You are on page 1of 5

:: Khulafaur Rasyidin ::.

Abu Bakar AshShiddiiq (11-13 H)


by Biografi Ulama Ahlul Hadits on Monday, 2 May 2011 at 21:20
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad
bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi
radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Kaab bin
Luai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah shalallahu`alaihi was salam yang telah
menemani Rasulullah sejak awal diutusnya beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang
awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan Ash-Shiddiq dan Atiq.

Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki ash-Shiddiq karena ketika terjadi peristiwa
isra` mi`raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung
membenarkan.

Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an,
yaitu dalam firman-Nya : sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada
dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita,
sesungguhnya Allah beserta kita. (QS at-Taubah : 40)

`Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : Abu Bakar-lah
yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.
Allah juga berfirman : Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka
itulah orang-orang yang bertakwa. (az-Zumar : 33)

Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau
meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar : Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang
datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya
adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengahtengah para Shahabat?

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan
Dzatus Salasil : Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya Siapa manusia yang paling
engkau cintai? beliau bersabda : Aisyah aku berkata : kalau dari lelaki? beliau
menjawab : ayahnya (Abu Bakar) aku berkata : lalu siapa? beliau menjawab: Umar
lalu menyebutkan beberapa orang lelaki. (HR.Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia


menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku
sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa`id radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :
Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan
dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya, lalu Abu
bakar menangis dan menangis, lalu berkata : Ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu. Abu
Sa`id berkata : Yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah
orang yang paling tahu diantara kami. Rasulullah bersabda : Sesungguhnya orang yang
paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya
adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada
tambahan : selain rabb-ku), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku.
Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu
kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka). (HR.
Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun
kalian malah berkata `kamu adalah pendusta. Sedangkan Abu Bakar membenarkan
(ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan
meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku? Rasulullah mengucapkan kalimat
itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin).
(HR. Bukhari)

Masa Kekhalifahan

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu`anha, bahwa ketika


Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang
berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke
masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam
rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian
mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : demi ayah dan ibuku
sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun
kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah
meninggal.Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang.
Maka Abu Bakar berkata : duduklah wahai Umar! Namun Umar enggan untuk duduk.
Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata :
Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka

sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya
Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan
mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur. (QS Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu`anhuma berkata : Demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak


mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya.
Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang
mendengarnya melainkan melantunkannya.

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : Demi Allah,
sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku
tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar
Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.

Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : Maka orang-orang menabahkan hati
mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar
Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah. Mereka berkata : Dari kalangan
kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!. Maka Abu Bakar, Umar
dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera
dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : Demi Allah, yang kuinginkan
sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu
Bakar tidak menyampaikannya. Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang
terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian
adalah para menteri. Habbab bin al-Mundzir menanggapi : Tidak, demi Allah kami tidak
akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin. Abu
Bakar menjawab : Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.
Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling
baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh. Maka Umar
menyela : Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang
terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah. Umar lalu memegang tangan Abu
Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang
berkata : Kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah). Maka Umar berkata :
Allah yang telah membunuhnya. (Riwayat Bukhari)

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk
penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa
berkata : sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami. Perkataan

itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : tidak, bahkan aku akan tetap menerima
jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah
aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam. Terbukti,
Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi
urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji.
Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau
memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau
ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu
dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : ini putramu (telah datang)!

Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk
bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan
sempurna sambil berkata : Wahai ayahku, janganlah anda berdiri! Lalu Abu Bakar
memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai
luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru,
Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada
Abu Bakar : Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah! mereka semua menjabat tangan
Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : Wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah
orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!
Abu Bakar berkata : Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan
pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan
memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Lalu
Abu Bakar berkata : Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?
Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah
kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafatnya

Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya
antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika
meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma`
binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar
mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang

turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi
Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sumber :
- Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah
wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
- Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah -Al-Kabaa`ir karya
Adz-Dzahabi.