirmasi lain yang paling
spesifik dari tuberculosis paru adalah isolasi M. tuberculosis. (Nelson, 2000)
Masalah lain yang dihadapi saat ini adalah meningkatnya kasus multidrug resistence
TB (MDR - TB) dan menurut hasil penelitian di Jakarta terdapat lebih dari 4% kasus baru. Hal
tersebut bermakna bahwa adanya resistensi kuman terhadap beberapa jenis obat TB yang mana
resistensi tersebut dapat bersifat primer atau sekunder. Bila MDR TB terjadi karena resistensi
yang sekunder maka masalah tersebut disebabkan oleh pola minum obat dari masyarakat yang
tidak teratur, tidak mengikuti pola yang dijelaskan oleh dokter , dan rendahnya pengetahuan
masyarakat tentang bahayannya apabila timbul resistensi terhadap obat TB. (Kartasasmita,
2009).

Tuberculosis masih menjadi masalah serius, dimana dikatakan bahwa Tuberculosis


adalah penyebab kematian nomor satu diantara penyakit infeksi dan nomor tiga dari seluruh
penyakit setelah penyakit kardiovaskular dan infeksi saluran nafas akut. Di Indonesia sendiri
kasus TB yang meninggal dunia tercatat rata rata 140.000 kasus pertahun. Angka yang cukup
tinggi. Peningkatan kasus TB di berbagai tempat saat ini diduga disebabkan oleh diagnosis tidak
tepat, pengobatan tidak adekuat, program penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat,
infeksi endemik HIV, migrasi penduduk, mengobati diri sendiri (self treatment), meningkatnya
kemiskinan, dan pelayanan kesehatan tidak memadai. (Kartasasmita, 2009) Berdasarkan hal
tersebutlah maka kami membahas tuberculosis pada anak sebagai masalah penting yang perlu
lebih dipahami .

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana langkah diagnosis yang tepat untuk tuberculosis pada anak ?
2. Bagaimana patogenesis tuberculosis pada anak ?
3. Apa saja gejala penderita tuberculosis pada anak ?
4. Bagaimana prinsip pengobatan tuberculosis pada anak ?
5.Apa saja upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk menekan kasus tuberculosis
khususnya pada anak ?

Daftar pustaka:
Nelson, Waldo E.. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2 Edisi 15. Jakarta : EGC. (Hal : 1028 1045)

Kartasasmita. 2009. Sari Pediatri Volume 11 (Epidemiologi Tuberculosis). Bandung (Disunting


tanggal 30 Mei 2012)

You might also like