You are on page 1of 12

EFEK SUBSTITUSI BEKATUL DENGAN TEPUNG NASI AKING DALAM PAKAN

TERHADAP KUALITAS KARKAS AYAM PEDAGING


Fiqih Sania Zulfikar 1), Osfar Sjofjan 2) dan Irfan H. Djunaidi 2)
1)

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang


2)
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang
Email: fiqihsania@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh substitusi bekatul dengan nasi aking
dalam pakan terhadap kualitas persentase karkas ayam pedaging : persentase karkas, persentase
lemak abdominal, persentase deposisi daging dada dan kolesterol daging. Seratus lima puluh
anak ayam umur sehari (DOC) dari strain Lohmann yang digunakan dalam penelitian ini. Pakan
terdiri dari jagung (60%) dan konsentrat (40%) untuk fase starter dan jagung (60%), konsentrat
(30%), dan dedak padi (10%) untuk fase finisher. Dedak padi digantikan oleh nasi aking pada
tingkat 0; 2,5; 5; 7,5 dan 10 persen. Variabel yang diukur adalah persentase karkas, persentase
lemak abdominal, persentase deposisi daging dada dan kolesterol daging. Data dianalisis dengan
Anova dari Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan enam ulangan. Duncan
Multiple Range Test (DMRT) digunakan untuk perbedaan hasil test. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengaruh substitusi bekatul dengan nasi aking tidak secara signifikan
mempengaruhi terhadap persentase lemak abdominal, persentase dada daging, kolesterol daging
dan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P< 0,05) terhadap persentase karkas ayam
pedaging strain Lohmann. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nasi aking dapat
digunakan sampai ke tingkat 100% sebagai pengganti bekatul dalam pakan tanpa mempengaruhi
pada persentase deposisi daging dada, persentase kolesterol daging dan warna kaki, tapi
berpengaruh pada persentase karkas ayam pedaging.
Kata kunci : bekatul, nasi aking, karkas ayam pedaging

EFFECT OF SUBSTITUTION OF RICE BRAN WITH DRIED COOKED RICE WASTE


IN THE FEED TO HE QUALITY OF THE BROILER CARCASS
Fiqih Sania Zulfikar 1, Osfar Sjofjan 2 dan Irfan H. Djunaidi 2
1
2

Student of Animal husbandry Faculty, Brawijaya University, Malang


Lecturer of Animal husbandry Faculty, Brawijaya University, Malang
Email: fiqihsania@yahoo.co.id

ABSTRACT
This experiment was executed to investigate the effect of the substitution of rice bran
with dried cooked rice waste in the feed to the quality of the broiler carcass % : a percentage of
carcass, abdominal fat percentage, percentage meat deposition of cholesterol and breast meat.
One hundred fifty of day old chicks (DOC) of Lohmann strain were used in this experiment. The
diet consists of corn (60%) and concentrate (40%) for starter and corn (60%), concentrate
(30%) ,and rice bran (10%) for finisher. The rice bran was substituted by dried rice waste at
1

levels of 0; 2,5; 5; 7,5 and 10 percent. The variables measured were percentage of carcass,
abdominal fat percentage, percentage meat deposition of cholesterol and breast meat . The data
were analyzed with Anova from Completely Randomized Design with five treatments and six
replications. Duncan Multiple Range Test ( DMRT) was used to Duncans real difference
test. The results showed that the effect of the substitution of rice bran with dried cooked rice
waste wasnt significantly influence against abdominal fat percentage, percentage of chest meat,
cholesterol deposition meat and givin g a different real influence (P< 0.05) against the percentage
of carcass broiler strains Lohmann. It can be concluded that dried cooked rice waste can be
used extended to level 100% as a subtitute of rice bran in diet without influence on percentage
meat deposition chest, abdominal fat cholesterol meat percentage and color away, but influential
on the broiler carcass percentage.
Keywords: rice bran, dried cooked rice waste, broiler carcass
yang mudah rusak serta menjadi kebutuhan

PENDAHULUAN

utama bagi petemak yang membuat pakan

Pakan dapat digolongkan berkualitas


baik jika mampu memberikan seluruh

campuran sendiri sehingga

kebutuhan nutrisi secara tepat, baik jenis,

tingginya harga jual bekatul di pasaran.

jumlah, serta imbangan nutrisi tersebut bagi

Harga

ternak. Pakan yang berkualitas baik, proses

pertimbangan utama bagi peternak untuk

metabolisme yang terjadi di dalam tubuh

menyusun pakan. Semakin murah h arga

ternak akan dapat memberikan hasil akhir

suatu bahan pakan, maka akan semakin

berupa

harapan

menarik bagi peternak. Ketersediaan nasi

(Wawan, 2003). Pakan merupakan salah

aking yang melimpah dan selalu tersedia

satu faktor yang dapat mempengaruhi

tanpa mengenal musim panen atau musim

produksi daging dan telur diinginkan oleh

hujan

peternak. Berkembangnya industri pakan

mengurangi

untuk mendukung perkembangan unggas

bekatul

terlihat dari berkembangnya pabrik pakan

alternatif saat ketersediaan bekatul menipis

yang memproduksi pakan unggas. Bekatul

atau harganya naik maka digunakanlah nasi

umumnya mudah didapatkan pada saat

aking. Nasi aking merupakan bahan pakan

musim panen padi atau musim penghujan,

sumber energi dengan penyusun utamanya

sehingga harga bekatul pada saat tersebut

adalah karbohidrat dan nasi aking juga

umumnya relatif lebih murah dibandingkan

mengandung protein yang baik untuk tubuh

pada saat musim kemarau. Bekatul sifatnya

ternak (Anonymous, 2011). Nasi Aking

daging

sesuai

dengan

bahan

maupun

menyebabkan

pakan

kemarau

ketergantungan

dalam

pakan

merupakan

dan

untuk

penggunaan

ayam

me njadi

adalah nasi yang dibuat dari nasi yang sudah

kering lalu disimpan. Biasanya diberikan

tidak dimakan kemudian dijemur sampai

sebagai campuran makanan ternak unggas.

MATERI DAN METODE


sampai dengan finisher. Pakan periode

Materi :
Penelitian ini menggunakan ayam

starter diberikan mulai DOC sampai minggu

pedaging berumur 14 hari, yang diproduksi

ketiga, sedangkan pakan periode finisher

oleh PT. Multibreeder Adirama sebanyak

diberikan mulai minggu ketiga sampai ayam

150 ekor strain Lohmann

yang tidak

pedaging dipanen. Pemberian pakan dan

dibedakan jenis kelaminnya (unsex) dan

minum diberikan secara ad libitum. Bahan

dipelihara selama 35 hari. strain Lohmann

pakan yang digunakan untuk menyusun

yang tidak dibedakan jenis kelaminnya

ransum antara lain nasi aking, jagung giling,

(unsex) dan dipelihara selama 35 hari.

bekatul dan konsentrat.

Rataan bobot badan awal Day Old Chick

Metode :

(DOC) pada penelitian ini adalah 47 2,65

Metode

yang

digunakan

adalah

g/ekor. Rataan bobot badan pada periode

metode percobaan dengan menggunakan

starter (umur 14 hari) adalah 348,3 36,5

Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 5

g/ekor.

perlakuan 6 ulangan, sehingga terdapat 30


Kandang yang digunakan sebanyak

unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri

30 unit kandang percobaan berbentuk

dari 5 ekor ayam sehingga total ayam yang

battery

digunakan berjumlah 150 ekor.

berukuran 100 x 100 x 50 dan

Pakan

dilengkapi tempat pakan, tempat minum,

perlakuan yang digunakan pada saat finisher

serta

sebagai berikut :

lampu

listrik

18

watt

sebagai

penerangan. Kandang dilengkapi brooder

P0: Pakan basal tanpa menggunakan nasi

dan kanopi yang berfungsi sebagai pemanas

aking (kontrol)

suhu ruang. Setiap unit kandang ditempati 5

P1: Pakan basal + 2,5% Nasi aking

ekor ayam pedaging

pengganti bekatul

Perlakuan pemberian pakan yang

P2: Pakan basal + 5% Nasi aking peng -

digunakan pada penelitian ini adalah pakan

ganti bekatul

yang disusun sendiri berdasarkan kebutuhan

P3: Pakan basal + 7,5% Nasi aking

zat nutrisi ayam pedaging periode starter

pengganti bekatul
3

P4: Pakan basal + 10% Nasi aking peng ganti bekatul.


Variabel Penelitian
Variabel

yang

diamati

dalam

penelitian ini adalah penampilan produksi


ayam pedaging yang meliputi :
1. Persentase karkas
= Bobot Karkas (g) x 100%
Bobot Hidup (g)

5. Kolesterol Daging
Kandungan kolesterol daging (mg/100g) :
angka

2. Persentase deposisi daging dada

yang

menunjukan

kandungan

kolesterol daging dada pada akhir periode

Presentase deposisi daging dada dihitung

dengan

dengan dengan bobot daging dada (g)

dinyatakan dalam mg/100g (Piliang dan

dibagi bobot hidup (g) dikalikan 100%

Djojosoebagio, 1990).

sampel

daging

dada,

yang

3. Persentase lemak abdominal


Bobot lemak yang ada pada setiap sampel

Analisis Data

kemudian dibagi dengan bobot hidup

Data yang diperoleh dalam penelitian ini

dikalikan 100%. Jumlah sampel yang

ditabulasi dengan program Microsoft Excel.

diambil sama dengan pengambilan data

Data dianalisis dengan menggunakan Sidik

presentase karkas (Rizal, 2006)

Ragam (Anova) dari Rancangan Acak

4. Warna Kaki

Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 6

Warna kulit kaki dinilai dengan meng -

ulangan (5 x 6). Apabila ada perbedaan

gunakan Standar Colour Reader.

pengaruh diantara perlakuan maka akan


dilakukan Uji Jarak Berganda Duncans.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data hasil penelitian pemberian pakan nasi

sentase deposisi daging dada, persentase

aking sebagai pengganti bekatul pada ayam

lemak abdominal, warna kaki dan kolesterol

pedaging terhadap persentase karkas, per -

daging disajikan dalam Tabel 7 .

Tabel 7. Pengaruh Subtitusi Bekatul Dengan Tepung Nasi A king Terhadap Variabel Kuliatas
Karkas Ayam Pedaging

Perlakuan
P0
P1
P2
P3
P4

% Karkas

% Deposisi
Daging Dada

66,7 2,3 a
69,0 1,5b
68,8 1,6 ab
68,2 2,5 ab
70,4 2,4 b

19,3 2,3
20,0 2,3
20,1 1,4
20,6 1,7
19,1 1,3

Perlakuan
% Lemak
Abdominal
0,5 0,2
0,6 0,2
0,6 0,2
0,4 0,3
0,5 0,1

Warna Kaki
(Skala 1-15)
9,8 2,3
9,5 2,1
8,7 1,5
8,0 2,2
7,8 3,0

Kolesterol
Daging
(mg/100g)
78,0 1,0
77,1 0,8
77,4 0,6
77,4 0,9
76,7 1,0

Keterangan : Huruf superskrip (a-b) yang berbeda pada kolom persentase karkas menunjukan perbedaan nyata
(P<0,05)

ini dapat terjadi dikarenakan Perlakuan P4

Pengaruh Perlakuan Terhadap Per sentase Karkas (%)


Pengaruh perlakuan terhadap persen-

memiliki kandungan zat pati yang lebih


banyak dari pada P0, P1, P2 dan P3. Zat pati

tase karkas dapat dilihat pada Tabel 7.

yang terkandung dapat disimpulkan bahwa

Berdasarkan pada Tabel 7 persentase karkas

Penggemukan pada ternak unggas yang

diurutkan mulai dari yang terendah hingga

diberikan bukanlah lemak dalam jumlah

yang paling tinggi yaitu Perlakuan P0 ( 66,7

besar, melainkan karbohidrat (pati), hal ini

2,3), P3 (68,2 2,5), P2 (68,8 1,6), P1

dikarenakan pati mudah dicerna, diserap dan

(69,0 1,5) dan P4 (70,4 2,4)%. Nilai

diubah menjadi lemak dalam tubuh unggas

presentase karkas pada Perlakuan P4 (10%)

(Rizal, 2006).

lebih tinggi dibandingkan P1 (2,5% ) yaitu

Persentase karkas pada Perlakuan P4

masing-masing sebesar (70,4 2,4) dan


(69,0

1,5)%,

dikarenakan

hal

ini

dapat

(70,4 2,4)% memiliki nilai yang lebih

terjadi

tinggi dibandingkan dengan nilai persentase

semakin banyak penggunaan

karkas pada penelitian Sari (2009) yaitu

nasi aking dalam pakan ayam pedaging akan

sebesar (63,62 1,97)% dengan penambahan

memberikan pengaruh yang berbeda nyata


(P<0,05)

terhadap

persentase

level 60% nasi aking.

karkas.

Menurut

Penambahan nasi aking yang paling baik

Daud

(2006)

bahwa

persentase karkas berhubungan dengan jenis

terjadi di level 10% pada Perlakuan P4

kelamin, umur dan bobot hidup. Karkas

dengan rataan persentase (70,4 2,4)%, hal

meningkat seiring dengan meningkatnya


5

umur dan bobot hidup. Sependapat juga

menyatakan bahwa persentase karkas ayam

dengan Wahju (2004) bahwa tingginya

pedaging bervariasi antara 65 -75% dari

bobot karkas ditunjang oleh bobot hidup

bobot hidup. Sesuai dengan hasil penelitian

akhir sebagai akibat pertambaha n bobot

ini dengan persentase karkas berkisar antara

hidup ternak bersangkutan. Daud (2006)

66,86-70,41.

Data rata-rata konsumsi energi (Kkal/ekor) dan protein (g/ekor) masing -masing disajikan
pada Tabel 8.
Tabel 8. Konsumsi Energi dan Konsumsi Protein Selama Perlakuan
Perlakuan

Konsumsi Energi
(Kkal/ekor)

Konsumsi Protein
(g/ekor)

P0
P1
P2
P3
P4

7047,33
6766,30
7345,76
7227,43
6991,01

438,00
418,73
452,63
450,44
426,99

Sumber : Berdasarkan Perhitungan

Tabel 8. menunjukan bahwa energi

energi metabolis (EM), protein kasar (PK)

berpengaruh pada persentase karkas ayam

dan lemak kasar (LK). Perbedaan kan-

pedaging. Konsumsi energi paling baik

dungan tersebut dipengaruhi oleh banyaknya

ditunjukan pada Perlakuan P4 ( 6991,01

pemberiaan nasi aking sebagai pengganti

Kkal/ekor) dan P1 (6766,30 Kkal/ekor)

bekatul, sehingga dapat disimpulkan bahwa

dengan persentase karkas berturut -turut

penambahan nasi aking sebanyak 2,5% dan

(70,4 2,4) dan (69,0 1,5)% sedangkan

10% mengakibatkan konsumsi pakan rendah

konsumsi

rendah

berbanding lurus dengan konsumsi energi

dibandingakan Perlakuan P0, P3 dan P2

dan proteinnya namun menghasilkan persen -

yaitu berkisar (426,99 g/ekor) dan (418,73

tase karkas yang baik.

proteinnya

lebih

g/ekor). Jumlah energi dan protein yang


dikonsumsi dipengaruhi oleh jumlah pakan

Pengaruh Perlakuan Terhadap Per sentase Deposisi Daging Dada (%)


Pengaruh perlakuan terhadap per -

yang dikonsumsi pula. Konsumsi pakan


yang rendah pada Perlakuan P1 dan P4

sentase deposisi daging dada dapat dilihat

dipengaruhi pula oleh perbedaan kandungan

pada Tabel 7. Berdasarkan pada Tabel 7


6

persen-tase deposisi daging dada diurutkan

memiliki kandungan protein yang

mulai dari yang terendah hingga yang paling

rendah dari Perlakuan P0, P1, P2 dan P4,

tinggi yaitu Perlakuan P4 ( 19,1 1,3), P0

sehingga jika dilihat dari konsumsi pakan

(19,3 2,3), P1 (20,0 2,3), P2 (20,1 1,4)

yang tinggi dan konsumsi proteinnya lebih

dan P3 (20,6 1,7)%. Penambahan nasi

banyak setelah Perlakuan P2 mengakibatkan

aking

berada pada

ayam akan mengkon-sumsi pakan yang

Perlakuan P3 dengan level pemberian 7,5%

lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan

dengan rataan persentase (20,6 1,7)%.

protein dalam tubuh dikarenakan kandungan

yang paling baik

Penambahan nasi aking yang paling

paling

protein dalam pakan yang rendah.

baik berada pada Perlakuan P3 dengan level

Hasil analisis statistik menun -jukan

pemberian 7,5% dengan rataan persentase

bahwa pengaruh perlakuan tidak berbeda

(20,6 1,7)%. Persentase deposisi daging

nyata (P>0,05) terhadap persentase deposisi

dada pada Perlakuan P3 (20,6 1,7 )% lebih

daging dada pada penelitian ini berkisar

rendah

persentase

antara 19,12-20,63%. Selisih persentase

deposisi daging dada pada penelitian Sari

deposisi daging dada pada masing -masing

(2009) yaitu sebesar P0 ( 23,14%),

perlakuan

dibandingkan

nilai

P1

yang

tidak

jauh

berbeda

(23,19%), P2 (24,4%), P3 ( 24,83%), dan

disebabkan oleh kandungan protein yang

P4 ( 24,73%)%.

relatif sama antar perlakuan, sehingga akan

Berdasarkan

Tabel

8.

menghasilkan bobot daging dada yang sama.

konsumsi

energi dan protein pada Perlakuan P3

Persentase

menunjukan angka yang tinggi nomer dua

hidup 1,6 kg-1,9 kg berkisar antara 13-14%

setelah Perlakuan P2 yaitu berkisar ( 7227,43

(Le Bihan-Duval dkk, 1999). Bekatul dalam

Kkal/ekor) dan (450,44 g/ekor) dengan

penggu-naannya sebagai bahan pakan dapat

penambahan nasi aking sebanyak 7,5%

digantikan tepung nasi aking.

sebagai

sehingga

Hayse dan Morion (1973) dalam Resnawati

persentase deposisi daging dada yang baik

(2004) bahwa persentase bobot dada sejalan

diperoleh dengan penambahan nasi aking

dengan bertambahnya bobot karkas dan

sebanyak 7,5%. Sari (2009) melaporkan

bobot hidup.

pengganti

bekatul,

bahwa perkembangan daging dada terutama


dipengaruhi oleh kandungan protein diban dingkan energinya. Pakan Perlakuan P3
7

daging dada

dengan

berat

Menurut

oleh kandungan energi dan protein yang


Pengaruh Perlakuan Terhadap Persen tase Lemak Abdominal (%)
Pengaruh penggunaan nasi aking

hampir sama pada masing-masing pakan


perlakuan.

dalam pakan terhadap persentase lemak

Hasil analisis statistik menunjukan

abdominal masing-masing perlakuan dapat

bahwa pengaruh perlakuan tidak berbeda

dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan pada

nyata (P>0,05) terhadap persentase lemak

Tabel

abdominal

abdomen pada penelitian i ni berkisar antara

diurutkan mulai dari yang terendah hingga

0,44-0,61% yang sangat rendah diban -

yang paling tinggi yaitu Perlakuan P3 (0,4

dingkan dengan pendapat Bilgili et al.

0,3), P4 (0,5 0,1), P0 (0,5 0,2), P1 (0,6

(1992) dalam Heti Resnawati (2004) bahwa

0,2) dan P2 (0,6 0,2)%. Penambahan nasi

persentase lemak abdomen ayam pedaging

aking

2,6-3,6%. Didukung pula oleh Lesson dan

persen-tase

lemak

yang paling baik

Perlakuan

P1

dan

pemberian

2,5%

P2

berada pada
dengan

level

Summers (1980) bahwa persentase ayam

dan 5% dengan rataan

pedaging umur lima minggu berkisar antara

persentase (0,6 0,2)%. Persentase lemak

1,5-3,1% dari bobot hidup.

abdominal pada Perlakuan P1 dan P2 (0,6

persentase lemak abdominal pada penelitian

Pengaruh Perlakuan Terhadap Warna


Kaki (skala 1-15)
Pengaruh penggunaan nasi aking

Sari (2009) yaitu antara 1,69 -1,89% dengan

dalam pakan terhadap warna kaki masing -

penambahan nasi aking hingga 60% .

masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.

0,2)% lebih rendah dibandingkan nilai

Berdasarkan

Tabel

8.

konsumsi

Berdasarkan

pada

Tabel

persentase

energi dan protein pada Perlakuan P2

deposisi daging dada diurutkan mulai dari

menunjukan angka yang paling tinggi yaitu

yang tertingngi hingga yang paling rendah

berkisar (7345,76 Kkal/ekor) dan (452,63

yaitu Perlakuan P0 (9,8 2,3), P1 (9,5

g/ekor) dengan penambahan nasi aking

2,1), P2 (8,7 1,5), P3 (8,0 2,2) dan P4

sebanyak 5% sebagai pengganti bekatul.

(7,8 3,0). Warna kaki yang menunjukan

Persentase lemak abdominal yang baik

angka terendah pada Perlakuan P4 ( 7,8

diperoleh dengan penambahan nasi aking

3,0) dengan penambahan level 10% nasi

sebanyak 5% sebagai pengganti bekatul.

aking dan tertinggi pada Perlakuan P1 (9,8

Menurut Sari (2009) bahwa persentase

2,3) dengan penambahan level 0% nasi

lemak abdominal yang rendah disebabkan

aking.
8

Berdasarkan

Tabel

8.

konsumsi

jagung antar pakan perlakuan yang sama.

energi dan protein pada Perlakuan kontrol

Pengaruh

P0 menunjukan angka tinggi ketiga setelah

Perlakuan kontrol P0 sedikit lebih baik dari

P2

pada Perlakuan P4. Menurut Daliani dan

dan

P3

yaitu

berkisar

( 7047,33

xantofil

kaki

Ramon

penambahan

0%

xanthopfil yang merupakan zat pemberi

sebagai pengganti bekatul. Warna kaki yang

pigmen warna kuning dibagian kaki dan

paling baik diperoleh dengan penambahan

kulit pada ayam ras pedaging. Kandungan

nasi aking sebanyak 0% sebagai pengganti

xantofil dalam jagung adalah 18 ppm (Budi

bekatul. Warna kaki dipengaruhi oleh

dan Elizabet, 2006). Warna kuning pada

kandungan xantofil dalam pakan, pada

kaki, paruh dan kulit ayam adalah hasil dari

pakan

memiliki

pigmentasi yang berasal dari pakan yang

kandungan nutrisi lebih baik seperti protein,

disebut dengan karatenoid. Menurut Juhriah,

serat

energi

Baharudin,

Musa,

metabolis dibanding Perlakuan P1, P2, P3,

Masniawati

(2012)

P4. Perlakuan kontrol P0 jika dilihat dari

merupakan pigmen alami yang memberikan

konsumsi energi dan proteinnya memiliki

warna kuning, jingga atau merah dengan

konsumsi

panjang gelombang 430-480 nm.

aking

Perlakuan

kasar,

kontrol

lemak

yang

sebanyak

P0

kasar

cukup

dan

banyak

setelah

jagung

warna

Kkal/ekor) dan (438,00 g/ekor) dengan


nasi

(2011)

pada

mengandung

Pabendom
bahwa

dan

karotenoid

Perlakuan P2 dan P3 seperti yang tertera

aking

akan

Pengaruh Perlakuan Terhadap Kolesterol


Daging
Pengaruh penggunaan nasi aking

xantofil

dalam

dalam pakan terhadap kolesterol daging

pakan dan tingkat kecerahan warna kaki

masing-masing perlakuan dapat dilihat pada

pada ayam pedaging seperti yang tertera

Tabel

pada Tabel 7.

kolesterol daging diurutkan mulai dari yang

pada Tabel 7. Semakin meningkatkanya


jumlah

pemberian

menurunkan

nasi

kandungan

7.

Berdasarkan

pada

Tabel

Hasil anlisis statistik menunjukan

terendah hingga yang paling tinggi yaitu

bahwa pengaruh perlakuan tidak berbeda

Perlakuan P4 (76,7 1,0), P1 (77,1 0,8),

nyata (P>0,05) terhadap warna kaki pada

P2 (77,4 0,6), P3 (77,4 0, 9) dan P0 (78,0

penelitian ini berkisar antara 7,83 -9,83.

1,0)mg/100g. Nilai kolesterol daging

Pengaruh yang tidak nyata antar perlakuan

Perlakuan P4 (10%) lebih rendah diban -

disebabkan oleh kandungan xantofil pada

dingkan dengan Perlakuan P1 (2,5%) yaitu


9

masing-masing sebesar (76,7 1,0) dan

protein berturut-turut sebanyak (6991,01

(77,1 0,8)mg/100g. Nilai kolesterol daging

Kkal/ekor) dan (426,99 g/ekor). Kandungan

Perlakuan P3 lebih rendah diban -dingkan

kolesterol yang rendah pada Perlakuan P4

dengan Perlakuan kontrol P0 yaitu masing -

dipengaruhi

masing sebesar (77,4 0,9)

metabolis yang tidak terlalu tinggi dalam

dan (78,0

1,0)mg/100g.
Nilai

oleh

kandungan

energi

pakan sehingga pembentukan kolesterol juga


Kolesterol

daging

pada

tidak terlalu tinggi, seiring dengan itu

Perlakuan kontrol P0 hingga P4 terjadi

konsumsi pakan, energi dan protein juga

kesamaan dengan selisih rata -rata setiap

tidak terlalu tinggi.

perlakuan yang tidak berbeda jauh. Sebab


terjadinya

kesamaan

terhadap

Hasil analisis statistik menunjukan

masing -

bahwa pengaruh perlakuan tidak berbeda

masing perlakuan diduga karena kandungan

nyata (P>0,05) terhadap kolesterol dagin g

energi dalam pakan yang relatif sama,

pada penelitian ini berkisar antara 76,76 -

sehingga lemak yang dihasilkan juga sama.

77,99 mg/100g. Menurut Saidin (1999)

Menurut Wahyu (2004) bahwa ayam yang

kandungan kolesterol daging ayam pedaging

diberi pakan dengan kandungan energi yang

sebesar 110 mg/100g Ismoyowati dan

tinggi akan memperlihatkan le mak karkas

Widyastuti (2003) menjelaskan lebih lanjut

dalam jumlah yang lebih tinggi diban -

kandungan lemak berkolerasi positif dengan

dingkan dengan pakan yang mengandung

kolesterol daging, sehingga semakin tinggi

energi yang rendah.

kandungan lemak dalam daging unggas,

Tabel 8. konsumsi energi dan protein

semakin tinggi pula kandungan kolesterol

pada Perlakuan kontrol P0 menunjukan

daging.

angka tinggi kedua setelah P2 dan P3 yaitu


berkisar (7047,33 Kkal/ekor) dan (438,00

KESIMPULAN

g/ekor) dengan penambahan nasi aking


sebanyak 0% sebagai pengganti bekatul.

Penggunaan tepung nasi aking

Kolesterol daging yang tinggi diperoleh

sebagai pengganti bekatul dapat mening -

dengan penambahan nasi aking sebanyak

katkan persentase karkas tetapi tidak

0% sebagai pengganti bekatul. Kandungan

meningkatkan persentase deposisi daging

kolesterol yang paling baik ter dapat pada

dada, persentase lemak abdominal

Perlakuan P4 dengan konsumsi energi dan

warna kaki. Pemberian tepung nasi aking


10

dan

Daud, M. 2006. Persentase dan Kualitas


Karkas Ayam Pedaging yang
Diberi Probiotik dan Prebiotik
dalam Ransum. Jurnal Ilmu
Ternak, VOL. 6 NO. 2, 2006,
hlm 126 131.

sampai dengan 10% tidak memberi efek


positif pada persentase deposisi daging
dada, persentase lemak abdominal

dan

warna kaki

Ismoyowati

SARAN
Disarankan melakukan penelitian
lebih lanjut dengan menambahkan bahan
pakan lain guna memenuhi kekurangan
protein kasar lemak kasar dan kekurangan
xantofil

contohnya

bungkil

dan

Widyastuti,

T.

2003.

Kandungan lemak dan kolesterol


daging bagian dada dan paha
berbagai unggas lokal. Animal
Production. Vol. 5(2):79 -82.
Universitas Jederal Soedirman.
Purwokerto.
http://www.animalproduction,net.
Diakses
tanggal 10 April 2014.
Juhriah, Baharuddin, Musa, Y., Pabendon,
M. B. dan Masniawati. 2012.
Deteksi gen phytoene shynthase
1 (PSY 1) Dan Karoten Plasma
Nutfah Jagung Lokal Sulawesi
Selatan Untuk Seleksi Jagung
Khusus Provitamin A. J.
Agrivor. 11(2):152-160.
Le Bihan-D., E. Millet N. and H.
Remingnon.
1999.
Broiler
Meat Quality:
Effect
of
Slection for Increased Carcass
Quality
and Estimates
of
Genetic
Parameters. Institut
National de la Recherche
Agronomique.
Lesson, S. and J. D. Summers. 1980.
Production
and
Carcass
Characteristic of The Chicken .
Poultry Science. 59:876.798.
Piliang, W.G dan S.A.H. Djojosoebagio.
1990. Fisiologi Nutrisi. Volume
1 Depdikbud. Dikti PAU Ilmu
Hayat, Institut Pertanian Bogor.
Resnawati, H. 2004. Bobot Potongan
Karkas Dan Lemak Abdomen
Ayam Ras Pedaging Yang
Diberi Ransum Mengandung
Tepung
Cacing
Tanah
(Lumbricus
rubellus) .
http://peternakan.litbang.deptan.
go.id/fullteks/ semnas /pro04-

kedelai

,bungkil kelapa dan tepung ikan sebagai


bahan pakan sumber protein, minyak kelapa
dan minyak ikan sebagai bahan pakan
sumber lemak, tepung daun lamtoro dan
jagung kuning giling sebagai bahan pakan
sumber xantofil.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2011. Ilmu Peternakan :
Kajian Klasifikasi Bahan Pakan
Secara
Internasional .
http://www.ilmu
peternakan.com/2011_09_01_ar
chive.html. Diakses tanggal 12
April 2014.
Daliani, S. D. dan Ramon, E. 2011.
Pengaruh Perubahan Komposisi
Bahan Pakan Terhadap Berat
Hidup Ayam Broiler.http://bengkulu.litbang.deptan.go.id/ind/im
ages/dokumen/peternakan/siswa
ni%20dd%20dan%20erpan%20b
ptpbkl.pdf. Diakses tanggal 26
Juni 2014.
11

75.pdf. Diakses tanggal 26


Desember 2013.
Rizal, Y.2006. Ilmu Nutrisi Unggas.
Andalas
University
Press .
Padang.
Saidin, M. 1999. Kandungan kolesterol
dalam berbagai bahan makanan
hewani. Buletin Penelitian.
Kesehatan, Vol. 27 No.2 : 224
230.
Sari, I. P. 2009. Pengaruh penggunaan nasi
aking dalam pakan terhadap
bobot dan persentase karkas,
persentase bobot potongan
karkas,
persentase
lemak
abdominal, dan kadar lemak
daging
ayam
pedaging .
http://elibrary.ub.ac.id/bitstream/
123456789/21657/1/Pengaruh
pengguna an-nasi-aking dalampakan-terhadap-bobot-danpersentase-karkas,-persentasebobot-potongan-karkas,
persentase-lemak-abdominal,
dan-kadar-lemak-daging-ayampedaging.pdf. Diakses tanggal
26 Desember 2013.
Tangendjaja, B. dan Wina, E. 2006. Limbah
Tanaman
dan
Produk
Samping Industri Jagung
untuk Pakan. http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/in
d/images/stories/duadua.pdf .
Diakse tanggal 12 April
2014.
Wawan M. I., 2003. Membuat Pakan Ayam
Ras
Pedaging.
Agromedia
Pustaka. Tanggerang.
Wahyu. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan
ke-5. Gadjah Mada Universi ty
Press. Yogyakarta .

12