You are on page 1of 22

BAB I

SKENARIO KASUS

I.

II.

Identitas Pasien
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Status Perkawinan
Agama
Alamat

: Tn. A
: Laki-laki
: 23 tahun
: Buruh PT. Tata Mulia
: Tamat SLTA
: Belum menikah
: Islam
: Jl. DS Bantar RT/RW 10/04 Jatilawang

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis di poliklinik mata RSAL pada tanggal 30
Desember 2015 pukul 12:00 WIB.
A. Keluhan Utama
Mata kanan merah dan pandangannya tiba-tiba kabur setelah terkena cairan semen
bangunan 17 jam SMRS.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik mata RSAL pada tanggal 30 Desember 2015 pukul
12:00 WIB dengan keluhan mata kanan merah dan pandangannya tiba-tiba kabur
setelah terkena cairan semen bangunan 17 jam SMRS. Awalnya pasien mengaduk
cairan semen bangunan tersebut yang telah dicampurkan dengan air. Saat pasien
menambahkan air pada campuran semen tersebut dengan air, tiba-tiba pasien
terpercik ke mata kanan pasien. Hal tersebut terjadi pukul 19.00 WIB tanggal 29
Desember 2015, tepatnya 17 jam SMRS. Pasien mengatakan saat percikan cairan
semen tersebut mengenai mata kanannya, pandangan mata kanan pasien langsung
berubah menjadi putih tetapi tidak tau harus berbuat apa bahkan pasien tidak segera
mencuci matanya dengan air bersih. Pasien juga merasakan ada sesuatu yang
mengganjal di mata kanannya dan kadang-kadang berair. Pasien juga merasakan
mata kanannya nyeri.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien tidak
mempunyai riwayat hipertensi. Riwayat diabetes melitus dan alergi obat disangkal
oleh pasien.
1

D. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga pasien yang pernah mengalami keluhan seperti ini.
Pasien juga menyangkal adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, ataupun alergi
obat pada anggota keluarga pasien.
III.

Pemeriksaan Fisik
A. Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda-tanda vital
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
B. Status Ophtalmologis
Visus:
AVOD
AVOS

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 110/80 mmHg
: 88 x/menit
: afebris
: 18 x/menit
: 1/300
: 6/6

Pemeriksaan

Okuli Dekstra

Okuli Sinistra

Kedudukan Bola Mata

Ortoforia

Ortoforia

Pergerakan Bola Mata

Baik, ke segala arah

Baik, ke segala arah

Palpebra Superior

Ptosis (-), oedem (-)

Ptosis (-), oedem (-)

Ektropion (-), entropion (-)

Ektropion (-), entropion (-)

Trikiasis (-), distrikiasis (-)

Trikiasis (-), distrikiasis (-)

Hiperemi (-), litiasis (-)

Hiperemi (-), litiasis (-)

Folikel (-)

Folikel (-)

Injeksi konjungtiva (+)

Injeksi konjungtiva (-)

Injeksi silier (+)

Injeksi silier (-)

Perdarahan subkonjungtiva (-)

Perdarahan subkonjungtiva (-)

Hiperemi (-), litiasis (-)

Hiperemi (-), litiasis (-)

Folikel (-)

Folikel (-)

Keruh

Jernih

Konjungtiva tarsalis superior

Konjungtiva bulbi

Konjungtiva tarsalis inferior

Kornea

Camera Oculi Anterior

Dalam

Dalam

Iris

Tidak dapat dinilai (tertutup

Warna coklat

lapisan berwarna putih)

Gambaran kripti baik

Pupil

Tidak dapat dinilai

Bulat, isokor, RCL +, RCTL +

Lensa

Tidak dapat dinilai

Jernih

Vitreous Humor

Tidak dapat dinilai

Jernih

Funduskopi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tekanan Intra Okuler

Palpasi normal

Palpasi normal

(Tonometri tidak dilakukan)

(Tonometri tidak dilakukan)

Positif

Tidak dilakukan

Tes Fluoresein

IV.
V.

Gambar 1. Mata kanan pasien yang mengalami trauma kimia basa


Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien ini
Resume
Pasien laki-laki, umur 23 tahun datang ke poliklinik mata RSAL pada tanggal 30
Desember 2015 dengan keluhan mata kanan merah dan pandangannya tiba-tiba kabur
setelah terkena cairan semen bangunan sejak 17 jam SMRS. Pasien mengatakan saat
percikan cairan semen tersebut mengenai mata kanannya, pandangan mata kanan pasien
langsung berubah menjadi putih tetapi tidak tau harus berbuat apa sehingga pasien
tidak segera mencuci matanya dengan air bersih. Pasien juga merasakan ada sesuatu
yang mengganjal di mata kanannya dan kadang-kadang berair. Pasien juga merasakan
mata kanannya nyeri dan gatal. Pada pemeriksaan oftalmologi, didapatkan visus mata
kanan pasien 1/300 dan mata kiri pasien 6/6, didapatkan adanya injeksi konjungtiva dan
3

injeksi silier dan kornea keruh tertutup lapisan berwarna putih. Dilakukan tes fluoresein
pada mata kanan dan hasilnya positif.
VI.

Diagnosis
A. Diagnosis Kerja
Trauma kimia basa OD (Trauma alkali OD)
B. Diagnosis Banding
Konjungtivitis iritans ec zat kimia alkali OD

VII.

Penatalaksanaan
A. Terapi Non-medikamentosa
Irigasi mata yang terpapar zat alkali dengan larutan normal saline (atau yang
setara) sebanyak 2000 ml selama 30 menit atau selama mungkin.
Dilakukan double eversi pada kelopak mata
Debridemen
B. Terapi Medikamentosa
Antibiotik : LFX eye drop tiap jam OD,
Cendophenicol salep mata 4 kali sehari OD
Siklopegik : Cendotropin 1% eye drop 3x 1 tetes OD
Vitamin: vitamin A 1x20.000u, vitamin C 3x1

VIII. Prognosis
Ad vitam
: dubia ad malam
Ad fungtionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad bonam
XI. Follow up
Tgl
S
31/ - Penglihatan
12/
mata kanan
2015
buram (+)
HP 1- -mata kanan
merah
berkurang
- Mata kanan
nyeri (+)

O
-

TSS, CM
TD: 120/80mmHg
N: 120 x/menit
S: 37C
R: 24 x/menit
St. Oftalmologi:
Visus:
OD 3/60
OS 6/6

A
Trauma kimia
basa OD

P
-LFX eye drop tiap
jam OD
-Cendotropin 1% eye
drop 3x1 OD
-Vitamin C 3x1
-Vitamin A 1x20.000

OD: injeksi konjungtiva ,


injeksi silier , kornea keruh
(+)
4

02/ - Penglihatan
01/
mata kanan
2016
buram (+)
HP-3- -mata kanan
merah
berkurang
- Mata kanan
nyeri (+)

TSS, CM
TD: 120/80 mmHg
N: 120 x/menit
S: 36,6C
R: 24 x/menit
St. Ofthalmologi
Visus
OD 3/60
OS 6/6
OD: injeksi konjungtiva (-),
injeksi silier (-), kornea keruh

Trauma kimia
basa OD

-LFX eye drop tiap


jam OD
-Cendotropin 1% eye
drop 3x1 OD
-Vitamin C 3x1
-Vitamin A 1x20.000
- Pasien boleh pulag
dan kontrol ke poli
mata.

BAB II
ANALISIS KASUS

Pasien Tn. A, umur 23 tahun ditegakkan diagnosis trauma kimia basa OD berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari anamnesis, pasien mengatakan mata kanannya
terkena cairan semen bangunan 17 jam SMRS. Hal tersebut terjadi saat pasien mengaduk
cairan semen bangunan tersebut yang telah dicampurkan dengan air. Saat pasien
5

menambahkan air pada campuran semen tersebut dengan air, tiba-tiba terpercik ke mata
kanan pasien.. Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat adhesif dan kohesif yang
memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral lain menjadi suatu massa yang padat.
Semen memiliki bahan dasar, yaitu batu/kapur gamping merupakan Kalsium Oksida (CaO)
49-55% yang bersifat alkali.. Jika Kalsium Oksida dilarutkan kembali dalam air akan
membentuk larutan alkalin yang kuat dan timbul panas seketika. Trauma alkali/ trauma basa
umumnya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa memiliki sifat
hidrofilik dan lipofilik sehingga dapat secara cepat melakukan penetrasi sel membran dan
masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina.
Dari anamnesis, pasien mengeluh mata kanannya merah dan pandangannya tiba-tiba
kabur setelah terkena cairan semen, naun tidak segera mencuci matanya dengan air bersih.
Selain itu, pasien juga mengeluh rasa mengganjal pada mata kanannya dan kadang berair
mata. Pasien juga merasakan mata kanannya nyeri. Dari hasil anamnesis ini, dapat dipikirkan
klasifikasi diagnosis mata merah, namun belum dapat ditentukan dengan visus normal atau
visus turun sebelum dilakukan pemeriksaan visus.
Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea, superfisial,
maupun dalam dapat menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit ini diperhebat oleh gesekan
palpebrae (terutama palpebrae superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Karena
kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, lesi kornea
umumnya agak mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat.
Setelah dilakukan pemeriksaan oftalmologi, ternyata didapatkan visus pasien 1/300
pada mata kanan dan 6/6 pada mata kiri, didapatkan pula adanya injeksi konjungtiva maupun
injeksi silier dan hasil tes fluoresein pada mata kanan positif. Visus mata kanan pasien yang
abnormal yaitu 1/300 bisa menunjukkan lesi mengenai kornea yang merupakan media
refraksi dan ataupun bagian lain di dalamnya sehingga mengganggu visus, dan kemungkinan
besar lesi mengenai kornea bagian sentral sehingga visus terganggu sejauh itu. Jika lesi
mengenai kornea, pasien mengeluh nyeri karena terdapat banyak saraf nyeri di kornea, sesuai
pada pasien didapatkan nyeri pada mata kanan. Injeksi konjungtiva dan injeksi silier
menunjukkan adanya pelebaran/dilatasi pembuluh darah konjungtiva dan pembuluh darah
siliar dan hal itu menandakan lesi terjadi pada konjungtiva maupun kornea. Tes fluoresein
yang positif biasanya menandakan adanya kerusakan pada epitel kornea dan juga bisa
mendeteksi adanya benda asing di mata. Zat warna fluoresein akan berubah hijau pada media
6

alkali. Bila zat warna fluoresein menempel pada epitel kornea yang defek akan memberikan
warna hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa. Sesuai pada kasus ini, tes
fluoresein positif akibat adanya defek pada epitel kornea dan adanya benda asing alkali
tersebut (CaO). Dari data tersebut maka dapat dipikirkan diagnosis banding pada kasus ini
adalah konjungtivitis iritans ec zat kimia alkali OD.
Untuk penanganan pertama dalam kasus ini pasien melakukan kesalahan yaitu tidak
segera mengeliminasi cairan semen tersebut dengan air bersih yaitu dengan teknik irigasi.
Irigasi seharusnya dilakukan selama mungkin lebih baik (dianjurkan selama 30 menit
sebanyak 2000ml). Untuk penanganan selanjutnya, sesuai teori dapat diberikan antibiotik
untuk mencegah infeksi kuman oportunis, siklopegik untuk mencegah iritis dan sinekia
posterior, dan pemberian vitamin untuk kolagenisasi kornea.
Prognosis pada pasien dubia ad malam karena penanganan awal pasien tidak langsung
mengeliminasi bahan kimia basa tersebut dengan teknik irigasi dan kemungkinan lesi sampai
kornea dengan adanya injeksi silier sehingga penglihatan menurun dengan visus 1/300.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

TRAUMA KIMIA

Trauma kimia pada mata merupakan salah satu keadaan kedaruratan oftalmologi karena dapat
menyebabkan cedera pada mata, baik ringan, berat bahkan sampai kehilangan penglihatan.
Trauma kimia pada mata merupakan trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya
bahan kimia baik yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata
tersebut. Trauma kimia diakibatkan oleh zat asam dengan pH < 7 ataupun zat basa pH > 7
yang dapat menyebabkan kerusakan struktur bola mata. Tingkat keparahan trauma dikaitkan
dengan jenis, volume, konsentrasi, durasi pajanan, dan derajat penetrasi dari zat kimia
tersebut. Mekanisme cedera antara asam dan basa sedikit berbeda. Trauma bahan kimia dapat
terjadi pada kecelakaan yang terjadi dalam laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai
bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan memakai bahan kimia serta paparan bahan
kimia dari alat-alat rumah tangga. Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan
segera. Irigasi daerah yang terkena trauma kimia merupakan tindakan yang harus segera
dilakukan. (1)
TRAUMA ASAM
Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea.
Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion
merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi. Koagulasi protein
umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam, dan menyebabkan tampilan
ground glass dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam. Sehingga trauma pada
mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang
diakibatkan oleh zat kimia basa.(2)
Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan presipitasi
dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari jaringan terhadap bahan
asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya cenderung terlokalisir. Bahan asam
yang mengenai kornea juga mengadakan presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadangkadang seluruh epitel kornea terlepas. Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan
proteoglikan di kornea. Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan
trauma basa. (2)
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea
yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka
tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan hanya pada bagian
8

superfisial saja. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan
jaringan. Koagulasi protein ini dapat mengenai jaringan yang lebih dalam. (2,3,5)
Bahan kimia bersifat asam contohnya asam sulfat, air accu, asam sulfit, asam hidroklorida,
zat pemutih, asam asetat, asam nitrat, asam kromat, asam hidroflorida. Akibat ledakan baterai
mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat, mungkin merupakan penyebab tersering
dari luka bakar kimia pada mata. Asam Hidroflorida dapat ditemukan di rumah pada cairan
penghilang karat, pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat. Asam hidroflorida
adalah satu pengecualian. Asam lemah ini secara cepat melewati membran sel, seperti alkali.
Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel, dan memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan
bergabung dengan kalsium dan magnesium membentuk insoluble complexes. Nyeri lokal
yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada
stimulasi saraf dengan pemindahan ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion
fluoride memasuki sistem sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada jantung,
pernafasan, gastrointestinal, dan neurologik. (2,4,5)

Patofisiologi dan Gejala Trauma Asam Pada Mata. (2,5)


Bahan kimia asam
9


Asam cenderung berikatan dengan protein

Menyebabkan koagulasi protein plasma

Koagulasi protein ini, sebagai barrier yang membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut

Luka hanya terbatas pada permukaan luar saja.

Asam masuk ke bilik mata depan menimbulkan iritis dan katarak.

Gangguan persepsi penglihatan

10

Gambar menunjukkan koagulasi protein yang berlaku pada mata akibat trauma asam, dan
menimbulkan kekeruhan pada kornea, dimana yang nantinya akan cenderung untuk masuk ke
bilik depan mata dan bisa menimbulkan katarak.

Gambar menunjukkan mata yang pada bagian konjungtiva bulbi hiperemis dan pupil yang
melebar karena peningkatan tekanan intraokular.

PENANGANAN TRAUMA ASAM


Pada saat mata terkena asam di tempat kejadian, tindakan pertama yang harus diambil adalah
dengan irigasi bagian mata yang terkena dengan menggunakan air keran yang mengalir atau
menggunakan garam fisiologis jika ada selama 15-30 menit. (5)
Pada saat di rumah sakit, dapat diberikan anestesi topikal, larutan natrium bikarbonat 3% dan
kemudian bisa diberi antibiotik. Pada trauma asam, karena terbentuknya barrier proteksi,
mata yang terkena pada dasarnya akan kembali normal.(5)

11

TRAUMA BASA
Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa memiliki
dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk penetrasi sel membran
dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina. Trauma basa akan memberikan iritasi
ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata,
trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea,
kamera okuli anterior sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada
trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat
koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi. (5)
Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH yang
tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasi disertai dengan disosiasi asam lemak membran
sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali.
Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea
atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat
edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea.
Serbukan sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau
neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel
diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma
dibawahnya melalui plasminogen aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen
aktivator dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. (5)
Selain itu gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat
terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya
terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah
trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau
vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik
mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan
berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini
memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea. (5)
Bahan kimia bersifat basa contohnya NaOH, CaOH, amoniak, Freon/bahan pendingin lemari
es, sabun, shampo, kapur gamping, semen, tiner, lem, cairan pembersih dalam rumah tangga,
soda kuat.

12

PATOFISIOLOGI TRAUMA BASA PADA MATA (5,6)


Proses perjalanan penyakit pada trauma kimia ditandai oleh 2 fase, yaitu fase kerusakan yang
timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan. Kerusakan yang terjadi pada
trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh hal-hal sebagai berikut:

Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan dan
oklusi pembuluh darah pada limbus.

Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan


konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan persisten
pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.

Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan kerusakan dan
presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea.

Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan


kerusakan iris dan lensa.

Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang dibutuhkan


untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea.

Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi.

Penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut:

Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau pergeseran dari


sel-sel epitelial yang berasal dari stem cell limbus

Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi sintesis


kolagen yang baru.

13

Patofisiologi trauma basa yang merusak mata :


Bahan kimia alkali

Pecah atau rusaknya sel jaringan dan Persabunan disertai disosiasi asam lemak membran sel
penetrasi lebih lanjut

Mukopolisakarida jaringan menghilang & terjadi penggumpalan sel kornea

Serat kolagen kornea akan membengkak & kornea akan mati

Edema terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma, cenderung disertai


masuknya pemb.darah (Neovaskularisasi)

Dilepaskan plasminogen aktivator & kolagenase (merusak kolagen kornea)

Terjadi gangguan penyembuhan epitel

Berkelanjutan menjadi ulkus kornea atau perforasi ke lapisan yang lebih dalam

14

KLASIFIKASI TRAUMA BASA (6)


Menurut klasifikasi Thoft, trauma basa dapat dibedakan dalam :
Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus (prognosis sangat baik)
Derajat 2: kornea berkabut dengan gambaran iris yang masih terlihat dan terdapat kurang dari
1/3 iskemik limbus (prognosis baik)
Derajat 3: epitel kornea hilang total, stroma berkabut dengan gambaran iris tidak jelas dan
sudah terdapat iskemik limbus (prognosis kurang)
Derajat 4: kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih dari limbus (prognosis sangat
buruk)

Gambar Klasifikasi Trauma Kimia basa, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4
Klasifikasi ini juga bertujuan untuk penatalaksaan yang sesuai dengan kerusakan yang
muncul serta indikasi penentuan prognosis. Klasifikasi ditetapkan berdasarkan tingkat
kejernihan kornea dan keparahan iskemik limbus.
Menurut klasifikasi Hughes :
Ringan
15

Prognosis baik
Terdapat erosi epitel kornea
Kekeruhan yang ringan pada kornea
Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva
Sedang
Prognosis baik
Kornea keruh, sehingga sukar melihat iris dan pupil secara terperinci
Terdapat nekrosis dan iskemi ringan pada konjungtiva dan kornea
Berat

Prognosis buruk
Akibat kekeruhan kornea, pupil tidak dapat dilihat
Konjungtiva dan sklera pucat

DIAGNOSIS DAN PENANGANAN TRAUMA KIMIA PADA MATA


Diagnosis pada trauma mata dapat ditegakkan melalui gejala klinis, anamnesis dan
pemeriksaan fisik dan penunjang. Namun hal ini tidaklah mutlak dilakukan dikarenakan
trauma kimia pada mata merupakan kasus gawat darurat sehingga hanya diperlukan
anamnesa singkat. (6)
Gejala Klinis
Terdapat gejala klinis utama yang muncul pada trauma kimia yaitu, epifora, blefarospasme,
dan nyeri berat. Trauma akibat bahan yang bersifat asam biasanya dapat segera terjadi
penurunan penglihatan akibat nekrosis superfisial kornea. Sedangkan pada trauma basa,
kehilangan penglihatan sering bermanifestasi beberapa hari sesudah kejadian. Namun
sebenarnya kerusakan yang terjadi pada trauma basa lebih berat dibanding trauma asam. (6)
Anamnesis
Pada anamnesis sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau tersemprot gas
pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Perlu diketahui apa persisnya zat
kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan
dengan kecepatan tinggi) serta kapan terjadinya trauma tersebut. (6)
Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset
dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba tiba. Nyeri,
lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Dan harus dicurigai
16

adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi
akibat ledakan. (3,6)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat kimia sudah
terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Obat anestesi topikal atau lokal
sangat membantu agar pasien tenang, lebih nyaman dan kooperatif sebelum dilakukan
pemeriksaan. Setelah dilakukan irigasi, pemeriksaan dilakukan dengan perhatian khusus
untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus, tekanan intra
okular, konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel
yang menetap dan berulang. (6)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dalam kasus trauma kimia mata adalah pemeriksaan pH bola mata
secara berkala dengan kertas lakmus. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH
normal. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk
mengetahui lokasi luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan.
Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengetahui tekanan intraokular.
(6)

Penatalaksanaan
Tatalaksana Emergensi. (5)
1. Irigasi
Merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia
dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera
mungkin. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata
selama 15-30 menit sampai pH mata menjadi normal (7,3). Pada trauma basa hendaknya
dilakukan irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Makin lama makin baik.
Jika perlu dapat diberikan anastesi topikal, larutan natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik.
Irigasi dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa
yang terhubung dengan sebuah kanul untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.

17

2. Double eversi pada kelopak mata


Dilakukan untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata. Selain itu tindakan ini
dapat menghindarkan terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi,
dan konjungtiva forniks.
3. Debridemen
Pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi re-epitelisasi pada
kornea. Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obat-obatan
seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Sedangkan pada
trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengurangi inflamasi, membantu
regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea.
Medikamentosa. (5)
Steroid bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Namun pemberian
steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan sintesis kolagen dan
menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di
tappering off setelah 7-10 hari. Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan
setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg.
Sikloplegik untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior. Atropin 1%
ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.
Asam askorbat mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan meningkatkan penyembuhan
luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat
10% topikal diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gr.
Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor untuk menurunkan tekanan intra okular dan
mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. Diberikan secara oral asetazolamid
(diamox) 500 mg.
Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Tetrasiklin efektif
untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan
ulkus. Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).

18

Pembedahan.
Pembedahan

(3,5)

Segera:

sifatnya

segera

dibutuhkan

untuk

revaskularisasi

limbus,

mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur berikut
dapat digunakan untuk pembedahan:

Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan


vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.

Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dari donor
(allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal.

Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis

Pembedahan Lanjut: pada tahap lanjut dapat menggunakan metode berikut:

Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan


simblefaron.

Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva.

Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.

Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk
memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.

Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan
hasil dari graft konvensional sangat buruk.

Komplikasi (3)
Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis trauma
yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara lain:
1. Simblefaron, adalah gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga
kornea dan penglihatan terganggu.
2. Kornea keruh, edema, neovaskuler
19

3. Sindroma mata kering


4. Katarak traumatik, trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak.
Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan
menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahanlahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi
katarak traumatik.
5. Glaukoma sudut tertutup
6. Entropion dan phthisis bulbi

Simblefaron.

Ptisis Bulbi.
Prognosis (5)
Prognosis trauma kimia pada mata sangat ditentukan oleh bahan penyebab trauma tersebut.
Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva merupakan salah satu
indikator keparahan trauma dan prognosis penyembuhan. Iskemik yang paling luas pada

20

pembuluh darah limbus dan konjungtiva memberikan prognosa yang buruk. Bentuk paling
berat pada trauma kimia ditunjukkan dengan gambaran cooked fish eye dimana
prognosisnya adalah yang paling buruk, dapat terjadi kebutaan.

Trauma kimia sedang sampai berat pada konjungtiva bulbi dan palpebra dapat menyebabkan
simblefaron (adhesi anatara palpebra dan konjungtiva bulbi). Reaksi inflamasi pada kamera
okuli anterior dapat menyebabkan terjadinya glaukoma sekunder.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2008.
2. Randleman, J.B. Bansal, A. S. Burns Chemical. eMedicine Journal. 2009.
3. Vaughan DG, Taylor A, and Paul RE. Oftalmologi Umum.Widya medika.
Jakarta. 2000.
4. Arthur Lim Siew Ming and Ian J. Constable. Color Atlat of Ophthalmology Third
Edition. Washington. 2005.
5. American College of Emergency Phycisians. Management of Ocular Complaints.
Diunduh tanggal 28 Juni 2012 dari http://www.acep.org/content.aspx?id=26712
6. Dua, H. S., King, A.J., Joseph, A. 2001 New classification for ocular surface burns,
85: 1379-1383, British Journal of Ophthalmology. Diakses 28 Juni 2012, dari
http://bjo.bmj.com/content/85/11/1379.full.pdf new classification.

22