You are on page 1of 137

ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI

TERHADAP BENIH PADI (Oryza sativa) VARIETAS UNGGUL


DI KOTA SOLOK, SUMATERA BARAT
SKRIPSI
Nike Irawati
H34066091

PROGRAM SARJANA PENYELENGGARA KHUSUS AGRIBISNIS


DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

RINGKASAN
NIKE IRAWATI. Analisis Sikap Dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih
Padi (Oryza sativa) Varietas Unggul di Kota Solok, Sumatera Barat (Di bawah
bimbingan JUNIAR ATMAKUSUMA)
Komoditas tanaman pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia
adalah beras. Beras merupakan komoditi yang sangat penting karena lebih dari 90
persen masyarakat Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokok, dan
kemudian diperkuat oleh kebudayaan harus mengkonsumsi beras (nasi) baru
kemudian dapat dikatakan makan. Meningkatnya jumlah penduduk yang di sertai
dengan peningkatan pendidikan dan taraf penghasilan, menyebabkan kebutuhan
beras terus meningkat, baik jumlah maupun mutunya.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi
permintaan beras masyarakat saat ini adalah dengan memanfaatkan benih padi
varietas unggul. Banyaknya varietas unggul yang dikeluarkan pemerintah serta
pemberian subsidi kepada varietas unggul dalam upaya meningkatkan produksi
beras, tentunya berdampak terhadap perilaku petani dalam pemilihan benih yang
akan ditanam. Mengingat penilaian petani padi terhadap varietas di masingmasing
wilayah tidak sama. Hal ini tentunya akam mempengaruhi tingkat
penggunaan benih itu sendiri tiap tahunnya. Kota Solok merupakan salah satu
sentra produksi beras di Sumatera Barat, memiliki beberapa varietas unggul yang
saat ini banyak di budidayakan oleh petani dan memiliki persentase tingkat
penggunaan yang berbeda tiap tahunnya
Tujuan
proses
Solok.
unggul

penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi karakteristik petani dan


keputusan pembelian petani terhadap benih padi varietas unggul di Kota
(2) Menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih padi varietas
di Kota Solok

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif


untuk menganalisis karakteristik responden dan proses pengambilan keputusan
pembelian. Untuk mengukur sikap responden terhadap benih varietas unggul
digunakan model multiatribut Fishbein , sedangkan untuk menganalisis kepuasan
menggunakan Important Performance Analysis dan Customers Satisfaction Index.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif tentang karakteristik responden,
Petani responden lebih banyak perempuan dibanding laki-laki, sebagian besar
berusia antara 41-50 tahun dan telah berkeluarga dengan jumlah keluarga (suami,
istri dan anak) umumnya sebanyak lima orang. Tingkat pendidikan terakhir petani
sebagian besar adalah SD dengan bertani sebagai mata pencarian utama yang
sebagian besar dilakukan dilahan sendiri. Responden telah melakukan budidaya
padi sawah selama lebih dari 21 tahun Rata-rata penghasilan mereka perbulan
diluar hasil sawah sendiri adalah tidak menentu, terutama untuk petani yang
memiliki pekerjaan sampingan sebagai buruh tani. Hal ini dikarenakan upah yang
mereka terima bisa berupa uang, padi maupun tenaga.
Hasil proses keputusan pembelian, petani di Kota Solok memiliki motivasi
bertani padi untuk memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu mereka menganggap
penggunaan benih varietas unggul sangat penting. Mereka berharap dengan
menggunakan benih varietas unggul bisa meningkatkan hasil panen. Sebagian

besar petani mengetahui tentang benih varietas unggul dari Petugas Penyuluh
Lapang (PPL) setempat. Varietas unggul yang dipertimbangkan untuk dibeli oleh
petani adalah Batang Piaman, Batang Lembang, Cisokan dan Anak Daro, dengan
pertimbangan utama adalah rasa nasi. Varietas yang sering dibeli oleh petani
adalah varietas Cisokan dan Anak Daro. Secara keseluruhan, petani responden
puas terhadap benih yang mereka gunakan dan tetap akan membeli jika benih
tersebut mengalami kenaikan harga. Jika tidak tersedia ditempat biasa membeli,
petani akan mencari ditempat lain.
Petani lebih menyukai varietas Cisokan dan Anak Daro dibanding varietas
Batang Piaman dan Batang Lembang. Masing-masing varietas memiliki kelebihan
dan keunggulan. Secara keseluruhan, varietas Cisokan dan Anak Daro memiliki
keunggulan yang sama yaitu pada rasa nasi yang enak dan harga jual gabah yang
tinggi, namun memiliki kelemahan yang berbeda. Kelemahan varietas Cisokan
terletak pada ketersediaan benih yang sulit dan harga beli benih yang mahal,
sedangkan varietas Anak Daro pada ketersediaan benih yang sulit, harga beli
benih yang mahal serta umur tanaman yang panjang. Batang Piaman dan Batang
Lembang juga memiliki keunggulan yang sama, yaitu ketersedian benih yang
gampang didapat serta harga beli benih yang murah. Namun, kedua varietas ini
memiliki kelemahan yang sama juga yaitu dalam hal rasa nasi yang kurang enak
dan harga jual gabah kurang tinggi.
Hasil analisis kepuasan berdasarkan Importance Performance Analysis
(IPA), diketahui bahwa atrbut-atribut yang memiliki tingkat kinerja tinggi dan
kepentingan tinggi lebih banyak terdapat pada varietas Anak Daro dan Cisokan.
Berdasarkan Costumer Satification Index (CSI), tingkat kepuasan konsumen
terhadap keempat benih varietas unggul berada pada kategori puas.
Saran peneliti bagi penangkar benih, pemerintah maupun pihak terkait
yaitu lebih mensosialisasikan manfaat penggunaan varietas unggul melalui media
massa, media cetak, dan brosur-brosur, membina petani mengenai keuntungan
menjual hasil panen berupa beras dibandingkan menjual hasil panen berupa GKP,
memperbanyak pemberian subsidi kepada varietas Cisokan dan Anak Daro, perlu
terus diupayakan pengembangan varietas yang lebih baik dan dapat diterima
petani maupun konsumen serta perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang
sikap dan kepuasan petani padi di Kota Solok terhadap benih padi varietas unggul
.

ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI


TERHADAP BENIH PADI (Oryza sativa) VARIETAS UNGGUL
DI KOTA SOLOK, SUMATERA BARAT
Nike Irawati
H34066091
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
PROGRAM SARJANA PENYELENGGARA KHUSUS AGRIBISNIS
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

Judul Skripsi : Analisis Sikap Dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi
(Oryza sativa) Varietas Unggul di Kota Solok, Sumatera Barat
Nama : Nike Irawati
NRP : H34066091
Disetujui,
Pembimbing
Ir. Juniar Atmakusuma, MS
NIP. 130 804 891
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 131 415 082
Tanggal Lulus :

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skipsi saya yang berjudul Analisis
Sikap dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi (Oryza sativa) Varietas
Unggul di Kota Solok, Sumatera Barat adalah karya sendiri dan belum diajukan
dalam bentuk apapun kepada perguruan manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis l
ain
telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka
dibagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2009
Nike Irawati
H34066091

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 13 Maret 1985 di Kota Solok, Provinsi
Sumatera Barat. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara pasangan
Bapak Irman dan Ibu Yurhanetty.
Penulis lulus dari SDN 06 Sungai Lasi tahun 1997. Tahun 2000 penulis
menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Kota Solok dan kemudian melanjutkan ke
SMUN 1 Kota Solok dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis
diterima di Program Diploma 3 Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor. Pada
tahun 2007 penulis diterima sebagai mahasiswa pada Program Sarjana Ekstensi
Agribisnis, Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2009

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kepada Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Sikap dan
Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi (Oryza sativa) Varietas Unggul di
Kota Solok, Sumatera Barat .
Penelitian ini bertujuan menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap
benih padi varietas unggul di Kota Solok. Namun demikian, sangat disadari masih
terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan
pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Maret 2009
Nike Irawati

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skipsi yang berjudul
Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi (Oryza sativa)
Varietas Unggul Di Kota Solok, Sumatera Barat Penulis telah banyak
memperoleh bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dalam penyusunan
laporan ini. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Ibu Ir. Juniar Atmakusuma, MS selaku dosen pembimbing atas bimbingan,
arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama
penyusunan skripsi ini.
2.
Ibu Febriantina Dewi, SE, MSc selaku dosen penguji utama pada sidang
penulis yang telah memberikan banyak saran dan masukan untuk
kesempurnaan penulisan ini.
3.
Bapak Arif Karyadi Uswandi, SP selaku dosen penguji komisi akademik
yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan
ini.
4.
Bapak Ir. Joko Purwono, MS selaku dosen evaluator yang telah
memberikan masukan pada waktu kolokium penulis.
5.
Kedua orang tua, adik, nenek dan keluarga besar penulis untuk setiap
dukungan, cinta, kasih dan doa yang diberikan. Semoga ini bisa menjadi
persembahan terbaik.
6.
Pimpinan serta staf Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Solok
yang telah memberikan bantuan selama proses pengambilan data lapangan
penulis.
7.
Para pimpinan serta anggota kelompok tani Kota Solok atas kerjasamanya
dalam pengumpulan data.
8.
Dandan Sugiarto, terima kasih atas support dan bantuannya sehingga
skripsi ini bisa berjalan dengan lancar.
9.
Pipin, Angreta, Uska dan Ana atas keceriaan dan kerja samanya baik
dalam suka maupun duka.

10. Tim petualang yang tak terlupakan Wiwin, Rosyid, Wahyu, Mamet dan
Fajar N dut.
11. Teman-teman seperjuangan atas semangat dan
sharing selama penelitian
sehingga penulisan skripsi, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, terima kasih atas bantuannya.
Bogor, Maret 2009
Nike Irawati

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................
..................... iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................
.................. v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................
................. vi
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang .................................................................
....................... 1
Perumusan Masalah ..............................................................
.................. 5
Tujuan Penelitian ..............................................................
...................... 7
Kegunaan Penelitian.............................................................
................... 7
Ruang Lingkup Penelitian .......................................................
................ 7
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Benih Padi ................................................................
........................ 8
2.2. Benih Padi Varietas Unggul (Bersertifikat) ................................
....... 9
2.2.1. Permohohan Sertifikasi ..................................................
....... 10
2.2.2. Pemeriksaan Lapang ......................................................
....... 10
2.2.3. Pengambilan Contoh Benih ................................................
... 12
2.2.4. Pengawasan Pemasangan Label ............................................
13
2.3. Varietas Unggul Di Kota Solok .............................................

........... 14
2.3.1. Varietas Batang Piaman ..................................................
...... 14
2.3.2. Varietas Batang Lembang .................................................
.... 14
2.3.3. Varietas Anak Daro ......................................................
........ 15
2.3.4. Varietas Cisokan ........................................................
........... 15
2.4. Program P2BN ..............................................................
................... 16
2.5. Hasil Penelitian Terdahulu.................................................
............... 16
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ...............................................
............. 21
3.1.1. Perilaku Konsumen .......................................................
........ 21
3.1.2. Proses Keputusan Pembelian...............................................
.. 21
3.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Keputusan
Pembelian ......................................................................
....... 25
3.1.4. Atribut Produk ..........................................................
............ 30
3.1.5. Sikap Konsumen ..........................................................
......... 31
3.1.6. Konsep dan Pengertian Kepuasan .........................................
32
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ............................................
......... 33

IV. METODE PENELITIAN


4.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian ...............................................
............ 36

4.2. Jenis dan Sumber Data .....................................................


................ 36
4.3. Metode Pengambilan Sampel .................................................
.......... 37
4.4. Metode Analisis Data ......................................................
................. 38
4.4.1. Analisis Deskriptif .....................................................
........... 38
4.4.2. Analisis Multiatribut Fishbein...........................................
.... 39
4.4.3. Importance Performance Analysis (IPA) ............................... 41
4.4.4. Costumer Satisfaction Index (CSI) .......................................
. 44
4.5. Defenisi Operasional ......................................................
.................. 46
V. GAMBARAN UMUM KOTA SOLOK
5.1. Letak Geografis Kota Solok ................................................
............. 49
5.2. Penduduk ..................................................................
....................... 51
5.3. Perekonomian...............................................................
.................... 51
5.4. Pertanian .................................................................
......................... 53
VI. KARAKTERISTIK PETANI DAN PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN
BENIH PADI VARIETAS UNGGUL DI KOTA SOLOK
6.1. Karakteristik Petani Responden ............................................
............ 54
6.2. Proses Keputusan Pembelian Benih Padi Varietas Unggul ................ 57

VII. ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI


7.1. Analisis Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas
Unggul .........................................................................
.................... 63
7.1.1. Analisis Kepentingan dan Kinerja Atribut ............................. 63

7.1.2. Diagram Kartesius serta Costumer Satisfication


Index (CSI) Benih Padi Varietas Unggul............................... 74
7.2. Analisis Sikap Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas Unggul .... 89
IX. KESIMPULAN
8.1. Kesimpulan ................................................................
...................... 92
8.2. Saran .....................................................................
........................... 93
DAFTAR PUSTAKA .................................................................
.................. 94
LAMPIRAN .......................................................................
.......................... 97

DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Produksi padi, beras dan permintaan beras tahun 1996-2006............... 2
2 Tingkat Penggunaan Varietas Unggul di Kota Solok .............................
...... 5
3 Negara
Negara Penghasil Padi di Dunia Pada Tahun 2005 .............. 9
4 Standar Lapang Kelulusan Benih Bersertifikat Berdasarkan
Kelas Benih ....................................................................
.......................... 11
Nilai Standar Pengujian laboratorium Berdasarkan Kelas Benih......... 13
6 Warna Label Kelas Benih Bersertifikat ........................................
...... 13
7 Proporsi Responden Pada Setiap Kelurahan. ....................................
. 38
8 Kriteria Nilai Costumer Satisfication Index...................................
........ 46
9 Luas Areal Persawahan di Kota Solok Per Kelurahan Tahun 2007 .... 50
Komposisi Penduduk Kota Solok Tahun 2000-2007 .......................... 51
11 Karakteristik Petani Responden ..............................................
........... 54
12 Karakteristik Petani Responden ..............................................
........... 56
13 Tahapan Pengenalan Kebutuhan ................................................
........ 58
14 Tahapan Pencarian Informasi .................................................
........... 59
Tahapan Evaluasi Alternatif ....................................................
.......... 59
16 Tahapan Keputusan Pembelian .................................................
......... 60
17 Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian ............................................
....... 62
18 Tingkat Kepentingan Atribut Varietas Unggul .................................
.. 63
19 Tingkat Kinerja Umur Tanaman ................................................
........ 64
Tingkat Kinerja Produktivitas ..................................................
.......... 65
21 Tingkat Kinerja Kerebahan Tanaman ...........................................
..... 66
22 Tingkat Kinerja Tahan Hama dan Penyakit .....................................
... 68
23 Tingkat Kinerja Rasa Nasi ...................................................
.............. 69
24 Tingkat Kinerja Ketersediaan Benih Dipasaran.................................
. 70

Tingkat Kinerja Harga Beli Benih ...............................................


...... 71
26 Tingkat Kinerja Harga Jual Gabah ............................................
........ 72
27 Tingkat Kinerja Pemasaran Hasil Panen .......................................
..... 73
28 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Batang Piaman ................ 74

29. Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Batang Piaman ..... 77


30 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Cisokan ...........................
78
31 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Cisokan ................ 81
32 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Anak Daro ...................... 82
33 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Anak Daro ........... 85
34 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Batang Lembang ............. 85
35 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Batang Lembang .. 88
36 Rekapitalasi IPA dan CSI Varietas Unggul ....................................
.... 88
37 Hasil Perhitungan Model Sikap Multiatribut Fishbein ....................... 7
8

DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Tahapan Proses Keputusan Pembelian .............................................
.. 22
Proses Pembelian Konsumen ......................................................
...... 25
Kerangka Pemikiran Operasional .................................................
.... 35
Gambar Diagram Kartesius .......................................................
....... 44
Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Batang Piaman ...................... 77
Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Cisokan ................................ 7
9
Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Anak Daro ............................ 82
Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Batang Lembang ................... 86

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1
Luas Panen, Hasil Perhektar dan Produksi Padi Menurut Pulau
di Indonesia Tahun 2008 ........................................................
........... 98
2
Penyebaran Varietas Unggul di Indonesia Tahun 2005 ...................... 99
3
Informasi Varietas Unggul Cisokan, Anak Daro, Batang Piaman
dan Batang Lembang .............................................................
............ 100
4
Kuisioner Untuk Petani .........................................................
............ 101
5 Rekapitulasi Tingkat Kinerja Benih Varietas Unggul
Batang Piaman dan Cisokan ......................................................
........ 109
6 Rekapitulasi Tingkat Kinerja Benih Varietas Unggul
Anak Daro dan Batang Lembang ...................................................
.... 110

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya
bermata pencarian sebagai petani. Hal ini perlu mendapat perhatian berbagai
pihak, karena sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian
nasional, diantaranya sebagai sumber pendapatan masyarakat dan menyediakan
lapangan pekerjaan. Sektor pertanian memiliki berbagai sub sektor antara lain
tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perkebunan dan perikanan. Sub sektor
tanaman pangan memberikan pertumbuhan sebesar 62,4 persen akibat dari puncak
musim panen padi pada triwulan I/2008.1
Komoditas tanaman pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia
adalah beras. Beras merupakan komoditi yang sangat penting karena lebih dari 90
persen masyarakat Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokok, dan
kemudian diperkuat oleh budaya harus mengkonsumsi beras (nasi) baru kemudian
dapat dikatakan makan. Beras juga komoditi yang strategis secara politis karena
banyak kepentingan umum didalamnya, seperti masalah ketahanan pangan,
kondisi politik, stablitas keamanan, stabilitas ekonomi dan lapangan kerja,
sehingga perlu adanya campur tangan pemerintah didalamnya.
Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan di masyarakat dan harga
yang terjangkau. Untuk itu peranan pemerintah sangat diperlukan dalam upaya
peningkatan produksi beras dan stabilitas harga beras yang dituangkan dalam
tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian. Maulana et al (2006)
menyatakan bahwa revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan yang
dicanangkan Presiden pada tahun 2005 merupakan hal yang strategis mengingat
vitalitas sektor pertanian saat ini sedang mengalami degradasi yang ditunjukkan
dengan terjadinya penurunan dan deselerasi produksi beberapa komoditas
pertanian, khususnya tanaman pangan.
Meningkatnya jumlah penduduk yang di sertai dengan peningkatan
pendidikan dan taraf penghasilan, menyebabkan kebutuhan beras terus meningkat,
baik jumlah maupun mutunya. Tingkat konsumsi beras nasional rata-rata saat ini
1)BPS.2008.Berita resmi statistik No. 25/05/Th. XI, 15 Mei 2008. www.bps.go.id (
Diakses 20
Oktober 2008)

sebesar 139,15 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi ini melebihi rata-rata tingkat


konsumsi dunia yang berkisar antara 80 sampai dengan 90 kg/kapita/tahun
(Departeman Pertanian, 2005). Diversivikasi pangan yang tidak berhasil juga
menyebabkan konsumsi beras di Indonesia tinggi, sehingga pemerintah harus
selalu menjaga ketersediaan beras di masyarakat.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2007) permintaan beras pada tahun
2000 dapat dihitung sebesar 31,339 juta ton. Pada tahun 2003 meningkat menjadi
31,820 juta ton dan terus meningkat menjadi 36,683 juta ton pada tahun 2006.
Dari sisi produksi padi, produksi padi belum aman dalam memenuhi permintaan
beras. Produksi beras pada tahun 2000 mencapai 32,696 juta ton, pada tahun 2003
meningkat menjadi 32,846 juta ton, kemudian meningkat mencapai 34,306 juta
ton pada tahun 2006. Selisih antara permintaan dan produksi beras dapat dijadika
n
indikator bahwa perberasan nasional mengalami defisit atau surplus. Dari
keterangan tersebut terlihat bahwa pada tahun 2006 Indonesia mengalami defisit
beras sebesar 2,276 ton. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Produksi Padi, Beras dan Permintaan Beras Tahun 1996-2006
Tahun Padi
Sawah (ha)
Padi
Ladang
(ha)
Produksi
Padi (ton)
Produksi
Beras (ton)
Permintaan
Beras (ton)
1996 48.188.255
1997 46.591.874
1998 46.482.803
1999 48.201.136
2000 49.207.201
2001 47.895.512
2002 48.899.065
2003 49.378.126
2004 51.209.433
2005 51.317.758
2006 51.647.490

2.913.251
2.785.180
2.753.889
2.665.251
2.691.651
2.565.270
2.590.629
2.759.478
2.879.035
2.833.339
2.807.447

Sumber : BPS, 2007

51.101.506
49.377.054
49.236.692
50.866.387
51.898.852
50.460.782
51.489.694
52.137.604
54.088.468
54.151.097
54.454.937

33.215.979
31.107.544
31.019.116
32.045.824
32.696.277
31.790.293
32.438.507
32.846.691
34.075.735
34.115.191
34.306.610

36.141.080
35.829.435
37.280.550
33.705.980
31.339.420
31.510.790
31.655.680
31.820.475
32.056.045
32.858.985
36.683.493

Permintaan terhadap beras meliputi (1) konsumsi di dalam rumah (2)


konsumsi diluar rumah seperti di rumah makan, hotel (3) konsumsi makanan hasil
industri pengolahan (4) kebutuhan beras untuk cadangan rumah tangga.
Permintaan beras secara umum meningkat tiap tahunnya, tetapi terdapat
kecenderungan penurunan konsumsi beras didalam rumah, yang diiringi
peningkatan konsumsi di luar rumah dan konsumsi produk-produk industri pangan
(Haryadi, 2004).
Salah satu program yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi
permintaan beras masyarakat saat ini adalah program Peningkatan Produksi Beras
Nasional (P2BN). Program ini memiliki target utama yaitu peningkatan produksi
beras sebesar 2 juta ton beras untuk 2007, dan selanjutnya kenaikan 5 persen
untuk setiap tahunnya sampai 2009 guna mencapai swasembada pangan dan
ketahanan pangan (Departemen Pertanian, 2007). Salah satu agenda program ini
adalah peningkatan produksi tanaman padi yang diupayakan melalui perbaikan
mutu benih, diantaranya dengan mengsosialisasikan penggunaan benih padi
varietas unggul (bersertifikat) bersubsidi. Selain bertujuan meningkatkan produk
si
padi nasional, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani juga merupakan
sasaran program ini.
Pemerintah pusat telah mengeluarkan dana senilai 600 miliar rupiah guna
mensuplai benih bersubsidi kepada petani. Selain itu pemerintah juga
mempersiapkan dana untuk jaminan kredit petani, subsidi bunga perbankan dan
dana untuk penyuluh guna mendukung tercapainya target dua ton beras tersebut.
Untuk merealisasikan program ini pemerintah telah membagikan benih bersubsidi
ini kepada 33 Propinsi di Indonesia, untuk kemudian dibagi-bagikan kepada
masing-masing kelompok tani binaan yang ada di provinsi tersebut. Daerahdaerah
yang menjadi sentra produksi beras di Indonesia pada tahun 2008 dapat
dilihat pada Lampiran 1
Peningkatan produksi padi nasional sangat erat kaitannya dengan
penggunaan benih varietas unggul bermutu. Kontribusi penggunaan benih varietas
unggul terhadap peningkatan produksi beras telah terbukti sangat signifikan
melalui keberhasilan swasembada beras tahun 1984. Keberhasilan tersebut dapat
dicapai salah satunya dengan penerapan teknologi Revolusi Hijau.

Teknologi Revolusi Hijau untuk padi pertama kalinya ditemukan oleh


International Rice Research Institute (IRRI) pada pertengahan 1980-an.
Karakteristik dasar dari teknologi ini adalah (1) benih unggul berumur pendek
sehingga dapat meningkatkan hasil panen melalui peningkatan intensitas tanaman
(2) responsif terhadap pupuk kimia utamanya Urea sehingga dapat meningkatkan
intensitas tanaman melalui penggunaan pupuk (3) membutuhkan lingkungan yang
prima, utamanya irigasi terkelola (Maulana et al, 2006)
Departemen Pertanian (2007) mengungkapkan penggunaan benih padi
varietas unggul di kalangan petani hingga September 2007 baru 49 persen dari
total kebutuhan benih padi nasional sebanyak 300 ribu ton per tahun. Namun
demikian, pemakaian benih varietas unggul pada tahun 2007 meningkat 10 persen
dibandingkan tahun 2006 yang hanya mencapai 39 persen. Kenaikan tersebut jauh
lebih baik dibandingkan lima tahun terakhir yang rata-rata tingkat penggunaan
berkisar 36 persen sampai 38 persen. Departemen Pertanian optimis bahwa
penggunaan padi varietas unggul pada tahun 2008 mencapai 50 persen sampai 55
2
persen.
Varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah, dan aman
dalam penerapan serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah
karena petani tinggal menanam. Murah karena varietas unggul yang tahan hama,
misalnya memerlukan insektisida yang jauh lebih sedikit daripada benih yang
tidak bersertifikat. Benih varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulka
n
polusi dan perusakan lingkungan.
Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi sentra produksi beras di
Sumatera dan telah menggenal varietas unggul semenjak tahun 1964. Seiring
dengan program P2BN, pada tahun 2007 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat
melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura menargetkan cetak
sawah baru seluas 2.000 hektar. Hal ini bertujuan guna meningkatkan
swasembada beras, baik skala daerah maupun skala nasional. Salah satu cara
mewujudkan tujuan tersebut adalah, dengan mengetahui sikap dan kepuasan
petani padi terhadap benih varietas unggul yang mereka gunakan, terutama
didaerah sentra produksi beras.
2)http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita&view=1&id=BRT0711192
02801

Sikap dan kepuasan petani terhadap benih yang digunakan sangat erat
kaitannya dengan kegiatan peningkatan swasembada beras. Dengan mengetahui
sikap dan kepuasan petani, pemerintah maupun pihak terkait bisa menerapkan
strategi yang tepat guna mewujudkan tujuan tersebut, seperti strategi dalam
pengadaan benih. Semakin tinggi tingkat kepuasan petani terhadap suatu varietas
unggul, maka petani tersebut akan semakin loyal. Hal ini diharapkan dapat
meningkatkan produktifitas tanaman padi tiap musim panen.
1.2 Perumusan Masalah
Salah satu daerah yang menjadi sentra produksi beras di Sumatera Barat
adalah daerah Solok. Kota Solok memiliki luas wilayah sebesar 57,64 km2 dengan
21,75 persen (1.254 ha) digunakan sebagai areal persawahan. Pada tahun 2007
produksi beras Kota Solok sebesar 11.221,08 ton dengan produktivitas sebesar
6,07 ton/ha.
Setiap tahun, persentase penggunaan masing-masing varietas unggul
berubah (Dinas Pertanian Kota Solok, 2007). Hal tersebut menandakan terdapat
perbedaan sikap dan kepuasan petani terhadap varietas unggul yang ada. Semua
ini tidak lepas dari kondisi demografi, ekonomi, sosial, budaya, keluarga,
psikologis dan faktor-faktor lainnya. Kondisi tersebut tentunya akan membentuk
sikap petani dalam penggunaan benih varietas unggul sehingga pada akhirnya
petani mampu mengevaluasi benih tertentu yang dapat memuaskan serta
memenuhi kebutuhan mereka. Persentase perubahan penggunaan benih padi
varietas unggul di Kota Solok dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Tingkat Penggunaan Varietas Unggul Dikota Solok
Varietas Persentase Tingkat Pengunaan Varietas (%)
2005 2006 2007
Anak Daro 35 35 35
Cisokan 30 20 20
Batang Piaman 15 25 25
Batang Lembang 5 5 5
Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Solok, 2008

Banyaknya varietas unggul yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya


meningkatkan produksi beras tentunya berdampak terhadap perilaku petani dalam
pemilihan benih yang akan ditanam, mengingat penilaian petani padi terhadap
varietas di masing-masing wilayah tidak sama. Menurut Lass et all (2004) dalam
Fahmi (2008), dari sekitar 80 varietas unggul yang berkembang di petani, varieta
s
IR 64 merupakan varietas unggul padi yang paling banyak digunakan petani padi
di 12 provinsi penghasil padi utama di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan NTB.
Pada tahun 2002 varietas IR 64 menyebar 45,52 persen dari luas tanam di 12
provinsi tersebut. Selain IR 64, varietas yang menonjol antara lain Wai Apo Buru
8,16 persen, Ciliwung 6,82 persen, Membramo 4,59 persen, Ciherang 4,43 persen
dan Cisadane 2,63 persen.
Varietas unggul yang secara umum banyak di gunakan oleh petani di
Indonesia pada tahun 2005 adalah varietas IR 64 31,4 persen, Ciherang 21,8
persen, Ciliwung delapan persen, Way Apo Buru 3,3 persen dan IR 42 2,4 persen
(Lampiran 2). Tetapi, keadaan ini berbeda dengan petani di provinsi Sumatera
Barat, varietas-varietas unggul tersebut kurang diminati khususnya oleh petani d
i
Kota Solok sebagai daerah penghasil padi di Sumatera Barat.
Pemberian subsidi kepada varietas unggul melalui program P2BN,
tentunya juga mempengaruhi sikap petani dalam pemilihan benih yang akan dibeli
dan digunakan. Dengan membeli benih yang bersubsidi, petani berharap bisa
mengurangi biaya produksi. Melihat beragamnya benih varietas unggul yang
beredar dipasaran serta adanya pemberian subsidi terhadap varietas-varietas
unggul maka penelitian terhadap perilaku petani padi, sikap mereka terhadap
benih padi, serta kepuasan mereka dalam menggunakan benih varietas unggul di
Kota Solok menarik untuk dilakukan.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani
terhadap benih padi varietas unggul di Kota Solok?
2.
Bagaimana sikap dan kepuasan petani terhadap benih padi varietas-varietas
unggul di Kota Solok?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun Tujuan Penelitian terhadap permasalahan ini adalah
1.
Mengidentifikasi karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani
terhadap benih padi varietas unggul di Kota Solok
2.
Menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih padi varietas-varietas
unggul di Kota Solok
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini antara lain :
1.
Sebagai masukan bagi pemerintah, penangkar benih, dan pihak terkait
lainnya mengenai sikap dan kepuasan petani terhadap varietas unggul di
Kota Solok guna menunjang program pemerintah
2.
Melatih kemampuan penulis dalam menganalisa masalah berdasarkan
fakta dan data yang tersedia yang disesuaikan dengan pengetahuan yang
diperoleh selama kuliah
3.
Sebagai bahan masukan bagi yang membutuhkan serta sebagai bahan
perpustakaan bagi penelitian selanjutnya
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1.
Benih padi yang dijadikan bahan penelitian ini merupakan benih varietas
unggul padi sawah yang saat ini banyak digunakan petani di Kota Solok
yaitu varietas Batang Piaman, Batang Lembang, Cisokan dan Anak Daro
2.
Petani yang menjadi objek penelitian ini adalah petani yang melakukan
pengambilan keputusan pembelian (bukan buruh tani) dan telah didata
oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Solok serta pernah
menanam keempat varietas yang ditentukan.
Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah responden yang dipilih jumlah
sampel minimal dalam pengolahan data serta adanya keterbatasan waktu dan
biaya. Hasil penelitian ini tidak bisa dianggap sama jika dilakukan didaerah lai
n,
mengingat pola pikir, ekonomi, sosial, budaya serta faktor-faktor lainnya diseti
ap
daerah tidak sama.

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Benih Padi
Benih adalah sarana produksi yang mampu mengemban misi agronomi,
bahkan sebagai wahana teknologi maju yang harus jelas identitas genetiknya
(Sadjad, 1993). Benih mempunyai pengertian yang berbeda dengan biji dan bibit.
Menurut Wirawan (2002), biji dapat tumbuh menjadi tanaman tanpa campur
tangan manusia. Sedangkan benih merupakan biji tanaman yang telah mengalami
perlakuan sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman.
Berbeda dengan biji dan benih, bibit adalah benih yang telah berkecambah.
Benih yang banyak di butuhkan manusia adalah benih padi, yang bisa
diolah menjadi beras. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua
serealia setelah jagung dan gandum dan merupakan sumber karbohidrat utama
bagi mayoritas penduduk dunia. Padi (Oryza sativa) berasal dari kelas
Monocotyledoneae dengan ordo oryza. Jason Londo, kandidat doktor bilogi di Art
and Sciences, Washington University dan pembimbingnya, Barbara A. Schaal,
mengungkapkan bahwa awalnya padi Oryza sativa indica ditanam di India,
Myanmar dan Thailand. Sedangkan Oryza sativa japonica berasal dari Cina
selatan. Penemuan ini merupakan hasil dari riset yang telah mereka lakukan
terhadap 300 jenis padi3.
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau poceae memiliki ciri-ciri
antara lain, memiliki akar serabut dan bunga majemuk, urat daun sejajar,
berpelepah berbentuk sempit memanjang. Sedangkan buah dan biji sulit
dibedakan karena merupakan bulir. Tanah yang lembab dan becek sangat disukai
padi. Sehingga, padi tersebar diseluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian
dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Berikut adalah
klasifikasi ilmiah padi :
Regnum: Plantae
Divisio: Angiospermae
Kelas: Monocotyledoneae
Ordo: Poales
Familia: Poaceae
3)wiki pedia. asal ususl padi www.tempointeraktif.com. (diakses 21 Oktober 2008)

Genus: Oryza
Total produksi padi dunia pada tahun 2005, dari 11 negara sentra produksi
adalah sebesar 700 Juta metrik ton. Negara produsen padi terkemuka adalah China
(31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Hal ini bisa
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Negara

Negara Penghasil Padi di Dunia Pada Tahun 2005

No Negara Produsen Padi Jumlah (Juta Metrik Ton)


1 China 185
2 India 129
3 Indonesia 54
4 Bangladesh 40
5 Vietnam 36
6 Thailand 27
7 Myanmar 25
8 Pakistan 18
9 Filiphina 15
10 Brazil 13
11 Jepang 11
TOTAL 700
Sumber : Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), 2006.4
2.2 Benih Padi Varietas Unggul (Bersertifikat)
Penggunaan benih varietas unggul akan mengurangi resiko kegagalan budi
daya, karena benih varietas unggul mampu tumbuh dengan baik pada kodisi lahan
yang kurang menguntungkan. Benih varietas unggul juga bebas dari serangan
hama dan penyakit terbawa benih. Dengan demikian, hasil panen dapat sesuai
dengan harapan. Hal ini karena sebelum dilepas, benih varietas unggul telah
disertifikasi terlebih dahulu. Selain itu, penggunaan benih varietas unggul juga
berperan penting dalam pengembangan pertanian yang berorientasi agribisnis.
4) www.wikipedia.org.id

Menurut Mugnisjah, (1991) sertifikasi benih adalah serangkaian sistem


atau mekanisme pengujian berkala untuk mengarahkan, mengendalikan, dan
mengorganisasikan perbanyakan dan produksi benih. Pelaksanaan sertifikasi pada
benih padi sangat penting untuk memelihara kemurnian dan mutu benih varietas
unggul serta menunjang pengadaan benih nasional. Varietas unggul telah
menyebar di seluruh wilayah Indonesia.
Tujuan dari kegiatan sertifikasi benih ini adalah untuk menjamin mutu
benih varietas unggul yang ditanam petani, sehingga produktifitasnya dapat
ditingkatkan. Instansi yang berwenang dalam sertifikasi benih adalah Balai
Penelitian dan Sertifikasi Benih (BPSB). Adapun prosedur dalam pelaksanaan
sertifikasi benih padi yang dilakukan oleh BPSB yaitu (Irawati, 2006):
2.2.1 Permohonan Sertifikasi
Permohonan sertifikasi benih diajukan kepada BPSB oleh pihak produsen
paling lambat 10 hari sebelum benih di tabur dengan mengisi formulir sertifikasi
yang sudah ditetapkan BPSB. Surat permohonan harus dilampiri dengan peta
lokasi dan bukti asal usul benih. Satu surat permohonan hanya berlaku untuk
satu areal sertifikasi dengan satu kelas benih dan varietas.
2.2.2 Pemeriksaan Lapang
Pemeriksaan lapang terdiri dari beberapa tahap yaitu pemeriksaan lapang
pendahuluan, pemeriksaan lapang vegetatif, pemeriksaan lapang generatif dan
pemeriksaan lapang menjelang panen.
a. Pemeriksaan Lapang Pendahuluan
Pemeriksaan lapang pendahuluan bertujuan untuk mengetahui
kebenaran area sertifikasi/data lapang serta benih yang digunakan
berdasarkan surat yang diajukan oleh produsen benih. Pemerikasaan
lapang dilakukan sebelum tanah diolah, agar lebih intensif dan selambatlambatnya
dilakukan satu minggu setelah surat permohonan diajukan.
Hasil pemerikasaan ada tiga kemungkinan, yaitu memenuhi syarat,
tidak memenuhi syarat dan memenuhi syarat dengan anjuran. Apabila
dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak BPSB sudah menunjukkan

kesesuaian antara permohonan dengan keadaan lapang, maka lahan


tersebut telah sah dinyatakan sebagai lahan produksi benih bersertifikat.
b. Pemeriksaan Lapang Fase Vegetatif
Pemeriksaan lapang fase vegetatif dilakukan setelah pihak BPSB
menyatakan area pertanaman lulus pemeriksaan lapang pendahuluan.
Kegiatan ini dilakukan pada tanaman padi telah berumur 30 hari. Kegiatan
ini diawali dengan pemeriksaan kebenaran permohonan dan bukti
kelulusan areal sertifikasai, serta pemeriksaan global dengan mengelilingi
areal pertanaman yang akan di periksa.
Setelah serangkaian kegiatan tersebut dilakukan maka selanjutnya
diambil beberapa contoh tanaman untuk diperiksa tipe simpangnya, bentuk
dan tekstur daun, tinggi tanaman dan campuran varietas lain (CVL).
Standar kelulusan dalam pemeriksaan fase vegetatif ini bisa dilihat pada
Tabel 4.
c. Pemeriksaan Lapang Fase Generatif
Pemeriksaan lapang fase generatif bertujuan untuk mengetahui
kebenaran varietas, dilakukan setelah pertanaman lulus pemeriksaan
lapang fase vegetatif. Kegiatan ini dilakukan saat tanaman berumur 60-65
hari setelah tanam. Pada prinsipnya pemeriksaan generatif hampir sama
dengan pemeriksaan vegetatif. Pada pemeriksaan generatif, keberadaan
CVL bisa diketahui dengan melakukan pengamatan terhadap organ
reproduktif, seperti warna bunga, bentuk bunga dan lain-lain. Standar
kelulusan pemeriksaan fase generatif sama dengan fase vegetatif seperti
terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Standar Lapang Kelulusan Benih Bersertifikat Berdasarkan
Kelas Benih
Kelas Benih Isolasi Jarak
(Minimum) (m)
Vaeritas Lain dan
Tipe Simpang (%)
Rerumputan
Berbahaya
Benih Dasar 3 0.0 Tidak ada
Benih Pokok 3 0.2 Tidak ada
Benih Sebar 3 0.5 Tidak ada
Sumber : BPSB Jawa Tengah, 2006

d. Pemeriksaan Lapang Fase Menjelang Panen


Pemerikasaan lapang fase menjelang panen dilaksanakan paling
lambat satu minggu sebelum tanaman padi dipanen. Pemeriksaan ini lebih
mengutamakan kemurnian varietas. Faktor-faktor yang diamati dalam
pemeriksaan fase menjelang panen (masak) ini adalah bentuk atau tipe
malai, leher malai, bentuk daun bendera, posisi daun bendera, bentuk
gabah, warna gabah, warna ujung gabah, bulu pada ujung gabah dan sudut
daun bendera. Fase ini lebih mengutamakan kemurnian varietas yang
ditanam. Apabila areal pertanaman tidak memenuhi syarat lapang yang
ditentukan, maka benih yang dihasilkan tidak dapat dijadikan benih
bersertifikat.
2.2.3 Pengambilan Contoh Benih
Pengambilan contoh benih bertujuan untuk mengambil contoh benih yang
homogen dari suatu kelompok benih dengan cara-cara yang telah ditentukan untuk
dilakukan pengujian laboratorium. Contoh benih harus mewakili satu lot benih
dari suatu areal sertifikasi yang telah lulus dalam pemeriksaan lapang.
Pengambilan contoh benih dilakukan dengan cara menusukkan alat yang
berupa stick trier ke dalam karung. Penusukan dilakukan secara acak.
Pengambilan jumlah contoh benih yang akan diambil, yaitu dengan menggunakan
rumus :
X = 5 + 10 %N
Keterangan :
X = Jumlah karung yang diambil contohnya
N = Jumlah seluruh karung yang diperiksa
Benih yang sudah diambil contohnya dikirim ke laboratorium sebanyak 1
kg untuk diperiksa. Pemeriksaan yang dilakukan berupa penetapan kadar air,
pengujian kemurnian benih, penetapan varietas lain dan pengujian daya tumbuh.
Standar pengujian laboratorium bisa dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Nilai Standar Pengujian laboratorium Berdasarkan Kelas Benih


Kelas Benih Kadar
Air
(%)
Benih
Murni
(%)
Kotoran
Benih
(%)
Benih
Varietas
Lain (%)
Benih Tanaman
Lain dan Biji
Gulma (%)
Daya
Tumbuh
(%)
Benih Dasar 13.0 99.0 1.0 0.0 0.0 80.0
Benih Pokok 13.0 99.0 1.0 0.1 0.1 80.0
Benih Sebar 13.0 99.0 2.0 0.2 0.2 80.0
Sumber : BPSB Jawa Tengah, 2006
2.2.4 Pengawasan Pemasangan Label
Warna label yang digunakan untuk setiap benih berbeda-beda. Benih
penjenis merupakan kelas benih yang paling tinggi. Benih ini berasal dari hasil
pemuliaan dan diberi warna label putih. Benih dasar merupakan turunan dari
benih penjenis, yaitu didapat hasil panen benih penjenis. Benih dasar diberi
label dengan warna putih. Benih pokok mempunyai warna label unggu. Benih
ini merupakan benih kelas ketiga, yaitu dibawah kelas benih penjenis dan benih
dasar. Benih ini didapat dari hasil penanaman kelas benih dasar.
Kelas benih terakhir adalah kelas benih sebar, yang didapat dari hasil
penanaman benih pokok. Benih ini berbeda dengan kelas benih sebelumnya.
Benih sebar adalah benih yang boleh dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat,
sedangkan benih penjenis, benih dasar dan benih pokok hanya ditanam untuk
tujuan perbanyakan benih. Benih ini mempunyai warna label biru. Pembagian
warna label berdasarkan kelas benih bisa dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Warna Label Kelas Benih Bersertifikat
No Kelas Benih Warna Label
1 Benih Penjenis Putih
2 Benih Dasar Putih
3 Benih Pokok Unggu

4 Benih Sebar Biru


Sumber : BPSB Jawa Tengah, 2006
29

Menurut Soetopo (1993) keunggulan benih bersertifikat dibandingkan


dengan benih tidak bersertifikat adalah ;
1.
Penghematan penggunaan benih, misalnya untuk padi dari rata-rata 40-50
kg/ha menjadi 20-25 kg/ha.
2.
Keseragaman pertumbuhan, pembunggan dan pemasakan buah sehingga
dapat dipanen sekaligus.
3.
Rendemen beras tinggi dan mutunya seragam.
4.
Penggunaan benih padi bersertifikat mampu meningkatkan hasil panen 515
persen perhektar.
5.
Meningkatkan mutu produksi yang dihasilkan.
6.
Mutu benih dapat menentukan kebutuhan dan respon sarana produksi
lainnya, dinaman peran sarana produksi tidak akan terlihat apabila benih
yang digunakan tidak bermutu.
2.3 Varietas Unggul Di Kota Solok
2.3.1 Varietas Batang Piaman
Varietas ini tergolong baru di Kota Solok dibandingkan dengan varietas
Anak Daro dan Cisokan. Beras hasil olahan dari padi varietas Batang Piaman ini
bersifat pera, dengan kandungan amilosa 28%. Umur tanaman dari mulai tanam
sampai panen adalah 100
131 hari, dengan warna gabah kuning bersih dan
bentuk gabah ramping. Rata-rata hasil produksi saat panen adalah 7,58 ton/ha
GKG dan bobot perseribu butir adalah 27
30 gram. Varietas ini tahan terhadap
penyakit Blas daun dan leher. Varietas Batang Piaman dilepas pada tahun 2003
dan merupakan hasil dari persilangan antara IR25393-57/RD203//IR2731696///
SPLR7735/SPLR2792.
2.3.2 Varietas Batang Lembang
Varietas Batang Lembang tidak jauh berbeda dengan varietas Batang
Piaman. Varietas ini tergolong baru di Kota Solok bila dibandingkan dengan
varietas Anak Daro dan Cisokan. Beras hasil olahan dari padi varietas Batang
Lembang bersifat pera, dengan kandungan amilosa 27%. Umur tanaman dari
mulai tanam sampai panen adalah 97-120 hari, dengan warna gabah kuning bersih

dan bentuk gabah ramping. Rata-rata hasil produksi saat panen adalah 3,74 - 7,80
ton/ha GKG dan bobot perseribu butir adalah 25 - 29 gram. Varietas ini tahan
terhadap penyakit Blas daun dan leher. Varietas Batang Lembang dilepas pada
tahun 2003 dan merupakan hasil dari persilangan antara Sintha/IR64//IR64.
2.3.3 Varietas Anak Daro
Varietas Anak Daro sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh petani di
Kota Solok. Beras hasil olahan dari varietas ini memiliki sifat pera, seperti ha
sil
beras pada umumnya di Sumatera Barat. Umur tanam varietas Anak Daro mulai
dari tanam sampai panen lebih lama dibandingkan varietas unggul lainnya yaitu
135
145 hari. Hasil panen varietas anak daro adalah 6.4 ton/ha GKP. Tanaman
padi varietas ini memiliki keunggulan tahan terhadap virus tugro dan agak peka
terhadap penyakit Blas.
Varietas Anak Daro baru dilepas menjadi Varietas Unggul Baru (VUB)
pada tahun 2007, melalui proses pemutihan varietas. Sebelum dilepas, varietas
Anak Daro merupakan varietas unggul lokal yang banyak diminati oleh petani,
karena memiliki banyak keunggulan diantaranya menghasilkan beras dengan rasa
nasi yang enak, harum dan lembut. Melihat potensi yang terdapat pada varietas
ini, akhirnya pemerintah melakukan kegiatan pemutihan varietas terhadap varietas
Anak Daro. Pemutihan varietas adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh
pengakuan secara resmi varietas unggul lokal yang telah tersebar menjadi varieta
s
unggul (Anonim, 2000).
2.3.4 Varietas Cisokan
Varietas Cisokan telah lama dikenal dan di budidayakan oleh petani di
Kota Solok. Beras hasil olahan dari padi varietas Cisokan bersifat pera, dengan
kandungan amilosa 22%. Umur tanaman dari mulai tanam sampai panen adalah
110 - 120 hari, dengan warna gabah kuning bersih dan bentuk gabah ramping.
Rata-rata hasil produksi saat panen adalah 4,5 - 5,0 t/ha dan bobot perseribu bu
tir
adalah 22 g. Varietas ini tahan wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan Sumatera Utara
Peka wereng coklat biotipe 3, Agak tahan bakteri busuk hawar daun
(Xanthomonas oryzae). Varietas Cisokan dilepas pada tahun 1985 dan merupakan

hasil dari persilangan antara PB36/Pelita I-1. Informasi selengkapnya tentang


varietas Batang Piaman, Batang Lembang, Anak Daro dan Cisokan dapat dilihat
pada Tabel Lampiran 3.
2.4 Program P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional)
Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) merupakan program
pemerintah yang ditetapkan pada awal Januari 2007. Pemerintah telah
mencanangkan target produksi padi sebesar 58,2 juta ton GKP atau menaikkan
sebesar 6,9 persen di tahun 2007. Produksi padi diyakini dapat meningkat sebesar
2,8 juta ton setara beras, yang akan dicapai di 16 Propinsi sentra beras sebanya
k
2,5 juta ton dan dari 17 Propinsi lainnya sebesar 0,3 juta ton.
Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Departemen Pertanian (2007)
menyatakan bahwa gerakan Produksi Beras Nasional (P2BN) merupakan upaya
terkoordinasi untuk membangun sistem pertanian yang tangguh dengan
memasyarakatkan teknologi dan inovasi baru melalui pendekatan Pengelolaan
Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT).
Perkembangan terakhir sampai Mai 2007, secara nasional pertanaman baru
mencapai 3,2 juta ha, lebih rendah dari kondisi normal yang mencapai 4,2 juta ha
.
Ini sebagai akibat mundurnya musim kemarau pada tahun 2006. Luas panen
Januari-April 2007 juga menurun. Pencapaian realisasi tanaman padi periode
Oktober 2006
april 2007 telah mencapai 8.746.687 ha yang merupakan hampir
100 persen dari target. Sedangkan hingga akhir 2007, pemberian benih padi non
hibrida baru mencapai 34,84 persen dan non hibrida mencapai 27,15 persen. Hal
ini dikarenakan proses pengadaan yang sangat panjang. Pada bulan Mei 2008,
program P2BN berubah nama menjadi program BLBU (Bantuan Langsung Benih
Unggul).
2.4 Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang sikap dan kepuasan petani terhadap benih padp variaetas
unggul di Kota Solok belum pernah dilakukan sebelumnya. Deskripsi tentang
studi terdahulu yang sejauh ini bisa diperoleh penulis tentang topik yang berkai
tan
dengan penelitian, adalah penelitian yang dilakukan oleh Haryadi (2004) dengan

penelitian tentang studi identifikasi dan tingkat komersialisasi benih padi sawa
h
varietas unggul. Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fakt
orfaktor
yang mempengaruhi petani dalam memilih varietas unggul padi sawah
komersial. Penelitian ini menyebutkan bahwa jenis benih yang umum dipakai oleh
petani di Kecamatan Warungkondang Cianjur adalah jenis IR 64.
Berdasarkan penelitian tersebut alasan petani memilih jenis-jenis padi
adalah umur tanaman, produktivitas, tahan kerebahan, tahan hama dan penyakit,
rasa, harga serta mudah atau tidak benih didapatkan. Umur tanaman berperan
penting dalam memprediksi kapan tanaman panen, kapan waktu untuk menanam
dan mengatur keuangan keluarga. Pada umumnya tanaman padi yang berumur
pendek lebih disukai oleh petani.
Yunita (2007) penelitian mengenai Analisis Kepuasan Petani Terhadap
Benih Jagung Hibrida Produksi PT Pertani (Persero) Jakarta di Kecamatan
Tanjung Mendar Kabupaten Sumedang Jawa Barat, dengan menggunakan metode
analisis Important Performance Analysis (IPA) dan Custumers Satisfaction Index
(CSI). Salah satu tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kepuasan dar
i
petani setelah menggunakan benih jagung hibrida yang diproduksi oleh PT Pertani
(persero). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan petani terhadap
benih jagung hibrida produksi PT Pertani (Persero) berdasarkan alat analisis IPA
,
atribut yang perlu diperbaiki yaitu kuadran I (ketahanan terhadap hama penyakit)
dan atribut yang harus dipertahankan yaitu kuadran II (harga ukuran, tongkol, da
n
produksi panen).
Sugara (2007) melakukan analisis tentang kepuasan konsumen instan
temulawak Taman Sri Rengganis Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menganalisis karakteristik konsumen instan temulawak, menganalisis proses
keputusan pembelian konsumen instan temulawak, menganalisis kepuasan
konsumen terhadap atribut-atribut instan temulawak dan untuk menentukan
bauran pemasaran yang sesuai bagi taman Sri Rengganis. Pengolahan data
dilakukan dengan menggunakan teknihk tabulasi deskriptif, Important
Performance Analysis (IPA) dan Custumers Satisfaction Index (CSI).
Berdasarkan IPA, diketahui bahwa atribut yang perlu dipertahankan adalah
pada kuadran II (khasiat, tanggal kadaluarsa, kandungan bahan alami, efek

samping, kualitas dan izin depkes). Atribut yang perlu diperbaiki yaitu kuadran
I
(kehigienisan, informasi pengunaan, ketersediaan produk dan promosi).
Berdasarkan CSI Taman Sri Rengganis telah mampu memuaskan konsumennya
sebesar 69,88 persen.
Penelitian yang dilakukan oleh Afifi (2007), tentang analisis kepuasan
kosnsumen terhadap atribut sayuran organik dan penerapan personel selling
Benny s Organik Garden. Salah satu tujuan penelitian tersebut adalah untuk
mengetahui kepuasan konsumen terhadap atibut sayuran organik dengan
menggunakan alat analisis Important Performance Analysis (IPA) dan Custumers
Satisfaction Index (CSI). Berdasarkan hasil yang diperoleh dari alat analisis IP
A
yang berkaitan dengan tingkat kepentingan dan kinerja atribut, terdapat beberapa
atribut yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Atribut tersebut terdapat pada
kuadran I yaitu keragaman jenis sayur, kesesuaian antara produk yang diinginkan
konsumen dengan yang ditawarkan perusahaan dan penanganan keluhan.
Berdsarkan CSI diperoleh nilai sebesar 78,3 persen. Hal ini menandakan bahwa
secara keseluruhan konsumen telah merasa puas terhadap atribut sayuran organik.
Ramadhan (2007) mengangkat topik tentang preferensi konsumen
terhadap energy drink sachet. Produk yang diamati dalam penelitian tersebut
adalah Extra Joss, Hemaviton Jreng dan Kuku Bima Ener-G. Tujuan dari
penelitian ini diantaranya adalah menganalisis sikap atau preferensi konsumen
terhadap atribut-atribut minuman berenergi sachet.
Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode model multiatribut Fishbein dan Important Performance Analysis (IPA).
Fishbein digunakan untuk mengetahui merek mana yang paling disukai
konsumen, sedangkan IPA digunakan untuk mengetahui atribut mana saja yang
patut dipertahankan. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa Kuku Bima
Ener-G merupakan minuman berenergi yang paling disukai responden.
Astuti (2008) juga menganalisis tentang preferensi dan kepuasan
konsumen terhadap beras di Kecamatan Mulyorejo Surabaya. Salah satu tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kepuasan konsumen beras
dikaitkan dengan atribut-atribut beras. Alat analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Important Performance Analysis (IPA), Custumers

Satisfaction Index (CSI). Responden dalam penelitian ini dibagi kedalam tiga
kelas yaitu kelas atas, menengah dan bawah. Secara keseluruhan, kualitas produk
sebaiknya perlu dtingkatkan. Atribut yang perlu ditingkatkan adalah atribut pada
kuadran I dan semakin tinggi kelas sosial, atribut yang masuk kedalam kuadran I
semakin sedikit. Hal ini menandakan semakin tinggi kelas sosial, kepuasan yang
diperoleh dari beras yang dikonsumsi semakin tinggi.
Fahmi (2008) melakukan penelitian tentang sikap dan kepuasan petani
padi terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri. Salah satu tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis sikap dan kepuasan petani padi terhadap
benih padi varietas unggul di kabupaten Kediri. Alat analisis yang digunakan
untuk menjawab tujuan tersebut adalah Fishbein, Important Performance Analysis
(IPA) dan Custumers Satisfaction Index (CSI). Fishbein digunakan untuk
mengukur sikap sedangkan IPA dan CSI digunakan untuk mengukur kepuasan.
Penelitian dilakukan terhadap tiga varietas benih yaitu, IR 64, Ciherang dan
Membramo. Berdasarkan alat Analisis Fishbein diketahui bahwa petani lebih
menyukai varietas membramo karena produktivitas dan rasa nasi yang enak.
Berdasarkan alat analisis IPA, diketahui bahwa atibut-atribut yang
dirasakan petani memiliki kinerja rendah adalah harga GKP, umur tanaman, tahan
hama penyakit dan tahan rebah sehingga atribut ini perlu diperbaiki. Hasil dari
CSI menunjukkan bahwa petani puas terhadap kinerja atrubut-atribut varietas
unggul dengan nilai CSI sebesar 73,32 persen.
Penelitian kepuasan petani terhadap benih padi juga dilakukan oleh Saheda
(2008) dengan judul analisis preferensi dan kepuasan petani terhadap benih padi
varietas lokal Pandan Wangi di Kabupaten Cianjur. Alat analisis yang digunakan
diantaranya adalah Important Performance Analysis (IPA) dan Custumers
Satisfaction Index (CSI). Berdasarkan hasil IPA menunjukkan bahwa atribut yang
perlu diperbaiki antara lain umur tanaman, harga jual gabah dan hasil produksi,
atribut ini terdapat pada kuadran I. Atribut pada kuadran I ini menjadi priorita
s
utama untuk diperbaiki. Berdasarkan CSI, petani merasa sangat puas terhadap
benih varietas lokal pandan wangi dengan nilai CSI sebesar 81,39 persen.
Melalui penelitian terdahulu, beberapa penelitian yang menjadi acuan
untuk penelitian ini adalah persamaan komoditas dan persamaan alat analisis yait
u

penelitian yang dilakukan oleh Fahmi dan Saheda, dengan perbedan pada lokasi
penelitian dan varietas yang diteliti. Persamaan penelitian ini dengan penelitia
n
yang dilakukan oleh Afifi, Astuti, Ramadhan, Sugara, dan Yunita yaitu dalam
penggunaan topik yaitu kepuasan, sedangkan objek yang diteliti adalah berbeda.
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Haryadi terdapat kesamaan yaitu
kesamaan objek yaitu padi varietas unggul tetapi topik yang dibahas berbeda.

III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Perilaku Konsumen
Undang-undang No. 08 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen,
mendefenisikan bahwa konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau
jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarg
a,
orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Tindakan-tindakan konsumen yang langsung terlibat dalam upaya memilih,
mendapatkan dan mengkonsumsi produk dan jasa yang dibutuhkan, termasuk
proses yang mendahului dan menyusuli tindakan tersebut disebut dengan perilaku
konsumen (Engel, et al. 1994).
Proses pembelian suatu produk dimulai ketika suatu kebutuhan mulai
dirasakan dan dikenali oleh konsumen, timbul kebutuhan bisa dipicu oleh
rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal yaitu kebutuhan dasar
seseorang seperti rasa lapar, haus, dan lain-lain, sedangkan rangsangan internal
yaitu kebutuhan yang ditimbulkan oleh dorongan internal seperti pengaruh
promosi dari berbagai sumber.
Setelah merasakan adanya kebutuhan terhadap suatu produk, maka
konsumen akan berusaha untuk mencari lebih banyak informasi. Sumber
informasi dapat diperoleh dari empat kelompok yaitu sumber pribadi (keluarga,
teman, tetangga); sumber komersial (iklan, tenaga penjual, pedagang perantara);
sumber umum (media massa, organisasi); dan sumber pengalaman (pemeriksaan
penggunaan produk) (Kotler, 1997). Konsumen akan memusatkan perhatiannya
terhadap ciri atau atribut produk yang dibutuhkan.
3.1.2 Proses Keputusan Pembelian
Keputusan konsumen untuk membeli atau memakai suatu produk tidak
muncul begitu saja, melainkan melalui proses keputusan yang mempengaruhi
keputusan pembelian. Berdasarkan Engel, et al. (1994) terdapat lima tahapan
proses pengambilan keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen, yaitu
pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternative, pembelian dan

hasil. Pada Gambar 1 disajikan tahapan-tahapan keputusan tersebut secara


sederhana.
PENGENALAN KEBUTUHAN
PENCARIAN INFORMASI
EVALUASI ALTERNATIF
PEMBELIAN

HASIL
Gambar 1. Tahapan Proses Keputusan Pembelian
Sumber : Engel, et al. (1994)
3.1.2.1 Pengenalan Kebutuhan
Pengenalan kebutuhan merupakan tahap awal pengambilan keputusan.
Menurut Engel, et al. (1995) Pengenalan kebutuhan adalah persepsi atas
perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan dengan situasi aktual yang
memadai untuk menggugah dan mengaktifkan proses keputusan. Adanya
kebutuhan disebabkan karena konsumen merasakan ketidaksesuaian antara
keadaan yang dihadapi konsumen sekarang dengan keadaan yang diinginkan
konsumen.
Contoh dari pengenalan kebutuhan adalah, seorang konsumen (petani)
sekarang ini merasa hasil produksinya menurun (keadaan aktual) dan ingin
meningkatkan produksi pada musim tanam selanjutnya (keadaan yang
diinginkan). Konsumen ini akan mengalami pengenalan kebutuhan seandainya
ketidak sesuaian antara kedua keadaan cukup besar. Pengenalan kebutuhan
dipengaruhi oleh tiga faktor penentu, yaitu informasi yang disimpan di dalam
ingatan, perbedaan individual dan pengaruh lingkungan.

3.1.2.2 Pencarian Informasi


Pencarian informasi merupakan tahap kedua dari proses pengambilan
keputusan. Konsumen yang telah memenuhi kebutuhkan yang telah memenuhi
kebutuhannya akan terlibat dalam pencarian informasi untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Pencarian informasi adalah kegiatan yang termotifasi dari
pengetahuan yang tersimpan didalam ingatan (pencarian internal) dan
pengumpulan informasi dari lingkungan (pencarian eksternal) (Engel, et al. 1995)
.
Pencarian yang bersifat internal lebih dahulu terjadi sesudah pengenalan
kebutuhan. Jika pencarian internal memberikan informasi yang dibutuhkan, maka
pencarian eksternal tidak dibutuhkan. Pencarian eksternal lebih bersifat informa
si
tambahan dari lingkungan, yaitu ketika pencarian internal tidak mencukupi maka
konsumen memutuskan untuk mencari informasi tambahan melalui pencarian
eksternal.
Menurut Kotler, (2000) sumber informasi konsumen dibagi menjadi empat
kelompok, yaitu :
1. Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan
2. Sumber komersian : iklan, tenaga penjual, kemasan, pajangan di toko
3. Sumber publik : media massa, organisasi penentu penilai konsumen
4. Sumber pengalaman : manangani, memerikasa, memakai produk
3.1.2.3. Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif adalah proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi
dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen (Engel, et al. 1995). Empat
komponen dasar proses evaluasi alternatif yaitu menentukan kriteria evaluasi yan
g
akan digunakan, memutuskan alternatif pilihan, menilai kinerja alternatif yang
dipertimbangkan dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat pilihan akhir.
Kriteria evaluasi merupakan dimensi yang akan digunakan dalam menilai
alternatif-alternatif pilihan. Contoh dari kriteria evaluasi adalah harga, nama
merek, negara asal dalan lain-lain. Konsep dasar yang dapat membantu untuk
memahami proses evaluasi konsumen yaitu (1) konsumen berusaha untuk
memenuhi suatu kebutuhan, (2) konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi
produk, (3) konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan

atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda, dalam memberikan manfaat yang


digunakan untuk memuaskan kebutuhan itu (Kotler, 2000).
Konsumen akan memberikan penilaian terhadap suatu merek atau produk,
dan akan mengevaluasi manfaat atau kepuasan yang diberikan oleh atribut
tersebut. Hasil evaluasi akan menghasilkan suatu sikap sehingga terjadi banyak
pilihan. Konsumen akan menilai dan menyeleksi manfaat yang diharapkan dari
produk, untuk selanjutnya diambil alternatif pilihan yang paling sesuai dengan
harapan.
3.1.2.4.Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan tahap terakhir dari serangkaian proses
keputusan pembelian. Keputusan pembelian dilakukan setelah konsumen memilih
alternatif pilihan. Pada tahap keputusan pembelian, konsumen harus mengambil
tiga keputusan yaitu kapan membeli, dimana membeli dan bagaimana membayar.
Pembelian merupakan fungsi dari dua determinan yaitu (1) niat pembelian (2)
pengaruh lingkungan dan perbedaan individu (Engel, et al. 1995).
Niat pembelian konsumen digolongkan menjadi dua kategori, yaitu (1)
baik produk maupun merek (2) kelas produk saja. Niat pembelian pada kategori
produk maupun merek disebut sebagai pembelian yang terencana sepenuhnya,
dimana pembelian merupakan hasil dari keterlibatan tinggi. Konsumen bersedia
waktu, tenaga dan materi dalam membeli barang tersebut. Niat pembelian yang
hanya melihat kelas produk saja disebut dengan juga dengan pembelian terencana
jika pilihan merek dibuat di tempat pembelian.
3.1.2.5. Perilaku Setelah Pembelian
Setelah membeli dan menggunakan produk, konsumen akan melakukan
evaluasi terhadap produk yang dikonsumsinya. Konsumen mengalami kepuasan
atau ketidakpuasan tertentu terhadap hasil pembeliannya. Kepuasan akan
membuat konsumen menjadi loyal, sedangkan ketidakpuasan dapat menyebabkan
keluhan, komunikasi lisan yang negatif dan tidak mau menggunakan lagi produk
tersebut.

3.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian


Perilaku konsumen dipengaruhi dan dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu
(1) faktor lingkungan yang terdiri dari budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi,
keluarga dan situasi, (2) faktor perbedaan individu yang terdiri dari sumberdaya
konsumen, motivasi dan keterlibatan, pengetahuan sikap, kepribadian, gaya hidup,
dan demografi, dan (3) faktor psikologis, terdiri dari pengolahan informasi,
pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku (Engel, et al. 1994). Hubungan antara
ketiga faktor tersebut dalam proses keputusan konsumen dapat dilihai pada
Gambar 2.
PENGARUH LINGKUNGAN
1. Budaya
2. Kelas Sosial
3. Pengaruh Pribadi
4. Pengaruh Keluarga
5. Situasi
PERBEDAAN INDIVIDU
1. Ssumberdaya Kosumen
2. Motivasi dan Keterlibatan
3. Pengetahuan
4. Sikap
5. Kepribadian, Gaya Hidup,
Demografi
PROSES KEPUTUSAN
1. Pengenalan Kebutuhan
2. Pencarian Informasi
3. Evaluasi Alternatif
4. Pembelian
5. Hasil
PROSES PSIKOLOGI
1. Pengolahan Informasi
2. Pembelajaran
3. Perubahan
Sikap/Perilaku
STRATEGI PEMASARAN
1. Produk
2. Harga
3. Promosi
4. Distribusi
Gambar 2. Proses Pembelian Konsumen
Sumber : Engel, et al. (1994)
Pengaruh lingkungan dan perbedaan individu tiap tahap proses keputusan
meliputi pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif,
pembelian serta hasil pembelian. Sedangkan proses psikologi meliputi prilaku
yang terlibat dengan tahapan pengenalan kebutuhan serta pencarian pada proses
keputusan konsumen.

3.1.3.1 Pengaruh Lingkungan


Pengaruh lingkungan lebih bersifat individu, karena konsumen melakukan
interaksi dengan individu lain dalam lingkungannya. Yang tergolong faktor
lingkungan antara lain :
a. Budaya
Budaya mengacu pada seperangkat nilai, gagasan, sikap dan simbol lain
yang bermakna melayani manusia untuk berkomunikasi, membuat tafsiran dan
mengevaluasi. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling
dasar. Walaupun konsumen bebas dalam menentukan pilihan namun karena dia
hidup dilingkungan dengan kebudayaan yang mempunyai batasan batasan
tertentu, maka kebebasan tersebut juga dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial buday
a
dan norma-norma masyarakat tersebut.
b. Kelas Sosial
Kelas sosial merupakan pembagian di masyarakat yang terdiri dari
individu-individu yang berbagi nilai, minat dan prilaku yang sama (Engel, et al.
1994). Perbedaan kelas sosial bisa dilihat dari perbedaan status sosial ekonomi
yang berjajar dari yang rendah hingga yang tinggi. Kelas sosial sering
menghasilkan prilaku konsumen yang berbeda, misalnya merek mobil yang
dikendarai. Kelas sosial tidak hanya ditentukan oleh pendapatan, tetapi juga
ditentukan oleh pekerjaan, prestasi, interaksi, pemilikan, orientasi, nilai, dan
sebagainya.
c. Pengaruh Pribadi
Keputusan pembelian di pengaruhi oleh karakteristik pribadi.
Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan
ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri konsumen. Perilaku
individu juga sering dipengaruhi oleh individu lain yang disebut dengan kelompok
acuan, yaitu dengan merespon tekanan yang dirasakan, untuk menyesuaikan diri
dengan norma dan harapan yang diberikan oleh kelompok acuan tersebut.
Menurut Kotler (2000) kelompok acuan terdiri dari kelompok-kelompok yang
mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap ataupun
perilaku seseorang seperti keluarga, organisasi formal, dan lain-lainnya.

d. Keluarga
Setiap anggota keluarga memegang peranan penting yaitu dalam pemberi
pengaruh, pengambilan keputusan, pembelian dan pemakaian. Keluarga
merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh terhadap sikap dan
perilaku individu. Keluarga terdiri dari dua bagian yaitu (1) keluarga orientasi
yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung, (2) keluarga prokreasi yang
terdiri dari pasangan dan anak-anak.
e. Pengaruh Situasi
Perilaku selalu di bentuk oleh pengaruh situasi. Engel, et al. (1995)
mengusulkan bahwa situasi konsumen dapat didefinisikan sebagai lima
karakteristik umum, yaitu (1) lingkungan fisik, yang merupakan sifat nyata dari
situasi konsumen, (2) lingkungan sosial, menyangkut ada tidaknya orang lain
dalam situasi bersangkutan, (3) waktu, (4) tugas, yaitu tujuan dan sasaran terte
ntu
yang dimiliki konsumen dalam situasi dan (5) keadaan antiseden atau suasana hati
sementara. Pengaruh situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari
faktor yang khusus untuk waktu dan tempat spesifik yang lepas dari karakteristik
konsumen dan karakteristik objek.
3.1.3.2 Faktor Perbedaan Individu
Perbedaan yang paling penting di antara individu adalah perbedaan
sumberdaya. Konsumen yang mempunyai pendapatan tinggi akan mempunyai
perilaku pembelian yang berbeda dengan konsumen yang mempunyai pendapatan
rendah. Engel, et al. (1994) menyatakan bahwa ada lima cara dimana konsumen
mungkin berbeda sehingga berpengaruh terhadap perilaku konsumen yaitu :
a. Sumberdaya Konsumen
Keputusan konsumen yang berhubungan dengan produk dan merek sangat
dipengaruhi oleh jumlah sumberdaya ekonomi yang dimiliki sekarang, atau yang
akan dimiliki dimasa yang akan datang. Walaupun pendapatan konsumen
sekarang menentukan apa yang mungkin dibeli, harapan mengenai pendapatan
masa datang sering mempengaruhi apa yang sebenarnya dibeli, misalnya membeli
peralatan tahan lama.

Setiap konsumen membawa tiga sumberdaya kedalam setiap situasi


pengambilan keputusan yaitu sumber daya ekonomi (pendapatan dan kekayaan),
sumber daya temporal (waktu) dan sumber daya kognitif (kapasitas mental yang
tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan industri). Konsumen
memiliki keterbatasan pada setiap sumberdaya yang dimiliki sehingga konsumen
harus mampu mengalokasikannya secara bijaksana.
b. Motivasi dan Keterlibatan
Motivasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk
memenuhi kebutuhannya dan memperoleh kepuasan dari pemenuhan kebutuhan
tersebut. Kebutuhan timbul karena adanya ketidakcocokan antara keadaan aktual
dengan keadaan yang diinginkan. Menurut Engel, et al. (1994) motivasi dan
keterlibatan merupakan kebutuhan variabel utama dalam motivasi. Keterlibatan
adalah tingkat kepentingn pribadi yang dirasakan dalam tindakan pembelian.
c. Pengetahuan
Pengetahuan didefinisikan sebagai informasi yang disimpan dalam
ingatan (Engel, et al. 1994). Sedangkan pengetahuan konsumen adalah himpunan
bagian dari informasi total yang relevan dengan fungsi konsumen di dalam pasar.
Pengetahuan konsumen dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) pengetahuan produk
mencakup atribut produk dan kepercayaanya, (2) pengetahuan pembeli, yaitu
dimana dan kapan membeli, dan (3) pengetahuan pemakaian dilihat dari
pengetahuan konsumen dan iklan.
d. Sikap
Sikap merupakan keseluruhan evaluasi yang dilakukan konsumen. Sikap
konsumen pada masa sekarang merupakan hasil dari pengalaman masa
sebelumnya. Menurut Kotler (1997) sikap adalah evaluasi perasaan emosional dan
kecenderungan tindakan menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan
lama dari seseorang terhadap beberapa objek atau gagasan. Sikap dapat diukur
dengan mudah, dengan secara sederhana dan langsung bertanya kepada konsumen
untuk mengevaluasi konsep keingginan (Simamora, 2002), sikap adalah ekspresi
perasaan yang mencerminkan apakah seseorang senang atau tidak senang, suka
atau tidak suka dan setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek.

e. Kepribadian, Gaya Hidup dan Demografi


Kepribadian didefenisikan sebagai respon yang konsisten terhadap
stimulus lingkungan (Engel, et al. 1994). Kepribadian merupakan karakteristik
psikologi yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif
konsisten dan tahan lama terhadap lingkunganya. Kepribadiannya biasanya
dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti kepercayaan diri, dominasi,
ketaatan, dan lain-lainnnya. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat
berguna dalam menganalisis perilaku konsumen.
Sedangkan gaya hidup adalah pola dimana seseorang hidup dan
menghabiskan waktu serta uang yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan
opini seseorang. Faktor demografi akan menggambarkan karakteristik dari
seorang konsumen. Beberapa karakteristik yang sangat penting untuk memahami
konsumen adalah usia, jenis, kelamin, pekerjaan, pendidikan, agama,suku bangsa,
pendapatan, jenis keluarga,dan lain-lain.
3.1.3.3 Proses Psikologis
Proses psikologis merupakan faktor terakhir yang mempengaruhi
konsumen dalam melakukan keputusan pembelian produk. Pembelian yang
dilakukan dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu motivasi,
preferensi, pengetahuan, keyakinan, dan pendirian (Kotler, 1997). Proses
psikologis terdiri dari :
a. Pemprosesan Informasi
Pemprosesan informasi merupakan proses dimana stimulus diterima,
ditafsirkan, disimpan dalam ingatan dan belakangan diambil kembali (Engel, et al
.
1995). Pemprosesan informasi terdiri dari lima tahapan yaitu : yaitu pemaparan,
perhatian, pemahaman, penerimaan dan retensi.
b. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses dimana pengalaman menyebabkan
perubahan dalam pengetahuan, sikap, atau perilaku. Pembelajaran terdiri dari
empat jenis utama yaitu (1) pembelajaran kognitif yang berkenaan dengan proses
mental yang menetukan retensi informasi, (2) pengkondisian klasik yang berfokus
pada pembelajaran melalui asosiasi stimulus respon, (3) pengkondisian operant

mempertimbangkan bagaimana perilaku dimodifikasi oleh pengukuh dan


penghukum, (4) pembelajaran vicarious adalah suatu proses yang berusaha
merubah perilaku dengan meminta individu mengamati tindakan orang lain
(model) dan akibat perilaku yang bersangkutan.
c. Perubahan Sikap dan Perilaku
Perubahan sikap dan perilaku adalah tahap yang terakhir dari proses
psikologis. Sikap dan prilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh komunikasi
persuasif (tingkat penerimaan) yang berkantung pada respon kognitif (pikiran)
dan afektif (perasaan) yang terjadi selama pemprosesan pesan. Selain itu sikap
dan perilaku konsumen bisa dipengaruni dengan teknik modifikasi perilaku,
seperti memberi dorongan.
3.1.4 Atribut Produk
Konsumen memandang masing-masing produk dari sekumpulan atribut
dengan kemampuan yang berbeda-beda. Keunikan suatu produk dapat dengan
mudah menarik perhatian konsumen. Keunikan ini terlihat dari atribut yang
dimiliki oleh produk. Menurut Engel, et al. (1994) atribut produk adalah
karakteristik suatu produk yang berfungsi sebagai atribut evaluatif selama
pengambilan keputusan dimana atribut tersebut tergantung pada jenis produk dan
tujuannya. Sedangkan menurut Simamora, (2002) atribut memiliki dua pengertian
yaitu (1) karakteristik yang membedakan merek atau produk dari yang lain (2)
faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam mengambil keputusan
tentang pembelian suatu merek ataupun kategori produk, yang melekat pada
produk atau menjadi bagian produk itu sendiri.
Suatu produk pada dasarnya adalah kumpulan atribut-atribut dan setiap
produk, baik barang atau jasa dapat dideskripsikan dengan menyebutkan atributatr
ibutnya.
Atribut produk dapat dibedakan atas ciri-ciri, fungsi dan manfaat. Ciriciri
dapat berupa ukuran karakteristik, komponen dan bagian-bagiannya, bahan
dasar, proses manufaktur, jasa, penampilan, harga, susunan, maupun tanda merek
(trade mark) dan lain-lain. Manfaat dapat berupa kegunaan, kesenangan yang
berhubungan dengan panca indra, dan manfaat non material, seperti kesehatan dan

penghemat waktu. Manfaat bisa berupa mafaat langsung dan manfaat tidak
langsung
Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap produk merupakan kekuatan
harapan dan keyakinan terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk.
Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut produk dicerminkan oleh
pengetahuan konsumen suatu produk dan manfaat yang diberikan oleh produk
tersebut.
Konsumen dapat melakukan penilaian dengan melakukan evaluasi
terhadap atribut produk dan memberikan kekuatan kepercayaan konsumen
terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk. Hal penting dalam pengukuran
produk antara lain mengidentifikasi kriteria evaluasi uang mencolok dan
memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing produk (Engel, et al. 1994)
3.1.5 Sikap Konsumen
Dipasaran banyak terdapat berbagai produk atau jasa yang ditawarkan
produsen untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Semakin meningkatnya
kebutuhan konsumen dan mengarah ke sesuatu hal yang lebih baru dan berbeda
membuat produsen atau para pengusaha terus menciptakan berbagai macam
produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun demikian tidak
semua produk tersebut sesuai dengan keinginan konsumen.
Sikap mempengaruhi keinginan seseorang untuk membeli. Menurut Engel,
et al (1994) sikap merupakan suatu eveluasi menyeluruh yang memungkinkan
seseorang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan
secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang yang diberikan.
Kepercayaan konsumen terhadap suatu produk memungkinkan timbulnya evaluasi
yang positif terhadap produk tersebut. Sebaliknya, konsumen yang tidak percaya
kepada suatu produk memungkinkan timbulnya evaluasi negatif terhadap produk
tersebut. Salah satu alat analisis yang dapat menganalisis sikap konsumen adalah
model sikap multiatribut Fishbein.
Model sikap multiatribut dapat digunakan untuk mengetahui hubungan
antara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dengan sikap terhadap produk

berkenan dengan ciri atau atribut produk. Salah satu model multiatribut yang bia
sa
dipakai adalah model atribut Fishbein (Enggel, et al 1994).
Model multiatribut Fishbein dipopulerkan oleh Martin Fishbein. Model
multiatribut Fishbein mengidentifikasi bagaimana konsumen mengkombinasikan
keyakinan (belief) mereka mengenai atrbut-atribut produk sehingga akan
membentuk sikap (attitute) mereka terhadap berbagai merek alternatif. Apabila
konsumen memiliki sikap yang memdukung terhadap suatu merek, maka merek
tersebut yang akan dipilih dan dibelinya.
Menurut Engel, et al (1994), terdapat dua sasaran pengukuran yang
penting dalam mengevaluasi atribut produk yaitu (1) mengidentifikasi kriteria
evaluasi yang mencolok (2) memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing
atribut produk. Kriteria evaluasi yang mencolok dapat diketahui dengan
menentukan atribut yang menduduki peringkat tertinggi. Saliensi biasanya
diartikan sebagai kepentingan, yaitu konsumen diminta untuk menilai kepentingan
dari berbagai kriteria evaluasi.
3.1.6 Konsep dan Pengertian Kepuasan
Kotler (2000) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja (hasil)
produk yang di pikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan, jika kinerja
berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan
maka pelenggan puas dan jika kinerja melebihi harapan maka pelanggan amat
puas atau senang.
Menurut Engel, et al (1995), kepuasan konsumen merupakan evaluasi
purnabeli, dimana alternatif yang dipilih sekurang kurangnya sama atau
melampaui harapan konsumen sedangkan ketidakpuasan konsumen muncul
apabila hasil tidak memenuhi harapan. Kepuasan adalah semacam langkah
perbandingan antara pengalaman dengan hasil evaluasi, dapat menghasikan
sesuatu yang nyaman secara rohani, bukan hanya nyaman karena dibayangkan dan
diharapkan. Puas atau tidak puas bukan merupakan emosi melainkan sesuatu hasil
evaluasi dari emosi. Beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk mengukur

tingkat kepuasan adalah dengan menggunakan metode Importance and


Performance Analyis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI).
a. Important Performance Analysis (IPA)
Important Performance Analysis (IPA) adalah alat analisis yang
menggambarkan kinerja sebuah merek dibandingkan dengan tingkat kepentingan
konsumen akan kinerja yang seharusnya ada, dengan menggunakan diagram
kartesius. Analisis IPA menggunakan titik (kordinat) untuk menggambarkan
kinerja merek pada suatu produk.
b. Customer Satisfaction Index (CSI)
Customer Satisfaction Index (CSI) digunakan untuk mengetahui tingkat
kepuasan konsumen secara menyeluruh dengan melihat tingkat kepentingan dari
atribut-atribut produk atau jasa. Cara untuk mengukur CSI dilakukan melalui
empat tahap yaitu :
1. Menentukan Mean Important Skor (MIS)
2. Membuat Weigh Factors (WF)
3. Membuat Weigh Score (WS)
4. Menentukan Custumers Satisfaction Index (CSI)
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Beras merupakan komoditi yang sangat penting bagi masyarakat
Indonesia, karena 90 persen masyarakat Indonesia menjadikan beras sebagai
makanan pokok. Peningkatan konsumsi beras tiap tahunnya hingga mencapai
139,15 kg per tahun perkapita, menunjukkan kebutuhan akan beras yang sangat
besar dinegara kita. Sedangkan produksi belum aman untuk memenuhi
permintaan tersebut.
Pemerintah telah berupaya meningkatkan produksi beras dengan berbagai
macam program, diantaranya dengan memanfaatkan benih varietas unggul dengan
cara membagikan benih varietas unggul bersubsidi kepada pemerintah daerah
yang kemudian dilanjutkan ke kelompok-kelompok tani lewat program P2BN.
Selain itu, pemerintah juga berusaha meningkatkan produksi beras dengan cara
pembukaan lahan baru, perbaikan infrastruktur irigasi, pemberian kredit pertania
n
dan menciptakan iklim kondusif bagi investor.

Berkembangnya inovasi teknologi dalam perbenihan padi menghasilkan


banyak varietas unggul yang telah dilepas ke masyarakat. Tiap-tiap varietas
tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan yang menimbulkan beragam respon
dari petani. Program subsidi benih varietas unggul juga akan mempengaruhi sikap
petani dalam memilih varietas yang digunakan. Hal ini tidak lepas dari kondisi
sosial, ekonomi, budaya, keluarga dan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi
keputusan petani dalam memilih varitas yang akan dibudidayakan. Respon
tersebut bisa suka atau tidak suka, puas atau tidak puas terhadap suatu varietas
yang diwakili oleh atribut-atribut yang dimilikinya.
Dalam penelitian ini, alat analisis yang digunakan untuk mengukur sikap
petani terhadap atribut-atribut benih padi adalah model sikap multiatribut
Fishbein. Sedangkan teknik Importance Performance Analysis (IPA) digunakan
untuk menilai kepentingan, kinerja dan kepuasan responden terhadap masingmasing
atribut varietas unggul berdasarkan pendapat responden.
Untuk mengukur tingkat kepuasan petani secara menyeluruh terhadap
varietas unggul digunakan Costumer Satification Index (CSI) yang akan
mengukur tingkat kepuasan dengan mengukur tingkat kepentingan dan kinerja.
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi penelitian selanjutnya.
Bagan kerangka operasional dapat dilihat pada Gambar 3.

Beras merupakan komoditi yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia


Produksi beras secara nasional belum bisa memenuhi permintaan beras nasional
Beras merupakan komoditi yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia
Produksi beras secara nasional belum bisa memenuhi permintaan beras nasional
Karakteristik Petani
Dan Proses keputusan
pembelian
- Analisis Deskriptif
Analisis Sikap
-Model Sikap
Multiatribut
Fishbein
-Banyaknya jenis padi varietas unggul yang
beredar dipetani
-Sikap dan kepuasan petani terhadap benih
padi varietas unggul berbeda
Upaya peningkatan produksi beras oleh
pemerintah, salah satunya dengan
memanfaatkan benih padi varietas unggul
Analisis Kepuasan
-Importance&
Performance Analysis
-Costumer
Satification Index
Rekomendasi Bagi Pemerintah
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional

IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Solok Sumatera Barat. Pemilihan
lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive), dengan pertimbangan
bahwa Kota Solok merupakan salah satu daerah sentra produksi beras di Sumatera
Barat. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Oktober hingga November
2008.
Kecamatan yang dipilih adalah dua Kecamatan yang terdapat di Kota
Solok yaitu Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan.
Kecamatan ini dipilih secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa
masing-masing kecamatan tersebut merupakan daerah penghasil beras di Kota
Solok. Kelurahan yang yang menjadi tempat penelitian adalah tujuh Kelurahan
yang ada di Kecamatan Lubuk Sikarah yaitu Kelurahan Tanah Garam, IV Suku,
Sinapa Piliang, IX Koto, KTK, Aro IV Korong dan Simpang Rumbio serta lima
Kelurahan yang ada di Kecamatan Tanjung Harapan yaitu Koto PPA, Tanjung
Paku, Nan Balimo, Kampung Jawa, Laing.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data
sekunder yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh
melalui wawancara lansung dan pengisian kuisioner yang diajukan kepada petani.
Kuisioner yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi
seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab
(Sugiyono, 2007). Kuisioner dapat dilihat pada Lampiran 4. Selain wawancara
dengan petani, wawancara juga dilakukan dengan petugas Dinas Pertanian
setempat.
Data sekunder yang digunakan merupakan data penunjang penelitian yang
diperoleh melalui instansi-instasi terkait seperti Badan Pusat Statistika, situs
resmi
departemen terkait dan dinas atau instansi pemerintahan setempat. Selain itu, da
ta
tambahan diperoleh melalui buku-buku, majalah, media masa, media komunikasi
dan penelitian terdahulu.

4.3 Metode Pengambilan Sampel


Pemilihan responden dilakukan dengan metode random sampling (acak)
dengan teknik simple random sampling, karena populasi dianggap homogen.
Pengambilan responden dilakukan dengan cara undian. Cara undian adalah
dengan memberi nomor pada seluruh anggota populasi, lalu secara acak dipilih
nomor-nomor sesuai dengan banyaknya jumlah sampel yang dibutuhkan (Umar,
2002). Penentuan jumlah populasi berdasarkan jumlah petani yang terdata pada
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Solok dan dibantu dengan informasi
yang diperoleh dari Petugas Penyuluh Lapang (PPL) yang membina petani pada
tiap-tiap Kelurahan. Petani yang dipilih dalam penelitian ini adalah yang telah
berpengalaman dalam menanam benih padi varietas unggul yang saat ini banyak
ditanam oleh petani di Kota Solok, yaitu varietas Batang Piaman, Batang
Lembang, Cisokan dan Anak Daro.
Jumlah petani yang dijadikan responden diperoleh adalah 94 petani yang
diperoleh berdasarkan rumus Slovin (Umar, 2002) dengan proporsi seperti terlihat
pada Tabel 6. Rumus Slovin adalah sebagai berikut :
n = N
(1+Ne 2)
Dimana :
n : Jumlah sampel
N : Ukuran populasi (jumlah petani padi)
e : Persen kesalahan sampel yang masih dapat ditorerir (10%)
Setelah diperoleh jumlah petani yang akan dijadikan responden,
selanjutnya ditentukan jumlah petani yang akan dijadikan responden pada masingma
sing
Kelurahan. Proporsi responden pada tiap kelurahan dapat dilihat pada
Tabel 7. Berikut ini adalah contoh pengitungan pengambilan jumlah responden
pada Kelurahan Simpang Rumbio:
Jumlah Responden = Jumlah Petani x 94 orang
Total Jumlah Populasi
Jumlah Responden = 219 orang x 94 orang
1655 orang
= 12,42 orang = 12 orang

Tabel 7 Proporsi Responden Pada Setiap Kelurahan


Kecamatan Kelurahan Jumlah Petani
(Orang)
Jumlah Responden
(Orang)
Lubuk Sikarah
Tanah Garam 461 26
Simpang Rumbio 219 12
VI Suku 107 6
KTK 124 7
IX Korong 63 4
Sinapa Piliang 58 3
Aro IV Korong 105 6
Tanjung Paku
PPA 20 1
Tanjung Paku 103 6
Nan Balimo 98 6
Kampung Jawa 133 8
Laing 164 9
Total 1.655 94
4.4 Metode Analisis Data
Data dan informasi yang didapat diolah dan dianalisis secara kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui karakteristik petani
dan
proses pengambilan keputusan yang dilakukan petani. Analisis kuantitatif
dilakukan dengan menggunakan alat analisis multiatribut Fishbein untuk
mengukur sikap konsumen terhadap atribut produk, sedangkan Important
Performance Analysis (IPA) dan Customers Satisfaction Index (CSI) digunakan
untuk mengukur kepuasan konsumen.
4.4.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskkriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa
data dengan cara menggambarkan atau mendeskripsikan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa ada maksud membuat kesimpulan yang
berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiono, 2007). Statistik deskriptif dapat
digunakan bila hanya ingin mendeskripsikan sampel saja, dan tidak ingin
membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil.
Sedangkan menurut Nazir, (2005) analisis deskriptif adalah suatu metode dalam
meneliti manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun
suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

Analisis deskriptif hanya memberikan informasi data yang dipunyai.


Analisis ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang
berlaku dalam masyarakat serta sitiasi-situasi tertentu. Pada penelitian ini ana
lisis
deskriptif digunakan untuk menganalisis karakteristik petani dan proses
pengambilan keputusan petani dalam pemakaian benih padi varietas unggul.
Analisis deskriptif ini disajikan dalam bentuk uraian dan tabulasi sederhana.
4.4.2 Analisis Multiatribut Fishbein
Model multiatribut Fishbein digunakan untuk memperoleh konsistensi
antara sikap dan perilaku konsumen, penilaian suka dan tidak suka serta penilaia
n
positif dan negatif terhadap atribut benih varietas unggul. Formulasi model
Fishbein adalah :
= n

Ao bei
i
i=1
Keterangan :
Ao : Sikap terhadap objek, yaitu benih varietas unggul
bi : Tingkat kepercayaan bahwa benih varietas unggul memiliki atribut ke-i
ei : Evaluasi kepentingan terhadap atribut i
n : Jumlah atribut yang menonjol
Menurut Simammora, (2002) model sikap multiatribut Fishbein adalah
alat yang sangat berguna untuk mempelajari proses pembentukan sikap dan
memperkirakan sikap. Model Fishbein mengemukakan bahwa sikap terhadap
objek tertentu didasarkan pada perangkat kepercayaan yang diringkas mengenai
atribut objek yang bersangkutan yang diberi bobot oleh evaluasi terhadap atribut
ini (Engel, et al.1994). Konsumen cenderung lebih menyukai objek yang
dikaitkan dengan dengan ciri baik dan tidak menyukai objek yang dianggap
memiliki ciri buruk.
Terdapat dua sasaran pengukuran yang penting dalam mengevaluasi
atribut produk, yaitu (1) mengidentifikasi kriteria evaluasi yang mencolok dan (
2)
memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing atribut produk (Engel, et
al,1994). Kriteria evaluasi yang mencolok dapat diketahui dengan menentukan

atribut yang menduduki peringkat tertinggi. Saliensi dapat diartikan sebagai


kepentingan, yaitu konsumen diminta menilai kepentingan dari berbagai kriteria
evaluasi. Sementara itu kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut produk
dicerminkan oleh pengetahuan kosumen terhadap suatu produk atau dilihat dari
manfaat kinerja yang diberikan suatu produk (Sumarwan, 2003).
Pengukuran tingkat evaluasi dan tingkat kepercayaan dilakukan
menggunakan Skala Likert, intersitas paling rendah diberi satu dan tertinggi dib
eri
lima (Simamora, 2002). Komponen ei yang menggambarkan evaluasi atribut
diukur pada sebuah Skala likert yang berjajar mulai dari sangat tidak penting
hingga sangat penting . Berikut ini adalah contoh pengukuran tingkat evaluasi
dan kepercayaan terhadap atribut harga :
Contoh pengukuran tingkat evaluasi (ei) adalah :
Harga benih varietas unggul
Sangat tidak penting --- : --- : --- : --- : --- Sangat penting
1 2 3 4 5
Komponen bi yang menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya
bahwa benih padi varietas unggul memiliki atribut yang diberikan. Kepercayaan
diukur pada sebuah Skala Likert, hasil pelaksanaan atribut yang berjajar dari
sangat tidak setuju hingga sangat setuju .
Contoh pengukuran tingkat kepercayaan (bi) adalah :
Harga benih varietas A
Sangat mahal --- : --- : --- : --- : --- Sangat murah
1 2 3 4 5
Atribut yang digunakan untuk komponen ei harus sama dengan atribut
yang digunakan untuk menghitung komponen bi. Setiap varietas perlu mendapat
nilai kepercayaan konsumen untuk masing-masing atribut. Untuk memperkirakan
sikap konsumen terhadap masing-masing merek (varietas), setiap skor
kepercayaan harus terlebih dahulu dikalikan dengan skor evaluasi yang sesuai.
Hasil akhir menunjukkan sikap konsumen terhadap produk, seperti sikap suka
atau tidak suka, baik atau buruk, enak atau tidak anak dan sikap lainnya. Penila
ian
akan lebih baik jika terdapat produk sejenis yang dapat dibandingkan, sehingga
konsumen dapat memberi penilaian yang objektif.

Cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui atribut yang akan
diteliti dengan menggunakan metode focus group (Simamora, 2002). Dengan
metode ini peneliti mengumpulkan ketua-ketua kelompok tani yang dianggap
memahami produk tersebut dalam hal ini varietas unggul di Kota Solok, yang juga
didampingi oleh PPL setempat. Peneliti bersama ketua-ketua kelompok tani serta
PPL, kemudian secara bersama-sama membahas secara mendalam atribut produk
yang patut diteliti, sehingga dihasilkan sembilan atribut dari benih varietas un
ggul
di Kota Solok. Sembilan atribut tersebut adalah umur tanaman padi, produktivitas
,
kerebahan tanaman, tahan hama dan penyakit, rasa nasi, ketersediaan benih, harga
beli benih, harga jual gabah dan pemasaran hasil panen.
4.4.3 Important Performance Analysis (IPA)
Important Performance Analysis adalah suatu metode yang menganalisis
sejauh mana tingkat kepuasan seseorang terhadap kinerja suatu perusahaan.
Important mengacu pada tingkat kepentingan menurut persepsi pelanggan. Dari
berbagai persepsi tingkat kepentingan pelanggan dapat merumuskan tingkat
kepentingan yang paling dominan. Penggunaan konsep tingkat kepentingan ini
dapat menangkap persepsi yang lebih jelas mengenai pentingnya variabel (atribut)
dimata pelanggan. Sedangkan performance mengacu kepada kinerja. Rangkuti
(2002) menjelaskan bahwa inti dari analisis ini adalah tingkat kepentingan
konsumen diukur dalam kaitannya dengan apa yang seharusnya dikerjakan oleh
perusahaan agar menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas tinggi.
Sebagai indikator skala ukuran kuantitatif untuk tingkat kepentingan
menurut persepsi pelanggan dan tingkat kinerja secara nyata dari suatu produk,
dinyatakan dalam bentuk tanggapan konsumen terhadap kepuasan digunakan
skala Likert (Simamora, 2002). Skala Likert digunakan untuk mengukur tingkat
kepentingan atau harapan dan tingkat kepuasan konsumen terhadap atribut-atribut
yang ditanyakan. Berikut kelima penilaian dalam skala Likert untuk tingkat
kepentingan :
1. Jawaban sangat penting diberi nilai 5
2. Jawaban penting diberi nilai 4
3. Jawaban cukup penting diberi nilai 3

4.
Jawaban tidak penting diberi nilai 2
5.
Jawaban sangat tidak penting diberi nilai 1
Arti angka dalam Skala Likert untuk tingkat kinerja varietas unggul,
sebagai contoh Rasa nasi :
1.
Jawaban sangat tidak enak diberi nilai 1, yang berarti kinerjanya sangat
buruk/tidak baik, sehingga memberikan tingkat kepuasan sangat tidak puas.
2.
Jawabab tidak enak diberi nilai 2, yang berarti kinerjanya buruk/tidak baik,
sehingga memberikan tingkat kepuasan tidak puas.
3.
Jawaban cukup enak diberi nilai 3, berarti kinerjanya cukup baik, sehingga
memberikan tingkat kepuasan yang cukup puas.
4.
Jawaban enak diberi nilai 4 yang berarti kinerjanya baik, sehingga
memberikan tingkat kepuasan puas.
5.
Jawaban sangat enak diberi nilai 5, yang berarti kinerjanya sangat baik,
sehingga memberikan tingkat kepuasan sangat puas.
Berdasarkan Simamora (2002), untuk membuat skala linier numberik,
pertama-tama kita cari rentang skala (RS) dengan rumus :
Dimana :
Rs = Rentang skala
m = Skor tertinggi
n = Skor terendah
Nilai rata-rata terkecil yang mungkin diperoleh dari jawaban responden
adalah 1 dan nilai terbesar yang mungkin diperoleh adalah 5. Sehingga rentang
skala untuk setiap kelas adalah
. Untuk rentang skala pada tingkat
kepentingan adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

1,00
1,80
2,60
3,40
4,20

1,79
2,59
3,39
4,19
5,00

berarti
berarti
berarti
berarti
berarti

sangat tidak penting


tidak penting
cukup penting
penting
sangat penting

Untuk rentang skala pada tingkat kinerja adalah sebagai berikut :


1. 1,00
1,79 berarti sangat tidak baik
2. 1,80 2,59 berarti tidak baik
3. 2,60 3,39 berarti cukup baik
4. 3,40 4,19 berarti baik
5. 4,20 5,00 berarti sangat baik
Hasil dari perhitungan pembobotan yang dihasilkan kemudian di rataratakan
dan formulasikan dalam diagram kartesius. Masing-masing atribut
diposisikan dalam sebuah diagram. Skor rata-rata penilaian terhadap tingkat
kinerja ( X ) menunjukan posisi atribut pada sumbu X, sementara posisi atribut
pada sumbu Y ditunjukan oleh skor rata-rata tingkat kepentingan konsumen
terhadap atribut (Y ). Diagram kartesius ini dapat dilihat pada Gambar 5.
Xi
Y
Xi =
Yi = i
n
n
Dimana :
Xi = Nilai
Yi = Nilai
Xi = Total
Yi = Total
n = jumlah

rata-rata tingkat kinerja atribut ke i


rata-rata kepentingan atribut ke i
skor Tingkat Kinerja Atribut ke i
Skor Tingkat Kepentingan Atriut ke i
data konsumen

Diagram kartesius merupakan suatu bagan yang di bagi menjadi empat


bagian dan di batasi oleh dua batas garis yang berpotongan tegak lurus pada titi
k
titik (X ,Y ) . Nilai X dan Y digunakan sebagai pasangan koordinat titik atribut
yang memposisikan suatu atribut terletak pada diagram kartesius, titik tersebut
diperoleh dari rumus :
X = X
Y = Y
k k
Dimana : X = Skor rata-rata dari rata-rata tingkat kinerja seluruh atribut
Y = Skor rata-rata dari rata tingkat kepentingan seluruh atribut
k = Banyaknya atribut yang diteliti

Selanjutnya setiap atribut-atribut tersebut dijabarkan dalam diagram


kartesius pada Gambar 4.
Y
Y
(kepentingan)
Prioritas Utama
( I )
Prioritas Rendah
( III )
Prioritas Utama
( II )
Prioritas Berlebih
( IV )
(Kinerja)
X
X
Gambar 4. Diagram Kartesius
Sumber : Rangkuti, 2006
Keterangan :
1.
Kuadran I (Prioritas Utama) : Kinerja suatu faktor/variabel adalah lebih
rendah dari keinginan konsumen. Faktor atau atribut yang dianggap
mempengaruhi kepuasan pelanggann namun produk tidak sesuai dengan
keingginan pelanggan sehingga mengecewakan.
2.
Kuadran II (Pertahankan Prestasi) : Kinerja dan keinginan konsumen pada
suatu faktor/variabel berada pada tingkat tinggi dan sesuai, dianggap penting
dan memuaskan sehingga perusahaan cukup mempertahankan kinerja variabel
tersebut.
3.
Kuadran III (Priorotas Rendah) : Menunjukkan beberapa Faktor kurang
penting pengaruhnya bagi pelanggan, keberadaannya dianggap kurang penting
dan kurang memuaskan sehingga perusahaan belum perlu melakukan
perbaikan.
4.
Kuadran IV (Berlebihan) : Menunjukkan faktor yang mempengauhi pelanggan
kurang penting, akan tetapi pelaksanaanya berlebihan, dianggap kurang
penting tapi memuaskan.
4.4.4 Customers Satisfaction Index (CSI)
Customers Satisfaction Index atau Indeks Kepuasan Konsumen (IKK)
merupakan metode yang menggunakan indeks untuk mengukur tingkat kepuasan

konsumen secara menyeluruh terhadap kinerja atribut-atribut benih padi varietas


unggul. Hal ini dilakukan dengan mengukur tingkat kepentingan dan pelaksanaan
dari atribut varietas unggul. Ada empat langkah dalam perhitungan Customers
Satisfaction Index (Massnick, 1997 dalam Afifi, 2007), yaitu :
1.
Menentukan Means Important Score (MIS) dan Mean Satification Score
(MSS). Nilai ini didapat dari nilai rata-rata tingkat kepentingan dan nilai
rata-rata kinerja tiap responden.
Yi
Xi
nn =
.
=
i MIS = 1 iMSS = 1
n n
Dimana : n = Jumlah responden
Yi = nilai kepentingan atribut ke i
Xi = nilai kinerja atribut ke i
2.
Membuat Weight Faktors (WF), bobot ini merupakan persentase nilai MIS
per-atribut terhadap total MIS seluruh atribut.
MISi
WFi = x 100%
p

=
i 1
Dimana : P = jumlah atribut kepentingan
i = Atribut ke i
3. Membuat
Weight Score (WS), bobot ini merupakan perkalian antara Weight
Factor (WF) dengan Mean Satification Score (MSS)
WSi = WFi x MSSi
Total dari Weight Score (WS) atribut ke-1 (a-1) hingga atribut terakhir (a-p)
disebut dengan Weight Average Total (WAT).
4.
Menentukan nilai CSI
p
WSi
MISi
i 1

HS
Dimana : p = Atribut ke p
HS = Skala maksimum yang digunakan
CSI =
x 100%

Kriteria indeks kepuasan menggunakan kisaran 0 hingga 100% (tidak puas


hingga sangat puas), yaitu kepuasan tertinggi dicapai bila CSI menunjukkan
100%. Rentang skala yang akan digunakan disesuaikan dengan rumus sebagai
berikut :
Dimana : Rs = Rentang skala
m
= Skor tertinggi
n
= Skor terendah
b = Jumlah kelas yang akan dibuat
Rentang skala untuk CSI yang akan digunakan pada penelitian ini adalah :
Berdasarkan rentang skala tersebut, dapat dibuat lima kelas kriteria
kepuasan seperti pada Tabel 8.
Table 8 Kriteria Nilai Customers Satification Index
Nilai CSI Kriteria CSI
0 % < CSI 20 % Sangat Puas
20 % < CSI 40 % Puas
40 % < CSI 60 % Cukup Puas
60 % < CSI 80 % Kurang Puas
80 % < CSI 100 % Tidak Puas
4.5. Defenisi Operasinal
1.
Responden yaitu petani padi sawah yang pernah menggunakan varietas
Batang Piaman, Cisokan, Anak Daro dan Batang Lembang.
2.
Sikap yaitu evaluasi secara keseluruhan terhadap suatu produk yang akan
dibeli untuk memuaskan kebutuhan.
3.
Atribut yaitu ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu produk.
4.
Umur tanaman yaitu umur varietas sejak tanam sampai panen. Umur
tanaman tergantung varietas. Umur varietas Batang Piaman adalah 100

131 hari, varietas Batang Lembang adalah 97-120 hari, varietas Cisokan
adalah 110-120 hari dan varietas Anak Daro adalah 135-145 hari.
5.
Produktivitas rata-rata hasil panen aktual gabah kereng panen per ha.
Produktivitas varietas Batang Piaman sebesar 6,5-7 ton/ha GKP, varietas
Cisokan sebesar 6 ton/ha GKP, Anak Daro 5,95 ton/ha GKP dan varietas
Batang Lembang 6,5-7,80 ton/ha GKP (Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan Kota Solok, 2007)
6.
Tahan rebah yaitu kekuatan ketegakan tanaman pada saat fase masak biji
dan diukur dengan melihat posisi ketegakan tanaman. Varietas Batang
Piaman, Batang Lembang dan Cisokan cukup tahan rebah. Varietas Anak
Daro sangat tahan rebah (Departemen Pertanian, 2007).
7.
Tahan Hama dan penyakit yaitu ketahanan tanaman padi varietas unggul
terhadap hama dan penyakit padi seperti keong mas,bakteri hawar daun,
wereng, tugro, blast, dan lain-lain. Varietas Batang Piaman dan Batang
Lembang tahan terhadap penyakit blas daun dan leher. Varietas Cisokan
agak tahan bakteri busuk hawar daun (Xanthomonas oryzae), peka wereng
coklat biotipe 3 dan tahan wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan Sumatera
Utara. Varietas Anak Daro tahan terhadap penyakit virus tugro dan agak
peka terhadap blas (Departemen Pertanian, 2007).
8.
Harga beli benih yaitu harga yang diterima oleh petani pada saat ini
ketika membeli benih (sesuai dengan varietas). Harga varietas Batang
Piaman, Cisokan, Anak Daro dan Batang Lembang adalah sama, baik
untuk benih yang disubsidi maupun yang dijual di kios saprotan umum.
Harga benih bersubsidi berkisar antara Rp.5000 sampai dengan Rp.20.000.
Harga ini tergantung kesepakatan anggota kelompok tani. Sedangkan
harga benih di kios saprotan umum berkisar antara Rp.25.000 sampai
dengan Rp.27.000. Harga ini tergantung persediaan benih dipasaran.
9.
Rasa nasi yaitu rasa nasi dari varietas padi dan lebih tergantung selera
konsumen.
10. Ketersediaan benih yaitu kemudahan petani dalam mendapatkan benih,
baik benih bersubsidi dikios saprotan kelompok tani maupun di Kios
saprotan umum.

11. Harga jual gabah yaitu harga jual Gabah Kering Panen (GKP) yang
diterima petani saat menjual kepemborong. Harga GKP minimal yang
ditetapkan oleh pemerintah Kota Solok adalah Rp.2.035/kg GKP.
12. Pemasaran hasil panen yaitu mudah atau tidaknya menjual hasil panen
baik kepada pemborong maupun kepada pihak lainnya yang membeli
berupa GKP.

V GAMBARAN UMUM KOTA SOLOK


5.1 Letak Geografis Kota Solok
Kota Solok merupakan salah satu dari tujuh kota yang ada di propinsi
Sumatera Barat dan memiliki visi Terciptanya Tata Pemerintahan Daerah yang
Baik, Meningkatnya Ekonomi Rakyat, Meningkatnya Kualitas Pendidikan dan
Tersedianya Infrastruktur Kota yang Memadai Guna Mewujudkan Kesejahteraan
Masyarakat .
Pembentukan pemerintahan daerah Tingkat II Solok berdasarkan UndangUndang No. 8 tahun 1956 yang menetapkan Kota Solok sebagai kota kecil.
Kemudian berdasarkan Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1970
tanggal 17 Desember 1970 di tetapkan Kota Solok sebagai Daerah Otonom
Pemerintahan Tingkat II Kotamadya Solok. Selanjutnya berdasarkan UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah penggunaan istikah
Kotamadya diganti dengan Kota, sehingga secara resmi sebutan Kotamadya Solok
diganti dengan Kota Solok.
Posisi astronomis geografis Kota Solok terletak antara 0032 LS sampai
dengan 1045 LS dan 100032 BT sampai dengan 101041 BT. Kota Solok terletak
pada posisi geografis yang sangat strategis dengan luas wilayah 57.64 km2 (0.14
persen dari luas Propinsi Sumatera Barat). Kota Solok dikelilingi beberapa nagar
i
pada Kabupaten Solok, dimana Kota Solok memiliki peran sentral didalam
menunjang perekonomian masyarakat Kota Solok dan Kabupaten Solok pada
umumnya. Batas Kota Solok antara lain :
Utara: Kecamatan Nagari Tanjuang Bingkuang, Aripan dan Kuncir Kab. Solok
Selatan:Kecamatan Nagari Gaung, Panyakalan, Koto Baru, Selayo Kab. Solok
Barat:Kecamatan Nagari Selayo, Koto Sani Kabupaten Solok
Timur:Kecamatan Nagari Saok Laweh, Guguk Sarai dan Gaung Kab. Solok
Topografi Kota Solok bervariasi antara dataran dan berbukit dengan
ketinggian 390 dpl serta curah hujan rata-rata 184,31 mm kubik per tahun.
Terdapat tiga anak sungai yang melintasi Kota Solok, yaitu Sungai Batang
Lembang, Sungai Batang Gawan dan Sungai Batang Air Binguang. Suhu udara

berkisar dari 26,1C sampai 28,9C. Dilihat dari jenis tanah, 21,76 persen tanah di
Kota Solok merupakan tanah sawah dan sisanya 78,24 persen berupa tanah kering.
Posisi Kota Solok yang berada disimpul jalan Lintas Sumatera
memberikan kontribusi positif terhadap meningkatnya arus lalu lintas angkutan
umum baik Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) maupun angkutan umum Antar
Kota Antar Propinsi (AKAP). Khusus untuk bus AKAP, lalu lintas kendaraan
tidak hanya ramai disiang hari, tetapi juga pada malam hari.
Wilayah Kota Solok secara administrasi terdiri dari dua kecamatan dengan
tiga belas kelurahan. Kecamatan Lubuk Sikarah yang terdiri dari tujuh kelurahan
yaitu Kelurahan Tanah Garam, Kelurahan VI Suku, Kelurahan Sinapa Piliang,
Kelurahan IX Korong, Kelurahan Kampai Tabu Karambia, Kelurahan Aro IV
Korong dan Kelurahan Simpang Rumbio. Sedangkan Kecamatan Tanjung
Harapan terdiri dari enam kelurahan yaitu : Kelurahan Koto Panjang, Kelurahan
Pasar Pandan Air mati, Kelurahan Tanjung Paku, Kelurahan Nan Balimo,
Kelurahan Kampung Jawa dan Kelurahan Laing.
Kecamatan Lubuk Sikarah memiliki luas areal persawahan sebesar 947 ha,
sedangkan Kecamatan Tanjung Harapan memiliki luas areal persawahan sebesar
307 ha seperti terlihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Luas Areal Persawahan Di Kota Solok Per Kelurahan Tahun 2007
No Kecamatan Lubuk Sikarah Kecamatan Tanjung Harapan
Kelurahan Luas Lahan (Ha) Kelurahan Luas Lahan (Ha)
1 Tanah Garam 340 Koto Panjang 0
2 Simpang Rumbio 161 PPA 5
3 IV Suku 103 Tanjung Paku 119
4 KTK 96 Nan Balimo 116
5 IX Korong 126 Kampung Jawa 15
6 Sinapa Piliang 40 Laing 52
7 Aro IV Korong 81
TOTAL 947 307
Sumber : Kota Solok Dalam Angka 2007, 2007
66

5.2 Penduduk
Penduduk Kota Solok berdasarkan hasil sensus Penduduk pada tahun 2000
berjumlah 48.120 jiwa dengan laju pertumbuhan antar sensus rata-rata 1,24
persen. Jumlah penduduk Kota Solok pada akhir tahun 2007 adalah sebanyak
57.120 jiwa dengan kepadatan 964 jiwa/km. Dari hasil registrasi penduduk tahun
2007 secara keseluruhan penduduk yang datang ke Kota Solok lebih banyak
dibandingkan dengan penduduk yang pindah. Komposisi penduduk Kota Solok
dari tahun 2000 sanpai tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Komposisi Penduduk Kota Solok Tahun 2000-2007
Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Total
Laki-Laki Perempuan
2000 23.702 24.418 48.120
2001 24.934 24.896 49.081
2002 24.701 25.303 50.004
2003 26.722 27.140 53.862
2004 26.691 27.687 54.378
2005 26.753 27.774 54.527
2006 26.784 27.880 54.664
2007 27.988 29.132 57.120
Sumber : Kota Solok Dalam Angka 2007, 2007
Dilihat dari perbandingan penduduk antar Kecamatan, penduduk
Kecamatan Lubuk Sikarah lebih besar dibandingkan dengan Kecamatan Tanjung
Harapan. Akan tetapi kepadatan penduduk justru sebaliknya, penduduk di
Kecamatan Tanjung Harapan lebih padat dibandingkan dengan Kecamatan Lubuk
Sikarah. Berdasarkan persentase penduduk 10 tahun keatas menurut lapangan
pekerjaan, sebanyak 10,04 persen penduduk Kota Solok bermata pencarian
sebagai petani padi sawah.
5.3 Perekonomian
Sektor perdagangan dan jasa-jasa merupakan lapangan usaha yang banyak
digeluti oleh penduduk usia kerja di Kota Solok, yakni masing-masing sebesar
34,94 persen dan 31,25 persen. Lancarnya arus lalu lintas akan sangat menunjang
perkembangan perekonomian daerah. Posisi Kota Solok yang dinilai sangat
strategis karena berada dipersimpangan jalan antar kota Lintas Sumatera, sangat
potensial untuk pengembangan sektor perdagangan. Untuk memacu pertumbuhan

sektor perdagangan di masa yang akan datang, perkembangan pasar perlu


diarahkan kepada pasar modern dengan tidak mengesampingkan pasar tradisional
yang sudah ada.
Pedagang yang terdapat di Kota Solok berjumlah 2.825 orang, dan sebesar
55,22 persen berkonsentrasi di Pasar Raya Solok serta sisanya tersebar di 13
kelurahan yang ada di Kota Solok, terutama disepanjang jalan utama.
Perkembangan jumlah pedagang kecil dan menengah di Pasar Raya Solok
berdasarkan TDP (Tanda daftar Perusahan) dari tahun ke kahun mengalami
kenaikan, terutama untuk jumlah pedagang menengah.
Dilihat dari segi PRDB (Produk Domestik Regional Bruto), dari tahun ke
tahun PRDB Kota Solok terus mengalami peningkatan. Menurut angka berlaku,
PRDB tahun 2007 berjumlah 756,81 miliar rupiah atau naik 11,98 persen dari
tahun sebelumnya. Bila dicermati pertumbuhan masing-masing lapangan usaha
pada tahun 2007, pertumbuhan tertinggi dipegang oleh sektor listrik dan air bers
ih
yaitu sebesar 8,04 persen dan terendah sektor pertanian yaitu sebesar 3,19 perse
n.
Dilihat dari kontribusi masing-masing sektor dalam pembentukan PRDB Kota
Solok, ternyata sektor jasa-jasa merupakan sektor yang memberikan kontribusi
tertinggi yaitu sebesar 24,09 persen.
Selain sektor jasa-jasa, sektor-sektor yang kontribusinya diatas 10 persen
adalah, sektor angkutan dan komunikasi sebesar 21,46 persen, sektor bangunan
dan konstruksi sebesar 14,03 persen dan sektor perdagangan, hotel dan restoran
sebesar 10,21 persen. Sektor-sektor lain yang peranan hanya dibawah 10 persen
yaitu sektor industri pengolahan 9,25 persen, sektor pertanian 9,13 persen, sekt
or
keuangan dan persewaan 7,75 persen, sektor listrik, gas dan air bersih 3,39 pers
en
serta sektor penggalian 0,69 persen.
Sampai saat sekarang, alat untuk mengukur tingkat kemakmuran
masyarakat suatu daerah secara tepat belum ditemukan, namun secara tidak
langsung satu ukuran yang dianggap dapat mendekati pencapaian kemakmuran
adalah dengan menggunakan angka pendapatan regional perkapita. Pendapatan
regional perkapita masyarakat di Kota Solok pada tahun 2006 adalah berjumlah
10,42 juta rupiah, dan pada tahun 2007 naik menjadi 11,46 juta rupiah.

Sektor industri dilihat dari segi kuantitas, terjadi perubahan jumlah


industri, baik industri formal maupun non formal. Jumlah industri formal di Kota
Solok sebanyak 172 buah dan informal sebanyak 366 buah. Industri kimia, agro
dan hasil hutan merupakan sektor usaha industri formal terbanyak di Kota Solok.
Untuk sektor informal, yang terbanyak berasal dari sektor industri logam, mesin
dan elektronika.
5.4 Pertanian
5.4.1 Tanaman Pangan dan Perkebunan
Padi sawah tercatat sebagai komoditi pertanian andalan di Kota Solok.
Hampir setiap kelurahan menanam padi sawah, dengan areal yang paling luas di
Kelurahan Tanah Garam yaitu 27,11 persen dari luas areal. Pada tahun 2007
produksi GKP Kota Solok sebesar 20.073,49 ton.
Disamping padi sawah, masyarakat petani di Kota Solok juga menanam
berbagai komoditi lainnya seperti : jagung, ubi kayu, kacang tanah, cabe dan
bawang merah, dan hampir semuanya mengalami peningkatan produksi pada
tahun 2007. Usaha perkebunan di Kota Solok merupakan usaha perkebunan rakyat
dengan lahan terbatas, dan hanya dijadikan sebagai usaha penunjang kehidupan
keluarga.
5.4.2 Peternakan dan Perikanan
Usaha peternakan di Kota Solok lebih disukai petani untuk jenis ternak
besar berupa sapi, kerbau, kuda dan kambing. Populasi sapi pada tahun 2007
berjumlah 4.277 ekor dan 23,66 persen diantaranya berada di Kelurahan tanah
Garam. Sedangkan ternak kambing di pelihara oleh masyarakat sebanyak 1.196
ekor. Disamping ternak besar, unggas juga banyak di budidayakan masyarakat
terutama jenis ayam buras, ayam pedaging, ayam petelur dan itik.
Dalam sektor perikanan, terdapat tiga jenis budidaya ikan di Kota Solok,
yaitu budidaya ikan kolam, ikan sawah dan ikan keramba. Kebanyakan ikan yang
dibudidayakan itu adalah ikan Mas, Tawas, Gurame, Mujair, Nila dan Lele.

VI KARAKTERISTIK PETANI DAN


PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN BENIH PADI VARIETAS UNGGUL
DI KOTA SOLOK
6.1 Karakteristik Petani Responden
Petani yang menjadi responden dalam penelitian ini diambil dari petani
yang terdaftar di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Solok, dengan
jumlah responden 94 orang. Petani responden adalah perempuan dan laki-laki
dengan persentase masing-masing 59 persen dan 41 persen. Jumlah petani
perempuan lebih banyak dibandingkan petani laki-laki karena sebagian besar lakil
aki
dari keluarga petani di Kota Solok bekerja sebagai pedagang, buruh bangunan
bangunan atau wiraswasta. Hal ini juga tidak terlepas dari kebudayaan masyarakat
Sumatera Barat yang menganut sistem matrilinial.
Motivasi petani perempuan ini memilih bertani sebagai mata pencarian
mereka adalah untuk menambah penghasilan keluarga, memenuhi kebutuhan
sendiri ataupun mengelola sawah warisan. Sebagian besar petani berusia antara
41-50 tahun (42%) dan telah berkeluarga dengan jumlah anggota keluarga
sebagian besar sebanyak lima orang (suami, istri dan anak) (34%).
Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh petani di Kota Solok bervariasi,
mulai dari tidak bersekolah, sampai SMU atau sederajat. Tingkat pendidikan yang
umum dimiliki oleh petani responden di Kota Solok adalah SD atau sederajat (49
%). Sedangkan responden yang berpendidikan SMU adalah sebanyak 23 persen.
Petani yang tamatan SMU memilih bertani sebagai mata pencarian karena
melanjutkan pekerjaan orang tua, sambil melaksanakan usaha lain seperti
berdagang. Tingkat pendapatan per bulan petani responden diluar sawah sendiri
umumnya tidak menentu (53%), terutama bagi petani yang memiliki pekerjaan
sampingan sebagai buruh tani. Hal ini dikarenakan, buruh tani di Kota Solok
mendapat upah bisa berupa uang padi, ataupun upah tenaga.
Petani yang memilih bertani sebagai pekerjaan utama mereka adalah
sebanyak 97 persen, dengan pekerjaan sampingan adalah sebagai buruh tani atau
pedangang kecil-kecilan. Sedangkan tiga persen memilih bertani sebagai
pekerjaan sampingan mereka karena mereka telah memiliki pekerjaan utama

71
sebagai pedagang atau pegawai, tetapi tetap harus mengelola sawah warisan.
Untuk lebih jelasnya, karakteristik petani responden dapat dilihat pada Tabel 11
.
Tabel 11 Karakteristik Petani Responden
No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Jenis Kelamin Laki-Laki 39 41
Perempuan 55 59
Total 94 100
2 Umur .. 40 Tahun 19 20
41-50 Tahun 41 42
51-60 Tahun 24 25
> 60 Tahun 10 13
Total 94 100
3 Jumlah Anggota
Keluarga
..4 Orang 19 20
5 Orang 33 34
6 Orang 28 28
7 Orang 8 10
..8 Orang 6 8
Total 94 100
4 Pendidikan Terakhir Tidak Sekolah 4 5
SD 46 49
SMP 22 23
SLTA 22 23
Total 94 100
5 Rata-Rata Pendapatan
Per Bulan
Tidak Menentu 51 53
< Rp.500.000 7 8
Rp.500.000-999.999 18 19
Rp.1000.0001.999.999
15 16
> Rp.2000.000 3 4
Total 94 100
6 Pekerjaan Sebagai
Petani
Pekerjaan Utama 91 97
Pekerjaan Sampingan 3 3
Total 94 100
Petani responden di Kota Solok telah melakukan usaha budidaya padi
sawah selama lebih dari 21 tahun (32%), dengan status lahan 81 persen milik
sendiri. Lahan tersebut merupakan warisan dari orang tua mereka, khusus bagi
masyarakat Solok asli ataupun lahan yang dibeli sendiri untuk budidaya padi
sawah bagi penduduk pendatang. Petani responden yang menyewa lahan,
melakukan kegiatan sewa menyewa lahan dari petani-petani yang memiliki lahan
yang lebih luas dengan sistem bagi hasil maupun tunai.

72
Luas lahan yang digarap sebagian besar petani (53%) berkisar antara 1 ha 1,9 ha, dengan budidaya dan panen dalam satu tahun sebanyak dua kali (100%).
Hasil panen tergantung dari varietas dan serangan hama penyakit Untuk
meminimalkan serangan hama penyakit, petani di Kota Solok melakukan
penaman padi secara serentak dengan varietas padi yang sesuai dengan
keingginan masing-masing petani tetapi memiliki umur yang tidak berbeda jauh.
Saat sekarang ini sebanyak 36 persen petani di Kota Solok sedang menanam
varietas Anak Daro. Hal ini bisa dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Karakteristik Petani Responden
No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Lama Menanam Padi 1-5 Tahun 1 1
6-10 Tahun 15 16
11-15 Tahun 19 20
16-20 Tahun 28 29
.. 21 Tahun 31 32
Total 94 100
2 Status lahan Milik Sendiri 78 81
Sewa 16 19
Total 94 100
3 Luas Lahan < 1 Ha 16 18
1-1.9 Ha 52 53
2-2.9 Ha 19 21
.. 3 7 8
Total 94 100
4 Budidaya Dan Panen
Dalam satu tahun
1 Kali 0 0
2 Kali 94 100
3 Kali 0 0
Total 94 100
5 Saat ini sedang
menanam varietas
Batang Piaman 10 11
Cisokan 32 34
Anak Daro 35 36
Batang Lembang 17 19
Total 94 100
Tiga perempat dari hasil panen dijual langsung kepada pemborong yang
datang langsung ke lokasi panen, dengan alasan lebih praktis dalam pemasaran
serta petani tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk pengolahan pasca panen.
Tetapi dengan sistem ini petani mengalami kerugian karena mendapat harga
murah karena hanya menjual Gabah Kering Panen (GKP). Harga GKP yang di
terima oleh petani bervariasi antara Rp.4000/sukat padi sampai Rp.5000 per sukat

padi, tergantung varietas dan kesepakatan. Varietas Cisokan dan Anak Daro
biasanya dijual dengan harga yang lebih tinggi dibanding varietas Batang Piaman
dan Batang Lembang.
6.2 Proses Keputusan Pembelian Benih Padi Varietas Unggul
Proses keputusan terdiri dari lima tahapan yaitu pengenalan kebutuhan,
pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan tahap pasca
pembelian. Berikut merupakan penjelasan tahapan-tahapan proses keputusan
pembelian petani padi terhadap benih varietas unggul di Kota Solok.
6.2.1 Tahapan Pengenalan Kebutuhan
Sebelum melakukan suatu kegiatan, konsumen harus mengetahui motivasi
serta harapan yang diinginkan dari dilaksanakannya kegiatan tersebut, begitu jug
a
halnya dengan bercocok tanam padi sawah. Untuk memotivasi pembelian benih
padi varietas unggul oleh petani, perlu diketahui motivasi apa yang membuatnya
bekerja sebagai petani padi, sejauh mana pentingnya varietas unggul bagi petani
dan apa yang diharapkan dari penggunaan varietas unggul tersebut. Tahapan
pengenalan kebutuhan yang dilakukan oleh petani di Kota Solok bisa dilihat pada
Tabel 13.
Petani responden di Kota Solok termotivasi untuk bertanam padi yaitu
bertujuan untuk memperoleh keuntungan (60%), karena sebagian besar (97%)
diantara mereka menjadikan bertani padi sawah sebagai pekerjaan utama,
disamping mengelola sawah warisan dari orang tua ataupun kakek nenek mereka.
Selain itu, sebanyak 36 persen petani responden termotivasi untuk bertani karena
sudah merupakan pekerjaan turun temurun.
Petani menilai bahwa penggunaan benih varietas unggul dalam budidaya
padi sawah sangat penting (76%), dengan harapan hasil panen akan meningkat
(52%). Petani menilai dengan menggunakan varietas unggul, daya tumbuh benih
akan lebih tinggi, lebih tahan terhadap penyakit serta pertumbuhan malai lebih
panjang sehingga hasil panen bisa meningkat.

Tabel 13 Tahapan Pengenalan Kebutuhan


No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Motivasi Bertanam
Padi
Memperoleh
Keuntungan
56 60
Turun Temurun 34 36
Memenuhi Kebutuhan
Sendiri
4 4
Total 94 100
2 Pentingnya Benih
Varietas Unggul
Sangat Penting 71 76
Penting 18 19
Cukup Penting 5 5
Tidak Penting 0 0
Sangat Tidak Penting 0 0
Total 94 100
3 Harapan Penggunaan
Benih Varietas Unggul
Hasil Panen yang
lebih Banyak
51 52
Waktu panen yang lebih
cepat
4 4
Kualitas padi yang lebih
baik
41 44
Total 94 100
6.2.2 Tahapan Pencarian Informasi
Setelah mengetahui kebutuhan yang diinginkan dari sebuah produk,
konsumen akan melakukan pencarian informasi. Informasi yang didapatkan oleh
konsumen, bisa mempengaruhi proses keputusan pembelian dan pemakaian
produk tersebut. Bagi petani, informasi tentang benih padi akan mempengaruhi
petani dalam pengambilan keputusan untuk budidaya padi sawah dengan
menggunakan benih padi varietas unggul.
Sumber informasi umumnya diperoleh petani melalui Petugas Penyuluh
Lapang (PPL) (72%). Sedangkan sisanya mengetahui benih varietas unggul dari
kios saprotan umum teman dan keluarga mereka. PPL di Kota Solok telah
memulai menginformasikan benih varietas unggul semenjak awal masuknya benih
varietas unggul di Kota Solok tahun 1964, dengan membentuk kelompok tani.
Sebelum mempromosikan benih varietas unggul, penyuluh pertaniaan
Kota Solok terlebih dahulu mengadakan lahan percobaan yang dikelola oleh
petani. Sehingga 100 persen petani sangat mempercayai sumber informasi dari
pihak PPL tersebut karena telah melihat hasilnya terlebih dahulu. Untuk lebih

jelasnya tahapan pencarian informasi yang dilakukan oleh petani di Kota Solok
bisa dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Tahapan Pencarian Informasi
No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Sumber informasi Diri Sendiri 0 0
Keluarga / Teman 18 19
PPL / Kelompok Tani 68 72
Kios Saprotan 8 9
Media Massa/Elektronik 0 0
Total 94 100
2 Sumber informasi yang
Dipercaya
Diri Sendiri 0 0
Keluarga / Teman 0 0
PPL / Kelompok Tani 94 100
Kios Saprotan 0 0
Total 94 100
6.2.3. Tahapan Evaluasi Alternatif
Berdasarkan Tabel 15 terlihat bahwa hal utama yang dipertimbangkan
petani dalam membeli benih varietas unggul adalah rasa nasi yang enak (76%),
produktifitas (17%) dan umur tanaman yang pendek (7%). Petani beralasan bahwa
varietas yang memiliki rasa nasi yang enak sangat laku dipasaran dan bisa dijual
dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu, disamping untuk dijual, hasil panen
juga digunakan untuk konsumsi sendiri. Atribut lain yang dipertimbangkan adalah
tahan terhadap hama penyakit dan umur tanaman padi yang pendek.
Tabel 15 Tahapan Evaluasi Alternatif
No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Pertimbangan Utama
(Prioritas Utama)
Rasa Nasi 71 76
Produktifitas 16 17
Umur Tanaman 7 7
Total 94 100
6.2.4 Tahapan Keputusan Pembelian
Varietas yang banyak disukai dan sering dibeli oleh petani responden
adalah Cisokan (48%) dan Anak Daro (44%). Sedangkan varietas Batang Piaman
dan Batang Lembang hanya 5 persen dan 3 persen. Selain telah lama dikenal oleh
petani, varietas Cisokan dan Anak Daro juga memiliki rasa nasi yang cocok dan
75

sesuai dengan lidah petani dan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya. Petani
membeli benih tersebut secara terencana (96%) dan petani umumnya membeli
benih padi di kios saprotan kelompok tani (52%), dengan alasan kualitas benih
terjamin (89%). Seperti telihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Tahapan Keputusan Pembelian
No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Varietas Yang
sering Dibeli
Anak Daro 41 44
Cisokan 45 48
Batang Piaman 5 5
Batang Lembang 3 3
Total 94 100
2 Cara memutuskan
Pembelian
Terencana 90 96
Mendadak 0 0
Tergantung Situasi 4 4
Total 94 100
3 Tempat Pembelian
Benih
Penangkar Benih 2 2
Kios Saprotan 43 46
Kios Saprotan
Kelompok Tani
49 52
Total 94 100
4 Alasan Pemilihan
Tempat Pembelian
Dekat Dengan Rumah 0 0
Sudah Kenal dekat 0 0
Merupakan Anggota
Kelompok
10 11
Kualitas Benih
Terjamin
84 89
Total 94 100
5 Jarak Lokasi
Pembelian
< 1 Km 83 88
1- 5 Km 8 9
> 5 Km 3 3
Total 94 100
6 Harga Beli Benih
(Kemasan 5 kg)
Rp.5000 6 6
Rp.10.000 32 34
Rp.15.000 17 18
Rp.20.000 15 16
Rp.25.000 24 26
Rp.27.000 0 0
Total 94 100
7 Kebutuhan Benih
Per Ha
< 20 kg 0 0
20-25 kg 91 94

> 25 kg 3 6
Total 94 100

Pada Tabel 16 juga terlihat bahwa jarak rumah petani responden dengan
tempat pembelian benih umumnya adalah < 1 km (88%), dengan intensitas
pembelian disesuaikan dengan berapa kali responden menanam padi dalam satu
tahun. Petani di Kota Solok menanam padi dengan waktu penanaman disesuaikan
dengan petani yang mempunyai petak sawah berdekatan. Harga beli benih yang
sekarang di budidayakan oleh petani untuk satu kemasan berisi lima kilogram
adalah Rp.10.000 (34%), harga tersebut adalah harga yang didapat dari kelompok
tani.
Tiap kios saprotan kelompok tani menerapkan harga yang berbeda kepada,
mulai dari Rp.5000
Rp.20.000. Kios saprotan kelompok tani ini juga
menerapkan harga yang berbeda bagi petani anggota kelompok dan petani bukan
kelompok. Bagi petani yang membeli benih diluar kios saprotan kelompok tani,
saat ini membeli benih dengan harga Rp. 25.000 per lima kilogram (26 %). Harga
benih di luar kios saprotan kelompok tani berfluktuatif, sesuai dengan
ketersediaan benih dipasar. Jumlah benih yang dibeli disesuaikan dengan
kebutuhan benih di area, yaitu berdasarkan luas lahan. Umumnya untuk satu
hektar areal tanam, petani membutuhkan 20-25 kg benih (94%).
6.2.4 Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian
Setelah memakai produk yang dibeli, petani bisa merasakan manfaat dan
memberikan penilaian terhadap produk tersebut. Petani responden merasa puas
terhadap produk yang digunakannya (90%), dengan berbagai alasan diantaranya,
produktivitas yang tinggi dan rasa nasi yang enak. Jika terjadi kenaikan harga
benih yang biasa dibeli, petani akan terus membeli (98%) karena telah merasakan
manfaat dari benih tersebut. Sedangkan petani yang tidak jadi membeli, akan
menggunakan benih sendiri atau membeli benih lain. Apabila benih yang biasa
dipakai tidak tersedia di tempat biasa membeli, petani akan mencari ditempat lai
n
(96%) seperti terlihat pada Tabel 17. Jika benih tersebut masih tidak ditemukan,
barulah petani mempertimbangkan untuk membeli varietas lain atau
menggunakan benih JABAL atau Jalinan Arus Benih Antar Lapang.

Tabel 17 Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian


No Keterangan Kategori Jumlah Persentase (%)
1 Puas Terhadap Benih Yang
Digunakan
Puas 85 90
Tidak Puas 9 12
Total 94 100
2 Jika benih yang Biasa Dipakai
Mengalami Kenaikan Harga
Tetap Membeli 92 98
Tidak Jadi membeli 2 2
Total 94 100
3 Jika Benih yang Biasa Dipakai
Tidak Tersedia Ditempat
Biasa Membeli
Menggunakan
Benih Sendiri
1 1
Membeli Varietas
Lain
3 3
Mencari Ditempat
Lain
90 96
Total 94 100
78

VII ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI PADI


7.1 Analisis Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas Unggul
7.1.1 Analisis Kepentingan dan Kinerja Atribut
Penilaian terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut perlu dilakukan,
untuk mengetahui kepuasan konsumen secara keseluruhan terhadap benih varietas
unggul serta mengetahui atribut mana yang perlu mendapat perhatian. Dari tingkat
kepentingan dan kinerja akan diketahui sejauh mana tingkat kinerja atribut dapat
memenuhi kebutuhan petani responden. Atribut yang menjadi pertimbangan
petani dan akan dibahas ada sembilan atribut, yaitu umur tanaman, produktivitas,
kerebahan, tahan hama penyakit, rasa nasi, ketersedian benih, harga beli benih,
harga jual gabah dan pemasaran hasil panen.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 94 responden, atribut
yang memiliki nilai total tingkat kepentingan paling tinggi adalah harga jual ga
bah
yaitu sebesar 417 dengan skor rata-rata adalah 4,44. Nilai tersebut berada pada
rentang skala 4,20
5,00 yang termasuk kedalam kategori sangat penting. Atribut
yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi kedua adalah rasa nasi yaitu sebesar
416 dengan skor rata-rata adalah 4,43. Nilai tersebut berada pada rentang skala
4,20 5,00 yang termasuk pada kategori sangat penting.
Tabel 18 Kepentingan Atribut-Atibut Varietas Unggul
Atribut Kepentingan Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Umur tanaman padi 0 0 18 32 44 402 4,27
Produktivitas 0 0 12 35 47 411 4,37
Kerebahan tanaman 0 0 17 46 31 390 4,14
Tahan hama penyakit 0 0 5 53 35 405 4,31
Rasa nasi 0 1 7 37 49 416 4,43
Ketersediaan benih 0 0 21 30 43 398 4,23
Harga beli benih 0 9 39 41 5 324 3,45
Harga Jual Gabah 0 0 12 29 53 417 4,44
Pemasaran hasil panen 0 0 10 50 34 400 4,25
Total 3563 37,89
Keterangan : 1 : Sangat Tidak Penting 2 : Tidak Penting 3 : Cukup Penting
4 : Penting 5 : Sangat Penting
Atibut yang memiliki nilai total tingkat kepentingan paling rendah adalah
harga beli benih yaitu sebesar 324 dengan skor rata-rata 3,45. Nilai tersebut

berada pada rentang 3,40-4,19 yang termasuk dalam kategori penting. Nilai
kepentingan atibut-atribut benih varietas unggul di Kota Solok secara lengkap
dapat dilihat pada Tabel 18.
a. Kinerja Umur Tanaman Padi
Varietas Batang Piaman memiliki umur antara 100-131 hari, umur varietas
Batang Lembang adalah 97-120 hari, varietas Cisokan adalah 110-120 hari dan
varietas Anak Daro memiliki umur antara 135-145 hari. Nilai tingkat kinerja umur
tanaman sangat panjang adalah 131-140 hari, tingkat kinerja umur tanaman
panjang adalah 121-130 hari, cukup pendek 111-120 hari, pendek 101-110 hari
dan sangat pendek 90-100 hari.
Umur tanaman varietas unggul yang memiliki kinerja lebih baik diantara
empat varietas unggul yang diteliti adalah varietas Cisokan, dengan nilai total
kinerja sebesar 352 dengan skor rata-rata 3,74 yang termasuk kedalam kriteria
umur tanaman pendek (3,40-4,19). Sedangkan varietas yang memiliki kinerja
umur tanaman rendah adalah varietas Anak Daro, dengan nilai total kinerja
sebesar 219 dengan skor rata-rata 2,32 yang termasuk kedalam kriteria umur
tanaman panjang (1,80-2,59). Hasil kinerja atribut umur tanaman padi lebih
lengkap dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Tingkat Kinerja Umur Tanaman
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor Ratarata1
2 3 4 5
Umur Tanaman Batang Piaman 0 0 32 62 0 344 3,66
Umur Tanaman Cisokan 0 0 24 70 0 352 3,74
Umur Tanaman Anak Daro 2 59 33 0 0 219 2,32
Umur Tanaman Batang Lembang 0 0 34 60 0 342 3,64
Keterangan : 1 : Sangat Panjang 2 : Panjang 3 : Cukup Pendek
4 : Pendek 5 : Sangat Pendek
b. Kinerja Produktivitas
Produktivitas rata-rata masing-masing varietas menurut Dinas Pertanian
dan Ketahanan Pangan Kota Solok (2007) adalah varietas Batang Piaman sebesar
6,5-7 ton/ha GKP, varietas Cisokan sebesar 6 ton/ha GKP, Anak Daro 5,95 ton/ha
GKP dan varietas Batang Lembang 6,5-7,80 ton/ha GKP. Petani di Kota Solok

biasa menjual hasil panen dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP), sehingga
pengukuran produktivitas dalam penelitian ini dinilai dalam bentuk GKP.
Nilai tingkat kinerja produktivitas sangat rendah menilai bahwa
produktivitas varietas sebesar 3 ton/ha GKP, tingkat kinerja produktivitas renda
h
adalah sebesar 4 ton/ha GKP, tingkat kinerja produktivitas cukup tinggi adalah
sebesar 5 ton/ha GKP, tingkat kinerja produktivitas tinggi adalah sebesar 6 ton/
ha
GKP, tingkat kinerja produktivitas sangat tinggi adalah sebesar 7 ton/ha GKP.
Sebanyak 75 orang petani berpendapat bahwa kinerja produktivtas varietas
Batang Piaman adalah tinggi. Tetapi, nilai total kepuasan petani responden
terhadap tingkat kinerja produktivitas keempat varietas unggul tidak berbeda jau
h,
yaitu Batang Piaman (389), Cisokan (378), Anak Daro (379) dan Batang Lembang
(383). Skor rata-rata keempat varietas unggul tersebut berada pada rentang skala
3,40-4,19 yang termasuk kedalam kriteria produktivitas tinggi. Hasil kinerja
produktivitas varietas unggul lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20 Tingkat Kinerja Produktivitas
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor Ratarata1
2 3 4 5
Prodiktivitas Batang Piaman 0 0 3 75 16 389 4,14
Prodiktivitas Cisokan 0 5 14 52 24 378 4,02
Prodiktivitas Anak Daro 0 2 10 68 15 379 4,03
Prodiktivitas Batang Lembang 0 0 8 71 15 383 4,08
Keterangan : 1 : Sangat Rendah 2 : Rendah 3 : Cukup Tinggi
4 : Tinggi 5 : Sangat Tinggi
c. Kinerja Kerebahan Tanaman
Tahan rebah memiliki peran yang penting dalam budidaya tanaman padi
sawah. Jika tanaman padi tidak tahan rebah maka saat berbuah, batang tanaman
tidak sanggup menyangga butir-butir padi dan menyebabkan tanaman mudah
roboh. Ketahanan batang tanaman akan sangat diperlukan dalam menghadapi
kondisi alam yang tidak bersahabat, seperti hujan lebat, angin kencang dan tanah
yang terlalu berlumpur sehingga tanaman akan mudah roboh. Kondisi tersebut
akan menurunkan produksi karena akan menghilangkan butir-butir padi. Batang
dari tanaman padi yang tidak kokoh juga akan menyebabkan tanaman tersebut
mudah rebah apabila terserang hama dan penyakit, seperti hama keong.

Menurut literatur yang didapat, kerebahan varietas Batang Piaman,


Cisokan dan Batang Lembang adalah sama yaitu sedang. Sedangkan varietas
Anak Daro tahan terhadap kerebahan. Berdasarkan hasil analisis, nilai total
kepuasan petani responden terhadap tingkat kinerja ketahanan keempat tanaman
padi varietas unggul tidak berbeda jauh, yaitu Batang Piaman (372), Cisokan
(369), Anak Daro (376) dan Batang Lembang (374). Skor rata-rata keempat
varietas unggul tersebut berada pada rentang skala 3,40-4,19 yang termasuk
kedalam kriteria tahan rebah. Hasil kinerja kerebahan tanaman varietas unggul
lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21 Tingkat Kinerja Kerebahan Tanaman
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Kerebahan Tanaman Batang Piaman 0 6 9 62 17 372 3,96
Kerebahan Tanaman Cisokan 0 6 8 67 13 369 3,93
Kerebahan Tanaman Anak Daro 0 6 17 42 29 376 4,00
Kerebahan Tanaman Batang Lembang 0 4 8 68 14 374 3,98
Keterangan : 1 : Sangat Rentan 2 : Rentan 3 : Cukup Tahan
4 : Tahan 5 : Sangat Tahan
Penggunaan varietas unggul yang disertai dengan perawatan yang tepat
menurut petani bisa mengurangi tingkat kerebahan tanaman. Hal ini juga
didukung oleh tekstur batang yang kokoh dan ukuran tanaman yang tidak terlalu
tinggi. Menurut petani kerebahan tanaman varietas unggul di Kota Solok jauh
lebih baik dibanding 10 tahun yang lalu. Meskipun demikian, petani berharap
kinerja kerebahan tanaman dapat ditingkatkan lagi.
d. Kinerja Tahan Hama dan Penyakit
Tahan hama dan penyakit sangat penting dalam produksi padi. Varietas
yang tidak tahan hama penyakit tentunya akan mengurangi jumlah tanaman yang
produktif, sehingga akan mengurangi hasil panen. Selain itu, tanaman yang tidak
tahan hama penyakit juga akan meningkatkan biaya dalam perawatan, khususnya
penggunaan pestisida. Peningkatan biaya perawatan tentunya akan mengurangi
penerimaan hasil panen. Dengan pemakaian benih varietas unggul, petani
berharap tanaman padi mereka tidak gampang terserang hama penyakit.

Berdasarkan literature yang didapat, varietas Batang Piaman dan Batang


Lembang tahan terhadap penyakit blas daun dan leher. Varietas Cisokan agak
tahan bakteri busuk hawar daun (Xanthomonas oryzae), peka wereng coklat
biotipe 3 dan tahan wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan Sumatera Utara. Varietas
Anak Daro tahan terhadap penyakit virus tugro dan agak peka terhadap blas.
Serangan hama penyakit merupakan hal yang selalu menjadi masalah dalam
budidaya padi. Meskipun telah ada varietas-varietas unggul yang secara teknis
tahan hama dan penyakit, tetapi hal ini tidak menjamin varietas tersebut tahan
terhadap hama dan penyakit setelah ditanam dilapang. Hal ini bisa terlihat pada
varietas Cisokan.
Berdasarkan berdasarkan wawancara dengan petani, varietas Cisokan
kurang tahan terhadap hama dan penyakit dibanding ketiga varietas lainnya,
terutama varietas Anak Daro. Menurut petani responden, varietas Cisokan lebih
gampang terserang hama wereng dan hama penggerek batang karena varietas
Cisokan memiliki batang dengan rasa manis, sehingga lebih disukai oleh hama.
Meskipun lebih gampang terserang hama dan penyakit, sebanyak 48 persen petani
masih menyukai varietas Cisokan. Petani berharap dinas pertanian bisa lebih
sering mengsosialisasikan penanganan hama dan penyakit, untuk memaksimalkan
kinerja ketahanan terhadap hama dan penyakit terutama terhadap varietas
Cisokan. Untuk saat ini guna mengatasi kekurangan ini, petani terpaksa
mengeluarkan biaya lebih untuk pemakaian pestisida.
Meskipun demikian, petani responden berpendapat bahwa nilai total
kepuasan petani responden terhadap tingkat kinerja ketahanan terhadap hama dan
penyakit dari keempat tanaman padi varietas unggul tidak berbeda jauh, yaitu
Batang Piaman (334), Cisokan (332), Anak Daro (394) dan Batang Lembang
(347). Skor rata-rata keempat varietas unggul tersebut berada pada rentang skala
3,40-4,19 yang termasuk kedalam kriteria tahan hama dan penyakit. Hasil kinerja
tahan hama dan penyakit varietas unggul lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel
22.

Tabel 22 Tingkat Kinerja Tahan Hama dan Penyakit


Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Tahan Hama dan Penyakit
Tahan Hama dan Penyakit
Tahan Hama dan Penyakit
Tahan Hama dan Penyakit

Batang Piaman 4 7 24 51 8 334 3,55


Cisokan 3 5 27 57 2 332 3,53
Anak Daro 1 2 15 56 20 394 3,98
Batang Lembang 2 8 21 49 14 347 3,69

Keterangan : 1 : Sangat Rentan 2 : Rentan 3 : Cukup Tahan


4 : Tahan 5 : Sangat Tahan
e. Kinerja Rasa Nasi
Rasa nasi sedikit sulit di deskripsikan dengan tepat, karena tergantung
selera dan selera masing-masing konsumen beras berbeda. Bentuk beras varietas
Batang Piaman, Batang Lembang dan Anak Daro memiliki bentuk yang sama
yaitu ramping, sedangkan varietas Cisokan memiliki bentuk yang lonjong sedang.
Varietas Batang Piaman memiliki kadar amilosa yang lebih tinggi dibanding tiga
varietas lainnya yaitu 28 persen, sedangkan varietas Anak Daro dan Batang
Lembang memiliki kadar amilosa yang sama yaitu 27 persen. Varietas Cisokan
memiliki kadar amilosa terendah yaitu sebesar 22 persen. Keempat varietas
unggul ini memiliki tekstur nasi yang pera, sesuai dengan selera masyarakat
Sumatera Barat pada umumnya.
Selera konsumen yang berbeda, menyebabkan penilaian konsonsumen
terhadap rasa nasi bervariasi, mulai dari tidak enak sampai dengan sangat enak.
Menurut petani responden, varietas Cisokan dan Anak Daro memiliki rasa nasi
yang sangat enak dan sesuai dengan selera petani maupun konsumen lainnya di
Kota Solok dan Sumatera Barat pada umumnya. Nasi varietas Cisokan dan Anak
Daro lebih lembut, harum dan mengembang. Nilai total kinerja rasa nasi varietas
Cisokan dan Anak Daro secara berturut-turut adalah 434 dan 442 dengan nilai
rata-rata 4,62 dan 4,70 yang termasuk kedalam kriteria sangat enak (4,20-5,00).
Rasa nasi varietas Cisokan dan Anak daro yang enak membuat varietas ini lebih
dipilih oleh petani untuk dibudidayakan.
Sedangkan varietas Batang Piaman dan Batang Lembang dinilai oleh
konsumen beras memiliki rasa nasi yang tidak enak karena kurang lembut dan
cepat keras bila dimasak. Nilai total kinerja rasa nasi varietas Batang Piaman d
an
Batang Lembang secara berturut-turut adalah 243 dan 254 dengan nilai rata-rata
2,60 dan 2,70 yang termasuk kedalam kriteria cukup enak (2,60-3,39). Tingkat
84

kinerja rasa nasi lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 23. Petani yang kurang
mampu mengaku lebih beruntung menanam varietas Cisokan atau Anak Daro.
Karena selain mudah dijual, hasil panen juga disisihkan untuk di konsumsi. Nasi
yang mudah mengembang, membuat mereka tidak harus banyak menanak beras,
serta aroma nasi yang wangi dan rasa nasi yang lembut membuat mereka bisa
makan dengan enak meskipun tanpa lauk.
Tabel 23 Tingkat Kinerja Rasa Nasi
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor Ratarata1
2 3 4 5
Rasa Nasi Batang Piaman 0 49 35 10 0 243 2,59
Rasa Nasi Cisokan 0 0 0 36 58 434 4,62
Rasa Nasi Anak Daro 0 0 0 28 66 442 4,70
Rasa Nasi Batang Lembang 3 38 39 16 0 254 2,70
Keterangan : 1 : Sangat Tidak Enak 2 : Tidak Enak 3 : Cukup Enak
4 : Enak 5 : Sangat Enak
f. Kinerja Ketersediaan Benih di Pasaran
Ketersediaan benih dipasaran merupakan faktor yang penting dalam
budidaya padi, karena hal ini akan mempengaruhi waktu tanam petani juga
varietas yang akan ditanam. Keserasian waktu tanam dapat mengurangi serangan
hama penyakit yang berarti dapat menurunkan biaya perawatan dan juga
meningkatkan penerimaan.
Varietas Batang Piaman dan Batang Lembang mudah didapatkan oleh
petani, baik benih yang disubsidi oleh pemerintah maupun yang tidak disubsidi.
Berdasarkan penelitian terhadap 94 responden, nilai total tingkat kinerja
ketersediaan benih varietas Batang Piaman dan Batang Lembang di pasaran secara
berturut-turut adalah 394 dan 385 dengan skor rata-rata 4,17 dan 4,10. Nilai rat
arata
tersebut berada pada rentang skala 3,40-4,19 yang termasuk ke dalam kriteria
mudah didapat.
Varietas Cisokan dan Anak Daro sulit ditemukan dipasaran, padahal petani
banyak yang mencari dan mengginginkan varietas tersebut. Nilai total tingkat
kinerja ketersediaan benih di pasaran varietas Cisokan dan Anak Daro secara
berturut-turut adalah 204 dan 213 dengan skor rata-rata 2,17 dan 2,27. Nilai rat
arata
tersebut berada pada rentang skala 1,80-2,59 yang termasuk kedalam kriteria
sulit diperoleh. Hasil lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Tingkat Kinerja Ketersediaan Benih di Pasaran


Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Ketersediaan Benih Batang Piaman 0 0 0 78 16 394 4,17
Ketersediaan Benih Cisokan 8 69 10 7 0 204 2,17
Ketersediaan Benih Anak Daro 7 60 22 5 0 213 2,27
Ketersediaan Benih Batang Lembang 0 0 2 81 11 385 4,10
Keterangan : 1 : Sangat Sulit 2 : Sulit 3 : Cukup Mudah
4 : Mudah 5 : Sangat Mudah
Petani responden mengeluhkan sulitnya menemukan benih varietas unggul
Cisokan dan Anak Daro. Petani yang sudah loyal terhadap varietas Cisokan dan
Anak Daro biasanya akan menggunakan benih dari hasil panen sendiri atau
menukar gabah hasil panennya dengan gabah petani lain untuk dijadikan benih.
Petani sangat berharap benih varietas unggul Cisokan dan Anak Daro tidak lagi
sulit ditemukan di pasaran, terutama untuk benih bersubsidi.
g. Kinerja Harga Beli Benih
Salah satu komponen biaya dalam budidaya padi adalah harga beli benih.
Harga beli benih memiliki peranan penting dalam budidaya padi sawah. Namun
petani mengakui hal yang lebih penting adalah bagaimana kualitas benih tersebut
dilapang, mulai dari benih ditanam sampai panen. Jika memiki kualitas yang
buruk, serendah apapun harga yang ditawarkan, menurut petani lebih baik
membeli benih varietas lain dengan kualitas yang lebih baik meskipun dengan
harga yang lebih tinggi.
Harga benih dipasaran antar varietas tidak berbeda. Pada kios saprotan
kelompok tani, harga benih varietas unggul berkisar antara Rp.5000 sampai
dengan Rp.20.000/5kg. Harga ini tergantung kesepakatan anggota kelompok.
Pada toko pertanian/kios saprotan umum, harga beli benih berkisar antara
Rp.25.000 sampai Rp.27.000/5 kg. Harga ini berfluktuatif sesuai dengan
ketersediaan benih dipasaran. Murah atau mahal harga beli benih tergantung pada
pandangan serta perekonomian masing-masing petani.
Petani responden menilai varietas Batang Piaman dan Batang Lembang
memiliki harga yang murah dan terjangkau oleh petani dengan nilai total tingkat
kinerja harga beli benih 359 untuk Batang Piaman dan 370 untuk Batang
Lembang. Skor rata-rata kedua varietas tersebut secara berturut-turut adalah 3,8
2
86

dan 3,94 yang termasuk ke dalam kriteria harga yang murah (3,40-4,19). Varietas
Cisokan dan Anak Daro memiliki harga yang mahal dengan nilai total tingkat
kinerja harga beli benih 198 untuk Cisokan dan 215 untuk Anak Daro. Skor ratarat
a
kedua varietas tersebut secara berturut-turut adalah 2,11 dan 2,29 yang
termasuk ke dalam kriteria harga yang mahal (1,80-2,59).
Hal ini dikarenakan, benih varietas Batang Piaman dan Batang Lembang
yang bersubsidi banyak tersedia di kios saprotan kelompok tani. Sedangkan
varietas Cisokan dan Anak Daro bersubsidi sulit tersedia, sehingga petani terpak
sa
membeli benih yang tidak bersubsidi di toko pertanian kios saprotan umum
dengan harga lebih tinggi. Tingkat kinerja harga beli benih varietas unggul lebi
h
lengkap dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25 Tingkat Kinerja Harga Beli Benih
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor Ratarata1
2 3 4 5
Harga Beli Benih Batang Piaman 0 0 19 73 2 359 3,82
Harga Beli Benih Cisokan 12 68 8 4 2 198 2,11
Harga Beli Benih Anak Daro 9 64 10 7 4 215 2,29
Harga Beli Benih Batang Lembang 0 0 15 70 9 370 3,94
Keterangan : 1 : Sangat Mahal 2 : Mahal 3 : Cukup Murah
4 : Murah 5 : Sangat Murah
Petani mengaku, meskipun mempunyai harga yang mahal, petani lebih
menyukai membeli varietas Cisokan atau Anak Daro. Mereka beralasan, harga
beli benih yang mahal ini nantinya bisa tertutupi dengan penghasilan setelah
panen. Selain itu, beberapa petani menegaskan mendapatkan banyak keuntungan
jika menanam varietas Cisokan ataupun varietas Anak Daro seperti rasa nasi yang
enak.
h. Kinerja Harga Jual Gabah
Harga dasar gabah yang ditetapkan pemerintah Kota Solok pada tahun
2007 yaitu Rp.2.600/kg untuk GKG dan Rp.2.035/kg untuk GKP. Petani di Kota
Solok mempunyai kebiasaan menjual hasil panen dalam bentuk GKP dan selalu
menjual hasil panennya dalam satuan sukat yang setara dengan 1,5 kg. Pada
dasarnya varietas Batang Piaman dan Batang Lembang memiliki harga jual yang
sama, yaitu berkisar antara Rp.4000/sukat atau setara Rp.2.600/kg sampai dengan

Rp.4500/sukat atau setara Rp.3.000/kg, begitu pula dengan varietas Cisokan dan
Anak Daro memiliki harga yang sama, minimal harga jual yang diterima petani
adalah Rp.5000/sukat yang setara dengan Rp.3.333/kg.
Kinerja atribut harga jual gabah varietas unggul sangat rendah berada pada
rentang harga <Rp.3.600/sukat, rendah Rp.3.600-Rp.4.000/ sukat, cukup tinggi
Rp.4.100-Rp.4.500/ sukat, tinggi Rp.4.600-Rp.5.000/ sukat dan sangat tinggi
>Rp.5.000 per sukat. Kinerja harga jual gabah varietas Batang Piaman dan Batang
Lembang dinilai oleh petani responden cukup tinggi, yaitu dengan skor rata-rata
masih berada pada rentang skala 2,60-3,39 yang termasuk kedalam kriteria cukup
tinggi. Varietas Cisokan dan Anak Daro dinilai oleh petani responden memiliki
tingkat kinerja harga jual gabah yang sangat tinggi, yang berada pada rentang
skala 4,20-5,00. Hasil kinerja atribut harga jual gabah lebih lengkap dapat dili
hat
pada Tabel 26.
Tabel 26 Tingkat Kinerja Harga Jual Gabah
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Harga Jual Gabah Batang Piaman 0 27 62 5 0 260 2,77
Harga Jual Gabah Cisokan 0 0 2 16 76 450 4,79
Harga Jual Gabah Anak Daro 0 0 1 14 79 454 4,83
Harga Jual Gabah Batang Lembang 0 35 51 8 0 244 2,71
Keterangan : 1 : Sangat Rendah 2 : Rendah 3 : Cukup Tinggi
4 : Tinggi 5 : Sangat Tinggi
Tinggi atau rendahnya harga jual gabah yang diterima petani tergantung
pada varietas yang dijual dan kesepakatan antara petani dan pemborong. Rata-rata
harga jual gabah Batang Piaman dan Batang Lembang lebih murah Rp.1000/sukat
GKP dibanding varietas Anak Daro dan Cisokan. Sebelumnya melakukan
penjualan, petani dan pemborong terlebih dahulu melakukan kesepakatan harga
jual gabah. Pemborong menjemput hasil panen secara langsung ke area panen,
dengan biaya transportasi ditanggung pemborong. Dengan sistem ini, petani
mengaku lebih praktis dan langsung menerima uang hasil panen tanpa
mengeluarkan biaya untuk pengolahan pasca panen.
Jumlah panen yang biasa dijual petani kepada pemborong adalah tiga
perempat dari hasil panen, sedangkan seperempat lagi disisihkan untuk
dikonsumsi sendiri. Tetapi, juga terdapat petani yang menjual seluruh hasil

panennya, petani ini umumnya adalah petani yang menanam varietas Batang
Piaman dan Batang Lembang. Selanjutnya mereka akan membeli beras varietas
Cisokan atau Anak Daro untuk di konsumsi sendiri. Meskipun petani Kota Solok
memiliki kebiasaan menjual hasil panen langsung kepada pemborong dalam
bentuk gabah, namun masih terdapat beberapa petani yang menjual hasil panen
setelah diolah menjadi beras. Walaupun prosesnya lebih panjang, mereka
mengaku mendapatkan untung lebih dibanding jika menjual dalam bentuk gabah.
i. Kinerja Pemasaran Hasil Panen
Petani di Kota Solok memiliki kebiasaan menjual gabah langsung di
tempat panen kepada pemborong yang telah ditetapkan, dalam bentuk gabah
kering panen (GKP). Sehingga dalam memasarkan hasil panen, petani mengaku
tidak mengalami kesulitan karena setelah panen, hasil panen langsung terjual
dilokasi panen. Meskipun demikian, pemasaran hasil panen masing-masing
varietas tidak sama. Pemborong lebih banyak mencari varietas unggul Cisokan
dan Anak Daro karena banyaknya permintaan konsumen, sehingga cepat laku di
pasaran serta memiliki harga jual yang tinggi.
Nilai total tingkat kinerja atribut pemasaran hasil panen varietas Batang
Piaman Cisokan, Anak Daro dan Batang Lembang secara berturut-turut adalah
403, 463, 462, dan 397. Nilai rata-rata keempat varietas unggul yang ada di Kota
Solok termasuk kedalam kriteria sangat mudah yaitu berada pada rentang skala
4,20-5,00. Selengkapnya, hasil perhitungan tingkat kinerja pemasaran hasil panen
varietas unggul dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27 Tingkat Kinerja Pemasaran Hasil Panen
Atribut Kinerja
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3
Pemasaran Hasil
Pemasaran Hasil
Pemasaran Hasil
Pemasaran Hasil

Nilai
4 5
Panen
Panen
Panen
Panen

Batang Piaman 0 5 14 24 51 403 4,29


Cisokan 0 0 0 7 87 463 4,93
Anak Daro 0 0 0 8 86 462 4,92
Batang Lembang 0 8 13 23 50 397 4,22

Keterangan : 1 : Sangat Sulit 2 : Sulit 3 : Cukup Mudah


4 : Mudah 5 : Sangat Mudah
Melihat uraian diatas terlihat bahwa bahwa umumnya petani menyatakan
bahwa untuk memasarkan hasil panennya sangat mudah, terutama untuk varietas
89

Cisokan dan Anak Daro. Meskipun beras dari varietas Batang Piaman dan Batang
Lembang kurang disukai oleh sebagian besar konsumen beras di Sumatera Barat,
tetapi beberapa pemborong telah memiliki pasar sasaran untuk penjualan, seperti
daerah Riau, Jambi, Bengkulu atau daerah transmigrasi yang ada di Provinsi
Sumatera Barat. Rekapitulasi kinerja varietas unggul varietas unggul dapat dilih
at
pada Lampiran 5 dan Lampiran 6.
7.1.2 Diagram Kartesius Serta Costumer Satification Index (CSI) Benih Padi
Varietas Unggul
7.1.2.1 Varietas Batang Piaman
a. Diagram Kartesius Varietas Batang Piaman
Langkah selanjutnya adalah memplotkan nilai-nilai kinerja dan
kepentingan kedalam diagram kartesius. Skor rata-rata tingkat kepentingan akan
menjadi ordinat pada sumbu Y dan tingkat kinerja yang akan menjadi ordinat
pada sumbu X. Sebelum memplotkan koordinat atribut, perlu dicari sumbu
pembagi kuadran. Pada akhirnya akan terbentuk diagram kartesius yang
menunjukkan posisi setiap atribut pada kuadran tertentu.
Tabel 28 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Batang Piaman
Atribut Kepentingan Kinerja
Umur tanaman padi 4,27 3,66
Produktivitas 4,37 4,14
Kerebahan tanaman 4,14 3,96
Tahan hama penyakit 4,31 3,55
Rasa nasi 4,43 2,59
Ketersediaan benih 4,23 4,17
Harga beli benih 3,45 3,82
Harga Jual Gabah 4,44 2,77
Pemasaran hasil panen 4,25 4,29
Total 37,89 32,92
Sumbu Y 4,21
Sumbu X 3,66
Tabel 28 menunjukkan koordinat masing-masing atribut varietas Batang
Piaman, nilai sumbu X dan nilai sumbu Y . Hasil tabel tersebut kemudian
dikembangkan dalam diagram kartesius yang akan menunjukkan posisi atribut

yang terbagi dalam empat kuadran. Hasil dari Importance Performance Analysis
terhadap varietas Batang Piaman dapat dilihat pada Gambar 5.
Tingkat Kinerja
Tingkat
Kepent
ingan
4.5 4.0 3.5 3.0 2.5
4.50
4.25
4.00
3.75
3.50
3.66
4.21
Pemasaran Hasil Panen
Harga Jual Gabah
Harga Beli Benih
Ketersediaan Benih
Rasa Nasi
Tahan Hama Penyakit
Kerebahan Tanaman
Produktivitas
Umur Tanaman Padi
Matrix Plot of Tingkat Kepentingan vs Tingkat Kinerja
Gambar 5. Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Batang Piaman
Berdasarkan Gambar 5, terlihat pemetaan atribut-atribut benih varietas
Batang Piaman. Posisi atribut-atribut pada setiap kuadran memiliki makna yang
berbeda, terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah maupun
lembaga-lembaga yang terkait dengan pertanian tanaman pangan. Penjelasan
mengenai kuadran-kuadran tersebut sebagai berikut :
- Kuadran I
Atribut-atribut pada kuadran I dianggap penting oleh petani tetapi pada
kenyataannya atribut-atribut ini kinerjanya belum sesuai dengan apa yang
diharapkan petani (tingkat kinerja rendah). Pada kuadran I tingkat kinerja berad
a
dibawah rata-rata tetapi tingkat kepentingannya tinggi, sehingga kinerja pada
kuadran ini merupakan prioritas utama untuk diperbaiki guna meningkatkan
kepuasan konsumen. Pada kuadran ini kinerja atribut perlu di tingkatkan, agar
atribut tersebut dapat masuk pada kuadran II.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap varietas Batang Piaman, umur


tanaman padi, harga jual gabah, rasa nasi serta tahan hama dan penyakit
merupakan atribut yang dirasa oleh petani penting tetapi kinerjanya kurang
memuaskan. Kinerja atribut tahan hama dan penyakit varietas Batang Piaman
dinilai oleh petani kurang baik. Petani mengharap perlu adanya peningkatan daya
tahan varietas Batang Piaman maupun peningkatan penyuluhan penanganan hama
dan penyakit.
Rasa nasi menurut petani penilaiannya lebih tergantung pada selera
konsumen beras. Rasa nasi varietas Batang Piaman dinilai belum memuaskan.
Petani berpendapat, rasa nasi varietas Batang Piaman kurang enak dan lebih keras
sehingga tidak banyak konsumen yang menyukainya. Umur tanaman padi varietas
Batang Piaman berada antara kuadran satu dan dua, hal ini menandakan bahwa
kinerja umur varietas Batang Piaman sudah cukup memuaskan petani, tetapi
knerjanya perlu ditingkatkan lagi.
Menurut petani, harga jual gabah varietas Batang Piaman masih memiliki
kinerja yang kurang karena masih berada Rp. 1000,- dibawah harga jual gabah
varietas Cisokan dan Anak Daro. Salah satu penyebabnya adalah rasa nasi varietas
Batang Piaman yang menurut petani dan konsumen kurang enak.
- Kuadran II
Pada kuadran II menunjukkan atribut mutu varietas yang memuaskan bagi
konsumen. Atribut-atribut yang dalam kuadran II menjadi kekuatan karena
memiliki tingkat kepentingan dan tingkat kinerja yang tinggi. Atribut pada
kuadran ini harus dapat dipertahankan karena memberikan tingkat kepuasan yang
diinginkan oleh konsumen. Pemasaran hasil panen, produktivitas serta
ketersediaan benih merupakan atribut yang penting bagi petani serta telah
memiliki kenerja yang baik.
Produktivitas varietas Batang Piaman bagi petani sudah sesuai dengan
standar kemampuan produksi varietas. Pemasaran hasil panen dirasakan sangat
mudah dan praktis oleh petani, karena petani telah memiliki pemborong tersendiri
yang siap menjemput hasil panen mereka ke area panen. Ketersediaan benih
varietas Batang Piaman menurut petani sudah memiliki kinerja yang baik karena

dipasaran petani bisa dengan mudah menemukan varietas Batang Piaman yang di
subsidi maupun yang tidak di subsidi.
- Kuadran III
Atribut yang berada pada kuadran III merupakan atribut dengan tingkat
kepentingan rendah dan kinerja rendah. Tidak ada atribut varietas Batang Piaman
yang terdapat pada kuadran ini.
- Kuadran IV
Atribut-atribut dalam kuadran ini adalah atribut yang memiliki tingkat
kepentingan rendah namun memiliki kinerja yang baik. Atribut tersebut adalah
kerebahan tanaman dan harga beli benih. Menurut petani penggunaan varietas
unggul disertai dengan perawatan yang tepat dapat menggurangi kerebahan
tanaman sehingga petani menganggap kerebahan tanaman kurang begitu penting.
Harga beli benih varietas Batang Piaman sudah memiliki kinerja yang baik karena
varietas Batang Piaman banyak yang disubsidi, tapi bagi petani mutu dan kuaitas
benih lebih penting dibandingkan harga beli benih.
b. Costumer Satification Index (CSI) Varietas Batang Piaman
Dengan menggunakan CSI, dapat diketahui persentase kepuasan petani
terhadap atribut-atribut varietas Batang Piaman secara keseluruhan. Berikut
adalah Tabel perhitungan CSI.
Tabel 29 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Batang Piaman
Atribut
Mean
Importance
Score
(MIS)
Mean
Satification
Score
(MSS)
Weighting
Factors
(WF)
Weight
Score
(WS)
Umur tanaman padi 4,27 3,66 0,112 0,409
Produktivitas 4,37 4,14 0,115 0,476
Kerebahan tanaman 4,14 3,96 0,109 0,431
Tahan hama penyakit 4,31 3,55 0,113 0,401
Rasa nasi 4,43 2,59 0,117 0,303
Ketersediaan benih 4,23 4,17 0,112 0,467
Harga beli benih 3,45 3,82 0,091 0,348
Harga Jual Gabah 4,44 2,77 0,117 0,324
Pemasaran hasil panen 4,25 4,29 0,112 0,480
Total 37,89 Weight Average Total (WAT) 3,639
CSI 72,78%

Pada Tabel 29 dapat dilihat hasil perhitungan Indeks Kepuasan Petani


(IKP) terhadap varietas Batang Piaman. Dari tabel tersebut diperoleh nilai indek
s
kepuasan petani sebesar 72,78 persen (0,7278). Nilai tersebut berada pada rentan
g
indeks kepuasan 0.60-0.80 yang berarti petani puas terhadap kinerja atribut-atri
but
yang terdapat pada varietas Batang Piaman. Hasil perhitungan CSI menunjukkan
bahwa persentase kepuasan petani terhadap varietas Batang Piaman adalah
sebesar 74,20 persen. Indeks kepuasan ini harus ditingkatkan hingga mendekati
100 persen, dengan memperbaiki kinerja atribut yang kurang.
7.1.2.2 Varietas Cisokan
a. Diagram Kartesius Varietas Cisokan
Sebelum menempatkan koordinat masing-masing atribut varietas Cisokan
pada diagram kartesius,terlebih dahulu dilakukan penghitungan untuk mencari
nilai sumbu X dan nilai sumbu Y yang berfungsi sebagai pembagi diagram
kartesius menjadi empat bagian. Hasil penghitungan tersebut bisa dilihat pada
Tabel 30.
Tabel 30 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Cisokan
Atribut Kepentingan Kinerja
Umur tanaman padi 4,27 3,74
Produktivitas 4,37 4,02
Kerebahan tanaman 4,14 3,93
Tahan hama penyakit 4,31 3,53
Rasa nasi 4,43 4,62
Ketersediaan benih 4,23 2,17
Harga beli benih 3,45 2,11
Harga Jual Gabah 4,44 4,79
Pemasaran hasil panen 4,25 4,93
Total 37,89 33,84
Sumbu Y 4,21
Sumbu X 3,76
Hasil dari Tabel 30 kemudian kemudian diplotkan kedalam diagram
katesius yang akan menunjukkan posisi atribut yang terbagi dalam empat kuadran.
Pada Gambar 6 dapat dilihat posisi masing-masing atribut varietas Cisokan pada
diagram kartesius.

Matrix Plot of Tingkat Kepentingan vs Tingkat Kinerja


3.76
Tingkat
Kepent
ingan
4.50
4.25
Ketersediaan Benih
Tahan Hama PenyUmur Tanaakit
Produk tivitas
man Padi Pemasaran Hasil Panen
Harga Jual Gabah Rasa Nasi
rga Beli Benih
Kerebahan Tanaman
Ha
4.21
4.00
3.75
3.50
2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0
Tingkat Kinerja
Gambar 6. Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Cisokan
Penjelasan mengenai kuadran-kuadran yang terdapat pada Gambar 6
adalah sebagai berikut :
- Kuadran I
Atribut-atribut varietas Cisokan yang dianggap penting oleh petani, tetapi
pada kenyataannya atribut-atribut ini kinerjanya belum sesuai dengan apa yang
diharapkan petani adalah ketersediaan benih, tahan hama penyakit dan umur
tanaman. Ketersediaan benih varietas Cisokan menurut petani masih sangat
kurang, baik yang bersubsidi maupun yang tidak bersubsidi. Sehingga perlu
evaluasi dan perbaikan karena ketersediaan benih sangat mempengaruhi waktu
tanam serta varietas yang akan ditanam. Keserasian waktu tanam dapat
mengurangi serangan hama penyakit yang berarti dapat menurunkan biaya
perawatan dan meningkatkan penerimaan.
Kinerja atribut umur tanaman padi varietas Cisokan menurut petani masih
kurang baik sehingga perlu ditingkatkan lagi kearah umur yang lebih pendek.
Semakin pendek umur varietas, maka petani dapat semakin sering melakukan
budidaya dalam satu tahun. Sama halnya seperti varietas Batang Piaman, kinerja
atribut tahan hama dan penyakit dinilai oleh petani belum baik, karena masih

banyak tanaman yang dengan mudah terserang hama penyakit seperti wereng.
Menurut petani salah satu yang menyebabkan hal ini adalah rasa batang padi
varietas Cisokan yang lebih manis dibanding ketiga varietas lainnya yang ditelit
i.
Dengan adanya penyuluhan terhadap cara pemberantasan hama penyakit yang
tepat, petani berharap hal ini bisa diatasi.
- Kuadran II
Atribut-atribut varietas Cisokan yang ada dalam kuadran ini adalah harga
jual gabah, produktivitas, rasa nasi serta pemasaran hasil panen merupakan atrib
ut
yang penting bagi petani serta telah memiliki kenerja yang baik. Petani
menganggap harga jual gabah sudah memuaskan karena berada diatas harga dasar
gabah yang ditetapkan oleh pemerintah, serta selalu lebih mahal Rp.1000,00
bibanding harga jual gabah varietas Batang Piaman dan Batang Lembang.
Produktivitas varietas Cisokan bagi petani sudah tinggi meskipun masih
berada dibawah tingkat produktivitas varietas Batang Piaman. Pemasaran hasil
panen dirasakan sangat mudah dan praktis oleh petani. Hal ini juga didukung oleh
banyaknya permntaan konsumen terhadap varietas Cisokan.
Rasa nasi merupakan atribut andalan dari varietas Cisokan. Menurut petani
dan sebagian besar konsumen, rasa nasi varietas Cisokan sangat enak dibanding
varietas Batang Piaman dan varieta Batang Lembang.
- Kuadran III
Atribut yang terdapat pada kuadran ini adalah harga beli benih. Petani
menganggap kualitas benih lebih penting dibandingkan harga beli benih. Petani
mengaku kesulitan mendapatkan benih varietas Cisokan bersubsidi di kios
saprotan kelompok tani. selain itu, saat sekarang ini petani juga mulai kesulita
n
menemukan benih varieta Cisokan yang dijual di kios saprotan umum.
Meskipun membeli benih varietas Cisokan dengan harga tinggi, petani
tetap loyal dengan varietas Cisokan karena hasil panennya memuaskan. Saat ini
petani berharap bisa mendapatkan benih varietas Cisokan dengan mudah dan
dengan harga yang terjangkau. Sehingga biaya input produksi bisa berkurang.
- Kuadran IV
Pada kuadran ini kerebahan tanaman adalah atribut bagi petani yang
memiliki tingkat kepentingan rendah namun memiliki kinerja yang baik. Ukuran

varietas Cisokan yang tidak terlalu tinggi membuat varietas ini tidak mudah reba
h
pada saat hujan maupun angin kencang.
b. Costumer Satification Index (CSI) Varietas Cisokan
Dari Tabel 31 diperoleh nilai indeks kepuasan petani terhadap varietas
Cisokan sebesar 79,14 persen (0,7914). Nilai tersebut berada pada rentang indeks
kepuasan 0.60-0.80 yang berarti petani puas terhadap kinerja atribut-atribut yan
g
terdapat pada varietas Cisokan. Hasil perhitungan CSI menunjukkan bahwa
persentase kepuasan petani terhadap varietas Cisokan adalah sebesar 79,14 persen
.
Indeks kepuasan ini perlu ditingkatkan, dengan memperbaiki atribut-atribut yang
ada pada kuadran I dan III sehingga Indeks Kepuasan Petani bisa mendekati 100
persen.
Tabel 31 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Cisokan
Atribut
Mean
Importance
Score
(MIS)
Mean
Satification
Score
(MSS)
Weighting
Factors
(WF)
Weight
Score
(WS)
Umur tanaman padi 4,27 3,74 0,112 0,419
Produktivitas 4,37 4,02 0,115 0,623
Kerebahan tanaman 4,14 3,93 0,109 0,428
Tahan hama penyakit 4,31 3,53 0,113 0,399
Rasa nasi 4,43 4,62 0,117 0,541
Ketersediaan benih 4,23 2,17 0,112 0,243
Harga beli benih 3,45 2,11 0,091 0,192
Harga Jual Gabah 4,44 4,79 0,117 0,560
Pemasaran hasil panen 4,25 4,93 0,112 0,552
Total 37,89 Weight Average Total (WAT) 3,957
CSI 79,14%
7.1.2.3 Varietas Anak Daro
a. Diagram Kartesius Varietas Anak Daro
Sama halnya dengan varietas Batang Piaman dan Cisokan, setelah
diperoleh rata-rata tingkat kepentingan dan tingkat kinerja masing-masing atribu
t
varietas Anak Daro, kemudian dicari nilai total dari kepentingan dan kinerja
varietas Anak Anak Daro. Nilai rata-rata dari nilai total kepentingan dan kinerj
a
ini akan dijadikan sumbu pembagi bagi kuadran kartesius, untuk melihat penilaian

petani terhadap kinerja dan kepentingan atribut-atribut varietas Anak Daro. Nila
i
rata-rata tersebut bida dilihat pad Tabel 32.
Tabel 32 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Anak Daro
Atribut Kepentingan Kinerja
Umur tanaman padi 4,27 2,32
Produktivitas 4,37 4,03
Kerebahan tanaman 4,14 4,00
Tahan hama penyakit 4,31 3,98
Rasa nasi 4,43 4,70
Ketersediaan benih 4,23 2,27
Harga beli benih 3,45 2,29
Harga Jual Gabah 4,44 4,83
Pemasaran hasil panen 4,25 4,92
Total 37,89 33,34
Sumbu Y 4,21
Sumbu X 3,70
Hasil dari Tabel 32 dapat dikembangkan dalam diagram kartesius seperti
pada Gambar 7. Diagram katesius ini menunjukkan titik koordinat masing-masing
atribut varietas Anak Daro pada empat kuadran, dengan membandingkan tingkat
kinerja dan kepentingan atribut-atribut ini bagi petani.
Matrix Plot of Tingkat Kepentingan vs Tingkat Kinerja
3.7
Tingkat
Kepent
ingan
4.50
4.25
Harga Jual Gabah Rasa Nasi
Produktivitas
Ketersediaan Benih
Umur Tanaman Padi
Tahan Hama Peny akit
Pemasaran Hasil Panen
Harga Beli Benih
Kerebahan Tanaman
4.21
4.00
3.75
3.50
2.0
2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0
Tingkat Kinerja

Gambar 7. Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Anak Daro

- Kuadran I
Pada kuadran ini kinerja atribut perlu di tingkatkan, agar atribut tersebut
dapat masuk pada kuadran II. Dalam kuadran ini umur tanaman padi dan
ketersediaan benih adalah hal yang penting namaun kinerjanya belum baik. Sama
halnya dengan varietas Cisokan, ketersediaan benih varietas Anak Daro masih
kurang, baik yang untuk benih bersubsidi maupun yang tidak bersubsidi.
Diharapkan pemerintah perlu memperhatikan hal ini seksama, mengingat
tingginya minat petani terhadap benih ini.
Menurut petani kinerja atribut umur tanaman padi tidak terlalu banyak
berubah dari tahun ke tahun, terutama untuk varietas Anak Daro yang mencapai
125 hari. Diantara empat varietas yang diteliti, varietas Anak Daro merupakan
varietas yang memiliki umur paling panjang. Hal ini sangat mempengaruhi pola
tanam petani, disisi lain petani juga harus menyamakan waktu pertanaman mereka
dengan lahan yang tidak jauh dari mereka, untuk menghindari dari serangan hama
dan penyalit.
- Kuadran II
Pada kuadran ini produktivitas, ketahanan terhadap hama penyakit,
pemasaran hasil panen, harga jual gabah dan rasa nasi adalah atibut yang memilik
i
tingkat kepentingan tinggi dan diikuti dengan tingkat kinerja yang baik. Atribut
atribut
ini memuaskan bagi petani sehingga perlu dipertahankan.
Produktivitas varietas Anak Daro masih dibawah produktivitas Batang
Piaman dan Batang Lembang tapi hal tersebut tidak menjadi kendala bagi petani.
Varietas Anak Daro lebih tahan terhadap hama penyakit dibanding tiga varietas
lain yang diteliti. Batang yang kokoh dan kuat membantu varieta ini bertahan dar
i
serangan hama penyakit, terutama dariserangan hama seperti keong dan tikus.
Sama halnya dengan varietas Cisokan, harga jual gabah varietas Anak
Daro selalu lebih tinggi Rp.1000,- diatas harga jual gabah varietas Batang Piama
n
dan Batang Lembang. Pemasaran hasil panen varietas Anak Daro juga lebih
mudah dibanding kedua varietas tersebut. Semua hal ini sangat dipengaruhi oleh
rasa nasi varietas Anak Daro yang banyak peminatnya. Selama ini varietas Anak
Daro dan Cisokan dikenal sebagai sebutan Beras Solok yang membuat Kota Solok
terkenal sebagai kota beras.

- Kuadran III
Atribut varietas Anak Daro yang berada pada kuadran III adalah harga beli
benih. Kualitas varietas Anak Daro yang tinggi membuat petani tidak
mementingkan harga beli benih yang mahal. Petani menganggap kualitas benih
lebih penting dibandingkan harga beli benih. Mahalnya harga beli benih varietas
Anak Daro disebabkan oleh sedikitnya varietas Anak Daro yang bersubsidi oleh
pemerintah. Meskipun demikian, petani di Kota Solok sangat mengharapkan
pemberian subsidi yang lebih banyak kepada varietas Anak Daro dibanding
varietas Batang Piaman dan Batang Lembang.
- Kuadran IV
Atribut dalam kuadran ini adalah kerebahan tanaman. Atribut ini adalah
yang memiliki tingkat kepentingan rendah namun memiliki kinerja yang baik.
Ukuran varietas Anak Daro yang rendah serta tekstur batang yang kuat dan tebal
membuat varietas ini tahan terhadap rebah terutama dalam keadaan yang tidak
menguntungkan seperti angin kencang maupun hujan deras. Pemberian pupuk
dengan dosis yang tepat disertai dengan pemeliharaan tanaman yang teratur
membuat tanaman padi lebih tahan terhadap kerebahan.
b. Costumer Satification Index (CSI) Varietas Anak Daro
Persentase kepuasan petani terhadap atribut-atribut varietas Anak Daro
secara keseluruhan dapat diketahui dengan menggunakan CSI. Berikut adalah
Tabel perhitungan CSI. Dari Tabel 33 diperoleh nilai indeks kepuasan petani
terhadap varietas Anak Daro sebesar 74,74 persen (0,7474). Nilai tersebut berada
pada rentang indeks kepuasan 0.60-0.80 yang berarti petani puas terhadap kinerja
atribut-atribut yang terdapat pada varietas Anak Daro.
Hasil perhitungan CSI menunjukkan bahwa persentase kepuasan petani
terhadap varietas Batang Piaman adalah sebesar 74,74 persen. Indeks kepuasan ini
perlu ditingkatkan, dengan memperbaiki atribut-atribut yang ada pada kuadran I
dan III sehingga Indeks Kepuasan Petani bisa mendekati 100 persen.

Tabel 33 Perhitungan Costumer Satification Index Anak Daro


Atribut
Mean
Importance
Score
(MIS)
Mean
Satification
Score
(MSS)
Weighting
Factors
(WF)
Weight
Score
(WS)
Umur tanaman padi 4,27 2,32 0,112 0,260
Produktivitas 4,37 4,03 0,115 0,463
Kerebahan tanaman 4,14 4,00 0,109 0,436
Tahan hama penyakit 4,31 3,98 0,113 0,450
Rasa nasi 4,43 4,70 0,117 0,550
Ketersediaan benih 4,23 2,27 0,112 0,254
Harga beli benih 3,45 2,29 0,091 0,208
Harga Jual Gabah 4,44 4,83 0,117 0,565
Pemasaran hasil panen 4,25 4,92 0,112 0,551
Total 37,89 Weight Average Total (WAT) 3,737
CSI 74,74%
7.1.2.4 Varietas Batang Lembang
a. Diagram Kartesius Varietas Batang Lembang
Setelah rata-rata tingkat kepentingan dan tingkat kinerja masing-masing
atribut varietas Batang Lembang diperoleh, kemudian dicari nilai total dari
kepentingan dan kinerjanya. Sehingga kemudian didapatkan nilai sumbu X dan
Sumbu Y untuk diagram kartesius bagi varietas Batang Lembang. Pada Tabel 34
dterlihat bahwa nilai sumbu X adalah 3,67 yang diperoleh dari total tingkat kine
rja
dibagi sembilan yaitu jumlah keseluruhan atribut yang diteliti dan nilai sumbu Y
adalah 4,21 yang diperoleh dari dasil pembagian antara total tingkat kenerja
dengan total jumlah atribut yang diteliti.
Tabel 34 Tingkat Kepentingan dan Kinerja Varietas Batang Lembang
Atribut Kepentingan Kinerja
Umur tanaman padi 4,27 3,64
Produktivitas 4,37 4,08
Kerebahan tanaman 4,14 3,98
Tahan hama penyakit 4,31 3,69
Rasa nasi 4,43 2,70
Ketersediaan benih 4,23 4,10
Harga beli benih 3,45 3,94
Harga Jual Gabah 4,44 2,71
Pemasaran hasil panen 4,25 4,22
Total 37,89 33,06
Sumbu Y 4,21
Sumbu X 3,67

Hasil dari Tabel 34 kemudian dikembangkan dalam diagram kartesius


seperti pada Gambar 8. Diagram katesius ini menunjukkan titik koordinat masingma
sing
atribut varietas Batang Lembang pada empat kuadran, dengan
membandingkan tingkat kinerja dan kepentingan atribut-atribut ini bagi petani.
4.50
4.25
4.21
Matrix Plot of Tingkat Kepentingan vs Tingkat Kinerja
3.67
Tingkat
Kepentingan
4.00
3.75
Harg Jual GabahRa
aa
sa Nasi
Tahan HaUmur TanamPemasaran HasilKetersediaan Benih
ma Penyakit
Produktivitas
an Padi Panen
Harga Beli Benih
Kerebahan Tanaman
3.50
2.50 4.25
Gambar 8. Grafik Scatterplot IPA Benih Varietas Batang Lembang
Pada Gambar 5, terlihat pemetaan atribut-atribut benih varietas Batang
Lembang. Posisi atribut-atribut pada setiap kuadran memiliki makna yang
berbeda, terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah maupun
lembaga-lembaga yang terkait dengan pertanian tanaman pangan. Penjelasan
mengenai kuadran-kuadran tersebut sebagai berikut :
-Kuadran I
Atribut-atribut pada adalah umur tanaman, harga jual gabah dan rasa nasi.
Sama seperti varietas Batang Piaman, rasa nasi varietas Batang Lembang juga
kurang disukai oleh petani maupun konsumen beras di Kota Solok maupun di
Sumatera Barat pada umumnya. Hal ini juga berdampak terhadap harga jual gabah
varietas Batang Lembang yang selalu lebih rendah Rp.1000,-jika dibanding harga
jual varietas Cisokan dan Anak Daro.
2.75 3.00 3.25 3.50 3.75 4.00
Tingkat Kinerja

Umur tanaman varietas Batang Lembang dianggap belum memiliki kinerja


yang baik oleh petani karena umur tanaman varietas Batang Lembang belum
memunginkan petani utuk melakukan bidi daya padi sawah tiga kali dalam
setahun. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pihak terkait karena umur tanaman
merupakan atribut yang penting bagi petani.
- Kuadran II
Tahan hama penyakit, produktivitas, pemasaran hasil panen dan
ketersediaan benih merupakan atribut-atribut yang terdapat pada kuadran II. Pada
kuadran II menunjukkan atribut mutu varietas Batang Lembang yang memuaskan
bagi konsumen. Produktivitas varietas Batang Lembang bagi petani sudah sesuai
dengan standar kemampuan produksi varietas. Pemasaran hasil panen dirasakan
sangat mudah dan praktis oleh petani, karena petani telah memiliki pemborong
tersendiri yang siap menjemput hasil panen mereka ke area panen. Ketersediaan
benih varietas Batang Lembang menurut petani sudah memiliki kinerja yang baik
karena dipasaran petani bisa dengan mudah menemukan varietas Batang Lembang
yang di subsidi maupun yang tidak di subsidi.
- Kuadran III
Atribut yang berada pada kuadran III merupakan atribut dengan tingkat
kepentingan rendah dan kinerja rendah. Tidak ada atribut varietas Batang
Lembang yang terdapat pada kuadran ini.
- Kuadran IV
Atribut-atribut yang ada dalam kuadran ini adalah kerebahan tanaman dan
harga beli benih. Menurut petani penggunaan varietas unggul disertai dengan
perawatan yang tepat dapat menggurangi kerebahan tanaman sehingga petani
menganggap kerebahan tanaman kurang begitu penting. Harga beli benih varietas
Batang Lembang sudah memiliki kinerja yang baik karena banyaknya varietas
Batang Lembang yang di subsidi. Tapi bagi petani mutu dan kualitas benih lebih
penting dibandingkan harga beli benih.
b. Costumer Satification Index (CSI) Varietas Batang Lembang
Dengan menggunakan CSI, dapat diketahui persentase kepuasan petani
terhadap atribut-atribut varietas Batang Lembang secara keseluruhan. Berikut
adalah Tabel perhitungan CSI.

Tabel 35 Perhitungan Costumer Satification Index Varietas Batang Lembang


Atribut
Mean
Importance
Score
(MIS)
Mean
Satification
Score
(MSS)
Weighting
Factors
(WF)
Weight
Score
(WS)
Umur tanaman padi 4,27 3,64 0,112 0,408
Produktivitas 4,37 4,08 0,115 0,469
Kerebahan tanaman 4,14 3,98 0,109 0,434
Tahan hama penyakit 4,31 3,69 0,113 0,417
Rasa nasi 4,43 2,70 0,117 0,316
Ketersediaan benih 4,23 4,10 0,112 0,460
Harga beli benih 3,45 3,94 0,091 0,359
Harga Jual Gabah 4,44 2,71 0,117 0,317
Pemasaran hasil panen 4,25 4,22 0,112 0,472
Total 37,89 Weight Average Total (WAT) 3,652
CSI 73,04%
Dari Tabel 35 diperoleh nilai indeks kepuasan petani terhadap varietas
Batang Lembang sebesar 73,04 persen (0,7304), pada rentang indeks kepuasan
0.60-0.80 yang berarti petani puas terhadap kinerja atribut- varietas Batang
Lembang. Hasil perhitungan CSI menunjukkan bahwa persentase kepuasan petani
terhadap varietas Batang Lembang adalah sebesar 73,04 persen. Indeks kepuasan
ini perlu ditingkatkan, sehingga Indeks Kepuasan Petani bisa mendekati 100
persen. Rekapitulasi dari hasil Importance Performance Analysis (IPA) dan
Costumer Satification Index (CSI) dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel 36 Rekapitulasi Hasil IPA dan CSI Varietas Unggul
Alat Analisis Varietas
Batang Piaman Cisokan Anak Daro Batang Lembang
Importance
Performance
Analysis (IPA)
Kuadran I
Rasa nasi, harga
jual gabah, tahan
hama penyakit
dan umur
tanaman
Ketesediaan
benih, tahan
hama penyakit
dan umur
tanaman
Ketesediaan
benih, dan umur
tanaman

Rasa nasi, harga


jual gabah, tahan
hama penyakit
dan umur
tanaman
Kuadran II Produktivitas,
pemasaran hasil
panen dan
ketersediaan
benih
Produktivitas,
rasa nasi,
pemasaran hasil
panen, harga jual
gabah
Produktivitas,
tahan hama
penyakit, rasa
nasi, pemasaran
hasil panen,
harga jual gabah
Produktivitas,
pemasaran hasil
panen dan
ketersediaan
benih
Kuadran III -Harga beli benih Harga beli benih Kuadran IV Kerebahan
tanaman dan
harga beli benih
Kerebahan
tanaman
Kerebahan
tanaman
Kerebahan
tanaman dan
harga beli benih
Costumer
Satification
Index (CSI)
72,78% 79,14% 74,74% 73,04%

7.2 Analisis Sikap Petani Padi Terhadap Benih Padi Varietas Unggul
Model multiatribut Fishbein digunakan untuk mengetahui sikap petani
terhadap benih varietas unggul. Model ini memberi gambaran tentang produk
yang dinilai lebih baik atau buruk oleh konsumen dengan mempertimbangkan
atribut-atribut yang dimiliki oleh produk. Hasil dari proses keputusan, pembelia
n
menunjukkan bahwa pembelian terdapat empat varietas unggul yang biasa dibeli.
Ketiga varietas tersebut yaitu varietas Batang Piaman, Cisokan, Anak Daro dan
Batang Lembang. Setiap varietas memiliki atribut-atribut yang dinilai berbeda
oleh setiap petani. Atribut-atribut yang dimiliki setiap varietas adalah umur
tanaman, produktivitas, kerebahan tanaman, tahan hama dan penyakit, rasa nasi,
ketersediaan benih, harga beli benih, harga jual gabah dan pemasaran hasil panen
.
Hasil perhitungan analisis multiatribut Fishbein dapat dilihat pada Tabel 37.
Tabel 37 Hasil Perhitungan Model sikap Multiatribut Fishbein
Atribut
ei Batang Piaman Cisokan Anak Daro Batang Lembang
bi bi . ei bi bi . ei bi bi . ei bi bi . ei
Umur tanaman padi 4,27 3,66 15,62 3,74 15,97 2,32 09,91 3,64 15,52
Produktivitas 4,37 4,14 15,48 4,02 17,57 4,03 17,61 4,08 17,82
Kerebahan tanaman 4,14 3,96 16,39 3,93 16,27 4,00 16,56 3,98 16,47
Tahan hama penyakit 4,31 3,55 15,30 3,53 15,21 3,98 17,15 3,69 15,90
Rasa nasi 4,43 2,59 11,47 4,62 20,47 4,70 20,82 2,70 11,96
Ketersediaan benih 4,23 4,17 17,63 2,17 09,18 2,27 09,60 4,10 17,34
Harga beli benih 3,45 3,82 13,17 2,11 07,28 2,29 07,90 3,94 13,59
Harga Jual Gabah 4,44 2,77 12,29 4,79 21,27 4,83 21,45 2,71 12,03
Pemasaran hasil panen 4,25 4,29 18,23 4,93 20,95 4,92 20,91 4,22 17,93
Total 135,58 144,17 141,91 138,56
Pada Tabel 37 terlihat bahwa varietas Cisokan lebih disukai daripada Anak
Daro, Batang Piaman maupun Batang Lembang. Skor keempat varietas secara
berturut-turut adalah Batang Piaman (135,58), Cisokan (144,17), Anak Daro
(141,91), dan Batang Lembang (138,56). Nilai varietas Cisokan dan Anak Daro
tidak berbeda jauh, hal ini menandakan bahwa kesukaan petani terhadap dua
varietas tersebut sebenarnya tidak berbeda jauh.
Atribut yang dinilai paling penting oleh petani adalah harga jual gabah
(4,44). Pada atribut ini varietas Anak Daro (21,45) lebih disukai karena petani
menilai harga jual gabahnya lebih tinggi dari pada Cisokan (21,27), Batang
Piaman (12,29) dan Batang Lembang (12,03). Tetapi sikap konsumen terhadap
harga jual gabah varietas Anak Daro dan Cisokan hampir sama, hal ini terlihat
105

dari skor sikap yang tidak jauh berbeda. Sedangkan atribut yang dinilai tidak
terlalu penting (berdasarkan nilai terendah tingkat kepentingan) adalah harga be
li
benih (3,45). Petani lebih mementingkan kualitas benih dibandingkan harga beli
benih itu sendiri. Meskipun memiliki harga yang mahal tetapi kualitasnya bagus,
petani akan mengusahakan untuk tetap membeli benih tersebut. Petani
memberikan penilaian berbeda terhadap harga beli masing-masing varietas.
Penilaian terendah kepada varietas Cisokan (7,28), Anak Daro (7,90) dan tertingg
i
kepada varietas Batang Lembang (13,59) dan Batang Piaman (13,17).
Atribut terpenting kedua yang dinilai oleh petani adalah rasa nasi (4,43).
Pada atribut ini, rasa nasi varietas Anak Daro (20,82) dinilai jauh lebih enak
dibanding varietas Batang Lembang (11,96) dan varietas Batang Piaman (11,47).
Sedangkan sikap petani terhadap varietas Cisokan (20,47) tidak berbeda jauh.
Produktivitas (4,37) merupakan atribut terpenting ke tiga. Petani mengganggap
produktivitas keempat varietas tidak berbeda jauh yaitu Batang Piaman (15,48),
Cisokan (17,57), Anak Daro (17,61) dan Batang Lembang (17,82).
Atribut terpenting keempat adalah tahan hama dan penyakit (4,91).
Varietas Anak Daro (17,15) lebih tahan penyakit daripada tiga varietas lainnya,
yaitu Batang Piaman (15,30), Cisokan (15,21), dan Batang Lembang (15,90). Bagi
petani, varietas apapun tak pernah lepas dari serangan hama penyakit, meskipun
varietas tersebut merupakan varietas unggul. Atribut umur tanaman padi (4,27)
merupakan atribut kelima yang dianggap penting oleh petani. Umur varietas Anak
Daro (9,91) dinilai lebih panjang dibanding tiga varietas lainnya yaitu Batang
Piaman (15,62), Cisokan (15,97) dan Batang Lembang (15,52).
Petani menilai pemasaran hasil panen (4,25) merupakan atribut terpenting
keenam. Pemasaran Cisokan (20,95) dan Anak Daro (20,91) lebih mudah
dibanding varietas Batang Piaman (18,23) dan Batang Lembang (17,93). Atribut
terpenting ketujuh adalah ketersediaan benih (4,23). Petani menilai varietas
Cisokan (9,18) dan Anak Daro (9,60) sulit ditemukan dipasaran dibanding dengan
varietas Batang Piaman (17,63) dan Batang Lembang (17,34). Kerebahan tanaman
(4,14) merupakan atribut terpenting kedelapan. Petani menilai kerebahan tanaman
varietas Batang Piaman (16,39), Cisokan (16,27), Anak Daro ( 16,56) dan Batang
Lembang (16,47) tidak jauh berbeda yaitu sama-sama tahan terhadap kerebahan.

Berdasarkan hasil analisis, menurut petani varietas Batang Piaman dan


Batang Lembang memiliki keunggulan yang sama, yaitu ketersedian benih yang
gampang didapat serta harga beli benih yang murah. Namun, kedua varietas ini
juga memiliki kelemahan yang sama dalam hal rasa nasi yang kurang enak dan
harga jual gabah kurang tinggi. Varietas Cisokan dan Anak Daro juga memiliki
keunggulan yang sama pada rasa nasi dan harga jual gabah yang tinggi namun
memiliki kelemahan yang berbeda. Kelemahan varietas Cisokan terletak pada
ketersediaan benih yang sulit dan harga beli benih yang mahal, sedangkan varieta
s
Anak Daro pada ketersediaan benih yang sulit, harga beli benih yang mahal serta
umur tanaman yang panjang.

IX KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan
1.
Berdasarkan uraian tentang karakteristik responden diketahui bahwa petani
responden lebih banyak perempuan berusia antara 41-50 tahun dengan
tingkat pendidikan terakhir adalah SD dan telah melakukan budidaya padi
sawah selama lebih dari 21 tahun. Berdasarkan hasil proses keputusan
pembelian, petani di Kota Solok memiliki motivasi bertani padi untuk
memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu mereka menganggap penggunaan
benih varietas unggul sangat penting. Saat ini petani mengetahui tentang
benih padi varietas unggul dari PPL. Mereka berharap dengan
menggunakan benih varietas unggul bisa meningkatkan hasil panen
dengan pertimbangan utama adalah rasa nasi.
2.
Berdasarkan analisis sikap, diantara empat varietas unggul yang
dibandingkan, petani lebih menyukai varietas Cisokan dan Anak Daro
dibanding varietas Batang Piaman dan Batang Lembang. Atribut yang
memiliki tingkat kepentingan tertinggi adalah harga jual gabah sedangkan
yang terendah adalah harga beli benih. Hasil analisis kepuasan
berdasarkan Importance Performance Analysis (IPA), diketahui bahwa
atrbut-atribut yang memiliki tingkat kinerja tinggi dan kepentingan tinggi
lebih banyak terdapat pada varietas Anak Daro dan Cisokan. Berdasarkan
Costumer Satification Index (CSI), tingkat kepuasan konsumen terhadap
keempat benih varietas unggul berada pada kategori puas.
8.2 Saran
1.
Lebih mensosialisasikan manfaat penggunaan varietas unggul melalui
media massa, media cetak, dan brosur-brosur.
2.
Membina petani mengenai keuntungan menjual hasil panen berupa beras
dibandingkan menjual hasil panen berupa GKP, mengingat motivasi petani
melaksanakan budidaya padi adalah untuk memperoleh keuntungan.
3.
Memperbanyak pemberian subsidi kepada varietas unggul yang memiliki
mutu tinggi dimata petani, yaitu varietas Cisokan dan Anak Daro.

4.
Perlu terus diupayakan pengembangan varietas yang lebih baik dan dapat
diterima petani maupun konsumen, seperti varietas yang memiliki
produktivitas yang tinggi, memiliki umur pendek, rasa nasi yang enak
serta tahan terhadap hama dan penyakit.
5.
Meskipun atribut produktivitas dan kerebahan tanaman varietas unggul
telah memiliki kinerja yang baik, tetapi menurut petani tetap perlu
dikembangkan. Hal ini karena motivasi utama petani melakukan budidaya
padi sawah adalah guna memperoleh keuntungan. Dengan menggunakan
varietas unggul petani berharap produksi mereka dapat meningkat.
6.
Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang sikap dan kepuasan petani
padi di Kota Solok terhadap benih padi varietas unggul.

110
DAFTAR PUSTAKA
Afifi MF. 2007. Analisis Kepuasan Kosnsumen Terhadap Atribut Sayuran
Organik Dan Penerapan Personel Selling Benny..s Organik Garden
[Skipsi]. Bogor: Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Astuti EP. 2008. Analisis Preferensi dan Kepuasan Konsumen terhadap Beras di
Kecamatan Mulyorejo surabaya Jawa Timur [Skripsi]. Bogor: Program
Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
Anonim. 2000. Bahan Pembinaan dan Penyuluhan Pengawasan Mutu dan
Sertifikasi Benih. Solo: Tim Penyusun BPSB Jawa Tengah.
[BAPPEDA, BPS] Badan Perencana Pembangunan Daerah, Badan Pusat Statistik
Kota Solok. 2007. Kota Solok Dalam Angka 2007. Solok: BAPPEDA
dan BPS Kota Solok.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. Statistik Indonesia, Statistic Yearbook of
Indonesia Dari Berbagai Tahun. Jakarta: BPS.
[DISPERTA] Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pangan Kota Solok. 2007.
Laporan Tahunan Pertanian Kota Solok. Solok :
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan
Agribisnis Padi. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian.
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2007. Pedoman Gerakan Peningkatan
Produksi Beras Nasional. Jakarta: Direktorat Jendral Tanaman Pangan.
Departemen Pertanian
Engel JF, et al. 1994. Perilaku Konsumen Jilid I. Jakarta: Bina Aksara.
1995. Perilaku Konsumen Jilid II. Jakarta: Bina Aksara.
Fahmi D. 2008. Analisis Sikap Dan Kepuasan Petani Padi terhadap Benih Padi
Varietas Unggul Di Kabupaten Kediri, Jawa Timur [Skripsi]. Bogor:
Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.
Haryadi. 2004. Studi Identifikasi Dan Tingkat Komersialisasi Benih Padi Sawah
Varietas Unggul [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Pertanian.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Irawati,
N. 2006. Pengawasan Mutu Benih Padi (Oryza sativa) Di Balai
Pengawasan Dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah [Laporan
Praktek Lapang]. Bogor: Program Studi Teknologi Benih. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran Jilid II. Teguh H, penerjemah; Jakarta:
Prenhallindo. Terjemahan dari: Marketing management II.
2000. Manajemen Pemasaran Jilid I. Teguh H, penerjemah; Jakarta:
Prenhallindo. Terjemahan dari: Marketing management I.
Maulana M, Nizwa S dan Pantjar S. Analisis Kendala Penawaran dan Kebijakan
Revitalisasi Produksi Padi. Jurnal Agro Ekonomi, Volume 24 Nomor 2,
Oktober 2006 : 207-230. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Pertanian, badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian
Departemen Pertanian. Bogor
Mugnisjah, Q. W. dan Asep, S. 1991. Produksi Benih. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir M. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Ramadhan M. 2007. Analisis Preferensi Konsumen Energy Drink Sachet Extra
Merek Jos dan Implikasinya Terhadap Strategi Pemasaran [Skripsi].
Bogor: Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor.
Rangkuti F, 2006. Measuring Costumers Satisfaction. Teknik Mengukur dan
strategi meningkatkan Kepuasan pelanggan plus Analisis Kasus PLN-PJ.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sadjad S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta: Rasindo.
Saheda AA. 2008. Preferensi dan Kepuasan Petani Terhadap Benih Padi
Varietas Lokal Pandan wangi di Kabupaten Cianjur [Skripsi]. Bogor:
Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Pertanian Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Simamora B. 2002. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta.
Sumarwan U. 2003. Perilaku Konsumen Teori dan Peranannya Dalam
Pemasaran. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sugara D. 2007. Analisis Kepuasan Konsumen Instan Temulawak Taman Sri


Rengganis Bogor [Skipsi]. Bogor: Program Studi Manajemen
Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Soetopo L. 1993. Teknologi Benih. Jakarta: Rajawali Pers.
Umar H. 2002. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Wirawan, B dan Sri W. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Yunita V. 2007. Analisis Kepuasan Petani Terhadap Benih Jagung Hibrida
Produksi PT. Pertani (Persero) Jakarta Di Kecamatan Tanjung Medar
Kabupaten Sumedang Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana
Ekstensi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.

Lampiran 1 Luas Panen, Hasil Perhektar dan Produksi Padi Menurut Pulau
di Indonesia Tahun 2008)*
No Provinsi Luas panen
Area (Ha)
Hasil/ha
(Ton/Ha)
Produksi
(Ton)
1 Nanggroe Aceh D 362.489 42,47 1.539.620
2 Sumatera Utara 748.448 43,74 3.274.061
3 Sumatera Barat 435.778 46,30 2.017.582
4 R i a u 140.592 33,31 468.283
J a m b i 150.043 39,58 593.839
6 Sumatera Selatan 684.455 42,14 2.883.991
7 Bengkulu 120.781 38,80 468.665
8 Lampung 511.159 45,81 2.341.418
9 Bangka Belitung 9.554 25,70 24.550
Riau Kepulauan 131 30,92 405
11 D.K.I. Jakarta 1.433 49,23 7.054
12 Jawa Barat 1.855.584 54,31 10.077.625
13 Jawa Tengah 1.659.965 54,62 9.066.180
14 D.I. Yogyakarta 142.122 54,81 778.976
Jawa Timur 1.796.185 57,66 10.357.203
16 Banten 370.652 50,19 1.860.290
17 Bali 141.815 58,42 828.504
18 Nusa Tenggara Barat 353.364 48,79 1.723.991
19 Nusa Tenggara Timur 187.835 30,58 574.412
Kalimantan Barat 425.044 31,47 1.337.528
21 Kalimantan Tengah 202.505 25,20 510.248
22 Kalimantan Selatan 506.580 39,03 1.976.966
23 Kalimantan Timur 159.974 37,67 602.588
24 Sulawesi Utara 111.143 47,73 530.466
Sulawesi Tengah 218.401 43,94 959.736
26 Sulawesi Selatan 802.128 48,30 3.874.266
27 Sulawesi Tenggara 110.323 39,02 430.534
28 Gorontalo 44.646 47,86 213.683
29 Sulawesi Barat 66.887 48,25 322.748
Maluku 18.353 37,56 68.934
31 Maluku Utara 13.164 34,13 44.931
32 Papua Barat 9.089 34,71 31.548
33 Papua 24.620 35,09 86.394
Indonesia 12.385.242 48,35 59.877.219
Sumber : Badan Pusat Statistik 2008)*
*) Data sementara

Lampiran 2 Penyebaran Varietas Unggul di Indonesia Tahun 2005


Varietas Tahun Dilepas Luas Tanam
(ha) (%)
IR 64 1986 3.622.622 31,4
Ciherang 2000 2.517.140 21,8
Ciliwung 1989 915.914 8
Way Apo Buru 1998 380.646 3,3
IR 42 1980 281.764 2,4
Widas 1999 204.007 1,8
Membramo 1995 189.211 1,6
Cisadane 1980 185.258 1,6
IR 66 1989 129.758 1,1
Cisokan 1985 125.388 1,1
Cibogo 2003 121.900 1,1
Lainnya -2.860.445 24,8
Total 11.534.053 100
Sumber : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2007

Lampiran 3 Informasi Varietas Unggul Cisokan, Anak Daro, Batang Piaman


dan Batang Lembang.
Atribut Informasi
Cisokan Anak Daro Batang Piaman Batang Lembang
Asal Persilangan PB36/Pelita I-1 Populasi
berkembang
Sumatera Barat
IR2539357/
RD203//IR2731696///
SPLR7735/SPLR2
792
Sintha/IR64//IR64
Golongan Cere, kadangkadang
berbulu
Cere Cere Cere
Umur Tanaman 110 - 120 hari 135-145 hari 100 - 131 hari 97 - 120 hari
Bentuk Tanaman Tegak Tegak Tegak Tegak
Tinggi Tanaman 90 - 100 cm 105-121cm 105 - 117 cm 93 - 115 cm
Anakan Produktif 20 - 25 batang 20 - 27 batang 14 - 19 batang 13 - 19 batang
Warna Kaki Hijau Hijau Hijau Hijau
Warna Batang Hijau muda Hijau Hijau Hijau
Warna Daun
Telinga
Tidak berwarna Tidak berwarna Putih Putih
Warna Daun Hijau Hijau Hijau Hijau
Warna Muka Daun Kasar Kasar Agak kasar Agak kasar
Posisi Daun Tegak Tegak Tegak Tegak
Daun Bendera Intermediate Tegak Tegak Tegak
Bentuk Gabah Lonjong - sedang Ramping Ramping Ramping
Warna Gabah Kuning bersih Kuning jerami Kuning bersih Kuning bersih
Kerontokan Sedang Sedang Sedang Sedang
Kerebahan Sedang Tahan Sedang Sedang
Tekstur Nasi Pera Pera Pera Pera
Kadar Amilosa 22% 27% 28% 27%
Bobot 1000 Butir 22 g 22,43 g 27 - 30 gram 25 - 29 gram
Rata - Rata Produksi 4,5 - 5,0 t/ha
GKG
5,65 t/ha GKG 3,03 - 7,58 t/ha
GKG
3,74 - 7,80 t/ha
GKG
Sumber : Surat Keputusan Mentri Pertanian RI, dari berbagai tahun (diolah)
116

Lampiran 4
PROGRAM SARJANA EKSTENSI AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
No Kuisioner :
Responden yang terhormat,
Saya, Nike Irawati adalah mahasiswa Ekstensi Agribisnis Institut Pertanian
Bogor (IPB) yang sedang melakukan penelitian tentang Analisis Sikap dan
Kepuasan Petani Padi (Oryza Sativa) Terhadap Benih Padi Varietas Unggul
Di Kota Solok . Penelitian ini merupakan bagian dari skripsi yang akan saya
kerjakan. Demi tercapainya hasil yang di inginkan, mohon kesediaan anda untuk
ikut berpartisipasi dalam mengisi kuisoner ini secara lengkap dan benar. Informa
si
yang diterima dari kuisoner ini bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk
kepentingan akademis. Atas bantuanya saya ucapankan terimakasih
Screening
1.
Apakah anda merupakan pengambil keputusan dalam penggunaan benih yang
akan ditanam?
a. Ya b. Tidak
Jika Ya, lanjut ke pertanyaan selanjutnya; jika Tidak, Anda tidak perlu
melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, terima kasih !
2.
Bagaimana cara anda memenuhi kebutuhan benih padi?
a. Membeli benih bersertifikat
Alasan :...........................
b. Sendiri (dari hasil panen sebelumnya)
Alasan :...........................
Jika Membeli, lanjut ke pertanyaan selanjutnya; jika Sendiri, Anda tidak
perlu melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, terima kasih !
3.
Apakah anda pernah menggunakan benih Batang Lembang, Batang Piaman,
Cisokan dan Anak Daro?
a. Ya b. Tidak
Jika Ya, lanjut ke pertanyaan selanjutnya; jika Tidak, Anda tidak perlu
melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya, terima kasih !
Identitas Responden
Beri tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih
1.
Nama :
.
2.
Jenis Kelamin :
.
3.
Umur :
..Tahun
4.
Alamat :
.
5.
Jumlah Anggota Keluarga (Suami, Istri dan Anak) : .......... Orang
6.
Status Pernikahan : ( ) sudah menikah ( ) belum menikah

7. Pendidikan Terakhir : ( ) tidak bersekolah ( ) SD ( ) SLTP


(
) SMU ( ) Lainnya,
sebutkan
.
8. Rata-rata Pendapatan Perbulan : ( ) <500.000 ( ) 500.000 - 999.999
(Rp) (Selain hasil sawah sendiri) (
) 1.000.000 - 1.999.999
( ) > 2.000.000 ( ) Tidak Menentu
9. Sudah Berapa Lama Menanam Padi :
.Tahun
10. Status Lahan
: ( ) Pemilik Penggarap ( ) Sewa
11. Luas Lahan Yang Digarap : Hektar
12. Berapa kali Anda budidaya dan panen padi dalam satu tahun?
a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali
13. Apakah usahatani padi ini merupakan
a. usaha utama, dengan usaha sampingan sebagai...........................
b. usaha sampingan, dengan usaha utama sebagai...........................
14. Saat Ini Sedang Menanam Benih Varietas?
a. Varietas Batang Piaman b. Varietas Batang Lembang
c. Varietas Anak Daro d. Varietas Cisokan
e. Varietas Lainnya, Sebutkan
.
Beri tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih
Proses Pengenalan Kebutuhan
1. Apa yang menjadi alasan (motivasi) anda tertarik untuk menanam benih padi?
a. Memperoleh keuntungan
b. Turun temurun
c. Memenuhi kebutuhan sendiri
d. Lainnya, sebutkan
..
2. Seberapa pentingkah anda menggunakan benih padi varietas unggul?
a. Sangat Penting
b. Penting
c. Biasa
d. Tidak Penting
e. Sangat Tidak Penting
3. Apa yang anda harapkan dari penggunaan benih padi varietas unggul?
a. Hasil penen yang banyak
b. Waktu panen yang lebih cepat
c. Kualitas padi yang lebih baik
d. Lainnya, sebutkan
.
Pencarian Informasi
4.
a.
b.
c.
d.
c.
d.
e.
f.

Darimana anda mengetahui informasi tentang benih padi varietas unggul?


Diri sendiri
Keluarga
Teman
Kelompok tani
Penangkar benih
Penyuluh pertanian lapang
Kios saprotan
Media masa cetak dan elektonik

5.
Sumber informasi manakah yang paling anda percaya dalam menentukan
keputusan pembelian?
a.
Diri sendiri
b.
Keluarga
c.
Teman
d.
Kelompok tani
e.
Penangkar benih
f.
Penyuluh pertanian lapang
g.
Kios saprotan
h.
Media masa cetak dan elektronik
i.
Lainnya
..
Evaluasi Alternatif
6.
Hal apakah yang Anda pertimbangkan dalam memilih benih padi? (urutkan
sesuai prioritas anda)
( )Umur tanaman padi yang pendek ( )Mudah didapat (ketersediaan benih)
( )Produktifitas (hasil panena) yang tinggi ( )Harga padi yang terjangku
( )Tahan rebah ( )Responsif terhadap pemupukan
( )Tahan terhadap hama penyakit ( )Gabah mudah rontok saat
pemanenan
( )Rasa nasi yang enak ( )Lainnya, sebutkan..............................
Keputusan Pembelian
7.
Dari pertanyaan point 6, varietas manakah yang sering Anda beli?................
.....
8.
Bagaimana anda memutuskan untuk menggunakan benih padi tersebut?
a. Terencana (sudah direncanakan untuk membeli)
b. Mendadak
c. Tergantung situasi
d. Lainnya
........
9. Dimana anda membeli benih padi?
a. Penangkar benih
b. Kios saprotan
c. Kios Saprotan kelompok tani
d. Lainnya,
10. Apakan alasan anda memilih tempat pembelian tersebut?
a. Dekat dengan rumah
b. Sudah kenal dekat
c. Merupakan angota kelompok
d. Kualitas benih terjamin
11. Jarak tempat tinggal anda dengan tempat penjualan benih ?
a. < 1 km b. 1-5 km c. > 5 km
12. Berapa kali Anda membeli benih padi dalam satu tahun?
a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali
13. Berapa harga benih yang anda beli sekarang? Rp ../kemasan (5kg)

14.
Berapa kebutuhan pembelian benih padi varietas unggul perhektar?
a. < 20 Kg
b. 20-25 Kg c. > 25 Kg

Pasca Pembelian
15. Apakah anda merasa puas terhadap hasil dari benih padi yang biasa anda
gunakan?
a.Ya
Alasannya
b.Tidak
Alasannya
16. Apabila harga benih padi yang biasa Anda pakai mengalami kenaikan, maka
apa yang akan anda lakukan?
a. Tetap membeli
b. Tidak jadi membeli
c. Lainnya
17. Apabila dilapang benih yang biasa anda pakai tidak tersedia apa yang akan
anda lakukan?
a.Menggunakan benih sendiri
b.Membeli varietas lain
c.Mencari ditempat lain
d.Lainnya,
.

Tingkat Kepentingan dan Pelaksanaan Benih Padi Varietas Unggul


Petunjuk pengisian kuisioner: Berilah tanda silang (X) pada tabel di bawah ini s
esuai dengan pilihan anda
Menurut anda pentingkah atribut benih padi dibawah ini menjadi pertimbangan Anda
dalam membeli benih padi varietas unggul?
No Atribut Penilaian
1 2 3 4 5
1 Umur tanaman padi Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penting San
gat Penting
2 Produktivitas (hasil panen) Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting P
enting Sangat Penting
3 Kerebahan tanaman Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penting San
gat Penting
4 Tahan hama dan penyakit Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penti
ng Sangat Penting
5 Rasa nasi Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penting Sangat Pent
ing
6 Ketersediaan benih/mudah diperoleh Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Pe
nting Penting Sangat Penting
7 Harga beli benih Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penting Sang
at Penting
8 Harga Jual Gabah (GKP) Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Pentin
g Sangat Penting
9 Pemasaran hasil panen Sangat Tidak Penting Tidak Penting Cukup Penting Penting
Sangat Penting
Menurut Anda bagaimana tingkat pelaksanaan atribut benih padi Batang Piaman ?
No Atribut Penilaian
1 2 3 4 5
1 Umur tanaman padi Sangat Panjang Panjang Cukup Pendek Pendek Sangat Pendek
2 Produktivitas (hasil panen) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Ti
nggi
3 Kerebahan tanaman Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
4 Tahan hama dan penyakit Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
5 Rasa nasi Sangat Tidak Enak Tidak Enak Cukup Enak Enak Sangat Enak
6 Ketersediaan benih/mudah diperoleh Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat
Mudah
7 Harga beli benih Sangat Mahal Mahal Cukup Murah Murah Sangat Murah
8 Harga Jual Gabah (GKP) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Tinggi
9 Pemasaran hasil panen Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat Mudah
105

Petunjuk pengisian kuisioner: Berilah tanda silang (X) pada tabel di bawah ini s
esuai dengan pilihan anda
Menurut Anda bagaimana tingkat pelaksanaan atribut benih padi Cisokan?
No Atribut Penilaian
1 2 3 4 5
1 Umur tanaman padi Sangat Panjang Panjang Cukup Pendek Pendek Sangat Pendek
2 Produktivitas (hasil panen) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Ti
nggi
3 Kerebahan tanaman Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
4 Tahan hama dan penyakit Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
5 Rasa nasi Sangat Tidak Enak Tidak Enak Cukup Enak Enak Sangat Enak
6 Ketersediaan benih/mudah diperoleh Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat
Mudah
7 Harga beli benih Sangat Mahal Mahal Cukup Murah Murah Sangat Murah
8 Harga Jual Gabah (GKP) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Tinggi
9 Pemasaran hasil panen Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat Mudah
Menurut Anda bagaimana tingkat pelaksanaan atribut benih padi Anak Daro?
No Atribut Penilaian
1 2 3 4 5
1 Umur tanaman padi Sangat Panjang Panjang Cukup Pendek Pendek Sangat Pendek
2 Produktivitas (hasil panen) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Ti
nggi
3 Kerebahan tanaman Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
4 Tahan hama dan penyakit Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
5 Rasa nasi Sangat Tidak Enak Tidak Enak Cukup Enak Enak Sangat Enak
6 Ketersediaan benih/mudah diperoleh Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat
Mudah
7 Harga beli benih Sangat Mahal Mahal Cukup Murah Murah Sangat Murah
8 Harga Jual Gabah (GKP) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Tinggi
9 Pemasaran hasil panen Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat Mudah
106

Petunjuk pengisian kuisioner: Berilah tanda silang (X) pada tabel di bawah ini s
esuai dengan pilihan anda
Menurut Anda bagaimana tingkat pelaksanaan atribut benih padi Batang Lembang?
No Atribut Penilaian
1 2 3 4 5
1 Umur tanaman padi Sangat Panjang Panjang Cukup Pendek Pendek Sangat Pendek
2 Produktivitas (hasil panen) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Ti
nggi
3 Kerebahan tanaman Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
4 Tahan hama dan penyakit Sangat Rentan Rentan Cukup Tahan Tahan Sangat Tahan
5 Rasa nasi Sangat Tidak Enak Tidak Enak Cukup Enak Enak Sangat Enak
6 Ketersediaan benih/mudah diperoleh Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat
Mudah
7 Harga beli benih Sangat Mahal Mahal Cukup Murah Murah Sangat Murah
8 Harga Jual Gabah (GKP) Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Tinggi Sangat Tinggi
9 Pemasaran hasil panen Sangat Sulit Sulit Cukup Mudah Mudah Sangat Mudah
107

Kriteria Penilaian Dalam Kuisioner


A. Umur Tanaman
Sangat panjang/lama : 135-144 hari
Lama : 125-134 hari
Cukup pendek : 115-124 hari
Pendek : 105-114 hari
Sangat pendek : 95-104 hari
B. Produktivitas
Sangat rendah : 3 ton/ha
Rendah : 4 ton/ha
Cukup tinggi : 5 ton/ha
Tinggi : 6 ton/ha
Sangat tinggi : 7 ton/ha
C. Kerebahan tanaman
Sangat rentan : seluruh tanaman rebah, rata dengan tanah
Rentan : sebagian besar tanaman rebah, hampir rata dengan
tanah
Cukup tahan : sebagian besar tanaman agak rebah
Tahan : sebagian tanaman agak condong/tidak tegak
Sangat tahan : tidak ada yang rebah
D. Tahan hama dan penyakit :
Sangat rentan :hampir seluruh tanaman terkena hama dan penyakit
Rentan : sebagian besar tanaman terkena hama dan penyakit
Cukup tahan : setengah tanaman terkena hama dan penyakit
Tahan : sebagian kecil tanaman terkena hama dan penyakit
Sangat tahan : hampir tidak ada yang terkena hama dan penyakit
E. Rasa nasi lebih tergantung selera
F. Ketersediaan benih adalah kemudahan dalam membeli/memperoleh benih
G. Harga beli benih
Sangat mahal : > Rp.25.000/5 kg
Mahal : Rp.25.000-Rp.20.000/5 kg
Cukup murah : Rp.19.000-Rp.14.000/5 kg
Murah : Rp.13.000-Rp.8.000/5 kg
Sangat murah : < Rp.8.000/5 kg
H. Harga jual gabah
Sangat rendah : Rp.3.500/sukat gabah
Rendah : Rp.4.000/sukat gabah
Cukup tinggi : Rp.4.500/sukat gabah
Tinggi : Rp.5.000/sukat gabah
Sangat tinggi : Rp.5.500/sukat gabah
I. Pemasaran hasil panen lebih tergantung pada pengaruh permintaan konsumen
yang akan mempengaruhi permintaan pemborong

Lampiran 5 Rekapitulasi Tingkat Kinerja Benih Varietas Unggul Batang


Piaman dan Cisokan
Varietas Batang Piaman
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Umur tanaman padi 0 0 32 65 0 344 3,66
Produktivitas 0 0 3 75 16 389 4,14
Kerebahan tanaman 0 6 9 62 17 372 3,96
Tahan hama penyakit 4 7 24 51 8 334 3,55
Rasa nasi 0 49 35 10 0 243 2,59
Ketersediaan benih 0 0 0 78 16 394 4,17
Harga beli benih 0 0 19 73 2 359 3,82
Harga Jual Gabah 0 27 62 5 0 260 2,77
Pemasaran hasil panen 0 6 15 26 53 426 4,26
Total 3121
32,92
Varietas Cisokan
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Umur tanaman padi 0 0 24 73 70 352 3,74
Produktivitas 0 5 14 52 24 378 4,02
Kerebahan tanaman 0 6 8 67 13 369 3,93
Tahan hama penyakit 3 5 27 57 2 332 3,53
Rasa nasi 0 0 0 36 58 434 4,62
Ketersediaan benih 8 69 10 7 0 204 2,17
Harga beli benih 12 68 8 4 2 198 2,11
Harga Jual Gabah 0 0 2 16 76 450 4,79
Pemasaran hasil panen 0 0 0 7 87 463 4,93
Total 3180
33,84
109

Lampiran 6 Rekapitulasi Tingkat Kinerja Benih Varietas Unggul Anak Daro


dan Batang Lembang
Varietas Anak Daro
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Umur tanaman padi 2 59 33 0 0 219 2,32
Produktivitas 0 2 10 68 15 379 4,03
Kerebahan tanaman 0 6 17 42 29 376 4,00
Tahan hama penyakit 1 2 15 56 20 394 3,98
Rasa nasi 0 0 0 28 66 442 4,70
Ketersediaan benih 7 60 22 5 0 213 2,27
Harga beli benih 9 64 10 7 4 215 2,29
Harga Jual Gabah 0 0 1 14 79 454 4,83
Pemasaran hasil panen 0 0 0 8 86 462 4,92
Total 3154
33,34
Varietas Batang Lembang
Atribut Kinerja Nilai
Total
Skor
Rata-rata 1 2 3 4 5
Umur tanaman padi 0 0 34 60 0 342 3,64
Produktivitas 0 0 8 71 15 383 4,08
Kerebahan tanaman 0 4 8 68 14 374 3,98
Tahan hama penyakit 2 8 21 49 14 347 3,69
Rasa nasi 3 38 39 16 0 254 2,70
Ketersediaan benih 0 0 2 81 11 385 4,10
Harga beli benih 0 0 15 70 9 370 3,94
Harga Jual Gabah 0 35 51 8 0 244 2,71
Pemasaran hasil panen 0 8 13 23 50 397 4,22
Total 3096
33,06
110

111