You are on page 1of 21

ANATOMI DAN FISIOLOGI JALAN LAHIR

Jalan lahir terdiri dari atas panggul ibu , yakni bagian tulang padat , dasar panggul, vagina,
dan introitus ( tulang luar vagina ). Meskipuan jaringan lunak khususnya lapisan otot dasar
panggul , ikut menunjang kelaurnya bayi, tetapi panggul ihu jauh lebih berperan dalam proses
persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relative kaku
, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan di mulai.
Jalan lahir di bagi atas:
1. Bagian tulang Terdiri atas tulang- tulang panggul ( artikulasio ).
2. Bagian lunak terdiri atas otot- otot , jaringan, dan ligament.

1. Tulang panggul
Terdiri dari :
1. Os,koksa yang terdiri atas
Os, illium ( Krista illiaka, spina ischiadika anterior posterior, spina illiaka anterior
inferior, spina illiaka posterior inferior dan spina illiakaposterior superior.
-

Os.iskium

Os. Pubis

Terdapat empat sendi panggul yakni simfisis pubis,sendi sakroiliaka kiri dan kanan dan sendi
sakrokoksigeus.
1. Os. Sacrum
2. Os. Koksigis
Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian yang disebut pelvis mayor dan pelvis minor.
Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak di atsa linea terminalis disebut juga valse
pelvis . pelvis minor adalah bagian terletak du bawah linea terminalis atau di sebut true
pelvis. Bentuk pelvis minor menyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung
ke depan. (sumbu carus)
Sumbu ini merupakan gatis menghubungkan titk persekutuan antara diameter tranversa dan
kunjungata vera pada pintu atas panngul dengan titik sejenis di hotke II,III dan IV.

Sampai dekat hot ke III sumbu itu lurus , sejajar dengan sacrum , utnuk seterusnya
melengkung ke de hal inpan , ssaui lengkungan sacrum .halini penting untuk diketahui bila
kelak mengakhiri persalinan dengan cunam agar arah penarikan cuman itu disesuaikan
dengan jalanya sumbu jalan lahir pintu atas panggul ( pelvi inlet) saluran ini normal
berbentuk hamper bulat. Bidang bawah saluran ini tidak merupakan suatu bidang seperti
pintu atas panggul, akan tetapi terdiri dari 2 bidang dis ebut pintu bawah opanngul (pelvi
outlet)
Di antara ke 2 pintu ini tedapat ruang panggul ( pelvi cafiti). Ruang panggul mempunyai
ukuran paling luas di bawah pintu atas panggul, akan tetapi menyempit pada ruang tengah
untuk kemudian menjadi luas lagi sedikit. penyempitan di panggul tengah ini disebabkan
oleh adanya spuna isdiadika yang kadang menonjol dalam ruang panggul.
Dalam obstetric dikenal empat jenis panggul berdasarkan ciri- ciri pintu atas panggul :
1. Ginekoid : panggul paling baik untuk wanita, bentuk pintu atas panggul hamper
bulat.
2. Android : bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Panjang diameter antero
posterior hamper sama dengan diameter transversa, akan tetapi jauh lebih mendekati
sarkum.
3. Anthropoid: bentuk pintu atas panggul agak lonjong seperti telur.
4. Platopelloid: merupakan jenis ginekoid yang mengimpit pada arah muka dan
belakang.

Ukuran ukuran luar panggul


Pengukuran ini bertujuan untuk menentukan jenis ukuran, bentuk, dan garis besar dari
panggung.
Yang di ukur adalah :
1. Distansia spinarum(kurang lebi 24 cm-26 cm): jarak antara kedua spina iliaka anterior
superior sinistra dan dextra
2. Distansia kristarum(kurang lebih 28 cm-30 cm): jarak terpanjang anta dua tempat
yang simetris pada Krista ilaka sinistra dan dextra
3. Distansia oblikua eksterna: jarak antara spina iliaka posterior sinistra dan spina iliaka
anterior superior dextra dan dari spina iliaka posterior dextra ke spina iliaka anterior
superior sinistra. Kedua ukuran ini bersilang.
4. Distansia intertrokanterika: jarak antara kedua tronkanter mayor.
5. Konjugata eksterna(kurang lebih 18 cm): jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus
spinosus lumbal 5

6. Distansia tuberum(kurang lebih 10,5 cm): jarak antara tuber iski kanan dan kiri
.
Bagian lunak jalan lahir
Pada kala pengeluaran ( kala II) ikut memebentuk jalan lahir segmen bawah uterus, servikc
uteri dan vagina. Pada akhir kehamilan 38 minggu serviks lebih pendek dari pada waktu
kehamilan 16 minggu. Umumnya serviks disebut matang bila teraba sebagai bibir pada
kehamilan 34 minggu.
Disamping uterus dan vagina otot otot, jaringan jaringan ikat, dan ligament yang berfungsi
menyokong alat alat urogenitalis perlu diketahui oleh karena semuanya mempengaruhi jalan
lahir dan lahirnya kepala atau bokong pada partus.
Otot otot yang menahan dasar panggul bagian luar adalah muskulus spingterani eksternum,
muskulus bulbokafernosus yang melingkari vagina, dan muskulus perinea transfersus
superfisialis. Terdapat juga otot otot yang melingkari vagina bagian tengah dan anus antara
lain muskulus iliokogsigeus, muskulus iskiofoksigeus, muskulus perinea transfersus
profundus, dan muskulus koksigeus. Lebih dalam lagi ditemukan otot dalam yang paling kuat
di sebut diafragma pelvis.
Perinium
Perineum adalah jaringan yang terletak disebelah distal diagfragma pelvis.perinium
mengandung sejumlah otot supervisial, vaskuler, dan berisi jaringan lemak. Saat persalinan,
otot ini sering mengalami kerusakan ketika janin dilahirkan.

Passage atau jalan lahir terdiri dari bagian keras (tulang-tulang panggul dan sendi-sendinya)
dan bagian lunak (otot-otot, jaringan, dan ligament). Tulang tulang panggul meliputi dua
tulang pangkal paha (ossa caxae), 1 tulang belakang (ossa sacrum), dan 1 tulang tungging
(ossa coxygis).
Ukuran panggul bagian luar meliputi:
1. Distantia spinarum: jarak antara SIAS (spina Iliaka Anterior Superior) kiri dan kanan
(23-26 cm)
2. Distantia kristarum: jarak yang jauh antara Krista iliaka kanan dan kiri (26-29 cm)
3. Konjugata eksterna: jarak antara tepi atas simfisis dan ujung prosessus spinosus ruas
tulang lumbal V (18-20cm)
4. Ukuran lingkar panggul : dari pinggir atas simfisis ke pertengahan antara SIAS dan
trokantr mayor sepihak dn kembali melalui tempat-tempat yang sama di pihak yang
laik (80-90 cm).

Jalan lahir bagian lunak meliputi SBR (segmen bawah rahim), serviks uteri, vagina, otot-otot,
jaringan ikat dan ligament yang menyokong alat-alat urogenital. Otot-otot yang menahan
dasar panggul:
1. Bagian luar:
1. M.Sfingter ani eksternus
2. M.Bulbokavernosus (melingkari vagina)
3. M. perinea trans superfisialis
4. Bagian tengah
1. M. Sfingter urethrae (melingkari urethra)
2. M. iliokoksigeus
3. M. iskiokksigeus
4. M. perinea transverses
5. M. koksigeus
6. Bagian dalam adalah M.levator ani (menahan dasar panggul),
menutupi hampir seluruh bagian belakang pintu bawah panggul
(PBP/diafraghma pelvis). Bagian depannya berbentuk segitiga yang
disebut trigonum urogenitalis (hiatus genetalis) yang di dalamnya
berada urethra, vagina, dan rectum. Diafragma pelvis meliputi M.
levator ani (pars muskularis) dan pars membranasea, yaitu diafragma
urogenitalis yang terdiri dari perineal facia, otot-otot superficialis

Pembagian bidang panggul meliputi:


1. Pintu atas panggul (PAP) atau pelvic inlet.
2. Bidang luas panggul
3. Bidang sempit panggul (mid pelvic)
4. Pintu bawah panggul (PBP)
Dari bentuk dan ukurang berbagai bidang rongga panggul, rongga ini merupakan saluran
yang tidak sama luasnya di antara tiap-tiap bidang. Bidang yang terluas dibentuk pertengahan
simfisis dengan os sacral I-III, sehingga kepala janin dimungkinkan bergeser melalui PAP
masuk ke dalam ruang panggul jika sudut antara sacrum dan lumbal, yang disebut inklinasi,
lebih besar.

Dengan demikian, tulang jalan lahir sangat menentukan proses persalinan apakah dapat
berlangsung melalui jalan biasa atau melalui tindakan operasi. Yang perlu mendapat perhatian
adalah kemungkinan ketidakseimbangan antara kepala jann dan jalan lahir dalam bentuk
disproporsi sefalopelvic. Kemungkinan disproporsi sevalopelvic terjadi terutama pada
primigravida dengan criteria sebagai berikut:
1. Kepala janin belum turun pada minggu ke-36 yang disebabkan janin terlalu besar,
panggul sempit, terdapat lilitan tali pusat dan terdapat hidrosefalus.
2. Kelainan letak (letak lintang, letak sungsang)
3. Pada multipara kemungkinan panggul sempit dapat diduga dari riwayat persalinan
yang buruk dan persalinan dengan tindakan operasi.
Dengan pertimbangan keadaan tersebut, dapat diperkiraan persalinan akan mengalami
kesulitan sehingga perlu dikonsultasikan atau segera dirujuk agar mendapat penanganan yang
adekuat. Pada jalan lahir lunak dapat terjadi ganguan, yaitu:
1. Pembukaan serviks
1. Serviks yang kaku. Terdapat pada primi tua primer atau sekunder. Serviks
yang mengalami banyak cacat perlukaan atau sikatrik.
2. Serviks gantung. Ostium uteri eksternum terbuka lebar, namun ostium uteri
internum tidak terbuka. Ostium internum terbuka, namun ostium uteri
eksternum tidak terbuka
3. Edema serviks. Terutama karena panggul sempit, serviks terjepit antara kepala
dan jalan lahir sehingga teradi gangguan sirkulasi darah dan cairan yang
menimbulkan edema serviks.
4. Serviks dupleks karena kelainan congenital.
5. Vagina. Kelainan yang dapat mengganggu perjalanan persalinan:
1. Septum vagina (transvaginal septum vagina, longitudinal septum
vagina)
2. Tumor pada vagina
3. Hymen dan perineum. Kelainan hymen imperforate, atau hymen elastic
pada perineum, yaitu kekakuan pada hymen sehingga memerlukan
episiotomy yang luas.

Pintu Atas Panggul


Batas- batas pintu atas panggul (PAP) adalah promontorium, sayap sacrum, linea innominata,
ramus superior osis pubis, dan tepi atas simfisis. Ukuran-ukuran PAP:

1. Ukuran muka- belakang/ diameter antero-posterior/ konjugata vera (CV) adalah dari
promontorium ke pinggir atas simfisis >11 cm. cara mengukur: CV= CD
CD: konjugata diagonalis (jarak antara promontorium ke tepi atas simfisis)
1. Ukuran melintang adalah ukuran terbesar antara linea iniminata diambil tegak lurus
pada konjugata vera (12,5 13,5)

1. Ukuran serong, dari artikulasio sakroiliaka ke tuberkulum pubikum dari belahan


panggul yang bertentangan.

Pintu atas dan pintu bawah panggul

Bidang Luas Panggul


Bidang luas pangul adalah bidang dengan ukuran-ukuran yang terbesar.Terbentang antara
pertengahan asetabulum dan pertemuan antara ruas sacral II dan III. Ukuran muka-belakang
12,75 cm dan ukuran melingtang 12,5 cm.

Bidang Sempit Panggul


Bidang sempir panggula adalah bidang dengan ukuran-ukuran yang terkecil.Terdapat setinggi
tepi bawah simfisis, kedua spina iskiadika dan memotong sacrum 1-2 cm diatas ujung
sacrum. Ukuran muka- belakang 11,5 cm, ukuran melintang 10 cm, dan diameter sagitalis
posterior (dari sacrum ke pertengahan antara spina ischadica 5 cm.

Pintu Bawah Panggul


Pintu awah panggul (PBP) terdiri dari 2 segituga dengan dasar yang sama, yaitu garis yang
menghubungkan kedua tuberiskiadikum kanan dan kiri. Puncak segitiga belakang adalah
ujung os sacrum , sedangkan puncak segitiga depan adalah arkus pubis. Ukuran PBP;
1. Ukuran muka-belakang. Dari pinggir bawah simfisis ke ujung sacrum (11,5)
2. Ukuran meligtang antara tuberiskiadikum kiri dan kanan sebelah dalam (10,5)

3. Diameter sagitalis posterior, dari ujung sacrum ke pertengahan ukuran melintang (7,5
cm)
Power
Power (his dan tenaga meneran) adalah kekuatan hs atau kontraksi dan kekuatan mengejan
ibu yang sangat penting dalam proses persalinan. Tiap his dimulai sebagai gelombang dari
salah satu sudut (tuba) masuk ke dalam dinding uterus.Ditemat tersebut ada suatu pacemaker
tempat gelombang his berasal.Gelombang bergerak ke dalam dan kebawah dengan kecepatan
2 cm/detik untuk mengikutsertakan uterus.
Sifat his yang sempurna dan efektif:
1. Adanya koordinasi dari gelombang kontraksi, sehingga kontraksi simetris
2. Kontraksi paling kuat atau adanya dominasi di fundus uteri
3. Sesudah tiap his, otot-otot korpus uteri menjadi lebih pendek dari sebelumnya
(mengadakan retraksi0sehingga serviks tertarik dan membuka karena serviks kurang
mengandung otot.
4. Adanya relaksasi.
Frekuensi his adalah jumlah his dalam waktu tertentu, biasanya dihitung dalam waktu 10
menit.Misalnya, pada akhir kala I frekuensi his menjadi 2-4 kali kontraksi dalam 10 menit.
Amplitudo/ intensitas his adalah kekuatan his (satuannya mmHg):
1. Pada saat relaksasi :6-12 mmHg
2. Pada akhir kala I: 60 mmHg
3. Pada akhir kala III: 60-80 mmHg
Aktivitas uterus adalah amplitude dikali frekuensi his yang diukur dengan unit
Montevideo.Durasi his adalah lamanya setiap his berlangsung (detik).Lamanya his terus
meningat, mulai dari hanya 20 detik pada pemulaan partus sampai 60=90 detik pada akhir
kala I atau permulaan kala II.Interval adalah waktu relaksasi/jangka waktu antara 2 kontaksi.
Pada kala II, dengan adanya tenaga mengedan dari ibu, semakin senambah kekuatan uterus
yang sudah optimum dengan mengadakan kontraksi diafragma dan otot-otot dinding
abdomen. Kekuatan yang ada pada ibu akan lebih efisien jika badan ibu dalam keadaan
fleksi. Dagu ibu di dadanya, badan fleksi, dan kedua tangan menarik pahanya dekat ke
lutut.Dengan demikian kepala janin didorong membuka diafragma pelvis dan vulva, dan lahir
dalam prsentasi belakang kepala.

organ- organ yang terlibat dalam proses lahirnya janin adalah uterus, vagina, dan vulva.
1. Uterus

Uterus adalah organ tunggal muscular dan berrongga. Hasil pembuahan antara sperma dan
ovum akan ditanam dalam endometrium uterus setelah mencapai stadium blastula, yaitu
sekitar 3 minggu setelah terjadinya fertilisasi dengan vesika urinaria dan dibagian
belakangnya berbatasan dengan rectum. Umumnya uterus terfleksi ke arah depan dan
teranteversi, sehingga letaknya hampir horizontal dengan vesika urinaria. Uterus ditopang
oleh lipatan peritoneal, ligament besar yang melekat uterus pada dinding pelvis. Ligament
cardinal dan uterosacral juga ikut menopang letak uterus di rongga pervis. Struktur uterus:
dinding uterus terdiri atas tiga lapis:
1)

Peritoneum: lapisan terluar, merupakan lapisan serosa

2)

Miometrium : lapisan tengah, merupakan kumpulan sel-sel otot polos

3)

Endometrium : lapisan terdalam, memiliki 2 lapisan lagi

4)
Superficialis : mengalami perubahan selama masa menstrusi, dibentuk oleh lapisan
basal. Meluruh bersama dengan darah menstruasi saat fase sekresi. Memiliki respon terhadap
hormone gonadotropin seperti estrogen dan progresteron. Hasil implantasi berupa blastula,
akan ditanam pada lapisan ini.
5)
Basalis: lapisan dasar endometrium, tetap dan tidak berubah selama masa menstruasi.
Membentuk lapisan superficial selama fase proliferasi dari siklus menstruasi
6)
Fundus uterus : bagian paling atas dari uterus berbentuk bundar. Aktif melakukan
kontraksi saat partus, yang disebut sebagai His uterus. Berbatasan dengan 2 isthmus dari tuba
uterine disisi kiri dan kanan
7)
Corpus uterus : bagian luas berdinding tebal, menutupi rongga uterus. Membesar dan
membengkak saat kehamilan.
8)
Servix: suatu bagian sempit di paling bawah uterus yang membatasi antara uterus dan
vagina. Mensekresi getah servix, dan jika didapati gambaran daun pakis pada pemeriksaan
mikroskopis getah tersebut, maka itu adalah penanda terjadinya ovulasi. Di dekat servix,
terdapat suatu bagian yang di sebut squamo-columnar junction, dimana sel-sel epitel
squamous vagiana berubah secara mendadak ke sel-sel columnar uterus, dan pada bagian ini,
mudah terjadi metaplasia, sehingga mengakibatkan kanker servix.
9)
Porto vaginalis: bagian cervix yang menonjol ke dalam ujung atas vagina. Dapat
digunakan untuk meramalkan posisi janin dalam kandungan, dan penurunan janin terhadap
jalan lahir (system Hodge) uterus mendapatkan suplay darah dari arteru iliaka interna, yang
kemudian bercabang menjadi arteri uterus, lalu dinding uterus, menjadi arteri arkuata.
Bidang Hodge:
H I : bidang datar yg melalui bagian ats simfisis& promontorium
HII : sejajarHodge I, setinggi bagian bwh simfisis
H III : sejajar dgn Hodge I & II, setinggi spina ischiadica dex&sin

H IV : sejajar dengan Hodge I, II dan III, setinggi os koksigis \

1. Vagina
Vagina adalah tuba fibromuskular yang dapat berdistensi.Organ ini merupakan organ organ
kopulasi wanita, dan merupakan jalan lahir janin saat persalinan. Vagina memiliki panjang
sekitar 8-10 cm, dan berbatasan dengan uretra pada bagian anterior, dn rectum pada bagian
posterior. Vagina tersusun atas lapisan adventitia, satu lapis otot polos, dan lapisan otot
squamous non keratinisasi/lapisan vaginal.Sel-sel pada lapisan vaginal memiliki reseptor
estrogen pada membrannya.Vagina dilembabkan oleh cairan secret dari kelenjar-kelenjar di
serviks.Suasana vagina pada dasarnya adalah asam (PH<7). Suasana asam ini berfugsi
sebagai pertahanan untuk mencegah infeksi pada vagin, dan merupakan barrier seleksi
sperma yang paling awal. Flora normal yang sering ditemukan pada wagina adalah
lactobacillus sp. Bakteri ini sering membantu menjaga prose keasaman vagina. Jika
keberadaan flora normal tersebut terganggu akibat penggunaan kortikosteroid ataupun
antibiotic spectrum luas yang berlebihan dalam waktu lama, ataupun kerena menurunnya
secret cairan asam dari cervix, maka vagina dapat terinfeksi oleh bakteri oleh pathogen,
ataupun virus

1. Vulva
Vulva adalah genitalia eksterna wanita. Beberapa alat yang terdapat pada vulva adalah:
1)
Mons pubis: bantalan jaringan lemak dan kulit yang terletak di atas simfisi pubis.
Bagian ini tertutup rambut setelah mencapai usia pubertas
2)
Labia mayora: dua lipatan longitudinal yang merentang ke bawah mons pubis dan
menyatu di posterior peritoneum (kulit antara pertemuan dua lipatan labia mayora dengan
anus). Labia mayora homolog dengan skrotum pada laki-laki
3)
Labia minora: dua lipatan kulit di antara labia mayora, tidak berambut, dan memiliki
beberapa kelenjar keringat sebasea.
4)
Klitoris: homolog dengan penis laku- laki, memilliki 2 batang, 1 akar, dan gland clitoris
yang mengandung banyak ujung serabut saraf dan sangat sensitive.
5) Vestibula: area yang dikelilingi labia minora. Menutupi mulut urthra, mulut vagina, dan
duktur kelenjar bartolini
6)

Orifisium urethra: ujung urethra, temat keluarnya air seni dari saluran kemih

7)

Mulut vagina: terletak dibawah orifisium urethra, mempunyai hymen/selaput dara.

Definisi Presentasi Bokong

Presentasi bokong adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di
fundus uteri dan bokong berada dibawah kavum uteri.(20)
Presentasi bokong adalah letak membujur dengan kepala janin di fundus uteri.(7)
Presentasi bokong adalah letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas. Panggul
janin merupakan katup bawah dan penunjuknya adalah sakrum.(18)

Gambar 2.1 Presentasi Bokong


2.1.2 Klasifikasi Presentasi Bokong
Klasifikasi presentasi bokong menurut Liu (2008) adalah:
1. Ekstensi (Frank Breech)
Posisi ini paling sering ditemukan yang terjadi sebesar 75% kejadian presentasi bokong
pada primigravida dan 50% pada multigravida. Penempelan yang baik terhadap serviks
mungkin dilakukan tetapi tungkai yang ekstensi dapat membebat janin yang menghambat
fleksi lateral tubuh. Kelahiran tungkai memerlukan bantuan.
2. Presentasi Bokong Sempurna (Complete Breech)
Terjadi terutama pada ibu multigravida dengan diameter pelviks baik atau pada gestasi
multipel terdapat resiko prolaps tali pusat. Proses persalinan secara spontan atau melalui
ekstremitas bawah yang mudah mungkin dapat dilakukan.
3. Presentasi Bokong Tidak Sempurna (Incomplete Breech)

Presentasi ini jarang terjadi. Terdapat penempelan yang buruk pada serviks sehingga
memiliki resiko yang lebih tinggi terjadinya prolaps tali pusat. Presentasi ini dapat
mengindikasikan kesulitan dalam penurunan sehingga direkomendasikan kelahiran dengan
sectio sesaria.

2.1.3 Epidemiologi Presentasi Bokong


Kejadian presentasi bokong sekitar 3-4% tetapi memiliki angka morbiditas dan
mortalitas janin yang tinggi. Angka Kematian Bayi akibat presentasi bokong di negara
berkembang masih sangat tinggi daripada persalinan letak kepala yaitu 12-14 %. Menurut
laporan dari Easment, presentasi bokong ditemukan kira-kira 2-4%. Greenhill melaporkan
sebanyak 4-4,5% kejadian presentasi bokong, kemudian Holland melaporkan sebanyak 23% kejadian presentasi bokong.(20) Presentasi bokong terjadi pada 25% dari persalinan yang
terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi pada 7% persalinan yang terjadi pada
minggu ke 32 dan terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm. Sebagai
contoh 3,5 persen dari 136.256 persalinan tunggal mulai tahun 1990 sampai 1999 di
Parkland Hospital merupakan presentasi bokong. (22)
2.1.4 Patofisiologis
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan
dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif
lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian
janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban
relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada kepala,
maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan

kepala berada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat
dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam
presentasi kepala.(7)
2.1.5 Etiologi Presentasi Bokong
Menurut Winkjosastro (2007) penyebab terjadinya presentasi bokong adalah:
1. Dari Faktor Ibu
Presentasi bokong disebabkan oleh multiparitas, plasenta previa dan panggul sempit.
2. Dari faktor Janin
a. Hidrosefalus atau anensefalus
b. Gemelli
c.

Hidramnion atau Oligohidramnion

d. Prematuritas
Menurut Manuaba (2008) penyebab terjadinya presentasi bokong adalah:
1. Panggul sempit
2. Lilitan tali pusat atau tali pusat pendek
3. Kelainan uterus (uterus arkuatus, uterus duktus, uterus dupleks)
4. Terdapat tumor di pelvis yang mengganggu masuknya kepala janin ke PAP,
5. Plasenta previa
6. Gemeli
2.1.6 Diagnosa Presentasi Bokong
Menurut Rukiyah dan Yulianti (2010), untuk menegakkan diagnosa maka yang harus
dilakukan adalah:
a.

Anamnesa

Pergerakan anak teraba oleh ibu di bagian perut bawah, ibu sering merasa ada benda keras
yang mendesak tulang iga dan rasa nyeri pada tulang iga karena kepala janin.
b. Palpasi
Teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus. Punggung dapat teraba pada salah
satu sisi perut, bagian kecil pada sisi yang berlawanan, di atas symphisis teraba bagian yang
kurang bundar dan lunak.
c.

Auskultasi
Denyut Jantung Janin (DJJ) sepusat atau ditemukan paling jelas pada tempat yang lebih
tinggi (sejajar atau lebih tinggi dari pusat).

d. Vagina Toucher
Terbagi 3 tonjolan tulang yaitu tubera os ischii dan ujung os sacrum, anus, genitalia anak jika
edema tidak terlalu besar dan dapat diraba.

e.

Perbedaan antar letak sungsang dan kepala pada pemeriksaan.


Jika anus posisi terendah maka akan teraba lubang kecil, tidak ada tulang, tidak menghisap,
keluar mekonium. Jika presentasi kaki maka akan teraba tumit dengan sudut 90 terasa jarijari. Pada presentasi lutut akan terasa patella dan popliteal. Pada presentasi mulut maka akan
terasa ada hisapan di jari, teraba rahang dan lidah. Presentasi tangan dan siku: terasa jari
panjang, tidak rata, patella (-).

f.

Untuk menentukan perbedaan tangan dan kaki:


Pada kaki ada kalkaneus, sehingga terdapat tonjolan tulang yaitu mata kaki dan kalkaneus.
Pada tangan ada mata di pergelangan tangan. Kaki tidak dapat diluruskan tehadap tungkai,
jari kaki jauh lebih pendek dari telapak kaki.

2.1.7 Komplikasi Presentasi Bokong


Menurut Rukiyah dan Yulianti (2010), komplikasi presentasi bokong meliputi:

1. Bagi Ibu
a.

Robekan perineum lebih besar.

b. Jika ketuban pecah dini dapat terjadi partus lama.


b. Infeksi.
2. Bagi janin
Adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong dan perut lahir karena tali pusat
terjepit.
Menurut Manuaba (2008), komplikasi presentasi bokong pada bayi adalah sebagai
berikut:
a.

Dapat menurunkan IQ bayi.

b. Perdarahan intrakranial.
c.

Asfiksia.

d. Aspirasi air ketuban.


e.

Meningitis.

f.

Dislokasi persendian.

g. Fraktur ekstremitas.
2.1.8 Penatalaksanaan Presentasi Bokong
1. Penatalaksanaan Selama Hamil
Bila pada masa antenatal ditemui presentasi bokong terutama pada primigravida,
hendaknya dilakukan versi luar menjadi presentasi kepala. Versi luar biasanya dilakukan pada
pada kehamilan antara 34-38 minggu. Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke 34
belum perlu dilakukan, karena janin masih dapat memutar sendiri, sedangkan setelah minggu
ke 38, versi luar sulit berhasil karena janin sudah besar dan jumlah air ketuban relatif sudah
berkurang.

Sebelum melakukan versi luar, diagnosis letak janin harus pasti sedangkan denyut
jantung janin harus dalam keadaan baik. Apabila bokong sudan turun, bokong harus
dikeluarkan dulu dari rongga panggul, tindakan ini dilakukan dengan meletakkan jari-jari
kedua tangan penolong pada perut ibu bagian bawah untuk mengangkat bokong janin. Tetapi
apabila bokong sudah tidak dapat dikeluarkan maka versi luar tidak dapat dilakukan lagi. (20)
Menurut Manuaba (2008), versi luar boleh dilakukan dengan syarat :
1. Saat kehamilan usia kehamilan sekitar diatas 34 minggu dan dibawah 38 minggu, dan belum
masuk PAP.
2. Saat Inpartu: pembukaan kurang dari 4 cm, ketuban masih utuh dan bagian terendah belum
masuk PAP. Keduanya dilakukan di rumah sakit dan bila perlu segera dilakukan secsio
sesaria.
Tehnik versi luar meliputi ekstensi yaitu mengeluarkan bagian terendah dari PAP,
mobilisasi yaitu mengarahkan bokong ke arah perut janin, rotasi yaitu memutar bokong atau
kepala dengan putaran 90 (observasi DJJ), fiksasi yaitu memasukkan kepala ke PAP
sehingga terfiksasi.
Posisi knee-chest tindakan ini dapat dilakukan pada kehamilan sekitar 7-7,5 bulan,
masih dapat dicoba melakukan posisi ini 3-4 kali sehari selam 15 menit. Situasi ruangan yang
masih longgar diharapkan dapat memberi peluang bagi kepala untuk turun menuju PAP.
Dasar pertimbangan kepala lebih berat dari bokong sehingga dengan hukum alam akan
mengarah ke PAP.

2. Pertolongan Persalinan
Menurut Varney (2010), sebelum terjadi persalinan yang sesungguhnya hal-hal
berikut harus sudah dilakukan :

1.

Pemerikasaan abdomen secara cermat, sonografi atau sinar X untuk menyingkirkan


hiperekstensi kepala, hydrosefalus atau presentasi kaki atau mulut.

2. Pembukaan lengkap.
3. Keraguan tentang keadekuatan panggul ibu sudah terjawab.
4. Pengosongan kandung kemih.
5. Episiotomi jika diperlukan.
6. Penentuan upaya mengejan yang baik.
7. Persiapan upaya bayi baru lahir yang lengkap.
8. Pengaturan posisi ibu pada tepi tempat tidur.
9. Kolaborasi dengan dokter.
Menurut Fachrudin (2009) penatalaksanaan persalinan bokong meliputi :
1. Persalinan Spontan (Spontan Bracht)
Persalinan berlangsung dengan tenaga ibu sendiri, tanpa manipulasi penolong
2. Ekstraksi Parsial
Ekstraksi parsial dilakukan jika persalinan sontan tidak berhasil, atau jika scapula inferior
tidak terlihat setelah ibu mengedan sebanyak

2-3 kali. Fase persalinan pada ekstraksi

parsial :
1. Fase lambat
Fase dimana penolong menunggu dengan sabar lahirnya bokong sampai umbilicus, setelah itu
tali pusat dikendurkan.
2. Fase Cepat
Fase dimana penolong harus bertindak cepat, mulai dari lahirnya umbilicus sampai lahirnya
mulut, maksimal waktu adalah 8 menit.
3. Fase Lambat
Fase mulai dari lahirnya mulut, sampai berturut turut lahir hidung, dahi dan seluruh kepala.
Ekstraksi Parsial dapat dilakukan dengan tiga cara:

1. Cara Klasik
Prinsipnya adalah melahirkan bahu belakang terlebih dahulu. Untuk melahirkan bahu
belakang, kedua kaki dipegang dengan satu tangan, di tarik cunam keatas sejauh mungkin ,
dan tangan yang satu lagi melahirkan tangan belakang.
2. Cara Muller
Prinsipnya adalah melahirkan bahu depan terlebih dahulu, kedua tangan penolong memegang
panggul bayi secara femuro-pelvik dan ditarik cunam ke bawah sampai bahu depan lahir,
kemudian ditarik ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
3. Cara Lovset
Prinsipnya adalah melahirkan bahu depan dengan cara memutar badan janin 180 derajat,
kemudian setelah bahu depan lahir, badan janin diputar lagi ke arah berlawanan untuk
melahirkan bahu belakang.
3. Ekstraksi Total
Ada dua macam ekstraksi total, ekstraksi bokong dan ekstraksi kaki.
Ekstraksi bokong dilakukan jika bokong sudah berada di dasar panggul, sedangkan
ekstraksi kaki dilakukan pada presentasi kaki, atau bokong masih dapat dibebaskan dari pintu
atas panggul. Kaki diturunkan dengan cara Pinard.(3)
Menurut Winkjosastro (2007), penatalaksanaan persalinan presentasi bokong adalah
sebagai berikut :
1.

Ditentukan terlebih dahulu apakah ada indikasi untuk melakukan secsio sesaria seperti
kesempitan panggul, plasenta previa,atau ada tumor dalam rongga panggul. Apabila tidak ada
hendaknya dilakukan pengawasan kemajuan persalinan kristeller karena dapat membuat
kedua lengan menjungkit ke atas dan kepala terdorong turun diantara lengan sehingga
menyulitkan kelahiran lengan dan bahu.

2.

Setelah bokong lahir, tidak boleh melakukan tarikan atau dorongan kristeller karena dapat
membuat kedua lengan menjungkit ke atas dan kepala terdorong turun diantara lengan
sehingga menyulitkan kelahiran lengan dan bahu.

3. Pada saat kepala masuk ke dalam rongga panggul tali pusat tertekan antara kepala janin dan
panggul ibu. Dengan demikian lahirnya kepala tidak boleh memakan waktu lebih dari 8 menit
setelah umbilikus lahir. Setelah umbilikus lahir, tali pusat ditarik sedikit sehingga kendor
untuk mencegah teregangnya tali pusat dan tali pusat terjepit antara kepala dan panggul.
4. Untuk melahirkan bahu dan kepala dapat dipilih beberapa tindakan
a. Prasat bracht
Bokong dan pangkal paha janin dipegang dengan 2 tangan kemudian dilakukan
hiperlordosis tubuh janin sehingga lambat laun badan bagian atas, bahu lengan dan kepala
janin dapat dilahirkan. Pada prasat bracht ini, penolong tidak sama sekali melakukan tarikan
dan hanya membantu melakukan proses persalinan sesuai dengan mekanisme persalinan
presentasi bokong. Tatapi prasat bracht tidak selalu berhasil melahirkan bahu dan kepala
sehingga untuk mempercepat kelahiran bahu dan kepala dilakukan manual haid atau manual
hilfe.
b. Cara klasik
Pada dasarnya lengan kiri janin dilahirkan oleh tangan kiri penolong, sedangkan lengan
kanan janin dilahirkan dengan tangan kanan penolong, kedua lengan dilahirkan sebagai
lengan belakang. Bokong dan pangkal paha yang telah lahir dipegang dengan kedua tangan,
badan ditarik ke bawah sampai dengan ujung bawah scapula depan terlihat dibawah
symphisis. Kedua kaki janin dipegang dengan tangan yang berlawanan dengan lengan yang
akan dilahirkan, tubuh janin ditarik ke atas sehingga perut janin ke arah perut ibu tangan
penolong yang satu dimasukkan kedalan jalan lahir dengan menelusuri punggung janin

menuju lengan belakang sampai ke fossa cubiti. Dua jari tangan tersebut ditempatkan sejajar
dengan humerus dan lengan belakang janin dikeluarkan dengan bimbingan jari-jari tersebut.
Untuk melahirkan lengan depan, dada dan punggung janin dipegang dengan kedua
tangan, tubuh janin diputar untuk merubah lengan depan supaya berada di belakang dengan
arah putaran demikian rupa sehingga punggung melewati symphisis kemudian lengan yang
sudah berada di belakang tersebut dilahirkan dengan cara yang sama. Cara klasik tersebut
dilakukan apabila lengan depan menjungkit ke atas atau berada dibelakang leher janin.
Karena memutar tubuh dapat membahayakan janin maka apabila letak bahu normal cara
klasik dapat dilakukan tanpa memutar tubuh janin, sehingga lengan kedua dilahirkan tetap
sebagai lengan depan. Kedua kaki dipegang dengan tangan yang bertentangan dengan lengan
depan untuk menarik tubuh janin kebawah sehingga punggung janin mengarah ke bokong
ibu. Tangan yang lain menelusuri punggung janin menuju ke lengan depan sampai fossa
cubiti dan lengan depan dikeluarkan dengan kedua jari yang sejajar dengan humerus.
c.

Muller
Dengan kedua tangan pada bokong dan pangkal paha, tubuh janin ditarik ke bawah
sampai bahu depan berada di bawah symphisis kemudian lengan depan dikeluarkan dengan
cara yang kurang lebih sama dengan cara yang telah diuraikan di depan, sesudah itu baru
lengan belakang dilahirkan.

d. Lovset
Dasar pemikirannya adalah bahu belakang janin selalu berada lebih rendah daripada
bahu depan karena lengkungan jalan lahir, sehingga bila bahu belakang diputar ke depan
dengan sendirinya akan lahir di bawah symphisis setelah sumbu bahu janin terletak dalam
ukuran muka belakang, dengan kedua tangan pada bokong tubuh janin ditarik ke bawah
sampai ujung bawah scapula depan terlihat di bawah symphisis. Kemudian tubuh janin
diputar dengan cara memutar dada dan punggung oleh dua tangan sampai bahu belakang

terdapat di depan dan tampak dibawah symphisis, dengan demikian lengan dapat dikeluarkan
dengan mudah. Bahu yang lain yang sekarang menjadi bahu belakang, dilahirkan dengan
memutar kembali tubuh janin kearah berlawanana sehingga bahu belakang menjadi bahu
depan dan lengan dapat dilahirkan dengan mudah.
5. Melahirkan kepala
a.

Cara Mauriceau (Viet Smillie)


Badan janin dengan perut ke bawah diletakkan pada lengan kiri penolong. Jari tengah
dimasukkan kedalam mulut janin sedangkan jari telunjuk dan jari manis pada maksila, untuk
mempertahankan supaya kepala janin tetap dalam keadaan fleksi. Tangan kanan memegang
bahu janin dari belakang dengan jari telunjuk dan jari tengah berada di sebelah kiri dan kanan
leher. Janin ditarik ke bawah dengan tangan kanan sampai suboksiput atau batas rambut di
bawah symphisis. Kemudian tubuh janin digerakkan ke atas, sedangkan tangan kiri tetap
mempertahankan fleksi kepala, sehingga muka lahir melewati perineum disususl oleh bagian
kepala yang lain. Perlu ditekankan disini bahwa tangan kiri tidak boleh ikut menarik janin,
karena dapat menyebabkan perlukaan pada mulut dan muka janin.

b. Cunam Piper
Cara ini dianggap lebih baik karena dengan cunam tarikan dilakukan terhadap kepala
sedangkan dengan cara Mauriceau tarikan dilakukan pada leher. Kedua kaki janin dipegang
oleh pembantu dan diangkat ke atas kemudian cunam dipasang melintang terhadap kepala
dan melintang terhadap panggul. Cunam ditarik ke bawah sampai batas rambut dan
suboksiput berada di bawah symphisis, dengan suboksiput sebagai tititk pemutaran, cunam
diarahkan mendatar dan ke atas, sehingga muka janin dilahirkan melewati perineum disusul
oleh bagian kepala yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Anonim. Presentasi Bokong. (Dikutip dari http://medlinux.blogspot.com/. Diakses Tanggal 28


Novenber 2010. Pukul 13. 35 WIB)
2. Benson dan Pernoll. 2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta. EGC
3. Fachrudin, Amir. 2009. Presentasi Bokong. (di kutip dari http://i8.photobucket.com/albums/a46/ef
med2001/emirbannerfix.gif. Diakses tanggal 20oktober 2010. Pukul 13.25)
4. Hidayat, A.A. 2007. Metodologi Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta. Salemba
Medika.
5. Imade. 2008. Penanganan untuk Kehamilan dan persalinan letak sungsang. (Dikutip dari
http://imadeharyoga.com/2008/10/penanganan-untuk-kehamilan-dan-persalinan-letaksungsang/. Diakses tanggal 19 November 2010. Pukul 14.00 WIB)
6. Liu, David. 2008. Manual Persalinan. Jakarta EGC
7. Manuaba, Ida Bagus Gde. 2008. Gawat Darurat Obstetri dan Obstetri Ginekologi Sosial untuk
Profesi Bidan. Jakarta. EGC
8. Profil Depkes RI. 2007
9. Rohani, Dkk. 2010. Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan. Jakarta. Salemba Medika
10. Rukiyah dan yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta. Buku Kesehatan.
11. Sukarsa, Rizkar. 2007. Letak Sungsang. (Dikutip dari http://immahamtaro.wordpress.com/category.
Diakses tanggal 29 November 2010. Pukul 19.35 WIB)
12. Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Jakarta. Salemba Medika.
13. Varney. 2010. Buku Asuhan Kebidanan. Jakarta. EGC
14. Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka sarwono
Prawirohardjo.
15. Yatinem. Asuhan Kebidanan pada Multigravida Letak Sungsang. (Dikutip dari
http://yatinem.wordpress.com/2009/02/22/asuhan-kebidanan-dengan-multigravida-letak
sungsang/. Diakses Tanggal 17 Oktober 2010. Pukul 11.25 WIB)