You are on page 1of 6

UAS TAKE HOME

TEORI KOMUNIKASI MASSA


Agenda Setting Theory dalam Analisis dampak
Penggunaan Internet

DISUSUN OLEH :
CYNTHIA PUTRI AMELIA
0802513043
PR 13 A
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

Agenda Setting Theory dalam Analisis dampak Penggunaan Internet

BAB I
LATAR BELAKANG
Komunikasi massa adalah studi ilmiah mengenai media massa beserta berbagai aspek
yang melekatnya; seperti pesan yang dihasilkan; pembaca, pendengar, penonton, pengguna
(internet); jenis media, hubungan yang terjadi antara media dengan publiknya sampai kepada
efek yang ditimbulkan menjadi perhatian utama masyarakat. Bagaimana proses media massa
terjadi, bagaimana media massa membentuk perilaku masyarakat, bagaimana media massa
mendorong kemajuan masyarakat dengan sajian pesan (isi) yang terdistribusi dengan cepat
dan serentak, sampai dengan bagaimana media massa menjadi penyebab yang mengakibatkan
terjadinya kemerosotan moral pada masyarakat.
Di era teknologi yang semakin canggih, jumlah pengguna internet di Indonesia
berdasarkan data dari google.com/adplanner per Mei 2010 telah mencapai 38 juta orang.
Untuk di kawasan Asia, Indonesia masuk dalam besar pengguna internet terbanyak bersama
dengan Cina, Jepang, india, dan Korea Selatan. Tidak semua konten yang ada di internet
memiliki nilai positif dan konstrusif dalam membangun potensi individu, masyarakat maupun
negara. Karena tidak dapat dipungkiri pula, internet bak pisau bermata dua yang dibalik
berlimpahnya sisi positif, ketika dimanfaatkan untuk niat yang tidak baik ataupun digunakan
secara tidak tepat, akan dapat merugikan dirinya sendiri, ataupun orang lain, baik secara
moril maupun materiil.
Berdasarkan fenomena penggunaan media internet, makalah ini bermaksud akan
menelaah lebih jauh menyangkut persoalan tersebut. Tujuannya yakni untuk mengetahui
gambaran menyangkut fenomena dampak penggunaan internet dalam kaitan karakteristik
masyarakat serta saling keterkaitan di antara keduanya. Melalui teori agenda setting kita
dapat mengetahui bagamaina persektif dari teori dalam membahas fenomena ini.

BAB II
PEMBAHASAN
Sudut pandang teori yang digunakan untuk membahas dampak penggunaan internet
pada khalayak adalah Teori Agenda Setting. Teori agenda setting merupakan pemikiran
yang menyatakan bahwa media tidak mengatakan apa yang orang orang pikirkan, tetapi apa
yang harus dipikirkan.
McCombs dan Shaw meyakini bahwa media tidaklah memiliki pengaruh yang sama
terhadap khalayak. Riset yang dilakukannya menunjukkan bahwa media memiliki dampak
yang signifikan hanya pada mereka yang memiliki tingkat need for orientation yang tinggi.
Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat need for orientation ini, yaitu (1) relevansi;
menyangkut seberapa relevan isu yang dibawa media bagi kehidupannya, dan (2)
ketidakpastian; yaitu menyangkut ketidakpastian posisi khalayak dalam isu yang tengah
dibicarakan.
Teori agenda-setting menggunakan perspektif

micro-level effects. Penggunaan

perspektif ini dalam agenda-setting memberikan implikasi bahwa penelitian terfokus pada
level mikro, yaitu bagaimana pengaruh media terhadap individu, perspektif ini kurang
berminat terhadap tema lama yang menitik beratkan pada akibat yang ditimbulkan media
terhadap

masyarakat

tetapi

lebih

berminat

untuk

melihat

bagaimana

media

memepengaruhi kehidupan individu. Misalnya dampak negatif micro-effect pada kasus


yang menimpa Florence Sihombing, perempuan yang mengunggah status kata-kata hinaan
tentang kota Yogyakarta, di media sosial

yang tadinya hanya sebagai sarana untuk

mengungkapkan kekesalannya menjadi tersebar luas di perbincangan dan diberita sorotan di


internet lalu ber alih ke media-media nasional. Celakanya, akibat sorotan itu, ia sampai harus
diskors oleh pihak kampus tempatnya menempuh studi S-2 dan lebih celaka lagi,ia dipaksa
menjalani sidang pengadilan pidana akibat isi statusnya itu.
Berdasarkan hal tersebut, mengandung beberapa konsep agenda setting yaitu,
Visibility: Sejak Florence membuat keributan di SPBU Yogya sampai dia memasang status
menghina Jogyakarta di media sosial miliknya, pihak lain mengatasnamakan dirinya,
menyebarkan berita tersebut sampai ke berbagai jejaring sosial maupun media massa.
Audience salience: Dengan adanya kemudahan berita dari media-media sosial, publik

menjadi lebih cepat tahu berita tentang Florence dan pemberitaan di media-media massa pun
sangat menarik perhatian publik pada saat itu. Valence: Kata-kata Florence di jejaring sosial
miliknya sangat menyakiti warga Yogyakarta, karena terkesan sangat meremehkan kota
Yogya yang notabenenya menjadi kota tempat dia menuntut ilmu.
Framing berasumsi bahwa media bisa membentuk perspektif tertentu, atau memutar
(spin), terhadap peristiwa yang disajikannya. Pada gilirannya, ini akan berpengaruh terhadap
sikap publik terhadap peristiwa tadi. Framing ini disebut juga sebagai second level of
agenda-setting. Ghanem (1997: 3) menyatakan bahwa dengan framing, agenda-setting
tidak lagi hanya menanyakan what to think about, namun juga how to think about.
perhatian analisis framing adalah atribut suatu topik, dan bagaimana atribut ini akan
berpengaruh terhadap opini publik. Ini menjelaskan pada tahap pertama, yang menjadi fokus
adalah agenda media. Apa yang akan diangkat oleh media? Itulah agenda media, Misalnya
dalam pemberitaan terhadap presiden Jokowi. Sewaktu pencalonan presiden banyak framing
pemberitaan positif mengenai sosok jokowi yang sederhana dan jujur. Para pengamat
meyakini, kesuksesan karir politik Jokowi didukung oleh media sosial. Konsultan public
relations dari Fortune Indonesia, Indira Abidin menulis bahwa Jokowi adalah sosok yang
melek media sosial. Ia termasuk politisi yang pertama kali melakukan komunikasi secara
efektif melalui media sosial. Ross Tapsel, peneliti media dan pengajar studi Asia di
Australian National University, di dalam tulisannya tentang Jokowi di masa pemilihan
gubernur DKI 2012, menekankan bahwa saat kebanyakan politisi di Indonesia berkampanye
menggunakan iklan televisi dan poster, Jokowi-Ahok secara tidak lazim memanfaatkan pesan
Blackberry dan situs video YouTube (media online/internet).
Pernyataan ini didukung oleh data yang dipublikasikan oleh lembaga riset media
sosial, Politicawave (2012) yang melakukan pengamatan terhadap lalu lintas percakapan di
media sosial, pada masa itu. Topik mengenai pasangan calon gubernur (cagub) Joko WidodoBasuki Tjahja Purnama mendominasi sebanyak 54,9 persen, sedangkan tentang cagub Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli 45,1 persen rekapitulasi topik dan seperti kita tahu kemudian,
pasangan Jokowi-Ahok berhasil memenangkan pilgub DKI dengan 53,81 persen suara,
mengalahkan Fauzi Bowo-Nachrowi yang memperoleh 46,19 persen suara. Perbandingan
hasil ini tidak jauh berbeda dengan dengan rekapitulasi topik percakapan di media sosial.
Gambaran-gambaran tersebut mengindikasikan bahwa media sosial bisa menjadi gambaran

kecenderungan agenda khalayak yang bisa berorientasi kepada sikap dan perilaku
sosial politik masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan dan analisa diatas dapat disimpulkan bahwa agenda setting adalah
upaya media untuk mengangkat suatu issu atau fenomena tertentu atau untuk membentuk
citra seseorang sehingga menimbulkan awareness publik. Ciri dari agenda setting adalah
media terus menerus memberitakan suatu berita sehingga berita tersebut menjadi penting
untuk diketahui. Media menyediakan beberapa isu dan memberikan penekanan lebih kepada
isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada publik untuk menentukan isu
mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu lainnya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat need for orientation, yaitu (1) relevansi;
menyangkut seberapa relevan isu yang dibawa media bagi kehidupannya, dan (2)
ketidakpastian; yaitu menyangkut ketidakpastian posisi khalayak dalam isu yang tengah
dibicarakan. Teori agenda-setting menggunakan perspektif micro-level effects. Penggunaan
perspektif ini dalam agenda-setting memberikan implikasi bahwa penelitian terfokus pada
level mikro, yaitu bagaimana pengaruh media terhadap individu, perspektif ini kurang
berminat terhadap tema lama yang menitik beratkan pada akibat yang ditimbulkan media
terhadap masyarakat tetapi lebih berminat untuk melihat bagaimana media memepengaruhi
kehidupan individu.
Dampak negatifnya dari positif agenda setting dapat mengangakat citra seseorang atau
pihak tertentu pada opini baik di mata public. Adapun dampak negatif dampak agenda setting
pada pemberitaan yaitu :
1. Membudidayakan budaya massa dalam suatu komunitas masyarakat, di mana pola
kehidupan yang dinamis ditimbulkan karena adanya keinginan dibidang ilmu
pengetahuan dan teknologi.
2. Rasa sosial terhadap lingkungan sekitar menjadi ricuh

3. Terjadinya polusi informasi

DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Baron J Stanley. 2010. Teori Komunikasi Massa. Edisi 5. Penerbit: Salemba
Humantika
McCombs, Maxwell E. & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass
media. Public Opinion Quarterly 36(2):176-187.
Jurnal :
http://www.stikstarakanita.ac.id/files/Jurnal%20Vol.%202%20No.%202/Tarakanita
%20News%20Vol.%208%20Nomor%201/16.%20MEMPERSUASI%20MASSA
%20DENGAN%20Agenda.pdf