You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.2 Tujuan Khusus
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.2 Manfaat Aplikatif
Bagi Mahasiswa :
Bagi Tenaga Medis :
Bagi Masyarakat :
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api,
air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat menyebabkan kerusakkan jaringan.
Cadera lain yang termasuk luka bakar adalah sambaran petir, sengatan listrik, sinar X dan
bahan korosif. Kerusakan kulit yang terjadi tergantung pada tinggi suhu dan lama kontak.
Suhu minimal untuk dapat menghasilkan luka bakar adalah sekitar 44 C dengan kontak
sekurang-kurangnya 5 6 jam. Suhu 65 C dengan kontak selama 2 detik sudah cukup
menghasilkan luka bakar. Kontak kulit dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan
suhu kulit pada kedalaman 1 mm dapat mencapai suhu 47 Celsius, air panas yang
mempunyai suhu 60 C yang kontak dengan kulit dalam waktu 10 detik akan menyebabkan
partial thickness skin loss dan diatas 70C akan menyebabkan full thickness skin loss.
Temperatur air yang digunakan untuk mandi adalah berkisar 36 C 42 C. Pelebaran kapiler
dibawah kulit mulai terjadi pada saat suhu mencapai 35 C selama 120 detik, vesikel terjadi
pada suhu 53 C 57 C selama kontak 30 120 detik.1,2,3

2.2 Klasifikasi
Luka bakar dapat diklasifikasi menurut dalamnya luka, luasnya luka, dalam dan luasnya luka,
serta penyebab luka.1

2.2.1

Berdasarkan dalamnya luka1,2,3,4

a) Menurut Dupuytren
Klasifikasi derajat luka bakar berbeda-beda untuk masing-masing negara oleh karena
ini sangat bergantung terhadap pengobatan yang digunakan oleh negara tersebut.
Klasifikasi lama yang diperkenalkan oleh Dupuytren adalah pembagian derajat luka
bakar dalam 6 derajat :
i. Luka bakar derajat 1
Luka akibat terkena panas dari api, benda panas dan cairan panas yang suhunya tidak
mencapai titik didih, atau akibat cairan kimia. Biasanya bentuk luka berupa
kemerahan dan proses penyembuhan terjadi tanpa meninggalkan parut. Waktu
penyembuhan antara beberapa jam sampai beberapa hari.
ii. Luka bakar derajat 2
Luka diakibatkan terkena benda panas atau cairan panas yang suhunya mencapai titik
didih atau lebih tinggi. Lapisan kulit superficial hanya sedikit yang rusak dan
penyembuhannya tanpa meninggalkan jaringan parut. Pada awalnya terdapat vesikel
yang kemudian akan terasa sakit dan warnanya menjadi hitam.
iii. Luka bakar derajat 3
Luka bakar ini adalah akibat cairan yang suhunya diatas titik didih. Pada keadaan ini
lapisan superficial kulit seluruhnya rusak sehingga pada penyembuhan akan
meninggalkan jaringan parut. Ujung persyarafan juga terbakar dan halini
mengakibatkan rasa nyeri yang hebat. Pada proses penyembuhan dapat terjadi
jaringan parut yang mengandung semua elemen kulit, sehingga tidak mengalami
kontraktur.
iv. Luka bakar derajat 4
Seluruh jaringan kulit mengalami kerusakan. Ujung syaraf juga ikut rusak, sehingga
pada luka bakar ini rasa nyeri tidak ada. Jaringan parut yang terbentuk akan
mengalami kontraksi dan deformitas. Luka terkelupas pada hari ke 5 atau ke 6 dan
penyembuhan akan berjalan lambat.
v. Luka bakar derajat 5

Pada keadaan ini kerusakan juga meliputi fasia otot dan hampir selalu mengalami
deformitas.
vi. Luka bakar derajat 6
Keadaan ini biasanya fatal, jika tidak meninggal maka biasanya mengakibatkan
kerusakan anggota badan.

b) Klasifikasi luka bakar oleh Wilson1,2,3,4


i. Luka bakar derajat satu
Terjadi eritema dan bula tanpa kehilangan epidermis. Disini kapiler mengalami
dilatasi dan terjadi transudasi cairan kedalam jaringan ikat, yang menyebabkan
edema. Secara umum bula diliputi oleh kulit yang berwarna keputihan diatasnya,
epidermis yang avaskuler dan dibatasi oleh zona yang berwarna hiperemi. Bila besar
bula kurang dari 1 cm maka blister ini akan diresorpsi, sebaliknya bila bula ini pecah
maka akan meninggalkan daerah dengan dasar yang berwarna kemerahan. Luka bakar
derajat satu ini akan sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut. Walaupun luka bakar
yang terjadi adalah derajat satu akan tetapi bila meliputi lebih dari sepertiga
permukaan tubuh terutama yang terletak pada daerah kepala, leher, badan, atau
dinding depan dari abdomen maka akan menyebabkan kefatalan.
ii. Luka bakar derajat dua
Terjadi destruksi dari seluruh ketebalan kulit. Epidermis dapat mengalami koagulasi,
pengerutan, berupa daerah yang dibatasi oleh zona yang berwarna kemerahan, dan
bula kulit. Dalam beberapa hari, biasanya dalam beberapa minggu jaringan yang
nekrosis akan mengelupas dan meninggalkan ulkus yang lambat menyembuh. Luka
bakar derajat dua sering memerlukan koreksi bedah plastik untuk mengatasi jaringan
parut yang terbetuk selama penyembuhan.
iii. Luka bakar derajat tiga
Yang karakteristik dari luka bakar ini adalah destruksi yang luas tidak hanya pada
kulit dan subkutis tetapi juga pada otot dan tulang.destruksi pada ujung-ujung syaraf
juga dapat terjadi yang mengakibatkan kehilangan rasa nyeri yang relatif. Devitalisasi
jaringan pada area luka bakar menyebabkan mudah terkenanya infeksi dan

penyembuhan yang berjalan lambat. Bila eksposurenya berkepanjangan, maka kulit


dan jaringan ikat dibawah kulit akan terbakar dan menjadi arang. Sedangkan ekposure
yang luas dari tubuh setelah kematian oleh karena panas dan asap menyebabkan
seluruh tubuhh menjadi arang dengan otot-otot dan organ- organ dalam yang
terpanggang, dan akhirnya menghanguskan bagian-bagian tubuh terutama
ekstremitas, genetalia dan telinga.
c) Menurut derajat lainnya1,2,3,4
i.

Luka bakar derajat 1 (luka bakar superficial)


Luka bakar hanya terbatas pada lapipsan epidermis. Luka bakar derajat ini
ditandai dengan kemerahan yang biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut
dalam waktu 5 7 hari.

ii.

Luka bakar derajat 2 (luka bakar dermis)


Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada element
epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan
folikel rambut. Dengan adanya sisa epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh
sendiri dalam 10 21 hari. Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung syaraf di
dermis, luka derajat ini tampak lebih pucat dan lebih nyeri dibandingkan luka
bakar superficial, karena adanya iritasi ujung syaraf sensorik. Juga timbul bula
berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya
meninggi. Luka bakar derajat 2 dibedakan menjadi :
a. Derajat dua dangkal
Dimana kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis dan penyembuhan
terjadi secara spontan dalam 10- 14 hari.
b. Derajat dua dalam
Dimana kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. Bila kerusakan lebih
dalam mengenai dermis, subyektif dirasakan nyeri.penyembuhan terjadi lebih
lama tergantung bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi sel-sel
kulit ( epitel, stratum germinativum, kelenjar keringat, kelenjar sebasea dsb) yang
tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

iii.

Luka bakar derajat 3


Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis, atau
organ yang lebih dalam. Oleh karena tidak ada lagi elemen epitel yang hidup

maka untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Koagulasi


protein yang terjadi memeberikan gambaran luka bakar berwarna keputihan, tidak
ada bula dan tidak nyeri.
2.2.2 Berdasarkan Luas1,2
Penentuan luas luka bakar pada kulit adalah penting pada kasus kasus dimana
kematian terjadi lambat oleh karena luas dan derajad luka bakar sangat penting pengaruhnya
terhadap prognosis dan managemen pengobatannya. Untuk perhitunngan luas luka bakar
secara tradisional dihitung dengan menggunakan Rule of Nines dari Wallace. Dikatakan
bahwa luka bakar yang terjadi dapat diindikasikan sebagai presentasi dari total permukaan
yang terlibat oleh karena termal injury. Bila permukaan tubuh dihitung sebagai 100 %, maka
kepala adalah 9 %, tiap tiap ekstremitas bagian atas adalah 9 %, dada bagian depan adalah
18 %, bagian belakang adalah 18 5, tiap-tiap ekstremitas bagian bawah adalah 18 % dan leher
1 %. Lihat gambar Rumus tersebut tidak dapat digunakan pada anak dan bayi karena relatif
luas permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil.
Oleh karena itu, digunakan Rule of ten`untuk bayi dan Rule of 10-15-20 dari Lund and
Browder untuk anak. Dasar presentasi yang digunakan dalam rumus tersebut adalah luas
telapak tangan dianggap seluas 1 %.
Derajat dan luas luka bakar tergantung pada banyak faktor seperti jarak korban
dengan api, lamanya paparan ,bahkan pakaian yang digunakan korban pada waktu terjadinya
kebakaran. Komposisi pakaian dapat menentukan derajat keparahan dan luasnya luka bakar.
Kain katun murni akan mentransmisi lebih banyak energi termal ke kulit dibandingkan
dengan bahan katun polyester. Bahan katun terbakar lebih cepat dan dapat menghasilkan luka
bakar yang besar dan dalam. Bila bahan yang dipakai kandungan poliesternya lebih banyak
akan menyebabkan luka bakar yang relatif ringan atau kurang berat. Bahan rajutan akan
menghasilkan daerah luka bakar yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan
pintalan. Sehingga dapat dikatakan bahwa bila bahan yang dipakai bertambah berat maka
daerah yang terbakar akan berkurang. Selain itu derajad luka bakar akan berkurang bila
pakaian yang dipakai korban ketat dan mengelilingi tubuh.

Gambar 1 : Rule of nines


2.2.3 Berdasarkan dalam, luas dan lokasi luka bakar1,2
Keparahan luka bakar seharusnya dilihat dari berbagai aspek. Paling tidak ada 3 unsur
penting yaitu luas, derajat luka (Wilson) dan lokasi luka. Penilaian dapat dicontohkan sebagai
berikut :
a. Ringan
i.

Luka bakar tingkat I meliputi <10% luas permukaan tubuh.

ii.

Luka bakar tingkat II meliputi <5% luas permukaan tubuh.

iii.

Luka bakar tingkat III meliputi hanya 2% dari luas permukaan tubuh.

b. Sedang
i.

Luka bakar tingkat I meliputi 15-30% luas permukaan tubuh.

ii.

Luka bakar tingkat II meliputi 10-15% luas permukaan tubuh.

iii.

Luka bakar tingkat III 5-10% mengenai wajah, tangan atau kaki.

c. Berat
i.

Luka

bakar

tingkat

meliputi

wajah,

tangan,

kaki

dan

daerah

perineum/kelamin.
ii.

Luka bakar tingkat II meliputi >30% luas permukaan tubuh.

iii.

Luka bakar tingkat III meliputi 20%, mengenai saluran nafas, luka bakar
dengan kompikasi fraktur.

2.2.4 Berdasarkan penyebabnya.5,6


Berdasarkan penyebabnya, luka bakar dapat dibagi dalam enam kategori, yaitu :
a) Flame Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan api:
-Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api
-Bentuk lain dari flame burns adalah flash burns
>Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas, atau berupa partikel- partikel
halus suatu benda panas
>Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh daerah kulit yang
terkena, termasuk rambut
b) Contact Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang panas, misalnya besi
panas, setrika, dan lainnya. Jenis luka bakar ini, dapat memberikan gambaran
mengenai bentuk benda panas yang menyebabkan luka bakar tersebut
c) Radiant Burns
Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas;
-Tidak selalu diperlukan kontak langsung dengan benda yang menghasilkan
gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar
-Dapat menimbulkan lepuh dan eritema
-Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu lama dapat meimbulkan karbonisasi
d) Luka terbakar terjadi bila kulit berhubungan dengan cairan panas ( biasanya air ).
-Air pada 158F ( 70C ) akan menghasilkan suatu luka derajat tiga pada kulit orang
dewasa, kira-kira dalam satu detik dari kontak ; pada 131F ( 55C ), hampir 25 detik
dibutuhkan untuk menghsilkan luka bakar yangsama.
-Pemanas air hampir seluruh rumah di Amerika berasal dari pengaturan pabrik kirakira 130-140F, meskipun begitu, unit terbaru sekarang disesuaikan menjadi sekitar
120F.
e) Luka bakar karena microwave.
Microwave adalah gelombang elektromagnetik yang mana frekwensi berkisar antara
30-300.000 MHz dan panjang antara 1mm sampai 30 cm. Radiasi microwave adalah
non-ionisasi, oleh karena itu, efek biologi primernya adalah panas, yang mana
memproduksi melalui agitasi molecular dari molekul polar, seperti air. Pada system
biologi, oleh karena itu, jaringan dengan komposisi air yang lebih tinggi ( seperti

otot ) akan menjadi lebih panas daripada jaringan dengan komposisi air yang lebih
rendah ( seperti lemak ). Standar operasi untuk mikroawave di dapur adalah pada
2,450 MHz.
Hampir luka bakar karena microwave adalah karena ketidaksengajaan, berkaitan
dengan memasukkan tangan ke dalam microwane dengan tidak mematikan benarbenar terlebih dahulu, atau karena ingesti dari cairan panas yang dipanaskan ke dalam
microwave. Pada satu pelaporan, seorang pria yang menggunakan tambalan nitro
transdermal mengalami luka baker derajat dua di dekat tambalan itu, ketika dia duduk
di sebelah oven microwave yang bocor. Diperkirakan, plastic alumunium yang ada
pada tambalan tersebut merupakan factor yang menyebabkan kebakaran tersebut.
f) Luka bakar kimia
Produksi oleh agent kimia seperti asam kuat dan alkali, sama seperti agent lain seperti
fosfor dan fenol. Luka bakar menghasilkan perubahan yang lebih lambat daripada luka
bakar akibat agent panas.
Ekstensi luka tergantung dari bahan kimianya, kekuatan atau konsentrasi dari bahan
kimianya dan durasi kontak dengan bahan tersebut. Bahan alkali cenderung lebih
menjadi luka berat dibanding bahan asam dan yang dapat menyababkan luka bakar
umumnya memiliki pH > 11.5, sering menghasilkan luka yang cukup tebal, luka yang
timbulkan nyeri dan menusuk kulit dan licin. Bahan asam biasanya menghasilkan
hanya sebagian dari ketebalan luka, yang mana diikuti dengan eritema dan erosi yang
superficial saja.

2.3 Penilaian Terhadap Luka Bakar


Berat ringannya suatu luka bakar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu1,7,8 :
a. Luas luka
Pada luka bakar tingkat I yang meliputi 1/3 luas permukaan tubuh bisa menimbulkan
syok dan jika melebihi 50% bisa berakibat fatal.
b. Lokasi luka
Kepala, leher, badan, bagian depan abdomen lebih berbahaya dari pada tungkai.
Misalnya luka bakar tingkat III dari tungkai bisa menyebabkan gangguan fungsi tetapi
tidak sampai berakibat fatal.
c. Umur.
Pada anak-anak dan orang tua lebih berbahaya karena mudah terjadi syok.
d. Jenis kelamin.
Laki-laki lebih tahan dari wanita.
e. Derajat kepanasan.

Prognosa lebih jelek pada panas yang lebih tinggi.


f. Lamanya kontak.
Bila kontak lebih lama, maka prognosanya lebih jelek.
2.4 Penyebab Kematian Akibat Luka Bakar (Manner of Death)
a. Keracunan Zat Karbon Monoksida
Kebanyakan kematian pada luka bakar biasanya terjadi pada kebakaran yang
hebat yang terjadi pada gedung-gedung atau rumah-rumah bila dibandingkan dengan
kebakaran yang terjadi pada kecelakaan pesawat terbang atau mobil. Pada kasuskasus kebakaran yang terjadi secara bertahap maka keracuanan CO dan smoke
inhalation lebih sering bertanggung jawab dalam penyebab kematian korban
dibanding dengan luka bakar itu sendiri. Keracunan CO merupakan aspek yang
penting dari penyebab kematian pada luka bakar, biasanya korban menjadi tidak sadar
dan meninggal sebelum api membakarnya, ini dapat menjawab pertanyaan mengapa
korban tidak melarikan diri pada waktu terjadi kebakaran. Sehingga dalam
menentukan penyebab dari kematian, maka luas dan derajat luka bakar serta saturasi
darah yang mengandung CO harus dinilai secara hati hati. Gas CO ini dibentuk dari
pembakaran yang tidak sempurna misalnya kayu yang terbakar, kertas, kain katun,
batu bara yang terbakar akan menghasilkan gas CO.7,8
CO dalam darah merupakan indikator yang paling berharga yang dapat
menunjukkan bahwa korban masih hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh karena
gas ini hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru. Pada perokok dapat
dijumpai saturasi CO dalam darah hanya lebih dari 5%, dan ini dapat menunjukan
bahwa korban masih bernafas pada waktu terjadinya kabakaran, demikian juga pada
korban atherosclerosis coroner yang berat dapat meninggal dengan kadar COHB yang
lebih rendah dari pada individu yang sehat. Bila CO merupakan penyebab mati yang
utama maka saturasi dalam darah paling sedikitnya dibutuhkan 40% COHB, kecuali
pada orang tua, anak-anak dan debilitas dimana pernah dilaporkan mati dengan kadar
25 %. Sebenarnya kadar COHB pada korban yang sekarat selama kebakaran, sering
tidak cukup tinggi untuk menyebabkan kematian. Banyak kasus-kasus fatal
menunjukan 50- 60 % saturasi, walaupun kadarnya secara umum kurang dari kadar
yang terdapat dalam darah pada keracunan CO murni, seperti pembunuhan dengan
gas mobil atau industrial exposure, dimana konsentrasinya dapat mencapai 80 %.
Selain itu adanya gas-gas toksik dan pengurangan oksigen dalam atmosfer dapat
menyebabkan kematian dengan kadar CO yang rendah.7,8
b. Menghirup asap pembakaran (Smoke Inhalation)

Pada banyak kasus kematian, dimana cedera panas pada badan tidak sesuai
dengan penyebab kematian maka dikatakan penyebab kematian adalah smoke
inhalation. Asap yang berasal dari kebakaran terutama alat-alat rumah tangga seperti
furniture, cat , kayu, pernis, karpet dan komponen-komponen yang secara struktural
terdiri polystyrene, polyurethane, polyvinyl dan material-material plastik lainnya
dikatakan merupakan gas yang sangat toksik bila dihisap dan potensial dalam
menyebabkan kematian.7,8
c. Trauma Mekanik
Kematian oleh karena trauma mekanik biasanya disebabkan karena runtuhnya
bangunan disekitar korban, atau merupakan bukti bahwa korban mencoba untuk
melarikan diri seperti memecahkan kaca jendela dengan tangan. Luka-luka ini harus
dicari pada waktu melakukan pemeriksaan luar jenasah untuk memastikan apakah
luka-luka tersebut signifikan dalam menyebabkan kematian. Trauma tumpul yang
mematikan tanpa keterangan antemortem sebaiknya harus dicurigai sebagai suatu
pembunuhan.7,8
d. Anoksia dan hipoksia
Kekurangan oksigen dengan akibat hipoksia dan anoksia sangat jarang sebagai
penyebab kematian. Bila oksigen masih cukup untuk menyalakan api maka masih
cukup untuk mempertahankan kehidupan. Sebagai contoh tikus dan lilin yang
diletakkan dalam tabung yang terbatas kadar oksigennya ternyata walaupun lilin
padam lebih dahulu tikus masih aktif berlari disekitarnya. Radikal bebeas dapat
diajukan sebagai salah satu kemungkinan dari penyebab kematian, oleh karena radikal
bebas ini dapat menyebabkan surfaktan menjadi inaktif, jadi mencegah pertukaran
oksigen dari alveoli masuk kedalam darah.7,8
e. Luka bakar itu sendiri
Secara umum dapat dikatakan bahwa luka bakar seluas 30 50 % dapat
menyebabkan kematian. Pada orang tua dapat meninggal dengan presentasi yang jauh
lebih rendah dari ini, sedangkan pada anak-anak biasanya lebih resisten. Selain oleh
derajat dan luas luka bakar prognosis juga dipengaruhi oleh lokasi daerah yang
terbakar, keadaan kesehatan korban pada waktu terbakar. Luka bakar pada daerah
perineum, ketiak, leher, dan tangan dikatakan sulit dalam perawatannya, oleh karena
mudah mengalami kontraktur.7,8
f. Paparan panas yang berlebih
Environmental hypertermia dapat menjadi sangat fatal dan bisa menyebabkan
kematian. Bila tubuh terpapar gas panas, air panas atau ledakan panas dapat
menyebabkan syok yang disertai kolaps kardiovaskuler yang mematikan.7,8

2.5 Penentuan Intravitalitas Luka Bakar


Pada korban yang masih hidup saat terbakar akan ditemukan adanya hal-hal antara
lain adanya tanda intravital pada luka bakar dan gelembung yang terbentuk, adanya jelaga
pada saluran pernafasan serta saturasi karbon monoksida diatas 10% dalam darah korban.
Pada korban keracunan karbon monoksida jika tubuh korban tidak terbakar
seluruhnya akan terbentuk lebam mayat berwarna cherry red. Pada tubuh manusia yang telah
mati bila dibakar tidak akan berwarna kemerahan oleh reaksi intravital. Tubuh mayat akan
tampak keras dan kekuningan. 1,9
a. Jelaga dalam saluran nafas
Pada kebakaran rumah atau gedung dimana rumah atau gedung beserta isi
perabotannya juga terbakar seperti bahan-bahan yang terbuat dari kayu, plastik akan
menghasilkan asap yang berwarna hitam dalam jumlah yang banyak. Akibat dari
inhalasi ini korban akan menghirup partikel karbon dalam asap yang berwarna hitam.
Sebagai tanda dari inhalasi aktif antemortem, maka partikel-partikel jelaga ini dapat
masuk kedalam saluran nafas melalui mulut yang terbuka, mewarnai lidah, dan faring,
glottis , vocal cord , trachea bahkan bronchiolus terminalis. Sehingga, secara histologi
ditemukan jelaga yang terletak pada bronchiolus terminalis merupakan bukti yang
absolut dari fungsi respirasi. Sering pula dijumpai adanya jelaga dalam mukosa
lambung, ini juga merupakan bukti bahwa korban masih hidup pada waktu terdapat
asap pada peristiwa kebakaran. Karbon ini biasanya bercampur dengan mukus yang
melekat pada trachea dan dinding bronkus oleh karena iritasi panas pada mukosa.
b. Saturasi COHB dalam darah
CO dalam darah merupakan indikator yang paling berharga yang dapat
menunjukkan bahwa korban masih hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh karena
gas ini hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru. Akan tetapi bila pada
darah korban tidak ditemukan adanya saturasi COHB maka tidak berarti korban mati
sebelum terjadi kebakaran. Pada nyala api yang terjadi secara cepat, terutama
kerosene dan benzene, maka level karbonmonoksida lebih rendah atau bahkan
negative dari pada kebakaran yang terjadi secara perlahan-lahan dengan akses oksigen
yang terbatas seperti pada kebakaran gedung. Satu lagi yang harus disadari bahwa
kadar saturasi CO dalam darah tergantung beberapa faktor termasuk konsentrasi CO
yang terinhalasi dari udara, lamanya eksposure, rata-rata dan kedalaman respiration
rate dan kandungan Hb dalam darah. Kondisi-kondisi ini akan mempengaruhi

peningkatan atau penurunan rata-rata absorbsi CO, sebagai contoh api yang menyala
dalam ruangan tertutup, akumulasi CO dalam udara akan cepat meningkat sampai
konsentrasi yang tinggi, sehingga diharapkan absorbsi CO dari korban akan
meningkat secara bermakna.
c. Reaksi jaringan
Tidak mudah untuk membedakan luka bakar yang akut yang terjadi
antemortem dan postmortem. Pemeriksaan mikroskopik luka bakar tidak banyak
menolong kecuali bila korban dapat bertahan hidup cukup lama sampai terjadi respon
respon radang. Kurangnya respon tidak merupakan indikasi bahwa luka bakar terjadi
postmortem. Pemeriksaan slide secara mikroskopis dari korban luka bakar derajat tiga
yang meninggal tiga hari kemudian tidak ditemukan reaksi radang, ini diperkirakan
oleh karena panas menyebabkan trombosis dari pembuluh darah pada lapisan dermis
sehinggga sel-sel radang tidak dapat mencapai area luka bakar dan tidak
menyebabkan reaksi radang. Blister juga bukan merupakan indikasi bahwa korban
masih hidup pada waktu terjadi kebakaran, oleh karena blister ini dapat terjadi secara
postmortem. Blister yang terjadi postmortem berwarna kuning pucat, kecuali pada
kulit yang hangus terbakar. Agak jarang dengan dasar merah atau areola yang
erythematous, walaupun ini bukan merupakan tanda pasti. Secara tradisionil banyak
penulis mengatakan bahwa untuk dapat membedakan blister yang terjadi antemortem
dengan blister yang terjadi postmortem adalah dengan menganalisa protein dan
chlorida dari cairan itu. Blister yang dibentuk pada antemortem dikatakan
mengandung lebih banyak protein dan chloride, tetapi inipun tidak merupakan angka
yang absolute.
d. Pendarahan subendokardial ventrikel kiri jantung
Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat terjadi oleh karena efek
panas. Akan tetapi perdarahan ini bukan sesuatu yang spesifik karena dapat
disebabkan oleh berbagai mekanisme kematian. Pada korban kebakaran perdarahan
ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif sedang berjalan ketika tereksposure oleh
panas tinggi yang tidak dapat ditolerasi oleh tubuh dan ini merupakan bukti bahwa
korban masih hidup saat terjadi kebakaran.
2.6 Keadaan Umum yang Ditemukan pada Mayat dengan Luka Bakar
Kebakaran hebat dapat terjadi dalam kasus apapun, misalnya di dalam gedung atau yang
terjadi pada kecelakaan mobil yang terbakar, sering terlihat bahwa keadaan tubuh korban

yang terbakar sering tidak mencerminkan kondisi saat matinya. Berikut keadaan umum yang
ditemukan pada mayat dengan luka bakar :
a. Skin split
Kontraksi dari jaringan ikat yang terbakar menyebabkan terbelahnya kulit dari
epidermis dan korium yang sering menyebabkan artefak yang menyerupai luka sayat
dan sering disalah artikan sebagai kekerasan tajam. 10 Artefak postmortem ini dapat
mudah dibedakan dengan kekerasan tajam antemortem oleh karena tidak adanya
perdarahan dan lokasinya yang bervariasi disembarang tempat. 11 Kadang-kadang
dapat terlihat pembuluh darah yang intak yang menyilang pada kulit yang terbelah.
b. Abdominal wall destruction
Kebakaran parsial dari dinding abdomen bagian depan akan menyebabkan
keluarnya sebagian dari jaringan usus melalui defek yang terjadi ini. 10 Biasanya ini
terjadi tanpa perdarahan, apakah perdarahan yang terletak diluar atau didalam
rongga abdomen.
c. Skull fractures
Bila kepala terpapar cukup lama dengan panas dapat menyebabkan
pembentukan uap didalam rongga kepala yang lama kelamaan akan mengakibatkan
kenaikan tekanan intrakranial yang dapat menyebabkan terpisahnya sutura-sutura
dari tulang tengkorak.10 Pada luka bakar yang hebat dan kepala sudah menjadi arang
atau hangus terbakar dapat terlihat artefak fraktur tulang tengkorak yang berupa
fraktur linear. Disini tidak penah diikuti oleh kontusio serebri, subdural atau
subarachnoid. 11
d. Pseudo epidural hemorrhage
Keadaan umum yang biasanya terdapat pada korban yang hangus terbakar dan
kepala yang sudah menjadi arang adalah pseudo epidural hemorrhage atau epidural
hematom postmortem. Untuk membedakan dengan epidural hematom antemortem
tidak sulit oleh karena pseudo epidural hematom biasanya berwarna coklat,
mempunyai bentukan seperti honey comb appearance, rapuh tipis dan secara tipikal
terletak pada daerah frontal, parietal, temporal dan beberapa kasus dapat meluas
sampai ke oksipital.10
e. Non-cranial fractures
Artefak berupa fraktur pada tulang-tulang ekstremitas juga sering ditemukan
pada korban yang mengalami karbonisasi oleh karena tereksposure terlalu lama
dengan api dan asap.10 Tulangtulang yang terbakar mempunyai warna abu-abu
keputihan dan sering menunjukan fraktur kortikal pada permukaannya. 10 Tulang ini
biasanya hancur bila dipegang sehingga memudahkan trauma postmortem pada
waktu transportasi ke kamar mayatatau selama usaha memadamkan api. Mayat

sering dibawa tanpa tangan dan kaki, dan mereka sudah tidak dikenali lagi di TKP
karena sudah mengalami fragmentasi. 11
f. Pugilistic Posture
Pada mayat yang hangus terbakar, tubuh akan mengambil posisi pugilistic.
Koagulasi dari otot-otot oleh karena panas akan menyebabkan kontraksi serabut otot
otot fleksor dan mengakibatkan ekstremitas atas mengambil sikap seperti posisi
seorang boxer dengan tangan terangkat didepannya, paha dan lutut yang juga fleksi
sebagian atau seluruhnya.10 Posisi pugilistic ini tidak berhubungan apakah individu
itu terbakar pada waktu hidup atau sesudah kematian. pugilistic attitude atau heat
rigor ini akan hilang bersama dengan timbulnya pembusukan.11
2.7 Aspek Medikolegal
Dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) dikenal luka kelalaian atau
karena yang disengaja. Luka yang terjadi ini disebut kejahatan terhadap tubuh atau
misdrijven tegen het lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini diperinci menjadi dua yaitu
kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja) dan kejahatan culpose (yang
dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).12
Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam bab XX, pasal 351
sampai dengan pasal 358, yaitu:

Pasal 351 :
1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan

pidana penjara paling lama lima tahun.


3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana
Pasal 352 :
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan pasal 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan
atau pencaharian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara
paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
2. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu

terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.


3. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 353 :

1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara


paling lama empat tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
3. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana

penjara paling lama sembilan tahun


Pasal 354 :
1. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan
penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana

penjara paling lama sepuluh tahun.


Pasal 355 :
1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 356 :
Pidana yang ditentukan dalam pasal 351, pasal 353, pasal 354 dan pasal 355 dapat
ditambah dengan sepertiga:
1. bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya, bapaknya yang sah, istrinya
atau anaknya;
2. jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang pejabat ketika atau karena
menjalankan tugasnya yang sah;
3. jika kejahatan itu dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi
nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum.

Pasal 357 :
Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan berdasarkan pasal 353 dan pasal
355, dapat dijatuhkan pencabutan hak berdasarkan pasal 35 No. 1-4.
Pasal 358 :
Mereka yang sengaja turut serta dalam penyerangan atau perkelahian dimana terlibat
beberapa orang, selain tanggung jawab masing-masing terhadap apa yang khusus
dilakukan olehnya, diancam:
1. dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan, jika akibat
penyerangan atau perkelahian itu ada yang luka-luka berat;
2. dengan pidana penjara paling lama empat tahun, jika akibatnya ada yang mati.

Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasal 359, pasal 360 dan
pasal 361 KUHP.

Pasal 359 :
Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang mati, dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-

lamanya satu tahun.


Pasal 360 :
1. Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum penjara
selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun.
2. Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa
sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan
atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau

hukuman denda setinggi-tingginya tiga ratus rupiah.


Pasal 361 :
Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu
jabatan atau pencaharian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah
dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan
dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.
Dalam pasal-pasal tersebut dijumpai kata-kata mati, menjadi sakit sementara atau

tidak dapat menjalankan pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung oleh
terdakwa, akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan
amat kurang perhatian.
Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan ini dilakukan
dalam suatu jabatan atau pekerjaan. Pasal ini dapat dikenakan pada dokter, bidan, apoteker,
supir, masinis kereta api dan lain-lain.
Dalam pasal-pasal tersebut tercantum istilah penganiayaan dan merampas dengan
sengaja jiwa orang lain, suatu istilah hukum semata-mata dan tidak dikenal dalam istilah
medis.13
Dikatakan luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP, adalah penyakit atau luka yang
tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan
bahaya maut, terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan tidak lagi
memakai salah satu panca indera, lumpuh, berubah pikiran (akal) lebih dari empat minggu
lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu.14

Disinilah dokter berperan besar sekali sebagai saksi ahli didepan pengadilan. Hakim akan
mendengarkan keterangan spesialis kedokteran forensik maupun ahli lainnya (setiap dokter)
dalam tiap kejadian secara kasus demi kasus.

BAB III
KESIMPULAN
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Dr. Amri Amir. Ilmu Kedokteran Forensik. Dalam: Luka Bakar. Ed.2. Medan:
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2005. 104 116.
2. Guy N.Rotty. Essentials of Autopsy Practice : Burn Injury. First Edition. United
Kingdom. Springer. 2006. 215 221.
3. Joseph Prahlow. Forensic Pathology : Burn and Fire-Related Deaths. USA.
Springer.2010. 481 488.
4. Andrew C. Peiwsten, Timothy C. Fabian. Trauma Manual : Burns/Inhalation. USA.
Lippincots Williams & Wilkins. 2002. 434 439.
5. W.D.S. McLay. Clinical Forensic Medicine : Burn Injury. United Kingdom.
Cambridge. 2009. 236 239.
6. Riley P T. Burn Injury. (Diakses tanggal 20 Agustus 2015). Diunduh
dari:http://www.burnsurvivor.com/burn_types.html
7. Payne JJ, Jones R, Karch SB,Manlove J. Heat, cold and electrical trauma. Simpsons
Forensic Medicine 13rd edition. London, February 2011: 169-175.
8. DiMaio J. V and DiMaio D.Fire Death., Forensic Pathology 2nd edition, CRC Pres,
page: 67 383.
9. Vij K. Textbook of Forensic Medicine and Toxicology: Principles and

Practices. New Delhi: Elsevier; 2008.


10. Idris, A.M. 1997. Luka Bakar dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi
pertama,Jakarta: PT Binarupa Aksara.

11. DiMaio J, DiMaio D. 2001. Fire Deaths. In: DiMaio J, DiMaio D (eds). Forensic
Pathology. 2nd ed. New York: CRC press LLC; p. 1-21.
12. Kartanegara, Satochid, Kumpulan Kuliah Hukum Pidana, Bagian dua, Balai lektur
mahasiswa, Jakarta, 1976. 504-609.
13. Satyo, Alfred C. Kumpulan Peraturan Perundang-undangan dan Profesi Dokter, Edisi
II (revisi), Cetakan kedua, UPT penerbitan dan Percetakan Universitas Sumatera
Utara, medan, 2004. 21-34.
14. Soesilo R, Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Politea, Bogor, 1983. 90.