You are on page 1of 69

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 5
KENAPA KULITKU

Disusun Oleh :
Kelompok Tutorial 4

Agus Fathul Muin F.

1318011004

Analia

1318011009

Annisa Mardhiyyah

1318011018

Dea Gratia Putri

1318011045

Devi Restina

1318011053

Edgar David S.

1318011060

Fathan Muhi Amrullah

1318011089

Josua Tumpal N.

1318011091

Nuzulut Fiana

1318011126

Rika Oktaria

1318011142

Stevi Erhadestria

1318011160

Victoria Hawarima

1318011174

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
1

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Karena berkat Rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas laporan ini guna memenuhi tugas Diskusi Tutorial.
Laporan ini berisi masalah-masalah serta penyelesaian yang telah dibahas pada
saat diskusi tutorial. Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang
penyusun hadapi. Namun penyusun menyadari bahwa penyusunan ini tidak lain
berkat bantuan anggota diskusi tutorial.
Laporan ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang materi
pada scenario 1 yaitu tentang FUO. Semoga laporan ini dapat memberikan
manfaat. Penyusun sadar bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari sempurna. Untuk itu,

kepada

dosen

pembimbing

saya

meminta

masukannya demi perbaikan pembuatan laporan saya di masa yang akan


datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Bandar Lampung, 15 November 2014

Penyusun

Daftar Isi

Cover1
Kata pengantar.2
Daftar isi...3
Skenario...4
STEP 1.5
STEP 2.6
STEP 3.7
STEP 4...11
STEP 5...29
STEP 7...30

SKENARIO

Kenapa kulitku

Kakek luhan yang tinggal sebatang kara, baru saja ditengok oleh anak dan
cucunya yang sudah 3 tahun tidak pulang kampong. Mereka pun kaget karena
melihat perubahan pada kaki kanan kakek luhan yang membengkak dibandingkan
kaki kirinya. Kakek luhan tidak pernah mengeluh ada kelainan fisik seperti
gangguan jantung maupun bengkak di bagian tubuh lain. Penyakit ini sudah
muncul sejak 2 tahun yang lalu, dan makin lama makin membesar. Namun kakek
tidak pernah berobat karena tidak punya uang dan tidak ada yang mengantar.
Kemudian keluarganya memutuskan untuk pergi kepuskesmas, sekaligus
memeriksa penyakit cucu sang kakek yang mengalami gatal didaerah betis kirinya
dan tampak jalur seperti terowongan yang memanjang dan berliku. Di puskesmas,
Dokter mengatakan kakek dan cucunya ternyata mengalami penyakit yang
disebabkan oleh cacing. Namun dengan jenis yang berbeda, sehingga obat dan
dosis yang didapat berbeda. Dokter pun menyarankan untuk kedua pasien ini, jika
tidak ada perubahan, maka sebaiknya diterapi dengan pembedahan di rumah sakit.

STEP 1

Pada step 1 tidak didapatkan kata-kata sulit

STEP 2

1. Diagnosis banding penyakit kakek dan cucu pada scenario!


2. Penyakit apakah yang diderita oleh kakek dan cucu pada scenario?
3. Cacing apakah yang dimaksud pada scenario serta klasifikasi cacing?
4. Bagaimana cara penularan cacing?
5. Mengapa kaki kanan kakek lebih besar dan membengkak? Serta mengapa
pada cucu merasa gatal dan terdapat jalur seperti terowongan?
6. Jelaskan gejala klinis penyakit pada scenario?
7. Bagaimana cara mendiagnosis dan pemeriksaan penunjang penyakit pada
scenario?
8. Bagaimana penatalkasanaan penyakit pada scenario?
9. Indikasi dari pembedahan!

STEP 3

1. Diagnosis banding pada kakek :


a. Filariasis malayi
b. Filariasis timori
c. Filariasis bancrofti

Diagnosis banding pada cucu :


a. Ancylostomiosis
b. Cutaneus larva migrant
c. Necatoriasis

2. Penyakit pada kakek :


Filariasis bancrofti

Penyakit pada cucu :


a. Ancylostomiosis
b. STRONGYLOIDOSIS

3. Klasifikasi cacing pada penyakit yang diderita :


a. Cacing Wucheria Bancrofti
b. Cacing Brugia Malayi dan Brugia Timori
c. Cacing Anchilostoma Brazilliense
d. Cacing Strongyloides Stercoralis

4. Melalui kontak langsung kulit dengan tanah, melalui vector seperti nyamuk

5. Kaki kakek membengkak karena terjadi penyumbatan pada pembuluh limfe


yang diakibatkan peningkatan jumlah cacing dewasa. Sedangkan pada cucu
apabila penyakitnya ancilostomiasis,

gatal serta adanya terowongan

disebabkan karena larva cacing tidak dapat menembus lapisan epidermis kulit
7

sehingga tidak dapat menembus pembuluh darah, itulah yang mengakibatkan


terjadinya

erupsi

pada

kulit.

Apabila

penyakit

dari

cucu

adalah

strongiloidiasis, terowongan terjadi akibat adanya infiltrasi larva filiform


dalam jumlah yang besar.

6. Gejala klinis pada penyakit kakek (Filariasis)

Pada stadium akut menyebabkan peradangan seperti limfadenitis, limfangitis,


epididimitis. Selain itu demam berulang selama 2 sampai 5 hari, peradangan
serta pembengkakan kelenjar getah bening, pembesaran tungkai dan skrotum.
Pada stadium kronis dapat menyebabkan limfadema.

Gejala klinis pada penyakit cucu (Ancilostomiasis dan Strongiloidiasis)

Ancylostomiosis
a. Dermatitis
b. Batuk berdarah
c. Anemia
d. Rasa kembung
e. Lesi pada kulit

Strongilodiosis
a. Gatal dan adanya terowongan di kulit
b. Kembung
c. Pernapasan dangkal

7. Diagnosis dan Pemeriksaan penunjang

Filariasis
a. Anamnesis : apakah pasien berasal dari daerah endemic (seperti nyamuk
yang merupakan vector penyakit filariasis)

b. Pemeriksaan : sediaan darah tebal dan tipis, PCR, USG (melihat scrotum
apakah adanya cacing (wucheria bancrofti)), serologi, biopsi jaringan atau
kelenjar limfe (adakah potongan cacing dewasa).
c. Pada pengambilan darah : tergantung jenis cacing dan tempat. Pada brugia
malayi biasa ditemukan pada pagi dan siang. Letak pengambilan darah
yaitu darah kapiler karena jumlah mikrofilaria lebih banyak di darah
kapiler dibandingkan darah vena.

Ancylostomiosis
a. Anamnesis : adakah interaksi dengan anjing dan kucing
b. Biopsi kulit yang terinfeksi
c. Diagnosis pasti : larva di sputum

8. Penatalaksanaan Filariasis

1) Perawatan Umum
a. Istirahat di tempat tidur
b. Antibiotik untuk infeksi sekunder dan abses
c. Perawatan elefantiasis dengan mencuci kaki dan merawat luka.

2) Pengobatan Spesifik
Untuk pengobatan individual diberikan Diethyl Carbamazine Citrate
(DEC) 6 mg/kgBB 3 x sehari selama 12 hari.

Penatalaksanaan ancylostomiosis
Terapi terhadap ankilostomiasis tanpa anemia dapat dilakukan dengan
pemberian anthelmenthik seperti berikut.

1.

Alcopar (Bepheniumhydroxynaphthaloat)

2.

Jonit ( (Pheylen -1, 4-diisothiocyanat)

3.

Minzolum( (Thiabendazol)

Preparat yang banyak beredar di Indonesia ialah pahnitin pamoat pyrantel


pamsat dan mebendazol. Dalam beberapa untuk anemia, seperti anemia yang
kurang dari 40 persen peril dilakukan terapi patogenik telebih dahulu sebelum
pemberian obat cacing. Terapi patogenik dapat dilakukan dengan pemberian
preparat besi.

9. Indikasi Pembedahan pada filariasis:


a. Pembedahan pada hidrokol yang terlalu besar
b. Kosmetik
c. Sudah terlalu besar sehingga mengganggu aktifitas

10

STEP 4

1. Diagnosis banding pada kakek :


a. Filariasis malayi
b. Filariasis timori
c. Filariasis bancrofti

Diagnosis banding pada cucu :


a. Ancylostomiosis
b. Cutaneus larva migrant
c. Necatoriasis

2. Penyakit pada kakek :


Filariasis bancrofti

Penyakit pada cucu :


a. Ancylostomiosis
b. Strongyloidosis

3. Klasifikasi cacing pada penyakit yang diderita :

a. Cacing Wucheria Bancrofti


Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria adalah kelas dari
anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum
Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang
maka disebut filarial.
Cacing dewasa, berwarna putih kekuning-kuningan, lapisan luarnya
diliputi kutikula halus, memiliki bentuk silindris sperti benang, kedua
tumpuk, bagian anterior membengkak, terdapat mulut berupa lubang
sederhana tanpa bibir ataupun alat lainnya, langsung menuju esophagus

11

dengan sebuah rongga bukal tetapi tanpa tonjolan maupun konstriksi sperti
randa khas yang terdapat pada beberapa nematoda.
Cacing jantan, ukurannya lebih kurang 40 mm x 0,1 mm, ujung kaudal
melengkung ke vetral, didapat 12 pasang papilla perianal, terdiri atas 8
pasang preanal dan 4 pasang posanal. Terdapat 2 pasang spikula dengan
gubernakulum yang berbentuk bulan sabit.
Cacing betina, berukuran 80-100 mm x 0,24-0,30 mm, vulva terletak
di daerah servikal, mvagina pendek dengan sebuah segmenkeluar dari
uterus selanjutnya organ genitalia ini berpasangan. Embrio yang msih
muda terdapat di bagian dalam uterus yang dilapisi lapisan hialin yang
tipis, lebih kurang berukuran 38x25 mm, jika terdorong ke bagian uteus,
bungkusnya memanjang menyesuaikan dengan bentuk embrio sampai
embrio lahir tetap terbungkus sarung embrio ini disebut mikrofiliria.

b. Cacing Brugia Malayi dan Brugia Timori


Cacing dewasa hidup di dalam saluran dan pembuluh limfe, sedangkan
mikrofilaria dijumpai didalam darah tepi hospes definitif. Bentuk cacing
dewasa mirip bentuknya dengan W. bancrofti, sehingga sulit dibedakan.
Panjang cacing betina Brugia malayi dapat mencapai 55 mm, dan cacing
jantan 23 cm. Brugia timori betina panjang badannya sekitar 39 mm dan
yang jantan panjangnya dapat mencapai 23 mm.
Mikrofilaria Brugia mempunyai mempunyai selubung, panjangnya
dapat mencapai 260 mikron pada B.malayi dan 310 mikron pada B.timori.
Ciri khas mikrofilaria B. malayi adalah bentuk ekornya yangn mengecil,
dan mempunyai dua inti terminal, sehingga mudah dibedakan dari
mikrofilaria W. bancrofti.
Brugia ada yang zoonotik, tetapi ada yang hanya hidup pada manusia.
pada Brugia malayi bermacam-macam, ada yang nocturnal periodic,
nocturnal subperiodic, atau non periodic. Brugia timori bersifat periodik
nokturna.
Nyamuk yang dapat menjadi vektor penularannya adalah Anopheles
(vektor brugiasis non zoonotik) atau mansonia (vektor brugiasis zoonotik)
12

c. Cacing Ancylostoma Braziliense dan Anchilostoma Caninum


Ciri-ciri bentuk Cacing Ancylostoma braziliense mempunyai dua
pasang gigi yang tidak sama besamya. Pada cacing jantan panjang
badannya antara 4,7 - 6,3 mm, sedangkan cacing Ancylostoma braziliense
betina panjang badannya antara 6,1 - 8,4 mm.
Ciri-ciri bentuk cacing ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang
gigi; cacing jantan panjang badannya kira-kira 10 mm dan pada cacing
yang betina panjang badannya kira-kira 14 mm.

d. Cacing Strongyloides Stercoralis


Strongyloidiasis stercoralis adalah infeksi cacing Strongyloides
stercoralis (Strongyloides stercoralis). Strongyloides stercoralis adalah
cacing yang hidup daerah hangat, daerah lembab. Cacing masuk ke dalam
tubuh ketika seseorang menyentuh tanah yang terkontaminasi cacing.
Cacing kecil hampir tidak terlihat dengan mata telanjang. Cacing
gelang muda dapat bergerak melalui kulit seseorang dan masuk ke dalam
aliran darah ke paru-paru dan saluran udara. Ketika cacing bertambah tua,
mereka mengubur diri dalam dinding usus. Kemudian, mereka
menghasilkan telur dalam usus. Daerah di mana cacing masuk melalui
kulit dapat menjadi merah dan menyakitkan.
Strongyloidiasis stercoralis merupakan hospes utama cacing ini, parasit
ini dapat mengakibatkan penyakit strongilodiasis. Distribusi Geografik
Terutama terdapat di daerah tropik dan subtropik, sedangkan didaerah
yang beriklim dingin jarang ditemukan. Morfologi Dan Daur Hidup Hanya
cacing dewasa betina yang hidup sebagai parasit di virus duodenum,
bentuknya filform, halus, tidak berwarna, dan panjangnya kira-kira 2 mm.

4. Cara Penularan

a. Wucheria brancofti, brugia malayi, brugia timoti ( penyebab filariasis )

13

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut


digigit nyamuk yang sudah terinfeksi, yaitu nyamuk yang dalam tubuhnya
mengandung larva (L3). Nyamuk sendiri mendapat mikro filarial karena
menghisap darah penderita atau dari hewan yang mengandung
mikrofolaria. Nyamuk sebagai vector menghisap darah penderita
(mikrofilaremia) dan pada saat itu beberapa microfilaria ikut terhisap
bersama darah dan masuk dalam lambung nyamuk. Dalam tubuh nyamuk
microfilaria tidak berkembang biak tetapi hanya berubah bentuk dalam
beberapa hari dari larva 1 sampai menjadi larva 3, karenanya diperlukan
gigitan berulang kali untuk terjadinya infeksi. Didalam tubuh manusia
larva 3 menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing
dewasa jantan atau betina serta bekembang biak

b. Ancylostomiosis braziliense dan caninum ( penyebab creeping eruption )


Ancylostoma caninum dan Ancylostoma braziliense yang umumnya
terdapat pada usus halus anjing, rubah, srigala, anjing hutan dan karnivora
liar lainnya diseluruh dunia.. Ancylostoma ceylanicum terdapat pada usus
halus anjing, kucing, dan karnivora lain bahkan pada manusia.
Cacing dewasa melekat pada mukosa usus dan dengan giginya
memakan cairan jaringan, biasanya darah. Cacing ini akan menghasilkan
antikoagulan, sehingga luka tetap berdarah beberapa saat setelah cacing
berpindah tempat.
Hewan muda akan kehilangan darah dalam jumlah besar, atau
mengalami anemia karena defisiensi Fe. Hewan akan diare, feses
bercampur darah, kadang disertai muntah. Gejala klinis yang lain antara
lain anemia, oedema, lemah, kurus, pertumbuhan terhambat, bulu kering
dan kusam.
Pada manusia, larva tidak menjadi dewasa dan menyebabkan kelainan
kulit yang disebut creeping eruption.

c. Strongyloides stercoralis

14

Manusia adalah reservoir utama cacing Strongyloides stercoralis dan


hanya kadang-kadang saja strain anjing dan kucing ditularkan kepada
manusia. Penularan dari orang ke orang juga bisa terjadi.
Cara-cara Penularan Larva infektif (filaform) yang berkembang dalam
tinja atau tanah lembab yang terkontaminasi oleh tinja, menembus kulit
masuk ke dalam darah vena di bawah paru-paru. Di paru-paru larva
menembus dinding kapiler masuk kedalam alveoli, bergerak naik
menuju ke trachea kemudian mencapai epiglottis. Selanjutnya larva turun
masuk kedalam saluran pencernaan mencapai bagian atas dari intestinum,
disini cacing betina menjadi dewasa.
Cacing dewasa yaitu cacing betina yang berkembang biak dengan cara
partogenesis hidup menempel pada sel-sel epitelum mukosa intestinum
terutama pada duodenum, di tempat ini cacing dewasa meletakkan
telornya. Telor kemudian menetas melepaskan larva non infektif
rhabditiform. Larva rhabditiform ini bergerak masuk kedalam lumen usus,
keluar dari hospes melalui tinja dan berkembang menjadi larva infektif
filariform yang dapat menginfeksi hospes yang sama atau orang lain. Atau
larva rhabditiform ini dapat berkembang menjadi cacing dewasa jantan
dan betina setelah mencapai tanah.
Cacing dewasa betina bebas yang telah dibuahi dapat mengeluarkan
telur yang segera mentas dan melepaskan larva non infektif rhabditiform
yang kemudian dalam 24-36 jam berubah menjadi larva infektif
filariform.Kadangkala pada orang-orang tertentu, larva rhabditiform dapat
langsung berubah menjadi larva filariform sebelum meninggalkan tubuh
orang itu dan menembus dinding usus atau menembus kulit di daerah
perianal yang menyebabkan auotinfeksi dan dapat berlangsung bertahuntahun.

5. Pembengkakan pada kaki kakek (penyakit filariasis)

Penyebab adalah cacing wucheria bancrofti. Memiliki host utama hanya


pada manusia. Penularan melalui nyamuk yang sesuai. Pada manusia cacing
15

ini dapat hidup hingga 5 tahun. Setelah masuk kedalam tubuh manusia cacing
akan menyebar di pembuluh darah bening dan menjadi dewasa hingga satu
tahun. Cacing dewasa ini yang dapat menyebabkan sumbatan dan
menimbulkan keluhan.
Jadi saat cacing berada didalam saluran dan kelenjar getah bening akan
menimbulkan proses peradangan pada daerah tersebut dan menyebabkan
penebalan dinding, dan terbentuknya jaringan-jaringan didalam pembuluh
yang menyebabkan sumbatan. Peradangan pada kelenjar getah bening dapat
ditandai dnegan nyeri, kelenjar yang mengeras seperti kelereng, demam, sakit
kepala, badan, muntah-muntah, lesu dan tidak nafsu makan.
Pada keadaan kelenjar yang tersumbat pembuluh-pembuluh yang
mengalirkan darah putih ke kelenjar tersebut mengalami pelebaran.
Pembuluh-pembuluh tersebut juga mengalami kerusakan sehingga darah putih
keluar dan masuk ke ruangan antar jaringan dan menyebabkan bengkak
(limphedema). Karena pengaruh dari gravitasi, bagian yang paling dahulu
bengkak adalah daerah paling bawah (kaki, kantung kemaluan).

Gatal dan terowongan pada kulit cucu (ancylostomiosis atau strongyloidosis)

Ancylostomiosis
Larva cacing ini akan bertahan selama beberapa minggu pada tanah dan
pasir. Larva tahap ketiga melakukan penetrasi pada kulit manusia dan migrasi
diantara stratun germinativum dan spinosum beberapa sentimeter per hari.
Larva ini akan menginduksi reaksi inflamasi eosinoflik. Beberapa larva tidak
dapat berkembang, invasi ke jaringan yang lebih dalam, atau mati dalam
beberapa minggu.
Secara klinis rasa gatal dan panas pada daerah tempat larva melakukan
penetrasi. Mula-mula akan timbul papul kemudian diikuti bentuk yang khas,
yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 23 mm da berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini
menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam
atau hari.
16

Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang


berkelok

kelok,

Polisiklik,

serpiginosa,menimbul,

dan

berbentuk

terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa sentimeter. Rasa gatal


biasanya lebih hebat pada malam hari.

Strongilodiosis
Pada waktu larva menembus kulit terjadi reaksi ringan, dengan gejala
pruritus dan eritema bila larva yang menembus kulit itu jumlahnya besar. Bila
infeksi terjadi berulang kali, penderita dapat membentuk reaksi alergi yang
dapat mencegah parasit tersebut melengkapi daur hidupnya.

Pergerakan

larvanya dihambat, hingga migrasinya hanya terbatas pada kulit saja dan
disebut larva migrans. Istilah larva currens (racing larva) dipakai untuk kasus
strongyloidiasis dengan satu atau lebih alur urtikaria yang progresif dan
dimulai pada daerah perianal.

6. Gejala klinis

Filariasis

Gambaran klinik Filariasis tanpa Gejala


a.

Umumnya di daerah endemik

b.

Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe


terutama di daerah inguinal.

c.

Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar dan


eosinofilia.

Filariasis dengan Peradangan


a.

Demam, menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah yang dapat


berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.

b.

Organ yang terkena terutama saluran limfe tungkai dan alat kelamin.

c.

Pada laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai penebalan dan rasa


nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan skrotum.
17

d.

Serangan akut dapat berlangsung satu bulan atau lebih.

e.

Bila keadaannya berat dapat menyebabkan abses ginjal, pembengkakan


epididimis, jaringan retroperitoneal, kelenjar inguinal dan otot ileopsoas.

Filariasis dengan Penyumbatan


a.

Pada stadium menahun terjadi jaringan granulasi yang proliferatif serta


pelebaran saluran limfe yang luas lalu timbul elefantiasis.

b.

Penyumbatan duktus torasikus atau saluran limfe perut bagian tengah


mempengaruhi skrotum dan penis pada laki-laki dan bagian luar alat
kelamin pada perempuan.

c.

Infeksi kelenjar inguinal dapat mempengaruhi tungkai dan bagian luar alat
kelamin.

d.

Elefantiasis umumnya mengenai tungkai serta alat kelamin dan


menyebabkan perubahan yang luas.

e.

Bila saluran limfe kandung kencing dan ginjal pecah akan timbul kiluria
(keluarnya cairan limfe dalam urin)

f.

Sedangkan bila yang pecah tunika vaginalis akan terjadi hidrokel atau
kilokel, dan bila yang pecah saluran limfe peritoneum terjadi asites yang
mengandung kilus.

g.

Gambaran yang sering tampak ialah hidrokel dan limfangitis alat kelamin.

h.

Limfangitis dan elefantiasis dapat diperberat oleh infeksi sekunder


Streptococcus.

Ancylostomiasis

Gejala klinis ancylostomiasis berdasarkan stadium dari ancylostoma:


a. Stadium Larva
Larva filariform yang menembus kulit dalam jumlah yang banyak
secara sekaligus dapatmenyebabkan perubahan kulit berupa :

Gatal atau pruritus kulit, terutama di kaki (ground itch).

Dermatitis dan kadang ruam makulopapula sampai vesikel; merupakan


tanda pertamayag dihubungkan dengan invasi larva cacing.
18

Perubahan yang terjadi pada paru biasanya ringan. Selama berada di


paru, larva dapatmenyebabkan kapiler-kapiler dalam alveoli paru
menjadi peah sehingga terjadi batuk darah. Berat ringannya kondisi ini
ditentukan oleh jumlah larva cacing yang melakukan penetrasi ke dalam kulit.

Gejala-gejala pada usus terjadi dalam waktu 2 minggu


s e t e l a h l a r v a m e l a k u k a n penetrasi terhadap kulit. Larva cacing
menyebabkan iritasi usus halus. Gejala darii r i t a s i u s u s h a l u s
d i a n t a r a n ya a d a l a h r a s a t i d a k e n a k d i e p r u t , k e m b u n g ,
s e r i n g mengeluarkan gas (flatus), serta menret-mencret.

b. Stadium DewasaGejala yang terjadi bergantung pada:

Spesies dan jumlah cacing


Setiap

satu

cacing

Ancylostoma

duodenale

akan

menyebabkan kehilangan darahsebanyak 0,08-0,34 cc setiap hari.

Keadaan gizi penderita (Fe dan protein)


Infeksi cacing Ancylostoma dalam stadium dewasa dapat
menyebabkan

terjadinya

anemiahipokromik

normositer

serta

eosinofilia. Anemia terjadi setelah infestasi cacing dalamtubuh


berlangsung selama 10-20 mingggu. Jumlah cacing dewasa yang
diperlukan untuk menimbulkan gejala anemia adalah lebih dari 500,
tetapi bergantung pada keadaan gizihospes. Eosinofilia akan jelas terlihat
pada bulan pertama infeksi cacing.Toksin cacing yang dapat menyebabkan
anemia belum dapat dibuktikan. Ancylotomiasis biasanya tidak
menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan daya tahan tubuh
berkurang. Prestasi kerja juga dapat menurun akibat ancylostomiasis

Strongyloidiasis

Gejala yang paling khas adalah sakit perut, umumnya sakit pada ulu hati
seperti gejala ulcus ventriculi, diare dan urticaria; kadang-kadang timbul
nausea, berat badan turun, lemah dan konstipasi. Timbulnya dermatitis yang
sangat gatal karena gerakan larva menyebar dari arah dubur; dapat juga timbul
19

peninggian kulit yang stationer yang hilang dalam 1-2 hari atau ruam yang
menjalar dengan kecepatan beberapa sentimeter per jam pada tubuh.
Walaupun jarang terjadi, autoinfeksi dengan beban jumlah cacing yang
meningkat terutama pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang
rendah dapat menyebabkan terjadinya strongyloidiasis diseminata, terjadi
penurunan berat badan yang drastic, timbul kelainan pada paru-paru dan
berakhir dengan kematian. Pada keadaan seperti ini sering terjadi sepsis yang
disebabkan oleh bakteri gram negatif. Pada stadium kronis dan pada penderita
infeksi berulang serta pada penderita infeksi human T-cell lymphotrophic
virus (HTLV-1) ditemukan eosinofilin ringan (10%-25%). Eosinofilia ringan
juga dijumpai pada penderita yang mendapatkan kemterapi kanker, sedangkan
pada strongyloidiasis disseminata jumlah sel eosinofil mungkin normal atau
menurun.

7. Diagnosis dan pemeriksaan

Filariasis

Diagnosis yang efisien dan efektif sangatlah penting dan menjadi faktor
penentu dalam penatalaksanaan penyakit. Terdapat beberapa cara :

1. Pemeriksaan klinis : tidak sensitif dan tidak spesifik untuk menentukan


adanya infeksi aktif.
2. Pemeriksaan parasitologi dengan menemukan mikrofilaria dalam sediaan
darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan darah tebal dengan
pewarnaan Giemsa, tehnik Knott, membrane filtrasi dan tes provokasi
DEC.12,21,22 Sensitivitas bergantung pada volume darah yang diperiksa,
waktu pengambilan dan keahlian teknisi yang memeriksanya. Pemeriksaan ini
tidak nyaman, karena pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari
antara pukul 22.00-02.00 mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya
nokturna.12,21 Spesimen yang diperlukan 50l darah dan untuk menegakan
diagnosis diperlukan 20 mikrofilaria/ml (Mf/ml).
20

3. Deteksi antibodi: Peranan antibodi antifilaria subklas IgG4 pada infeksi


aktif filarial membantu dikembangkannya serodiagnostik berdasarkan antibodi
kelas ini. Pemeriksaan ini digunakan untuk pendatang yang tinggal didaerah
endemik atau pengunjung yang pulang dari daerah endemik.3,21 Pemeriksaan
ini tidak dapat membedakan infeksi parasit sebelumnya dan kini, selain itu
titer antibodi tidak menunjukkan korelasi dengan jumlah cacing dalam tubuh
penderita.
4. Deteksi antigen yang beredar dalam sirkulasi.3,21,23 Pemeriksaan ini
memberikan hasil yang sensitif dan spesies spesifik dibandingkan dengan
pemeriksaan makroskopis. Terdapat dua cara yaitu dengan ELISA (enzymelinked immunosorbent) dan ICT card test (immunochromatographic).
Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif dalam tubuh penderita,
selain itu, tes ini dapat digunakan juga untuk monitoring hasil pengobatan.
Kekurangan pemeriksaan ini adalah tidak sensitif untuk konfirmasi pasien
yang diduga secara klinis menderita filariasis. Tehnik ini juga hanya dapat
digunakan untuk infeksi filariasis bancrofti. Diperlukan keahlian dan
laboratorium khusus untuk tes ELISA sehingga sulit untuk di aplikasikan di
lapangan.4 ICT adalah tehnik imunokromatografik yang menggunakan
antibodi monoklonal dan poliklonal. Keuntungan dari ICT adalah invasif
minimal (100 l), mudah digunakan, tidak memerlukan teknisi khusus, hasil
dapat langsung dibaca dan murah. Sensitivitas ICT dibandingkan dengan
pemeriksaan sediaan hapus darah tebal adalah 100% dengan spesifisitas
96.3%.
5. Deteksi parasit dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tehnik ini
digunakan untuk mendeteksi DNA W. bancrofti dan B. malayi.1,3,21 PCR
mempunyai sensitivitas yang tinggi yang dapat mendeteksi infeksi paten pada
semua individu yang terinfeksi, termasuk individu dengan infeksi tersembunyi
(amikrofilaremia atau individu dengan antigen +).21 Kekurangannya adalah
diperlukan penanganan yang sangat hati-hati untuk mencegah kontaminasi
spesimen dan hasil positif palsu. Diperlukan juga tenaga dan laboratorium
khusus selain biaya yang mahal.
6. Radiodiagnostik
21

Menggunakan USG pada skrotum dan kelenjar inguinal pasien, dan akan
tampak gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dancing worm).
Pemeriksaan ini berguna terutama untuk evaluasi hasil pengobatan.
Limfosintigrafi menggunakan dextran atau albumin yang ditandai dengan zat
radioaktif yang menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun
pada pasien dengan asimptomatik milrofilaremia

Ancylostomiosis

Untuk mendiagnosa infeksi Ancylostoma sp. Digunakan pemeriksaan feses


metode natif dan sentrifuse, kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk
mengidentifikasi telur cacing yang ditemukan. Sampel darah juga dapat
mengindikasikan jika terdapat defisiensi Fe atau protein akibat infeksi dan
tingkat keparahan infeksi. Berdasarkan Hasil pemeriksaan feses dan darah
melena anemia. Memperhatikan status cairan tubuh, tingkat anemia, serta
berat infeksi yang diperoleh dari pemeriksaan patologis klinis, baik terhadap
tinja maupun darah penderita.

Identifikasi Mikroskopis
Telur dalam tinja adalah metode yang paling umum untuk mendiagnosis
infeksi cacing tambang. Prosedur yang direkomendasikan adalah sebagai
berikut:
1. Kumpulkan spesimen tinja.
2. Memperbaiki spesimen dalam formalin 10%.
3. Konsentrat menggunakan formalin-etil asetat teknik sedimentasi.
4. Memeriksa basah gunung sedimen.

Dimana prosedur konsentrasi tidak tersedia, basah langsung mount


pemeriksaan spesimen cukup untuk mendeteksi sedang hingga infeksi berat.
Untuk penilaian kuantitatif infeksi, berbagai metode seperti Kato-Katz dapat
digunakan. cutaneous larva migrans biasanya didiagnosa secara klinis, karena
ada tes serologis untuk infeksi cacing tambang tidak zoonosis. Larva dapat
22

dilihat di bagian jaringan yang dicat, tetapi prosedur ini biasanya tidak
dianjurkan sebagai parasit biasanya tidak ditemukan dalam lagu terlihat.

Strongilodiosis

Diagnose strongyloidiasis ditegakkan dengan memeriksa tinja penderita


dan menemukan adanya larva. Namun larva ini harus dibedakan dengan larva
cacing tambang ( hookworm ). Cara lain untuk menegakkan diagnose adalah
dengan melakukan enterotest. Pada cara pemeriksaan ini, penderita diminta
untuk menelan kapsul gelatin yang diberi benang nylon. Setelah kapsul tadi
mencapai usus halus, benang tadi ditarik dan lendir yang menempel di benang
diperiksa di bawah mikroskop untuk menemukan adanya larva.

8. Penatalaksanaan

a. Filariasis

Perawatan Umum

Istirahat di tempat tidur

Antibiotik untuk infeksi sekunder dan abses

Perawatan elefantiasis dengan mencuci kaki dan merawat luka.

Pengobatan Spesifik
Untuk pengobatan individual diberikan Diethyl Carbamazine Citrate
(DEC) 6 mg/kgBB 3 x sehari selama 12 hari.

Efek samping : pusing, mual dan demam selama menggunakan obat


ini.

Pengobatan masal (rekomendasi WHO) adalah DEC 6 mg/kgBB dan


albendazol 400mg (+ parasetamol) dosis tunggal, sekali setahun
selama 5 tahun.

Implementation unit (IU) adalah kecamatan / wilayah kerja puskesmas


(jumlah penduduk 8.000 10.000 orang).
23

Tabel 1. Dosis DEC untuk filariasis berdasarkan umur


Umur

DEC (100mg)

Albendazol (400mg)

2 6 tahun

1 tablet

1 tablet

7 12 tahun

2 tablet

1 tablet

> 13 tahun

3 tablet

1 tablet

b. Ancylostomiosis

Cara beku dengan menyemprotkan kloretil sepanjang lesi. Cara


tersebut di atas agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti di
mana larva berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan di
sekitarnya. Pengobatan cara lama dan sudah ditinggalkan adalah dengan
preparat antimony. Penggunaan topikal spray etil klorida, nirtogen cair,
fenl, Co2 beku, piperazin sitrat, elektrokauter dan radiasi tidak behasil
karena larva bisa lolos. Kemoterapi dengan klorokuin, antimony, dan
dietilkarbamazin juga tidak berhasil.
Tiabendazol Merupakan drog of choice. Menghambat enzim fumarat
reduktase sehingga menginhibisi pembentukan mikrotubuli. Akan terjadi
gangguan ambilan glukosa dan inhibisi malat dehidrogenase. Merupakan
anihelminthes heterosiklik generasi ketiga.

a. Dewasa -topikal berupa supensi 10-15% (kadang dicampur dengan


krim kortikosteroid) secara oklusi, 2 kali sehari, selama minimal 1
minggu -oral 25-50 mg/kgBB/hari, tiap 12 jam, selama 2-5 hari
b. Anak-anak Dengan dosis 25-50 mg/kgBB/hari setiap 12 jam. Tidak
lebih dari 3 gr/hari Tiabendazol lebih toksik daripada benzimidazol
lainnya dan ivermectin sehingga lebih dipilih agen yang lain. Efek
sampign yang sering berupa pusing, anoreksia, nausea dan muntah.
Permasalahan yang lebih jarang seperti nyeri epigastrium, kram
abdomen, diare, pruritus, nyeri kepala, mengantuk, dan simtom
neuroleptik. Pernah dilaporkan kerusakan hati yang ireversibel dan
24

sindrom steven johnson. Tiabendazol pada anak di bawah 15 kg masih


terbatas penggunaaannya. Obat ini tidak boleh digunakan untuk ibu
hamil atau yang menderita penyakit hati maupun ginjal.

Ivermectin Antiparasit semisintetik makrosiklik yang berspektrum luas


terhadap nematoda. Cara kerjanya dengan menghasilkan paralisis flaksid
melalui pengikatan kanal klorida yang diperantarai glutamat. Mungkin
merupakan drug of choice karena keamanan, toksisitas rendah dan dosis
tunggal.
a. Dewasa 12 mg atau 200 ug/kgBB dosis tunggal
b. Anak-anak -<5tahun: 150 ug/kgBB dosis tunggal ->5 tahun: sama
dengan dewasa Efek samping mencakup kelelahan, pusing, nausea,
muntah, nyeri perut dan bercak kemerahan. Hindari penggunaan
bersama obat yang meningkatkan aktivitas GABA seperti barbiturat,
benzodiazepin dan asam valproat. Ivermectin tidak boleh diberikan
pada ibu hamil.

Albendazol Antihelmintas bersepektrum luas yang mengganggu


ambilan glukosa dan agregasi mikrotubuli. Sebagai alternatif pengganti
tiabendazol.
a. Dewasa - 400 mg per oral, sekali sehari, selama 3 hari atau - 2x200 mg
sehari selama 5 hari
b. Anak-anak <2tahun: 200 mg/hari selama 3 hari dan diulang 3 minggu
kemudian jika perlu >2 tahun: sama seperti dewasa Bila digunakan 1-3
hari, albendazol hampir bebas efek samping. Bisa terjadi gejala ringan
distres epigastrium, diare, sakit kepala, nausea, pusing, lesu dan
insomnia. Pada pemakaian jangka panjang harus dicek darah dan
fungsi hati. Tidak bileh diberikan pada orang yang hipersensitif
terhadap benzimidazol lainnya atau orang dengan sirosis. Kemanan
pada ibu hamil dan anak kurang dari 2 tahun masih belum diketahui.

25

Mebendazol Antihelmintes spektrum luas yang menginhibisi perakitan


mikrotubuli dan memblok ambilan glukosa sehingga terjdai deplesi
cadangan glikogen parasit.
a. Dewasa 200 mg per oral, 2 kali sehari selama 4 hari
b. Anak-anak <2 tahun: tidak disarankan >2 tahun: seperti dewasa Bisa
terjadi nausea, muntah, diare dan nyeri abdominal. Efek samping yang
jarang berupa reaksi hipersensitivitas, agranulositosis, alopesia dan
peningkatan enzim hati. Mebandazol teratogenik pada binatang
sehingga tidak disarankan untuk ibu hamil. Pada anak kurang dari 2
tahun harus berhati-hati karena masih kurangnya penelitian. Kadar
plasma bisa berkurang pada penggunaan bersama karbamazepin atau
fenitoin. Meningkat ada penggunaan bersama simetidin. Harus berhatihati pada orang dengan sirosis. Hasil studi yang dilakukan Tae Hyeung
Kim, Byeung Song Lee, dan Wook Mok Sohn mendapatkan bahwa
ivermectin dosis tunggal 12 mg pada studi acak 21 pasien didapat hasil
lebih efektif daripada albendazol 400 mg dosis tunggal. Tiabendazol
juga merupakan

pengobatan yang efektif untuk CLM. Namun

ivermectin dan tiabendazol sukar didapat sehingga disarankan


pengobatan dengan albendazol dosis tunggal

c. Strongyloidoisis

Ivermectin
Dosis: 200 mg / kg sehari
Jangka waktu :
a. Infeksi tanpa komplikasi: 1 atau 2 hari
b. Infeksi yang menyebar
Perluas pengobatan setidaknya 5-7 hari atau sampai parasit
dimusnahkan
c. Lebih efektif daripada Albendazole
d. Lebih baik ditoleransi dibandingkan thiabendazole

26

Albendazole
Dosis: 400 mg PO tawaran selama 3 hari untuk infeksi tanpa
komplikasi dan 7-10 hari untuk hyperinfection

Thiabendazole
Dosis: 25 mg / kg tawaran selama 2 hari (maksimal, 3 g / d)
Efek samping :
a. Mual
b. Muntah
c. Diare
d. Pusing
e. Neuropsikiatri gangguan

9. Indikasi Pembedahan

Penatalaksanaan limfedema sesuai stadium-petunjuk umum

Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan bedah


adalah jika tidak terdapat perbaikan dengan terapi konservatif, limfedema
sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan pekerjaan dan menyebabkan
tidak berhasilnya terapi konsevatif. Berbagai prosedur operasi digunakan
tetapi secara umum tidak memberikan hasil yang memuaskan. Yang termasuk
dalam prosedur ini adalah lymphangioplasty, lympho-venous anastomosis dan
eksisi (de-bulking) dari jaringan subkutan yang fibrotik. Peranan tindakan
pembedahan limfedema ekstremitas akibat filariasis sangat terbatas.

Penatalaksanaan hidrokel

Adalah dengan pemberian obat anti-filaria, perawatan dasar seperti


kebersihan, dan tindakan bedah.
Indikasi operasi pada pasien dengan hidrokel adalah jika mengganggu
pekerjaan, mengganggu aktivitas seksual, mengganggu berkemih, dan
27

memberi efek sosial terhadap keluarga.Prosedur yang digunakan adalah


dengan

melakukan

eksisi

tunika

vaginalis

sebanyak

mungkin

membalikkannya (Bergmann Wingklemann) untuk hidrokel

dan

besar dan

prosedur Lord untuk hidrokel kecil dimana dilakukan pengecilan tunika


vaginali

28

STEP 5

1. Sebutkan Diagnosis Differential dari penyakit di scenario!


2. Jelaskan etiologi creeping eruption?
3. Apakah yang dimaksud Sindrom Loeffler?
4. Medikamentosa pada penyakit anak di scenario?
5. Apakah perlu dilakukan pembedahan kepada anak dalam scenario?
6. Jelaskan mengenai ascariasis, enterobiasis, taeniasis, strongyloidiasis,
ancylostomiosis?
7. Sebutkan komplikasi pada penyakit di scenario?

29

STEP 7

1. Diagnosis Diferensial
Diagnosis diferensial untuk kasus Kakek Lihun :

Elefantiasis akibat Infeksi Nematoda (filariasis)

Elefantiasis tropikal non-filariasis (podoconiosis)

Bacterial atau fungal lymphadenitis (sporotrichosis)

Streptococcal lymphadenitis (erysipelas relaps)

Kongenital atau lymphedema herediter (sindrom Milroy)

Kongenital hydrocele

Epididymal cysts

Karcinoma testis dan/atau scrotum

Limfosarkoma

Diagnosis diferensial untuk kasus cucu Kakek Lihun :

Cutaneus larva migrants akibat infeksi A. braziliense dan/atau A. Caninum

Larva currens akibat infeksi S. Stercoralis

Impetigo

Tinea pedis

2. Etiologi dan Patogenesis Creeping Eruption

Etiologi
Creeping eruption biasanya ditujukan untuk lesi yang diakibatkan cacing tambang
dengan hospes non manusia. Penyebab utama adalah larva yang berasal dari
cacing tambang binatang anjing dan kucing, yaitu ancylostoma braziliense dan
ancylostoma caninum. Ancylostoma braziliense adalah penyebab tersering. Di
Asia Timur umumnya disebabkan oleh Gnathostoma babi dan kucing. Pada
beberapa

kasus

ditemukan

Echinococcus,

Strongyloides

stercoralis,

Dermatobia maziales dan Lucilia caesar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh
larva dari beberapa jenis lalat, misalnya Castrophilus (the horse bot fly) dan cattle fly.
30

Penyebab yang umum:


1.Ancylostoma braziliense
2.Ancylostoma caninum
3.Uncinaria phlebotonum

Patogenesis
Creeping eruption disebabkan oleh berbagai spesies cacing tambang
binatang yang didapatdari kontak kulit langsung dengan tanah yang
terkontaminasi feses anjing atau kucing.Hospes normal cacing tambang ini
adalah kucing dan anjing. Telur cacing diekskresikan kedalam feses,
kemudian

menetas

pada

tanah

berpasiryang

hangat

dan

lembab.

Kemudianterjadi pergantian bulu dua kali sehingga menjadi bentuk infektif


(larva stdaium tiga).Manusia yang berjalan tanpa alas kaki terinfeksi secara
tidak sengaja oleh larva dimana larvamenggunakan enzim protease untuk
menembus melalui folikel, fisura atau kulit intak. Setelahpenetrasi stratum
korneum, larva melepas kutikelnya. Biasanya migrasi dimulai dalam
waktubeberapa hari.Larva stadium tiga menembus kulit manusia dan
bermigrasi beberapa cm per hari, biasanyaantara stratum germinativum dan
stratum korneum. Larva ini tinggal di kulit berjalan-jalantanpa tujuan
sepanjang

dermoepidermal.hal

ini

menginduksi

reaksi

inflamasi

eosinofilik setempat.
Setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit.Larva bemigrasi
pada epidermis tepat di atas membran basalis dan jarang menembus kedermis.
Manusia merupakan hospes aksidental dan larva tidak mempunyai enzim
kolagenase yang cukup untuk penetrasi membran basalis sampai ke dermis.
Sehingga penyakit ini menetap di kulit saja. Enzim proteolitik yang disekresi
larva menyababkan inflamasi sehingga terjadi rasa gatal dan progresi lesi.
Meskipun larva tidak bisa mencapai intestinumuntuk melengkapi siklus hidup,
larva seringkali migrasi ke paru-paru sehingga terjadi infiltrate paru. Pada
pasien dengan keterlibatan paru-paru didapat larva dan eosinofil pada sputumnya.

31

Kebanyakan larva tidak mampu menembus lebih dalam dan mati setelah
beberapa hari sampai beberapa bulan.

3. Apa yang Dimaksud Dengan Sindrom Loeffler?


Gejala klinis pada ascaris akan ditunjukkan pada stadium larva maupun
dewasa.
Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan
di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler
merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak napas, eosinofilia, dan pada
foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu.
Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas
saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi,
dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan
kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus
peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

4. Medikamentosa pada Creeping Eruption


Jika dibiarkan saja tanpa pengobatan, larva akan mati dan diabsorpsi.
Meskipun penyakit ini self-limited, rasa gatal yang hebat dan resiko infeksi
sekunder memaksa seseorang untuk berobat. Untuk kasus yang ringan
biasanya tidak memerlukan pengobatan. Jika perlu dapat diberikan secara
topikal. Pengobatan topikal ditujukan untuk lesi awal yang terlokalisasi.
Untuk kasus yang lebih berat dapat diberikan obat peroral. Pengobatan oral
untuk lesi yang luas atau gagal dengan topikal. Antihistamin membantu
mengurangi rasa gatal. Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakter dapat
diberikan antibiotik.

a. Pengobatan sistemik (oral)

Tiabendazol
Dosisnya 50mg/kgBB/hari, dua kali sehari, diberikan berturut-turut
selama dua hari. Dosis maksimum 3gr sehari. Jika belum sembuh
32

dapat diulangi setelah beberapa hari. Obat ini sukar didapat. Efek
sampingnya

mual,pusing,muntah.

Menghambat

enzim

fumarat

reduktase sehingga menginhibisi pembentukan mikrotubuli. Akan


terjadi gangguan ambilan glukosa dan inhibisi malat dehidrogenase.
Merupakan antihelminthes heterosiklik generasi 3.

Dewasa

: 25-50mg/kgbb,tiap 12jam, selama 2-5 hari.

Anak-anak :25-20mg/kgBB,tiap 12jam,selama 2-5 hari


Obat ini tidak boleh diberikan pada ibu hamil atau menderita penyakit
hati maupun ginjal .

Ivermectin
Anti parasit semi sintetik makrosiklik yang berspektrum luas
terhadap nematoda. Cara kerjanya dengan menghasilkan paralisis
flaksid melalui pengikatan kanal klorida yang diperantarai glutamat.
Mungkin merupakan drug of choice karena keamanan, toksisitas
rendah dan dosis tunggal.

Dewasa

: 12mg atau 200ug/kgBB dosis tunggal

Anak-anak :
<5tahun : 150ug/kgBB dosis tunggal
>5tahun : sama dengan dosis dewasa
Efek samping mencakup kelelahan,pusing,nausea,muntah,nyeri perut
dan bercak kemerahan. Hindari penggunaan bersama obat yang
meningkatkan aktivitas GABA seperti barbiturat,benzodiazeprine dan
asam valproat. Ivermectin tidak boleh diberikan pada ibu hamil .

Albendazol
Dewasa : 400mg peroral , sekali sehari, selama 3hari atau 2x200mg
sehari selama 5hari
Anak anak :
33

<2tahun : 200mg/hari selama 3hari dan diulang selama 3minggu


kemudian jika perlu
>2tahun : sama seperti dewasa
Bila digunakan 1-3hari, albendazol hampir bebas efek samping.
Bisa terjadi gejala ringan distres epigastrium, diare, sakit kepala,
nausea, pusing, lesu dan insomnia. Pada pemakaian jangka panjang
harus dicek darah dan fungsi hati. Tidak boleh diberikan pada orang
yang hipersensitiv terhadap benzimidazol lainnya atau orang dengan
sirosis.

Mebendazol
Dewasa

: 200mg peroral, 2kali sehari selama 4hari

Anak-anak :
<2tahun : tidak disarankan
>2tahun : seperti dewasa

Bisa terjadi nausea,muntah,diare dan nyeri abdominal. Efek


samping yang jarang berupa reaksi hipersensitivitas, agranulositosis,
alopesia dan peningkatan enzim hati.

b. Pengobatan Topikal
Obat pilihan berupa tiabendazol topikal 10%, diaplikasi 4kali sehari
selama satu minggu. Topikal Tiabendazol adalah pilihan terapi pada lesi
awal, untuk melokalisir lesi, mengurangi lesi multiple dan infeksi folikel
oleh cacing tambang. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan
pada kulit normal di sekitar lesi. Dapat juga digunakan solutio tiobendazol
2% dalam DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah
kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48jam.
Eyster mencoba pengobatan topical solusio tiobendazol dalam DMSO
dan ternyata efektif. Demikian pula pengobatan secara oklusi selama 3448jam telahdicoba oleh Davis. Obat lain adalah albendazol, dosis sehari
34

400mg sebagai obat dosis tunggal, oral atau tiabendazole topical


merupakan terapi yang direkomendasikan. Namun, pengobatan ini
mempunyai efek samping seperti nausea, diare, anoreksia, pusing, sakit
kepala, pembesaran KGB dan reaksi alergi. Keamanan obat ini selama
kehamilan masih belum diketahui .

c. Cryotherapy
Menggunakan etil klorida atau dry ice dengan penekanan 45detik
sampai 1menit, 2hari berturut-turut. Penggunaan N2 cair juga pernah
dicoba. Cara beku dengan menyemprotkan kloretil sepanjang lesi. Cara
tersebut diatas agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti dimana
larva berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan disekitarnya.
Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. Seluruh
terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam
terowongan. Cara ini bersifat traumatik dan hasilnya kurang dapat
dipercaya.

5.

Dari Kasus Tersebut, Apakah Perlu Dilakukan Pembedahan pada


Cucu?
Pembedahan tidak perlu dilakukan karena penyakit Creeping Eruption
merupakan penyakit self-limited atau bisa sembuh sendiri seiring berjalannya
waktu, akan tetapi dapat dilakukan pengomatan yang mempercepat proses
penyembuhan. Indikasi pembedahan sendiri dapat dilakukan jika cacing
ditubuh sudah menuju organ-organ vital.

6. Jelaskan Tentang Ascariasis, Taeniasis, Enterobiasis, Strongiloidiasis,


dan Ancilostomiasis!

ASCARIASIS

Morfologi Ascaris lumbricoides

35

Cacing betina dewasa mempunyai bentuk tubuh posterior yang membulat


(conical), berwarna putih kemerah-merahan dan mempunyai ekor lurus tidak
melengkung. Cacing betina mempunyai panjang 20 - 35 cm dan memilikil ebar 3
8 mm. Sementara cacing jantan dewasa mempunyai ukuran lebih kecil, dengan
panjangnya 10 - 30 cm dan lebarnya 2 4 mm,juga mempunyai warna yang sama
dengan cacing betina, tetapi mempunyai ekor yang melengkung kearah ventral.
Kepalanya mempunyai tiga bibir pada ujung anterior (bagian depan) dan
mempunyai gigi-gigi kecil atau dentikel pada pinggirnya, bibirnya dapat ditutup
atau dipanjangkan untuk memasukkan makanan.

Siklus Hidup dan Cara Penularan

Manusia merupakan satu-satunya hospes definitive Ascaris lumbricoides,


jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan
menetas

dan

melepaskan larva infektif (larva rhabditiform) dan kemudian

menembus dinding usus masuk kedalam vena portae hati, mengikuti aliran darah
masuk kejantung kanan dan selanjutnya keparu-paru dengan masa migrasi
berlangsung selama 1 7 hari. Larva tumbuh didalam paru-paru dan berganti kulit
sebanyak 2 kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya
larva masuk ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke
oesopagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglottis masuk
kedalam traktus digestivus dan berakhir sampai kedalam usus halus bagian atas,
larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira
satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan bersama tinja.Siklus hidup
cacing ini mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama
terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000 250.000 butir
telur setiap harinya, waktuyang diperlukan adalah 3 4 minggu untuk tumbuh
menjadi bentuk infektif. Menurut penelitian stadium ini merupakan stadium larva,
di mana telur tersebut keluar bersama tinja manusia dan diluarakan mengalami
perubahan dari stadium larva I sampai stadium III yang bersifat infektif. Telurtelur initahan terhadap pengaruh cuaca buruk, berbagai desinfektan dan dapat
tetap hidup bertahun-tahun ditempat yang lembab. Didaerah hiperendemik,anak36

anak terkena infeksi secara terus menerus sehingga jika beberapa cacing keluar,
yang lain menjadi dewasa dan menggantikannya. Apabila makanan atau minuman
yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup
cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing
ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidakdimasak
ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.

Aspek Klinik

Kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh penderita akibat pengaruh


migrasi larva dan adanya cacing dewasa. Pada umumnya orang yang kena infeksi
tidak menunjukkan gejala, tetapi dengan jumlah cacing yang cukup besar
(hyperinfeksi) terutama pada anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi,
selain itu cacing sendiri dapat mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkan
reaksi toksik sehingga terjadi gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan
tanda alergi seperti urtikaria, odema diwajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan
bagian atas. Cacing dewasa dapat pula menimbulkan berbagai akibat mekanik
seperti obstruksi usus, perforasi ulkus diusus. Oleh karenaa danya migrasi cacing
keorgan-organ misalnya kelambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus
dapat menyumbat pernapasan penderita.
Adakalanya askariasis menimbulkan manifestasi berat dan gawat dalam
beberapa keadaan sebagai berikut:
1. Bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus yang menyumbat
rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen akut.
2. Pada migrasi ektopik dapat menyebabkan masuknya cacing kedalam usus
buntu(apendiks), saluran empedu (duktus choledocus) dan saluran pankreas
(ductus pankreatikus). Bila cacing masuk kedalam saluran empedu, terjadi kolik
yang berat disusul kolangitis supuratif dan abses multiple. Peradangan terjadi
karena desintegrasi cacing yang terjebak dan infeksi sekunder. Desintegrasi betina
menyebabkan dilepaskannya telur dalam jumlah yang besar yang dapat dikenali
dalam pemeriksaan histologi. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan
cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan telur cacing dengan
37

bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairan empedu
penderita melalui pemeriksaan mikroskopik.

TAENIASIS

Epidemiologi Taeniasis sp.

Taeniasis dan sistiserkosis merupakan penyakit yang menyerang


masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, seperti yang dikonfirmasi pada
statistika yaitu daerah dengan standar kehidupan yang rendah. Beberapa
negara maju seperti Amerika Serikat, masyarakatnya juga dapat terinfeksi
Taenia sp. akibat perjalanan yang dilakukan di daerah endemis. semua usia
rentan terhadap infeksi taeniasis. Usia di mana konsumsi daging mentah
dimulai adalah faktor yang menentukan usia infeksi. Taeniasis solium
dilaporkan terjadi pada anak usia 2 tahun di Mexico.
Taeniasis dan sistiserkosis merupakan infeksi parasit yang umum dan
dapat ditemukan pada seluruh bagian dunia Sekitar 50 juta orang di seluruh
dunia terinfeksi Taenia saginata dan Taenia solium. Sekitar 2-3 juta orang
terinfeksi cacing Taenia solium 45 juta orang terinfeksi Taenia saginata, dan
sekitar 50 juta orang mengidap sistiserkosis dari Taenia solium

Morfologi Taenia sp.

Taenia solium (cacing pita babi) merupakan infeksi cacing yang


distribusinya kosmopolit. Cacing ini menginfeksi baik manusia dan babi.
Manusia biasanya

sebagai

hospes

definitif

atau

hospes

perantara ,

sedangkan babi sebagai hospes perantara. Habitat cacing yang telah dewasa di
dalam usus halus (jejunum bagian atas) manusia, sedangkan larvanya terdapat
di dalam jaringan organ tubuh babi.
Cacing dewasa dari Taenia solium berukuran panjang antara 2-4
meter, dan dapat hidup sampai 25 tahun lamanya. Bentuk dari cacing dewasa
seperti pipa, pipih dorsoventral, dan tubuhnya terdiri atas skoleks (kepala),
38

leher, dan strobila yang terdiri dari segmen proglotid. Setiap cacing
Taenia solium mempunyai segmen yang berjumlah kurang dari 1000 buah.
Skoleks Taenia solium berbentuk bulat, dengan garis tengah 1 mm,
mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang dilengkapi dengan 2 deret
kait yang melingkar dan berdiameter 5 mm, masing-masing sebanyak 2530 buah.
Leher cacing Taenia solium pendek, berukuran panjang antara 5-10
milimeter. Strobila terdiri dari proglotid yang imatur, matur, dan gravid.
Proglotid imatur ukurannya lebih lebar daripada panjangnya.
Dalam proglotid yang matang terdapat testis berupa folikel yang
tersebar di seluruh dorsal tubuh dan jumlahnya mencapai 150-200. Proglotid
matang juga mempunyai lubang genital yang terletak di dekat pertengahan
segmen. Ovarium terletak di bagian posterior, berbentuk 2 lobus yang simetris
dan uterus terletak di tengah seperti gada.
Pada proglotid gravid, terdapat 5-10 cabang lateral dari uterus di tiap
sisi segmen. Segmen gravid dilepaskan dalam bentuk rantai yang terdiri atas
5-6 segmen setiap kali dilepaskan.

Siklus Hidup Taenia sp.

Siklus Hidup Taenia solium

Cacing dewasa hidup di dalam tubuh manusia pada usus halus.Cacing


dewasa melepaskan segmen gravid paling ujung yang akan pecah di dalam usus
sehingga telur cacing dapat dijumpai pada feses penderita. Apabila telur cacing
yang matur mengkontaminasi tanaman rumput atau pun peternakan dan termakan
oleh ternak seperti babi, telur akan pecah di dalam usus hospes perantara dan
mengakibatkan lepasnya onkosfer. Dengan bantuan kait, onkosfer menembus
dinding usus, masuk ke dalam aliran darah, lalu menyebar ke organ-organ tubuh
babi, terutama otot lidah, leher, otot jantung, dan otot gerak. Dalam waktu 60-70
hari pasca infeksi, onkosfer berubah menjadi larva sistiserkus yang infeksius.
Manusia terinfeksi dengan cara makan daging babi mentah atau kurang
39

masak, yang mengandung larva sistiserkus.Di dalam usus manusia, skoleks


akan mengadakan eksvaginasi dan melekatkan diri dengan alat isapnya pada
dinding usus, lalu tumbuh menjadi cacing dewasa dan kemudian membentuk
strobila. Dalam waktu 5-12 minggu atau 3 bulan, cacing Taenia solium
menjadi dewasa dan mampu memproduksi telur.
Proglotid yang telah lepas, telur atau keduanya akan dilepaskan
dari hospes definitif (manusia) dalam bentuk feses. Kemudian babi akan
terinfeksi jika pada makanannya telah terkontaminasi dengan telur yang
berembrio atau proglotid gravid.
Manusia juga dapat menjadi hospes perantara untuk Taenia solium
(sistiserkorsis). Hal ini dapat terjadi apabila manusia termakan telur dari cacing
tersebut dari hasil ekskresi manusia. Teori lainnya adalah autoinfeksi. Namun,
teori ini belum dibuktikan. Jika terdapat cacing pita dewasa pada usus,
peristaltik yang berlawanan pada gravid proglotid akan menyebabkan
proglotid bergerak secara retrograd dari usus ke lambung. Telur hanya dapat
menetas apabila terpapar dengan sekresi gaster diikuti dengan sekresi usus
sehingga setelah terjadi peristaltik yang bersifat retrograd, onkosfer akan
menetas dan menembus dinding usus, mengikuti aliran kelenjar getah bening
atau aliran darah.Larva selanjutnya akan bermigrasi ke jaringan subkutan, otot,
organ viseral, dan sistem saraf pusat dan membentuk sistiserkus. Sistiserkosis
dapat terjadi pada berbagai organ dan gejala yang timbul tergantung dari lokasi
sistiserkus. Proglotid dari Taenia solium kurang aktif dibandingkan dengan
Taenia saginata sehingga kemungkinan untuk ditemukan pada lokasi yang
tidak seharusnya lebih jarang.

Siklus Hidup Taenia saginata

Siklus hidup cacing ini hampir sama seperti cacing pita babi. Hospes
definitif Taenia saginata adalah manusia, yang berlaku sebagai hospes
perantara adalah sapi atau kerbau. Cacing Taenia saginata menjadi dewasa
setelah 10-12 minggu (sekitar 2 bulan).
40

Gejala Klinik Taeniasis solium

Kait-kait pada skoleks Taenia solium umunya tidak banyak


menimbulkan gangguan pada dinding usus tempatnya melekat.Penderita
taeniasis umumnya asimptomatik atau mempunyai keluhan yang umumnya
ringan, berupa rasa tidak enak di perut, gangguan pencernaan, diare,
konstipasi, sakit kepala, nyeri abdomen, kehilangan berat badan, malaise,
peningkatan nafsu makan, rasa sakit ketika lapar (hunger pain), indigesti
kronik, dan hiperestesia. Sangat jarang terjadi komplikasi peritonitis akibat
kait yang menembus dinding usus . Sering dijumpai kalsifikasi pada sistiserkus
namun tidak menimbulkan gejala, akan tetapi sewaktu-waktu terdapat
pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis, demam tinggi, dan eosinofilia .
Gejala klinik yang berhubungan dengan abdomen lebih umum terjadi
pada anak-anak dan umumnya akan berkurang dengan mengkonsumsi sedikit
makanan. Pada anak-anak, juga dapat terjadi muntah, diare, demam,
kehilangan berat badan, dan mudah marah. Gejala lainnya yang pernah
dilaporkan adalah insomnia, malaise, dan kegugupan.
Adapun gejala yang muncul disebabkan oleh karena adanya iritasi pada
tempat perlekatan skoleks serta sisa metabolisme cacing yang terabsorpsi yang
menyebabkan gejala sistemik dan intoksikasi ringan sampai berat.

Gejala Klinik Taeniasis saginata

Gambaran klinik dan diagnosa Taeniasis saginata pada usus


hampir serupa dengan infeksi Taeniasis solium. Pada taeniasis saginata terjadi
inflamasi sub-akut pada mukosa usus.
Proglotid dari Taenia saginata dapat bermigrasi ke berbagai organ
seperti apendiks, uterus, duktus biliaris, dan nasofaring sehingga menyebabkan
appendisitis, kholangitis, kolesistitis dan sindrom lainnya. Pada kasus
yang langka, dapat ditemukan obstruksi usus atau perforasi.

41

Diagnosa Taeniasis solium

Diagnosis pasti Taeniasis solium ditegakkan jika ditemukan cacing


dewasa (segmen atau skoleks yang khas bentuknya) pada tinja penderita atau
pada pemeriksaan daerah perianal. Namun, telur dan proglotid tidak akan
ditemukan pada feses selama 2-3 bulan setelah cacing dewasa mencapai
bagian atas jejunum. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa 3 sampel yang
disarankan untuk dikumpulkan pada hari yang berbeda. Telur cacing yang
ditemukan tidak dapat dibedakan dengan Echinococcus, penentuan mungkin
dapat dilakukan apabila ditemukan proglotid yang matang atau gravid
dengan menghitung percabangan uterus.
Cara

lain

untuk

mendiagnosa

taeniasis

adalah

dengan

menemukan proglotid atau telur dalam feses. Telur juga dapat ditemukan
dengan menggunakan pita adhesif yang ditempelkan pada daerah sekitar
anus.
Adapun pemeriksaan coproantigen dan molekuler yang mempunyai
sensitivitas yang lebih tinggi daripada pemeriksaan feses.

Namun,

pemeriksaan ini belum tersedia pada luar laboratorium penelitian. Metode


serologis juga hanya tersedia pada lingkungan penelitian. Dengan metode
serologis seperti ELISA dan PCR, dapat dibedakan spesies dari Taenia.

Diagnosa Taeniasis saginata

Diagnosa Taenia saginata dapat menggunakan pita perekat (tes


Graham). Untuk Taenia saginata test ini sangat sensitif, namun tidak pada
Taenia solium. Pemeriksaan diagnostik terbaik untuk taeniasis intestinal adalah
deteksi koproantigen ELISA yang dapat mendeteksi molekul spesifik dari
taenia pada sampel feses yang menunjukkan adanya infeksi cacing pita.
Sensitivitas dari ELISA sekitar 95% dan efektivitasnya sekitar 99%.

Pencegahan Taeniasis sp
Untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis, dilakukan tindakan42

tindakan sebagai berikut:


a.Mengobati penderita, untuk mengurangi sumber infeksi, dan mencegah
terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
b.Peningkatan kinerja pengawasan daging yang dijual, agar bebas larva
cacing (sistiserkus). Pengawasan yang dilakukan pada negara endemis
biasanya adalah inspeksi yang dilakukan di rumah potong. Namun,
inspeksi yang dilakukan tidak dapat menyaring semua kasus yang sangat
ringan.
c.Memasak daging sampai di atas 50oC selama 30 menit, untuk membunuh
kista cacing, membekukan daging.
d.Menjaga kebersihan lingkungan dan tidak memberikan tinja manusia
sebagai makanan babi, tidak membuang tinja di sembarang tempat.
e.Pada daerah endemik, sebaiknya tidak memakan buah dan sayur yang
tidak dimasak yang tidak dapat dikupas.
f.Hanya meminum air yang telah dikemas dalam botol, air yang disaring,
atau air yang dididihkan selama 1 menit.
g.Dapat dilakukan pemberian pendidikan mengenai kesehatan.
h.Pada babi, dapat dilakukan pemberian oxfendazole oral (30 mg/kg BB).
i.Meningkatkan

pendidikan

komunitas

dalam

kesehatan

(kebersihan,

mempersiapkan makanan, dan sebagainya).

ENTEROBIASIS

Enterobiasis atau oxyuriz merupakan penyakit akibat infeksi nematoda


genus Enterobius, khususnya Enterobius vermicularis atau Oxyuris vermicularis.
Penyakit ini biasa dikenal dengan penyakit cacing kremi. Enterobius vermicularis
telah diketahui sejak dahulu dan telah banyak dilakukan penelitian mengenai
biologi, epidemiologi, dan gejala klinisnya.

Epidemiologi
Cacing ini sebagian besar menginfeksi anak-anak, meski tak sedikit orang
dewasa terinfeksi cacing tersebut. Meskipun penyakit ini banyak di temukan pada
43

golongan ekonomi lemah, pasien rumah sakit jiwa, anak panti asuhan, tak jarang
mereka dari golongan ekonomi yang lebih mapan juga terinfeksi .

Morfologi dan Daur Hidup

Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada
pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esofagus jelas sekali,
ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh
dengan telur. Sedangkan cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap
dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya (?). Spikulum
pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum.
Makanannya adalah isi dari usus.
Cacing betina gravid mengandung 11.000-15.000 butir telur, bermigrasi ke
daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telurtelur jarang dikeluarkan di usus, sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur
berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik). Dinding telur bening
dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. Telur menjadi matang
dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu badan. Telur resisten
terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup
sampai 13 hari.
Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing
jantan mati setelah kopulasi, sedangkan cacing betina mati setelah bertelur.
Infeksi enterobiasis terjadi bila menelan telur matang atau bila larva dari telur
yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. Bila telur
matang yang tertelan, telur menetas di duodenum dan larva rhabditiformis
berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di yeyunum dan bagian atas ileum.
Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur
matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal,
berlagsung kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat ditemukan kembali
pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan. Infeksi cacing ini dapat
sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatan pun
infeksi dapat berakhir.
44

Diagnosis

Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di
sekitar anus pada waktu malam hari. Diagnosis dibuat dengan menemukan telur
dan cacing dewasa. Telur cacing dapat diambil dengan mudah dengan alat anal
swab yang ditempatkan di sekitar anus pada waktu pagi hari sebelum anak buang
air besar dan mencuci anus.
Anal swab adalah suatu alat dari batang gelas atau spatel lidah yang pada
ujungnya dilekatkan scotch adhesive tape. Bila adhesive tape ini ditempelkan di
daerah sekitar anus, telur cacing akan menempel pada perekatnya. Kemudian
adhesive tape diratakan pada kaca benda dan dibubuhi sedikit toluol untuk
pemeriksaan mikroskopik. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tiga hari berturutturut. Pemeriksaan darah tepi umumnya normal, hanya ditemukan sedikit
eosinofilia.

Pemeriksaan Laboratorium

Infeksi cacing sering diduga pada anak yang menunjukkan rasa gatal di
sekitar anus pada waktu malam hari. Namun tidak di kemungkinkan pada orang
dewasa juga di temukan telur cacing. Adapun cara memeriksa adanya
E,vermicularis adalah sebagai berikut:

a) Cacing dewasa
Cacing dewasa di temukan di dalam feses di cuci dalam larutan NaCl agak
panas, kemudian di kocok-kocok terus, sehingga lemas. Selanjutnya di periksa
dalam keadaan segar atau di matikan dengan larutan fixasi untuk
mengawetkan gunakan alcohol 70% agak panas.
Cacing kremi (E,vermicularis) dewasa berukuran kecil, berwarna putih.
Cacing betina jauh lebih besar dari pada jantan. Ukuran cacing betina sampai
13 mm, sedangkan ukuran jantan sampai sepanjang 5 mm. Didaerah anterior
sekitar leher,kutikulum cacing melebar.Pelebaran yang khas pada cacing ini
45

disebut sayap leher (cervical alae).Usofagus cacing ini juga khas bentuknya
oleh karena mempunyai bulbus esophagus ganda (double-bulp-oesophagus).
Tidak terdapat rongga mulut pada cacing ini, akan tetapi di jumpai adanya
tiga buah bibir.
Ekor cacing betina lurus dan runcing sedangkan yang jantan mempunyai
ekor yang melingkar. Di daerah ujung posterior ini di jumpai karena sesudah
mengadakan kopulasi dengan betinanya ia segera mati.

b) Telur cacing
Telur cacing E.vermicularis jarang di temukan dalam feses, hanya 5%
yang positif pada orang orang yang menderita infeksi ini. Telur cacing
E.vermicularis lebih muda di temukan dengan teknik pemeriksaan yang
khusus.
Pada metode ini bahan yang di periksa berupa perianal swab oleh karena
cacing betina yang banyak mengandung telur pada waktu malam hari
melakukan migrasi kedalam perianal. Sehingga dengan pemerksaan perianal
swab lebih muda di temukan telur cacing tersebut.

Pengobatan

Obat-obat antihelmintik digunakan untuk mengurangi sejumlah parassit


cacing di saluran cerna atau jaringan tubuh. Parasit ini mengalami proses
biokimiawi dan fisiologi dengan inang mamalianya, sekarang dengan adanya
perbedaan yang tidak jelas dapat dimulai untuk menghasilkan penelitian
farmakologi. Kebanyakan antihelmintik yang digunakan sekarang ini aktif
terhadap parasit spesifik dan beberapa bersifat toksik. Karena itu, parasit tersebut
harus dikenali terlebih dahulu sebelum pengobatan dimulai, biasanya dengan
menggunakan parasit, telur, atau larva di urin, tinja, darah, sputum, atau jaringan
inang.
Seluruh anggota keluarga sebaiknya diberi pengobatan bila ditemukan salah
seorang anggota terkena enterobiasis. Pengobatan secara periodik memberikan
prognosis yang baik. Adapun obat-obat yang dapat diberikan antara lain:
46

1. Mebendazol
Mebendazol menghambat sintesis mikrotubulus nematoda, sehingga
mengganggu ambilan glukosa yang irreversibel. Akibatnya parasit intestinal
diimobilisasi atau mati secara perlahan, dan bersihannya dari saluran cerna
mungkin tidak lengkap sampai beberapa hari setelah pengobatan. Efikasi obat
ini bervariasi dengan waktu transit saluran cerna, beratnya infeksi, serta
apakah obat ini dikunyah atau tidak, dan mungkin dengan strain parasit.
Mebendazol diberikan dosis tunggal 500 mg, diulang setelah 2 minggu.

2. Albendazol
Albendazol menghambat ambilan glukosa oleh larva dan parasit stadium
dewasa yang rentan, mengurangi penyimpanan glikogen dan menurunkan
pembentukan ATP. Sebagai akibatnya, parasit diimobilisasi dan mati.
Diberikan dosis tunggal 400 mg, diulang setelah 2 minggu.

3. Pirantel pamoat
Pirantel pamoat efektif terhadap cacing bentuk matur atau imatur yang
rentan dalam saluran cerna tetapi tidak efektif terhadap stadium migrasi dalam
jaringan. Obat ini merupakan agen penghambat depolarisasi neuromuskular
yang menyebabkan pelepasan asetilkolin, menghambat kolinesterase, dan
merangsang reseptor ganglionik. Diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat
badan sebagai dosis tunggal dan maksimum 1 gram.

STRONGILODIASIS

Etiologi

Strongyloidiasis disebabkan oleh nematoda (cacing gelang) Strongyloides


stercoralis. Genus Strongyloides diklasifikasikan dalam urutan Rhabditida, dan
sebagian besar anggota nematoda microbiverous tanah-tinggal. Sebagian besar
dari 52 spesies Strongyloides tidak menginfeksi manusia. S stercoralis adalah
47

patogen manusia yang paling umum. Spesies lain termasuk S myopotami dan S
procyonis. Spesies ini memiliki hewan host dan dengan demikian bertanggung
jawab untuk infeksi zoonosis.
Infeksi yang dimulai ketika terkena kontak kulit terkontaminasi tanah.
Autoinfeksi biasanya terjadi memungkinkan infeksi untuk bertahan puluhan
tahun. Infeksi asimtomatik terpanjang didokumentasikan lebih dari 65 tahun.
Hyperinfection biasanya dipicu oleh cacat akibat obat atau penyakit terkait dalam
imunitas seluler, yang memungkinkan peningkatan besar dalam parasit beban dan
penyebaran hampir semua sistem organ.
Tidak ada bukti langsung penularan dari orang ke orang dalam rumah
tangga. Strongyloides larva telah terdeteksi dalam susu ibu dengan infeksi kronis,
menunjukkan penularan vertikal. Bukti pada anjing juga menunjukkan transmisi
dalam ASI. Tidak ada studi yang menunjukkan transmammary transmisi pada
manusia ada. Donor kadaver transplantasi ginjal telah terlibat sebagai sumber
sindrom

hyperinfection

fatal

pada

penerima

transplantasi.

Infeksi Zoonosis oleh spesies Strongyloides sama-sama dikontrak oleh kontak


dengan pasir atau tanah yang mengandung kotoran hewan yang terinfeksi,
termasuk kotoran dari musang dan nutria. Infeksi dilaporkan antara dokter hewan
dan pekerja laboratorium yang bekerja di daerah beriklim sedang dan terkena
larva dari kuda. Bentuk zoonosis infeksi Strongyloides juga dapat menghasilkan
merayap erupsi kulit identik dengan infeksi S stercoralis.

Siklus Hidup

48

Manifestasi Klinis

Gejala-gejala

yang

berkaitan

dengan

strongyloidiasis

mungkin

mencerminkan bagian sistemik nematoda itu, keterlibatan kulit lokal, atau


keduanya. Selama infeksi tanpa komplikasi kronis, larva dapat bermigrasi ke
kulit, di mana mereka dapat menyebabkan strongyloidiasis kulit, yang dikenal
sebagai currens larva karena laju migrasi cepat larva. Infeksi secara klinis ditandai
dengan diare berair, kram perut, dan ruam urtikaria. Pada anak-anak kurang gizi,
strongyloidiasis tetap merupakan penyebab penting diare kronis, cachexia, dan
gagal tumbuh.
Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala yang dapat dilihat dengan
sindrom hyperinfection dan disebarluaskan strongyloidiasis:
a. Manifestasi gastrointestinal

Nyeri perut, mual, muntah, diare

Ileus, edema usus, obstruksi usus

Ulserasi mukosa, perdarahan masif, dan peritonitis berikutnya atau sepsis


bakteri

b. Manifestasi paru dan temuan

Batuk, mengi, dyspnea, suara serak

Pneumonitis
49

Hemoptisis

Gagal napas

Meredakan infiltrat interstitial atau konsolidasi pada radiografi dada


temuan neurologis
Aseptik atau meningitis gram negatif larva telah dilaporkan dalam CSF,
pembuluh meningeal, dura, epidural, subdural ruang, dan subarachnoid

c. Tanda-tanda dan gejala sistemik

Edema perifer dan asites sekunder hipoalbuminemia dari protein


kehilangan enteropati

Gram negatif berulang bakteremia / sepsis dari larva membawa bakteri


yang menembus dinding mukosa

Sindrom sekresi pantas hormon anti-diuretik (SIADH)

Eosinofilia perifer sering absen

d. Manifestasi kulit

Makulopapular berulang atau ruam urtikaria yang paling sering ditemukan


di sepanjang bokong, perineum, dan paha akibat infeksi berulang otomatis,
tetapi dapat ditemukan di mana saja pada kulit

Currens larva - serpiginous patognomonik atau ruam urtikaria bahwa


kemajuan secepat 10cm / jam.

Patofisiologi

Siklus hidup Strongyloides stercoralis adalah kompleks dan unik di antara


nematoda usus. Cacing ini memiliki 2 jenis kehidupan siklus-siklus hidup (larva
rhabditiform) hidup bebas dan siklus hidup parasit (larva filariform infektif) dengan 3 tahap perkembangan: dewasa, rhabditiform larva, dan filariform larva.
Jenis pertama dari siklus hidup memungkinkan pengembangan dewasa
nonparasitic, baik laki-laki dan perempuan, di dalam tanah, yang tanpa batas dapat
mempertahankan infestasi tanah. Fase hidup bebas ini kadang-kadang disebut
siklus hidup heterogonic.
50

Tipe kedua siklus hidup memungkinkan larva baru noninfective untuk


meranggas di host manusia menjadi larva filariform infektif. Larva infektif dapat
menembus usus dan mengatur siklus baru, biasanya disebut hyperinfective atau
siklus autoinfective. Dalam pengaturan ini, tidak seperti di nematoda usus lainnya
manusia, larva dapat meningkatkan angka tanpa infeksi ulang dari luar. Variasi
siklus hidup ini bertanggung jawab atas ketekunan selama puluhan tahun infeksi
pada host yang tidak diobati.
Orang dewasa cacing betina adalah satu menit, ramping, hampir cacing
transparan yang berukuran sekitar 2,2-2,5 mm panjang dan memiliki diameter 50
m. Orang dewasa cacing betina tinggal di terowongan antara enterosit dalam usus
halus manusia.
Sebuah parasit jantan ada, tetapi hanya ditemukan pada anjing
eksperimental terinfeksi dan tidak memiliki peran dalam infeksi manusia. Parasit
jantan lebih pendek dan lebih luas dari perempuan dan mudah dihilangkan dari
usus. Hanya betina dewasa ditemukan pada manusia yang terinfeksi. Manusia
adalah tuan rumah utama S stercoralis. Anjing, kucing, dan mamalia lainnya juga
dapat pelabuhan worm dan dapat berfungsi sebagai waduk host.

a. Tahap 1
Infeksi pada manusia diperoleh oleh penetrasi kulit atau membran mukosa
oleh larva filariform infektif, baik dari autoinfeksi atau dari kontak dengan
tanah yang terinfeksi atau bahan lain yang terkontaminasi dengan kotoran
manusia (fecal-oral route) (lihat gambar di bawah). Hal ini difasilitasi oleh
protease histolytic ampuh yang disekresikan oleh organisme. Pada portal
masuk, larva menyebabkan perdarahan petekie, yang disertai dengan pruritus
intens, kemacetan, dan edema.

51

Larva bermigrasi ke dalam sirkulasi paru melalui sistem limfatik dan


venula. Larva bermigrasi sampai pohon paru, di mana mereka menelan, dan
mencapai sistem GI. Dalam usus, S stercoralis dapat menghasilkan reaksi
inflamasi dan menimbulkan sindrom malabsorpsi ketika melekat pada lipatan
mukosa

b. Tahap 2
Migrasi larva infektif tradisional telah diyakini terjadi melalui pembuluh
limfatik dan venula. Larva ini mencapai sirkulasi paru, di mana, sekali dalam
kapiler paru, larva menghasilkan perdarahan, yang membentuk jalan penetrasi
ke dalam ruang alveolar. Respon inflamasi yang terkait dengan infiltrasi
eosinofilik berikut, dan urutan peristiwa yang terjadi dalam hasil paru di
pneumonitis. Larva bermigrasi atas pohon paru, di mana mereka menelan
(lihat gambar berikut) dan akhirnya masuk ke usus.

c. Tahap 3
Ketika mereka mencapai usus kecil, mereka meranggas dua kali dan
tumbuh menjadi wanita dewasa (2 mm x 0,05 mm). (Semua cacing dewasa
parasit adalah perempuan.) Betina memproduksi telur parasit melalui
partenogenesis. Setiap wanita dewasa dapat hidup sampai 5 tahun dan
melanjutkan siklus reproduksi. Telurnya menetas menjadi larva rhabditiform
noninfective dalam usus, yang kemudian dapat melewati tinja ke lingkungan,
di mana mereka tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan perempuan (lihat
gambar di bawah). Dibandingkan dengan cacing tambang, Strongyloides
dewasa organisme berbohong tertanam dalam lipatan usus. Jalur migrasi

52

tradisional kini dirasakan ada dalam hubungannya dengan migrasi langsung


sama signifikan dari kulit duodenum.
Strongyloides adalah satu-satunya cacing untuk mengeluarkan larva (dan
bukan telur) dalam tinja. Biasanya, larva muncul dalam tinja sekitar 1 bulan
(sekitar 28 hari) setelah penetrasi kulit, tetapi periode inkubasi tidak diketahui.
Selama pasien terinfeksi, yang dapat selama beberapa dekade, infeksi
menular. Larva rhabditiform yang dikeluarkan dapat kembali hidup bebas di
tanah atau diubah menjadi larva filariform menunggu tuan manusia lain. Atau,
mereka dapat menyebabkan autoinfeksi.

Autoinfeksi melibatkan transformasi dini larva noninfective (rhabditiform,


0,25 mm x 0,015 mm) menjadi larva infektif (filariform, 0,5 mm x 0,015 mm),
yang dapat menembus mukosa usus (autoinfeksi internal) atau kulit daerah
perineum (autoinfeksi eksternal) , sehingga membentuk sebuah perkembangan
(parasit) siklus dalam host. Infeksi dapat dipertahankan oleh siklus migrasi
diulang untuk sisa hidup tanaman inang.
Jutaan larva filariform mencapai kulit dengan cara sirkulasi atau invasi
langsung dari rongga tubuh; mereka dapat bermigrasi melalui semua tingkat
dermis dan melibatkan jaringan subkutan. Larva filariform infektif masuk
kembali sirkulasi oleh 1 dari 3 metode:
(1) Larva menembus mukosa usus dan menyebabkan endoautoinfection tidak
langsung;
(2) larva menembus mukosa usus halus bagian atas dan menyebabkan
endoautoinfection langsung; atau
(3) larva menembus kulit perianal dan menyebabkan exoautoinfection.
Metode terakhir telah dikaitkan dengan perkembangan currens larva.

53

Setelah memasuki sirkulasi, larva dibawa ke paru-paru, di mana siklus


berulang. Mekanisme ini menyumbang kronisitas dan sering kambuh
penyakit pada pasien yang tidak lagi tinggal di daerah-daerah di mana
penyakit ini endemik.
Autoinfeksi disimpan di cek oleh respon imun host normal. Namun, pada
pasien dengan gangguan imunitas seluler, autoinfeksi dapat menimbulkan
2 bentuk yang paling parah dari strongyloidiasis: sindrom hyperinfection
(stadium 4) dan disebarluaskan strongyloidiasis (tahap 5)

d. Tahap 4
Patofisiologi yang dihasilkan dari siklus hyperinfection, yang mengarah ke
penyebaran di host dikompromikan, tidak dipahami dengan baik. Pasien yang
menerima kortikosteroid dosis tinggi atau pasien dengan T-sel manusia jenis
virus lymphotrophic I ((HTLV-I) berada pada khususnya peningkatan risiko.
Sindrom Hyperinfection merupakan percepatan siklus hidup normal S
stercoralis, yang mengarah ke beban cacing yang berlebihan tanpa penyebaran
larva di luar pola migrasi biasa (misalnya, saluran pencernaan, paru-paru)
(lihat gambar berikut). Larva tidak keluar tuan rumah di feses dan bukannya
meranggas ke filariform larva infektif dalam lumen usus. Larva ini kemudian
mampu menembus dinding usus dan perjalanan ke seluruh tubuh.

e. Tahap 5
Disebarluaskan strongyloidiasis melibatkan penyebarluasan larva ke organ
ekstraintestinal (misalnya, sistem saraf pusat [SSP], jantung, saluran kemih,
organ endokrin), yang berada di luar ranah siklus hidup parasit biasa (lihat
gambar di bawah). Semua organ dan jaringan dapat menyerang, bersama
dengan usus kecil. Dalam bentuk ini parah, translokasi bakteri enterik dapat
54

terjadi,

menyebabkan

bakteremia

polymicrobial

dan

kadang-kadang

meningitis dengan patogen enterik. Patogen enterik dapat dilakukan pada larva
filariform atau mungkin memasuki sirkulasi melalui borok usus. SSP, hati,
dan paru-paru adalah tujuan paling umum dari larva autoinfectious.

Diagnosis Penunjang
a. Diagnosis Laboratorium

Diagnosis didasarkan pada identifikasi mikroskopis larva (rhabditiform


dan kadang-kadang filariform) dalam

tinja

atau cairan

duodenum.

Pemeriksaan sampel seri mungkin diperlukan, dan tidak selalu cukup, karena
pemeriksaan tinja relatif tidak sensitif. Tinja dapat diperiksa di tunggangan
basah:

Langsung

Setelah konsentrasi (formalin-etil asetat)

Setelah sembuh dari larva dengan teknik corong Baermann

Setelah kultur dengan teknik kertas saring Harada-Mori

Setelah kultur di piring agar


Cairan duodenum dapat diperiksa dengan menggunakan teknik seperti

string Enterotest atau aspirasi duodenum. Larva dapat dideteksi dalam dahak
dari pasien dengan disebarluaskan strongyloidiasis.

b. Deteksi Antibodi

Tes immunodiagnostic untuk strongyloidiasis ditunjukkan ketika infeksi


dicurigai dan organisme tidak dapat ditunjukkan oleh aspirasi duodenum, tes
tali, atau dengan pemeriksaan berulang tinja. Tes deteksi antibodi harus
menggunakan antigen yang berasal dari Strongyloides stercoralis larva
55

filariform untuk sensitivitas dan spesifisitas tertinggi. Meskipun antibodi tidak


langsung fluorescent (IFA) dan hemaglutinasi tidak langsung (IHA) tes telah
digunakan, enzim immunoassay (EIA) saat ini dianjurkan karena sensitivitas
yang lebih besar yang (90%). Orang immunocompromised dengan
disebarluaskan strongyloidiasis biasanya memiliki antibodi IgG terdeteksi
meskipun Penekanan kekebalan mereka. Cross-reaksi pada pasien dengan
filariasis dan beberapa infeksi nematoda lain mungkin terjadi. Hasil tes
antibodi tidak dapat digunakan untuk membedakan antara masa lalu dan
infeksi saat ini. Sebuah waran tes positif melanjutkan upaya untuk
menegakkan diagnosa parasitologi diikuti dengan pengobatan antihelminthic.
Pemantauan serologi mungkin berguna dalam tindak lanjut pasien
imunokompeten diobati: tingkat antibodi menurun tajam dalam waktu 6 bulan
setelah kemoterapi sukses.

Penatalaksanaan

Akut dan kronis strongyloidiasis

a. Terapi lini pertama


Ivermectin, dalam dosis tunggal, 200 mg / kg secara oral selama 1-2 hari.
Kontraindikasi relatif :

Dikonfirmasi atau diduga infeksi Loa loa

Orang dengan berat kurang dari 15 kg

Wanita hamil atau menyusui

b. Alternatif
Albendazole, 400 mg secara oral dua kali sehari selama 7 hari. Kontraindikasi
relatif:

Hipersensitivitas terhadap senyawa benzimidazole atau komponen produk

Penggunaan harus dihindari pada trimester 1 kehamilan

Pada pasien dengan pemeriksaan tinja positif Strongyloides dan gejala


persisten, tindak lanjut ujian tinja sebaiknya dilakukan 2-4 minggu setelah
56

pengobatan untuk mengkonfirmasi pemberantasan infeksi. Jika luapan larva


diamati, penafsiran ditunjukkan.

Sindrom Hyperinfection / diseminata strongyloidiasis


Jika memungkinkan, terapi imunosupresif harus dihentikan atau dikurangi,
dan: Ivermectin, 200 mg / kg per hari secara oral sampai tinja dan / atau dahak
ujian negatif selama 2 minggu.
Untuk pasien tidak dapat mentoleransi terapi oral, seperti yang dengan
ileus, obstruksi, atau diketahui atau diduga malabsorpsi, laporan kasus yang
dipublikasikan telah menunjukkan efikasi dengan administrasi dubur.
Jika administrasi lisan dan / atau dubur tidak mungkin, ada kasus di mana
Investigational Obat Baru (IND) pengecualian untuk formulasi subkutan
hewan dari ivermectin telah diberikan oleh FDA.

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah infeksi Strongyloides adalah untuk memakai


sepatu ketika Anda berjalan di tanah, dan untuk menghindari kontak dengan
kotoran atau limbah. Pembuangan limbah yang tepat dan manajemen tinja adalah
kunci untuk pencegahan.
Selain itu, jika Anda percaya bahwa Anda mungkin terinfeksi, cara terbaik
untuk mencegah penyakit parah yang akan diuji dan, jika ditemukan positif untuk
penyakit, dirawat.

ANCILOSTOMIASIS

Ankilostomiasis adalah penyakit cacing tambang yang disebabkan oleh


Ancylostoma duodenale. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh
cacing tambang.Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan
lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk. Ancylostoma duodenale
ditemukan di daerah Mediterenian, India, Cina dan Jepang. Necator americanus
ditemukan di daerah tropis Afrika, Asia dan Amerika.
57

Lima spesies cacing yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted


Helminth yang masih menjadi masalah kesehatan, yaitu Ascaris lumbricoides,
Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan cacing tambang (Necator
americanus dan Ancylostoma sp). Infeksi cacing tambang masih merupakan
masalah kesehatan di Indonesia, karena menyebabkan anemia defisiensi besi dan
hipoproteinemia.
Penyakit cacing tambang disebabkan oleh cacing Necator americanus,
Ancylostoma duodenale, dan jarang disebabkan oleh Ancylostoma braziliensis,
Ancylostoma caninum, Ancylostoma malayanum. Penyakitnya disebut juga
ankilostomiasis, nekatoriasis, unseriasis.

Patofisiologi

Telur dihasilkan oleh cacing betina dan keluar memalui tinja. Bila telur
tersebut jatuh ke tembat yang hangat, lembab dan basah, maka telur akan berubah
menjadi larva yang infektif. Dan jika larva tersebut kontak dengan kulit,
bermigrasi sampai ke paru-paru dan kemudian turun ke usus halus; di sini larva
berkembang menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi jika larva filariform
menembus kulit. Infeksi A.duodenale juga mungkin dengan menelan larva
filariform.
58

Telur dari kedua cacing tersebut ditemukan di dalam tinja dan menetas di
dalam tanah setelah mengeram selama 1-2 hari. Dalam beberapa hari, larva
dilepaskan dan hidup di dalam tanah. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa
alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa
menembus kulit. Larva sampai ke paru-paru melalui pembuluh getah bening dan
aliran darah. Lalu larva naik ke saluran pernafasan dan tertelan. Sekitar 1 minggu
setelah masuk melalui kulit, larva akan sampai di usus. Larva menancapkan
dirinya dengan kait di dalam mulut mereka ke lapisan usus halus bagian atas dan
mengisap darah.

Gejala Klinis

Stadium larva (Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit,


maka terjadi perubahan kulit yang disebut grown itch. Perubahan pada paru
biasanya ringan.)
Stadium dewasa (Gejala tergantung pada spesies, jumlah cacing, dan
keadaan gizi penderita (Fe dan Protein). Tiap cacing A.duodenale menyebabkan
kehilangan darah sebanyak 0,08-0,34 cc sehari. Biasanya terjadi anemia hipokrom
mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia. Bukti adanya toksin yang
menyebabkan anemia belum ada. Biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi
daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun)
Rasa tidak enak pada perut, kembung, sering mengeluarkan gas (flatus),
mencret-mencret merupakan gejala iritasi cacing terhadap usus halus yang terjadi
lebih kurang dua minggu setelah larva mengadakan penetrasi ke dalam kulit.
Anemia akan terjadi 10-20 minggu setelah infestasi cacing dan walaupun
diperlukan lebih dari 500 cacing dewasa untuk menimbulkan anemia tersebut
tentunya tergantung pada keadaan gizi pasien

Diagnosis

Untuk kepentingan diagnosis infeksi cacing tambang dapat dilakukan


secara klinis dan epidemiologis. Secara klinis dengan mengamati gejala klinis
59

yang terjadi pada penderita sementara secara epidemiologis didasarkan atas


berbagai catatan dan informasi terkait dengan kejadian infeksi pada area yang
sama dengan tempat tinggal penderita periode sebelumnya. Pemeriksaan
penunjang saat awal infeksi (fase migrasi larva) mendapatkan: a) eosinofilia
(1.000-4.000 sel/ml), b) feses normal, c) infiltrat patchy pada foto toraks dan d)
peningkatan kadar IgE. Pemeriksaan feses basah dengan fiksasi formalin 10%
dilakukan secara langsung dengan mikroskop cahaya. Pemeriksaan ini tidak dapat
membedakan N. Americanus dan A. duodenale. Pemeriksaan yang dapat
membedakan kedua spesies ini ialah dengan faecal smear pada filter paper strip
Harada-Mori. Kadang-kadang perlu dibedakan secara mikroskopis antara infeksi
larva rhabditiform (L2) cacing tambang dengan larva cacing strongyloides
stercoralis
Diagnosis pasti penyakit ini adalah dengan ditemukannya telur cacing
tambang di dalam tinja pasien. Selain tinja, larva juga bisa ditemukan dalam
sputum. Kadang-kadang terdapat darah dalam tinja

Penatalaksanaan

Prioritas utama adalah memperbaiki anemia dengan cara memberikan


tambahan zat besi per-oral atau suntikan zat besi. Pada kasus yang berat mungkin
perlu dilakukan transfusi darah. Jika kondisi penderita stabil, diberikan obat
pirantel pamoat atau mebendazol selama 1-3 hari untuk membunuh cacing
tambang. Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil karena bisa
membahayakan janin yang dikandungnya.
Perawatan umum dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik;
suplemen preparat besi diperlukan oleh pasien dengan gejala klinis yang berat,
terutama bila ditemukan bersama-sama dengan anemia. Obat untuk infeksi cacing
tambang adalah Pyrantel pamoate (Combantrin, Pyrantin), Mebendazole
(Vermox, Vermona, Vircid), Albendazole.

CREEPING ERUPTION

60

Creeping eruption disebut juga cutaneous larva migrans (CLM)


disebabkan oleh penetrasi dan migrasi larva nemato da di dalam epidermis. Istilah
creeping eruption digunakan pada kelainan kulit yang merupakan peradangan
berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh
invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing.
Creeping eruption termasuk dalam penyakit parasit hewani. Maksudnya
parasit berupa hewan. Beberapabuku menyebutkan sebagai zoonosis, namun
istilah ini kurang tepat karena zoonosis berarti penyakit pada hewan yang dapat
ditularkan pada manusia, sedangkan penyakit ini bukan panyakit hewan. Jadi
istilah penyakit parasit hewani lebih tepat.
Infestasi biasanya terjadi melalui kontak dengan tanah atau pasir yang
terkontaminasi dengan kotoran binatang. Invasi ini sering terjadi pada anak-anak
terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki, atau yang sering berhubungan
dengan tanah dan pasir. Demikian pula para petani atau tentara sering mengalami
hal yang sama.

Epidemiologi

Creeping eruption ditemukan di seluruh dunia tapi paling sering terjadi di


daerah dengan iklim tropis atau subtropis yang hangat dan lembab, misalnya di
Afrika, Amerika Selatan dan Barat, terutama Amerika Serikat bagian tenggara,
Karibia, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Pusat, India, dan Asia Tenggara, di
Indonesia pun banyak dijumpai.

Siklus Hidup

Siklus hidup ancylostoma braziliense terjadi pada binatang dan serupa


dengan ancylostoma duodenale pada manusia. Siklus hidup parasit dimulai saat
telur keluar bersama kotoran binatang ke tanah berpasir yang hangat dan lembab.
Pada kondisi kelembaban dan temperatur yang menguntungkan, telur bisa
menetas dan tumbuh cepat menjadi larva rhabditiform. Awalnya larva makan
bakteri yang ada di tanah dan berganti buluh dua kali sebelum menjadi bentuk
61

infektif (larva stadium tiga). Pada hospes alami binatang, larva mampu penetrasi
sampai ke dermis dan ditranspor melalui sistem limfatik dan vena sampai ke paruparu. Kemudian menembus samai ke alveoli dan trakea dimana kemudian tertelan.
Di usus terjadi pematangan secara seksual, dan siklus baru dimulai saat telur
diekskresikan. Larva yang infektif dapat tetap hidup pada tanah selama beberapa
minggu.

PATOGENESIS

Creeping eruption disebabkan oleh berbagai spesies cacing tambang


binatang yang didapat dari kontak kulit langsung dengan tanah yang
terkontaminasi feses anjing atau kucing. Hospes normal cacing tambang ini
adalah kucing dan anjing. Telur cacing diekskresikan ke dalam feses, kemudian
menetas pada tanah berpasiryang hangat dan lembab. Kemudian terjadi pergantian
bulu dua kali sehingga menjadi bentuk infektif (larva stdaium tiga). Manusia yang
berjalan tanpa alas kaki terinfeksi secara tidak sengaja oleh larva dimana larva
menggunakan enzim protease untuk menembus melalui folikel, fisura atau kulit
intak. Setelah penetrasi stratum korneum, larva melepas kutikelnya. Biasanya
migrasi dimulai dalam waktu beberapa hari.
62

Larva stadium tiga menembus kulit manusia dan bermigrasi beberapa cm


per hari, biasanya antara stratum germinativum dan stratum korneum. Larva ini
tinggal di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal.hal ini
menginduksi reaksi inflamasi eosinofilik setempat. Setelah beberapa jam atau hari
akan timbul gejala di kulit.
Larva bemigrasi pada epidermis tepat di atas membran basalis dan jarang
menembus ke dermis. Manusia merupakan hospes aksidental dan larva tidak
mempunyai enzim kolagenase yang cukup untuk penetrasi membran basalis
sampai ke dermis. Sehingga penyakit ini menetap di kulit saja. Enzim proteolitik
yang disekresi larva menyababkan inflamasi sehingga terjadi rasa gatal dan
progresi lesi. Meskipun larva tidak bisa mencapai intestinum untuk melengkapi
siklus hidup, larva seringkali migrasi ke paru-paru sehingga terjadi infiltrat paru.
Pada pasien dengan keterlibatan paru-paru didapat larva dan eosinofil pada
sputumnya. Kebanyakan larva tidak mampu menembus lebih dalam dan mati
setelah beberapa hari sampai beberapa bulan.

Manifestasi Klinik

Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula
akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear
atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna
kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva
tersebut telah ada di kulit selama beberapa jam atau hari.
Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang
berkelok-kelok, polisiklik, sepriginosa, menimbul dan membentuk terowongan
(burrow), mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada
malam hari. Terjadi rasa gatal pada ujung lesi yang bertambah panjang karena
terdapat larva. Lebar lesi berkisar antara 3 mm dan panjang bervariasi mencapai
15-20 cm. Lesi bisa tunggal atau multipel, sangat gatal dan bisa juga nyeri.
Tempat predileksi adalah di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong, paha,
juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larve
berada.
63

Sering terjadi ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh bakteri. Larva terbatas
hanya pada lapisan epidermis. Penyakit ini self limited dengan kematian larva
dalam waktu sebulan atau dua bulan. Infeksi bakteri sekunder bisa terjadi akibat
garukan pada lesi.
Tanda dan gejala sistemik (mengi, batuk kering, urtikaria) pernah
dilaporkan pada pasien dengan infeksi ekstensif. Tanda sistemik termasuk
eosinofilia perifer dan peningkatang kadar IgE. Pada kasus creeping eruption
bisaterjadi sindrom loeffler dan mtositis namun jarang dijumpai. Larva bisa
bermigrasi ke usus halus dan menyebabkan enteritis eosinofilik.

Diagnosis

Diagnosis creeping eruption ditegakkan berdasarkan riwayat pajanan


epidemiologi dan penemuan lesi karakteristik. Bentuk khas, yakni terdapatnya
kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok-kelok, menimbul, dan terdapat
papul atau vesikel di atasnya. Biopsi spesimen diambil pada ujung jalur yang
mungkin mengandung larva.
Bila infeksi ekstensif bisa dijumpai tanda sistemik berupa eosinofilia
perifer, sindrom loeffler (infiltrat paru yang berpindah-pindah), peningkatan IgE.
Hanya sedikit pasien yang menunjukkan eosinofilia perifer dan peningkatan IgE.
Untuk menunjang diagnosa bisa dilakukan biopsi kulit. Biopsi kulit yang
diambil tepat di atas lesi menunjukkan larva (tes periodik asam schiff positif) di
terowongan suprabsalar, terowongan pada membran basalis, spongiosis dengan
vesikel intraepidermal, nekrosis keratinosit dan infiltrat kronis oleh eosinofil pada
lapisan epidermis dan dermis bagian atas.

Penatalaksanaan

Infeksi cacing tambang binatang dicegah dengan menghindari kontak kulit


langsung dengan tanah yang tercemar kotoran binatang. Pengobatan cacing
tambang untuk kucing dan anjing merupakan hal yang utama untuk mencegah
creeping eruption. Kotoran binatang harus dipindahkan secara benar dari area
64

aktivitas manusia. Creeping eruption bisa dicegah dengan mudah dengan


memakai alas kaki yang memadai setiap saat.
Jika dibiarkan saja tanpa pengobatan, larva akan mati dan diabsorbsi.
Meskipun penyakit ini self limited, rasa gatal yang hebat dan resiko infeksi
sekunder memaksa seseorang untuk berobat. Untuk kasus yang ringan biasanya
tidak memerlukan pengobatan. Jika perlu dapat diberikan secara topikal.
Pengobatan topikal ditujukan untuk lesi awal yang terlokalisasi. Untuk kasus yang
lebih berat dapat diberikan obat peroral. Pengobatan oral untuk lesi yang luas atau
gagal dengan topikal. Antihistamin membantu mengurangi rasa gatal. Jika terjadi
infeksi sekunder oleh bakteri dapat diberikan antibiotik.

1. Tiabendazol
Merupakan drog of choice. Menghambat enzim fumarat reduktase
sehingga menginhibisi pembentukan mikrotubuli. Akan terjadi gangguan
ambilan glukosa dan inhibisi malat dehidrogenase. Merupakan anihelminthes
heterosiklik generasi ketiga.
a. Dewasa
-topikal berupa supensi 10-15% (kadang dicampur dengan krim
kortikosteroid) secara oklusi, 2 kali sehari, selama minimal 1 minggu
-oral 25-50 mg/kgBB/hari, tiap 12 jam, selama 2-5 hari

b. Anak-anak
Dengan dosis 25-50 mg/kgBB/hari setiap 12 jam. Tidak lebih dari 3
gr/hari

Tiabendazol lebih toksik daripada benzimidazol lainnya dan ivermectin


sehingga lebih dipilih agen yang lain. Efek sampign yang sering berupa
pusing, anoreksia, nausea dan muntah. Permasalahan yang lebih jarang seperti
nyeri epigastrium, kram abdomen, diare, pruritus, nyeri kepala, mengantuk,
dan simtom neuroleptik. Pernah dilaporkan kerusakan hati yang ireversibel
dan sindrom steven johnson. Tiabendazol pada anak di bawah 15 kg masih

65

terbatas penggunaaannya. Obat ini tidak boleh digunakan untuk ibu hamil atau
yang menderita penyakit hati maupun ginjal.

2. Ivermectin
Antiparasit semisintetik makrosiklik yang berspektrum luas terhadap
nematoda. Cara kerjanya dengan menghasilkan paralisis flaksid melalui
pengikatan kanal klorida yang diperantarai glutamat. Mungkin merupakan
drug of choice karena keamanan, toksisitas rendah dan dosis tunggal.

a. Dewasa
12 mg atau 200 ug/kgBB dosis tunggal
b. Anak-anak
-<5tahun: 150 ug/kgBB dosis tunggal
->5 tahun: sama dengan dewasa

Efek samping mencakup kelelahan, pusing, nausea, muntah, nyeri perut


dan bercak kemerahan. Hindari penggunaan bersama obat yang meningkatkan
aktivitas GABA seperti barbiturat, benzodiazepin dan asam valproat.
Ivermectin tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

3. Albendazol
Antihelmintas bersepektrum luas yang mengganggu ambilan glukosa dan
agregasi mikrotubuli. Sebagai alternatif pengganti tiabendazol.

a. Dewasa
-

400 mg per oral, sekali sehari, selama 3 hari atau

2x200 mg sehari selama 5 hari

b. Anak-anak
<2tahun: 200 mg/hari selama 3 hari dan diulang 3 minggu kemudian jika
perlu
>2 tahun: sama seperti dewasa

66

Bila digunakan 1-3 hari, albendazol hampir bebas efek samping. Bisa
terjadi gejala ringan distres epigastrium, diare, sakit kepala, nausea, pusing,
lesu dan insomnia. Pada pemakaian jangka panjang harus dicek darah dan
fungsi hati. Tidak bileh diberikan pada orang yang hipersensitif terhadap
benzimidazol lainnya atau orang dengan sirosis. Kemanan pada ibu hamil dan
anak kurang dari 2 tahun masih belum diketahui.

4. Mebendazol
Antihelmintes spektrum luas yang menginhibisi perakitan mikrotubuli dan
memblok ambilan glukosa sehingga terjdai deplesi cadangan glikogen parasit.
a. Dewasa
200 mg per oral, 2 kali sehari selama 4 hari
b. Anak-anak
<2 tahun: tidak disarankan
>2 tahun: seperti dewasa

Bisa terjadi nausea, muntah, diare dan nyeri abdominal. Efek samping
yang jarang berupa reaksi hipersensitivitas, agranulositosis, alopesia dan
peningkatan enzim hati. Mebandazol teratogenik pada binatang sehingga tidak
disarankan untuk ibu hamil. Pada anak kurang dari 2 tahun harus berhati-hati
karena masih kurangnya penelitian. Kadar plasma bisa berkurang pada
penggunaan bersama karbamazepin atau fenitoin. Meningkat ada penggunaan
bersama simetidin. Harus berhati-hati pada orang dengan sirosis.

Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi adalah ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh
bakteri akibat garukan. Infeksi umumnya disebabkan oleh streptokokkus
pyogenes. Bisa juga terjadi selulitis dan reaksi alergi.

7. Gejala Klinis dan Komplikasi

67

Gejala klinis filariasis terdiri dari gejala klinis akut dan kronis. Pada
kronisnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh infeksi W. bancrofti, B.
malayi dan B. timori adalah sama, tetapi gejala klinis akut tampak lebih jelas
dan lebih berat pada infeksi. Infeksi W. bancrofti dapat menyebabkan kelainan
pada saluran kemih dan alat kelamin, tetapi infeksi oleh B. malayi, B. timori
tidak menimbulkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin.
Gejala klinis akut berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis yang
disertai demam, sakit kepala, rasa lemah dan timbulnya abses. Abses dapat
pecah dan kemudian mengalami penyembuhan dengan meninggalkan parut,
terutama di daerah lipat paha dan ketiak. Parut lebih sering terjadi pada infeksi
B. malayi, B. timori dibandingkan karena infeksi W. bancrofti, demikian juga
dengan timbulnya limfangitis dan limfadenitis tetapi sebaliknya pada infeksi
W. bancrofti sering terjadi orkitis, peradangan epididimis (epididimitis) dan
peradangan funikulus spermatikus (funikulitis).

Gejala klinis kronis terdiri dari :


a. Limfedema
Pada infeksi W. bancrofti terjadi pembengkakan seluruh kaki, seluruh
lengan, skrotum, penis, vulva vagina dan payudara, sedangkan pada
infeksi Brugia terjadi pembengkakan kaki dibawah lutut, lengan dibawah
siku dimana siku dan lutut masih normal.

b. Lymph Scrotum
Adalah pelebaran saluran limfe superfisial pada kulit scrotum, kadangkadang pada kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut mudah pecah dan
cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan juga
lepuh (vesicles) besar dan kecil pada kulit, yang dapat pecah dan
membasahi pakaian. Ini mempunyai resiko tinggi terjadinya infeksi ulang
oleh bakteri dan jamur, serangan akut berulang dan dapat berkembang
menjadi limfeda skrotum. Ukuran skrotum kadang-kadang normal kadangkadang sangat besar

68

c. Kiluria
Kiluria adalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe dan pembuluh
darah di ginjal (pelvis renal) oleh cacing filaria dewasa spesies W. bacrofti
sehingga cairan limfe dan darah masuk ke dalam saluran kemih. Gejala
yang timbul adalah sebagai berikut:
1. Air kencing seperti susu karena air kencing banyak mengandung lemak,
dan kadang-kadang di sertai (haematuria)
2. Sukar kencing
3. Kelelahan tubuh
4. Kehilangan berat badan

d. Hydrocele
Adalah pelebaran kantung buah zakar karena tertumpuknya cairan
limfe di dalam tunica vaginalis testis. Hydrocele dapat terjadi pada satu
atau dua kantung buah zakar dengan gambaran klinis dan epidemiologis
sebagai berikut:
1. Ukuran skrotum kadang-kadang normal tetapi kadang-kadang sangat
besar sekali, sehingga penis tertarik dan tersembunyi.
2. Kulit pada skrotum normal, lunak dan halus
3. Kadang-kadang akumulasi cairan limfe di sertai dengan komplikasi
yaitu komplikasi dengan Chyle (Chylocele), darah (Haematocele) atau
nanah (Pyocele). Uji transiluminasi dapat di gunakan untuk
membedakan hidrokel dengan komplikasi dan hidrokel tanpa
komplikasi. Uji transiluminasi ini dapat di kerjakan oleh dokter
puskesmas yang telah di latih.

Hydrocele banyak ditemukan di daerah endemis W. bancrofti dan di


gunakan sebagai indikator adanya infeksi W. bancrofti.

69