You are on page 1of 19

Abstract:

Enzim dapat diartikan sebagai suatu molekul protein yang dimanfaatkan sebagai
katalisator yang ada di dalam tubuh makhluk hidup, enzim tersebut merupakan
senyawa yang digunakan untuk membantu mempercepat proses reaksi kimia
pada bahan tertentu tanpa ikut bereaksi. Oleh karena itu, pada semua proses
fisiologis sel pada tanaman selalu memerlukan enzim yang bertujuan untuk
mempercepat proses-proses metabolisme yang ada di dalam tubuh tanaman.
Reaksi enzimatis pada jaringan tumbuhan utamanya dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah temperatur, suhu, substrat,
konsentrasi enzim, inhibitor dan aktivator. Apabila semua faktor pendukung
enxim dalam kondisi optimal maka reaksi enzim yang terjadi juga akan optimal.
Enzim yang merupakan katalisator memiliki sifat-sifat sebagai berikut, sebagai
katalisator pada umumnya enzim akan ikut bereaksi, tetapi setelah reaksi selesai
maka enzim akan kembali pada bentuk semula, dengan begitu enzim dapat
digunakan kembali pada reaksi lainnya.

Loading Preview

Penentuan Aktivitas Enzim


-Amilase LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok
4
1.

Fitria Retno Sari (131510501063)


2.

Yuni Y. (131510501080) 3.

Eri Pratiwi . (131510501070) 4.

Pitri Lailatul Q. (131510501088) 5.

Erviana Dwi C. (131510501103) 6.

Angga Wibowo. (131510501160) 7.

Miftauhul Imron . (131510501091) 8.

M Rizqy Maulana (131510501078) 10.Moch Rosy W (131510501066)


11.Muamal Fanani
(131510501054)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS


JEMBER 2014

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki
tingkat keanekaragaman tanaman yang sangat tinggi, mulai dari berbagai jenis
tanaman pangan hingga tanaman penggangu atau gulma. Keanekaragam
tanaman di Indonesia ini disebabkan karena Indonesia merupakan satu-satunya
negara mega biodersity di permukaan bumi ini. Namun meski demikian,
keanekaragaman tanaman di Indonesia akan berkurang jika penduduknya
kurang memahami atau tidak bijaksana dalam membudidayakan tanaman.
Dalam membudidayakan suatu tanaman, seorang harus menguasai atau

setidaknya mengerti tentang anatomi dan morfologi tanaman. Hal ini bertujuan
untuk mendukung proses-proses penting yang berlangsung di dalam tubuh
tanaman. Dengan mengetahui struktur dari sebuah tanaman maka dapat pula
diketahui proses metabolisme dari tanaman yang sedang atau hendak
dibudidayakan. Setiap tanaman pasti melakukan proses metabolisme seperti
proses fotosintesis, proses respirasi, proses transpirasi dan proses-proses lainnya
dalam menunjang tumbuh dan kembangnya. Selain proses-proses tersebut
tanamanjuga merupakan tempat melakukan interkonversi gula dan pati yang
terjadi pada organ daun. Senyawa-senyawa seperti senyawa glukosa merupakan
hasil dari proses fotosintesis. Akan tetapi, pati pada tanaman tidak terbentuk
dari hasil proses fotosintesis, melainkan reaksi-reaksi tersebut terbentuk akibat
adanya aktivitas enzim-enzim yang terdapat dalam daun. Enzim dapat diartikan
sebagai suatu molekul protein yang dimanfaatkan sebagai katalisator yang ada
di dalam tubuh makhluk hidup, enzim tersebut merupakan senyawa yang
digunakan untuk membantu mempercepat proses reaksi kimia pada bahan
tertentu tanpa ikut bereaksi. Oleh karena itu, pada semua proses fisiologis sel
pada tanaman selalu memerlukan enzim yang bertujuan untuk mempercepat
proses-proses metabolisme yang ada di dalam tubuh tanaman.

Reaksi enzimatis pada jaringan tumbuhan utamanya dipengaruhi oleh beberapa


faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah temperatur, suhu, substrat,
konsentrasi enzim, inhibitor dan aktivator. Apabila semua faktor pendukung
enxim dalam kondisi optimal maka reaksi enzim yang terjadi juga akan optimal.
Enzim yang merupakan katalisator memiliki sifat-sifat sebagai berikut, sebagai
katalisator pada umumnya enzim akan ikut bereaksi, tetapi setelah reaksi selesai
maka enzim akan kembali pada bentuk semula, dengan begitu enzim dapat
digunakan kembali pada reaksi lainnya. Salah satu enzim yang ada dalam
tanaman adalah enzim amilase. Enzim amilase ini umumnya diketahui berfungsi
mengubah pati menjadi glukosa. Enzim ini tidak hanya pada tanaman saja,
namun makhluk hidup lain yaitu manusia dan hewan yang juga mempunyai
enzim amilase di dalam sistem tubuhnya. Pada saat ini enzim banyak digunakan
untuk skala industri karena enzim amilase dapat diaplikasikan secara luas dalam
berbagai bidang bioteknologi.
1.2 Tujuan
1.

Untuk mengetahui aktivitas enzim


-Amilase

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Negara indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki


tingkat keanekaragaman tanaman yang sangat tinggi, mulai dari berbagai jenis
tanaman pangan hingga tanaman penggangu atau gulma. Banyaknya
tananaman pangan tersebut maka potensi untuk mengembangkan bahan
industri yang dapat menghasilkan enzim

-amilase. Enzim

-amilase in banyak dihasilkan dari tanaman-tanaman yang memiliki sari pati.


Contoh tanaman yang memiliki kandungan pati tinggi dalam biji atau buahnya
diantaranya adalah tanaman jagung, tanaman sagu, tanaman sorgum dan
tanaman singkong (Trismilah dan Budiasih, 2009). Menurut Kotting (2010),
senyawa pati yang sering ditemukan di bagian tanaman-tanaman tertentu
merupakan salah satu dari senyawa karbohidrat yang banyak tersimpan di
dalam tanaman. Zat utama yang merupakan penyusun senyawa pati adalah
polimer glukosa amilosa dan amilopektin. Kedua zat tersebut berada di dalam
tubuh tanaman dan disimpan untuk digunakan kembali pada saat bahan untuk
melakukan proses fotosintesis telah habis. Pada tanaman tingkat
tinggi senyawa pati berfungsi sebagai kontrol kerja enzim
amilase dan enzim
amilase. Syafii (2009), menambahkan bahwa kadar pati yang terdapat di dalam
tanaman dapat mengalami penurunan. Penurunan tersebut diakibatkan oleh
proses pemanasan yang sangat lama. Proses pemanasan yang terlalu lama
menyebabkan pati terpecah menjadi gula secara sederhana seperti glukosa dan
maltosa.
Pemecahan pati tersebut dilakukan oleh enzim
amilase dan enzim
-amilase.
Aktifitas enzim
-amilase dan
enzim

-amilase sangat tinggi ketika proses pemanasan berlangsung sehingga senyawa


pati pun terpecah menjadi monosakarida. Menurut Sloane (1994), enzim
merupakan suatu katalis dari organik yang masuk ke dalam protein globular.
Enzim umumnya mampu menurunkan energi aktivasi yang terjadi di dalam sel.
Hal inilah yang menyebabkan reaksi pada sel hidup dapat berlangsung pada
kondisi normal. Kebanyakan enzim hanya bekerja untuk satu substrat saja, hal ini
menjadi suatu bukti bahwa setiap enzim mampu

membedakan substratnya sendiri dengan substrat lain yang berkaitan erat.


Sedangkan menurut Sumardjo (2009), enzim adalah suatu kelompok protein
yang menjalankan dan mengatur perubahan kimia dalam sistem biologi pada
makhluk hidup. Enzim banyak dihasilkan dari tanaman atupun hewan, dimana
enzim ini melangsungkan berbagai reaksi kimia seperi hidrolisis, reduksi,
oksidasi, pemutusan rantai karbon, dan masih banyak yang lainnya. Enzim
dapat mengalami kerusakan seperti halnya protein. Hal itu bisa terjadi jika
adanya pemanasan, gelombang ultrasonil, radiasi UV atupun pengaruh
penambahan asam maupun basa tertentu. Enzim yang mengalami kerusakan
atau denaturasi lama kelamaan akan menjadi tidak produktif alias tidak dapat
bekerja dengan baik. Enzim yang banyak ditemukan pada s
enyawa pati adalah enzim
-amilase.
Enzim
-amilase mampu menghidrolisis pati dan glikogen melalui pemotongan
internal ikatan
-1,4-glikosida secara acak, dan kemudian akan menghasilkan oligosakarida
seperti maltosa dan glukosa. (Lestari dkk., 2011). Hidrolisis enzimatis dapat
dilakukan dalam pembuatan sirup glukosa, dapat dilakukan dengan
menggunakan dua tahap yaitu likuifikasi pada tahap pertama dan
sekarifikasi pada tahap kedua. Likuifikasi yaitu enzim
-amilase (EC 3.2.1.1) yang digunakan untuk memecah molekul pati dari sisi
bagian dalam rantai pati pada ikatan (1,4)
-glikosida menjadi molekul BM yang lebih kecil dan meliputi maltosa, glukosa,
oligosakarida, dan deskrin. Konsentrasi enzim akan mempengaruhi jumlah
substrat yang berhubungan dengan enzim. Lama sakarifikasi akan
mempengaruhi lama dan singkatnya hubungan yang terjadi antara substrat dan
enzim (Yunianta dkk., 2010). Garcia (2013), menambahkan suatu pernyataan
berdasarkan penelitiannya bahwa aktivitas enzim yang melibatkan sukrolisis
dan amilolisis dapat digunakan untuk membuktikan adanya jalur metabolik

potensial. Pada penelitian tersebut, ditemukan karbohidrat yang didalamnya


terdapat kandungan sukrosa, glukosa, fruktosa serta pati. Menurut Askurrahman
(2010), salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan dan metabolik enzim
adalah suhu. Peningkatan suhu dapat meningkatkan afinitas enzim terhadap
katalisator dan aktivator. Hal itu menyebabkan reaksi akan berlangsung cepat.
Selain itu, peningkatan suhu juga

dapat menambah energi kinetik dari enzim maupun substrat yang lama
kelamaan akan menyebabkan enzim dan substrat bergerak dengan cepat dan
akhirnya akan saling bertabrakan. Besarnya frekuensi tabrakan antar enzim dan
substrat akan memperbesar terbentuknya produk. Das (2011), menambahkan
bahwa enzim amilase merupakan salah satu dari sekian banyak enzim yang
digunakan dalam bidang industri karena dalam sistem sel, amilase berperan
penting dalam biokonversi pati dan substrat berbasis pati, sehingga enzim
amilase disini sangat berpengaruh terhadap proses hidrolisis dalam dalam
pengolahan pati skala industri.

BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1

Waktu dan Tempat


Pratikum Fisiologi Tumbuhan dilaksanakan pada Kamis tanggal 22 Oktober 2014
dari pukul 15.15 sampai selesai di laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas
Pertanian, Universitas Jember.
3.2

Bahan dan Alat


3.2.1

Bahan 1.

Benih kecambah 2.

Buffer phosphat 0,1 M dengan pH 7,55 3.

Starch soluble 1 % 4.

Larutan DNS 5.

Enzim CE, enzim


-amilase 3.2.2

Alat 1.

Tabung reaksi dan rak 2.

Oven 3.

Spektrofotometer 4.

Mikropipet
3.3

Cara Kerja
1.

Mengambil 100 l soluble starch 1% masukkan dalam tabung reaksi. 2.

Menambahkan KPI pH 7,55 sebanyak 390 l 3.

Menambahkan 10 l Enzim CE 4.

Menginkubasi pada suhu 35-

40C selama 30 menit


5.

Menambahkan DNS sebanyak 500 l 6.

Mendidihkan selama 5 menit 7.

Mendinginkan 8.

Mengukur absorbansinya pada panjang gelombang 575 nm.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1

Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Pengukuran Absorbansi Enzim Amilase Jenis Enzim Kelompok 1
Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 CE 2,6815 3,000 2,9245 2,8735 E 1,388
1,4925 1,2415 1,613
4.2 Pembahasan
Kinetika enzim (Km) merupakan suatu studi reaksi kimia yang dikatalisis oleh
enzim. Pada kinetika enzim laju reaksi diukur dan dampak dari berbagai kondisi
reaksinya. Kinetika enzim juga mempengaruhi bidang biokimia yang terkait
dengan pengukuran kuantitatif dari kecepatan reaksi yang dikatalisis enzim dan
pemeriksaan sistematik faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan
enzim. Dalam penelitiannya Putra (2009), menyatakan bahwa penentuan
kinetika enzim diukur berdasarkan plot grafik hubungan antara konsentrasi
Substrat (S) dengan kecepatan aktivitas enzim (V), sehingga tingkat reaksi enzim
dapat diketahui dengan menggunakan rumus V
maks
dan K
maks
. Dalam analisis Michaelis-Menten, K
maks

dikenal dengan K
m
yang hingga saat ini digunakan sebagai salah satu parameter dalam kinetika
enzim. K
m
tersebut merupakan konsentrasi substrat yang sudah terisi setengahnya ketika
kecepatan enzim telah mencapai V
maks
. Pada tabel berikut dapat kita tentukan seberapa besar nilai kinetika enzim (Km)
nya. S (Konsentrasi) Vo (Kecepatan) 3 5 10 30 50 10,4 14,5 22,5 33,8 40,5

00.020.040.060.080.10.120.020.03330.10.20.3333
1 / V
1/[S]
Tabel 4.2.1 Contoh Aktivitas Enzim Amilase Tabel si atas merupakan satu dari
sekian banyak contoh soal untuk mengetahui nilai dari kinetika enzim melalui

konsentrasi substrat (S) dan kecepatan enzim (V). Analisis tabel diatas
menggunakan analisis Michaelis-menten dan tabel akan dirubah dan
dikonversikan ke dalam tabel dan grafik 4.2.2 yang menerangkan tentang
hubungan regresi dan korelasi antar konsentrasi (S) denagan kecepatan (V). S
(konsentrasi) V (kecepatan) 1/[S] 1/V 3 10,4 0.3333 0.0961 5 14,5 0.2000 0.0689
10 22,5 0.1000 0.0444 30 33,8 0.0333 0.0296 50 40,5 0.0200 0.0247 Tabel 4.2.2
Analisis Data Menggunakan Analisis Michaelis-Menten Grafik 4.2.1. Hubungan
Antara 1/[
S
] dan 1/
V
. Penentuan nilai V
maks
dan K
m
didasarkan atas persamaan garis regresi grafik hubungan antara 1/[S] dan 1/V

(Tabel 4.2.2), seperti ditunjukkan pada grafik 4.2.2 melalui analisis MichaelisMenten. Berdasarkan pada grafik 4.2.2. dapat diketahui bahwa garis regresi 1/
[S] dan 1/V adalah Y= a (0.0215) + b (0.23)x

maka diperoleh 1/V


maks

= 0,0215, dan nilai V


maks
= 46,51. Sedangkan nilai K
m
/V
maks
= 0.23 sehingga nilai K
m

=10,69. Tinggi rendahnya hasil kinetika enzim dipengaruhi oleh kadar substrat,
kadar enzim, pH, suhu, kovaktor, vitamin dan inhibitor.

Menurut Page (1981), kinetika enzim merupakan pengukuran dari suatu laju
reaksi enzim dan dampak dari berbagi kondisi reaksi enzimatis. Dengan
mempelajari kinetika enzim ini dapat mengetahui mekanisme katalitik enzim,
peran enzim dalam metabolisme, skema aktivitas enzim dikendalikan dan
skema suatu bahan dapat menghambat kerja enzim. Manfaat kinetika enzim
adalah untuk mengetahui dan memahami fungsi katalitik dari suatu proses
biologis. Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah untuk memahami suatu
fenomena biologi seperti pengaruh faktor lingkungan seperti cahaya, suhu,
kelembaban dan sebagainya terhadap kinerja enzim. Selain itu, kinetika enzim
juga digunakan sebagai prosedur pemurnian enzim. Enzim amilase adalah enzim
yang mengkatalisis pemecahan pati menjadi
gula. Enzim amilase terbagi menjadi 3 macam yaitu
amilase,
amilase,
amilase. Enzim
-amilase mampu menghidrolisis pati dan glikogen melalui
pemotongan internal ikatan
-1,4-glikosida secara acak, menghasilkan
oligosakarida seperti maltosa dan glukosa. Dalam kehidupan manusia, enzim
-amilase digunakan dalam dunia industri pangan, tekstil, fermentasi, obatobatan, kertas dan gula yang dimanfaatkan guna pengkatan produksi dan
efisiensi setiap proses produksi (Lestari dkk., 2011). Menurut Herawati (2010),
senyawa pati merupakan sumber dari enzim amilase. Kandungan pati yang
banyak terdapat pada pada biji-bijian, umbi-umbian, sayuran dan buah-buahan.
Tanaman yang mengandung pati otomatis juga mengandung enzim amilase.
Contoh tanaman yang mengandung enzim amilase antara lain adalah jagung,
kentang, labu, pisang, ubi jalar, gandum, barley, beras, sagu, sorgum, ubi kayu,
dan ganyong. Enzim merupakan senyawa protein yang merupakan biokatalisator
reaksi kimia pada sistem biologi, dimana enzim ini dapat mengkatalis
(mempercepat) reaksi kimia di dalam sel maupun jaringan-jaringan makhluk
hidup. Berbagai macam jenis enzim memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Kecepatan kerja masing-masing enzim pun otomatis juga berbeda, Kecepatan
kerja enzim dalam reaksi kimia inilah diukur dengan kinetika enzim.

Jenis enzim ada dua, yaitu enzim buatan (Crude Enzim) dan enzim asli. Crude
enzim atau CE adalah campuran antara protein enzim dan protein non enzim
yang membutuhkan proses pemurnian. Salah satu contoh crude enzim adalah
Riboflafin deoksiribosa
protein. Enzim ini dapat dilakukan pemurnian dengan memakai larutan
amonium sulfat, hal ini digunakan untuk memisahkan enzim asparaginase
dengan protein lainnya. Enzim asli atau murni merupakan enzim yang yang
berasal dari protein enzim asli tanpa ada campuran dari bahan atau larutan
kimia lainnya. Enzim murni juga tidak memerlukan pemurnian terlebih dahulu
jika hendak dimanfaatkan untuk berbagai jenis kebutuhan seperti untuk
pembuatan ragi, keju dan bahan lainnya yang memerlukan katalisis dari suatu
enzim. Gambar 4.2.2 Hasil Pengukuran Absorbansi Berdasarkan praktikum yang
telah dilakukan, data yang di dapat untuk nilai enzim pada masing-masing
kelompok terlihat berbeda-beda. Gabungan data golongan dapat dilihat dari
gambar 4.2.1. Pada kelompok 1 nilai untuk enzim yang buatan CE sebesar
2,6815 dan untuk nilai enzim murni E sebesar 1,388. Hasil dari kelompok 2
menunjukkan nilai untuk enzim yang buatan CE sebesar 3,000 dan untuk nilai
enzim murni E sebesar 1,4925. Berbeda halnya dengan kelompok 3 nilai untuk
enzim yang buatan CE sebesar 2,9245 dan untuk nilai enzim murni E sebesar
1,2415 dan sedangkan hasil dari kelompok 4 nilai untuk 00.511.522.533.5IIIIIIIV
Absorbansi pada

575 nm Jumlah percobaan Hasil pengukuran absorbansi enzim amilase


CEE

enzim yang buatan CE sebesar 2,8735 dan untuk nilai enzim murni E sebesar
1,613. Dari masing-masing data kelompok diketahui bahwa nilai terbesar untuk

enzim buatan terdapat pada kelompok 2 sebesar 3,000, sedangkan nilai terkecil
untuk enzim buatan terdapat pada kelompok 1 yaitu 2,6815. Untuk nilai enzim
murni tertinggi terdapat pada kelompok 4 dengan nilai sebesar 1,613,
sedangkan untuk nilai enzim murni terendah terdapat pada kelompok 3 yaitu
senilai 1,2415. Dari data tersebut juga dapat diketahui bahwa nilai enzim CE
lebih besar dibandingkan jika dibandingkan dengan nilai enzim E. Besar kecilnya
nilai absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer dan bisa juga dilihat dari
kepekatan larutan yang dihasilkan. Faktor-Faktor yang mempengaruhi absorbansi
enzim antara lain pH, enzim, kandungan substrat dan kandungan dari enzim itu
sendiri.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan


1.

Enzim merupakan senyawa protein yang mengkatalisis (mempercepat) reaksi


rekasi kimia

2.

Enzim amilase adalah endoenzim ekstraseluler yang secara acak menghidrolisis


molekul pati untuk menghasilkan produk berupa dekstrin dan polimer progresif
yang lebih kecil yang tediri dari unit glukosa.

3.

kinetika enzim merupakan pengukuran dari suatu laju reaksi enzim dan dampak
dari berbagi kondisi reaksi enzimatis. 4.

Tinggi rendahnya hasil kinetika enzim dipengaruhi oleh kadar substrat, kadar
enzim, pH, suhu, kovaktor, vitamin dan inhibitor. 5.

Pengukuran akivitas enzim


-amilase dengan spektrofotometer didapatkan hasil absorbansi yang berbedabeda.

6.

Jenis enzim ada dua, yaitu enzim buatan (Crude Enzim) dan enzim asli.
5.2 Saran
Sebaiknya pada proses perlakuan enzim dilakukan dengan hati-hati untuk, perlu
adanya koordinasi terlebih dahulu jika ada pergantia asisten sementara agar
praktika dapat menyesuaikan diri dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Askurrahman. 2010. Isolasi dan Karakterisasi Linamarase Hasil Isolasi dari Umbi
Singkong (
Manihot esculenta Crantz)
.
Agrointek,
4(2) : 138-145 Das, S. 2011. Biotechnological Applications of Industrially
Important Amylase Enzyme.
Pharma and Bio Sciences,
2(1) : 486-496 Garcia, C.C., M. Guarnieri, dan E. Paccini. 2013. Inter-Conversion
of Carbohydrate Reserves from Pollen Maturation to Rehydration in A Chili
Pepper.
American Journal of Plant Sciences,
4 : 1181-1186 Kotting, O., J. Kossmann, S,C. Zeeman, dan J.R. Llolyd. 2010.
Regulation of Starch Metabolism : The age of enlightenment.
Current opinion in Plant Biology,
13 : 1321-1329 Lestari P., N. Richana., A. Darwis, K. Syamsu dan U. Murdiyatmo.
2011.
Purifikasi dan Karakterisasi
-Amilase Termostabil dari
Bacillus stearothermophilus

TII-12.
AgroBiogen,
7(1) : 56-62. Page D. 1981. Prinsip-Prinsip Biokimia. Terjemahan Soendoro, 1989.
Jakarta : Erlangga. Putra, G.P.G. 2009. Penentuan Kinetika Enzim
Poligalakturonase (Pg) Endogenous dari Pulp Biji Kakao.
Biologi,
13(1) : 21-24 Sloane, E. 1994.
Anatomi dan Fisologi Untuk Pemula.
Terjemahan oleh Palupi Widyastuti, 1995. Jakarta : EGC Sumardjo, D. 2009.
Pengantar Kimia.
Jakarta : EGC
Syafii, I., Harjono, dan E. Martati. 2009. Detoksifikasi Umbi Gadung (
Dioscorea hispida Denst)
dengan Pemanasan dan Pengasaman Pada Pembuatan Tepung.
Teknologi Pertanian
, 10(1) : 62-68 Trismilah, Dan B. Wahyuntari. 2009. Pemanfaatan Berbagai Jenis
Pati Sebagai
Sumber Karbon untuk Produksi
-Amilase Ekstraseluler
Bacillus
sp SW
2
.
Sains dan Teknologi Indonesia,
11(3) : 169-174 Yunianta, T. Sulistyo, Apriliastuti, T. Estiasih, dan S. N. Wulan.
2010. Hidrolisis Secara Sinergis Pati Garut (
Marantha arundinaceace L.
) oleh Enzim
-Amilase, Glukoamilase, dan Pullulanase untuk Produksi Sirup Glukosa.
Teknologi Pertanian

, 11(2): 78-86