You are on page 1of 10

Anatomi Dan

Fisiolofi Hidung
anatomi hidung

Bentuk Piramid
Puncak hidung, dorsum nasi, pangkal hidung kolumela, ala nasi, nares
TULANG
Os. Nasalis {2 Sisi}
Processus Frontalis Os. Maksila

HIDUNG
LUAR

TULANG RAWAN
Beberapa cartilage support dan bentuk nares.
Masing-masing dihubungkan dengan otot-otot dilatasi nares.

HIDUNG : RONGGA DALAM SKULL ; AXISNYA SUDUT KE KANAN TERHADAP WAJAH.


HIDUNG DALAM

Cavum Nasi
Terbagi 2 oleh septum nasi
asimetris.

SEPTUM

struktur anatomi sama, tetapi dapat

Nares
Vestibulum nasi : terdapat vibrisae
Ala Nasi
BONE
-

Os. Vomer
Crista Maxillaris
Crista Palatina

CARTILAGE
Lamina Perpendikularis Ossis Ethmoidalis
KTT 172

Taty Sulystiani 00-206

Cartilago Quadiangularis

Septum :
- Cartilago Perichondrium
- Bone Periosteum

KONKA : TURBINATE (CONCHA)

Dinding lateral dari ke 2 sisi cavum nasi


Tergantung pada lekukan : meatus nasi
Terdiri dari :

konka superior

merupakan bagian

konka media

dari os etmoid

konka inferior merupakan tulang tersendiri, melekat pada dinding


lateral hidung
Dilapisi mukosa epitel columnar ciliated

Konka inferior dibawah mukosa ; erectile tissue pada ujung ant - post &
tepi bawah konka inferior

Konka medial : erectile tissue pada ujung anterior

MEATUS NASI

KTT 172

Penting untuk drainage sinus paranasal


Meatus superior :
- posterior

- sinus sfenoid
group sinus etmoid
Taty Sulystiani 00-206

Meatus medial : - sinus frontal


- anterior grup sinus etmoid
- sinus maksila

Meatus inferior : ductus nasolakrimalis

Meatus nasi inferior : muara duktus nasolakrimalis

Pada Meatus Media terdapat beberapa hal seperti :

Prosesus Unsinatus : pada ujung anterior meatus medial pada hidung


Bulla Ethmoidalis : penonjolan lebih ke belakang normal jarang terlihat
dari depan

Hiatus Semilunaris :

lekukan diantara ke-2 penonjolan diatas


tempat ostium sinus maxillaris
Infundibulum : lekukan/penyempitan diatas hiatus semilunaris

Batas Cavum Nasi

KTT 172

Dasar : tulang maxila dan palatina


Atap : - os. Nasalis lateralis (muka)
- lamina cribriformis (belakang)
bagian os. Ethmoid, berlobang tempat lalu filamen dari n. olfactory
Taty Sulystiani 00-206

Post : tulang sphenoid

PERDARAHAN HIDUNG
1. Arteri Etmoidal anterior dan posterior

cabang a. Oftalmika dari a. Karotis interna


mendarahi :
- atap kavum nasi
- sinus frontal
- sinus etmiodal

2. Arteri Sfenopalatina

Cabang a. Maksila interna dari a. Karotis eksterna


Cabang-cabang a. Maksila interna tdd :

A. Labial superior
A. Infra orbital

mendarahi sinus maxila

A. Alveolar
A. Faringeal mendarahi sinus sfenoid

3. Arteri Palatina Mayor (ujung)

mendarahi : bagian bawah kavum nasi

4. Arteri Fasial (cabang)

mendarahi bagian depan hidung

5. Cabang-cabang a. Sfenopalatina - A. Etmoid ant. - A. Labialis sup dan


A. Palatina mayor
Mengadakan anastomose di bagian depan septum, tepat dibelakang perbatasan
dengan kulit yang letaknya superfisial, disebut : pleksus kiesselbach
(littles area) sumber perdarahan di hidung epistaksis.

KTT 172

Taty Sulystiani 00-206

PERSARAFAN HIDUNG
1. N. Sfenopalatina

Serabutnya melalui ganglion sfenopalatina, bergabung dengan N. maksila.


Fungsi : sensori sebagian besar hidung

2. N. Etmoidal Anterior

Cabang Nasosiliar dari n. Oftalmikus yang asalnya dari n.V


Fungsi : mensarafi bagian anterior dan atas hidung

Serabutnya pada ujung anterior lamina kribrosa di puncak hidung


cabang hidung luar : N. Nasalis eksterna.

3. N. Olfaktorius

KTT 172

Untuk special sensation


Serabutnya hidung melalui lamina kribrosa (di puncak
nasi bagian atas dan konka superior di sisi medial.

hidung) septum

Taty Sulystiani 00-206

PEMBULUH LIMFE

Pembuluh limfe

ke belakang superior deep cervical group

Hidung mempunyai aliran pembuluh limfe


(sebagian kecil) dan posterior (sebagian besar)

>>

yaitu

anyaman

anterior

Anterior group :
- sepanjang pembuluh fasial gldandula submaksila
- ke bagian depan : vestibulum dan konka

Posterior group terbagi atas

Superior : dari konka superior, media dan dinding lateral hidung


retrofaringeal limf node, berjalan di atas tuba eustakius.

Medial : berjalan dibawah tuba konka inferior, meatus inferior,


sebagian dasar hidung jugular limfe node

Inferior : dari septum dan sebagian dasar hidung pembuluh limfe


jugularis interna.

Fisiologi Hidung
Fungsi Hidung : 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Olfaktori
Respiratori
Filtrasi
Air contioning
Vocal resonance
Proses bicara
Reflek nasal

OLFAKTORI

Regio olfaktori terdapat pada :


- hewan
- manusia

Regio olfaktori identik dengan indra perasa

Ketajaman : 0.000000005 gr/l

udara (pada manusia)

Vanili (bobot (-)}


Luas regio olfaktorius : 2 mm2
Letak : atap/puncak hidung, di kanan dan kiri dinding lateral hidung di
atas konka superior.
Histologi : sel bipolar, serabut di bulbus olfaktorius menembus lamina
kribrosa filamen.

Olfaktometri (Pengukuran Bau)


KTT 172

Taty Sulystiani 00-206

mengukur ketajaman penciuman (to smell and identifiy), memakai bahan aromatik
(kopi, tembakau, parfum, eter, kamper, dll) secara kualitatif dan kuantitatif
Kualitatif
berbagai metode telah digunakan untuk menilai sensasi penciuman dengan
mengambil cairan atau ekstrak dari hidung pasien.
Kuantitatif
pengukuran sensasi penciuman dapat dilakukan dengan olfaktometer. Instrument
ini memberikangambaran tentang defek kualitatif penciuman.
Dowek (1967) : tes 7 macam
bahan utama
etherical
camphorus
mushy (musang)
floral
menthy (pepermint)
pungent (menusuk)
putrid (busuk)

bau-bauan utama
bahan tes
eter
campher
phenyl acetic acid
salicyl aldehide
pepermint
formalin
thiophenol

Olfaktometri memberikan informasi :


1)
Luasnya lapangan penciuman
2)
Memberikan gambaran tentang keakuratan penciuman pasien
3)
Kemungkinan parosmia (penciuman yang menyesatkan).
Anosmia tidak bisa mencium sama sekali
Hiposmia hanya bisamencium bau yang tajam
Respiratori

Hidung saluran pernafasan yang pertama


Inspirasi : udara atas belakang melalui konka
nasofaring (posterior nares)

media melengkung

Ekspirasi : sebaliknya, perputaran disekitar konka media


Penyempitan pada kavum nasi (sept. deviasi, konka hipertrofi, polip,
dsb) udara lebih banyak melalui dasar/atap hidung

Fungsi :

dipanaskan, oleh pembuluh darah terutama pleksus di konka.


dilembabkan, kalau kering, diambil dari sekresi mukosa
disaring, 2/3 bahan asing tersaring

FILTRASI

KTT 172

Fungsi : filtrasi & desinfeksi

Taty Sulystiani 00-206

Udara disaring rambut getar / silia / vibrisae pada selaput lendir


hidung [p = 5 - 7]. Setiap sel : 25 100 silia

Silia bergerak terus gerakan cepat ke arah belakang, gerakan lambat


ke depan.

gerakan-gerakan merangsang sel-sel ; menghasilkan lendir ph : 6,5


7

Benda asing hidung akan melekat & dibungkus oleh lendir. Oleh silia
digerakkan ke belakang/nasofaring tertelan.

Sel

lendir : enzim

lysozyme (bakteriolitik) menghancurkan benda

asing

Gangguan gerakan silia


a. Gerakan < :

Perubahan temperatur atau PH yang besar

Penyakit atau obat-obatan

Akibat :
lendir berkumpul kerak
hidung sumbat pernafasan
melalui mulut kering
b. Gerakan >> pada :
lendir banyak post nasal drips gangguan pada kerongkongan.

AIR CONDITIONING

Salah satu fungsi hidung : kelembaban dan pemanasan udara (suhu)


paru.

Udara paru : temp. 300 c ; kelembaban relatif : 75 95%.


Pemanasan udara : pada konka (korpus kavernosum) kembang kempis oleh
ans

Pada mukosa hidung : rambut getar, kelenjar, conn. Tissue, pembuluh


darah seperti pompa, disebut : nasal valve.

Setiap 2 jam hidung kanan & kiri berganti mengembang hidung sempit
tersumbat.

VOCAL RESONANCE

Hidung penting memberi resonansi suara


Bunyi yang ditimbulkan laring diperkuat oleh ruangan di hidung
timbre diubah.

Resonansi <

suara nasal

Suara yang bagus : bila hidung dan sinus bersih dan lapang.

PROSES BICARA

Hidung membantu proses pembentukan kata


Kata dibentuk lidah, bibir & palatum mole
Pembentukan konsonan nasal [m, n, ng] rongga mulut tertutup hidung
terbuka palatum mole turun untuk aliran udara.

REFLEKS NASAL

Mukosa hidung reseptor refleks berhubungan dengan saluran cerna,


kardiovaskuler dan pernafasan

Contoh :
- iritasi mukosa hidung refleks bersin & nafas terhenti
- rangsang bau sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

PEMERIKSAAN HIDUNG
LUAR : - hidung bagian luar
KTT 172

Taty Sulystiani 00-206

dilihat secara langsung

- vestibulum
DALAM : - rinoskopi anterior
- rinoskopi posterior

perlu spekulum hidung

Rinoskopi Anterior
- kavum nasi
- septum nasi
- konka nasi inferior & media
- meatus nasi inferior & media
Rinoskopi Posterior
- septum nasi (belakang)
- koana
- kavum nasi (belakang)
- konka media & superior
- nasofaring : adenoid
- muara tuba eustachius
- fossa rosenmuller
Alat Pemeriksaan Hidung :

Lampu kepala
Spekulum hidung
Spatel lidah
Cermin hidung
Lampu spiritus
Transilluminasi
Sinuscopy
Nasopharyngoscope

view on posteror rhinoscopy

TRANSILLUMI NASI (= DIAPHANOSCOPY)


Prinsip :
Daya tembus cahaya dari dinding sinus dinilai : 0 - 3
Ka
S.F
S.M

Ki
S.F
S.M

3 = terang sekali
0 = gelap

3
3

3
3

semua terang tidak ada kelainan

3
3

3
1

sinus maksila kiri gelap.


kemungkinan : sinusitis maksila kiri

Note :
Baik jika hanya 1 bagian yang terkena karena bisa dibandingkan dengan sinus
sebelahnya.
KTT 172

Taty Sulystiani 00-206

BENTUK HIDUNG
Bentuk hidung ditentukan oleh indeks hidung (nasal index).
Indeks hidung (nasal index) =

lebar max. x 100


---------------------------tinggi hidung

Berdasarkan nasal index, bentuk hidung dibagi 3 type yaitu :


1.
Leptorrhine (caucasian)
lebar < tinggi
2.
Platyrhine (negro)
lebar > tinggi
3.
Mesorrhine (asia)
lebar = tinggi

KTT 172

Taty Sulystiani 00-206