You are on page 1of 16

FENOMENA TASYRI MASA RASULULLAH

A. PENDAHULUAN
Yang di maksud masa Rasulullah adalah suatu massa dimana hidup Nabi Muhammad
SAW. Dan para sahabat yang bermula dari turunya wahyu berakhir dengan wafatnya nabi
pada tahun 11 H. Era ini merupakan masa pertumbuhan dan pembentukan fiqih Islam, suatu
masa turunya syariat Islam dalam pengertian sebenarnya.
Turunnya syariat dalam arti proses munculnya hukum-hukum syariyah hanya terjadi
pada era Rasulullah sebab syariat itu, turun dari Allah dan itu berakhir dengan turunnya
wahyu setelah nabi wafat, nabi sendiri tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat hukumhukum syariyah karena tugas seorang Rasul hanya menyampaikan hukum-hukum syariyah
itu kepada umatnya.
Maka dari itu kita dapat memahami bahwa, kerja fuqaha dan mujtahidin bukan
membuat hukum tetapi mencari dan menyimpulkannya dari sumber-sumber hukum yang
benar. Dan sumber-sumber hukum Islam yang menjadi rujukan dalam mencari hukum
syariyah adalah wahyu, baik wahyu yang dibacakan yaitu Al-Quran ataupun wahyu yang
tidak dibacakan yaitu Sunnah.
Sebelum membahas tentang sumber-sumber hukum lebih baiknya kita memahami
perkembangan kedua tasyri yang berlainan, yaitu: periode Makkah dan Madinah agar kita
mengetahui ciri dan karakteristik wahyu yang turun di Makkah dan Madinah dan bagaimana
nabi menterjemahkannya dalam berbagai situasi yang berbeda.
B. SUBSTANSI KAJIAN
1. Tasyri Pada Periode Mekkah
Pada awal mulanya Islam berorientasi memperbaiki aqidah, karena akidah merupakan fundamen yang akan
berdiri diatasnya, apapun bentuknya, sehingga bila telah selesai tujuan yang pertama maka akan melanjutkan dengan
meletakkan aturan kehidupan. Karena itu, Al-Quran yang turun pada mereka ketika di Makkah-sebelum hijrah yang
memperhatikan penolakan terhadap syirik dan mengajak mereka menuju tauhid, memuaskan mereka dengan
kebenaran risalah yang disampaikan oleh para nabi,mengiringi mereka agar mengambil pelajaran dari kisah umat-umat
terdahulu, menganjurkan mereka agar memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan merenungkan ciptaan Allah,
menganjurkan mereka agar membuang taklid pada nenek moyangnya, dan memalingkan mereka dari pengaruh
kebodohan yang di tinggalkan oleh leluhurnya seperti pembunuhan, zina dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.

Al Qur,an juga banyak mengajarkan mereka moral dan seperti keadilan, menepati
janji, berbuat baik, tolong menolong dalam kebaikan dan fatwa, bukan tolong menolong
dalam pelanggaran dan perbuatan dosa. Kebanyakan ayat-ayat Al-Qur,an itu meminta mereka
agar menggunakan akal pikiran, Allah mengistimewakan mereka dengan akal yang tidak di
miliki oleh makhkuk lainnya agar mereka mendapat petunjuk kebenaran dari dirinya
sendiri.Mengingatkan mereka agar tidak menyelesihi pada umat-umat terdahulu yang
mendustakan rasul-rasul mereka dan mendurhakai perintah tuhannya.[1]
Semua perkataan di atas telah menimpa mereka, supaya hari-hari depan mereka terjauh
dari kejelekan, seperti apa yang mereka telah lalui. Dalam hati mereka berikrar bahwa yang
dikehendaki Al-Quran merupakan kebaikan bagi mereka. semua ini, karena kebutuhan
orang-orang arab agar menjadi lunak atas penolakan mereka dan berjalan dalam konsep
ketaatan yang belum mereka biasakan, serta jiwa mereka enggan untuk berbuat dosa. Pada
masa ini , Al-Quran hanya sedikit memaparkan tujuan yang kedua, sehingga ,mayoritas
masalah ibadah belum disyariatkan kecuali setelah hijrah. Ibadah yang di syariatkan sebelum
hijrah erat kaitannya dengan pemeliharaan akidah, seperti pengharaman bangkai, darah dan
sembelihan yang tidak di sebut nama Allah atasnya.

Semua itu adalah perspektif yang di tinjau Al-Quran dalam sebagian besar ayatnya.
Dan itulah tujuan yang di kehendaki oleh kehendaki oleh keindahan gaya bahasannya.
Meskipun Al-Quran mencapai enam ribu ayat, namun yang berkaitan dengan hukum furu
(cabang) hanya sekitar dua ratus ayat, sedangkan sisanya sebagaimana telah di sebutkan
diatas, walaupun berbeda susunanya baik istbat (penetapan), nafyi (peniadaan), khabar dan
insya. Walaupun banyak gaya bahasanya, baik amr (perintah), nafyi (larangan), istifham (kata
Tanya), taukid (menguatkan) dan sebagainya.
Penyampaian Al-Quran, seperti itu selama tiga belas tahun, sampai akidah meresap
dalam jiwa sebagian besarnya dan terbias kesesatan syirik di hadapan cahayanya. Hayalan
yang menentang telah tiada, demikian pula perselisihan dalam memikirkan keburukan. Pada
saat itu, allah suhanahu wa taalamengizinkan orang-orang mukmin dan nabi shallallahu
alaihi wa sallam untuk berhijrah ke Madinah, wilayah anshar dan tanah air yang baru bagi
kaum muslimin, serta tempat yang akan memberikan nuansa baru dalam menyiarkan agama
Allah sampai selesai.[2]
Dalam periode ini lebih terfokus pada proses penanaman (ghars) tata nilai tauhid,
seperti iman kepada Allah Rasulnya, hari kiamat dan perintah untuk berakhlak mulia srperti
keadilan , kebersamaan, menepati janji dan menjauhi kerusakan akhlak seperti zina,
pembunuhan dan penipuan. Beberapa hokum syariat yang turun pada periode ini juga
dimaksudkan untuk mewujudkan revolusi akidah tadi.
Dalam Al-Quran surat al-Anam, salah satu surat yang turun di Mekkah. Kita dapati
berbagai contoh dari hukum-hukum syariat seperti haram makanan binatang yang
disembelih tidak dengan nama Allah dan keterangan hewan-hewan yang di larang dimakan,
yang sebenarnya juga berkaitan dengan masalah-masalah akidah. Seperti menjadi tradisi
orang-orang jahiliyah, mereka menyembelih binatang atas nama Tuhan mereka yang batil,
mengharamkan dan menghalalkan binatang sesuai dengan hawa nafsu mereka demikian pula
perintah untuk melakukan salat dan zakat. Zakat pada periode Mekkah bersifat umum dalam
arti sedekah atau infak fi sabilillah. Sementara cara pelaksanaanya, kadar yang harus
dikeluarkan dan ketentuan lainnya disyariatkan pada periode Madinah
Dengan kata lain periode Mekkah merupakan periode revolusi akidah untuk mengubah
system kepercayaan masyarakat jahiliah menuju penghambaan kepada Allah semata. Suatu
revolusi yang menghadirkan perubahan fundamental, rekontruksi social moral pada seluruh
dimensi kehidupan masyarakat.[3]
2. Pola Pelaksanaan Tasyri di Madinah
Periode ini berlangsung kira-kira 10 tahun di mulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke
Madinah pada tanggal 16 Robiul Awwal ketika usia nabi 53 tahun (25 September 622 M)
sampai saat wafatnya beliau tanggal 13 Robiul Awwal tahun 11 H (8 Juni 632 M).
Sebagaimana yang telah di jelaskan sebagian besar masyarakat Makkah menolak
ajaran yang dibawa oleh nabi. Al-Quran menyitir penolakan mereka karena beberapa hal
antara lain:
1. Karena kebodahan mereka
2. Keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang
3. Karena ada maksud tertentu dari suatu golongan seperti yang di gambarkan oleh Abu sufyan
kalau sekiranya Bani Hasyim memperole kemuliaan nubuwah, kemudian apa yang
tertinggal untuk kami.
Kelompok yang menolak Al-Quran ini menggunakan segala cara dan sistem untuk
menghalangi berkembangnya ajaran Islam. Karena tekanan masyarakat yang benci Islam
begitu kuat, akhirnya nabi yang di dahului oleh pemgikutmya hijrah ke Madina. Situasi
Madinah dengan berbagai aspek kehidupannya sangat berbeda dengan Makkah. Penduduk
Madinah menjelang hijrahnya nabi, terdiri dari bangsa Arab dan Yunani yang terbagi dari

beberapa suku, suku terkemuka Arab adalah suku Aus dan Khazraj sedangkan Yahudi
mempunyai lebih dari 20 suku di wilayah itu.
Dari aspek agama sebagian orang Arab Makkah dan Madinah menyembah berhala.
Manata yang mereka yakini memengaruhi nasib manusia, berhala itu merupakan dewa
terpenting yang disembah oleh suku Aus dan Khazraj. Sedangkan suku Yahudi adalah
penganut agama Yahudi, suku ini merupakan ahli kitab yang memiliki keyakinan monotheis
mencela kepercayaan orang arab yang pagan dan memperingatkan bahwa kelak akan muncul
seorang nabi yang akan mendukung agama mereka, informasi inilah yang menjadi faktor
orang Madinah mudah menerima Islam.
Heterogenites penduduk Madinah mempengaruhi kondisi sosial politiknya. Mereka
tidak berhasil membentuk suatu pemerintahan yang damai, akibat dari konflik yang terjadi
terus menerus antara suku Aus dan Khazraj, ditambah dengan keterlibatan Yahudi dalam
konfik-konfik itu menjadikan situasi menjadi rumit. Dalam kondisi demikian maka kehadiran
pemimpin yang dapat menyatukan mereka sangat dinantikan. Untuk itu begitu mengetahui
bahwa nabi yang di sebut-sebut kaum Yahudi telah muncul, mereka menerimanya secara
terbuka dan sekaligus mengajak beliau agar hijrah ke Madinah.[4]
Nabi bersama Abu Bakar hijrah ke Madinah setelah mendapat perintah wahyu pada
tanggal 16 Rabiul Awwal(20 September 622 M). setelah hijrah ke Madinah, posisi nabi dan
umat Islam mengalami perubahan besar. Di Madinah mereka mempunyai posisisi yang baik
dan segera menjadi suatu komunitas umat yang kuat dan dapat berdiri sendiri. Nabi menjadi
pemimpin masyarakat yang baru dibentuk itu, masyarakat ini akhirnya menjadi suatu negara,
yang wilayah kekuasaannya di masa penghujung kehidupan nabi meliputi seluruh
semenanjung Arabia.
Setelah kaum muslimin berhasil menegakkan kehidupan yang sebenarnya, dan
mampu membina masyarakat yang mempunyai ragam kehidupan yang berbeda, maka
diturunkanlah tuntunan syariat yang mengatur kehidupan mereka secara menyeluruh dan
lebih terperinci, sebagai penyempurna dari hukum yang telah disyariatkan secara global pada
periode Makkah. Periode Makkah dan Madinah memiliki hubungan integral dan tidak dapat
dipisahkan.
Nabi pada periode Madinah ini menghadapi masalah secara realistis dan praktis.
Orang bertanya dan meminta fatwa kepada beliau tentang persoalan apa saja yang mereka
hadapi. Maka tidak mengherankan bila dalam kurun waktu 10 tahun di Madinah, Rasulullah
banyak sekali mengeluarkan putusan dan penetapan hukum. Ayat-ayat Al-Quran pun banyak
yang diturunkan pada periode ini untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepada nabi.
Jadi ayat-ayat yang menerangkan hukum-hukum syara' yang menjalar semua persoalan yang
dihadapi manusia, baik untuk kepentingan pribadi maupun masyarakatnya, baik persoalan
akidah, ibadah, muamalat, jihad, jinayah, mawarist, perkawinan, thalaq, dan peradilan turun
pada periode Madinah.
Dengan demikian periode Madinah dapat disebut dengan periode revolusi sosial dan
politik. Hal ini ditandai dengan penataan pranata-pranata kehidupan masyarakat Madinah
yang layak, dan dilanjutkan dengan praktek pemerintahan yang dilakukan oleh
Nabi Muhammad SAW, sehingga menjadikan Islam sebagai suatu kekuatan politik.
Dapat dipahami mengapa produk-produk hukum syariat tersebut ditetapkan pada
periode Madinah, dengan alasan :
1. Pada periode Madinah , diperkirakan orang Islam memiliki modal akhlak/mental dan akidah
yang kuat sebagai landasan melaksanakan tugas-tugas lain.
2. Suatu hukum dapat terlaksana bila dilindungi oleh kekuatan politik. Di periode Madinah,
Rasulullah dipercaya oleh masyarakat sebagai pemegang kekuasaan politik karena
keberhasilannya menyelesaikan perselisihan akibat perebutan pengaruh masyarakat Madinah
yang primordial. Masyarakat Madinah, yang kemudian terdiri atas penduduk asli yang

beragam dan Muhajirin Makkah, tidak lagi merasakan kesukuan sebagai ikatan solidaritas,
tetapi persaudaraan karena kepercayaan agama.[5]
3. Sumber-Sumber Tasyri'
Al-Quran
a. Pengertian Al-Quran
Kata adalah mashdar dari , sewazan dengan kata , yang secara etimologis
berarti bacaan, berbicara tentang apa yang ditulis padanya, atau melihat dan menelaahnya.
Kata Al-Quran digunakan untuk maksud nama kitab suci yang diturunkan kepada nabi
Muhammad. Pengertian Al-Quran secara terminologis antara lain dikemukakan oleh alSyaukani sebagai berikut :


Artinya:
kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah, tertulis dalam mushaf dan dinukilkan secara mutawatir." [6]

Rangkaian kalam Allah tersebut kini tertuang secara sempurna dalam kitab suci yang
diberi nama Al-Quran al-Karim. Kitab suci ini dinamakan demikian karena wahyu pertama
yang ditunkan kepada Nabi adalah (bacalah)". Dari makna ini dapat dipahami bahwa
seorang yang beriman diperintahkan untuk membaca Al-Quran yang diturunkan kepada
manusia sebagai petunjuk (huda) agar memperoleh kebahagian baik dalam kehidupan dunia
maupun akhirat.
Dalam versi lain, Fazlur Rahman mengatakan Al-Quran adalah dokumen keagamaan
dan etika yang bertujuan praktis, yaitu untuk meciptakan masyarakat yang bermoral baik dan
adil, yang terdiri dari manusia-manusia saleh, religius, memiliki kesepakatan dan keyakinan
akan adanya satu Tuhan yang memerintahkan kebaikan, dan melarang kejahatan.[7] Dengan
demikian, sebagai dokumen keagamaan, Al-Quran dengan sendirinya menjadi asas agama
dan sumber syariat.
Sesungguhya Al-Quran merupakan suatu tatanan yang berisi perintah berbuat baik dan
larangan berbuat jahat, ia juga merupakan ekspresi perintah Allah yang harus ditaati oleh
masyarakat dan negara. Kitab suci ini masih berdiri kokoh hingga sekarang sebagai sebuah
mukjizat yang terjaga keasliannya karena tidak seorangpun mampu membuat satu surat yang
menyamai surat-suratnya, termasuk Nabi sendiri tidak dapat membuatnya susunan bahasa
yang begitu indah.
Al-Quran telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, namun seperti kata
Mahmud Syalthut hasil terjemahan bukanlah Al-Quran suci yang memiliki kemukjizatan
tak tertandingi, bahkan ia tak dapat dijadikan sumber syariat karena sebuah terjemahan hanya
mencerminkan pemahaman si penerjemah tehadap Al-Quran. Menurut Hitti, tidak ada kitab
di dunia ini yang menyerupai Al-Quran meskipun sudah banyak ahli bahasa dengan
mengerahkan kekuatan waktu dan uang untuk membuat ayat yang bisa menandingi AlQuran. Al-Quran dijaga secara amat ketat. Walaupun termuda Al-Quran merupakan kitab
suci yang paling banyak dibaca.[8]
b. Turunnya Al-Quran
Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17
Ramadhan, ketika sedang bertahanuts (beribadah) di gua hiro, tahun ke 41 dari kelahiran
beliau.[9] Tentang turunnya Al-Quran pada bulan Ramadhan dijelaskan sendiri oleh Allah
dalam firmanNya :

Artinya:
Bulan Ramadhan,di dalamnya di turunkan(permulaan) Al-Quran''(QS. Al-Baqarah; 185)
[10]

Sedangkan tanggal 17 berdasarkan firman Allah






Artinya:
dan apa-apa yang kami turunkan kepada hamba kami(Muhammad) dihari furqon yaitu hari
bertemunya dua pasukan.(QS. Al-Anfal; 41)[11]
Hari furqon yang dimaksud ayat ini adalah hari turunnya Al-Quran, hari furqon itu
disamakan dengan hari bertemunya dua pasukan yaitu dalam perang badar, yang oleh ahli
sejarah di tetapkan bahwa perang badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Dengan begitu
hari turunnya Al-Quran jatuh pada tanggal 17 Ramadhan walaupun tidak pada tahun yang
sama.
Pendapat yang paling shahih mengenai ayat-ayat yang pertama kali turun adalah
firman Allah yaitu :





Artinya:
Bacalah

dengan nama tuhanmu yang mencipatakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, bacalah dan tuhanmu lah yang paling pemurah, yang mengajar(manusia)
dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak
diketahuinya.(QS. al-'Alaq: 1-5)[12]
Adapun yang terakhir diturunkan surat Al-Baqarah: 281.




Artinya:
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) Hari yang pada waktu itu kamu
semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang
sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak
dianiaya.(QS. Al-Baqarah: 281)[13]
Al-Quran diturunkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan yang tumbuh. Nabi
menerimanya sangat hati-hati dan meminta para pengikut untuk menghafal dan menulisnya.

Kondisi demikian berlangsung selama 23 tahun, 13 tahun pertama di Makkah dan 10 tahun di
Madinah. Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan untuk menjawab berbagai masalah,
pertanyaan, situasi dan kondisi yang dijumpai Nabi SAW dalam perjalanan kerusalan.
Ayat-ayat Al-Quran ini telah sempurna sampai kepada ummat dalam bentuk yang
masih terpelihara kemurniannya. Sesungguhnya tanggung jawab untuk menjaga kemurnian
wahyu semula berada diluar jangkauan rasionalitas manusia. Nabi sendiri selalu membaca
kembali pada semua ayat yang diterima pada setiap bulan ramadhan hingga beliau
menghembuskan nafas yang terkhir. Sepeninggal nabi, seluruh tulisan nash Al-Quran
dikumpulkan, pengumpulan tulisan nash Al-Quran dilakukuan atas usul Umar kepada
khalifah Abu bakar. Abu Bakar kemudian mempercayakan tugas pengumpulan itu kepada
Zaid ibn Sabit yang merupakan mantan sekretaris Nabi. Tugas pengumpulan itu diselesaikan
dalam beberapa tahun dan diverifikasi oleh sebuah panitia yang dibentuk gubernur dibawah
pimpinan Zaid ibn Sabit. Khalifah Usmanlah yang mengontrol dan membagi-bagikan salinan
tulisan Al-Quran hingga sampai kepada ummat sekarang.
c. Kandungan ayat-ayat hukum dalam Al-Quran
Ayat-ayat dalam Al-Quran menempati posisi sangat penting dan dalam kehidupan
kaum muslimin karena ia merupakan rujukan pertama dan utama bagi seluruh dimensi
tingkah laku mereka. Proses turunnya berbagai ayat hukum dalam Al-Quran menunjukkan
ayat-ayat itu diturunkan pada saat timbul masalah kemasyarakatan, moral atau keagamaan
yang memerlukan pemecahan, atau ketika para sahabat berkonsultasi kepada nabi dan
mengadukan persoalan-persoalan urgen yang memiliki ruang lingkup dan pengaruh luas
dalam kehidupan kaum muslimin.
Secara garis besar hukum-hukum dalam Al-Quran dapat di kelompokkan jadi tiga:
1

Ahkam 'i'tiqadiyah (hukum-hukum akidah). Hukum ini mengatur tentang hubungan manusia
dengan tuhannya dalam masalah keimanan dan ketakwaan yang meliputi kewajiban bagi
mukallaf untuk percaya pada Allah, Malaikat, Kitab-kitab-Nya, para rosul-Nya dan hari
kiamat.
Ahkam khulukiyah (hukum-hukum akhlak). Hal ini berkaitan erat dengan masalah- masalah
yang harus dipedomani oleh setiap mukallaf dalam perilaku kehidupannya yakni keharusan
mengerjakan keutamaan dan menghindari diri dari kehinaan.
Ahkam 'amaliyah (amal/ perbuatan) hukum ini terkait erat dengan seluruh tindakan mukallaf,
baik ucapan, perbuatan, perjanjian (akad), dan masalah belanja.[14]
d. Cara penerapan hukum
Hukum Islam mengatur perilaku manusia dalam dua dimensi, vertical, hubungan
manusia dengan tuhan dan horisontal, hubungan manusia dengan sesamaan Hukum yang
mengatur dimensi vertical dikenal dengan hubungan mahdab. Dengan ini manusia sadar akan pengawasan tuhan dimana dan
kapanpun ia bekerja. Ancaman hukumnya bagi pelanggarnya berupa dosa. Hukum yang mengatur dimensi horisontal lumrah disebut
muamalah (dalam arti luas), ancaman

bagi pelanggarnya disamping dosa yang akan dirasakan di


akhirat juga yang langsung dirasakan di dunia seperti pembalasan atas perjanjian atau pidana.
Atau menyebut dosa, hukum Islam menganggap pembinaan mental itu penting dalam
kehidupan sosial. Orang yang bersalah tetapi lolos dari hukuman duniawi tetap akan merasa
bahwa perbuatannya tidak boleh di ulangi karena merasa berdosa.
1.

Tahapan / Proses
Risalah Rosul adalah dakwah (bukan paksaan) dan kesejateraan umat manusia, yang
paling utama dalam ajaran Rosul adalah pesan-pesan keagamaan. Oleh karena itu proses
hukum Islam tidak lepas dari corak dakwah, untuk suatu ketetapan hukum Al-Quran
memperhatikan kondisi dan situasi masyarakat sehingga ketetapan hukum tidak mengejutkan

dan membuat sok, tetapi secara bertahap. Misalnya untuk sampai kepada larangan minumminuman keras, Al-Quran menempuh jalan sebagai berikut:
Pertama pernyataan kurma dan anggur itu dapat mendatangkan rezeki tetapi juga
dapat memabukkan.




Artinya:
Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang
baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah)
bagi orang yang memikirkan.(QS. al-Nahl:67)[15]
Kedua pernyataan bahwa khamer dan perjudian mendatangkan manfaat dan
mudhorot, hanya mudhorotnya lebih besar dari manfaatnya



Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya
terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih
besar dari manfaatnya." (QS. al-Baqarah:219).[16]
Ketiga, pernyataan agar orang mabuk untuk tidak mengerjakan sholat, takut kalau
keliru dalam bacaan



Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (QS. al-nisa:43).[17]
Ayat turun karena ayat-ayat sebelumnya terlalu halus sehingga tidak terasa oleh
sebagian besar orang bahwa sebenarnya minuman keras itu dilarang. Karena orang Islam
mengkonsumsi minuman keras dan datang ketempat sholat dalam keadaan mabuk.
Keempat akhirnya pernyataan tegas larangan minun keras





Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. AlMaidah:90).[18]

2.

Korelasi atas hukum jahiliah[19]


Islam tidak menghapus sama sekali hukum yang penah belaku di masa Jahiliah. Kalau
perlu menyempurnakan keputusan hukum yang selama itu sudah baik. Kendati demikian,
hukum Islam kelihatan lebih membawa keadilan dalam hal perkawinan, Al-Quran
memerintakan suami agar memberi mahar kepada istri. Sebenarnya pemberian mahar untuk
perkawinan sudah ada di masa jahiliah hanya dalam adat Arab Jahiliah, perkawinan adalah
transaksi jual beli yakni selaku suami sebagai pembeli di suatu pihak dengan ayah atau
kerabat dekat laki-laki calon istri selaku pemilik barang, karenanya mahar harus dibayar oleh
pihak suami kepada pihak istri seperti yang dikehendaki oleh Al-Quran. Disini Al-Quran
merubah kedudukan Istri dari sebagai barang dagangan menjadi pihak yang terlibat dalam
kontrak, dengan demikian kini istri memiliki kewenangan hukum yang sebelumnya tidak ia
miliki.

3.

Nasakh
Disamping itu dalam Islam dikenal nasakh, perubahan/ pengapusan hukum yang
tadinya pernah ditetapkan. Ini juga tidak lepas dari tujuan utama pembentukan hukum Islam
adalah dakwah dan maslahat. Misalnya, tadinya Al-Quran menetapkan bahwa wanita yang di
tinggal mati suaminya beriddah setahun selama itu ia tinggal di rumah suami dan berhak
mendapat nafkah






Artinya:
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri,
hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya
dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka
tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat
yang ma'ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. AlBaqarah:240).[20]
Kemudian datang ketentuan baru bahwa iddah mereka empat bulan sepuluh hari








Artinya:
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
(hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.
kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan

mereka berbuat terhadap diri mereka[147] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang
kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah:234)[21]
As-Sunnah
a. Pengertian Sunnah
Sunnah adalah sumber fiqih kedua setelah Al-Quran. Sunnah menurut etimologi
adalah jalan baik, buruk seperti sabda Nabi SAW[22]




Artinya:
Barang siapa mengadakan sunnah/ jalan yang baik maka baginya pahala atas jalan yang
ditempuhnya itu, di tambah lagi pahala orang-orang yang mengerjakannya sampai hari
kiamat dan barang siapa mengadakan sunnah/ jalan yang buruk maka atasnya dosa karena
jalan buruk yang ditempuhnya, ditambah orang-orang yang mengerjakannya sampai hari
kiamat
Secara terminologi Sunnah dapat di lihat dari tiga aspek yaitu, ilmu hadis, ilmu fiqh
dan ilmu ushul fiqh. Sunnah menurut para ahli hadist identik dengan hadist, yaitu segalah
sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik perkataan, perbuatan, akhlak
maupun ketetapan ataupun sifatnya. Sunnah menurut ulama ushul fiqh adalah segalah sesuatu
yang diriwayatkan oleh Rosullullah berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan yang
berhubungan dengan hukum. Sedangkan Sunnah menurut perspektif ulama fiqh adalah sikap
hukum terhadap suatu perbuatan yang dituntut melakukannya dalam bentuk tuntutan yang
tidak pasti, dengan pengertian diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi
yang tidak melakukannya.[23]
Terjadinya perbedaan pengertian Sunnah ini dilatar belakangi oleh perbedaan
pemikiran masing-masing terhadap Sunnah. Sunnah menurut ulama ushul fiqh berpendapat
Sunnah adalah sumber hukum, sedangkan dalam perspektif ulama fiqh merupakan salah satu
dari lima bentuk hukum taklifi yang mungkin berlaku terhadap suatu perbuatan. Dalam
pengertian ini Sunnah adalah sumber hukum bukan sebagai hukum. Sunnah berarti setiap
sesuatu yang dinisbatkan (disandarkan) kepada Nabi Mmuhammad SAW, baik berupa
perkataan, perbuatan, akhlak, sifat ataupun ketetapannya.[24]
Terkadang kata Sunnah di sebutkan sebagai lawan kata bidah, maka maksud dengan
menggunakan kata Sunnah adalah sesuatu yang disyariatkan secara mutlak, baik yang
ditunjukkan oleh Al-Quran maupun/ hadits. Adapun yang di maksud Sunnah disini adalah
sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW berupa perkataan, perbuatan dan ketetapannya.
Sebagaimana Al-Quran, Sunnah tidak muuncul dalam satu waktu, tetapi secara periodik
mengikuti fenomina umum dalam masyarakat atau mengikuti perkembangan turunnya
syariat. Karenanya dalam banyak hal kita akan melihat bahwa Sunnah bertujuan
manerangkan, merinci, membatasi dan menafsirkan Al-Quran.
Jadi maksudnya dengan Sunnah Rasulullah SAW adalah kumpulan perkataan,
perbuatan atau ketetepan yang dikeluarkan oleh Nabi SAW dan tidak diragukan bahwa
Rasulullah SAW adalah penyampainya dari Allah SWT.
Jika demikian Sunnah itu adalah penjelasan Al-Quran yang menjelaskan globalnya,
membatasi kemutlakannya, dan mentawili kesamarannya. Didalam Sunnah tidak ada sesuatu
kecuali Al-Quran telah menunjukkan pengertiannya dengan penunjukan global (ijmaliyah)

atau terperinci (tafsiliyah). Penunjukan itu dari beberapa segi, sebagiannya menunjukkan
yang sangat umum yaitu kewajiban mengikuti Rasulullah SAW yang datang dari Al-Quran.
b. Macam-Macam Sunnah
Sunnah dapat dikualifikasikan sebagai berikut:[25]
1. Al-Sunnah Al-Qauliyah yaitu perkataan Rasulullah yang didengar oleh para sahabat dan
kemudian disampaikan kepada orang lain. Apa yang diucapkan Rasulullah itu bukan dalam
konteks wahyu Al-Quran kaena Al-Quran juga lahir dari lisan Rasulullah yang disampaikan
kepada para sahabatnya, kemudian disampaikan kepada orang lain. Apa yang diucapkan
Rasulullah itu bukan dalam konteks wahyu Al-Quran karena Al-Quran juga lahir dari lisan
Rasulullah yang disampaikan kepada para sahabatnya, kemudian disampaikan kepada orang
lain. Dengan demikian Al-Quran dengan Sunnah qouliyah sama-sama muncul dari lisan
Rasulullah, akan tetapi sahabat yang mendengarnya dapat memisakan antara Al-Quran dan
Sunnah melalui metodeloginya.
2. Al-Sunnah Al-Fi'liyah yaitu perbuatan Rasulullah yang dilihat atau dikuatan oleh sahabat dan
disampaikan kepada orang orang lain. Semua yang dinukilkan itu mempunyai kekuatan untuk
ditauladani Untuk mengikat seluruh umat Islam. Namun dalam hal ini ada perbedaan
pendapat diantara fuqaha. Sebagian fuqaha bahwa seluruh perbuatan Rasulullah adalah
Sunnah yang mempunyai daya hukum untuk diikuti, sedangkan menurut sebagian yang lain
perbuatan Rasulullah senang tiasa dipertimbangkan korelasi nya dengan prinsip wahyu dalam
menetapkan suatu hukum.
3. Al-Sunnah Al-Taqririyah yaitu ucapan atau perbuatan sahabat yang dilakukan dihadapan atau
sepengetahuan Rasul dan Rasulullah mengambil sikap diam, diamnya difahami sebagai
persetujuannya atas perbuatan tersebut.
c. Kehujjahan Sunnah dalam Hukum
Dalam Sunnah ada dua hal yang tidak dapat di ragukan lagi yaitu: Sunnah merupakan
kunci membuka Al-Quran dan penerang yang memberi petunjuk untuk mengungkap hakikat
dan mendalaminya secara mendetail.Sesungguhnya Al-Quran adalah sumber syariat yang
meliputi segalah macam ilmu[26], sebagai firman Allah:

Artinya:
Tiadalah kami alpakan segalah sesuatupun dalam Al-Quran.(Al-Anam:38)[27]

Artinya:
Dan kami turunkan padamu Al-Quran kepadamu untuk menjelaskan segalah sesuatu.(An-Nahl:89)[28]

Oleh karena itu kita berpegang teguh dengan Sunnah dan mengamalkannya berarti
kita telah mengamalkan kitap Allah. Ada yang berkata kepada Mutharri bin Abdullah:
janganlah kalian bicarakan selain Al-Quran. Ia berkata: demi Allah kami tidak bermaksut
mengganti Al-Quran tetapi kami orang lebih mengerti tentang Al-Quran. Al-Auza
meriwayatkan Hadist Hisan bin Atiyah ia berkata: Wahyu diturunkan kepada Rasulullah dan
jibril hadir dalam tahun penafsirannya, maka tidak akan keluar dari beliau baik berupa
perkataan, perbuatan ataupun persetujuan kecuali dari wahyu, sebagai firman Allah:


Artinya:
Tidaklah yang diucapkan itu meurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain
hanyalah wahyu yang di wahyukan kepadanya. (An-Njm: 3-4)[29]

Beberapa orang telah tersesat karena telah melempar dan meninggalkan Sunnah, dan
berkata: dalam kitab Allah terdapat penjelasan terhadap sesuatu, jadi apa yang kami dapat
dari Sunnah? Mereka menyangka pandangan keliru itu dapat menyampaikan mereka pada
tujuan. Pandangan inilah yang menyebabkan kaum Rafidho dan Jahamiyah (salah satu aliran
Syiah) terjerumus menyelisihi (berbeda pendapat) dengan ahli ijma. Kaum Rafidho
menolak hadis yang berbunyi:


Artinya:
Kami sekalian para nabi tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan itu shadakah.
Lantaran keumuman firman Allah:

Artinya:
Allah mensyariatkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu.(An-Nisa:11)[30]
Sedangkan kaum Jahamiyah menolak hadits tentang sifat-sifat Allah dengan ayat:

Artinya:
Tidak ada suatu apapun yang menyerupai dengan Dia (Allah).
Apa yang membuat kaum ini terpaku pada dhohir Al-Quran, mereka tidak mau
mengambil petunjuk dari cahaya kenabian dan kerosulan? Padahal Al-Quran sendiri
menyuruh mengikutinya dan mengancam menyelisihinya, firman Allah:


Artinya:
Apa yang diberkan Kepadamu maka terimalah Dia dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah.(Al-Hasyr:7)[31]



Artinya:
Maka hendaklah Orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan
adzab yang pedih.(An-Nur:63)[32]
Ayat-ayat diatas menunjukkan atas kehujahan Sunnah dan kewajiban mengambil
pelajaran darinya. Sementera itu kehujjahan Sunnah dapat dibuktikan melalui adanya Nash
Al-Quran yang dengan tegas memerintahkan untuk mentaati Rasul, antara lain diungkap
dalam surat:


Artinya:
Hai orang-orang yang beriman taatilah olehmu Allah dan taatila olehmu Rosul-Nya.( AlNisa:59)[33]
d. Kedudukan dan Fungsi Sunnah Terhadap Al-Quran
Maksudnya kedudukan di sini adalah hubungan dengan Al-Quran dari segi
kehujjahan. Banyak ayat-ayat yang menunjukkan kehujjahan Sunnah dan sekarang yang

perlu diketahui adalah kedudukan Sunnah berada setelah Al-Quran, posisi kedua setelah AlQuran dengan beberapa pertimbangan:
1

Ketetapan Al-Quran itu secara qathI (pasti) baik yang global maupun terperinci, sedangkan
ketetapan Sunnah secara qathI dalam masalah yang global dan masalah yang terperinci itu
dzanni (sangkaan)
2 Hadits Muadz bin Jabal ketika itu ditanya: dengan apa kamu memutuskan suatu perkara? Ia
menjawab dengan kitab Al-Quran. Kemudian nabi bertanya lagi, apabila tidak ditemukan
disana? Ia menjawab dengan Sunnah Rasul itulah, diriwayatkan dari Umar bin Khatab.
Jadi Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua sesudah Al-Quran dan kedudukan
Sunnah adalah menafsirkan Al-Quran dan menjadi pedoman melaksanakannya yang autentik
terhadap Al-Quran. Adapun fungsi Al-Quran adalah[34]:
1. As-Sunnah memberikan rincian terhadap pernyataan Al-Quran yang bersifat umum, misalnya
Al-Quran memerintakan untuk sholat dan dirikanlah sholat dan keluarkan zakat (AlBaqarah:110) yang dijelaskan/ bersifat secara umum kemudian sunnah menjelaskannya
dengan merinci secara operasional seperti bacaan dan gerakannya nabi bersabda: sholatlah
kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat.
2. As-Sunnah memberi batasan maksimal tentang wasiat diwajibkan atas kamu apa bila
seorang diantara kamu kedatangan tanda-tanda maut, jika ia meninggalkan harta yang
banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara maruf ini adalah kewajiban
orang-orang yang bertaqwa (Al-Baqarah: 80), mengenai hal ini Sunnah memberi batasan
sepertiga dari harta yang dimiliki, seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Saad
bin Abi Waqash ra, yang menyatakan Rasulullah tentang jumlah wasiat. Beliau melarang
memberikan wasiat seluruhnya, tetapi hanya menyetujui sepertiga dari jumlah harta yang
ditinggalkan.
3. As-Sunnah menguatkan hukum yang ditetapkan Al-Quran seperti menetapkan hukum
berpuasa: hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (Al-Baqarah: 183),
dikuatkan oleh Sunnah dengan sabdah Rasul yaitu: Islam didirikan di atas lima perkara,
persaksian tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat,
membayar zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan pergi haji ke baitullah bagi yang
mampu(HR. Bukhari dan Muslim) .
Ijtihad Rasulullah dan Sahabat
1. Ijtihad Rasulullah
Para ulama berikhtilaf tentang ijtihad Nabi Muhammad SAW terhadap sesuatu yang
tidak ada nash hukumnya dari Allah SWT. Sebagian ulama Asyariyah dan kebanyakan ulama
Mutazilah berpendapat bahwa Nabi Muahammad SAW tidak boleh melakukan ijtihad
terhadap sesuatu yang tidak ada ketentuan nash, yang berhubungan tentang amaliah halal dan
haram sedangkan ulama ushul seperti Abu Yusuf Al-Hanafi dan Al-Syafii membolehkannya.
Sebagian sahabat Al-Syafii, Al-Qadhi Abd al-Jabar, dan Abu Hasan Al-Bashri berpendapat
bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan ijtihad dalam perang bukan dalam bidang
hukum[35].
Untuk menyebut sebuah contoh adanya ijtiahad nabi dalam masalah-masalah
syariyah diantaranya adalah ijtihad nabi terhadap tawanan perang badar. Saat itu belum ada
ketentuan nash yang menerangkan bagaimana seharusnya tawanan perang diperlakukan Nabi
SAW menunggu turunya wahyu, tetapi belum juga turun. Dalam situasi yang sangat
mendesak, nabi meminta pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Menurut Umar bin
Kahatab , demi kemaslahatan , tawanan perang itu harus dibunuh . mereka adalah pimpinan

dan jago-jago orang kafir yang jika dilepaskan akan membuat onar di tengah-tengah kaum
muslim.
Abu Bakar melihat la melepas mereka itu lebih strategis bagi pengembangan kekuatan
kaum muslim dari pada membunuh mereka secara konyol. ya Rosul, kata Abu Bakar,
mereka itu adalah anak-anak dari keluarga dan teman-taman kita juga. Menurut pendapat
saya, sebaiknya kita ambil fidyah(tebusan) saja dari mereka dan itu, tentu akan
menambah income kita[36].
Nabi Muhammad berijtihad memilih pendapat Abu Bakar setelah terlebih dahulu
mempertimbangkan kemaslahatan. Kemudian turun Al-Quran yang memperingatkan nabi
dan menerangkan bahwa dalam kondisi seperti itu pendapat umar lebih tepat.tidak patut bagi
seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka
bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala)
akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jika sekiranya tidak ada
ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena
tebusan yang kamu ambil "
Menurut sebagian ulama, Nabi Muhammad SAW tiadak berijtihad sebab perkataan,
perbuatan, dan ketetapannya adalah al-Sunnah karena ini sumber hukum Islam kedua setelah
Al-Quran dan juga berdasarkan firman Allah SWT:


Artinya:
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya; ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya."[37] (Al-Najm : 3 4)
Ikhtilaf di atas tersebut menimbulkan berbagai ulama mesir, Muhammad Salam Madkur mengatakan bahwa
Nabi Muhammad SAW melakukan ijtihad dalam urusan keduniaan seperti ijtihad dalam urusan keduniaan seperti ijtihad
beliau dalam mengatur strategi perang. Sedangkan menurut ibn Hazm, ibn Khaldun dan Al-Kamal ibn Al-Hamam
berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan shalat. Salah satu contohnya adalah ijtihad beliau tentang
panggilan dan pemberitahuan untuk melaksanakan shalat. Bahwa sebagian sahabat menganjurkan bahwa sebaiknya
menggunakan lonceng seperti lonceng nasroni, sebagian lagi menganjurkan menggunakan terompet seperti terompet
Yahudi. Kemudian umar bertanya kepada Rasulullah mengapa tuan tidak mengutus seseorang untuk mengajak
shalat.? Nabi Muhammad SAW bersabda hal bilal, berdirilah ajaklah shalat.

2. Ijtihad Sahabat
Daerah kekuasaan Islam makin lama makin luas, para sahabatpun tersebar di
daerah perluasan, sehingga komunikasi langsung dengan nabi sering terhambat karena jarak
mereka tinggal dengan nabi semakin jauh. Karnanya sebagian sahabat berijtihad sendiri.
Diriwayatkan ada dua orang sahabat bepergian, ketika waktu sholat tiba mereka tidak
mendapatkan air untuk berwudhu. Kemudian mereka sholat dengan bertayamum. Maka salah
seorang mengulangi sholatnya dengan berwuhdu, karena waktu sholat belum habis, dan
seorang lagi tidak mengulangi sholatnya karena beranggapan bahwa sholat tadi telah
mencukupi. Ketika menghadap Rosul, masing-masing mereka mengisakan kejadian yang
dialami. Terhadap yang tidak mengulangi sholat beliau berkata sungguh engkau telah berbuat
sesuai Sunnah. Terhadap yang mengulangi sholat beliau berkata engkau mendapat pahala dua
kali.[38]
C. KESIMPULAN
Hukum Islam pada era Rasul ada dua fase, yaitu fase Mekkah dan Madinah, dimana pada fase Mekkah Nabi
Muhammad SAW hanya lebih menitik beratkan pada hukum masalah akidah, sedangkan pada fase Madinah barulah
diterapkan hukum pergaulan atau kemasyarakatan dan ibadah.
Pada fase Mekkah Nabi Muhammad SAW cuma sedikit sekali membimbing orang yang sudah masuk Islam,
sehingga pada fase ini beliau hanya dalam memperbaiki akidah sebab akidah adalah pondasi bagi amaliah ibadah.
Perbaikan akidah ini diharapkan dapat menyelamatkan umat Islam dari kebiasaan membunuh, berzina, mengubur anak
perempuan hidup-hidup. Sedangkan hukum-hukum ibadat banyak disyariatkan di Madinah, ibadat-ibadat yang di
syariatkan di Mekkah hanyalah yang mempunyai hubungan erat dengan akidah dan akhlak seperti: mengharamkan
bangkai, yaitu binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT.

Adapun sumber hukum Islam adalah Al-Quran, as-Sunnah (hadits) dan ijtihad Nabi para Sahabat Nabi. AlQuran adalah kitab suci yang berisi wahyu yang menjadi pedoman hidup manusia yang tidak ada peraturan di
dalamnya as-Sunnah adalah suatu perbuatan yang beberapa kali yang dilakukan oleh nabi, kemudian terus menerus
diikuti oleh sahabat. Di tinjau dari segi bentuknya Sunnah ada 3 yaitu: Fili, Qauli, dan Taqriri. Sedangkan ijtihad berarti
mengerakkan segala daya intelektual untuk menyimpulkan hukum persoalan.

D. SKEMA

Rosul

Sahabat

Daftar Pustaka
Ali, Zainuddin. 2006. Hukum Islam. Jakarta. Sinar Grafika
Khotimah, Husnul. 2007. Penerapan Syariah Islam. Jogyakarta. Pustaka Pelajar
Ali As-Sayis, Muhammad. 2003. Tarikh Al-Islam Al-Islamiah (Sejarah Hukum
Islam). Jakarta. Pustaka Al-Kausar
Zuhri, Muh. 1996. Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. Jakarta. PT Raja Grafindo
Sirry, A Munim. 1995. Sejarah Fiqh Islam. Jakarta. Risalah Gusti
Bik, Khudari. 1980. Tarikh Al-Tasyri Al-Islami. Surabaya. Darul Ikhya
Philip K. Hitti, 1974. History of the Arabs, London: The Macmillan Press,
Departemen Agama. 2000. Al-Quran dan Terjemahannya. Bandung. Diponegoro

Departemen Agama. 2005. Al-Quran dan Terjemahnya. Syaamil Cipta Media

[1] M Ali As-Sayiz. Sejarah Fifih Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar 2003), h, 19.
[2]. M Ali As-Sayiz, Sejarah Fifih., h, 20.
[3]. A Munin Sirry, Sejarah Fiqih Islam,( Jakarta: Risalah Gusti, 1995), h, 23.
[4] Ibn Ishad. Sifat Rasul Allah Terjemah The Life Of Muhammad.(Karach: Oxfor Univ Press), h, 66.
[5] Muh Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, (Rajagrafindo: persada,1996),
h, 14.

[6] Muhammad ibn Ali al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila tahqiq al-Haqq min Ilm Ushul, h. 29.
[7] Fazlur Rahman, Islam terj, Ahsin Muhammad,(Bandung:Pustaka,1984), h.116.
[8] Philip K. Hitti, History of the Arabs,(London: The Macmillan Press,1974), h, 126.
[9] Hudhari Bik, Tarikh al-Tasyri' al-Islami,terj Drs.Mohammad Zuhri(Darul Ikhya,1980), h, 5.
[10] Departemen Agama RI. Al Quran.......h, 22.
[11] Departemen Agama RI. Al Quran......h, 145.
[12] Departemen Agama RI, Al-Quran dan ........h, 479.
[13] Departemen Agama RI, Al-Quran dan .........h, 37.
[14]Husnul Khatimah, Penerapan Syariah Islam, (Jogyakarta: Pustaka pelajar,2007),
h, 48.

[15] Departemen Agama RI, Al-Quran dan .h, 219.


[16] Departemen Agama RI, Al-Quran dan .h, 27.
[17] Departemen Agama RI, Al-Quran dan .h, 67.
[18] Departemen Agama RI, Al-Quran dan.h, 96.
[19] Muh Zuhri Hukum Islam dalam Lintasan. h, 16.

[20] Departemen Agama RI, Al-Quran dan.h, 31.


[21] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung:Syaamil Cipta Media 2005), h, 38.
[22] M Ali As-Sayis, Tarikh Al-Islam Al-Islamiah (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2003), h, 46.
[23] Husnul Khotimah, Penerapan Syariah., h, 51.
[24] Husnul Khotimah, Penerapan Syariah , h, 52.
[25] Husnul Khotimah, Penerapan Syariah , h, 54.
[26] Muhammad Ali As-Sayis, Tarikh Al-Islam .h, 48.
[27] Departemen Agama RI. Al Quran. h, 105.
[28] Departemen Agama RI. Al Quran. h, 221.
[29] Departemen Agama RI. Al Quran. h, 265.
[30]Departemen Agama RI. Al Quran. hlm 62
[31]Departemen Agama RI. Al Quran. hlm 436
[32]Departemen Agama RI, Al Quran. h, 286.
[33] Departemen Agama RI, Al Quran. h, 69.
[34] Husnul Khotimah, Penerapan h, 55.
[35]Husnul Khotimah. Penerapan h, 58.
[36] A Munin Sirry, Sejarah Fiqih.h,28.
[37] Departemen Agama RI, Al Quran. h, 420.
[38] Muh Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah. (Jakarta. PT Raja Grafindo. 1996).h, 28.