You are on page 1of 6

A.

PENGERTIAN
Gastroenteritis (GE) adalah infeksi saluran pencernaan oleh berbagai enteropatogen,
termasuk bakteria, virus dan parasit. (Nelson, 2000).
Diare akut (Gastroenteritis) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh
berbagai bakteri virus dan patogen parasitik. (Donna L. Wong, 2004 : 492)
Diare ialah frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak; konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir
dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 2005 : 224)
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena
frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.
(Suriadi, 2001 : 83)
Kesimpulan dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gastroenteritis
(GE) atau diare akut adalah infeksi saluran pencernaan pada lambung dan usus yang
disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan parasit yang ditandai dengan keadaan buang air
besar secara berlebihan dan dapat bercampur lendir dan darah atau lendir saja.
B. ETIOLOGI
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
a.

Faktor Infeksi

1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada
anak.
Infeksi enteral ini meliputi :
a)

Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, salmonella, shigella, compylobacter yersinia, aeromonas,


dan sebagainya.

b)

Infeksi virus : Eterovirus (Virus echo, coxsaekie, poliomyelitis), Adenovirus, rotavirus,


astrovirus dan lain-lain.

c)

Infeksi parasit : Cacing (ascaris, thrichiuris, oxyuris, strongyloides protozoa (entamoeba


hystolytica, giardia lamblia, trichomonas hominis), jamur (candida albicans).

2)

Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis
Media Akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan
ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

b. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat : Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa). Pada bayi
dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
1) Malabsorbsi lemak

2) Malabsorbsi protein
c.

Faktor makanan : Makanan basi, beracun, elergi terhadap makanan.

d. Faktor psikologis : Rasa takut dan cemas walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama
pada anak yang lebih besar. (Dr. Rusepno Hassan, 2005 : 283-284)
C. TANDA DAN GEJALA
Mula-mula pasien cengeng, gelisah suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir dan
darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu.
Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defeksi dan tinja makin lama makin
asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak
diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare
dan gangguan keseimbangan asam basa, dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan
cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor
berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi) selaput lendir dan bibir,
bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat
dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat. Bila berdasarkan tonisitas plasma dibagi
menjadi dehidrasi hipotonik, isotonik dan hipertonik. (Ngastiyah, 2005 : 226)
D. PATOGENESIS
Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor
diantaranya pertama faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman)
yang masuk ke dalam saluran perncernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan
merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya
terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam
absorbsi cairan dan elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan
sistem transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian
sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat. Kedua, faktor malabsorbsi merupakan
kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi
rongga usus sehingga terjadilah diare. Ketiga, faktor makanan ini dapat terjadi apabila toksin
yang ada tidak mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus
yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makan yang kemudian
menyebabkan diare. Keempat, faktor psikologis dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan
peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat
menyebabkan diare. (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006).

E. KOMPLIKASI
Komplikasi kehilangan akibat diare :
a.

Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik)

b. Renjatan hipovolemik
c.

Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan


elektrokardiogram)

d. Hipoglikemia
e.

Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dab defisiensi enzim laktosa

f.

Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik

g. Malnutrisi energi protein (Akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik. (Ngastiyah, 2005).
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Dasar pengobatan diare adalah :
a.

Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.

b. Dietetik (cara pemberian makanan)


c.

Obat-obatan
Cara memberikan cairan dalam terapi dehidrasi

a.

Belum ada dehidrasi


Peroral sebanyak anak mau minum atau (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi

b. Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25-50 ml/kg BB peroral (intragastrik)
Selanjutnya : 125 ml/kg BB/hari ad libitum
c.

Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50-100/kg BB per oral/intragastrik (sonde)
Selanjutnya : 125 ml/kg BB/hari ad libitum

d. Dehidrasi berat
Untuk anak umur 1 bulan 2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama :
40 ml/kg BB/jam : 10 tetes/kg BB/menit (set infus berukuran 1ml : 15 tts) atau 13 tetes/kg
BB/menit (set infus 1ml : 20 tetes)
7 jam berikutnya :
12ml/kg BB/jam : 3 tetes/kg BB/menit (set infus 1ml : 15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/mnt (set
infus 1ml : 20 tts)
16 jam berikutnya :
125 ml/kg BB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa
intravena 2 tetes/kg BB/menit (set infus 1ml: 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml : 15
tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
Untuk anak lebih 5-10 tahun dengan BB 15-25 kg
1 jam pertama :
20 ml/kg BB/jam atau 5 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 7 tetes/kg BB/mnt (1ml : 20
tetes)
7 jam berikut :
10 ml/lg BB/jam atau 2 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml :
20 tetes)
16 jam :
105 ml/kg BB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena
1 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 1 tetes/kg BB/menit (set 1 ml : 20 tetes)
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg.
Kebutuhan cairan :
125 ml + 100ml + 25ml = 250 ml/kg BB/24 jam
Jenis cairan :
Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5%+1 bagian NaHCO3 1 %)
Kecepatan :

4 jam pertama : 25ml/kg BB/jam atau 6 tetes/kg BB/menit (1ml: 15 tetes) 8 tetes/kg BB/mnt
(1ml : 20 tetes)
20 jam berikutnya : 150 ml/kg BB/20 jam atau 2 tetes/kg BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 2
tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg
Kebutuhan cairan
250 ml/kg BB/24 jam
Jenis cairan :
Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 )
Kecepatan cairan :
Sama dengan pada bayi baru lahir.
Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat misalnya :
Untuk anak umur 1 bulan - 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg.
Jenis cairan : DG aa
Jumlah cairan : 250 ml/kg BB/24 jam
Kecepatan : 4 jam pertama : 60ml/kg BB/jam atau 15 ml/kg BB/jam atau = 4 tetes/kg
BB/menit (1ml : 15 tetes) atau 5 tetes/kg BB/menit (1ml : 20 tetes).
20 jam berikutnya : 190ml/kg BB/jam atau 10 ml/kg BB/jam atau

2 tetes/kg BB/menit

(1ml : 15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml: 20 tetes). (Ngastiyah, 1999)


G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.

Pemeriksaan Tinja

1) Makroskopis dan mikroskopis


2) PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat
intoleransi gula.
3) Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan PH dan
cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut Astrup
(bila memungkinkan).
c.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

d.

Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor dalam serum
(terutama pada penderita yang disertai kejang).

e.

Pemeriksaan intubasi secara kualitas dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare
kronik. (Dr. Rusepto Hassan, 2005 : 286).