You are on page 1of 11

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN APPENDIKSITIS

A. KONSEP DASAR
1. Anatomi Fisiologi
Menurut Smeltzer dalam Brunner & Suddarth, appendiks adalah ujung
seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci), melekat pada
sekum tepat dibawah katup ileosekal. Appedndiks berisi makanan dan
menhosongkan diri secera teratur kedalam sekum karena pengosongan tidak
efektif dan lumenya kecil, appediks cenderung menjadi tersumbat dan
terutama rentan terhadap infeksi (apendicitis).
Apendiks vermiformis terletak pada kuadran kanan bawah abdomen diregio
iliaca dextra. Pangkalnya diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada
titik sepertiga bawah yang menghubungkan spina iliaca anterior superior dan
umbilicus yang di sebut titik McBurney. Apendiks didarahi oleh arteri
appendicularis

yang

merupakan

arteri

tanpa

kolateral

dan

vena

appendicularis, sedangkan persarafannya berasal dari cabang-cabang saraf


simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari plexus mesentericus superior.
Aliran limfenya ke' satu atau dua nodi dalam mesoapendiks dan di alirkan ke
nadi mesenterici superiores.

2. Defenisi
Apendiks adalah ujung seperti-jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4
inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Apendiks berisi
makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena
pengosongannya tidak efektif, daiylumennya kecil, apendiks cenderung
menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis).
Apendisitis, penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah
kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat. Kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendisitis
pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka; pria lebih sering
dipengaruhi daripada wanita, dan remaja lebih sering pada orang dewasa.
Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapa pun, apendisitis paling sering
teijadi antara usia 10 dan 30 tahun.
3. Etiologi
Apendiks merupakan organ yang belum diketahui fungsinya tetapi
menghasilkan lender 1-2 ml per hari yang normalnya dicurahkan kedalam

lumen dan selanjutnya mengalir kesekum. Hambatan aliran lendir dimuara


apendiks tampaknya berperan dalam pathogenesis apendiks, (wim de Jong)
Menurut klasifikasi:
a. Apendisitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteria dan factor
pencetusnya disebabkan oleh sumbatan lumen apendiks. Selain itu
hyperplasia jaringan limf, fikaiit (tinja/batu), apendiks, dan cacing askaris
yang dapat menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa apendiks karena
parasit (E. histolytica).
b. Apendisitis rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan
bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi. Kelainan ini terjadi bila
c. Serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis
tidak pernah kembali kebentuk aslinya karena teijadi fijprosis dan jaringan
parut
d. Appendisitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut kanan
bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik
dan mikroskopik (fibrosis menyeluruh didinding apendiks, sumbatan
parsial atau lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama
dimukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan keluhan menghilang
setelah apendiktomi.
4. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding

apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan


tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat
aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi
mukosa. Pada saat inilah teijadi teijadi apendisitis akut fokal yang ditandai
oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian
aliran arteri terganggu akan teijadi infark dinding apendiks yang diikuti
dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan teijadi apendisitis perforasi. Bila
semua proses di atas beijalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan
akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang
disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi
abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan
apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut
ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah.

Pathway

5. Manifestasi klinis
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual,
muntah dan hilangnya nafsu 'makan. Nyeri tekan lokal pada titik McBumey
bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri
bila tekanan dilepaskan) mungkin dijumpai. Derajat nyeri ickan, spasme
otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada
beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang
sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbar; bila ujungnya

ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan
rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat
rektum; nyeri pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat
dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian bawah
otot rektus kanan dapat terjadi.

Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri
yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan
bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar;
distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik, dan kondisi pasien
memburuk.

Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi.
Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukkan obstruksi usus
atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin tidak mengalami gejala
sampai ia mengalami ruptur apendiks. Insidens perforasi pada apendiks
lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien-pasien ini mencari
bantuan perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda.

6. Komplikasi
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks, yang dapat
berkembang menjadi peritoni- tis atau abses. Insidens perforasi adalah 10%
sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara
umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan
suhu 37,7C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan
abdomen yang kontinyu.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pemeriksaan Fisik.

Inspeksi: akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut


dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).

Palpasi: didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan bila
tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana
merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.

Oengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat
tinggi- tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah (psoas sign).

Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila


pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.

Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.

Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan positif dan
tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila apendiks
terletak di rongga pelvis maka Obturator sign akan positif dan tanda
perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.

2. Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000 - 18.000/mm3.
Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks
sudah mengalami perforasi (pecah).
3. Pemeriksaan Radiologi

Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang membantu)


Ultrasonografi (USG) CT scan.

Kasus kronik dapat dilalaikan rntgen foto abdomen, USG abdomen dan
apendikogram.

4. Penatalaksanaan
Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adaiah apendektomi.
Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi.
Teknik laparoskopik, apendektomi laparoskopik sudah terbukti menghasilkan
nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka
kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan
kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu
dikerjakan untuk diagnosa dan terapi pada pasien dengan akut abdomen,
terutama pada wanita (Birnbaum BA)
5. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia b. d respon sistemik dari inflamasi gastrointestinal
b. Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi
c. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan tubuh
d. Ansietas b. d proknosis penyakit rencana pembedahan
6. Intervensi
a. Hipertermia b. d respon sistemik dari inflamasi gastrointestinal
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan
hipertemi teratasi.
Kriteria Hasil:

Suhu tubuh dalam rentang normal

Nadi dan RR dalam rentang normal

Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi:

Monitor suhu

Monitor intake dan output

Monitor tekanan darah, nadi, RR

Kompres pasien pada lipatan paha dan aksila

Kolaborasi pemberian cairan intravena

b. Nyeri akut b. d inflamasi dan infeksi


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan nyeri
teratasi
Kriteria Hasil:
Mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu menggunkan tehnik
relaksasi napas dalam)

Melaporkan nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)

Intervensi:
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif ( lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas nyeri)

Ajarkan tehnik nor farmakologi

Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

Istirahatkan pasien

c. Resiko infeksi b. d tidak adekuatnya pertahanan tubuh


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan tanda
dan gejala infeksi tidak terjadiKriteria hasil:

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

Jumlah leukosit dalam batas normal

Menunjukan prilaku hidup sehat

Intervensi:

Monitor tanda dan gejala infeksi

Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan

Batasi pengunjung

Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat

Berikan terapi antibiotik bila perlu

DAFTAR PUSTAKA
Nanda. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda Definisi dan Klasifikasi 2005 -2006. Editor : Budi Sentosa.
Jakarta : Prima Medika
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah 2, Edisi 8. Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse dan Alice C. Geisser. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 1994. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :
EGC
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta