You are on page 1of 14

pencemaran lingkungan adalah

carbon tax
, sehingga penggunaan energi tak terbarukan seperti batu bara akanmenurun.
Pemberian subsidi untuk produksi
wood pellet
dapat dilakukan dengan mempermudah akses bahan baku, seperti pemberian
subsidi untuk Hutan Tanaman Industri Energi (HTIE). Peraturan-peraturan seperti
inihingga saat ini belum diterapkan di Indonesia.Harga
wood pellet
yang masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan batu bara di Indonesia,
membuat para pelaku usaha
wood pellet
di Indonesia tidak dapat menjual pada pasar domestik. Menurut[12],
sebagian besar perusahaan produsen
wood pellet
mengekspor
wood pellet
ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Padatahun 2013, terdapat banyak produsen
wood pellet
di Indonesia yang tersebar di daerah Jawa, sebanyak
8 pabrik, Sumatera sebanyak 1 pabrik, dan Papua sebanyak 1 pabrik[16]. Salah satu
negara yang memilikifokus pada pengembangan

wood pellet
sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik adalah KoreaSelatan. Fokus
pembahasan terkait ekspor
wood pellet
pada essai ini, yaitu ekspor
wood pellet
ke KoreaSelatan. Jarak rata-rata antara berbagai pelabuhan di Indonesia dengan
berbagai pelabuhan di Korea Selatan,dapat diasumsikan dengan jarak antara
ibukota masing-masing Negara, yaitu 5.290 km[17].Energi biomassa
wood pellet
memiliki kekurangan pada emisi besar yang dihasilkan pada
proses produksi dan transportasi laut.
Wood pellet
, sebagai sumber energi baru terbarukan tidak dapat dipungkirimemang memiliki
kelebihan dalam faktor emisi ketika digunakan sebagai sumber bahan bakar
pembangkittenaga listrik. Hasil pengolahan data dengan variabel yang terdapat di
Indonesia menggunakan langkah perhitungan seperti pada[5], menunjukkan hasil
bahwa faktor emisi keseluruhan terbesar dimiliki oleh tahaptransportasi laut. Tahap
transportasi laut memang memiliki batas emisi yang diizinkan untuk SO
x
, NO
x
, danPM lebih tinggi dari seluruh jenis transportasi[5]. Hal ini membuat transportasi
laut tetap dipilih menjadisalah satu sarana untuk para pelaku usaha dalam
melakukan transaksi energi biomassa. Tahap transportasidarat pada bahasan kali ini

memiliki faktor emisi yang paling rendah, karena jarak tempuh untuk
transportasidarat pabrik
wood pellet
yang berada di Indonesia sangat pendek, sehingga dapat dikatakan baik dari
faktoremisinya. Tahap produksi
wood pellet
memiliki faktor emisi yang cukup tinggi, karena pada proses produksi
wood pellet
di Indonesia menggunakan bahan bakar minyak yang berasal dari fosil, yaitu bahan
bakar solar.Hal ini menyebabkan proses produksi
wood pellet
di Indonesia dapat dinilai masih belum memiliki faktoremisi yang baik.

Perkembangan
wood pellet
di Indonesia memang masih sebatas penyedia
wood pellet
sebagai energi biomassa yang ramah lingkungan. Beberapa penilaian tentang
transportasi laut
wood pellet
serta emisi
wood pellet

pada pembangkit tenaga listrik dapat menjadi dasar untuk melakukan


pengembangan pada sektor hilirdari
wood pellet
. Sehingga akan didapatkan energi listrik yang dapat memperbaiki kekurangan
listrik diIndonesia. Dalam pengembangan
wood pellet
di Indonesia diperlukan juga perbaikan pada sistem produksi
wood pellet
yang berada di Indonesia dengan menggunakan energi baru terbarukan sebagai
bahan bakar untuk produksi
wood pellet
.Proses Produksi
wood pellet
merupakan tahapan yang dapat mengkonsumsi energi lebih besar
biladibandingkan dengan tahapan tranportasi darat maupun transportasi laut[5].
Tahapan produksi
wood pellet
meliputi 3 tahapan utama yaitu, pengeringan, penggilingan (
grinding
), dan densifikasi (
pelleting
)[11]. Prosesatau tahapan produksi
wood pellet

yang memiliki konsumsi energi terbesar merupakan tahap pengeringan[5].Pada


tahap ini dibutuhkan energi panas untuk pengeringan bahan baku. Di Indonesia,
pabrik
wood pellet
pada

umumnya menggunakan
boiler
dengan bahan bakar diesel untuk melakukan proses pengeringan[12].Kebutuhan
energi yang paling besar dibandingkan tahap lain, membuat proses ini juga
membutuhkan biayaoperasional yang paling tinggi dibandingkan proses lain.
Perhatian lebih pada proses pengeringan perludilakukan terkait dengan kebutuhan
energi. Menurut[6], pabrik
wood pellet
seharusnya sudah terintegrasidengan pembangkit tenaga listrik bertenaga
wood pellet
. Hal ini perlu dilakukan, karena pada pembangkittenaga listrik 75% energi dari
biomassa akan terkonversi menjadi energi panas, sisanya 25% yang akanmenjadi
energi listrik[6].Pemanfaatan panas dari sisa pembakaran
wood pellet
tersebut dapat digunakan untuk proses pengeringandengan menggunakan bantuan
alat
economizer
atau

co-generation
. Selain itu pada pembahasan di atas jugadijelaskan bahwa faktor emisi gas CO
proses produksi
wood pellet
yang cukup besar dapat dikurangi denganmenggunakan proses ini. Faktor emisi
yang cukup tinggi pada proses pengeringan ini juga menjadi bahasanumum di
dunia, menurut[18] diperlukan penggunaan sumber energi baru yang ramah
lingkungan agar proses produksi
wood pellet
juga ramah lingkungan. Contohnya dengan menggunakan limbah kayu, sisa
gergajian,dan
wood pellet
sebagai bahan bakar
boiler
untuk pengeringan.Tahapan-tahapan proses pembuatan
wood pellet
sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang akandigunakan. Menurut logika,
semakin besar kadar air dan kekerasan bahan baku akan semakin
menambah beban untuk masing-masing proses pengeringan dan penggilingan.
Pada tahap densifikasi karakteristik
bahan baku yang mempengaruhi proses adalah kandungan senyawa polimer alam.
Menurut[11], biomassa yangmemiliki kandungan lignin yang semakin besar akan
mempermudah proses densifikasi, karena ligninmerupakan komponen yang bersifat
termoplastik, yang akan menyatu dan berubah seperti perekat padatekanan dan
temperatur yang tinggi. Biomassa yang bersifat memiliki kandungan lignin yang
besar merupakankayu, dan yang memiliki kadar lignin rendah adalah biomassa

untuk pertanian. Kandungan lignin yang rendahakan menambah biaya pada proses
produksi
wood pellet
, karena akan dibutuhkan zat perekat untuk membantu perekatan
wood pellet
.Di Indonesia sebagian besar produksi
wood pellet
menggunakan biomassa yang berupa kayu, biasanyaadalah kayu sengon[12].
Sehingga proses pembuatan
wood pellet
di Indonesia dapat ekonomis dalam penghematan zat perekat. Bahan baku
wood pellet
dapat berasal dari berbagai jenis kayu. Tiap spesies kayuakan memiliki nilai kalor
bakar yang berbeda dari spesies yang lain. Kalor bakar yang tinggi dan kalor
bakaryang rendah tidak dapat dikaitkan dengan karakteristik dari kayu[8].
Diperlukan data empiris untukmenentukan nilai kalor bakar dari tiap-tiap spesies
kayu yang berada di Indonesia. Hal ini yang membuat
wood pellet
akan menjadi potensi yang besar bagi energi biomassa Indonesia.Sebagai penutup
essai ini, saya pribadi ingin berpendapat,
wood pellet
ini merupakan sumber energimasa depan Indonesia. Penerapan
wood pellet

sebagai bahan bakar boiler pembangkit tenaga listrikmerupakan salah satu jalan
untuk pemecahan krisis listrik di Indonesia. Kelebihan
wood pellet
di Indonesiayang merupakan negara kepulauan adalah keberadaan bahan baku
yang tersebar luas. Bahan baku yang berupakayu terdapat melimpah di segala
penjuru negeri, bahkan hingga pulau yang dikatakan daerah 3T (Terpencil,Terluar,
dan Tertinggal). Proses produksi
wood pellet
yang akan diintegrasikan dengan pembangkit tenagalistrik dapat menjadi solusi
krisis listrik pada daerah-daerah tersebut.

Program untuk pembangunan pabrik


wood pellet
terintegrasi dengan pembangkit tenaga listrik dapatdirealisasikan di daerah 3T.
Program ini dapat mengurangi kekurangan dari
wood pellet
sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik, karena
tidak memerlukan transportasi laut yang sangat jauh. Panas yang terbuangdari
pembakaran
wood pellet
dalam pembangkit listrik yang terintegrasi juga dapat digunakan dalam
proses pengeringan di dalam produksi
wood pellet
. Proses untuk mewujudkan prgraam ini membutuhkan kerjasamayang baik bagi
seluruh

stakeholder
yang ada, antara lain investor, pemerintah, produsen
wood pellet
, dankonsumen
wood pellet
. Peraturan Pemerintah tentang penggunaan sumber energi baru terbarukan
sebagaisumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik dan tentang dampak
emisi gas rumah kaca akan sangatmembantu keberjalanan program ini. Sehingga
pada akhirnya program pembangkit listrik tenaga
wood pellet
yang diterapkan pada daerah-daerah 3T tersebut dapat menjawab kekurangan
wood pellet
sebagai sumberenergi dan memberikan jawaban atas krisis listrik di Indonesia.
Referensi
[1]

Soerawidjaja, T. H., Kuliah Pengantar, Teknologi


Kemurgi, Program Studi Teknik Kimia, ITB (2012)[2]

Soerawidjaja, T. H., Menerawang Transisi Sistem Energi, Teknologi Kemurgi,


Program Studi Teknik
Kimia, ITB (2009)[3]

Wang, C,; Yan, J., Feasibility analysis of


wood pellets production and utilization in china as a substitute
for coal, Int J Green
Energi
2
(2005), 2(1):91e107[4]

Uasuf, Augusto; Gero Becker,


Wood pellets production costs and energi consumption under different
framework conditions in Northeast Argentina, Biomass and Bio
energi
35
(2011), 1357 1366[5]

Magelli, Francesca; Karl Boucher; Hsiaotao T. Bi; Staffan Melin; Alessandra Bonoli,
An environmental
impact assessment of exported wood pellets
from Canada to Europe, Biomass and Bio
energi
33

(2009),434

441[6]

Uran, Vedran, A model for establishing a win


win relationship between a wood pellets manufacturer
and its customers, Biomass and Bio
energi
34
(2010) 747

753[7]

Fitrotin, Ulyatu; Arif Surahman; Sri Hastuti, Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu
sebagai Pendukung
Bahan Bakar Industri Kripik Singkong Skala Rumah Tangga (Kasus KWT Hidayah,
Desa Padamara,
Kecamatan Sukamulia, Lotim) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara
Barat, 193
-196[8]

Telmo, C.; J. Lousada, Heating values of

wood pellets
from different species, Biomass and Bio
energi
35
(2011), 2634-2639[9]

Chau, J.; Sowlati, T.; Sokhansanj, S.; Preto, T.; Melin, S.; Bi, X., Techno
-economic analysis of wood
biomass boilers for the greenhouse industry, Applied
Energi
86
(2008), 364-371[10]

Budiyanti, Eka, Mengatasi Krisis Listrik di Jawa dan Sumatera,


Info Singkat Ekonomi dan KebijakanPublik,
6
(2014) 13-16[11]

Mani, S.; S. Sokhansanj; X. B; A. Turhollow, Economics of Producing Fuel Pellets


from Biomass,
Applied Engineering in Agriculture

22
(2006), 421-426[12]

PT Solar Park Indonesia, How to Business with


Movable Wood Pellet
Line, (2011)
[13]

Ratri, Maria Elga, Harga rendah, APHI enggan pasok


wood pellet
, Kontan.co.id, 2013
[14]

Green Madura, Menanti mesin Berderum, 2014,


http://greenmadura.or.id/2014[15]

ESDM, Harga

Batu Bara Acuan (HBA) & Hara Patokan Batu Bara (HPB) Bulan Maret 2014, (2014)
[16]

SaraRasa Biomass, Location of Pellet Producers in Indonesia, (2011)


[17]

Mapcrow,Coordinate+TotalDistance,web:
http://www.mapcrow.info/Distance_between_Jakarta_ID_and_Seoul_KS.html [18]

Mani, Sudhagar, A Systems Analysis of Biomass Densification Process, Disertasi


Doktor, The
University of British Columbia, 2005