You are on page 1of 2

AGONIS SELEKTIF RESEPTOR 1

Dobutanin. Struktur senyawa ini mirip dopamine, tetapi dengan substitusi aromatik yang
besar pada gugus amino. Dobutamin merupakan campuran rasemik dari kedua isomer l dan d.
isomer l adalah 1-agonis yang poten sedangkan isomer d 1-blocker yang poten. Sifat
agonis isomer l dominan, sehingga terjadi vasokontriksi yang lemah melalui aktivasi reseptor
1. Isomer d 10 kali lebih poten sebagai agonis reseptor daripada isomer l dan lebih selektif
untuk reseptor 1 daripada 2.
Dobutamin menimbulkan efek inotropic yang lebih kuat daripada efek kronotropik
dibandingkan isoproterenol. Hal ini mungkin disebabkan karena resistensi perifer yang
relative tidak berubah (akibat vasokontriksi melalui reseptor 1 diimbangi oleh vasodilatasi
melalui reseptor 2) sehingga tidak menimbulkan efek takikardi, atau Karena reseptor 1 di
jantung menambah efek inotropic obat ini. Pada dosis yang menimbulkan efek inotropic yang
sebanding, efek dobutamin dalam meningkatkan automatisitas nodus SA kurang
dibandingkan isoproterenol, tetapi peningkatan konduksi AV dan intraebtrikular oleh kedua
oba ini sebanding. Dengan demikian, infus dobutamin akan meningkatkan kontraktilitas
jantung dan curah jantung, hanya sedikit meningkatkan denyut jantung, sedangkan resistensi
perifer relative tidak berubah.
AGONIS SELEKTIF RESEPTOR 2
2-agonis. Dalam golongan ini termasuk metaproterenol (orsiprenalin), salbutamol
(albuterol), terbutalin, fenterol, formoterol, prokaterol, salmeterol, pirbuterol, bitolterol,
isoetarin, dan ritodrin. Pada dosis kecil, kerja obat-obat ini pada reseptor 2 jauh lebih kuat
daripada kerjanya pada reseptor 1. Tetapi bila dosisnya ditinggikan, selektivitas ini hilang.
Misalnya pada pasien asma, salbutamol kira-kira sama kuat dengan isoproterenol sebagai
bronkodilator (bila diberikan sebagai aerosol), tetapi jauh lebih lemah dari isoproterenol
sebagai stimulant jantung. Tetapi bila dosis ditinggikan 10 kali lipat, diperoleh efek stimulant
jantung yang menyamai efek isoproterenol.
Melalui aktivitas reseptor 2, obat-obat ini menimbulkan relaksasi otot polos bronkus, uterus
dan pembuluh darah otot rangka. Aktivasi reseptor 1 yang menghasilkan stimulasi jantung,
oleh dosis yang sama jauh lebih lemah. Obat-obat ini, yang hanya menimbulkan sedikit
perubahan tekanan darah, dikembangkan terutama untuk pengobatan asma bronkial. Selektif
obat-obat ini terhadap reseptor 2 tidak sama untuk setiap obat, misalnya metaproterenol
kurang selektif dibandingkan dengan salbutamol.

Ritodrin, terbutalin, dan fenoterol digunakan (sebagai infus) untuk menunda kelahiran
premature.
AGONIS SELEKTIF RESEPTOR 1
1-agonis. Dalam golongan ini termasuk metoksamin, fenilefrin, mefentermin, metaraminol,
dan midodrin. Obat-obat ini digunakan untuk menaikkan tekanan darah pada hipotensi atau
syok, berdasarkan kerjanya pada reseptor 1 pembuluh darah. Metoksamin dan fenilefrin
bekerja secara langsung pada reseptor 1, sedangkan mefentermin dan metaraminol bekerja
secara langsung dan tidak langsung. Midodrin adalah prodrug yang setelah pemberian oral
diubah menjadi desglimidorin, suatu 1-agonis yang bekerja langsung.
Metoksamin. Metoksamin merupakan agonis reseptor 1 yang hamper murni, dan kerjanya
secara langsung. Obat ini tidak mempengaruhi reseptor 1 maupun 2, dan tidak mempunyai
efek sentral. Efeknya berupa peningkatan tekanan darah diastolic dan sistolik yang
seluruhnya berdasarkan vasokonstriksi, disertai dengan reflex bradikardia yang dapat diblok
dengan atropine. Obat ini digunakan untuk pengobatan hipotensi atau untuk mengehentikan
serangan takikardia atrial paroksismal, terutama yang menyertai hipotensi.
Fenilefrin. Fenilefrin adalah agonis selektif reseptor 1 dan hanya sedikit mempengaruhi .
Efeknya mirip metoksamin dan digunakan untuk indikasi yang sama. Obat ini juga digunakan
sebagai dekongestan nasal dan sebagai midriatik.
Mefentermin. Mefentermin bekerja langsung maupun melalui pelepasan NE endogen, dan
mempunyai banyak persamaan dengan efedrin. Obat ini memperkuat kontraksi jantung dan
menimbulkan vasokontriksi perifer sehingga meningkatkan curah jantung, tekanan diastolic.
Pada dosis terapi, efek sentralnya lemah, tetapi menjadi nyata pada dosis yang lebih besar.
Obat ini digunakan untuk mencegah hipotensi, yang sering sekali menyertai anastesia spinal.
Metaraminol. Metaraminol mempunyai kerja langsung pada reseptor vascular dan kerja
tidak langsung. Obat ini digunakan untuk pengobatan hipotensi atau untuk menghentikan
serangan takikardia atrial proksial, terutama yang menyertai hipotensi.

Daftar Pustaka : Farmakologi UI