You are on page 1of 18

ANATOMI DAN FISIOLOGI JANTUNG

1.1 ANATOMI JANTUNG


Jantung adalah organ yang terletak dalam cavum pericardii dan merupakan organ
muscular yang berbentuk conus, berkontraksi secara teratur yang berfungsi untuk memompakan
darah ke seluruh tubuh dari ventricel sinistra melalui aorta ascendens. Jantung dibentuk oleh
organ-organ muskular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan
kiri.
Terletak dalam rongga thorax dalam ruang mediastinum dan dibungkus oleh jaringan ikat
yang dinamakan pericardium. Berat jantung orang dewasa normal (250-300) gram, ukuran
lintang mediastinum (8-10) cm. Jantung berdenyut (60-70) x per menit hampir 90.000-100.000 x
dalam 24 jam sehari terus menerus tanpa henti selama masih hidup.

Gambar 1. Anatomi Jantung

Letak jantung dalam ruang mediastinum adalah sebagai berikut :


a. 1/3 bagiannya : terletak sebelah kanan dari garis linea mediana sternalis (sternum) dan
dapat dilihat bagian-bagian jantung sebagai berikut: atrium dextra, ventricel dextra,
pembuluh darah besar (vena cava superior, inferior, dan aorta ascendens dan sebagian
arcus aorta).
b. 2/3 bagiannya : terletak sebelah kiri dari linea mediana terdapat: ventricel sinistra, atrium
sinistra, dan sebagian ventricel dextra dan truncus pulmonalis dan arcus aorta.
Berdasarkan letak anatomi, organ jantung terdapat dalam cavum thorax diantara kedua
paru dextra dan sinistra yang disebut dengan ruang mediastinum, tepatnya pada mediastinum
media. Jantung dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut pericardium. Pericardium terdiri dari:
a. Pericardium bagian luar disebut lapisan fibrosa, merupakan jaringan ikat kuat dan padat
yang melekat pada diaphragma pada Centrum tendineum Diaphragma Thoracis.
b. Lapisan bagian dalamnya disebut sebagai lapisan serosa. Lapisan fibrosa dan serosa ini
berlanjut ke basis cordis sebagai lapisan tunica adventitia. Pericardium lapisan serosa
terbagi atas dua lapisan:
a) Lamina parietalis, lapisan serosa yang melekat pada bagian dalam lapisan
fibrosa yang menuju basis cordis dan menutupi alat-alat tsb:
Aorta ascendens, vena cava superior, trunkus pulmonalis, dan vena-vena
pulmonalis.
b) Lamina visceralis perikardium serosa adalah lapisan yang langsung menutupi
otot jantung disebut juga epikardium.
Diantara lapisan pericardium parietalis dan visceralis terdapat ruangan yang
disebut cavum pericardii.
Lapisan lapisan jantung secara berurutan dari dalam ke luar adalah:
a. Endokardium (mukosa)
b. Miokardium (jaringan otot)

c. Perikardium ( jaringan ikat fibrosa dan serosa)


Jantung dapat dibedakan dua bagian sebagai berikut:
a. Bagian bawah disebut apex cordis: berbentuk kerucut menunjuk ke arah kiri
depan bawah
b. Bagian atas disebut basis cordis: menunjuk ke arah kanan belakang atas.
Pada jantung terdapat dua buah ruangan serambi, yaitu: atrium dextra dan atrium
sinistra dan dua buah ruangan bilik terdapat ke arah apex cordis yaitu ventricel dextra dan
ventricel sinistra. Antara kedua atrium dibatasi oleh sekat yang dinamakan septum
atriorum, dan di antara kedua ventrikel dinamakan septum interventrikular.
Pada atrium dextra tempat masuk darah yang berasal dari: vena cava superior,
vena cava inferior, dan sinus coronarius. Sedangkan pada atrium sinistra masuk empat
buah vena pulmonalis dextra dan sinistra, berasal dari kedua paru. Dari ventricel dextra
darah dipompakan ke paru melalui truncus pulmonalis yang bercabang menjadi arteria
pulmonalis dextra dan sinistra, sedangkan dari ventricel sinistra memompakan darah ke
seluruh tubuh melalui aorta ascendens.
A. Bagian atrium dextra
a. Osteum vena cava: lubang tempat masuk vena cava superior/inferior
b. Fossa ovalis: lekukan obliterasi dari foramen ovale setelah lahir
c. Auricel dextra: bagian lunak yang berbentuk telinga
d. Valvula vena cava inferior
e. Valvula tricuspidalis (katup atrioventriculare dextra yang terletak antara atrium
dan ventrikel dekstra)
a) Valvula atau cuspis anterior
b) valvula atau cuspis posterior

c) valvula septal
f. M. pectinati: otot dalam atrium
g. Osteum atrioventriculare: antara atrium dan ventricel dextra
h. Valvula sinus coronarius: tempat masuknya darah vena vena jantung
i. Sinus auricular nodde (SA Node): face maker jantung
B. Bagian atrium sinistra
a. Osteum vena pulmonalis
b. Auricel dextra
c. Septum/katup bicuspidalis atau katup mitral (terdapat antara atrium dan
ventrikel sinistra)
a) Valvula atau cuspis anterior
b) Valvula atau cuspis posterior
C. Bagian jantung pada ruang ventrikel:
a. M. papillaris anterior dan posterior: otot yang membuka atau menutup katup
b. Valvula atrioventriculare: katup antara atrium dan ventrikel. Ada dua buah katup
yaitu: valvula tricuspidalis dan valvula bicuspidalis
c. Septum bicuspidalis: sekat untuk perlekatan katup
d. Chorda tendineae: serabut serabut yang menghubungkan katup dan
m.papillaris
e. Myocardium: lapisan otot jantung
f. Aorta ascendens
Trabeculae carneae: dinding bagian dalam yang tidak rata
Vaskularisasi Jantung

Pembuluh darah merupakan keseluruhan sistem peredaran (sistem kardiovaskuler) terdiri


dari arteri, arteriola, kapiler, venula dan vena. Pembuluh arteri berdinding tebal, berotot, dan
elastis untuk menahan tingginya tekanan darah yang dipompa dari jantung. Vena yang membawa
darah kembali ke jantung, berdinding lebih tipis dan mudah teregang, memungkinkannya
mengembang dan membawa darah berjurnlah besar saat tubuh sedang beristirahat. Dinding
dalam pada banyak vena mempunyai lipatan yang berperan sebagai katup searah untuk
mencegah darah bergerak ke arah yang salah.
Aorta Ascendens setelah keluar dari ventrikel kiri pada bagian pangkal, di atas katup
semilunaris aorta mempercabangkan dua buah pembuluh darah untuk mendarahi otot jantung,
terutama terjadi pada saat fase relaksasi ( sebab pada saat kontraksi pembuluh darah jantung
tertekan) Cabang cabang arteria coronaria sebagai berikut:
A. Arteria coronaria dextra dengan cabang:
a. Arteri marginalis untuk mendaarahi atrium dan ventricel dextra
b. Arteri interventrikularis posterior untuk mendarahi kedua dinding belakang
ventrikel, epicardium, atrium dextra, dan SA node.
B. Arteria coronaria sinistra mempercabangkan dua buah yaitu :
a. A. Interventrikulris anterior ( rami descendens anterior ) mendarahi bagian
anterior ventricel dextra dan sinistra dan arteria marginalis sinistra untuk samping
atas ventrikel sinistra.
a. A, circumfleksus mendarahi bagian belakang bawah ventrikel sinistra, atrium
sinistra.
Pada permukaan jantung terdapat tiga buah alur ( sulcus ) , yaitu:
a. Sulcus coronarius : melingkari seluruh permukaan luar jantung, membagi jantung atas
dua bagian atrium dan ventricel. Pada alur tersebut dapat berjalan alat alat sebagai
berikut: A. Coronaria sinistra dan dextra, sinus coronarius, vena cordis parva.

b. Sulcus interventricularis anterior : pada alur ini berjalan A. Interventricularis anterior


dikenal dengan rami descendens anterior, cabang dari A. Coronaria sinistra dan vena
cordis magna. Sulcus ini memisahkan ventricel dextra dan sinistra.
c. Sulcus interventricular posterior: pada alur ini berjalan A. Interventricularis posterior
dikenal dengan rami descendens posterior cabang dari A. Coronaria dextra dan vena
cordis media.
Pembuluh darah balik jantung dikumpulkan pada vena yang dikenal dengan Sinus
Coronarius . Tempat muara dari vena vena jantung, yaitu:
a. vena cordis magna
b. vena cordis parva
c. vena cordis media
d. vena cordis obliq
e. vena posterior ventrikel
Selanjutnya darah dalam sinus coronarius masuk ke dalam atrium dextra melalui osteum
sinus coronarius. Tetapi ada vena jantung yang langsung bermuara ke atrium dextra,
yaitu:
a. vena cordis anterior
b. vena cordis minima
c. vena cava superior
d. vena cava inferior
e. sinus coronarius
Sistem sirkulasi darah pada tubuh manusia setelah lahir:
a. Sirkulasi sistemik

Dimulai dari aliran darah yang telah mengandung oksigen dipompakan dari jantung
( ventrikel sinistra ) aorta ascendens arcus aorta melalui cabang cabang
arteria sedang pembuluh darah kecil sampai ke atriole untuk di bawa ke
seluruh jaringan tubuh melepaskan oksigen.
Selanjutnya darah dikembalikan melalui kapiler vena sistem vena kecil/sedang
vena besar. Darah yang mengandung karbondioksida dikumpulkan melalui vena
cava superior dan inferior masuk ke jantung pada atrium dextra ventrikel
dextra dilanjutkan dengan sirkulasi sisyem pulmonal.
b. Sirkulasi pulmonal
Darah yang mengandung karbondioksida masuk lagi ke jantung dimulai dari
ventrikel dextra truncus pulmonalis arteria pulmonalis dextra dan sinistra
paru masuk oksigen.
Melalui vena pulmonalis dilanjutkan kembali ke jantung (atrium sinistra)
ventrikel sinistra dilanjutkan kembali sirkulasi sistemik

FISIOLOGI JANTUNG
Darah tinggi CO2 dari seluruh tubuh akan bermuara di vena cava superior dan inferior,
kemudian terkumpul di atrium dextra karena katup atrioventrikulare dalam posisi tertutup, disaat
yang sama potensial aksi SA node mencapai treshold dan menjalar ke AV node melalui
internodal pathway. Impuls yang sudah sampai di AV node akan mengkontraksikan otot-otot
atrium, tekanan dalam atrium menjadi lebih tinggi dari tekanan ventrikel sehingga katup terbuka
dan darah meluncur masuk ke ventrikel.
Di dalam ventrikel darah akan ditampung, disaat yang sama impuls dari AV node berjalan
menuju serabut His hingga ke serat-serat purkinje yang ada di subendokardium ventrikel.
Perjalanan impuls ini menyebabkan kontraksi otot-otot ventrikel. Kontraksi otot menyebabkan
diameter ventrikel mengecil, apeks jantung bergerak keatas, tekanan didalam ventrikel lebih
besar dari tekanan atrium sehingga katup atrioventrikulare tertutup dan katup semilunaris
aorta/pulmonalis terbuka, maka darah akan dipompa oleh otot ventrikel untuk bergerak ke aorta
atau ke arteri pulmonalis.
Darah yang sudah terpompa tersebut akan terpacu untuk kembali lagi ke ventrikel karena
pengaruh gaya gravitasi dan tekanan aorta atau pulmonalis lebih besar dari ventrikel, akan tetapi
baliknya darah akan dicegah oleh katup semilunaris masing-masing, dimana katup tersebut akan
tertutup rapat bila tekanan didalam (aorta/arteri pulmonal) lebih besar dari tekanan diluar
(ventrikel).
Darah dari aorta akan disalurkan ke seluruh tubuh karena telah mengandung banyak
oksigen, sementara darah dari arteri pulmonalis akan dioksigenasi oleh paru-paru.

Peran Baroreseptor
Sinus caroticus dan arcus aorta berperan sebagai baroreseptor. Apabila pada suatu kondisi
tekanan arteri meningkat diatas normal, baroreseptor akan meningkatkan kecepatan
pembentukan potensial aksi di neuron aferen masing-masing. Kecepatan pembentukan tersebut
akan dibaca oleh pusat kontrol kardiovaskular kemudian respons dari pembacaan tersebut adalah
diturunkannya aktivitas simpatis dan ditingkatkannya aktivitas parasimpatis ke sistem
kardiovaskular.
Sinyal eferen parasimpatis akan menurunkan kecepatan denyut jantung dan volume
sekuncup, vasodilatasi arteriol dan vena yang berakibat menurunnya curah jantung dan tahanan
perifer total sehingga tekanan darah kembali normal.
Sebaliknya pada kondisi dimana tekanan darah turun dibawah normal, aktivitas
baroreseptor turun kemudian menginduksi pusat kardiovaskular untuk meningkatkan aktivitas
jantung dan vasokonstriktor simpatis sementara menurunkan aktivitas parasimpatis. Eferen
simpatis akan meningkatkan kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup disertai
vasokonstriksi arteriol dan vena. Perubahan ini menyebabkan peningkatan curah jantung dan
tahanan perifer total sehingga tekanan darah yang rendah akan kembali normal.
Aktivitas listrik jantung
Kontraksi sel otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh suatu potensial aksi
yang menyebar melalui membran sel sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara
berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkannya sendiri, suatu sifat yang dikenal sebagai
ototrimitas. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung:
a. 99% otot jantung adalah sel kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa.
Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan suatu potensial aksi

b. Sebagian kecil sisanya merupakan suatu sel otoritmik, tidak berkontraksi tetapi
mengkhususkan diri untuk mencetuskan dan menghantarkan suatu potensial aksi
yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel sel pekerja.
Aktivitas Pemacu sel otot otoritmik
Sel sel otoritmik jantung tidak memiliki potensial istirahat. Sel sel tersebut
memperlihatkan suatu pace maker, yaitu membran mereka secara perlahan mengalami
depolarisasi, atau bergeser antara potensial potensial aksi sampai tercapai ambang, pada
saat membran mengalami potensial aksi.
Penyebab pergeseran ke potensial membran ke ambang mapotensial potensial aksi,
masih belum diketahui. Secara umum diperkirakan bahwa hal tersebut terjadi karena
penurunan siklus fluks positif K+ ke luar yang berlangsung bersamaan dengan kebocoran
Na+ ke dalam. Di sel sel otoritmik jantung, antara potensial potensial aksi, karena
saluran K+ diinaktifkan yang mengurangi aliran ion kalsium positif mengikuti penurunan
gradien konsentrasi mereka. Karena bagian dalam secara bertahap berkurang
kenegatifannya, yaitu membran secara bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser ke
arah ambang. Setelah ambang tercapai, terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respon
terhadap pengaktifan saluran Ca++ dan influks Ca++ kemudian. Fase turun disebabkan
karena efluks K+ yang terjadi karena peningkatan permeabilitas K+ akibat pengaktifan
saluran K+. Setelah potensial aksi usai, inaktifasi saluran saluran K+ ini mengawali
depolarisasi berikutnya.

Sel sel jantung yang mampu mengalami ototrimitas ditemukan di lokasi lokasi berikut
ini:

a. Nodus Sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat lubang
vena cava superior
b. Nodus Atrioventrikel (AV), sebuah berkas kecil sel otot jantung khusus di dasar
atrium kanan dekat septum, tepat di atas pertautan atrium dan ventrikel.
c. Berkas HIS (Berkas Atrioventrikel), suatu jaras sel khusus yang berasal dari
atrioventrikel, tempat berkas tersebut bercabang membentuk berkas kanan dan kiri
yang berjalan ke bawah septum, melingkari ujung bilik ventrikel, dan kembali ke
atrium di sepanjang dinding luar.
d. Serat purkinje, serat terminal halus yang berjalan dari berkas his dan menyebar ke
seluruh miokardium ventrikel seperti ranting ranting pohon.

Potensial aksi di sel otot jantung kontraktil


Tidak seperti sel sel otoritmik, membran sel kontraktil pada dasarnya tetap berada
dalam keadaan istirahat sebesar -90Mv sampai tereksitasi oleh aktivitas listrik yang

merambat dari pemacu. Setelah membran sel kontraktil miokardium ventrikel


tereksitasi, timbul potensial aksi melalui perubahan permeabilitas dan perubahan
potensial membran.
Selama fase naik potensial aksi, potensial membran dengan cepat berbalik ke nilai
positif sebesar +30mV akibat peningkatan mendadak permeabilitas membran terhadap
Na+ yang diikuti oleh influks masif Na+. Permeabilitas Na+ kemudian dengan cepat
berkurang ke nilai istirahatnya rendah tetapi khas untuk sel otot jantung membran
potensial dipertahankan di tingkat positif dan menghasilkan fase datar (plateau phase)
potensial aksi.
Perubahan voltase mendadak yang terjadi selama fase naik potensial aksi menimbulkan
dua

perubahan

permeabilitas

bergantung

voltase

yang

bertanggung

jawab

mempertahankan fase datar tersebut. Pengaktifan salurann Ca++ lambat dan


penurunan permeabilitas K+. Pembukaan saluran Ca++ menyebabkan difusi lambat Ca+
+ masuk ke dalam sel karena konsentrasi Ca++ di CES lebih besar. Influks Ca++ yang
bermuatan positif ini memperlama kepositifan pada bagian dalam sel dan merupakan
penyebab fase datar. Efek ini diperkuat oleh penurunan permeabilitas K+ yang terjadi
secara bersamaan. Penurunan aliran ke luar K+ yang bermuatan positif mencegah
repolarisasi cepat membran dan dengan demikian ikut berperan memperlama fase datar.
Fase turun potensial aksi yang berlangsung cepat terjadi akibat inaktivasi saluran Ca++
dan pengaktifan saluran K+. Penurunan permeabilitas Ca++ menyebabkan Ca++ tidak
masuk lagi ke dalam sel sedangkan peningkatan mendadak permeabilitas K+ yang
terjadi bersamaan menyebabkan difusi cepat K+ yang positif ke luar sel. Dengan
demikian, repolarisasi cepat yang terjadi pada akhir fase datar terutama disebabkan oleh

efluks K+, yang kembali membuat bagian dalam sel lebih negatif daripada bagian luar
dan memulihkan potensial membran ke tingkat istirahat.

mekanisme kontraksi dan relaksasi otot jantung


Bunyi pada Jantung
Bunyi jantung normal

Dua bunyi jantung utama dalam keadaan normal dapat didengar selama siklus jantung.
Bunyi jantung pertama bernada rendah, lunak, dan relatif lama, sering dikatakan terdengar
seperti lub. Bunyi jantung dua memiliki nada yang lebih singkat dan tajam, sering dikatakan
terdengar seperti dup. Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup AV,
sedangkan bunyi jantung dua berkaitan dengan penutupan katup semilunaris. Pembukaan katup
tidak menimbulkan bunyi apapun. Bunyi terjadi karena getaran di dinding ventrikel dan arteri
arteri besar ketika menutup, bukan oleh derik penutupan katup. Karena penutupan katup AV
terjadi pada awal kontraksi ventrikel ketika tekanan ventrikel pertama kali melebihi tekanan
atrium, bunyi jantung pertama menandakan awitan sistol ventrikel. Penutupan katup semilunaris
terjadi pada awal relaksasi ventrikel ketika tekanan ventrikel kiri dan kanan turun di bawah
tekanan aorta dan arteri pulmonalis. Dengan demikian, bunyi jantung kedua menandakan
permulaan diastol ventrikel.
Bunyi jantung abnormal
Bunyi jantung abnormal, atau murmur (bising jantung) biasanya berkaitan dengan
penyakit jantung. Murmur yang tidak berkaitan dengan patologi jantung, yang disebut murmur
fungsional, lebih sering dijumpai pada usia orang muda. Dalam keadaan normal, darah mengalir
secara laminar, yaitu mengalir dengan mulus dalam lapisan yang berdampingan satu sama lain,
namun apabila aliran darah menjadi turbele, dapat terdengar bunyi. Bunyi abnormal tersebut
disebabkan oleh getaran yang terbentuk di struktur di sekitar aliran yang bergolak tersebut.
Penyebab tersering turbulensi adalah malfungsi katup, baik katup stenotik atau insufien. Katup
stenotikadalah katup kaku dan menyempit dan tidak membuka secara sempurna. Darah harus
dipaksa melewati lubang yang menyempit dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga terjadi
turbulensi yang menimbulkan bunyi yang abnormal.

Katup insufien adalah katup yang tidak dapat menutup sempurna, biasanya karena tepi tepi
daun katup mengalami jaringan parut dan tidak pas satu sama lain. Turbulensi terjadi sewaktu
darah mengalir berbalik arah melalui katup yang insufien dan bertumbukan dengan darah yang
mengalir dalam arah berlawanan, menimbulkan murmur yang berdesir. Aliran darah balik
demikian dikenal dengan regurgitasi. Biasanya katup yang insufien disebut katup bocor, yang
memungkinkan darah mengalir balik pada katup seharusnya tertutup.
Katup yang terkena dan jenis defek biasanya dapat dideteksi berdasarkan lokasi dan waktu
murmur. Setiap katup jantung dapat terdengar paling jelas di lokasi lokasi tertentu di dada.
Waktu murmur mengacu pada bagian siklus jantung selama murmur terdengar. Dengan adanya
anggapan bahwa bunyi jantung satu merupakaan permulaan sistol, dan bunyi jantung dua
merupakan permulaan diastol ventrikel. Jadi, suatu murmur yang terjadi antara bunyi jantung
pertama dan kedua mengisyaratkan murmur sistolik. Murmurr diastolik terjadi antara bunyi
jantung kedua dan pertama. Bunyi murmur menandakan apakah murmur bersifat stenotik atau
insufien.

Peristiwa mekanik jantung


Fase fase jantung
1. Diastol ventrikel
Selama diastol ventrikel dini, atrium juga masih berada dalam keadaan diastol, karena
aliran masuk darah yang kontinu dari sistem vena ke dalam atrium, tekanan atrium sedikit
melebihi tekanan ventrikel walaupun kedua bilik tersebut melemah, karena perbedaan
tekanan ini katup AV terbuka dan darah mengalir langsung dari atrium ke dalam ventrikel
akibatnya volume ventrikel meningkat bahkan sebelum atrium berkontraksi. Pada akhir
diastol SA Node mencapai ambang dan membentuk potensial aksi.
2. Depolarisasi atrium
Menimbulkan kontraksi atrium dan memeras lebih banyak darah ke ventrikel. Sehingga
terjadi peningkatan kurva tekanan atrium selama kontraksi atrium, tekanan atrium tetap
sedikit lebih tinggi dari pada tekanan ventrikel sehingga katup AV terbuka.
Diastol ventrikel berakhir pada awal kontraksi. Ventrikel pada saat ini kontraksi atrium
dan pengisian ventrikel telah selesai. Volume darah di ventrikel pada akhir diastol dikenal
sebagai EDV = 135 ml.
3. Kontraksi ventrikel 150 volumetrik
Ketika kontraksi ventrikel dimulai tekanan ventrikel segera melebihi tekanan atrium.
Perbedaan tekanannya terbalik mendorong katup AV tertutup. Setelah tekanan ventrikel
melebihi tekanan atrium dan katup AV telah tertutup, tekanan tersebut dapat melebihi
tekanan aorta untuk membuka katup aorta dengan demikian terdapat periode waktu

singkat antara penutupan katup AV dan pembukaan katup aorta pada saat ventrikel
menjadi suatu bilik tertutup, karena semua katup tertutup, tidak ada darah yang masuk
ataupun keluar ventrikel, volume balik ventrikel tetap dan panjang serat serat otot juga
tetapi tekanan ventrikel terus meningkat sementara volume tetap.
4. Ejeksi ventrikel
Pada saat tekanan ventrikel melebihi tekanan aorta katup aorta dipaksa membuka dan
darah mulai menyemprot kurva tekanan aorta meningkat ketika darah dipaksa berpindah
dari ventrikel ke dalam aorta lebih cepat dari pada darah mengalir ke pembuluh
pembuluh yang lebih kecil di ujung yang lain. Volume ventrikel berkurang secara drastis
sewaktu darah dengan cepat dipompa keluar. Sistol ventrikel mencakup periode kontraksi
iso volumetrik dan fase ejeksi ventrikel. Ventrikel tidak mengosongkan diri secara
sempurna dalam penyemprotan. Jumlah darah yang tersisa di ventrikel disebut sebagai
ESV = 65 ml.
5. Relaksasi volume isovolumetrik
Ketika ventrikel mulai berelaksasi karena repolarisasi tekanan ventrikel di bawah tekanan
aorta dan katup aorta menutup. Penutupan katup aorta menimbulkan gangguan pada
kurva tekanan aorta. Yang dikenal sebagai takik dikrotik. Tidak ada lagi darah yang
keluar dari ventrikel selama siklus ini karena katup aorta telah tertutup. Namun katup AV
belum terbuka karena tekanan ventrikel masih lebih tinggi dari atrium dengan demikian
semua katup sekali lagi tertutup dalam waktu singkat yang disebut sebagai relaksasi
ventrikel isovolumetrik.