You are on page 1of 47

TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

TERHADAP PERNIKAHAN WANITA HAMIL AKIBAT ZINA

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)

Oleh :
KHOIRUDDIN
NIM. 102044225091

KONSENTRASI ADMINISTRASI KEPERDATAAN ISLAM


PROGRAM STUDI AL-AHWAL AL-SYAKHSIYYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1428 H/ 2007 M

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.............................................................. 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah.......................................... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 5
D. Metode Penelitian ....................................................................... 5
E. Sistematika Penulisan ................................................................. 6

BAB II SEKILAS TENTANG HUKUM PERNIKAHAN MENURUT


HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF
A. ............................................................................................ Perni
kahan Menurut Hukum Islam ..................................................... 7
a. Pengertian Pernikahan........................................................... 7
b. Syarat-syarat dan Rukun-rukun Pernikahan.......................... 12
c. Tujuan dan Hikmah Pernikahan............................................ 16
B. ............................................................................................ Perni
kahan Menurut Hukum Positif .................................................... 19
a. Pengertian Pernikahan........................................................... 19
b. Syarat-syarat dan Rukun-rukun Pernikahan.......................... 20

c. Tujuan dan Hikmah Pernikahan............................................ 23


BABIII PERZINAHAN MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM
POSITIF
A. Zina Menurut Hukum Islam........................................................ 25
B. Zina Menurut Hukum Positif ...................................................... 30
C. Akibat Hukum Perzinahan Menurut Hukum Islam dan
Hukum Positif ............................................................................. 31
BAB IV HUKUM PERNIKAHAN WANITA HAMIL AKIBAT ZINA
A. ............................................................................................ M
enikahi Wanita Hamil Akibat Zina Menurut Hukum
Islam............................................................................................ 38
B. ............................................................................................ M
enikahi Wanita Hamil Akibat Zina Menurut Hukum
Positif .......................................................................................... 46
C. ............................................................................................ K
edudukan Anak dari Pernikahan Wanita Hamil Akibat
Zina Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif ........................ 47
BAB V PENUTUP
A. ............................................................................................ K
esimpulan .................................................................................... 59
B. ............................................................................................ S
aran-saran .................................................................................... 60
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 61

BAB 11
SEKILAS TENTANG HUKUM PERNIKAHAN MENURUT
HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF
A. Pernikahan Menurut Hukum Islam
a. Pengertian Pernikahan
Dalam Islam 'pernikahan' berarti satu perjanjian yang mengikat
perjodohan laki-laki dengan perempuan menjadi suami isteri. Lembaga
Perkawinan disyariatkan oleh Islam berdasarkan Kitab Suci Al-Quran, Hadits
Rasulullah s.a.w.dan Ijma / consensus para ulama Islam.1
Perkawinan tidak sah melainkan dengan adanya seorang wali dari calon
isteri yang bersifat sebagai pengasuh pengantin perempuan pada ketika nikah
dengan pengantin pria dan dua orang saksi, sedangkan mahar / mas kawin wajib
diberikan kepada calon isteri semata untuk kepentingannya belaka. Mahar
merupakan satu hadiah yang harus dilakukan di dalam perkawinan yang sifatnya
merupakan satu simbol dari nilai ikatan yang diadakan untuk menunjukan hidup
baru yang dilaksanakan dengan satu upacara serah-menyerahkan dari suatu
kehidupan bersama.
Mahar tidak musti berbentuk benda tertentu, tetapi bisa merupakan ayatayat suci Al-Quran, yang mempunyai arti. Pada dasarnya kata-kata mahar dari
sumber yang sama Muhr yang artinya Stemple. Maka Mahar itu artinya stempel
yang mensahkan / mengabsahkan perkawinan itu. Perkawinan adalah berdasarkan

Fuad Mohd Fachruddin., Masalah Anak dalam Hukum Islam ; Anak Kandung, Anak
Tiri, Anak Angkat dan Anak Zina,(Jakarta, CV Pedoman Ilmu Jaya : 1991), h. 27

suka sama suka antara calon isteri, maka ijab dan qobul ialah terima sama terima
antara mereka berdua.2
Perkawinan di dalam Islam tidak mempunyai syarat apapun yang
melanggar suasana hidup abadi antara satu pasangan yang telah diikat oleh
perjanjian yang kuat. Perkawinan di dalam Islam bukanlah hidup bergaul semata,
tetapi menyatukan diri di dalam segala bidang hingga terpadu dua badan menjadi
satu jiwa.
Dari itu Islam menjaga perkawinan dari segala segi baik perbuatan,
pakaian, pergaulan, dan tanggung jawabnya. Dewasa ini kalau ditinjau keadaan
dan situasi, sewajarnyalah wanita dijaga secara ketat sehingga harus diwajibkan
oleh pemerintah peraturan untuk menyelamatkan hidup bangsa dan umat agar
manusia-manusia kita dimasa depan tidak menjadi anak-anak haram belaka.
Islam mengajak manusia berpikir jauh dan jangan hanya menuruti hawa
nafsu angkara murka atau mengikuti kemajuan Eropa yang berlainan nilai
hidupnya dalam segala bidang.
Perkawinan mengandung arti kasih sayang kepada Allah, karena
perkawinan itu merupakan hasil dari seluruh kasih sayang antara manusia satu
sama lain. Perkawinan secara langsung dapat dilihat sebagai prosedur
menghasilkan manusia hamba Allah yang diserahkan tugas ini kepada manusia
sebagai khalifah-Nya. Menghasilkan makhlik manusia melalui perkawinan sangat
besar artinya, sebab Allah menginginkan adanya makhluk manusia ini, hingga
untuk itu Allah menciptakan makhluk pertama Adam.3

2
3

Fuad Mohd Fahruddin., h. 28


Ibid, h. 28-29

Perkawinan adalah satu-satu jalan dalam sistem biasa dan lumrah bagi
manusia untuk mendapatkan keturunan. Allah memberikan jalan ini kepada
manusia untuk membuktikan bahwa selain dari pada jalan ini bukanlah jalan yang
biasa atau lumrah. Kekuasaan Allah itu dapat menciptakan manusia tanpa ibu dan
bapak atau tanpa bapak.4
Sebagai hasil usaha mempelajari Al-Quran dan Sunnah Rasullah dalam
kitab-kitab hadis, para ahli hukum Islam telah menyusun suatu teori yang
merupakan penilaian mengenai perbuatan manusia. Jumlahnya lima, karena itu
disebut al-ahkam al-khamsah. Artinya lima kaidah, lima ukuran untuk menilai
perbuatan manusia dan benda.
Nikah adalah suatu perbuatan dan sebagai perbuatan (manusia) ia juga
dapat dinilai menurut ukuran tesebut. Sebagai ajaran, lima kaidah itu meliputi
segala aspek kehidupan yang dalam bahasa sehari-hari kadangkala disebut hukum
yang lima.
Kalau perbuatan nikah ditautkan dengan kaidah atau hukum yang lima itu,
maka kaidah asalnya adalah ja'iz atau mubah atau ibahah, di Indonesiakan
menjadi kebolehan. Tetapi, karena perubahan illat (motif, alasan)-nya, maka
hukum perkawinan dapat berubah kebolehan, menjadi sunnat, wajib, makruh, atau
haram. Contoh dalam uraian berikut, mungkin dapat memberi penjelasan.
(A) Perbuatan nikah yang dilakukan oleh orang yang telah cukup umurnya yang
hukum atau kaidah asalnya mubah atau kebolehan itu dapat berubah
hukumnya menjadi anjuran atau sunnat kalau dilakukan oleh seseorang yang
pertumbuhan rohani dan jasmaninya dianggap telah wajar benar untuk hidup

Ibid., h. 29

berumah tangga. Telah mampu membiayai atau mengurus rumah tangga.


Kalau ia kawin dalam keadaan yang demikian, ia akan mendapat pahala dan
kalau ia belum mau berumah tangga, asal mampu menjaga dirinya ia tidak
berdosa.
(B) Perbuatan nikah itu akan berubah hukumnya menjadi wajib (kewajiban) atau
fardh kalau seseorang dipandang telah mampu benar mendirikan rumah
tangga, sanggup memenuhi kebutuhan dan mengurus kehidupan keluarganya,
telah matang betul pertumbuhan rohani dan jasmaninya. Dalam keadaan
seperti ini, ia wajib kawin atau berumah tangga, sebab kalau ia tidak kawin ia
akan cenderung berbuat dosa, terjerumus, misalnya, melakukan perbuatanperbuatan yang dilarang Allah, baik ia pria ataupun wanita.
(C) Perbuatan nikah

berubah hukumnya menjadi makruh atau celaan bila

dilakukan oleh orang-orang yang relatif muda (belum cukup umur), belum
mampu menafkahi dan mengurus rumah tangga. Kalau orang kawin juga
dalam usia demikian, ia akan membawa sengsara bagi hidup dan kehidupan
keluarganya. Memang, dalam keadaan ini, ia tidak berdosa kalau berubah
tangga, tetapi perbuatannya untuk menikah dapat dikelompokkan ke dalam
kategori perbuatan tercela.
(D) Hukumnya berubah menjadi haram kalau dilakukan oleh seorang laki-laki
dengan maksud menganiyaya wanita itu. Hal ini disebutkan misalnya, dalam
al-Quran surat al-Nisa (dibaca an-Nisa) ayat 24 dan 25. Atau menurut
perhitungan yang umum dan wajar perkawinan itu secara langsung atau tidak
langsung akan mendatangkan mala petaka bagi mitranya. Kalau perkawinan
yang hukumnya dapat dimasukkan ke dalam kategori haram itu juga dilakukan

oleh seseorang, ia akan berdosa, misalnya perkawinan seorang laki-laki


dengan wanita yang masih terikat dalam perkawinan dengan orang lain,
jumlahnya melampaui batas yang dibolehkan agama, gemar menyakiti
pasangannya.5
Lebih lanjut para sarjana muslim memberikan pengertian tentang
perkawinan, antara lain adalah :
Prof.Dr.H.Mahmud Yunus :
" Perkawinan adalah akad antara calon suami dengan calon isteri untuk
memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur syari'at ".6
Sayuti Thalib,SH

" Pengertian perkawinan itu ialah perjanjian, suci membentuk keluarga


antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan."7
M.Idris Ramulyo,S H :
" Perkawinan menurut Islam adalah suatu perjanjian suci yang kuat dan
kokoh untuk hidup bersama-sama secara sah antar seorang laki-laki
dengan seorang permpuan untuk membentuk keluarga yang kekal, santun
menyantuni, kasih mengasihi, aman tentram dan kekal".8
Berbagai pendapat telah dikemukakan orang tentang arti perkawinan,
sudah pula diberikan rumusannya dalam versi yang berbeda-beda. Perbedaan
dalam perumusan itu disebabkan karena perkawinan sebagai suatu lembaga
mempunyai banyak segi dan dapat dilihat dari berbagai sudut pandangan,
misalnya dari sudut agama, hukum masyarakat, dan sebagainya. Jika dipandang

Mohammad Daud Ali., Hukum Islam dan Peradilan Agama ; Kumpulan Tulisan,
(Jakarta, PT Raja Grafindo Persada :2002), Cet. Ke- 2., h. 3-5
6
Mahmud Yunus., Hukum Perkawinan dalam Islam,(Jakarta, PT Hidakarya Agung :
1996), Cet. Ke-15. h. 1
7
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta, UI Press), h. 47
8
Idris Ramulyo., Beberapa Masalah tentang Hukum Acata Peradilan Agama dan Hukum
Perkawinan Islam, (Jakarta, Ind.Hill Co : 1984/1985), h. 174

dari segi ajaran agama dan hukum Islam perkawinan adalah suatu lembaga yang
suci.
Bahwa perkawinan merupakan lembaga yang suci dapat dibuktikan dari
tata cara melangsungkannya, tata hubungan suami isteri, cara melakukan dan
menyelesaikan perceraian yang pokok-pokok pengaturannya yang dilakukan oleh
Nabi Muhammad. "Berbaktilah kamu kepada Allah yang atas (dengan) nama-Nya
kamu saling meminta untuk menjadi pasangan hidup", demikian firman Tuhan
dalam al-Qur'an surat 4 ayat 1. "Takutlah kamu kepada Allah mengenai urusan
wanita, karena kamu telah mengambil mereka (dari orang tuanya) dengan amanat
Allah", demikian pesan Nabi Muhammad 82 hari sebelum beliau barpulang ke
Rahmatullah.9
Dalam hukum Islam, kata perkawinan dikenal dengan istilah nikah.
Menurut ajaran Islam melangsungkan pernikahan berarti melaksanakan ibadah.
Melakukan perbuatan ibadah berarti juga melaksanakan ajaran agama."Barang
siapa yang kawin berarti ia telah melaksanakan separuh (ajaran) agamanya, yang
separuh lagi, hendaklah ia taqwa kepada Allah "demikian sunnah qauliyah
(sunnah dalm bentuk perkataan) Rasulullah. Rasulullah memerintahkan orangorang yang telah mempunyai kesanggupan, kawin, hidup berumah tangga karena
perkawinan akan memeliharanya dari (melakukan) perbuatan-perbuatan yang
dilarang Allah. 10
b. Syarat-syarat dan Rukun Pernikahan
Berbicara mengenai hukum perkawinan sebenarnya kita membicarakan
berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bahwa bentuk masyarakat ditentukan atau
9

Mohammad Daud Ali., h. 1-2


Muhammad Daud Ali., h. 3

10

sekurang-kurangnya banyak dipengaruhi oleh bentuk dan system perkawinan,


sebelum kita membicarakan tentang syarat dan rukun perkawinan tersebut
alangkah lebih baik jika kita melihat bahwa perkawinan menurut Islam dapat
ditinjau dari tiga sudut, yaitu :
Pertama. Dari sudut hukum, perkawinan merupakan suatu perjanjian
antara pria dan wanita agar dapat melakukan hubungan kelamin secara syah dalam
waktu yang tidak tertentu.11
Kedua, dari sudut agama, perkawinan itu dianggap sebagai suatu lembaga
yang suci dimana antara suami dan istri agar dapat hidup tentram, saling cinta
mencintai, santun menyantuni dan kasih mengasihi antara satu terhadap yang lain
dengan tujuan mengembangkan keturunan.12 Perkawinan adalah suatu jalan yang
halal untuk melanjutkan keturunan dan dengan perkawinan itu akan terpelihara
agama, kesopanan dan kehormatan. Banyak penyakit jiwa yang sembuh sesudah
melakukan perkawinan, umpamanya penyakit kurang darah (anemia). Dengan
demikian perkawinan dapat menimbulkan keunggulan, keberanian, dan rasa
tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat dan Negara. Perkawinan juga
dapat memperhubungkan silaturrahmi, persaudaraan dan kegembiraan dalam
menghadapi perjuangan hidup dalam kehidupan masyarakat dan sosial.
Ketiga, dari sudut kemasyarakatan, bahwa orang-orang yang telah kawin
atau berkeluarga telah memenuhi salah satu bagian syarat dan kehendak
masyarakat, serta mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih dihargai dari
mereka yang belum kawin.13

11

Nazwar Syamsu., Al-quran tentang Manusia dan Masyarakat, (Jakarta, Ghalia


Indonesia :1983), Cet. Ke-1, h. 159
12
Ibid., h. 159
13
Ibid., h. 160

Adapun mengenai syarat dan rukun perkawinan tersebut sebagai berikut :


1. Ada calon pengantin pria dan wanita, yang pria benar-benar pria dan yang
wanita benar-benar wanita. Adanya calon pengantin pria dan calon
pengantin wanita adalah satu hal yang logis atau rasional. Logis, karena
tanpa adanya salah satu calon pengantin tersebut maka sudah barang tentu
perkawinan tidak dapat dilangsungkan.
2. Calon pengantin pria dan wanita sudah aqil baligh, sehat jasmani dan
rohani. Kedua calon baik pria maupun wanita harus Islam, sesuai menurut
Al-quran surat ke-X1 ayat 221 dan pengecualian dalam Al-quran surat keV ayat 5 yang membolehkan pria Islam kawin dengan wanita non Islam
dari golongan ahli kitab.
3. Harus ada persetujuan bebas antara calon pengantin pria dengan pengantin
wanita, tidak ada paksaan dari manapun datangnya, sesuai dengan hadits
Rasul diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa seorang wanita perawan telah
dating kepada Rasul mengatakan bapaknya telah mengawinkannya dengan
seorang pria padahal ia tidak suka, malah disuruh oleh Rasul kepada
wanita itu salah satu dari dua alternative, tetap sebagai istri atau minta
cerai. Jadi, menurut Islam kawin paksa itu tidak sah atau dilarang.
4. Harus ada wali nikah bagi calon pengantin wanita. Menurut mazhab
SyafiI tidak sah nikah seorang wanita tanpa wali, namun sebagi unsure
akad nikah tidak selalu pada mempelai perempuan, walaupun hamper
semua akad nikah yang dipraktekkan dalam masyarakat penentuan wali
sebagai unsur akadnya selalu untuk mempelai perempuan saja.
Jadi,penentuan wali untuk mempelai laki-laki jarang terjadi.

5. Secara teoritis, sekali peristiwa mungkin saja mempelai laki-laki dalam


melakukan akad menampilkan walinya yang harus bertindak, bahkan wali
itu sendiri yang berinisiatif mengambil prakaranya.14
6. Harus ada sekurang-kurangnya dua orang saksi, hal ini sangat penting
untuk kemaslahatan kedua belah pihak, maka para fuqaha sepakat bahwa
saksi dalam majlis akad tidak bisa diabaikan dalam arti bahwa saksi
menjadi bagian penting dari akad tersebut.15

. ,

) (

Artinya :
Dari Abu Hurairah ibn Abi Musa dari bapaknya ia berkata : tidaklah
dianggap sah suatu perkawinan kecuali dengan wali yang cakap dan dua
orang saksi yang adil. (HR. Ahmad dan al-Arbaah).
7. Ijab dan Qabul.
8. Meskipun pembicaraan mengenai ijab qabul diletakkan pada urutan akhir,
namun kedudukan ijab qabul itu sendiri sebagai unsure akad nikah
sangatlah sentral dan mendominasi. Bahkan menurut Abu Hanifah unsurunsur selain ijab qabul merupakan konsekuensi logis berhubungan adanya
ijab qabul.
9. Ijab adalah perkataan yang mewujudkan kehendak pihak pertama dengan
contoh sebagai berikut :

10. Sedang qabul adalah persetujuan pihak kedua terhadap isi kehendak pihak
pertama.
14

Ahmad Kuzair., Nikah sebagai Perikatan, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada : 1996),
Cet. Ke-1, h. 41
15
As-Sayyid Imam Muh. Ibn Ismail al-Khalany, Bulughul Maram, (Bandung, Dahlan,
T.th), Jilid- 1, h. 117

16

Adapun untuk rukun perkawinan merupakan hal-hal yang harus dipenuhi


saat melangsungkan perkawinan.Dalam islam sebenarnya banyak perbedaan
pendapat yang terjadi antara Imam Mazhab,akan tetapi pada kali ini penulis hanya
mengemukakan pendapat yang berkembang di Indonesia yang juga telah menjadi
hukum tertulis di Indonesia diantaranya adalah :
- Calon Suami
- Calon Isteri
- Wali Nikah
- Dua orang Saksi,dan
- Ijab dan Qabul17
c. Tujuan dan Hikmah Pernikahan
Tujuan Perkawinan adalah :
a. Mendapatkan dan melangsungkan perkawinan
b. Memenuhi

hajat

manusia

untuk

menyalurkan

syahwatnya

dan

menempuhkan kasih sayang.


c. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan
kerusakan.
d. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggungjawab menerima hak serta
kewajiban, juga bersungguh-sungguh memperoleh harta yang halal.
e. Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tentram
atas dasar cinta dan kasih sayang.

16
17

Ahmad Kuzair, h. 54
Moh.Zahroh., Al-Ahwalu asy-Syahsiyah, (Kairo, Dar al-Fikr :1957), h. 45

f. Mendekatkan dan saling menimbulkan pengertian antar golongan manusia


untuk menjaga keselamatan hidup.
g. Melanjutkan perkembangan dan ketentraman hidup rohaniah antara pria
dan wanita.
h. Memenuhi atau mencukupkan kodrat hidup manusia yang telah menjadi
hukum bahwa antara pria dan wanita utu saling membutuhkan.18
Allah telah menciptakan manusia dengan mempunyai naluri manusiawi
yang perlu mendapatkan pemenuhan dari lawan jenisnya, pemenuhan naluri
manusiawi merupakan kebutuhan pokok yang harus ada bidang dalam
penyalurannya, kebutuhan itu antara lain adalah kebutuhan biologis. Agar tercipta
kehidupan yang teratur maka Allah mengatur manusia dengan perkawinan,
perkawinan menurut Islam merupakan tuntunan agama yang perlu mendapatkan
perhatian yang mendalam, sehingga tujuan melangsungkan perkawinan pun
hendaknya untuk memenuhi kebutuhan agama. Sehingga kalau diambil intinya
ada dua tujuan diballik hikmah adanya perkawinan yaitu memnuhi naluri
manusiawinya dan memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga
yang harmonis.
Di sini letak arti perkawinan di dalam membentuk manusia disertai dengan
lebih adanya hubungan manusia dengan Allah di mana, Allah memperlihatkan
bahwa di dalam hidup ini tetap ada hubungan sebab dengan musabbab
(Casuality), yang kokoh dan mendalam hubungan sebab dan musabbab inilah
yang menggairahkan arti hidup dunia, dan yang merangsang manusia berusaha,
bergiat dan berjuang mati-matian. Manusia yang inderteminis sifatnya hendaklah
18

R.abdul Djamali, Hukum Islam ;Berdasarkan ketentuan kurikulum konsorsium Ilmu


Hukum (Bandung, Mandar Maju.1997) cet.11.Hal. 79-80

mencari, sebab ia bertanggung jawab terhadap segala langkah hidupnya, dunia


merupakan instansi tempat ia bertugas mencari rezeki dan berbakti serta
mengabdi.
Oleh karena itu perkawinan dianjurkan oleh Islam dengan firman Allah
dan sabda Rasul-Nya. Perkawinan diperlukan oleh masyarakat manusiawi yang
beradab. Dan perkawinan itupun merupakan suatu landasan yang mengatur
lembaga rumah tangga untuk menyusun masyarakat dan membentuk umat. Ikatan
pria dan wanita dalam perkawinan bukanlah semat hubungan kelamin belaka,
tetapi lebih jauh daripada itu yaitu menyusun rumah tangga yang menjadi soko
guru dari masyarakat manusia.19
Maka perkawinan merupakan satu ikatan lahir dan bathin yang
mempunyai rukun dan syarat serta tanggung jawab yang terus-menerus sekalipun
suami istri telah meninggal dunia kalau manusia di kebumikan, hanya jasadnya
yang di kuburkan, tetapi jiwa dan amal ibadahnya serta namanya tetap tinggal dan
menjelma di dalam sejarah itu dan menjadi pusaka hidup keluarga, bangsa dan
agama.
Untuk itu bahwa sifat-sifat yang ada pada diri Rasullah SAW dan amal
yang dilakukan Beliau itulah yang menjadi suri tauladan bagi manusia. Kita tidak
dapat mencontoh kecantikan Rasulullah SAW secara lahiriyah, tetapi budi pekerti,
amal ibadat, perbuatan yang baik, kata yang berguna, tetap kekal abadi dan tidak
akan mati sekalipun jasmani sudah menghilang dan sudah hancur lebur.
Keturunan yang ditinggalkan dan anak yang lucu yang mewarisi seseorang akan
selalu menjunjung tinggi dan mencontoh suri tauladan yang telah diberikan itu.20
19
20

Fuad Mohd. Fachruddin., h. 30


Ibid., h. 31-32

Cinta kasih, mawaddah dan rahmah yang dianugerahkan Allah kepada


sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Malaikat pun
berkeinginan untuk melaksanakannya, tetapi kehormatan itu diserahkan Allah
kepada manusia.21
B. Pernikahan Menurut Hukum Positif
a. Pengertian Pernikahan
Pernikahan ialah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang
perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang perkawinan
hanya dari hubungan keperdataan, demikian pasal 26 Burgerlijk Wetboek.
Pasal tersebut hendak meyatakan, bahwa suatu perkawinan yang sah,
hanyalah perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam kitab
Undang-undang Hukum Perdata.
Perkawinan merupakan institusi yang sangat penting dalam masyarakat.
Eksistensi institusi ini adalah melegalkan hubungan hukum antara seorang lakilaki dengan seorang wanita. Yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan
lahir bathin antara pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri.22
Undang-undang 1 Tahun 1974 dan hukum Islam memandang bahwa
perkawinan itu tidak hanya dilihat dari aspek formal semata-mata, tetapi juga
dilihat dari aspek agama dan sosial. Aspek agama menetapkan tentang keabsahan
perkawinan, sedangkan aspek formal adalah menyangkut aspek administratif,
yaitu pencatatan di KUA dan catatan sipil. Asser, Scholten, Wirarda, Pitlo, Petit,
dan Melis mengartikan perkawinan adalah : " Persekutuan antara seorang pria dan

21

Quraish Shihab., Wawasan al-Quran Tafsir Maudhui Atas Berbagai Persoalan Umat,
(Bandung, Mizan Anggota IKAPI : 1996), Cet. Ke-1. h. 214
22
Subekti., Pokok-pokok Hukum Perdata, ( Jakarta, PT Intermasa : 1994), Cet. Ke-26. h.
23

seorang wanita yang diakui oleh negara untuk hidup bersama / bersekutu yang
kekal "(dalam R Soetojo Prawirohamidjojo, 1988 : 35). Esensi pengertian
perkawinan yang dikemukakan pakar diatas adalah bahwa perkawinan sebagai
lembaga hukum, baik apa yang ada di dalamnya, maupun karena apa yang
terdapat di dalamnya.
Dalam konsepsi hukum perdata barat, perkawinan itu dipandang dalam
hubungan keperdataan saja. Maksudnya bahwa UU tidak ikut campur dalam
upacara-upacara yang diadakan oleh gereja. UU hanya mengenal "perkawinan
perdata", yaitu perkawinan yang dilangsungkan di hadapan seorang pegawai
catatan sipil (Vollmar, 1983 : 50).23
b. Syarat-syarat dan rukun pernikahan
Pada dasarnya tidak semua pasangan laki-laki dan wanita dapat
melangsungkan perkawinan. Namun, yang dapat melangsungkan perkawinan
adalah mereka-mereka yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan
di dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam KUH Perdata, syarat untuk melangsungkan perkawinan dibagi dua
macam adalah : (1) syarat materiil dan (2) syarat formal. Syarat materiil, yaitu
syarat yang berkaitan dengan inti atau pokok dalam melangsungkan perkawinan.
Syarat ini dibagi dua macam, yaitu :
1. Syarat materiil mutlak,merupakan syarat yang berkaitan dengan pribadi
seseorang yang harus di indahkan untuk melangsungkan perkawinan pada
umumnya. Syarat itu meliputi:

23

Salim HS dan R.M Sudikno Merto Kusumo, Pengantar Hukum Perdata Tertulis, (
Jakarta, Sinar Grafika, T.th), h. 61

a.

monogami, bahwa seorang pria hanya boleh mempunyai seorang


isteri,seorangwanita hanya boleh mempunyai seorang suami (pasal 27
BW);

b.

Persetujuan antara suami isteri ( pasal 28 KUH Perdata );

c.

Terpenuhinya batas umur minimal.Bagi laki-laki berumur 18 tahun dan


wanita berumur 15 tahun (pasal 29 KUH Perdata );

d.

Harus ada izin sementara dari orang tuanya atau walinya bagi anak-anak
yang belum dewasa dan belum pernah kawin (pasal 35 sampai dengan
pasal 49 KUH Perdata ).

2. Syarat materiil relatif, ketentuan yang merupakan larangan bagi seseorang


untuk kawin dengan orang tertentu. Larangan itu ada dua macam, yaitu :
a. larangan kawin dengan orang yang sangat dekat dalam kekeluargaan
sedarah dan karena perkawinan;
b. larangan kawin karena zina;
c. larangan

kawin

untuk

memperbarui

perkawinan

setelah

adanya

perceraian,jika belum lewat waktu satu tahun.


Syarat formal adalah syarat yang berkaitan dengan formalitas-formalitas
dalam pelaksanaan perkawinan. Syarat ini dibagi dalam dua tahapan. Syaratsyarat yang harus dipenuhi sebelum perkawinan dilangsungkan adalah :
1.

Pemberitahuan tentang maksud kawin dan pengumuman tentang maksud


kawin (pasal 50 sampai pasal 51 KUH Perdata). Pemberitahuan untuk maksud
kawin dilakukan kepada Pegawai Catatan Sipil. Pengumuman untuk maksud
kawin dilakukan sebelum dilangsungkannya perkawinan, dengan jalan
menempelkan pada pintu utama dari gedung dimana register-register catatan

sipil diselenggarakan, dan jangka waktunya selama 10 hari. Maksud


pengumuman ini adalah untuk memberitahukan kepada siapa saja yang
berkepentingan untuk mencegah maksud dari perkawinan tersebut karena
alasan-alasan tertentu. Sebab, dapat saja terjadi bahwa sesuatu hal yang
menghalangi suatu perkawinan lolos dari perhatian Pegawai Catatan Sipil.
Pengumuman itu berfungsi sebagai pengawas yang dilakukan oleh
masyarakat;
2. syarat-syarat yang harus dipenuhi bersamaan dengan dilangsungkannya
perkawinan.
Apabila kedua syarat di atas, baik itu syarat intern, ekstern, maupun syarat
materiil dan formal sudah dipenuhi maka perkawinan itu dapat dilangsungkan.
a. Kedua pihak harus telah mencapai umur yang ditetapkan dalam undangundang,yaitu untuk seorang lelaki 18 tahun dan untuk seorang permpuan
15 tahun
b. harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak ;
c. untuk seorang perempuan yang sudah pernah kawin harus lewat 300 hari
dahulu sesudahnya putusan perkawinan pertama ;
d. tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua pihak ;
e. untuk pihak yang masih dibawah umur,harus ada izin dari dari orang tua
atau walinya.
Tentang hal larangan untuk kawin dapat diterangkan, bahwa seorang tidak
diperbolehkan kawin dengan saudaranya, meskipun saudara tiri ; seorang tidak
diperbolehkan kawin dengan iparnya ; seorang paman dilarang kawin dengan
keponakannya dan sebagainya.

Tentang hal izin dapat diterangkan bahwa kedua orang tua harus
memberikan izin, atau ada kata sepakat antera ayah dan ibu masing-masing
pihak.Jikalau ada wali, wali ini pun harus memberikan izin, dan kalau wali ini
sendiri hendak kawin dengan anak yang dibawah pengawasannya, harus ada izin
dari wali pengawas ( toeziende voogd ). Kalau kedua orang tua sudah meninggal,
yang memberikan izin ialah kakek nenek, baik pihak ayah maupun pihak ibu,
sedangkan izin wali masih pula diperlukan.
Untuk anak-anak yang lahir diluar perkawinan, tetapi diakui oleh orang
tuanya, berlaku pokok aturan yang sama dengan pemberian izin, kecuali jikalau
tidak terdapat kata sepakat antara kedua orang tua, hakim dapat diminta campur
tangan, dan kakek nenek tidak menggantikan orang tua dalam hal memberikan
izin.24
c. Tujuan dan Hikmah Pernikahan
Yang menjadi tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini berarti bahwa
perkawinan itu : (1) berlangsung seumur hidup, (2) cerai diperlukan syarat-syarat
yang ketat dan merupakan jalan terakhir, dan (3) suami isteri membantu untuk
mengembangkan diri. Suatu keluarga dikatakan bahagia apabila terpenuhi dua
kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan jasmaniah dan rohaniah.25
Membentuk keluarga artinya membentuk kesatuan masyarakat terkecil
yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Membentuk rumah tangga artinya
membentuk kesatuan hubungan suami istri dalam satu wadah yang disebut rumah
kediaman bersama.
24
25

Salim HS dan RM Sudikno Mertokusumo., h. 62-63


Ibid., h. 62

Perkawinan tidak begitu saja menurut kemauan pihak-pihak, melainkan


sebagai karunia Tuhan kepada manusia sebagai makhluk beradab.
Dalam kenyataannya, berdasarkan hasil pengamatan, tujuan perkawinan
itu banyak juga yang tercapai secara tidak utuh. Tercapainya itu baru mnegenai
pembentukan keluarga atau pembentukan rumah tangga, karena dapat diukur
secara kuantitatif. Sedangkan predikat bahagia dan kekal belum bahkan tidak
tercapai sama sekali. Hal ini terbukti dari banyaknya terjadi perceraian.
Dalam rumusan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 tahun 1974 itu
tercantum juga tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan untuk sementara
atau untuk jangka waktu tertentu yang direncanakan, akan tetapi untuk seumur
hidup atau untuk selamanya. Dengan adanya perkawinan, maka suami istri dapat
hidup bersama dengan ikatan bathin, yang tercermin dari adanya kerukunan suami
istri yang bersangkutan dalam membina keluarga bahagia.26
Dengan demikian, perkawinan yang sah bagi suami istri mempunyai
hubungan yang erat dan kekal, terutama dengan adanya perkawinan ikatan lahir
ini merupakan hubungan formil yang sifatnya nyata, baik bagi yang mengikatkan
dirinya maupun bagi orang lain atau masyarakat.

26

Riduan Syahrani., Seluk-beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, (Bandung, Penerbit


Alumni : 1992), Cet. Ke-III, h. 67

BAB IV
HUKUM PERNIKAHAN WANITA HAMIL AKIBAT ZINA

A.

Menurut Hukum Islam


Dalam bab sebelumnya telah di bahas bahwa pernikahan merupakan satu-

satunya jalan yang paling mulia dalam menyalurkan kebutuhan biologis dan
menghasilkan keturunan yang sah dalam masyarakat. Maka sewajarnyalah bila
masalah pernikahan menjadi perhatian khusus dalam membina sebuah rumah
tangga yang bahagia. Karena pembinaan ruman tangga berdampak bagi
keselamatan dan kebahagiaan individu, masyarakat, serta kemuliaan umat itu
sendiri.
Dalam memilih seorang suami atau istri, Islam menganjurkan hendaknya
di dasari oleh Agama atau moral, yakni calon tersebut harus berakhlak mulia dan
bukan berdasarkan atas kecantikan, bangsawan bahwa kepopulerannya semata.
Karena agama yang baik akan membawa keberuntungan yang gemilang di dunia
maupun di akhirat, dan mendapat ketenangan lahir dan batin.
Perbandingan antara Agama dengan kecantikan atau harta benda atau
bangsawan sebagai dasar/penentuan seorang calon pasangan hidup adalah lebih
baik terletak pada nilai Agamanya.
Dalam Islam, juga dikenal dengan perkawinan antara seorang laki-laki
dengan seorang perempuan dalam keadaan hamil (kecelakaan), dengan laki-laki
yang menzinai atau laki-laki yang bukan yang menzinainya.
Seorang gadis bukan perawan atau janda hamil tanpa suami dalam
kehidupan masyarakat biasanya dicarikan seorang calon suami yang bersedia

untuk menutupi aib atau cela yang ditanggungnya. Baik seorang calon suami
sekedar untuk menutupi malu atau suami sungguh-sungguh. Baik calon suami itu
orang yang menghamili ataupun bukan.
Perbuatan zina yang dilakukan laki-laki dan perempuan itu tidak dilihat
statusnya. Apakah telah beristri atau bersuami ataupun ia masih perawan atau
perjaka, semua tetap dinamakan perzinahan.
Para ulama sepakat mengenai kebolehan menikahi wanita pezina bagi
orang yang menzinahi. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum
menikahinya bagi orang yang bukan menzinahinya. Terjadinya perbedaan
pendapat di kalangan ulama tersebut disebabkan oleh perbedaan mereka dalam
memahami larangan menikahi pezina yang terdapat dalam surat an-Nur ayat 3
sebagai berikut :














(3 :)
Artinya : Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan
yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina
tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik,
dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin. (Q.S. al-Nur
:3)
Mayoritas ulama berpendapat, ayat tersebut hanya menunjukkan celaan
terhadap orang-orang yang melakukan pernikahan antara orang yang baik-baik
dengan seorang pezina dan bukan keharaman. Sedangkan lafadz ()
ditujukan pada pelacur, pezina, kumpul kebo dan bukan kepada bentuk
pernikahannya.
Di dalam pernikahan wanita hamil karena zina banyak terjadi perbedaan
pendapat. Sebagian ulama sepakat bahwa laki-laki pezina halal menikahi wanita
pezina, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum menikahinya bagi

orang yang bukan menzinainya. Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama


tersebut disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memahami larangan menikahi
pezina.
Syaikhul Islam Rahimakumullah berkata: nikah orang zina itu haram
hingga dia harus taubat. Baik dengan pasangan zina atau dia itu orang lain. Inilah
yang benar di ragukan lagi. Demikian pendapat segolongan salaf dan khalaf,
diantara mereka yaitu Ahmad bin Hambal dan lain-lain.
Tetapi kebanyakan ulama salaf dan khalaf membolehkan, yaitu pendapat
imam yang tiga, hanya saja imam Malik mensyaratkan (rahimnya) bersih, sedang
Imam Abu Hanifah membolehkan akad sebelum istibra (bersih) apabila dia
ternyata hamil, tetapi apabila ia hamil maka tidak boleh mencampurinya, karena
air sperma zina itu tidak terhormat, dan hukumnya tidak bisa dihubungkan
nasabnya, inilah pengambilan alasan Imam Syafii.
Sedang Imam Abu Hanifah memberi rincian antara hamil dan tidak hamil,
karena wanita hamil apabila dicampuri itu menghubungkan anak yang bukan
anaknya sama sekali berbeda dengan yang tidak hamil. Imam Malik dan Ahmad
mensyaratkan istibra, dan itulah yang benar tetapi Imam Malik dan Imam Ahmad
dalam satu riwayat masyarakat bersih dengan haidh. Sedang riwayat yang lain
dari Ahmad yaitu yang di ikuti oleh kebanyakan sahabat-sahabatnya bahwa istibra
itu harus tiga kali haidh, tetapi yang benar bahwa itu tidak wajib melainkan istibra
kesuciannya (beristibra) yang akan menghubungkan anaknya kepada orang
tuanya, yang mana dalam hal ini siwanita itu wajib istibra, ini lebih utama.27

27

Ibnu Tamiyah, Hukum Perkawinan,(Jakarta,Pustaka al-Kausar,1997) Hal: 105

Sebagian pendapat para ulama itu telah tertuang dalam Kompilasi Hukum
Islam pasal 53 yang berbunyi :
a. Seorang wanita hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang
menghamilinya.
b. Perkawinan dengan wanita hamil yang tersebut pada ayat (1) dapat
dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
c. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil,tidak
diperlukan perkawinan ulang setelah anak dikandungnya lahir.28
Para ulama berselisih pendapat mengenai pernikahan wanita hamil diluar
nikah dengan orang yang bukan menghamilinya. Sebagian pendapat sah akah
nikahnya dan sebagian lagi berpendapat tidak sah. Masing-masing mereka
mempunyai argumentasi berupa ayat-ayat Al-Quran maupun hadits Nabi Saw.
A. Imam Abu Yusuf dan Zafar berpendapat tidak boleh menikahi wanita hamil
karena zina dan tidak boleh berhubungan seksual dengannya. Karena wanita
tersebut dari hubungan tidak sah dengan laki-laki lain maka haram
menikahinya sebagaimana haram menikahi wanita hamil dari hubungan yang
sah. Keadaan hamil mencegah bersetubuh, maka juga mencegah akad nikah
sebagaimana hamil yang ada nasabnya. Oleh karena tujuan nikah itu
menghalalkan hubungan kelamin, dan apabila tidak boleh berhubungan
kelamin maka nikah itu tidak ada artinya.29

28

1, h. 125

29

Abdurrahman., Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta, Akademik Presindo : 1992), Cet. Ke-

Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, Problematika Hukum Islam Kontemporer


1,(Jakarta:PT.Pustaka Firdaus,1996)cet.11, h.45

B. Menurut pendapat Imam Ahmad bin Hambal, perempuan yang berzina baik
hamil maupun tidak, tidak boleh dinikahi oleh laki-laki yang mengetahui
keadaannya itu kecuali dengan syarat :
1). Iddahnya habis dengan melahirkan anaknya.
2). Perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan zina, dan jika ia belum
betaubat maka ia tidak boleh menikahinya, meskipun telah habis masa
iddahnya. Kalau ada laki-laki yang menikahinya sebelum ia bertaubat ia
berarti tetap berzina dengan perempuan itu. Apabila telah sempurna kedua
syarat diatas, maka halal menikah dengan perempuan itu bagi yang
menzinainya atau orang lain.30
C. Menurut Imam Malik, perkawinan wanita hamil dari berzina dengan pria yang
lain yang tidak menghamilinya, tidak boleh dan tidak sah. Wanita tersebut
baru bisa dinikahi secara sah sesudah ia melahirkan. Bahkan menurut Imam
Malik, jika pria yang dinikahi tidak mengetahui kehamilan wanita tersebut,
maka setelah pria itu mengetahuinya pria tersebut wajib menceraikannya, dan
jika ia telah menggaulinya, maka ia wajib memberikan mahar mitsil, hal ini
didasarkan kepada:
Wanita yang sedang hamil dari zina juga mempunyai masa iddah, oleh karena
itu, ia tidak sah dinikahi sebelum ia melahirkan, sebagaimana difirmankan
Allah SWT dalam surat Ath-Thalaq ayat 4 yang berfirman :
(4 : )






..
Artinya: Dan wanita-wanita yang hamil, masa iddah mereka itu ialah
sampai ia melahirkan (Ath-Thalaq :4) "

30

Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, Menurut Imam Mazhab,(Jakarta,


PT. Hidakarya Agung,1996) h. 47

Dengan menikahi wanita yang sedang hamil dari zina, maka


dikhawatirkan akan terjadi percampuran antara sperma dua laki-laki, dengan
demikian akan terjadi ketidakjelasan status anak, hal ini didasarkan sabda
Rasululloh SAW:
( )

Artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dari hari kiamat, maka
janganlah ia menyirami air spermanya keladang orang lain (H.R. Abu
Daud).31
Imam Abu Hanifah juga berpendapat bahwa boleh hukumnya menikahi
wanita hamil karena zina, tapi dengan syarat jika laki-laki yang menikahinya itu
bukan laki-laki yang menghamilinya, ia tidak boleh menggauli istrinya sebelum
melahirkan. Alasan mereka yang membolehkan menikahi wanita hamil karena
zina sebagai berikut :
a. Firman Allah swt. dalam Surat An-Anisa : 24











(24 : )


Artinya: dan (diharamkan juga mengawini) wanita yang bersuami,
kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum
itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi mu selain
yang demikian itu (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk
mengawini bukan untuk berzina (Q.S. An-Nisa:24)
Oleh karena perempuan hamil karena zina tidak disebutkan dalam
golongan perempuan-perempuan yang haram dinikahi (lihat surat AlNisa ayat 23-24) maka hukumnya boleh dinikahi.

31

Ibid, h. 94

b. Sperma zina itu tidak dihargai dengan alasan tidak ditetapkan keturunan
anak zina kepada ayah, tetapi hanya kepada ibunya saja. Kalau sperma
zina tidak dihargai, maka jelas ia tidak dapat menghalangi apalagi
membatalkan akad nikah wanita hamil karena zina tersebut. Namun
menurut Imam Abu Hanifah, tetap saja tidak diperbolehkan menggauli
istrinya hinga ia melahirkan. Alasannya pelarangan adalah hadits Nabi
saw :
( )
Artinya: Barang siapa yang beriman kepada Allah swt, dan Hari Akhir
maka janganlah menyiramkan airnya ketanaman orang lain (H.R. Abu
Daud)32
Larangan

kawin

kepada

kiasan

ini

bertujuan

untuk

menghindari

percampuran keturunan dalam satu rahim.


Pendapat Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah di atas terlihat sejalan
namun ada sedikit perbedaan diantara mereka, yakni dalam hal kebolehan
menggauli wanita hamil akibat zina yang dinikahi oleh laki-laki yang bukan
menghamilinya.
Pendapat Imam Abu hanifah yang melarang menggauli wanita hamil
karena zina dalam pandangan penulis, terdapat inkonsistensi pemikiran Imam Abu
Hanifah. Disisi lain Imam Abu Hanifah menghalalkan menikahi wanita hamil
akibat zina dengan alasan bahwa sperma zina tidak dihargai.
Sedang disisi lain beliau melarang menggauli wanita hamil yang telah
dinikahi oleh laki-laki yang bukan menghamilinya, dengan alasan dikhawatirkan
bercampuran keturunan dalam satu rahim. Apabila Imam Abu Hanifah melarang
32

Imam Abi Ishaq as-Sairazi.al-Muhazzab,(Bairut,Dar al-Fikr) jilid II, h.43

menggauli wanita tersebut seharusnya beliau juga melarang menikahi wanita


yang hamil akibat zina oleh laki-laki lain.
Pandangan Imam Syafii yang membolehkan menggauli istri (wanita
hamil akibat zina) bagi orang lain yang menikahinya, disamping Karena tidak ada
nash yang melarang hal tersebut seperti dalam analisis bantahan terhadap
pendapat Imam Abu Hanifah diatas, juga pendapat Imam Syafii ini sejalan
dengan perspektif biologis yakni seorang calon ibu yang usia kehamilan mencapai
ke-36 hari, terdapat satu liter ketuban yang merendam janin, sampai janin menjadi
embrio (berumur 8 minggu), ia dapat bergerak bebas dikantong ketuban. Tetapi
bila terjadi benturan pada calon ibu, janin terlindungi dari cedera cairan, ia
bertindak sebagai peredam goncangan.33
Dengan demikian tercampurnya keturunan dalam satu rahim seperti yang
dikhawatirkan oleh Imam Abu Hanifah, tidak akan terjadi. Karena janin yang
sudah menjadi embrio berada dalam kantung ketuban, yang menjadi
melindunginya dari goncangan apapun termasuk dari siraman sperma yang akan
datang kemudian.
Setelah menelusuri pendapat para ulama mazhab diatas, penulis cenderung
kepada pendapat imam Syafii dan Imam Abu Hanifah yang mengatakan sah akad
nikah yang dilakukan oleh seorang wanita hamil karena zina baik laki-laki yang
telah menghamilinya maupun bukan. Karena tidak terdapat larangan yang nyata
dari Al-Quran dan hadits mengenai hal itu. Dan jika ditinjau dari sudut
sosiologis, pendapat mereka sangat menguntungkan pihak wanita karena dapat
menutup aibnya. Disamping itu juga terdapat unsur kemaslahatan dalam

33

Derek Liewenllyn Jones,Setiap Wanita,,(Jakarta,Delapratasa,1997) hal.155

kebolehan menikahinya, diantaranya dapat membuka jalan kearah kehidupan yang


lebih baik bagi wanita tersebut. Dan tentu saja hal ini akan membawa dampak
positif bagi keadaan kejiwaan anak yang akan lahir.
B.

Menurut Hukum Positif


Di dalam hukum perdata pernikahan tidak jauh berbeda dengan hukum

Islam, didalam hukum perdata perkawinan adalah suatu hal yang mempunyai
akibat yang luas didalam hubungan hukum antara suami dan istri.
Dengan perkawinan itu timbul ikatan yang berisi hak dan kewajiban
misalnya; kewajiban untuk bertempat tinggal yang sama, yang tidak kalah penting
adalah hukum yang terjadi antara anak yang lahir dari perkawinan.
Menurut kitab undang-undang hukum perdata, perkawinan

adalah

persatuan seorang laki-laki dan perempuan secara hukum untuk hidup bersamasama, maksudnya untuk hidup berlansung selama lamanya sampai akhir hayat.
Menurut undang-undang perdata, Perkawinan yang sah adalah perkawinan
yang dilakukan dimuka petugas kantor pencatat sipil. Perkawinan yang dilakukan
oleh petugas dilakukan menurut tata cara sesuatu agama sah. Perkawinan wanita
hamil karena zina itu sah selama mengikuti/memenuhi syarat-syarat dan rukun
nikah yang telah ditentukan oleh undang-undang.34
Dalam pasal 32 hukum perdata dengan keputusan hakim telah dinyatakan
orang yang berzina dilarang kawin dengan teman zina.
Maksud pasal tersebut adalah berupa larangan, jangan terjadi hubunganhubungan yang asusila, contoh hubungan diluar nikah antara laki-laki yang belum

34

Sudarsono,.Hukum Perkawinan Nasional,(Jakarta,Rineka Cipta,1991) Cet.1, h. 112

beristri dengan perempuan yang sudah bersuami, atau hubungan antara


perempuan yang belum bersuami dengan laki-laki yang sudah beristri.
Dengan demikian, kalau terjadi hal-hal diatas apakah dia telah melakukan
zina harus ada keputusan hakim, sehingga diantara pihak-pihak yang telah
melakukan zina tadi di larang untuk melakukan perkawinan.
Akan tetapi, dalam praktek ketentuan hukum pasal 32 KUHP ini jarang
sekali hakim didalam menjatuhkan putusan tidak wajib menyebutkan nama orang
yang diajak melakukan zina tersebut.35
C.

Kedudukan Anak Dari Pernikahan Wanita Hamil Akibat Perzinahan


a. Hukum Islam
Di berbagai macam lingkungan masyarakat Indonesia seorang anak

sebagai keturunan dari kedua orang tuanya. Sehingga anak tersebut mempunyai
hubungan kerabat yang ditarik melalui bapak dan ibunya.
Anak sebagai salah satu unsur dari sesuatu kekeluargaan mengalami
hubungan-hubungan antara pribadi yang pertama adalah keluarga, misalnya
hubungan anak dengan orang tua.
Dalam undang-undang perkawinan No I Tahun 1974, anak yang sah
adalah (1) anak yang lahir dalam perkawinan yang sah (2) anak yang lahir sebagai
akibat perkawinan yang sah. Jadi kalau seorang wanita yang telah mengandung
karena berbuat zina dengan orang lain, kemudian ia kawin sah dengan pria yang
bukan pemberi benih kandungan wanita itu, maka jika anak itu lahir itu adalah
anak sah dari pernikahan itu dengan pria lain.

35

Soedharyo Soimin..Hukum Orang dan Keluarga,Perspektif Hukum Perdata,Hukum


Islam Dan Hukum Adat,(Jakarta,Sinar Grafika,2002) Cet.1, h. 16

Mengenai anak yang tidak ada berbapak ini yang dikenal sebagai anak
diluar kawin, dimana si anak hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya
dan keluarga ibunya,diatur dalam pasal 43 Undang-Undang Perkawinan No 1
Tahun 1974. bahkan dalam Kompilasi Hukum Islam sekarang ini, kemungkinan
bagi seorang wanita yang hamil di luar nikah untuk kemungkinan dengan pria
yang menghamilinya (pasal 53) yang perlu dicatat adalah bahwa perkawinan ini
dapat segera dilaksanakan dan tidak usah menunggu sampai anak lahir.
Dalam usahanya untuk menghindari keadaan seorang anak tidak
mempunyai bapak. Maka seorang anak perempuan yang hamil diluar perkawinan,
itu agak dipaksakan untuk kawin, sedapat mungkin tentunya dengan seorang pria
yang pernah bersetubuh dengan si wanita itu juga dianggap penyebab hamilnya
perempuan itu.36
Menurut ajaran Islam setiap anak mempunyai hubungan erat dengan
ibunya dan bapaknya. Apabila salah satu meninggal, maka yang lain menjadi ahli
warisnya. Para ulama sepakat bahwa anak yang lahir karena zina hanya
mempunyai nasab kepada ibunya, namun mereka berbeda pendapat.
a. Mazhab Hanafy, jika istri melahirkan anaknya dalam masa kurang dari
dua tahun, dihitung dari tanggal perpisahan dengan suaminya, karena
masa hamil yang paling lama adalah dua tahun, kalau wanita itu
melahirkan anaknya setelah berlalu dua tahun atau lebih dari tanggal
perpisahan dengan suaminya, baik perpisahan karena thalaq bain (thalaq
tiga), atau suami meninggal, maka anak yang dilahirkannya itu tidak
jelas diakui hubungan keturunannya dengan suaminya itu. Karena yakin,
36

Hazairin.Tinjauan Mengenai Undang-undang Perkawinan no.1 / 1974.(Jakarta,Tinta


Mas,1996). h. 125

bahwa anak itu terjadi setelah berakhirnya perkawinan wanita itu dengan
suaminya tadi, karena anak itu lahir setelah lewat dua tahun atau lebih
dari tanggal perpisahannya dengan suaminya. Dan hanya mempunyai
hubugnan dengan ibunya saja dan keluarga ibunya.37
b. Jumhur ulama berbeda pendapat, jika seorang laki-laki mengawini
seorang yang sudah dikumpuli maka apabila dalam waktu kurang 6
bulan sejak dikumpulnya, maka anak yang dilahirkan itu tidak dapat
dipertalikan nasabnya kepada laki yang mengawini ibunya dan hanya
mempunyai nasab kepada ibunya dan keluarga ibunya.38
c. Imam Abu Hanifah. Berpendapat bahwa wanita yang melahirkan itu
dianggap dalam ranjang suaminya. Oleh karena itu anak yang
dilahirkannya kawasannya dapat dipertalikan kepada bapak sebagai anak
sah apabila anak tersebut lahir setelah waktu enam bulan sejak
perkawinannya. Abu Hanifah melihat masalah ini dari tinjauan yuridis
formal bulan dari segi hubungan suami istri.39
Menurut pandangan Imam Syafii dan Imam Maliki ialah jika seseorang
laki-laki mengawini seorang wanita belum pernah dikumpuli atau sudah
pernah dikumpuli, maka bila dalam waktu kurang dari enam bulan dari
pada aqad pekawinan dan bukan terhitung dari masa perkumpulnya
maka anak yang dilahirkan itu tidak dapat dipertalikan nasab/garis
keturunannya kepada laki-laki yang menyebabkan mengandung.
Perhitungan enam bulan itu dimulai dari waktu berkumpul bukan dari

37
38
39

Zakaria Ahmad al-Barry,Hukum Anak-anak Dalam Islam,(Jakarta,Bulan Bintang,1990)


Abdurrahman. h. 113
Fathur Rahman,Ilmu Waris,(Bandung,P.T.Al-Ma'arif,1996) h. 221

aqad nikah. Masalah perbedaan pendapat itu hanya terletak pada


persetubuhan dan pernikahan yang menjadi pilihan alternativ pedoman.
Imam Syafii dan Maliki melihat sengama ialah sebagai dasar
penentuan, sedangkan Imam Abu Hanifah. Memilih aqad nikah yang
menjadi rujukan. Dan masing-masing pihak sependapat bahwa batas
menentukan keabsahan anak itu mempunyai keturunan terhadap
bapaknya ialah bila anak itu lahir sesudah enam bulan terhitung dari
pernikahan kedua orang tuanya.
Akan tetapi hubungan nasab anak zina dengan bapaknya tersebut hanya
sebatas bahasa dan urf (tradisi), pendapat Imam Abu Hanifah di atas beralasan
kepada keumuman hadits Rasul yang berbunyi sebagai berikut :

:
( )
Artinya : Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda : Seorang
anak adalah milik orang yang seranjang dan bagi pezina hukuman
rajam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Imam Abu Hanifah pada lafaz Firasyi menunjukkan terdapat
dhomir ghoib untuk laki-laki yang tersembunyi. 40 Akan tetapi Imam Abu Hanifah
mengatakan bahwa sebenarnya nasib nasab anak tersebut tergantung kepada
suami (wanita tersebut), jikalau wanita yang berzina mempunyai suami, karena
ketika suami mengakui anak tersebut sebagai anaknya, maka anak tersebut
menjadi anaknya yang sah secara syari, yang memiliki hak-hak sebagaimana
mestinya anak yang sah, dan dia pun (ayah) punya hak pula atas anak-anak seperti

40

Azhari Abdul Ghofur, Islam dan Problematika Sosial Sekitar Pergaulan Muda-mudi,
(Jakarta, Akademika Pressindo : 2000), Cet. Ke-1, h. 48

itu.41 Keadaan seperti ini adalah bagi perempuan yang berzina tetapi telah
mempunyai suami. Namun, sebenarnya yang lebih mengetahui secara pasti nasab
seorang anak adalah ibunya.
Pendapat Syafii dan Maliki beranggapan bahwa wajah istidhal atau
bentuk pengambilan hukum dari kata Lil Firosy yang tersebut dalam hadits
diatas adalah bermakna ibu, sehingga garis keturunan (keluarga) anak hasil zina
hanya kembali kepada ibunya saja. Demikian pula bagi pendapat yang pertama ini
beranalog dengan ketentuan jumlah minimal bagi wanita hamil, yakni anak yang
lahir kurang dari enam bulan sejak saat perkumpulan suami istri tanpa perhatikan
perkawinan, maka anak yang lahir tesebut hanya akan diakui oleh ibunya saja,
laksana kewangsaan matrinial dimana seorang anak tidak diakui sebagai kelaurga
bapak.
Bagi pendapat yang kedua, disamping berpegang teguh kepada yuridis
formal, artinya keabsahan seorang anak sebagai keluarga yang sah dilihat dari
masa lahirnya tidak kurang dari jangka wktu enam bulan terhitung sejak
pernikahan ibu dengan ayahnya. Juga pendapat ini berpedoman kepada Hadits
Riwayat Bukhori dari Abu Hurairoh RA yang artinya :
Jelas dari Nabi saw, Beliau telah bersabda, jika seorang laki-laki
mengajak kepada istrinya keranjang tidurnya kemudia ia menolak, maka
datanglah malaikat untuk melaknati sampai pagi hari (Fathul Bari XI, hal 205).
Abu Hanifah, mengambil pegangan bahwa wajan istidhal (bentuk
pengambilan hukum) dari keterangan kata Firosy yang terdapat dalam hadits
tersebut tadi diartikan sebagai seorang laki-laki (bapak).42
41

Muhammad Jawad Mughniyah., Fiqh Lima Madzhab, (Jakarta, PT. Lentera Basritama :
2000), Cet. Ke-V, h. 386

kehadiran seorang anak mengokohkan ikatan perkawinan, kegairahan


mencari nafkah meningkat karena termotivasi oleh semangat untuk membina dan
mendidik anak agar kelak menjadi manusia yang berguna.
Lain halnya dengan anak yang dilahirkan dari hubungan yang tidak sah,
akan dicerca dan dihina kata-kata cemooh dari lingkungan senantiasa akan
diterimanya.walaupun anak yang baru dilahirkan belum mempunyai dosa,tetapi
masyarakat menghukumnya secara kejam dengan istilah " Anak haram jadah,anak
zina".
Menurut Hukum Islam anak yang lahir diluar nikah ( anak zina ) itu suci
dari segala dosa yang berdosa adalah orang yang menyebabkan eksistensinya
didunia ini,ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi :
(38 : )

..
Artinya : "Bahwasanya seseorang tidak akan memikul dosa orang
lain."(QS.An-Najm : 38)
Rasulullah saw bersabda :
43

: :
( )

Artinya : " Semua anak dilahirkan atas kesucian / kebersihan (dari segala
dosa/noda) dan pembawaan beragama tauhid,sehingga ia jelas
bicaranya.makanya menjadi Yahudi,Nasrani,atau Majusi"(HR.Abu
Ya'la,Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Oleh karena itu anak zina harus diperlakukan secara manusiawi, diberi
pendidikan, dan keterampilan yang berguna untuk bekal hidupnya dimasyarakat
nanti.

42

Ibid, h.313
Jalaluddin Al-suyuti,Al-jami,'AAl-Shaghir,(kairo
Halabi,1954),vol.11.hal.17
43

Musthafa

Al-Babi

Al-

Paling tidak ada empat dampak negatif bagi anak yang lahir di luar nikah,
sehingga kehilangan sebagian dari haknya :
1. Status Nasab
Istilah nasab berasal dari Bahasa Arab yang berarti kerabat,sebagian ahli
bahasa mengkhususkannya kepada (kerabat) ayah44. Nasab didefinisikan pertalian
atau hubungan yang ada dalam keluarga."Namun Ibnu Abidin menegaskan
pangkal atau sumber nasab adalah Ayah.45
2. Status Perwalian
"Perwalian " dalam istilah fiqh "penguasaan "dan "perlindungan ".Menurut
istilah fiqh yang dimaksud perwalian adalah penguasaan penuh yang diberikan
oleh agama kepada seseorang untuk menguasai dan melindungi orang atau
barang. Orang yang diberi kekuasaan perwalian disebut wali, yang dibicarakan di
sini

adalah

yang

berhubungan

dengan

perwalian

atas

orang

dalam

perkawinannya.46
3. Status kewarisannya
Kata waris itu berasal dari Bahasa Arab yaitu, akar kata yang berarti
pusaka.Harta peninggalan si mayit47. Lafal Wirts, irts, dan tutrs itu satu arti yaitu
suatu yang ditinggalkan seseorang kepada ahli warisnya.48
4. Status Nafkah

44

Ibnu Mandzur, Lisan Al-'Arobi,(Beirut : Dar Shadir,1994),jilid .1.h.755


.Ibn 'Abidin, Radd Al-Mukhtar 'ala Al-Daar Al-Mukhtar : Hasyiyah Ibn 'Abidin
,(Beirut : Daar Ihya Al-Turats Al-'Arabi,1987),juz.11,cet.11, h.623
46
Kamal Mukhtar, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Jakarta, Bulan Bintang
: 1974), Cet. Ke-3, h. 92-93
47
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta, Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/ Penafsiran Al-Quran : 1973). h. 496
48
Ibn Mandzur., h. 200
45

Nafkah berasal dari Bahasa Arab yaitu yang berarti belanja, atau
"kebutuhan pokok". Maksudnya ialah kebutuhan pokok yang diperlukan oleh
orang-orang yang membutuhkannya.
Hukum anak zina :
1. Sekiranya seorang suami menuduh isterinya melakukan perzinaan tetapi
tidak dapat dibuktikan, maka anak yang lahir dalam waktu sang isteri
masih di bawah tangan sang suami, anak itu adalah anak dari sang suami
yang sah.
Bersabda Rasulullah s.a.w. Anak itu adalah bagi ranjang (yakni bagi suami
yang mempunyai ranjang itu) sedangkan sang isteri yang melacur itu
dirajam"(Bukhari).
2. Bila seorang pria atau wanita dipaksa melakukan zina, maka ia tidak
berdosa, kalau setelah itu ia melakukan perkawinan dengan wanita
tersebut secara sah, maka tidaklah terdapat persoalan apapun dalam
persoalan ini.Anak yang dilahirkan adalah anak yang sah, sebab perzinaan
yang dilakukan itu tidak membawa satu kesalahan didalam hukum Islam
berarti kedua pelaku perzinaan paksaan itu tidak didera atau dirajam.
3. Kalau sekiranya perzinaan itu dilakukan dengan penuh kesadaran, oleh
manusia yang dewasa dan atas keinginan masing-masing dengan
mengetahui

hukumannya,

maka

perbuatan

ini

mengarah

kepada

pelaksanaan hukum zina atas kedua manusia itu yakni didera masingmasing mereka jika belum pernah kawin dan dirajam / dilontar batu
hingga meninggal dunia bila telah pernah kawin.

4. Dewasa ini hukum dan hukuman itu tidak berlaku, sebab tidak ada Negara
Islam dimana

perbuatan itu terjadi hingga perbuatan itu terkadang

dianggap enteng belaka.Terkadang perbuatan itu dilakukan muda-mudi


untuk memaksa orang tua mereka mengawinkan mereka berdua.Ini
merupakan paksaan yang melanggar aturan agama dan ajaran Islam.
Sekiranya mereka yang melakukan perzinaan itu mendapatkan anak, maka
anak itu adalah anak zina.
b. Hukum Positif
Di dalam hukum perdata bahwa setiap anak yang dilahirkan atau
dibesarkan dalam ikatan perkawinan, maka anak adalah anak yang sah. Anak sah
adalah anak yang dilahirkan dari sekurang-kurangnya 180 hari itu kemungkinan
bahwa anak itu tidak sah, kecuali sebelum perkawinan si calon suami sudah tahu
bahwa calon istri sudah mengandung.itu kemungkinan bahwa anak itu tidak sah,
kecuali sebelum perkawinan si calon suami sudah tahu bahwa calon istri sudah
mengandung.
Kemudian anak yang lahir di luar perkawinan karena berbuat zina antara
pria dan wanita, sebelum perkawinan telah mengakui bahwa anak yang lahir itu
adalah anak mereka telah mengakui. Kemudian pria dan wanita tersebut
melakukan perkawinan dan sebelum perkawinan ia telah mengakui bahwa anak
yang lahir itu adalah anak mereka, maka anak itu menjadi anak yang sah. Dengan
adanya pengakuan terhadap anak diluar perkawinan maka terjadilah hubungan
perdata antara anak dengan bapak dan ibu yang mengakuinya.

Jika wanita yang melahirkan anak dan tidak melakukan perkawinan yang
sah, maka anak itu hanya mempunyai hubungan perdata dan akan hanya mendapat
warisan dari ibu dan keluarga ibunya saja.49
Dan disebut juga anak diluar perkawinan, hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya (pasal 42 BW)
Di dalam hukum perdata sistem yang berbeda masalah anak mempunyai
bapak, melainkan juga tidak mempunyai ibu dalam arti, bahwa antara seorang
anak dengan seorang wanita yang melahirkannya itu, tidak ada hubungan hukum
sama sekali, seperti mengenai pemberian nafkah, warisan dan lain-lain.
Pengakuan anak yang tidak sah ini juga di kemungkinan dilakukan
seorang pria, yang menyebabkan lahirnya anak itu. Cara pengakuan oleh si bapak
hanya mungkin, apabila ibunya menyetujuinya (pasal 284 BW).
Dengan pengakuan sebagai anak ini, tanpa diikuti dengan suatu
perkawinan antara bapak dan ibu hanyalah ada anak yang diakui, anak ini
belumlah dinamakan anak sah.
Cara untuk mengetahui bahwa sebelum perkawinan tersebut anak itu harus
diakui sebagai anak oleh ibunya dan bapaknya. Pengakuan anak itu tidak ada dan
pernikahan bapak dan ibu telah berlangsung tanpa mengakui anak pada waktu
pernikahan itu (akte pernikahan) atau sebelumnya pasal 274 BW.50
Anak yang lahir diluar perkawinan, dinamakan "natuurlijkkind" ia dapat
diakui tidak diakui oleh ayah atau ibunya.Menurut sistem yang dianut oleh

49

Hilman Hadi Kusuma.,Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan Hukum


Islam,Adat Dan Perdata,(Bandung,C.V Mandar Maju,1990) h.133
50

Abdul Kadir Muhammad.S.H,Hukum Perdata Indonesia (Bandung, PT. Citra


Aditya,1990). H. 132

B.W.dengan adanya keturunan di luar perkawinan saja belum terjadi suatu


hubungan keluarga antara anak dengan orang tuanya. Barulah dengan
"pengakuan" (erkenning) lahir suatu pertalian kekeluargaan dengan akibatakibatnya (terutama hak mewaris) antara anak dengan orang tua yang
mengakuinya. Tetapi suatu hubungan kekeluargaan antara anak dengan keluarga
si ayah atau ibu yang mengakuinya belum juga anak. Hubungan itu hanya dapat
diletakkan dengan "pengesahan"anak (wettiging), yang merupakan suatu langkah
lebih lanjut lagi dari pada pengakuan. Untuk pengesahan ini, diperlukan kedua
orang tua, yang telah mengakui anaknya, kawin secara sah. Pengakuan yang
dilakukan pada hari pernikahan juga membawa pengesahan anak. Jikalau kedua
orang tua yang telah kawin belum melakukan pengakuan terhadap anaknya yang
lahir sebelum pernikahan, pengesahan anak itu hanya dapat dilakukan dengan
"surat-urat pengesahan" (brieven van wettiging) oleh kepala negara. Dalam hal ini
presiden harus meminta pertimbangan Mahkamah Agung. Pengakuan anak tidak
dapat dilakukan secara diam-diam, tetapi harus dilakukan dimuka Pegawai
Pencatatan Sipil, atau dalam akte perkawinan orang tuanya (yang berakibat
pengesahan) atau dalam suatu akte tersendiri dari Pegawai Pencatatan Sipil,
bahkan dibolehkan juga dalam akte notaris.51
Perbuatan zina ("overspel") atau yang dilahirkan dari hubungan antara dua
orang yang dilarang kawin satu sama lain. Dengan demikian anak yang lahir
diluar perkawinan itu hanya dapat

mewarisi harta benda yang ditinggalkan

ibunya dan keluarga ibunya, namun tidak dapat mewarisi harta benda yang
ditinggalkan ayahnya dan keluarga ayahnya. Dengan kata lain anak yang lahir di

51

Subekti,.Pokok Pokok Hukum Perdata (Jakarta,P.T Intermasa ,1985) cet.XX..h. 50

luar perkawinan tersebut hanyalah menjadi ahli waris ibunya dan keluarga
ibunya.tetapi tidak menjadi ahli waris ayahnya dan keluarga ayahnya.
Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan isterinya,
bila mana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berbuat zina dan anak itu
akibat dari pada perzinaan tersebut. Pengadilan memberikan keputusan tentang
sah

tidaknya anak yang disangkal itu atas permintaan yang berkepentingan

dengan lebih dahulu mewajibkan yang berkepentingan mengucapkan sumpah


(pasal 44).
Selanjutnya mengenai asal usul 'anak pasal 55 Undang-undang
Perkawinan menentukan :
(1) Asal usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akte kelahiran yang
autentik, yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang.
(2) Bila akte kelahiran tersebut dalam ayat (1) pasal ini tidak ada, maka
Pengadilan dapat mengeluarkan penetapan tentang asal usul seorang anak
setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang
memenuhi syarat.
(3) Atas dasar ketentuan Pengadilan tersebut ayat (2) pasal ini, maka instansi
pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum pengadilan yang
bersangkutan mengeluarkan akte kelahiran bagi anak yang bersangkutan.52

52

Riduan Syahrani,Seluk Beluk Dan Asas-asas Hukum Perdata.(Bandung,Alumni.1992)

cet,III. h. 101

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan yang dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat
ditarik kesimpulan akhir sebagai berikut :
1. Zina menurut hukum Islam, setiap persetubuhan yang dilakukan antara
pria dan wanita di luar nikah, atau persetubuhan yang dilakukan tidak
dengan nikah yang sah. Sedangkan menurut hukum positif persetubuhan
yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan
perempuan atau laki-laki yang bukan isteri atau suaminya atas dasar suka
sama suka.
2. Wanita hamil karena zina boleh dinikahi oleh orang yang menghamilinya
maupun oleh orang lain yang bukan menghamilinya, karena tidak ada
laranganyang nyata dari Al-quran maupun Hadist. Dan status hukum akad
nikah sah selama memenuhi rukun dan syarat-syarat nikah yang yang telah
ditetapkan oleh hokum Islam, di samping itu juga terdapat unsur
kemaslahatan dalam kebolehan menikahinya, diantaranya dapat membaca
jalan kea rah kehidupan yang lebih baik bagi wanita tersebut. Sedangkan
menurut hukum positif bahwa menikahi wanita hamil di luar nikah itu
dibolehkan, kalau sudah cukup syaratnya.
3. Menurut hukum Islam, anak yang lahir di luar nikah (anak zina) itu suci
dari segala dosa, tidak bersalah dan tidak bernoda, sebab keseluruhan
kesalahan yang berlaku adalah dari dua manusia yang melakukan

kesalahan itu. Status anak ini tidak dapat dikatakan secara hukum Islam
mempunyai ibu bapak, sebab tidak mempunyai dasar yang sah semenjak
mulanya. Seuatu yang berdasarkan kepada yang bathil maka bathil pulalah
hukumnya. Sedangkan menurut hukum positif anak yang lahir di luar
nikah, yang berstatus tidak sah, ia bisa menjadi sah apabila ia diakui oleh
ibunya, dan mendapatkan warisan sebagaimana anak yang lain.
B. Saran-saran
Dari kesimpulan itu penulis mengemukakan beberapa saran :
1. Untuk mencegah merebaknya praktek perzinahan dimasyarakat, perlulah
kiranya dilakukan terobosan-terobosan baru dengan mempewrtimbangkan
hukum pidana islam yang mampu memberikan sanksi terhadap para
pezina.
2. Kepada seluruh eleman masyarakat agar berperan untuk mempersempit
peluang-peluang terjadinya perzinahan.
3. Penulis menghimbau kepada muda-mudi agar berhati-hati dalam
pergaulan terhadap lawan jenis karena dorongan hawa nafsu, seringkali
menjerumuskan manusia ke lembah dan penyimpangan terhadap normanorma agama

DAFTAR PUATAKA

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam, Jakarta : Akademik Presindo, 1992


Ahmad, Idris., Fiqh SyafiI, Jakarta : Wijaya, 1969
Al-Bajuri, Hasyiyah AL-Syaikh Ibrahim Al-Bajuri., T.tp : Maktabah wa
mathbaah Sulaiman Maroi, T.th
Al-Barry, Zakaria Ahmad., Hukum Anak-anak dalam Islam, Jakarta : Bulan
Bintang, 1990
Ali, Mohammad Daud, Hukum Islam dan Peradilan Agama ; Kumpulan Tulisan,
Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada., 2002
Al-Munawir, Ahmad Warsom, Kamus Arab Indonesia Al-Munawir, Yogyakarta :
T.tp, 1984
As-Sairazi, Imam Abi Ishaq, Al-Muhazzab, Beirut : Dar al-Fikr
As-Sayyid Imam Muh. Ibn Ismail al-Khalany, Bulughul Maram, Bandung :
Dahlan, T.th
Audah, Abdul Qodir, at-Tasyrial al-JanaI al-Islami Muqoronan bi al-Qonun alWadhi, Beirut : Muassasah Ar-Risalah, 1415 H/1994 M
Darul Haq, Tim., Jangan Dekati Zina, Jakarta : Darul Haq, 2002
Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993
Djamal, R. Abdul, Hukum Islam Berdasarkan Ketentuan Kurikulum Konsersium
Ilmu Hukum, Bandung : Penerbit CV.Mandar Maju., 1997
Fachruddin, Fuad Mohd., Masalah Anak dalam Hukum Islam; Anak Kandung,
Anak Tiri, Anak Angkat dan Anak Zina, Jakarta : CV.Pedoman Ilmu Jaya.,
1991
Ghofar, Ashari Abdul., Pandangan Islam Zina dan Perkawinan sesudah Hamil,
Jakarta : Citra Harta Prima, 1995
Hazairin, Tinjauan Mengenai Undang-Undang Perkawinan No.1/1974, Jakarta :
Tinta Mas, 1996
Ibn Abidin., Radd AL-Mukhtar ala Al-Daar Al-Mukhtar ; Hasyiyah Ibn Abidin,
Beirut : Daar Ihya Al-Turats Al-Arabi, 1987
Jalaluddin, Al-Suyuti, Al-Jami, Al-Shaghir, Kairo : Musthafa Al-Babi Al-Halabi,
1954
Jones, Derek Liewenllyn., Setiap Wanita, Jakarta : Delapratasa, 1997

Kusama, Hilman Hadi., Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan


Hukum Islam, Adat dan Perdata, Bandung : CV. Mandar Maju, 1990
Kuzair, Ahmad, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada,
1996
Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan,
Problematika Hukum Islam
Kontemporer I, Jakarta : PT. Pustaka Firdaus, 1996
Mandzur, Ibnu., Lisan Al-Arobi, Beirut : Dar Shadir, 1994
Mughniyah, M.Jawad., Fiqh Lima Mazhab, Jakarta : Lentera, 2000
Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Perdata Indonesia, Bandung : PT. Citra
Aditya, 1990
Rahman, Fathur., Ilmu Waris, Bandung : PT.Al-Maarif, 1996
Ramulyo, Idris, Beberapa Masalah Tentang Hukum Acara Peradilan Agama dan
Hukum Perkawinan Islam, Jakarta : Ind.Hill Co, 1984/1985
R.Soesilo., Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentarkomentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Bogor : Politeria, 1983
Rusyd, Ibnu., Bidayatul Mujtahid, Mekkah Riyadh : Daar al-Fikr, 1995
Sabik, Sayid., Fiqh as-Sunnah, Beirut : Daar al-Fikr, 1977
Salim HS dan RM. Sudikno Merto Kusumo, Pengantar Hukum Perdata Tertulis,
Jakarta : Sinar Grafika, T.th
Soimin, Soedharyo., Hukum Orang dan Keluarga ; Perspektif Hukum Perdata,
Hukum Islam dan Hukum Adat, Jakarta : Sinar Grafika, 2002
Subekti., Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta : PT.Intermasa, 1994
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, Jakarta : Rineka Cipta, 1991
Syahrani, Riduan., Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Bandung :
Alumni, 1992
Syamsu, Nazwar., Al-quran Tentang Manusia dan Masyarakat, Jakarta : Ghalia
Indonesia, 1993
Tamiyah, Ibnu., Hukum Perkawinan, Jakarta : Pustaka al-Kausar, 1997
Taqiyuddin, Imam., Kifayatul Akhyar, Surabaya : al-Maktabah al-Tikofiyah, 1986
Thalib, Sayuti., Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta : UI Press, T.th

Umar, M.Ali Hasan, Kejahatan Sex dan Kehamilan di Luar Nikah dalam
Pandangan Islam, Semarang : CV.Panca Agung, 1990
Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta : PT.Hidakarya
Agung, 1996
Zahroh, Moh., Al-Ahwalu Asy-Syahsiyah, Kairo : Dar al-Fikr, 1957