You are on page 1of 2

2.3.

2 Efek Samping Hemodialisis


Telah disebutkan diatas bahwa dengan hemodialisis tidak semua toksin dapat dikeluarkan
dari dalam tubuh, sehingga masih dapat menyebabkan kelainan sistem organ lain. Efek samping
hemodialisis yaitu:
a. Kelainan Hematologi
Anemia merupakan hal biasa ditemukan pada penderitagagal ginjal yang menjalani
hemodialisis (Lazarus, 1991).
b. Kelainan Tulang dan Paratiroid
Penderita hemodialisa kronis, problem tulang dan sendi merupakan sumber morbiditas
yang utama. Penyakit tulang disebabkan karena alumunium yang ada didalam dializat dan karena
gangguan metabolisme vitamin. Gangguan metabolisme vitamin D ini menyebabkan
meningkatnya hormon paratiroid. Tanda- tanda kelainan tulang antara lain, sakit pada tulang, dan
fraktur patologis (Niven 2002).
c. Kelainan Gastrointestinal
Banyak kelainan gastrointestinal di temukan pada penderita gagal ginjal kronik yang
mendapat terapi hemodialisa, yaitu gastritis, ulkus, perdarahan, obstruksi saluran cerna bagian
bawah dan lain-lain( Suhud, 2009).
d. Kelainan Kardiovaskuler
1. Hipertensi
Pada penderita hemodialisa kronis, hipertensi merupakan salah satu faktor penting dalam
menimbulkan aterosklerosis yang dipercepat, dan keadaan ini menyebabkan tingginya insiden
penyakit kardiovaskuler dan penyakit serebrovaskuler (Lazarus , 1980).
2. Permeabilitas Kapiler Pulmonalnya Meningkat
Pasien-pasien gagal ginjal berat baik akut maupun kronik akan menyebabkan
permebilitas kapiler pulmonal meningkat sehingga menjadi edema paru (Lazarus , 1980).
3. Kelebihan Cairan
Pasien gagal ginjal berat sering mengalami kelebihan cairan (fluid overload) sehingga
curah jantungnya meningkat, dan akan mengalami gagal jantung (Susalit E, 1987).
e. Kelainan Neorologis
Banyak hal yang menyebabkan gangguan sistem syaraf pusat penderita gagal ginjal
kronik yang mendapat hemodialisa yaitu ensefalitis metabolik, demensia dialisis karena
intoksikasi alumunium, disekuilibrium dialisis, penurunan intelektual progresif, ensefaalopati

hipertensi, arterosklerosis yang dapat menyebabkan cerebrovascular accident, perdarahan


subdural, dan lain-lain (Frasser, 1988).