You are on page 1of 4

MENELUSURI : JEJAK KOTA TERNATE

Sebagai sebuah kota pelabuhan, Ternate, sebagaimana kota-kota pelabuhan lainnya


di Nusantara, telah mengalami perkembangan dan perubahan sepanjang sejarahnya.
Dalam hal ini, perkembangan masa Kesultanan, masa Kolonial dan masa Kemerdekaan
memiliki signifikansi yang menonjol. Pada masa kesultanan ditandai oleh tata letak kota
yang berciri maritim, dimana penataan kota Ternate lama dengan elemen-elemen utama,
yaitu Kedaton, Alun-alun, Gedung Pengadilan (Ngara Lamo) dan Mesjid Jami secara
langsung mengingatkan kepada kita cara-cara penataan kota lama atau Kosmogoni.
Dimasa Kolonial, ditandai oleh tata letak kota yang berciri Eropa; dan dimasa
Kemerdekaan, ditandai dengan melubernya arus urbanisasi yang tak terkendali, sehingga
membuat tata letak kota ini tidak lagi terpola, hal ini disebabkan desakan penduduk.
Dalam pembahasan kota dari sudut pandang sejarah, maka akan membawa kita pada
analisis secara kronologis.
Ada beberapa pertanyaan mendasar antara lain berkaitan dengan waktu nama Ternate
itu pertama kali muncul : alasan-alasan pemilihan asal usul berdirinya kota; dan
perkembangan kota secara kronologis
ASAL USUL NAMA TERNATE
Sebagai salah satu kota yang memiliki catatan sejarah yang panjang, Ternate dewasa
ini mengalami berbagai masalah.dalam membangun jati dirinya, warga Ternate kini
sepertinya tengah mengalami erosi kesadaran tentang identitas sebagai warga dari kota
bersejarah.
Sebelum nama Ternate muncul dalam panggung sejarah, nama Gapi muncul lebih
awal untuk lokasi yang letaknya agak ke Selatan mengarah ke pegunungan dari kota
Ternate sekarang, karena dalam annals sejarah, yang ditulis oleh penulis kraton (Tuli
Lamo), naskah ini lazimnya disebut Buku Tambaga bertulisan arab-melayu dengan
menggunakan bahasa Ternate. Nama Gapi (Gape) muncul pertama kali, dan dalan
naskah itu, tercatat pula nama-nama dari kerajaan kuno lainnya di kawasan itu. Misalnya
: nama kerajaan Duko (nama Tidore awal), kerajaan Ngara (sebutan awal Loloda),
kerajaan Tuanane (sebutan awal Moti) dan kerajaan Mara (sebutan awal Makian,
kemudian pindah ke Bacan).
Dari catatan sejarah Ternate yang ditulis oleh MA. Chan, asal-usul kota Ternate,
menurutnya, bermula dari sebuah pemukiman tua yangv diberi nama oleh penduduk
setempat sebagai perkampungan
Malayu Tempat itu terletak pada kawasan
perdagangan tua Jorjore yang dikala itu berfungsi pula sebagai Emporium; artinya
Ternate pada saat itu merupakan kota pelabuhan yang telah memenuhi standar dalam
menyediakan segala macam fasilitas bagi kaum pedagang dan pelaut.
Dalam banyak versi, nama Ternate selalu menarik untuk diteliti secara
mendalam, upaya ini bukan saja penting dari sisi arkeologi sebuah kota, melainkan juga
penting dalam rangka memahami dinamika pertumbuhan dan perkembangan sebuah
entitas masyarakat dan budaya maritim. Misalnya, dari catatan Nagarakertagama yang
ditulis oleh Mpu Prapanca di tahun 1365, sempat mencatat adanya Maloko yang
diartikan sebagai Empat pusat kekuasaan di Maluku Utara (Moloku Kie Raha). Itu

artinya, Ternate pada abad ke XIV telah menjadi salah satu pusat perhatian bagi
perdagangan internasional di jalur pelayaran dan perdagangan nusantara bagian timur.
Sejarahwan Ternate, M.A. Chan, ia selalu mengaitkan antara kedatangan para
penyiar Islam di Maluku Utara, yang antara lain Jafaar Shadiq dengan perilaku
penduduk dari pulau Gapi yang kasar dan keras, yang pada saat itu terkenal dengan
ungkapan Tarinata. Di pulau ini terkenal dengan sifat penduduk yang kasar dan keras,
hal ini tidak lain adalah warisan alam dari polah Kie Tobona, gunung api yang bercokol
ditengah-tengah daratan yang sempit. Ulah Kie Tobona - yang royal dengan muntahan
lahar panas, yamg sering disusul dengan gempa bumi yang selalu menggoyang pulau
kecil itu. Ungkapan Dolabololo lama : Totari Ino Jo Dadi Danata adalah perilaku
penduduk gapi yang berlaku sewenang-wenang mengambil hak orang lain. Kegemaran
yang menyimpang ini mendapat perhatian dari Jafaar Shadiq, untuk merobah perilaku
buruk itu, ia menambah panggilan untuk penduduk pulau ini, dari kata Totari Danata
berubah menjadi Tarinata dan diberi tambahan kata Maarifah didepannya, sehingga
menjadi Tarinata Maarifah (Gemar pada Kebenaran!!!).
Roda sejarah itu terus bergulir, jejak-jejak dari tanah Gapi terus berubah dan pindah
tempat. Dari tanah gapi terbangun sebuah pemukiman kuno, menjadi Malayu, tempat
tinggal pedagang dan pelaut dari nusantara - yang di kemudian hari, nama Malayu
tenggelam oleh Jorjore yang gemerlap bermandi cahaya di malam.hari. Jorjore sempat
bertahan dalam putaran sejarah anak pribumi, dan kemudian tumbuh sebuah pemukiman
kecil, bak sebuah kota setelit yang muncul mendukung kota induknya, Jorjore. Lahirlah
Thairnata atau Tirnata atau Ternate.
JEJAK-JEJAK HISTORIS
Upaya rekonstruksi sejarah Kota Ternate di hari lampau, untuk memastikan jejak
sejarah yang masih ada yang tersimpul dalam kitab-kitab pusaka kerajaan, silsilah para
Sangaji, Jo Kalem, Kapita dan Bobato, serta sejumlah catatan milik kelurga bangsawan
Ternate agar kita menjadi jelas tentang keberadaan sebuah kota dan sejak mana kota
Ternate tumbuh-kembang dengan segala keunikannya.
Ada beberapa skenario, yang mencoba untuk melihat kemungkinan adanya
keterkaitan antara Ternate dengan berbagai jejak gerak kebudayaan besar serta berbagai
peristiwa yang ikut mempengaruhi corak kota Ternate, dari abad ke abad, hingga kini.
Untuk itu, dari beberapa monentum besar akan ditelusuri kembali, yaitu :
Momentum/Skenario I
Hari senin, tanggal 10 Februari 1244 atau 6 Muharram 641 Hijriah, Momole Matiti,
penguasa Moloku Kie Gapi yang terakhir dari dinasti Faramadiahi itu mengambil
keputusan sangat penting dan memberi dampak yang sangat besar terhadap tatanan
politik di Moloku Kie Raha. Pertama, Momole Matiti menyelamatkan diri ke tempat
pemukiman Jorjore, untuk meminta perlindungan kepada tokoh Islam di tempat itu.
Kedua, berselang empat hari, Momole Matiti memutuskan untuk memeluk agama Islam
ditangan seorang Muballigh, tokoh legendaris Islam, Jafaar Shadiq yang mendiami
perkampungan tua Malayu yang berada dalam kawasan kota dagang Jorjore di pantai
timur Ternate. Oleh Jafaar Shadiq, ia memberi nama baru kepada Momole Matiti dan
sekaligus digunakan gelar tertinggi bagi penguasa di pulau itu, yaitu, Kolano Baab
Mansyur Malamo.

Momentum/Skenario II
Dalam mengintensifkan proses Islamisasi di kawasan timur nusantara, dimana
Kesultanan Gapi/Ternate, Tuanane/ Jailolo, Duko/Tidore dan Seki/Bacan mengambil
peran besar dalam mendorong penyebaran Islam mereka berempat itu bermusyawarah,
sepakat mengikat diri dalam suatu lembaga yang mengakomodasi maksud tersebut. Maka
di hari Selasa, 21 Rabiul Akhir 653 Hijriah atau tanggal 21 Januari 1257 atas prakarsa
Jafaar Shadiq yang didukung oleh Sultan-sultan Moloku Kie Raha dibentuklah
Almamlakatul Mulukiyah, suatu lembaga politik yang juga berfungsi sebagai suatu
kontrak sosial dari keempat wilayah yang diikat oleh tali persaudaraan (Ulii) dan
tanggungjawab (marasai) dalam kepentingan Islamisasi. Lembaga Almamlakatul
Mulukiyah adalah jelmaan dari kearifan leluhur pulau Gapi, mereka melihat berbagai
persoalan kenegaraan dan kemasyarakatan, untuk menghadapinya haruslah bergandeng
tangan bersama-sama menyelesaikannya, ibarat : Jo I Dadi Doka Saya Raku Moi, Kita
menjadi satu seperti aneka kembang dalam satu ikatan.
Momentum/Skenario III
Perkembangan kota Ternate yang berkaitan dengan sejumlah peristiwa sejarah di
wilayah itu, seperti terjadi beberapa kali ibukota kesultanan (Limau) berpindah tempat.
Dalam catatan sejarah milik kraton, terungkap sejumlah nama tempat yang pernah
dijadikan ibukota kesultanan. Misalnya, pada masa awalnya, ibukota bertempat di
Tabona, lalu pindah ke Faramadiahi, pindah lagi ke pesisisr pantai Faramadiahi, tempat
itu dikenal sebagai Sampalo yang kemudian dirubah nama menjadi Gam Lamo atau
Gammalamma, yang oleh Portugis dibangun sebuah benteng yang terbesar di Nusantara
pada waktu itu. Setelah itu ibukota pindah lagi ke Limau Sasa dan Limau Fitu. Setelah
kedatangan Belanda, Iibukota pindah lagi ke Limau Jorjore dan terakhir ke Gam Malayu.
Dsinilah, menurut catatan sejarah, cikal-bakal pemunculan kota Ternate yang
memainkan peran penting dipanggung politik Nusantara selama berabad-abad.
Onder de roak vant fort Malayu, adalah nama dari Gam Malayu, dimana pada
tempat itu pernah dibangun sebuah benteng batu yang kokoh oleh pedagang-pedagang
Malayu untuk melindungi perkampungan pedagang itu. Di tempat ini oleh Kolano
Mudhafar I, ia menjalankan pemerintahan selama 22 tahun. Kepindahan ini terjadi pada
tanggal 26 Juni 1607.
Posisi geostrategis dari Gam Malayu adalah merupakan pertimbangan utama dari
kepindahan ini. Selain itu, secara historis, keberadaan gam Malayu dalam percaturan
politik memiliki arti penting. Disini pernah digunakan oleh pemerintah Portugis selama
53 tahun untuk mengeruk kekayaan rempah, dengan jalan memonopoli perdagangan.
Oleh penjajah Spanyol menjalankan kebijakan imperialisme di Maluku Utara selama 57
tahun. Dan penjajah Belanda dengan perusahan raksasa, VOC bercokol di Gam Malayu
selama 1607 1619, lalu Dewan Tertinggi Hindia Belanda dengan 3 Gubernur Jenderal
pun berkantor di kawasan ini.
Dari berbagai momentum diatas, layaknya, Ternate sebagai sebuah kota sejarah
yang memiliki unsur-unsur sebuah kota yang kosmopolitan di waktu itu, memiliki
beragam catatan tentang keistimewaannya. Dan untuk itu, baik pemerintah daerah
maupun dari masyarakat sepantasnya menentukan kapan lahirnya kota Ternate yang
mana hal ini akan mamatrikan dihati warganya, karena sejarah kota Ternate adalah
merupakan bagian dari identitas atau jati diri mereka. (O. Assagaf)