You are on page 1of 8

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan (Agent

of Change)
20 September 2014 12:24:20 Dibaca : 681 Komentar : 0 Rating : 0
Mahasiswa, satu kata yang menarik dari gabungan kata tersebut adalah kata "Maha" yang
artinya besar. Jika diartikan secara keseluruhan, berarti seorang pelajar yang sudah besar, baik
besar pemikirannya maupun besar tekadnya untuk memanfaatkan ilmunya agar berguna
untuk seluruh umat di mnuka bumi ini. Nah, untuk menjalankan peran sebagai seorang
mahasiswa tidaklah mudah. Mereka harus rela menyisihkan waktu luang dan waktu bermain
mereka karena metode pembelajaran yang sudah tidak sama lagi dengan siswa pada
umumnya. Kalau seorang siswa diberi nasi dan disuruh untuk memakannya, maka beda
halnya dengan seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa hanya diberi padi dan beras, lalu
disuruh memikirkan suatu cara dan alternatif agar beras tersebut bisa dimakan, begitulah
analoginya.

Dengan membaca judul diatas, tentu para pembaca sudah tahu secara garis besar tentang
peranan terpenting dari seorang mahasiswa. Ya, betul sekali, tugas yang harus diemban oleh
setiap masing masing mahasiswa adalah sebagai agent of change. sebagai agen pembawa
perubahan yang signifikan bagi dunia. Tentu saja perubahan yang bersifat konstruktif dan
penuh makna. Karene pada dasarnya, mahasiswa adalah kaum terpelajar yang lebih tahu
seluk beluk dunia, tidak mudah terprovokasi, dan pandai mencari segala alternatif untuk
kemudian dilakukan solusinya.

Dalam dunia yang memang sudah mulai gonjang-ganjing ini, siapa lagi yang akan memegang
fungsi kontrol dunia kalau bukan kalangan mahasiswa? Kepada siapa lagi kita akan
percayakan tugas pengubah negeri kalau bukan kepada kaum muda terpelajar?. Memang,
ilmu itu diatas segalanya. masih ingat bukan tentang cerita Nabi Sulaiman yang lebih
memilih ilmu daripada harta dan pangkat?. Hanya orang orang punya ilmu--dalam hal ini
mahasiswa--lah yang mampu menanggapi paradigma dunia dengan sikap yang kritis namun
tentu saja solutif.

Mari, kita dukung dan terus tingkatkan pendidikan di negeri kita ini. Mari kita ciptakan lagi
para reformator-reformator dan jiwa founding father dalam jiwa para mahasiswa. Dan, jika
kita sendiri adalah seorang mahasiswa, jangan jadikan nama kita sebagai suatu status tanpa
arti belaka. Jadikan tempat belajar saat ini sebagai tambang yang wajib kita kuras habis
segala ilmu dan pengalamannya. Ingat! Bukan seorang dosen yang mengubah jiwa
mahasiswa, melainkan berasal dari dirinya sendiri. Dan ketika mahasiswa tersebut mampu
mengenali jati dirinya, maka ia layak untuk menyandang tugas sebagai Agent of Change.
Agen perubahan bagi bangsa dan negara.

The lessons learned in sustainability at UBC are only as valuable as the ability to apply those
lessons in the larger world.
As an agent of change, the University aspires to teach future sustainability leaders, conduct
important research and ensure that the University's private, public and NGO partners take the
outcomes of our inquiries in to the marketplace. All of this is done with the view that, by
working together, we are capable of contributing solutions to society's sustainability
challenges.
As a university, UBC is mandated with educating the next generation of leaders. To support
students in reaching their potential, UBC has established sustainability "pathways" that allow
students, regardless of their disciplines, to integrate sustainability into their studies.The hope
is that these future leaders will take what they have learned in the classroom beyond the gates
of campus and effect positive change.
UBC offers more than 480 sustainability courses and 30 programs that range in scope from
the highly specialized to the multidisciplinary. A number of non-credit options are also
available such as UBC Reads Sustainability events with authors, volunteer opportunities at
the UBC Farm, participation in the SEEDS Program, and the CityStudio that brings students
and faculty from Vancouvers six post secondary institutions to work with the City of
Vancouver.
Partners are key to the University's efforts because partners can do what the University
cannot. Private sector partners can commercialize and take to market technologies and
innovations developed on campus. Public sector partners can work with UBC to develop
policies and regulations and then share these changes with other communities. NGO partners
can help with social licence and community engagement efforts beyond the University gates.
Partners also contribute expertise, human capital and resources to projects that might not
otherwise be available to the University.

Crime and Social Control as Fields of Qualitative Research in the Social


Sciences
Gabi Lschper
Abstract
Crime and social control are fields of qualitative research in the social
sciences, where behavior is not inherently deviant or criminal, but rather,
deviance is a matter of interpretation and judgment. "Crime" is constructed and
negotiated in social discourses and processes of social interaction in and with
institutions of social control. Therefore only qualitative inquiries of "crime" make
sense. This paper reports examples of qualitative studies (from ethnography,
hermeneutical sociology of knowledge, ethnomethodology/conversation analysis,
discourse analysis and narrative analysis) especially of deviant subcultures,
reporting conflicts to the police, police inquiries and interrogations and criminal
court procedures.
URN: urn:nbn:de:0114-fqs000195
Keywords
crime as social construction; 'Verstehen'; second code of the criminal justice
system; ethnography; ethnomethodology; discourse analysis; narrative analysis
Full Text:
HTML (Deutsch) PDF (Deutsch) HTML PDF

Copyright (c) 2000 Gabi Lschper

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 Internat

Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol Sosial


Kontribusi mahasiswa dipentas perjuangan bangsa pada setiap lintasan sejarah hampir selalu
menorehkan tinta emas. Peran mereka melepaskan Republik ini dari cengkraman penjajah
asing 1945, menumbangnya rezim Soekarno 1966, serta jatuhnya kepemimpinan otoriter
Soeharto 21 Mei 1998 telah menjadi saksi dan fakta sejarah bahwa mahasiswa negeri ini
senatiasa konsisten dalam melakukan perubahan. Rekaman sejarah gerakan mahasiswa
dengan warna heroiknya menjadi cermin ketulusan mereka yang selalu berpijak pada
kerangka moral, bukan kerangka-kerangka lain yang bernuansakan kepentingan-kepentingan
sesat.
Sejarah pun membuktikan bahwa posisi ideal mahasiswa akan selalu bersentuhan dengan
setiap detak jantung masyarakat yang ada di sekelilingnya. Hal tersebut bisa diketahui dari
maraknya aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa, sehingga suara-suara mereka semakin
nyaring terdengar dan berhasil mentranformasikan gerakannya dalam kerangka student
movement ke social movement[1]. Mereka akan selalu menjadi pendobrak ketika telah terjadi
kezaliman dan ketidakadilan. Begitu juga, mereka akan selalu menjadi kalangan pemberani,
kritis, sedikit nakal dan urakan atau bahkan menjadi pemberang ketika di depan matanya
terjadi pemerkosaan nilai-nilai kemanusiaan seorang individu atau segolongan masyarakat.
Sikap yang diperlihatkan mahasiswa bagi Mochtar Lubis merupakan gambaran bahwa suara
hati nurani mahasiswa memang berkumandang dalam hati rakyat (masyarakat)[2]. Dengan
mengambil sikap yang demikian gerakan mahasiswa berhasil membangun opini strategis dan
menjadi milik masyarakat luas yang mendambakan terciptanya reformasi dan juga suksesi di
Indonesia.
Melihat sikapnya yang menonjol inilah mahasiswa tak pernah lepas dari sorotan masyarakat
yang ada di sekelilingnya. Idiom-idiom agent of change, agent of social control, dan agent
moral force, adalah sebagian gelar yang disandangkan masyarakat kepada mahasiswa yang
telah membuktikan eksistensinya sebagai pejuang reformasi[3]. Pemberian gelar-gelar
tersebut kepada mahasiswa rasa-rasanya bukanlah sesuatu yang berlebihan, karena pada
kenyataannya mereka mampu mengharumkan dan menghiasi suka dan duka perjuangan
bangsa Indonesia.
Beberapa gelar yang melekat pada mahasiswa memang tidak dapat dipisahkan, terlebih
perannya sebagai agent of sosial control. Mahasiswa sebagai agen kontrol sosial diibaratkan
seperti sebuah lonceng besar yang setiap waktu dapat berbunyi dengan sangat keras untuk
mengingatkan dan menyadarkan pihak lain ketika mereka sedang lupa diri. Mereka harus
terus memantau setiap proses perubahan yang sedang berjalan, agar arah dan tujuan
perubahan yang dicita-citakan tidak melenceng dari tujuan awal.
Dalam posisinya sebagai agen kontrol sosial, mahasiswa harus bertindak objektif, logis,
rasional, dan proporsional agar dapat melakukan justifikasi obyektif terhadap setiap persoalan
yang terjadi. Dengan mengambil posisi penengah/pengontrol situasi dan keinginan
masyarakat, aktivitas mahasiswa dilihat pula sebagai salah satu ukuran kepuasan
masyarakat[4].
Mahasiswa yang mengambil posisi kontrol sosial tentu saja harus mempunyai konsensus
bersama mengenai format Indonesia masa depan untuk kemudian menggiring ke arah
tersebut. Format ini akan menjadi semacam visi besar mahasiswa yang harus ditegaskan

kepada seluruh pelaku politik. Dalam mainframe inilah mahasiswa bisa menjalankan
fungsinya sebagai kontrol sosialnya dengan menggunakan mass power dan institusional
power yang dimilikinya[5].
Kontrol sosial yang dilakukan yakni berkaitan dengan segala hal yang terjadi di negeri
Indonesia, terutama yang berhubungan tentang tindakan-tindakan/kebijakan-kebijakan yang
diterapkan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara.
Belakangan hubungan mahasiswa sebagai agen kontrol sosial dengan pemerintah telah
menemukan suatu bentuk yang ideal. Menurut pengamat sosial-politik Adhie M. Massardi
mengatakan bahwa mahasiswa diumpamakan sebagai angin dan pemerintah sebagai
pohon[6]. Analogi ini mengilustrasikan bahwa ketika sebuah pohon terdapat ranting-ranting
dan daun-daun kering yang sudah tidak mempunyai fungsi stategis, maka angin akan
membersihkannya. Angin secara aktif juga membantu menebarkan serbuk-serbuk bunga yang
ada pada pohon agar dapat memberikan manfaat bagi unsur yang ada di bawahnya (rakyat).
Fungsi kontrol sosial dilakukan terhadap kinerja pemerintah beserta aparatur negara lainnya
menjadi sangat penting dilakukan oleh mahasiswa agar tercipta suatu tatanan pemerintahan
yang bersih dan terkontrol dengan baik oleh masyarakat[7]. Bagi mahasiswa fungsi kontrol
yang ada di lembaga legislatif tidak berjalan secara maksimal dalam melakukan kontrol
terhadap lembaga eksekutif sebagai penyelenggara negara yang dituntut melakukan
perbaikan-perbaikan terhadap negara yang tidak kunjung menghasilkan sesuatu seperti yang
diharapkan oleh masyarakat.
Di sisi lain mahasiswa dituntut untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang
kebijakan pemerintah serta menggenjot kesadaran mereka agar mengerti dan memahami
persoalan yang terjadi[8]. Bentuk pemberian penjelasan tersebut sebagai salah satu langkah
konkret yang dilakukan mahasiswa dalam menumbuhkan sikap kritis kepada masyarakat,
sehingga mereka dapat memahami dan bertindak atas permasalahan yang dihadapi.
Aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa sebagai bentuk kontrol sosial kepada pemerintah mulai
dipahami oleh masyarakat. Mereka mengangap mahasiswa mampu menjadi lokomotif bagi
kesadaran semua pihak. Walaupun terkadang tindakan/aksi yang dipertontonkan terlihat tidak
sopan, tapi nyatanya cukup ampuh menciptakan perubahan besar dalam tatanan demokrasi di
Indonesia.
Sebagai seseorang yang dicap mempunyai intelektualitas yang baik, seharusnya mahasiswa
mampu berpikir dan menciptakan hal yang baru[9]. Ini sangat dibutuhkan mengingat
fungsinya sebagai agen kontrol sosial yang begitu penting. Cara yang bisa ditempuh yakni
dengan melakukan dialog atau diskusi ketika menyikapi apa yang dianggap menjadi
pekerjaan rumah suatu bangsa. Dialog atau diskusi tersebut merupakan pengembalian basis
mahasiswa sebagai gerakan pemikir yang menghasilkan perubahan-perubahan ke arah
perbaikan bukan sebaliknya. Dengan cara yang demikian fungsi kontrol sosial akan terlihat
lebih baik, tidak hanya itu mahasiswa mampu menghimpun seluruh komponen bangsa dan
segenap kekuatan reformasi pada derap langkah yang sama.

Social control is the study of the mechanisms, in the form of patterns of


pressure, through which society maintains social order and cohesion. These
mechanisms establish and enforce a standard of behavior for members of a
society and include a variety of components, such as shame, coercion, force,
restraint, and persuasion. Social control is exercised through individuals and
institutions, ranging from the family, to peers, and to organizations such as the
state, religious organizations, schools, and the workplace. Regardless of its
source, the goal of social control is to maintain conformity to established norms
and rules. Social control is typically employed by group members in response to
anyone it considers deviant, problematic, threatening, or undesirable, with the
goal of ensuring conformity. It is a broad subfield of sociology that involves
criminologists, political sociologists, and those interested in the sociology of law
and punishment, as well as scholars from a variety of disciplines, including
philosophy, anthropology, political science, economics, and law. The subfield
includes both macro and micro components. Those concerned with macro forces
of social control have focused primarily on the goals and effectiveness of the
formal mechanisms, such as the police, law, and punishment, employed to
maintain order. Scholars interested in the macro aspects tend to examine
questions related to the role that elites, the state, and other political and
religious institutions have on establishing the norms and rules that people are
governed by. Researchers focusing on the micro, on the other hand, tend to be
more focused on the role that socialization and peer influence have on placing
limits on human action. The origins of the discussions of social control can be
traced back to the writings of such social philosophers as John Locke, Thomas
Hobbes, and Jean-Jacques Rousseau, as well as classic social theorists such as
Karl Marx, Emile Durkheim, and Max Weber, among others. Today, social-control
researchers continue to design and refine our understanding of social order and
how it is maintained as well as the conditions under which it fails to do so.

Generasi Muda yang Progresif


Generasi muda memiliki kecenderungan untuk bersikap antusias dalam menghadapi berbagai
isu, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Selain itu, idealisme yang terkandung dalam jiwa dan pikiran generasi muda memungkinkan
generasi muda untuk memainkan peranan penting dalam kelangsungan hidup berbangsa dan
bernegara. Karena sifatnya ini, generasi muda menjadi kelompok yang potensial untuk
mendukung pembangunan.
Dengan demikian, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap perencanaan pembangunan,
sehingga pelayanan dapat lebih disesuaikan dengan sasaran yang ingin dicapai. Namun
demikian, progresifitas generasi muda tidak hanya penting dalam kerangka pemberdayaan
generasi muda, tapi juga memberikan kontribusi bagi penyiapan generasi selanjutnya, serta
regenerasi kepemimpinan di masa mendatang.
Generasi muda yang progresif di sisi lain di tandai dengan generasi muda yang mau untuk
berfikir diluar pakem yang telah membudaya (think out the box), guna menciptakan atau
sekedar eksplorasi guna menemukan hal-hal baru yang berguna bagi kehidupan umat
manusia. Dengan kata lain, generasi muda yang progresif adalah generasi muda yang mampu
dan dapat berfikir kritis dalam menghadapi realitas sosial politik yang sedang terjadi.
Peran generasi muda juga menjadi penting bagi masa depan daerah-daerah yang pernah,
misalnya, mengalami konflik. Sifat menghargai dan keterbukaan terhadap berbagai ide dan
budaya dapat menjembatani beragam etnis, ras, kelompok-kelompok sosial dan politik.
Dengan memanfaatkan potensi ini, diharapkan ada sebuah peluang untuk menciptakan masa
depan yang lebih damai bagi generasi berikutnya.
Dalam kaitannya dengan progresifitas generasi muda, peran generasi muda seyogyanya
didorong melalui 5 (lima) strategi berikut, yaitu:
Pertama, mendorong pelibatan generasi muda dalam proses pengambilan keputusan:
Generasi muda hendaknya ditempatkan dan berusaha menempatkan diri dalam posisi
strategis agar aspirasinya didengar khususnya dalam pembuatan kebijakan yang secara
langsung terkait dengan kebutuhannya. Generasi muda perlu diberi ruang untuk
mengekspresikan pandangan mereka dan berkontribusi bagi pembuatan kebijakan-kebijakan
yang secara tidak langsung terkait dengan masalah kepemudaan.
Kedua, mengembangkan kemampuan kewirausahaan:
Semangat kewirausahaan (enterpreunerships) dapat mendorong generasi muda untuk mampu
bertahan manakala memasuki dunia usaha. Secara tidak langsung, upaya ini dapat membantu
meminimalkan tingkat pengangguran bagi daerah dan terutama sekali bagi bangsa.
Ketiga, memaksimalkan peran generasi muda dalam mengatasi hambatan-hambatan budaya,
etnis, dan ras:
Melalui komunikasi antargenerasi dari beragam latarbelakang budaya, etnis, dan ras, generasi
muda dapat membangun jaringan (networking) untuk saling tukar-menukar informasi dan
kerjasama antarbudaya. Pengenalan budaya ini dapat membantu terwujudnya saling
pengertian antar generasi muda.
Keempat, memberdayakan generasi muda dalam pembangunan:
Generasi muda merupakan salah satu unsur penting yang menunjang pelaksanaan
pembangunan sehingga perlu ada upaya pemberdayaan yang terencana dan komprehensif
untuk memaksimalkan kemampuan generasi muda.
Kelima, menempatkan generasi muda sebagai visi pembangunan:
Karena generasi muda merupakan aktor penting sekaligus penerima manfaat dari pelaksanaan
pembangunan, maka perlu ada upaya untuk merancang pelibatan generasi muda dalam

sasaran dan penyusunan program-program pembangunan. Secara demikian, progresifitas


generasi muda akan kentara secara nyata.