You are on page 1of 10

PATOGENESIS LEUKEMIA

Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap
infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol sesuai dengan
kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang
yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi
seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak kemampuan
tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang
termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada
jaringan (Mayo Clinic Staff, 2008).
Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal
yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan
angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur
termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi. Pada kondisi ini, dua
kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah
dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal (Price dan Wilson. 2006).
Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih
mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut
seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang
kompleks). Translokasi kromosom mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel,
sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini
menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel
darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati,
limpa, kelenjar getah bening, ginjal, dan otak.(Media Informasi Obat Penyakit,2005).

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia, trombositopenia,
neutropenia, infeksi, kelainan organ yang terkena infiltrasi, hipermetabolisme (Lee et al,
2009).
1. Leukemia Limfositik Akut
Manifestasi klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan kegagalan
sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah, letargi,
pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan perdarahan. Selain itu juga ditemukan
anoreksi, nyeri tulang dan sendi, hipermetabolisme (Sudoyo dkk, 2007). Nyeri
tulang bisa dijumpai terutama pada sternum, tibia dan femur (Tierney dan
Papadakis, 2003).
2. Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkan
oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. Perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk
purpura atau petekia. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih
dari 100 ribu/mm3) biasanya mengalami gangguan kesadaran, sesak napas, nyeri
dada dan priapismus. Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu
hiperurisemia dan hipoglikemia (Sudoyo dkk, 2007).
3. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK yang
mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan berat
badan dan kelelahan. Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan penurunan
kemampuan latihan atau olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi semakin
parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya (Sudoyo dkk, 2007).
4. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis blas. Pada
fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat kenyang akibat desakan
limpa dan lambung. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit berlangsung

lama. Pada fase akselerasi ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat,
petekie, ekimosis dan demam yang disertai infeksi (Sudoyo dkk, 2007).

DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik untuk jenis LLA yaitu ditemukan splenomegali (86%),
hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan perdarahan retina. Pada
penderita LMA ditemukan hipertrofi gusi yang mudah berdarah. Kadang-kadang ada
gangguan penglihatan yang disebabkan adanya perdarahan fundus oculi. Pada penderita
leukemia jenis LLK ditemukan hepatosplenomegali dan limfadenopati. Anemia, gejala-gejala
hipermetabolisme (penurunan berat badan, berkeringat) menunjukkan penyakitnya sudah
berlanjut. Pada LGK/LMK hampir selalu ditemukan splenomegali, yaitu pada 90% kasus
(Handayani dan Haribowa, 2008). Selain itu Juga didapatkan nyeri tekan pada tulang dada
dan hepatomegali. Kadang-kadang terdapat purpura, perdarahan retina, panas, pembesaran
kelenjar getah bening dan kadang-kadang priapismus (Supandiman, 1997).
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan
pemeriksaan sumsum tulang.

2.1. Pemeriksaan Darah tepi


Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan kadang-kadang
leukopenia (25%) (Mansjoer dkk, 2001). Pada penderita LMA ditemukan penurunan eritrosit
dan trombosit (Handayani dan Haribowa, 2008). Pada penderita LLK ditemukan limfositosis

lebih dari 50.000/mm3 (Mansjoer dkk, 2001), sedangkan pada penderita LGK/LMK
ditemukan leukositosis lebih dari 50.000/mm3 (Price dan Wilson. 2006).
2.2. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan
hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat
perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap).
Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang (Bakti, 2006). Pada
penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40%
dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien LLK disebabkan oleh peningkatan
limfosit B (Budiarto dan Anggraini, 2002). Sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan
keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah megakariosit dan aktivitas granulopoeisis.
Jumlah granulosit lebih dari 30.000/mm3 (Lubis, 2004).

PERAWATAN LEUKEMIA
1. Kemoterapi
1.1. Kemoterapi pada penderita LLA
Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase yang
digunakan untuk semua orang.
a. Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian besar
sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang (Mayo Clinic Staff, 2008). Terapi
induksi kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena
obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia

(Hoffbrand dan Pettit, 1996). Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi
yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase (Soegijanto, 2004).
b. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang
bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga
timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian
(Bakti, 2006).
c. Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Perawatan
yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah (Mayo
Clinic Staff, 2008). Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadangkadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia memasuki otak
dan sistem saraf pusat (Hoffbrand dan Pettit, 1996).
d. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi. Tahap ini
biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun (Mayo Clinic Staff, 2008).
Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak
hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80%
orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup
jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum
tulang dan SSP (Price dan Wilson. 2006).

1.2. Kemoterapi pada penderita LMA

a. Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan untuk
mengeradikasi sel-sel leukemia secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit.
Walaupun remisi komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam tubuh
penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan
kekambuhan di masa yang akan datang (Sudoyo dkk, 2007).

b. Fase konsolidasi
Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase induksi. Kemoterapi
konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan obat
dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari dosis yang digunakan pada fase
induksi. Dengan pengobatan modern, angka remisi 50-75%, tetapi angka rata-rata hidup
masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya 10% (Price dan Wilson.
2006).

1.3. Kemoterapi pada penderita LLK


Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi dan
prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang dipakai ialah klasifikasi Rai (Bakti,
2006):
a. Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
b. Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
c. Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.
d. Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
e. Stadium IV : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3 dengan/tanpa gejala
pembesaran hati, limpa, kelenjar (Sudoyo dkk, 2007).

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi bersifat
konvensional, terutama untuk mengendalikan gejala (Bakti, 2006). Pengobatan tidak
diberikan kepada penderita tanpa gejala karena tidak memperpanjang hidup. Pada
stadium I atau II, pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada stadium
III atau IV diberikan kemoterapi intensif (Hoffbrand dan Pettit, 1996).
Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup
lebih dari 10 tahun. Pasien dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun.
Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari
2 tahun (Nursalam dkk, 2005).

1.4. Kemoterapi pada penderita LGK/LMK


a. Fase Kronik
Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag mampu menahan
pasien bebas dari gejala untuk jangka waktu yang lama. Regimen dengan bermacam
obat yang intensif merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang tidak diarahkan
pada tindakan transplantasi sumsum tulang (Smeltzer dan Bare, 2002).

c. Fase Akselerasi
Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat rendah.

2. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh selsel leukemia.
Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat
menumpuknya sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti proton,
elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat

keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat (Sudoyo dkk,
2007).

3. Transplantasi Sumsum Tulang


Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak
dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis
tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang juga berguna
untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker (Anonim. 2008). Pada penderita
LMK, hasil terbaik (70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam
waktu 1 tahun setelah terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang
sesuai (Bakta dan Suastika, 1999). Pada penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada
penderita yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda
yang pada awalnya memberikan respon terhadap pengobatan (Media Informasi Obat
Penyakit,2005).

4. Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag ditimbulkan penyakit
leukemia dan mengatasi efek samping obat. Misalnya transfusi darah untuk penderita
leukemia dengan keluhan anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan
antibiotik untuk mengatasi infeksi (Thomson dan Cotton, 1997).

KOMPLIKASI LEUKEMIA
1.
2.
3.
4.

Gagal sumsum tulang


Infeksi
Pendarahan
Splenomegali

5. Hepatomegali (Asra, 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Transplantasi


http://www.klikdokter.com

Sumsum

Tulang

untuk

Penderita

Asra, Delvia. 2010. Karakteristik Penderita Leukmia Rawat Inap


Dr. Pringadi Medan Tahun 2005-2009. Medan : Universitas Sumatra Utara.

Leukemia.
di

RSUP

Bakta, I. M. dan Suastika, K.. 1999. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta:
EGC.
Bakti, M. I.. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC.

Budiarto, E. dan Anggraini D.. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : EGC.


Handayani, W. dan Haribowa, A. S.. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.
Hoffbrand, A. V. Dan Pettit, J. E.. 1996. Kapita Selekta Haematologi. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arief, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-III. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI.
Lee, et al. 2009. Gender and Ethnic Differences in Chronic Myelogenous Leukemia
Prognosis and Treatment Response. Journal of Hematology & Oncology 2009. 2:30
Lubis, T.. 2004. Karakteristik Penderita Leukemia Rawat Inap di Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan Tahun 1998-2002. Medan : USU.
Mayo Clinic Staff. 2008. Treatments and Drugs. http://mayoclinic.com
Media Informasii Obat Penyakit. 2005. Info Penyakit Leukemia. http://www.medicastore.com
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Edisi I. Jakarta: Salemba
Medika.
Price, S. A. dan Wilson L.. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Surabaya : Airlangga.
Smeltzer, S. C. dan Bare, B. G.. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. E disi
Jakarta: EGC.

IV.

Soegijanto, S.. 2004. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia. Surabaya:
Airlangga
Sudoyo, W. dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta : FKUI.
Supandiman dan Iman. 1997. Hematologi Klinik. Bandung : Penerbit Alumni.
Thomson, A. D. dan Cotton, R. E.. 1997. Catatan Kuliah Patologi. Jakarta: EGC.
Tierney L. M. dan Papadakis, M. A.. 2003. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Penyakit
Dalam. Jakarta : Salemba Medika.