You are on page 1of 3

By

Nurul Ilmi Salsabila


DIII Akuntansi 2AC
dibimbing oleh: Bpk. Toton Hartanto, S.E., M.Si., M.Ak., Ak., CA.

Extensible Business
Reporting Language
(XBRL)

Exstensible business reporting language atau XBRL ternyata adalah bahasa


program yang serupa tapi tak sama (berkeluarga) dengan extended markup language
atau XML. Ini merupakan bahasa program yang ditujukan sebagai format yang dijadikan
standar untuk informasi bisnis bagi perusahaan perusahaan yang secara umum maupun
khusus terjun dalam bisnis efek atau saham.
Latar belakang munculnya XBRL adalah karena kebutuhan terhadap implementasi
dari laporan keuangan dan informasi perusahaan yang harusnya tersedia secara rapi dan
comparable di pasar saham Indonesia sangat diperlukan. Mengingat bahwa sebelum
adanya bahasa program ini, laporan keuangan dari perusahaan perusahaan tidak dalam
format yang sama sehingga menyulitkan para investor untuk membandingkan dan
kemudian menanamkan modalnya. Serta alasan utama lainnya adalah karena regulator
atau dalam hal ini juga salah satunya pemerintah, sulit melakukan pengawasan yang
efektif dan efisien serta menyeluruh, maka XBRL ini di desain sedemikian rupa untuk
memenuhi tujuan peningkatan pengawasan tersebut.
Sistem pengawasan yang selama ini digunakan dianggap belum mampu
memberikan hasil yang optimal, karena beberapa hal seperti, (1) belum merupakan sistem
yang terotomatisasi, sehingga masih memerlukan input data secara manual dan
berpotensi terjadi kesalahan (time consuming and error prone); (2) belum menetapkan
format yang terstandar (PDF, Excel, atau Word); (3) belum menyediakan alat validasi
secara otomatis, sehingga menurunkan kualitas informasi; (4) belum menyediakan alat
untuk melakukan analisis laporan (analysis tools); sehingga pengguna sulit mendapatkan
informasi yang akurat, terpercaya, dan relevan bagi kepentingan analisis dan
pertimbangan mereka.
XBRL pada dasarnya merupakan upaya untuk menambah suatu deskripsi
terstandar pada informasi bisnis dan keuangan, juga pada laporan keuangan dimana
menerapkan konsep metadata (data about data) dan kemampuan system pelaporannya
dilakukan secara elektronik sehingga bisa di-update secara otomatis. Validasi juga
dilakukan secara otomatis sehingga meminimkan kesalahan input.
Untuk mempermudah pemahaman, XBRL dapat disamakan dengan pemberian
barcode pada informasi atau data sehingga akan mempermudah user dalam membaca
laporan, mengelompokkan informasi, dan menganalisanya secara cepat karena
informasinya yang sangat bisa dibandingkan dengan standar pelaporan yang sama atau
comparable.
XBRL juga mempunyai keunggulan yaitu dapat diolah kembali menjadi format PDF,
HTML, Excel, txt, maupun yang lainnya. XBRL juga meningkatkan kemudahan akses
informasi finansial, terutama bagi investor internasional, karena XBRL menerapkan suatu
standar identifikasi informasi. Investor luar negeri dimungkinkan melakukan
analisismereka secara mandiri serta melakukan perbandingan dengan bahasa mereka
sendiri sehingga juga berdampak pada pengambilan keputusan bisnis yang cepat bagi
investor.

Nurul Ilmi Salsabila d3 akuntansi 2AC|2015

XBRL dapat memperlihatkan bagaimana elemen elemen laporan dan informasi


keuangan saling berkaitan.
XBRL dengan prinsip full disclosure
Laporan keuangan akan memberikan informasi yang berguna dalam pengambilan
keputusan bagi pengguna laporan keuangan, khususnya bagi investor dan kreditor yang
memerlukan gambarana total perusahaan sebelum mereka memutuskan untuk mengambil
tindakan.
Perusahaan dalam hal ini baiknya menggunakan prinsip keterbukaan (full
disclosure) sebagai panduan untuk memahami apa informasi keuangan dan nonkeuangan harus dimasukkan dalam laporan keuangan mereka. Juga dalam XBRL,
laporan keuangan yang memang ditujukan khususnya untuk menarik investor untuk
menanamkan modal dalam perusahaan, maka informasi informasi tambahan sangat di
perlukan.
Informasi informasi tambahan ini baik diungkapkan dalam catatan kaki laporan
keuangan atau dalam sesi khusus informasi tambahan. Catatan kaki laporan keuangan
biasanya menjelaskan informasi yang disajikan dalam tubuh laporan keuangan. Jika ada
item dalam neraca yang tidak jelas atau kurang jelas, catatan digunakan untuk
memperjelasnya. Misalnya, penjelasan tentang ketentuan hukum, kontijensi, serta metode
akuntansi yang digunakan dalam pendataan persediaan, dan lain sebagainya.
Prinsip full disclosure ini memperhatikan pengungkapan informasi yang diperlukan,
bukan berarti semua informasi diungkapkan karena jika terlalu banyak informasi yang
tidak dibutuhkan, akan berdampak pada sulitnya menyaring informasi informasi penting
yan dibutuhkan pengguna sehingga pengambilan keputusan akan menjadi lamban dan
tidak efisien. Maka informasi dengan prinsip full disclosure adalah pengungkapan seluruh
informasi tambahan yang kiranya diperlukan oleh pengguna.
Informasi tambahan di sisi lain adalah informasi tambahan yang mungkin
perusahaan ingin tunjukkan letak potensinya kepada investor. Informasi ini biasanya
relevan dan terstandarisasi dalam format XBRL sehingga memudahkan comparabilitas.
Perusahaan dalam pengungkapannya tidak bias lalai dengan catatan mereka dan
mengungkapkan segala sesuatu

Nurul Ilmi Salsabila d3 akuntansi 2AC|2015