You are on page 1of 11

Abu Bakar As Sidiq adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rosullullah.

Beliau adalah salah satu dari empat Khulafaurrasyidin atau kalifah pertama pengganti
Nabi Muhammad SAW. Beliau juga termasuk dalam Assabiqunal Awwalun yaitu
orang yang pertama kali masuk Islam.
Abu Bakar As Sidiq dilahirkan ditahun yang sama dengan Nabi yaitu antara 571/572
Masehi di Mekkah. Nama asli beliau adalah Abdullah ibni Abi Quhaafah. Abu Bakar
berarti ayah si gadis, yaitu ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya
yang sebenarnya adalah Abdul Kabah (artinya hamba Kabah), yang kemudian
diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya hamba Allah).
Sumber lain menyebutkan namanya adalah Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Quhafah
adalah kunya atau nama panggilan ayahnya). Gelar As-Sidiq (yang dipercaya)
diberikan Nabi Muhammad SAW sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar
ash-Shiddiq. Menurut sejarah, gelar As Sidiq ini diberikan oleh Nabi karena Abu
Bakar adalah sahabat pertama yang mempercayai dan mengimani peristiwa Isra
Miraj Nabi Muhammad.
Abu Bakar adalah seorang saudagar yang cuup sukses dan kaya raya. Beliau juga
seorang hakim agung yang sangat populer di masanya serta memiliki pendidikan dan
kedudukan yang tinggi di masyarakat. Keahlian Abu Bakar lainnya adalah bisa
menafsirkan mimpi. Ibaratnya adalah Abu Bakar itu seorang bangsawan dan
konglomerat.
Masuk Islam

Ketika Islam baru pertama kali disampaikan, banyak pemeluk Islam adalah berasal
dari orang yang tertindas , budak, kaum marjinal, serta anak-anak muda yang
menginginkan keadilan dimana Islam bakal memberi jawaban tentang itu. Namun
Abu Bakar dengan kedudukan dan pengaruh yang seperti itu dimasyarakat
memutuskan bergabung dengan barisan Islam adalah suatu magnet tersendiri bagi
Islam. Banyak yang akhirnya memeluk Islam bersama Abu Bakar.
Walau ia berasal dari golongan kuat, namun Abu Bakar juga mengalami hal yang tak
mengenakkan seperti pemeluk Islam awalan lainnya. Seperti intimidasi, dipaksa untuk
kembali ke jaran jahiliyah, pemboikotan dagang, fitnahan dan lain sebagainya. Walau

begitu, Abu Bakar tetap kuat dalam iman Islamnya bahkan beliau juga mengorbankan
seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Abu Bakar juga telah memerdekakan
banyak budak Islam yang disiksa oleh majikannya.
Abu Bakar adalah satu-satunya teman Nabi saat berhijrah ke Madinah pada 622
Masehi. Beliau bersama Nabi berdua menyisiri tandusnya gurun Arabia guna
berhijrah ke Madinah. Beliau juga melindungi Nabi saat berhijrah dan dikejar-kejar
oleh kafir Quraisy.
Khalifah Pertama

Ketika Rosullullah akan meninggal, Abu Bakar ditunjuk sebagai imam shalat. Hal ini
menjadi petunjuk bagi umat Islam bahwa sepeninggal Nabi, Abu Bakar-lah yang
menjadi khalifah menggntikan Nabi mengurus pemerintahan dan umat bukan
pengganti sebagai Rosul. Sempat terjadi perselisihan pada kaum Syiah yang tak mau
mengakui Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Menurut mereka Nabi pernah
menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya, namun Ali bin Abi Thalib sendiri
bersedia baiat atau mengakui Abu Bakar sebagai khalifah sehingga pertentangan bisa
diselesaikan dengan damai.
Setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Bakar segera melakukan tugasnya. Yang
pertama ialah memerangi Musailamah Al Kazab (si Nabi palsu) yang mengaku
menjadi Nabi setelah Rosul Muhammad.
Tugas selanjutnya adalah memaksa dan memerangi suku-suku yang tidak mau
membayar zakat. Menurut suku-suku itu, zakat adalah upeti kepada Nabi Muhammad
dan bila Nabi wafat maka tak ada kewajiban lagi membayarnya. Padahal zakat adalah
harta yang harus dibayarkan setiap muslim yang telah mencapai nishob dan diniatkan
untuk ridha Allah bukan upeti.
Setelah selesainya beragam pemberontakan dan masalah internal, barulah Abu Bakar
melakukan dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia seperti ke Bizantium dan Sasanid
serta Irak dan Suriah.
Wafatnya Abu Bakar

Abu Bakar As Sidiq menjadi khalifah dalam jangka waktu 2 tahun. Abu Bakar
meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah. Beliau dimakamkan di samping

makam Rasullullah Saw. Selanjutnya posisi khalifah digantikan oleh Umar bin
Khatab.

BIOGRAFI SITI KHADIJAH


05FEB
Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah alAsadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah.
Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia
menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya
yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah,
nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia
menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.
Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid,
menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya.
Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan
hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan
dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan
harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.
Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu
membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suamianya
meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan
berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin Aid bin Abdullah alMakhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal
dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.
Dengan demikian, saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya,
banyak pemuka dan bangsawan bangsa Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya
sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alas an bahwa perhatian Khadijah
saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah
merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan.
Siti Khadijah mempunyai saudara sepupu yang bernama Waraqah bin Naufal. Beliau termasuk salah satu
dari hanif di Mekkah. Ia adalah sanak keluarga Khadijah yang tertua. Ia mengutuk bangsa Arab yang
menyembah patung dan melakukan penyimpangan dari kepercayaan nenek moyang mereka (nabi
Ibrahim dan Ismail).

Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya Ratu Quraisy
dan Ratu Mekkah. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu yang bersih dan suci. Nama atThahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan,
dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga
ia menjadi terkenal di kalangan mereka.
Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga
dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan
menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.
Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam
bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya,
mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah
mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki
Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga
perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.
Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti
Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, Amr bin
Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah,
Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia
yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi
masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan,
melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.
Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti
Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki
dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib
meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum,
dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana,
lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.
Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslim, Siti Khadijah sakit keras akibat
beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin
memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 60 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci
yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid.
Siti Khadijah wafat dalam usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga
tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketia itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau
dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan
pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib)
telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Ali bin abi thalib


Imam Ali bin Abi Thalib adalah khalifah rasyid yang keempat setelah Utsman bin Affan. Beliau
adalah sepupu dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan setelah menikah
dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ali bin Abi
Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama.

Nasabnya
Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin
Kaab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Rasulullah memberinya
kun-yah Abu Turab. Ia adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab. Ali memiliki beberapa orang
saudara laki-laki yang lebih tua darinya, mereka adalah: Thalib, Aqil, dan Jafar. Dan dua orang
saudara perempuan; Ummu Hani dan Jumanah.
Ayahnya, Abu Thalib yang nama aslinya adalah Abdu Manaf. Abu Thalib adalah paman kandung
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sangat menyayangi Nabi, namun ia wafat dalam
agama jahiliyah.

Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali
dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam,
sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Usia Ali terhadap nabi Muhammad shallallahu alaihi
wa sallam masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada
yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu
Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara
kalangan Quraisy Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi
SAW memanggil dengan Ali yang berartiTinggi(derajat di sisi Allah).
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim,
sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu. Bersama istri
beliau Khadijah, nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallammengasuh Ali sejak kecil dan
menjadikannya putra angkat.

Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq
menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang
percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai
anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi
menantu Nabi.
Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)
atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang
sangat cerdas, berani dan bijak.

Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah


Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan
hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang
pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah
meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.

Pernikahan
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra.

Pertempuran yang diikuti pada masa nabi Muhammad


shallallahu alaihi wa sallam
Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi
Muhammad untuk menjaga kotaMadinah.
Perang Badar - Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam
sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disampingHamzah, paman Nabi. Banyaknya
Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau
menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Perang Khandaq - Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika
memerangi Amar bin Abdi Wud.
Perang Khaibar - Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum
Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah
perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut
dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw
bersabda: "Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri,
dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah
dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka, seluruh sahabat pun
berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang

mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar.

Setelah nabi Muhammad shallallahu alaihi wa


sallam wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat
mulai tampak ketika Muhammad shallallahu alaihi wa sallam wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada
wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat.
Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana
duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah yang pertama tentu tidak disetujui keluarga Nabi, Ahlul
Bait dan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai'at-an Ali bin Abi Thalib
terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi
dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu
Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi
mencegah perpecahan dalam ummat. Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk
menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan
bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan (khalifah ketiga)mengakibatkan
kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika
Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin
Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin
Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satusatunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang
berbeda-beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi
kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk
pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya,
Pertempuran Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin
Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyahbinti Abu Bakar, Istri Rasulullah. Perang
tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang
dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi)
oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para
pembangkang yang ada sejak zamanUtsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan
kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik
berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffin yang melemahkan
kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Wafat
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang,
mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan
pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin
Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij(pembangkang) saat mengimami salat
subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan napas terakhirnya
pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada
beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

Keturunan
Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra dan memiliki keseluruhan 36
orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah
Hasan dan Husain.
Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar
kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai
keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi'ah.
Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18
anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau
Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.

Zubair Bin Awwam adalah salah satu sahabat nabi. Zubair termasuk orang-orang yang masuk
Islam di masa-masa awal, karena ia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam, dan sebagai
perintis perjuangan di rumah Arqam. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Ia telah diberi petunjuk,
cahaya, dan kebaikan saat remaja.
Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah, beliau
mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang
keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di
surga.

Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullahyang
bernama Murrah bin Kaab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyutRasulullah yang
bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.

Sifai-sifat Zubair

Ia seorang yang berudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai
dua kuda yang digadaikan.

Ia seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan


untuk kepentingan Islam hingga saat mati mempunyai utang.

Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang


sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan
nyawanya untuk Islam.

Ia ahli menunggang kuda dan memiliki keberanian, sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah
menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah
pedang Zubair bin Awwam.

Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah
Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu
berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.
Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu
benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir
Quraisy atau ia sendiri yang gugur.
Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia
bertemu Rasulullah.Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan
menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya
selalu diberi kemenangan.

Mendapat siksaan dari pamannya sendiri


Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan Quraisy.
Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan dibungkus tikar lalu
diasapi hingga kesulitan bernapas. Saat sang paman memintanya untuk keluar dari keislamannya
namun ia menolsk dan tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.

Zubair dalam beberapa pertempuran


Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali, untuk mengikuti
semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang tidak ia ikuti.
Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan
kepahlawanannya.
Seusai Perang Uhud, dan pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan
Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka
menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk
menyerbu Madinah.
Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya
sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun
kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka
menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di
belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka
takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.
Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari
ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, Allaahu Akbar, lalu
menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.
Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya
dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi
nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.
Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir dari
nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada yang diberi
nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada yang diberi nama Jafar dari nama Jafar
bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin Umair. Ada yang diberi nama
Khalid dari nama Khalid bin Said. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama
para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.
Ia sangat percaya dengan kemampuannya di medan perang dan itulah kelebihannya. Meskipun
pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran.
Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang. Keteguhan hati di medan perang
dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya.
Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa
hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng
musuh yang kuat dan berkata, Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau,
akan kita buka benteng mereka. Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya,
ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu
benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.

Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan.
Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di
sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika
Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka seorang diri dan berhasil
mengobrak-abrik mereka.
Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas
perjuangan Zubair. Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.

Wafatnya Zubair
Sebelum meninggal, Zubair berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, Jika kamu
tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.
Sang anak bertanya, Siapa pelindung yang ayah maksud?
Zubair menajwab, Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Di kemudian hari, sang anak bercerita, Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya,
aku berkata, Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya. Maka Allah melunasi utangnya.
Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir.
Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit oleh
sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan
shalat, mereka menikam Zubair.
Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh
Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.
Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru,
Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair
tempatnya di neraka.
Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, Demi
Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.